Malaikat Sebagai Makhluk Tuhan

Malaikat merupakan makhluk Allah, yang tercipta dari cahaya, yang mana memiliki tugas bertasbih kepada Allah. Lalu mereka diberi tugas masing-masing oleh Allah. Adapun mereka yang hanya bertugas beribadah kepada Allah, dan adapun mereka yang semuanya melaksanakan tugas seperti apa yang telah Allah azza wa jalla perintahkan kepada mereka.

Sebagian mufassirin memahami tentang Malaikat itu mempunyai tugas masing-masing. Dan dalam melaksanakan tugasnya, para malaikat pasti melakukanya dengan baik, yang mana mereka tidak akan pernah mengeluh, membangkang, ataupun mereka maksiat kepada Allah. Malaikat digambarkan sebagai makhluk yang selalu taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepada Alla Swt, tidak pernah ingkarnkepada Allah. Dan juga, Malaikat tidaklah memiliki nafsu, entah itu nafsu makan, minum, ataupun nafsu yang lain. Mereka (Malaikat) tidaklah mempunyai suatu keinginan apapun, baik fisik maupun materi. Bagaimana mereka mau untuk ingkar kepada Allah, padahal sepanjang waktu itu mereka terus bertasbih kepada Allah. Dan mereka pun, waktu siang dan malam itu dihabiskan hanya untuk tunduk kepada Allah.

Para Malaikat selalu taat dan tidaklah mereka pernah untuk durhaka kepada Allah dari apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka. Hal ini berkesesuaian dengan firman-Nya dalam surah At-Tahrim/66 ayat 6 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan

Ayat ini memiliki maksud, menjelaskan bahwasanya malaikat akan melakukan apapun yang Allah perintahkan atas mereka. Merekapun akan bersegera dan langsung melaksanakan seruan Tuhan terhadap mereka, tanpa melakukan kesalahan dan terlambat sedikitpun. Dan kemampuan mereka atas izin Allah dari tugas yang dibebankan kepada mereka. Maksudnya, Allah azza wa jalla memberi kuasa terhadap mereka karena tugas yang telah diberikan kepada mereka. Misal, Malaikat Izrail, yang mana Allah memberi dia kuasa (kekuatan, kemampuan) untuk dapat mencabut, memisahkan ruh terhadap jasad. Dan dalam tafsir Ibn Katsir pun dikatakan tadi, atas tugas yang telah dibebankan atas mereka, mereka tidaklah memeiliki kelemahan atas nya. Dan itulah malaikat Zabaniyah, malaikat juru siksa neraka.

Di atas tadi telah dikatakan bahwasanya malaikatt adalah makhluk Allah. Namun, sebagaian Mufassirin lain berpendapat bahwasannya mereka adalah ruh, yaitu setiap ruh yang dihembuskan Tuhan terhadap apa yang Dia kehendaki.

Sebagaian manusia adapun yang tidak percaya dengan adanya malaikat. Karena mereka berfikir atau dengan mendahulukan rasionalitas mereka. Mereka berpandangan bahwa hal ghaib itu tidak ada. Layaknya kematian dan hari setelah kematian. Yang mana ada sebagaian manusia yang tidak mempercayai adanya hari kemudian, yaitu hari pembalasan. Begitu pula malaikta, karena mereka adalah ghaib . Di mata  mereka malaikat itu tak lain dan tak bukan merupakan kekuatan alam yang mendorong manusia dalam berbuat kebaikan. Sekali-kali bukan sosok, makhluk tersendiri yang harus kita Imani sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam firman-Nya surah An-Nisa’ ayat 136 yang berbunyi,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya

Bagi mereka yang tidak mempercayai akan malaikat, mereka berkeyakinan bahwa kalau roh kehidupan baik itu tumbuhan, hewan, maupun manusia itu menjadi baik, buukan dari faktor malaikat melainkan adanya kekuatan atau dorongan yang baik. Sehingga mereka bisa tumbuh berkembang secara sempurna. Dorongan itu sering dikenal dengan istilah “Kekuatan Alam”(al-Quwwah al-Thabi’iyyah).

Seperti bagaimana Muhammad Abduh memandang malaikat bukan sebuah sosok atau makhluk. Dalam tafsirnya al-Manar di berpendapat bahwasanya malaikat iti merupakan benih yang dimasukkan oleh Tuhan kedalam tumbuh-tumbuhan, begitujuga manusia, dan hewan. Muhammad Abduh dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 30-34, ia berpendapat, jika malaikat adalah makhluk ghaib yang tidak perlu diteliti, cukup sebatas mengetahui saja.

Tentunya, penulis memilih bahwa malaikat ialah makhluk Allah. Yang mana dengan yang telah Allah gambarkan didalam Al Quran bahwasanya malaikat itu tecipta dari cahaya. Seperti sabda Rasulullah,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خُلِقَتِ المَلٰئِكَةُ مِنْ نُوْرِ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجِ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ اٰدَمَ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

Dari Aisyah berkata: Rasulullah saw bersabda,”Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari Sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.”

Intinya, sebagaian mufassirin itu ada yang berbeda pendapat dengan pendapat dari mufassirin pada umumnya. Malaikat jika dimaknai makhluk, adapun mereka yang tugasnya adalah menjaga manusia. Mereka dikenal dengan nama malaikat Hafadzah, yang mana hal inii dapat kita pahami dala surah Al-Infitar ayat 10-14,

Artinya, “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”

Malaikatpun tidak memiliki rasa capek, seperti yang telah dijelaskan di atas tadi. Ini berkenaan dengan firman Allah dalah surah Al-Anbiya ayat 20, yang berbunyi,

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

Artinya, “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya 

Komentar