Musibah Berasal dari Ulah Tangan Manusia

 

Pendahuluan

Tahun 2020 diawali dengan menyebarnya virus COVID-19 di Indonesia, tercatat pada 2 Maret 2020 dengan ditemukannya dua wni yang terjangkit virus tersebut. Yang belakangan ini sudah kita ketahui berasal dari teman pasien dari luar Indonesia. Hingga 5 November 2020, tercatat ada 425.796 kasus positif COVId-19 di Indonesia[1]. Semengerikan apa virus ini ? hingga kemudian menjadikan banyak fasilitas umum yang terhenti. Seluruh masyarakat diperintahkan untuk berdiam diri di rumah, Mall, Bioskop, hingga pasar harus ditutup. Banyak upaya dilakukan Pemerintah demi meredam penyebaran Virus COVID-19.

Coronavirus sendiri merupakan virus yang menyebabkan penyakit pada diri manusia, seperti common cold atau pilek dan sampai penyakit besar seperti MERS dan SARS[2]. Virus ini diduga berasal dari salah satu pasar grosir makanan yang berada di laut Huanan, Tiongkok, yang diasumsikan penyebaran pertama kali disebabkan oleh binatang Kelelawar. Munculnya Covid-19 ini telah merebak hingga seluruh penjuru dunia. Pada 30 Januari 2020, WHO (world health organization) telah menyatakan COVID-19 sebagai sebuah perhatian internasional[3].

Indonesia sendiri mulai resah, banyak lapangan pekerjaan yang ditutup, PHK di mana-mana, dan pengangguran meningkat. Telah tercatat 10 juta penduduk di Indonesia menjadi pengangguran pengangguran[4]. Tak sedikit masyarakat yang kemudian banting setir mencari pekerjaan yang lain. Dan nahasnya, banyak terjadi tindakkan kriminal pencurian di mana-mana, dari pencurian kendaraan, barang berharga, hingga barang yang tidak berguna (yang menurut mereka, itu dapat menghasilkan uang), meski yang dicuri berupa ban mobil, sampai perabotan rumah serperti panci dan sebagainnya. Inilah, yang sebenarnya menunjukkan sebuah keputus asaan manusia dalam menghadapi musibah ini. Pandemi ini, jika seorang mampu berpikir secara positif, maka hanya akan ada rahmat Allah yang selalu mencurahi mereka. Lain halnya yang mereka sudah terlalu berputus asa, hingga mereka melanggar aturan Allah, demi sebuah kebutuhan. Jalan itu banyak, namun karena ketersempitan mereka, akhirnya jalan haram untuk sebuah rezeki mereka lalui.

    A. Musibah Berasal Dari Ulah Manusia

Berdasarkan paparan di atas, maka dapatlah dijelaskan bahwa bencana yang terjadi pada umumnya dan pandemi corona pada khususnya adalah akibat dari ulah tangan manusia. Hal in berkesesuaian dengan firman Allah  subhanahu wata’ala Q.S. ar-Rum ayat 41

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ, قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ

 

Artinya, “telah nampak kerusakan di darat  dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya, Allah mencicpkan kepada mereka sebagaian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.  Katakan-lah, berjalan-lah di bumi lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah.[5]

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Abul ‘Aliyah mengatakan, bahwa barangsiapa yang berlaku maksiat di muka bumi, maka itu berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi. Karena menurut Abul ‘Aliyah, kebaikan bumi dan langit disebabkan atas ketaatan[6]. Yang mana telah diisyaratkan di dalam ayat di atas, bahwa “Allah mecicipkan kepada mereka sebagaian dari perbuatan mereka” yang di sana agar timbul di dalam diri manusia sebuah kesadaran, dengan kemudian terdapat harfut Taraji yang memiliki makna pengharapan di sana, yaitu dengan lafadz “agar mereka kembali” kepada Allah. Maksudnya, kembali pada kebenaran agama.

Lebih dari itu perlu ditegaskan bahwa pada saat musibah menimpa manusia  tidak hanya menimpa pada kaum yang dzalim namun juga menimpa pada kaum yang beriman, agar mereka tampil beramal sholih dan beramar ma’rufndan nahi munkar. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. aliAnfal ayat 25,

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya, “dan hindarilah siksa yang sekali-kali tidak menimpa secara khusus orang-orang yang dzalim di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksanya[7]

Adapun dalam surat al-‘Araf ayat 168, Allah berfirman, “dan Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali.” Dan kemudian dalam surat Rum ayat 42, Allah memerintahkan agar manusia mengambil begitu banyak pelajaran, bagaimana orang-orang sebelum mereka mendapatkan akibat atas segala perbuatan mereka. Dalam tafsir al-Mishbah, ketika berbicara surat al-Waqi’ah ayat 62, di sana memakai kalimat “تذكرون” yang menggunakan fi’il mudhari’ atau present tense yang itu menunjukkan kata kerja bentuk sedang dan yang akan datang sebagai “mengambil pelajaran.” Yang artinya, itu menisyaratkan kepada kita agar kita senantiasa melihat dan memikirkan segala peristiwa, dan agar kita mengambil pelajaran di setiap peristiwa, musibah, yang menimpa pada manusia.

Jauh setelah masa kenabian, manusia sering melakukan penjajahan, pendudukan, yang sering disebut sebagai kolonialism. Pada era perang dunia, banyak manusia telah terbunuh atas nama perebutan kekuasaan dan penjarahan sumberdaya alam, yang kala itu di sebabkan oleh kematian seorang pangeran bernama Archude Franz Ferdinand[8]. Pada era Perang Dunia II, ditandai dengan invasi Nazi (Jerman) ke Polandia, perang atas nama Ideologi ini tercatat perang dunia II telah memakan setidaknya 60 juta jiwa. Rupanya, tradisi perang akan selalu ada. Dari perang antar suku, seperti yang terjadi antara Dunia Barat dan Dunia Timur yang telah terjadi ribuan tahun sebelum Islam datang ke dataran Arab. Hingga peperangan antara kerajaan yang acap kali terjadi karena perebutan wilayah atau malah perebutan kekuasaan di tubuh kerajaannya sendiri. Anak membunuh bapak, bapak membunuh anak, satu jalur keturunan menghabisi jalur keturunan yang lain. Hingga pada era modern ini, banya pemuda-pemudia yang membunuh bayi-bayi tak berdosa yang itu semua adalah berasal dari konsekuensi perbuatannya sendiri, yang kemudian mereka berputus asa, dan membunuh bayi-bayi mereka.

Kita melihat melalui tangan-tangan manusia, dunia mengalami banyak kerusakan, kepunahan, kematian secara perlahan, dan menjadikan iklam tak tentu, waktu hujan tak hujan, dan banyak peristiwa yang terjadi akibat ulah dati tangan-tangan manusia yang didasari oleh nafsu-nafsu yang tak mampu dikendalikan olehnya. Banyak spesies hewan yang punah karena manusia, dari spesies burung Moa yang punah karena perburuan; Badak, Gajah yang diburu hanya karena taringnya; Macan yang mulai hilang karena perburuan agar dapat diambil kulitnya. Yang dapat kita cermati, manusia hanya mengambil yang tak penting dari entitas yang penting demi sebuah eksistensi dirinya sendiri. Semua perburuan itu hanya untuk memuaskan nafsu semata.

Telah kita saksikan, bagaimana dunia ini perlahan memasuki tahap kehancuran. Lapisan ozon yang mulai mengelupas akibat senyawa freon yang berasal dari alat-alat elekronik, dan sebagainnya. Yang kemudian menyebabkan sinar matahari yang langsung menganai kulit dan mengakibatkan kanker kulit pada manusia. Penggundulan hutan di mana-mana, hingga tersisa sedikit yang disebut dengan paru-paru dunia. Seperti beberapa waktu lalu, hutan amazon dibakar dan ditebang oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Adapun para pemilik tambang yang melanggar aturan, yang seharusnya melakukan penanaman pohon yang ditebang dan melakukan reklamasi, agar kemudian lahan bekas galian dapat digunakan lagi. Namun, pada kenyataannya semua ditinggalkan begitu saja, mangkrak tak terurus.

Di sisi  lain, masyarakat sendiri terlebih di Indonesia kurang kesadaran dalam merawat lingkungan. Ada saja yang membuang sampah di sungai, hingga menyebabkan menumpuknya sampah di sisi lain sungai, dan menjadi sebab tersumbatnya aliran air. Yang terjadi kemudian adalah banjir, namun bukan kesadaran yang ada, namun adalah sikap menyalahkan orang lain–di sini Pemerintah yang dianggap tidak peduli dengan lingkungan.

Ilmu pengetahuan, menurut Suparlan Suhartono dalam bukunya “Filsafat Ilmu Pengetahuan” ia menyebutkan, bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi juru selamat (savior), namun juga dapat menjadi mesin kiamat. Yang mana, dengan adanya ilmu pengetahuan manusia akan berlomba-lomba membuat senjata, membuat benteng, yang ujung-ujungnya dibuat untuk persiapan sebuah peperangan yang sangat dahsyat di masa yang akan datang. Albert Einstein setelah Perang dunia II berakhir, muncullah isu akan Perang Dunia III yang menurutnya persenjataannya jauh lebih mengerikan. Ia mengimbuhi dengan menyatakan, bahwa Perang Dunia IV akan kembali menggunakan tongkat dan batu. Hari ini, senjata mengerikan, yang mampu memusnahkan seperempat Negara telah bermunculan, begitu juga senjata berbahan kimia mulai bermunculan, seperti yang digunakan oleh Bashar Al-Assad ketika memerangi militant di Suriah beberapa waktu lalu. Yang menunjukkan, ilmu pengetahuan mampu menjadi senjata penghancur.

Manusia yang sebelumnya diturunkan di muka Bumi sebagai khalifah, yang yang mengemban tugas untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi. Dapat dilihat dari makna khalifah yang memiliki arti pemimpi-pengganti-wakil, yang di sana memiliki makna, bahwa manusia sebagai penjaga bumi, manusia yang mengantikan golongan sebelumnya (golongan Jin) yang telah berlaku fasad dan Allah menurunkan kebinasaan bagi mereka. Yang demikian itu memberi pelajaran bagi manusia sebagai khalifah, yang seharusnya menjaga kehidupan dan kelestarian Bumi. Bukan hanya persoalan batin, namun juga persoalan yang dzohir. Allah mengisyaratkan dalam Q.S. al-Ma’idah ayat 32 mengingatkan agar manusia tak berlaku fasad,

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Artinya,”Oleh karena itu, Kami menetapkan atas Bani Isra’il, bahwa: barang siapa yang membunuh satu jiwa, bukan karena jiwa yang lain, atau karena membuat keruskan di  muka bumi, maka seakan-akandia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka para rasul Kami dengan keterangan-keterangan yang jelas, kemudian sesungguhnya banyak di antara mereka sesudah itu melampaui batas di muka bumi.[9]

Yang mana ayat ini merujuk pada bani Israel yang kala itu telah mencapai puncak keburukan[10]. Yang telah melakukan pembunuhan pada utusan-utusan Allah sebelumnya.

Dalam melihat tugas dan tujuan penciptaan, manusia telah mengingkari tugas penciptaan (al-Baqarah: 30). Setelah nabi Adam alahisalam turun ke Bumi, dan memiliki putra Qobil dan Habil, namun salah satu diantara mereka memiliki hati yang iri terhadap suadaranya. Di sisi ketika mereka berdua berqurban, milik Habil-lah yang diterima oleh Allah–yaitu berupa Kambing, dan di sisi yang lain, Habil akan dinikahkan dengan saudarinya yang cantik bernama Iqlima. Atas dasar inilah, nafsu dalam diri Qobil meninggi, dan memutuskan membunuh saudaranya Habil. Dan di sinilah manusia mulai membuat kerusakan.

Sebagai buktinya, seperti apa yang telah dipaparkan di atas, manusia yang telah mengacaukan keteraturan dunia, yang semua itu berasal dari diri manusia sendiri, yaitu nafsu yang tidak mereka kendalikan. Semua manusia yang memiliki jabatan, uang, dan lainnya, mereka terus berbuat fasad demi memenuhi segala keinginan mereka. Terkadang, untuk membuahkan sebuah hasil, kita harus mengorbankan suatu yang kecil. Namun, bukankah pengorbanan ini tak bermoral ? Orang mengebor bumi demi minyak, yang ia tahu, akan merusak sekelilingnya. Orang ingin membuat kebun sawit, tambang, semuanya mengorbankan suatu yang kecil. Namun, inilah yang disebut tak bermoral[11].

B. Pandemi Sebuah Musibah

Musibah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai celaka, bencana, dan malapetaka. Sedangkan menurut bahasa Arab, musibah berasal dari kata ashaba yang memiliki arti “menimpa”, musibah juga diartikan sebagai kemalangan atau al-Baliyyah[12]. Maka, musibah dapat diartikan segala kejadian, peristiwa menyedihkan yang menimpa manusia, baik bersekala kecil maupun besar[13]. Termasuk musibah pandemic yang kita temui sekarang ini.

Manusia sejatinya adalah hamba, yang di dalam dirinya hanya terdapat suatu daya hanya untuk berusaha, tidak untuk membuahkan hasli dari usaha. Karena segala hasil yang kita temui adalah karunia, anugerah dari Allah subhanauwata’ala. Begitu pula dalam menghadapi musibah saat ini, yang mana kita tak dapat mengelak dari qada’ dan ketetapan Allah. Allah berfirman dalam Q.S. at-Taghabun ayat 11,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

 Artinya, “tidak ada suatu musibah-pun yang menimpa seorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.[14]

Senada dengan ayat di atas adalah apa yg Allah tegaskan dalam QS at-Taubah ayat 51,

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya, “Katakanlah:  sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin harus bertawakal.”

Dari uraian dua ayat di atas dapatlah disimpulkan bahwa setiap musibah merupakan takdir.  Seperti yang telah terkutip di atas, dalam surat ar-Rum ayat 41, “Allah mencicpkan kepada mereka sebagaian dari perbuatan mereka,” maksudnya, atas dari perbuatan manusia, Allah memberi cobaan pada diri setiap manusia, agar manusia mengingat dan kembali pada Allah. Manusia diciptakan Allah dalam banyak golongan, ada sebagian mereka yang mukmin ada sebagian lagi mereka yang kufr atas nikmat Allah (at-Thagabun/64: 2), adapun mereka-mereka yang beriman (mendekat pada Allah) hanya saat diturunkan atas mereka nikmat. Namun, ketika kesusahan melanda mereka, mereka kembali kepada kekufuran atauun sebaliknya, ketika mereka susah mereka merengek pada Allah, dan pada saat mereka diberi karunia, mereka lupa dari siapa segala limpahan karunia itu. Hal ini berkesesuaian dengan Firman Allah, Q.S. ar-Rum ayat 36,

وَإِذَآ أَذَقْنَا ٱلنَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا۟ بِهَا ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Artinya, “Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.

Quraish Shihab menguraikan lebih jauh tentang ayat ini dalam memaknai kalimat idza (اذا) dan kalimat in (ان) yang masing-masing memiliki arti “Apabila”dan ”jika / apabila” dengan berdasar pada waktunya. Idza (اذا) dimaknai sebagai suatu hal yang pasti akan terjadi, sedangkan kata in (ان) adalah suatu hal yang “jarang terjadi” cenderung tidak terjadi. Yang jika diuraikan ayatnya, maka akan menunjukkan bahwa Rahmah Allah-lah yang senantiasa tercurah, dari pada apa yang menjadi sebab manusia itu berputus asa, yaitu musibah itu sendiri. Dan dijelaskan lebih dalam perihal kata Rahmah dengan menggunakan kata berbentuk jamak (رحمة) yang mengisyaratkan keterlibatan makhluk lain sebagai perantara sebuah rezeki, anugerah, dan karunia. Sedangkan musibah yang diuraikan sebagai bentuk yang disandarkan pada diri personal, yang di sana adalah kecendurang musibah itu disebabkan oleh diri manusia sendiri.

Oleh karena itu Al-Quran menuntun manusia, mengingatkan manusia agar tidak berbuat demikian, dalam surat al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan agar manusia tidak lalai sebab karunia, anak ,dan harta yang mereka miliki. Dalam Q.S. Al-Hajj ayat 11, menunjukkan manusia yang hanya beriman dipinggiran saja, dikala sempit ia mendekat, dikala lapang ia lupa.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

Artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

Di sinilah kita diuji, apakah dengan musibah ini yang kemudian menyempitkan hati kita ? atau malah menjadikan kesempatan panjang ini malah untuk bertaqarrub pada Allah, bermuhasabah, bertafaqur, dan sebagainya?. Maka merujuk qs al fushilat 30, langkah yg tepat adalah beristiqomah yaitu…..

Ada kala, Allah menampakkan segala karunia dan perhatian-Nya melalui perkara yang nampak buruk. Itupun tertera dalam Q.S. al-Baqarah ayat 216,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Pandemi ini, bagaimana kita menyikapinya. Ini merupakan musibah yang melanda seluruh negeri, inilah sebagai tanda kebesaran Allah, dengan makhluk-Nya yang ukurannya tidak sampai pada satuan millimeter mampu mengacaukan seluruh penjuru dunia. Negara disibukkan dengan rakyatnya masing-masing, mengharuskan menyiapkan rumah sakit darurat, dokter yang tidak memadai, hingga Negara besar seperti Itali yang harus mendatangkan dokter dari luar negarannya. Belum sampai selesai, Negara langsung dihantam dengan roda perekonomian yang otomatis berhenti berbarengan dengan pemberlakuan PSBB (pembatasan social bersekala besar) atau pemberlakuan social distancing untuk memutus rantai penyebaran virus.

Jika kita merujuk pada ayat-ayat di atas (ar-Rum/30: 41), bahwa musibah ini terjadi atas perbuatan manusia. Bisa berupa perbuatan batin ataupun dzhohirnya. Sebagaimana Abul “Aliyah bahwa perbuatan manusia akan berdampak pada bumi. Seperti yangtelah dikisah-kan dalam al-Quran, bagaimana Allah membinasakan kaum Nuh dengan menurunkan hujan yang lebat. Kemudian kaum ‘Aad yang Allah turunkan kepada mereka angina yang teramat kencang. Lalu kaum Tsamud yang Allah perdengarkan mereka dengan Guntur yang teramat keras, hingga disebut

إِنَّآ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَٰحِدَةً فَكَانُوا۟ كَهَشِيمِ ٱلْمُحْتَظِر

bagaikan batang-batang yang lapuk.

Dan kemudian kaum Luth, yang Allah timpakan mereka dengan daratan, dihujani mereka dengan tanah dan batu. Itulah akibat dari perbuatan manusia yang ingkar pada Tuhan dan Utusan-Nya[15].

Pandemi ini merupakan musibah yang menimpa kita, yang kemudian diharuskan untuk menggali hikmah yang dapat kita renungkan, dan mempertanyakan apa dosa kita hingga Allah menurunkan musibah ini. Apakah manusia sudah terlalu banyak berbuat kufr, hingga Allah mengingatkan kita melalui peristiwa ini ? Apakah kita terlalu jauh meninggalkan agama ? Apakah manusia terlalu sibuk dengan dunia hingga lalai tugas? Menurut Rumi, manusia yang menegrjakan banyak hal, namun lalai dengan satu hal, sesungguhnya ia tak mengerjakan banyak hal tersebut. Yang di sini mempertegas, pentingnya seebuah keimanan. Allah telah mengingatkan kita, bahwa dunia sungguh hanyalah sebuah permaainan dan sendau gurai saja, dan dunia hanyalah tempat pamer (al-Hadid ayat 21).

Cepatnya penyebaran virus ini pula, dikarenakan banyaknya manusia yang tak mematuhi protokol dan seringnya manusia mengabaikan peringatan. Meski dari itu, kita sadari bersama, bahwa setiap dari kita tak mungkin hanya berdiam di rumah, kita memerlukan uang untuk makan. Bisa jadi, bukan mati karena virus malah mati karena kelaparan.

C. Menyikapi Takdir Allah

Dari musibah ini, kita menyikapi diri kita dengan selalu menggunakan pikiran yang positif (positive thought). Jangan kemudian kita menyalahkan segala musibah ataupun peristiwa yang menurut kita adalah sebuah kesusahan ini karena Allah yang tidak mengurus manusia. Ingatkan diri kita, Allah adalah yang memiliki nama al-Muhaimin yang memilki arti Yang Maha Memelihara. Jadi, tidak mungkin bagi Allah tidak mengetahui apa yang sedang dan apa yang akan terjadi yang dialami oleh makhluk-Nya. Dan oleh karenanya, tidak mungkin bagi Allah menelantarkan seluruh ciptaan-Nya. Kita lihat, bagaimana burung-burung betina yang tetap hidup dengan anak-anaknya, yang padahal mereka tak memiliki akal untuk belajar, ataupun untuk berpikir. Bukankah itu adalah sebuah tanda kekuasaan Allah ? Lalu mengapa kita khawatir ? Bisa jadi, ketika kita memberi makan makhluk Allah yang lain, itulah kita yang berperan sebagai perantara rezeki bagi makhluk lain. Lantas, kenapa manusia tetap pada kekhawaatiran yang mendalam ? itu karena, di dalam diri manusia tidak ada pondasi keimanan dan ketakwaan. Iman, dan takwanya sebatas pada hal yang dzohir, hanya sebatas lisan, bukan sebuah niatan.

Dalam menyikapi qada’ dan qadar Allah, menurut I’tiqod Ahlusunah wal Jama’ah setidaknya ada empat (4) hal yang perlu kita pahami yaitu, ilm (pengetahuan), kitaabah (yang tertulis), masyiiah (kehendak), dan khalq (penciptaan).

Pertama, al-Ilm yaitu penegtahuan, bahwa Allah itu mengetahui segala hal, Allah mengetahui apa yang akan, sedang dan yang telah  terjadi pada diri makhlukNya. Mustahil bagi Allah tidak mengetahui apa yang terjadi, yang artinya Allah tak memiliki nama al-Muhaimin untuk mengatur seluruh ciptaan-Nya, jadi apalagi menelantarkan makhluk-Nya begitu saja. Dan tidak benar jika Allah tidak menegtahui apa yang dilakukan makhluk-Nya, apa yang samar ataupun apa yang jelas. Tidak benar-lah jika Allah itu tidak mengetahui apa-pun perihal manusia, tidak benar-lah jika Allah hanya bertugas sebagai Sang Khaliq.

Sebagaimana yang tertera dalam Q.S. At-Taghabun ayat 4, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit, dan apa yang ada di bumi,

يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

Artinya, “Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Begitu juga, yang Allah mengetahui apa yang jelas, dan apa yang samar. Maka, sesuailah dengan Q.S. al-Mujaddalah ayat 7 dan Q.S. Hud ayat 6.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا۟

Artinya, “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.” (Q.S. al-Mujaddalah/58: 7)

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Artinya, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Yang kedua adalah al-Kitaabah (penulisan). Yang mana, segala ketetapan Allah, telah ditulis dalam kitab yang nyata adanya. Yaitu, apapun yang akan, sedang, dan telah terjadi, semua itu telah tertulis di sana. Adapun dalam sebuah hadis, nabi bersabda,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ قَدِمْتُ مَكَّةَ فَلَقِيتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّ أُنَاسًا عِنْدَنَا يَقُولُونَ فِي الْقَدَرِ فَقَالَ عَطَاءٌ لَقِيتُ الْوَلِيدَ بْنَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ فَجَرَى بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَفِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ

Artinya, Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Sulaim, ia berkata; saya datang ke Makkah dan bertemu dengan Atho` bin Abu Rabah, kemudian saya katakan kepadanya; wahai Abu Muhammad, sesungguhnya orang-orang di sekitar kami berbicara mengenai takdir. 'Atho` berkata; aku pernah bertemu dengan Al Walid bin 'Ubadah bin Ash Shamit, kemudian ia berkata; telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata; aku mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Tulislah." Maka terjadilah apa yang akan terjadi hingga selamanya. Dalam hadits tersebut terdapat sebuah kisah. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib, dan diantara hadits tersebut ada yang berasal dari Ibnu Abbas.[16]

Itulah takdir, apa yang telah dituliskan, maka itu yang akan manusia temui. Adapun ketika nabi ditanya perihal apa yang akan terjadi, nabi menjawab, bahwa segala hal itu sudah tertulis di kitab. Begitu pula surga dan neraka, Allah telah menakdirkan siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka. Lantas apa gunanya kita berusaha ? nabi menjawab, bahwa siapa yang ditakdirkan masuk surga, maka Allah ringankan tangannya untuk berbuat kebajikan. Sebaliknya, siapa yang akan masuk neraka, maka Allah mudahkan tangannya untuk berbuat keburukan. Maka dari itu, masa-masa seperti ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi akhirat. Mungkin kita lihat, beberapa waktu lalu saham setidaknya menurun, namun ingat, akhirat nilannya tak akan pernah turun, mala jikau kau menjualnya kepada Siapa yang berhak–yaitu Allah–maka Allah akan membelinya dan ia akan emndapat kekekalan[17]. Di masa seperti ini, baik kita banyak bersedekah, berinfaq, ataupu berzakat. Dengan itu, tugas manusia sebagai khalifah akan terpenuhi. Kebaikan itu bukan hanya untuk diri kita, namun juga untuk yang lain. Orang lain dalam kesulitn, ada sedikit lebih karunia (rezeki) dari Allah, maka kita sisihkan kepada siapa yang berhak, dan dari sana, bisa jadi kita menjadi perantara rezeki bagi orang lain. Itulah perjalanan takdir. Allah menginatkan dalam QS at-Taubah ayat 51, sebagaimana yang telah dikutip di atas.

Ketiga adalah al-Musyiiah (Kehendak). Artinya, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi dan langit, semua adalah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, tidak akan ada yang luput dari kehendak-Nya. كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ) (ٱلْمَوْتِ[18] yang artinya, “setiap yang bernyawa pasti akan merasakan maut”, adapun dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Jumuah/62: 8).

Maka dari itu, sikap kita adalah menjalaninya. Dengan cara, kita mengatur segala keperluan. Pandemi ini, kita tak dapat lari darinya, kita harus menjalaninya dalam artian, menjaga diri baik-baik, menjaga kesehatan diri dan orang lain. Mematuhi segala protokol yang ada, dan sebagainnya. Dan tentunya, perbanyak berdoa kepada Allah. Dia-lah Allah Yang Memiliki langit dan bumi, maka tiada kuasa yang mampu menandingi-Nya.

Yang keempat adalah al-Khalq (Yang Mencipta). Dia-lah Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan sekaligus Dia yang memelihara keduannya. Tidak ada yang luput dari pengelihatan-Nya. Apa yang sedang, akan, dan sudah terjadi semua adalah ciptaan-Nya.

هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Hasyr/59: 24).

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil pelajaran, agar kita tak mudah mengambil kesimpulan dari sebuah musibah dengan menyalahkan Tuhan, mudah berputus asa, dan sebagainya. Uraian tadi juga mengajarkan kita sekaligus mengingatkan kita akan tugas kita di bumi ini–yaitu sebagai khalifah. Jangan kita berbuat fasad apalagi hanya untuk hal yang sepele semata.

Pandemi ini, adalah sebuah ketetapan dari Allah, yang tak mungkin kita dapat hindari. Maka, kita juga dituntut untuk sabar dalam menjalani segala ketetapan Allah. Meski manusia memiiliki daya untuk berusaha, namun perlu diingat, segala hasil adalah karunia dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan kemudian kita berputus asa, terlebih pada rahmat Allah Yang Agung. Jangan musibah ini menjadikan manusia melakukan suatu yang dilarang oleh Allah, malah melanggar apa yang telah ditetapkan.

Namun, jadikan-lah masa-masa ini sebagai kesempatan untuh ber-muhasabah diri, ber-taqarrub pada Allah, dan ber-tafakkur. Tingkatkan takwa kita, denagn memperbanyak ibadah dan memohon ampunan pada Allah. Dan kita bersabar menjalani musibah ini. Menginatkan kita pada kisah nabiullah  Yusuf yang dibuang oleh sudara-saudaranya, dan kemudian nabi Ya’kub berkata, yang diabadikan dalam surat Yusuf ayat 18,

وَجَآءُو عَلَىٰ قَمِيصِهِۦ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَٱللَّهُ ٱلْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Artinya, “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.

Lalu bagaimana kita menghadapinya ? Yakni dengan berpegang teguh pada tauhid, baik di kala lapang maupun sempit, baik di kala suka maupun duka, curahan anugerah maupun musibah. Senantiasa bersabar dan beristiqomah, sebagaimana firman Allah QS Fushilat ayat 30-31,

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ, نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِىٓ أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.”

Penulis: Muhammad Fathun Niam

       Referensi

Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir jilid 6, Pentrj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2004).

Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: penerbit Pustaka Panjimas, 1989).

Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi, Pentrj. Abu Ali dan Taufik Damas, (Jakarta: Mizan, 2019).

Ririn Noviyati Putri, Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Covid-19, “Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi”, vol. 20 no. 2, tahun 2020.

Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Pentrj As’ad Yasin. dkk, (Depok: Gema Insani, 2008).

Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah Pesan, kesan, dan pesan al-Quran  vol. 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).

______, Tafsir al-Misbah Pesan, kesan, dan pesan al-Quran vol. 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).

_____, Tafsir al-Misbah Pesan, kesan, dan pesan al-Quran vol. 6, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).

_____, Tafsir al-Misbah Pesan, kesan, dan pesan al-Quran vol. 9, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).

_____, Tafsir al-Misbah Pesan, kesan, dan pesan al-Quran vol 11, (Jakarta: Lentera Hati, 2002).

Suhartono, Suparlan, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2005)

Abdul Rahman Rusli Tanjung, Musibah Dalam Prespektif al-Quran, “Analytica Islamica”, vol. 1, no. 1, tahun 2012, hlm. 149.

Akhmad Muwafiq Saleh, https://kanal24.co.id/read/bencana-antara-ujian-musibah-dan-adzab-bagian-kedua. Diakses pada 7 November 2020, pukul 18:53

https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/11/05/16502741/4065-kasus-baru-covid-19-di-33-   provinsi-penambahan-di-jakarta-tertinggi di akses tanggal 5 November 2020, pukul 21:45 WIB.

 https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/TENTANG%20NOVEL%20CORONAVIRUS.pdf. di akses tangga 5 November 2020, pukul 22:10 WIB.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5155917/pandemi-corona-angka-pengangguran-tembus-10-juta di akses tanggal 7 November 2020, pukul 13:01 WIB.

 



[3] Ririn Noviyati Putri, Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Covid-19, “Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi”, vol. 20 no. 2, tahun 2020, hlm. 705

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan Kesan dan Seserasian al-Quran vol. 11, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 76-79.

[6] Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir jilid 6, M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari, (Bogor: penerbit Pustaka Imam Syafi’I, 2004), hlm. 379-380.

[7] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan Kesan dan Seserasian al-Quran vol. 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 418.

[9] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan Kesan dan Seserasian al-Quran vol. 4, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 80.

[10] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah vol. 3, (Jakarta: penerbit Lentera Hati, tahun 2002), hlm. 80-81.

[11] Teori Trolley Problem, merupakan teori yang menunjukkan sebuah moral. Membunuh 100 orang untuk menyelamatkan 1000 orang. Di populerkan oleh Judith Jarvis Thomson, seorang filsuf moral berkebangsaan Jerman.

[12] Akhmad Muwafiq Saleh, https://kanal24.co.id/read/bencana-antara-ujian-musibah-dan-adzab-bagian-kedua. Diakses pada 7 November 2020, pukul 18:53

[13] Abdul Rahman Rusli Tanjung, Musibah Dalam Prespektif al-Quran, “Analytica Islamica”, vol. 1, no. 1, tahun 2012, hlm. 149.

[14] Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah vol. 5, (Jakarta: penerbit Lentera Hati, tahun 2002), hlm. 651.

[15] Lihat Quran surat al-Qamar ayat 9-40

[16] Apps Ensiklopedi Hadits, Hadis dari Imam Ahmad, no. 21649 (al-Alamiyah). Isnad Dha’if menurut Syu’aib al-Arn’auth.

[17] Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi¸ Pentrj. Abu Ali dan Taufik Damas, (Jakarta: Mizan, 2019), hlm. 52.

[18] Quran surat Ali-Imran ayat 185.

Komentar