Pengaruh Kaum Orientalis terhadap Perkembangan Islam dan Sejarah Singkat Filsafat

 

Kaum oriental ini muncul, dikala para sarjana barat, yang pada awal perkembangan Ilmu, baik Filsafat, budaya, adat istiadat, maupun Islam itu sendiri di dunia Timur. Ada kajian dan ide untuk kemudian mempelajari seluruh ilmu dan budaya dunia Timur, yang kemudian berencana untuk memindahkan itu semua ke dunia Barat.

Para Orientalis ini muncul semenjak adanya studi dan kajian mengenai segala hal timur, baik dalam hal budaya, ilmu, filsafat (untuk ilmu dan filsafat, pada sebelumnya adalah sebuah ilmu yang masih belum terpisah, masih menjadi satu. Dalam arti, filsafat dan ilmu itu belum dibedakan), adat-istiadat, maupun Islam itu sendiri. Kemudian, kenapa Islam terbawa ? Karena, Islam ada di Timur, jadi semua yang bersangkutan dipelajari oleh scholars (sarjana).

Sebenarmya, dunia Barat dan dunia Timur, telah saling bersentuhan satu sama lain sejak lama. Bahkan ribuan tahun sudah saling berhadapan. Tentunya, dalam hal yang negatif, dunia Barat dan dunia Timur, sudah saling bergesekan, mereka saling berperang, merebut kekuasaan antara Grik Tua dengan Achaemendis imperium Persi 550-530 SM. Namun, karena ini semua, akhirnya dunia Barat dan Timur memdorong saling mengenal satu sama lain. Kemudian, akinat dari hubungan barat dan timur itu, terciptalah sebuah karya berjudul, “Anabasis” yang ditulis oleh Xenophon.

Sekitar tahun 225 SM, Alexander The Great melakukan invasi ke segala wilayah, salah satunya ke Mesir dan berhasil menguasai Aleksandria dengan membawa pengaruh Filsafat Yunani, yang gerakan ini dikenal dengan istilah, “Hellenisasi” atau dengan istilah yang lebih mudah disebut pe-Yunanisasian terhadap wilayah yang dikuasai. Dengan kata lain, gerakan ini adalah gerakan denga tujuan untuk mengenalkan, dan kemudan menerapkan seluruh ilmu dan budaya Yunani pada wilayah-wilayah di bawah tangan Alexander Agung.

Alexander Agung sendiri, adalah murid dari seorang Aristoteles. Lebih tepatnya, Aristoteles adalah guru pribadi dari pangeran Alexander Agung saat itu. Aristotel, ia bersekolah di Akademia–sekolah yang didirikan oleh Plato di Athena–ia tinggal menetap di sana sampai Plato meninggal dunia. Kemudian, selama dua tahun lamanya, Aristotel pergi bertugas sebagai guru dari pangeran Alexander. Namun, tidak lama setelah itu, Pangeran Alexander Agung diangkat menjadi raja, dan menjadikan Aristotel pulang ke Athena. [1]

Aristotel berkata, “Amicus Plato, magis amica veritas” Artinya, “Plato adalah sahabatku, tetapi kebenaran lebih akrab bagiku” secara harfiah kalimat tidak berasal dari Aristo, setidaknya baik untuk mengalamatkan kepadanya[2]. Namun, di luar itu, entah apa sebenarnya makna yang ada di dalamnya.

Filsafat sendiri tidak dapat dikaji dan dihidangkan pada tahun sekian, tanggal sekian filsafat itu lahir.[3] Di luar itu, bisa dipastikan, di mana filsafat itu muncul pertama kali. Filsafat muncul pertama kali di Miletos, yang di sana muncul Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Namun, pada masa ini tidak ada buah tangan yang tersisa. Seakan semuanya lenyap begitu saja, yang kemudian menjadikan masa ini tidak ada bukti tulis, karya dari para filsuf sendiri. Ada kesaksian-kesaksian, namun itu hanya disimpan dalam dunia ideal. Tetapi, para pakar menjelaskan, bahwa masa ini adalah masa di mana para filsuf memandang alam sebagai objek kajian.

Sebenarnya, Aristotel, Plato, semuanya saling berhubungan. Sejatinya, Mereka adalah murid dari Socrates. Ilmu dari Socrates, diturunkan pada Plato, karena Sovrates sendiri tidak meninggalkan arsip apapun berupa karangankarangan. Maka dari itu, sumber ilmu adalah murid setianya, Plato. Socrates sendiri mati karena hukuman yang diberikan, karena dianggap mempengaruhi warga Athena. Ia kemudian dipaksa meminum vawan berisi racun. Meski Plato dianggap tidak benar-benar membawakan tradisi filsafat Socrates.

Teori Plato salah satunya melalui cerita yang ia susun, bahwa “seorang lebih senang dengan dunia ideal dari pada dunia realita.” Dunia Ideal adalah alam ide, alam imajinasi atau ekspektasi. Teori ini menjerumus pada permasalahan pemikiran rasio yang berupa dinamis atau statis. Jika awal dahulu ada Heraklietos dan Parmenides. Plato dikenal dengan dualismenya, ia berpandangan, pendapat Heraklietos sebagai asa api, sebuah perubahan, itu memang benar adanya, namun hanya berlaku pada Dunia Ideal. Begitu juga dengan Parmenides, bahwa segala hal itu statis, namun pandangan Plato adalah, hanya berlaku untuk dunia realita.

Selain daripada itu, Islam telah lahir, yang kemudian memunculkan peradaban besar di Timur, yang saat itu, mendominasi budaya Timur. Hingga, pada mas Bani Umayah, Islam mampu mengepakkan sayapnya menuju Eropa. Berdirilah kerajaan Andalusia, di Andalus/Kordova, Spanyol. Kemudian inilah, budayabudaya Islam masuk ke pori-pori bangsa Eropa saat itu. Hingga, pada awal abad ke-8 disebut, Islam adalah pemberi cahaya dunia. Di luar itu, Islam kemudian berkembang pesat, muncullah kaum intelektual pada masa keemasan Islam. Perkembangan itelektual yang sangat menonjol, sehingga berhasil mendirikan perguruan tinggi ternama.

Telah kita ketahui bersama, Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia di bawah penharuh Islam, dan muncul perguruan tinggi besar, berpusat si Baghdad (Irak), kemudian Kairo (Mesir), dan juga, Islam sudah menyebar di eropa, adapun perguran tinggi besar di Eropa adalah di Kordova, dan Fes (Maroko). Keempat perguruan tinggi yang dimaksud adalah, Nizamiyah, al-Azhar, Cordova, Kairawan. Sebab inilah, kemudian bangsa Eropa mulai mempengaruhi minat Barat terhadap Dunia Timur. Hingga, pada suatu ketika, segala bentuk formal dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Dari hubungan diplomatik, hingga urusan yang lain.

Orientalism muncul, dikala kaum dunia Barat hendak memindahkan segala ilmu, budaya (yang di dalamnya agama) dari dunia Timur untuk dipindahkan ke dunia Barat. Meski pada beberapa kajian menyebutkan bahwa agama juga sebagai pandangan mereka, menurut penulis dikiranya kurang tepat. Karena, dapat kita lihat bagaimana Kekhalifahan di Andalus runtuh dengan direbutnya kembali oleh orang-orang Khatolik pada saat itu. Pada saat itu, juga bertepatan dengan penaklukan kota Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih.

Ketita sultan Muhammad al-Fath berkutbah, dalam khutbah beliau mengatakan, bahwa “jika aku tak mampu menaklukan kota ini, aku tak akan menjadi pemimpin. Dan jika Allah telah memberikan (sesungguhnya telah benar berita masa lalu untuk hari ini yaitu) kemenangan, maka kemenangan itu bukan untukku, dan juga kemenangan itu bukan untuk kita. Namun, kemenangan ini adalah untuk umat Islam.” Di mana, khutbah ini dikumandangkan pada dini hari sebelum penyerangan terakhir. Dengan telah runtuhnya tembok raksasa, tak mungkin setelah itu mampu ditutup oleh musuh saat itu.

Pada hari itu, dikirim dua pasukan. Pasukan pertama dikirim, kemudian ditarik oleh sultan Mehmed II, yang berikutnya keluarlah pasukan reguler, dan kemudiam ditarik kembali. Dan pada akhirnya, belum sampai matahari terbit, Kota Konstanti ditaklukkan. Kemudian dengan berjalan mengelilingi kota kekuasaan Yunani itu, sultan Mehmed II hanya berucap, “MashaAllah” dan setiba di depan Hagia Sophia, beliau melepas helm beliau dan mengambil segenggam tanah, dan mengucurkannya di atas kepala beliau. Dan nampak, seluruh rakyat di dalam Hagia Sophia dalam ketakutan. Ketakutan ini dikarenakan, di sisi lain jauh di sana (Andalusia), Islam diratakana kembali. Dan rakyat yang di dalam takut, jika sultan Mahmed II berlaku sama dengan apa yang dilakukam oleh kaum Nasrani pada Islam di Andalus.

Menurut pandangan penulis, bagaimana sebab muncul kaum oriental adalah adanya studi kajian terhadap segala ilmu dan budaya pada dunia Timur yang dilakukan oleh dunia Barat. Jika, pada awal tujuannya juga mengambil agama, niscaya pada saat itu agama Islam juga dapat tumbuh lebih pesat. Namun yang terjadi malah, pada saat Peter Agung berkuasa di Biara Cluny, ia malah memerintahkan para sarjana untuk menterjemahkan teks Arab ke latin, dan menyisipinya dengan cerita buruk yang di alamatkan kepada pribadi Rasulullah dan Quran. Di mana saat itu malah muncul banyak cerita cabul, dan menghina Nabi dan Quran.

Namun, jauh sebelum jatuhnya kota Granada ke tangan Nasrani, Kekhalifahan saat itu, yang berpusat di Damaskus mengutus segala bentuk diplomatik dan surat surat resmi menggunakan bahasa Arab. Yang berarti itu juga berlaku di Eropa saat itu yang telah jatih di tangan Umat Muslim.

Ada pandangan lain, bahwasanya, kaum orientalis memiliki kepentingan politik dan agama juga. Itu juga sebagai sebab kenapa ingin memindahkan Islam ke Eropa (secara pada saat itu telah dibawa oleh Thariq Ibn Zayid, dengan melakukan ekspansi dari Jazirah Arab ke kota Andalus. Ini juga sebagai bukti, bahwa kekuatan umat Islam itu mengerikan). Ada pandangan bahwa pada abad pertengahan, pandangan orang Eropa terhadap Islam karena faktor Teologis dan Kitab suci. Oleh karena itu, mitologis, teologis, dan misionerlah yang berperan dalam rumusan mengembangkan Islam bagi kaum Gereja.

Dipahami juga oleh kaum gereja, bahwa secara mitologis dan teologis, Islam dipahami sebagai kaum Arab (saracen) keturunan Ibrahim melalui budaknya Hagar (Hajar) dan puetranya Ishmael (Ismail).

Pada masa keemasan Islam. Baghdad dan Andalusia menjadi pusat peradaban Islam dan peradaban dunia. Pada masa ini, di belahan Eropa, seliruh aktivitas sosial, orang pribumi yaitu penduduk asli Andalus, mereka menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Dan disusul dengan berdirinya banyak perguruan tinggi di Eropa. Pada Gold Era inilah, Islam menjadi Peradaban dunia. Kemudian dibuktikam dengan seluruh adat istiadat, norma agama berlaku. Adapun para raja menggunakan pakaian khas Arab saat itu yaitu Raja Roger II. Ada raja Peter I, raja Alfonso IV yang kemudian mencetak uang logam menggunakan bahasa Arab.

Peradaban Islam bukan hanya berpengaruh di Eropa atau di bawah kekuasaan atau bekas kekuasaan Islam, namun juga di luar Eropa. Banyak sarjana dari Itali, Prancis, Inggir, Jerman yang kemudian belajar di universitas-universitas yang ada di Andalusia dan Sicilia. Banyak pemuka agama yang nota bene mereka adalah non-Islam, namun kemudian mereka belajar di Andalus dan Sicilia. Di antara mereka ada Gerbert d'Aurillac kemudian menjadi paus di Roma, kemudian ada Adelard yang setelah kembali ke inggris, ia menjadi guru untuk pangeran Henry. Pada masa inilah, bahasa Arab kemudian dianggap penting untuk kemudian dipelajari. Dari situlah muncul sebuah ide, yang itu untuk memindahkan seluruh ilmu dan budaya dari duni Timur ke dunia Barat. Lebih tepatnya, memindahkan segala Ilmu pengetahuan Islam ke Eropa. Di sinilah, muncul semangat dan minat untuk memperdalam bahasa Arab.

Kemudian, masuk pada masa setelah perang Salib. Yang tentunya banyak kerugian yang tak lagi dapat ditaksir berapa. Meski umat Islam menang dan umat Kristen mengalami kekalahan, bukan berarti Islam tidak mengalami kepayahan. Ditambah segala bentuk apa yang dibangun juga runtuh dan berserakan. Segala ilmu dan sebagainya. Di sini pula, umat Islam jiga mengalami kebodohan, kemiskinan, juga disebabkan oleh tidak diperhatikannya lagi ilmu pengetahuan. Umat Islam saat itu seakan sudah terfokus hanya pada pertahanan tanpa memperhatikan keadaan ekonomi dan juga ilmu pengetahuan. Di sisi lain, walau umat Kristen mengalami kekalahan, karena sebab ikatan Islam-Kristen menjadikan terwujudnya renaisans. Pada masa inilah, kemudian umat Kristen mengadakan kajian untuk mempelajari segala ilmu dari dunia Timur. Ketika periode awal perang Salib, dilakukan studi mengenai Islam pada masa Peter Agung, kepala Biara Cluny di Prancis yang hingga saat ini menjadi lembaga pengetahuan Kristen. Pada tahun 1142, Peter Agung selaku sebagai kepala lembaga, ia kemudian melakukan perjalanan ke Spanyol, untuk pergi ke biara-biara Clunic. Pada saat itu, ia melakukan sebuah proyek besar dengan mendatangkan para sarjana dan penterjemah untuk memulai studi sistematis tentang Islam.

Kemudian Peter Agung memberikan otoritas penuh pada para sarjana dan penterjemah dalam memterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab, dam juga dalam melakukan pentafsiran terhadap teks-teks Islam. Dan terjadilah, saat itu bermunculan kisah-kisah, cerita, dongeng cabul soal Nabi. Kemudian melukiskan Nabi sebagai Tuhan, pendusta, penyihir dan sebagainya.

Pasca perang salib, banyak tulisan-tulisan buruk yang di alamatkan kepada diri Islam. Hal ini, bisa juga disebabkan karena kekalahan bangsa Eropa (kaum salibis) dalam peperangan Salib. Di mana pada saat itu (1142 M), Peter Agung menjabat sebagai kepala Biara Cluny dan pada saat itu pergi ke Spanyol untuk mengunjungi biara-biara clunic. Pada masa ini juga, ia mengumpulakn para sarjana dan ahli bajasa untuk memulai proyek besar. Proyek tersebut adalah penterjemahan kitab-kitab Timur dan kemudian banyak disisipi dongeng dan cerita buruk tentang Islam.

Kaum Oriental sendiri, juga banyak yang menuliskan kesan buruk, yang pada akhirnya timbul opini dan kesan publik terhadap Islam. Seperti Islam adalah agama yang bengis, suka perang, dan lain sebagainya. Padahal, kota ketahui sendiri, Islam walau berperang, jiga memiliki peraturan dalam bermain (role). Berbeda dengan yang lain atau agama yang lain. Di mana apapun yang mereka bisa lihat, mereka akan menghancurkannya. Bukan hanya merusak secara material, tapi juga moral (adanya kekerasan asusila, seperti yang terjadi saat masa kolonialisme).

Kemudian, pada abad ke-16, di mana Eropa mampu keluar dari masa kegelapan. Meski di sisi lain agama Islam hancur–karena pemerintah hanya terdokus pada bidang militer dan pertahanan, tanpa memperhatikan bidang Ilmu pengetahuan–akibat perang salib, dan meski kaum Salib kalah total, namun ia mampu bangkit dengan majunya berbagai ilmu. Kontak Islam-Kristen ini nampaknya memberikan sumbang sih yang kemudian terlahirlah masa renaisans bagi bangsa Eropa. Dan pada abad 16, Eropa telah memasuki masa Enlightement atau pencerahan atau dapat dikenal dengan sebutan, “Aufklarung.”

Pada masa pencerahan ini, Eropa kemudian bangkit, dan menemui titik insaf untuk kemudian mencari kebenaran. Sikap positif ini muncul, karena adanya perubahan politik, regius, dan intelektual pada masa reformasi ini pada abad ke16. Pada masa ini pula, kesadaran dan mengutamakan rasio ini-lah, yang kemudian memunculkan karya tulis yang benar-benar objektif, bukan mengadaada. Mulailah muncul karya tulis yang mencoba bersifat positif terhadap Islam. Dan banyak setelahnya keluar tokoh seperti Voltaire, seorang penulis dari Prancis yang menyatakan kebutuhan manusia dalam beragama. Muncul pula Thomas Carlyle. Tidak semua tulisan (kaum Oriental) berisi ejekan, hinaan, celaan terhadap Islam, namun banyak yang kemudian memberikan penghargaan kepada Nabi Muhammad Shalalahu'alaihi wa salam, dan al-Quran beserta ajaran-ajarannya.

Kemudian dari pada itu, munculah masa Kolonialisme, yang kemudian mulai berdatangan ke negeri-negeri Timur dalam melakukan perdagangan, dan melakukan pendekatan terhadap Timur. Dengan melakukan beebagai hubungan dagang, maka dengan mudah bangsa Barat dapat menundukkan bangsa Timur. Dan di masa ini juga, semua tulisan merupakan pandangan positif dan kajian Islam apa adanya. Pada awal abad 20, kajian dan studi terhadap Islam dilakukan secara ilmiah dan objektif, yang ini merupakan usaha mengkaji dunia Islam lebih mendalam lagi. Dalam tradisi ilmiah, kedusukan bahasa dan kajian terhadap teks kuno rupanya sangat diperhatikan. Terutama bahasa Arab dan kajian teka klasik. Salah satunya, Sir Hamilton H.R.A Gibb yang sangat menguasai bahasa Arab, dan piawai dalam pidato berbajasa Arab, hingga kemudian ia diangkat sebagai anggota al-Majma' al-Talm al-Arabi di Damaakus dan anggota al-Majma' alLughah al-Arabi di Mesir.

Sir Hamilton H.R.A Gibb memandang Islam merupakan agama yang dinamis dan nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam memiliki akhlak yang mulia, baik dam benar. Ia menulis banyak mengenai Islam dalam beberapa aspek, hingga ia menghasilkan setidaknya 20 buah karya dari tanganya. Dan di sinilah, kamu orientalis yang lain kemudian memandang Gibb sebagai Imam mereka dalam pengenalan agama Islam. Sama seperti Gibb, Louis Masingnon juga piawa dalam beebahasa Inggris, dan ia menjadi anggota al-Majma' al-Talm al-Arabi dan anggota al-Majma' al-Lughah al-Arabi, ia kemudian diangkat sebagai dosen Filsafat Islam di Universitas Cairo. W.C. Smith, seorang yang mendalami Islam, kemudian mendirikan Institut pengkajian Islam di Universitas McGill di Montreal. Ia menyatakan, bahwasanya Tuhan hendak menurunkan risalah kepada manusia. Untuk itu, Tuhan mengutus para rasul salah satunya adalah Nabiullah Muhammad, namun melalui perantara (Jibril kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad). Frithof Schuon, ia menulis buku berjudul `”Understanding of Islam`” yang kemudian mendapat respon dan sambutan yang baik oleh dunia Islam. Kemudian seorang ahli sejarah dan filsafat, Sayyid Husain an-Nashr mengatakan, bahwa terswbut merupakan buku terbaik sebagai buku agama dan tuntunan hidup.

Rekam jejak kajian dan studi kaum Orientalis dalam melakukan kongres yang kemudian menjadikan Islam secara tidak langsung tersebar di dunia Barat.

1.      Memlalui kongres-kongres yang dilakukan, yang awal mulanya pada tahun 1873 di Paris kemudian di kota-kota lainnya yang bergantian. Awalnya kongres ini bernama Orientalits Congres, kemudian berganti nama menjadi Congres on Asia and Norrh Africa.

2.      Kemudian juga mendirikan lembaga-lembaga kajian ketimuran, di antaranya Ecole des Langues Orientalis Vivantes (1975) di Perancis, the Schooll of Ariental and African Studies, Universitas London, (1917) di Inggris, Oosters Institut (1971) di Universitas Leiden, dan Institut Voor het Moderne Nabije Oosten (1956) di Universitas Amsterdam.

3.      Mendirikan banyak lembaga organisasi, seperti Societe Asiatique (1822) di Paris, American Society (1842) di Amerika Serikat, Royal Asiatic Society di Inggris dan Genootschap in Nederland (1929) di Leiden; dan

4.      Menerbitkan majalah-majalah, di antaranya Jurnal Asiatique (1822) di Paris, Journal of the Royal Asitic Society (1899) di London, Journal of the American Oriental Society(1849) di Amerika Serikat, Revaue du Monde Musulman (1907) di Perancis, Der Islam-Zeustschrift fur Gesehichte und

Setelah kita melihat bagaimana kaum Oriental ini muncul, tentunya kita mampu mengambil banyak pelajaran dari ini semua. Terutama, peran kaum Orientalis yang kemudian mempunyai sumbahsih tersendiri untuk dunia Islam. Secara langaung ataupun tidak langsung para Orientalis telah mempeekenalkan Islam di dunia Barat. Dengan bermunculannya banya lembaga, organisasi, institut yang kemudian melakukan kajian terhadap dunia Timur, tentunya akan menimbulkan rasa penasaran seseorang terhadap islam. Dan, dalam berpikir positif, kita mampu melihat bahwa kaum Orientalis juga memberikan sumbangsih berupa pengenalan Islam secara benar. Yang kemudian hari kita teladani adalah semangat juang dan semangat ilmu dalam mempelajari berbagai bidang Ilmu. Terkhusus sebagai muslim harusnya kita mengenal agama itu sendiri. Meski demikian, banyak juga orientalis yang masih menulis kesan buruk terhadap Islam.

 



[1] K. Bertens, Sejarah Singkat Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2011). Baca bagian Aristoteles

[2] Ibid.

[3] Ibid, hlm. 1.

Komentar