Absurditas: "Siapa Aku ? Aku Superman ?"
Siapakah diriku dan siapakah dirimu. Untuk apa diriku dan
untuk apa dirimu. Aku yang tak jelas kamu yang juga tak jelas. Aku yang tahu
kadang kamu yang belum tahu. Aku yang tahu satu namun aku tak paham dua. Kadang
aku paham dua malah bingung karena tiga, empat, lima dan seterusnya. Apakah
hidup hanya untuk mencari kejelasan ? Lalu untuk apa kita hidup ?
Siapa aku ? Yang terkadang aku menjadi diriku, yang
terkadang aku berperan menjadi tokoh yang sama sekali aku tak kenal. Kadang
kekasih berkata, “siapa kamu ?” Yang jelas, padahal dia adalah kekasihku.
Setidak jelas apa aku ? Dan se-absurd apa diriku ? Kadang kekasihku berkata, “benarkah
ini adalah dirimu ?” Aku yang polos menjawab, “kalau bukan aku, siapa lagi”.
Duh, polosnya diriku. Sesekali aku berpikir, benar juga
kata kekasih, siapakah diriku ? Kenapa aku berperan sebagai diri yang lain. Aku
ingat, waktu aku kecil aku pernah berperan menjadi seorang polisi, membawa
pistol dan memakai seragam abu-abu. Kemudian berlanjut aku tumbuh, aku kemudian
berperan menjadi seorang mafia, menjadi gembong narkoba yang amat dicari.
Kemudian aku berperan manjadi seorang guru, dan mengajar di depan muridku.
Duh, siapa aku. Terkadang aku menjadi orang yang bijaksana,
menuturkan kebijaksanaan pada sesiapa yang meminta kebijaksanaanku. Lantas aku
bertanya, “sebenarnya siapa aku ?” Aku yang seakan menjadi seorang yang alim
(berilmu) yang terus merajut berkata-kata di depan pasienku.
Ada kalanya, aku menjadi seorang filsuf, yang bertanya dan
berpikir. Tapi kadang bingung “apa yang harus kutanyakan”. Terkadang aku mejadi
ahli, yang menyampaikan sekian banyak materi. Kadang aku berperan sebagai
sutradara, penulis naskah, penulis cerpen, penulis ilmiah. “Siapa sebenarnya
aku ini ?”.
Kekasihku sering bertanya, “siapa kamu, apakah kamu adalah
kekasihku yang selama ini ku kenal ?” Lantas aku berpikir, “iya juga, siapa
diriku”. Entahlah, siapakah aku dan siapakah dirimu. Aku berperan menjadi
banyak tokoh, terkadang aku pendiam, terkadang aku menjadi perusuh. Terkadang
aku alim, tapi aku memang alim. Kadang aku anak baik, tapi terkadang aku
menjadi yang antah berantah.
Aku ini sebenarnya satu apa banyak ? Siapa saja yang
sebenarnya aku perankan. Dan sebanayak apa tokoh yang sedang ku perankan. Atau
malah sebenarnya aku adalah manusia yang oleh kata “mereka” aku adalah manusia
munafik. Sejahat itu dunia ? Atau sejahat itu mereka ? Siapa kamu dan siapa
mereka ? Kata Zarathustra dunia ini baik, lalu kataku kenapa dunia ini namoak
buruk. Siapa aku, apakah aku manusia ? Apa aku hanya hewan yang berusaha
menjadi manusia ?
Aku bingung. Wahai kekasih, apakah kamu juga demikian ? Aku
berpikir dan membuka pikiranku, aku yang terkadang munafik ataukah mereka juga
munafik ? Wahai kekasih, menurutmu, siapa mereka ? Kenapa mereka membawa nama
sesembahan mereka ketika mereka hendak membunuh ? Wahai kekasih, siapakah
mereka ? Mengapa nama-nama yang seperrinya Suci itu dibawa oleh mereka untuk
merusak. Apakah mereka juga munafik sepertiku ? Wahai kekasih, aku bingung.
Lalu, untuk
apa aku ada ? Dan kenapa harus ada. Dan dari manakah Aku ? Aku siapa ? Aku
seorang siswa ataukah aku seorang mahasiswa. Aku seorang akademisi ataukah aku
seorang sutradara film. Aku seorang santri, ataukah aku seorang yang tak tahu
apa apa. Aku seorang guru, atau aku seorang murid. Aku orang bijak, atau aku
hanya seorang sofis ? Aku seorang pendiam kata mereka, atau aku seorang pemuda
yang haus akan pengakuan ? Aku seorang alim kata mereka ataukah aku hanya
manusia gila ? Siapakah aku, kekasih.
Komentar
Posting Komentar