Urgensi Mempelajari Ilmu al-Quran

 

Dinamika perkembangan ulumul quran dan berbagai bidang ilmu dalam dunia Islam, mengalami puncak pada abad ke-2 H. pada Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan yang sangat diperhatikan betul, dari ilmu filsafat, tafsir, dan berbagai bidang ilmu lainnya. Pada awal perekembangan Islam, istilah ulumul quran tidak begitu dikenal. Istilah ini baru muncul pada abad ke-3. Namun, sebagaian berpandangan, bahwa ilmu al-Quran muncul sebagai ilmu yang berdiri sendiri pada abad ke-4. Kemudian pada abad ke-5 mulai muncul penghimpunan ulumul quran.  Hingga pada tahun 911 H .ilmu a-Quran sudah mencapai masa puncaknya, dan sudah tidak ada perkembangan kembali atau berhenti. Hingga pada akhir abad ke-13, mulai kembali berkembang hingga kini. 

Pada prosesnya, perkembangan ulumul quran tidaklah sekaligus, namun memiliki proses . Pada masa Rasulullah hingga abu Bakar, ilmu al-Quran diriwayatkan secara lisan, kemudian pada masa Utsman, ketika bangsa Arab mulai berbaur dengan orang non-arab, maka mulailah penyeragaman dialektika, dengan membuat mushaf induk dan menyebarkannya ke berbagai kota besar.

Sebenarnya, pada abad ke-2 upaya pembukuan ulumul quran mulai dilakukan, meski pada abad ini ulama lebih terfokus kepada tafsir. Kemudian pada abad ke-3 mulailah disusun beberapa ilmu al-Quran meski berdiri sendiri, seperti Ali ibn al-Madiniy (w.234 H) yang menyusun kitab tentang ashbab an-nuzul, kemudian Abu Ubaid al-Qasim ibn Sallam (w.224 H) menyusun kitab tentang nashk dan Mansukh, dan sebagainya. Pada abad-abad pertama ini, ilmu al-Quran berdiri sendiri, dan setiap tokoh membahas mengenai cabang ilmu.  Hingga kemudian pada abad ke-5 muncullah Ali ibn Ibrahim ibn Sa’id al-Hufy (w.430 H) yang kemuudian menghimpun bagian-bagian dari ulumul quran dalam karyanya al-Burhan fi Ulumil Quran.

Namun, pada tahun 911 H, yaitu setelah wafatnya al-Sayuti, seakan perkembangan ilmu al-Quran telah mencapai puncaknya, sehingga tidak terlihat penulis-penulis yang memiliki kemampuan seperti al-Sayuti, dan juga di tengah umat Islam telah terjadi taqlid.   Hingga akhir abad ke-13 H, al-Azhar Mesir diakui telah memicu kebangkitan semangat untuk menyusun kitab-kita tentang al-Quran. Sejak penghujung abad ke-13 H hingga kini perkembangan ilmu tentang al-Quran terus terjadi, pengkajian al-Quran tidak hanya terbatas pada cabang-cabang ulumul quran melainkan berkembang, misal penterjemahan al-Quran kedalam Bahasa asing. Namun, dengan terjadinya penterjemahan al-Quran ke dalam Bahasa Ajam (selain Bahasa Arab), maka banyak terjadi usaha untuk menebarkan keraguan al-Quran, yang demikian itu dipengaruhi oleh para orientalis.

 Di masa sekarang, belum banyak karya yang membahas tentang ulumul quran, dapat dilihat dari terbatasnya pembahasan mengenai ilmu al-Quran dibanding dengan  tafsir. Semakin ke sini, tentunya perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat, dengan didukung dengan teknologi yang memadai. Maka, diharapkan pula di masa depan, dengan terus majunya IPTEK dapat mendukung pengkajian tentang al-Quran dan segala cabang ilmunya.

Ditandai juga dengan semakin meningkatnya kesadaran pemuda-pemudi dalam mendalami agama. Dengan banyak berdirinya rumah tahfidz yang kemudian melahirkan para huffadz. Hal ini, menurut hemat penulis secara tidak langsung akan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan ulumul quran itu sendiri.

Dari bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang pada masa sekarang, yang cukup baik dalam mendukung pengkajian terhadap naskah-naskah dan juga dengan tentunya berkembangnya pemikiran, tentunya pada masa depan ulumul quran akan lebih terfokus. Juga dengan meningkatnya keasadarn umat Islam sendiri akan pentingnya beragama.

 

Komentar