Menyikapi Takdir Allah: "Logika untuk Menyimpulkan"

        Manusia terlalu cepat untuk menyimpulkan, seakan akal bekerja sebagai alat untuk menyimpulkan. Padahal, akal diciptakan untuk manusia berpikir sangat-sangat panjang. Agar apa ? Agar manusai berpikir, agar manusia memgingat. Ingatan manusia itu pendek, selama dijaga, maka memori itu akan awet. Selama hubungan dijaga, hubungan langgeng. Namun, manusia terlalu cepat untuk memyimpulkan. Dan, kebanyakan resultnya adalah negative thinking pada siapapun dan ujungnya negative thinking pada Allah.

        Seharusnya, kita berpikir itu panjang sekali, lebar sekali, dan lama. Maksud lama adalah manusia berfikir akan suatu hal itu harus panjang, bukan berarti lelet atau istilahnya "bebel." Namun, berarti memahami setiap apa yang telah Allah berikan, dan timpakan kepada manusia. Allah menimpakan manusia mausibah, bukan hanya memiliki satu makna, bahwa Allah murka, namun busi jadi karena Allah sayang, dan Allah rindu dengan doa hamba-Nya itu yang telah lali kepada-Nya. Allah menurunkan sesuatu, nikamat itu bukan berarti Allah memberikan tanpa maksud, namun bisa jadi kembaki, Allah menguji hamba-Nya itu dengan kenikmatan.

        Bisalah manusia itu bersyukur di kala lapang, namun akan kufur di kala susah. Allah hanya ingin menguji, apakah hamba-Nya itu benar-benar bertakwa kepada-Nya. Bukankah setiap perintah yang secara leterlek itu dapat secara luas dimaknai sebagai ketaatan. "Kamu lho cukup ikuti perintah-Ku, maka kamu akan aku beri kekekalan." Dalam buku "Fihi Ma Fihi" Allah itu menawarkan kepada manusia, bahwa Allah mau membeli harta, hingga jiwa manusia, jika manusia mau untuk memberikannya, sungguh manusia dalam kekekalan yang abadi. Maksudnya adalah syurga, makna kekekalan itu telah identik dengan kebahagiaan.

     Pemikiran manusia cenderung selalu negatif, makanya, Allah memerintahkan kita untuk ber-husnudzon kepada sesiapa, terlebih kepada-Nya. Terkadang, kita berfikir apa yang telah Allah "timpakan" kepada kita itu hanya berupa kemurkaan, tanpa kita berpikir dan mau untuk mencari hikmah, pesan yang Allah selipkan di dalam setiap peristiwa. Menurut diri penulis pribadi, makna kata "kebetulan" itu adalah ketidak tahuan manusia akan sebuah rencana. Berfikir, bahwa segala hal adalah kebetulan, dan dengan makna, apa yang kita "lakoni" mesti akan berujung pada tujuan apa yang kita mimpikan.

         Namun, kebetulan adalah kata yang menggambarkan ketidak tahuan. Jika manusia mengetahui, kata itu bukanlah sebuah kata yang menunjukkan keterkejutan suatu hal yang "nge-pas" namun, malahan kota akan memaknai peristiwa itu dengan kekaguman. Selama ini, kita cenderung menyepelekan apa yang sebenarnya telah Allah pesankan kepada manusia. Berbicara mengenai pesan, Quran yang benar benar pesan dari Allah saja, manusia masih enggan untuk mengetahuinya, enggan untuk memahaminya. Apalagi sebuah peristiwa.

         Menurut pribadi, setiap kejadian selalu ada hikmah, jika kita mau untuk meniliki lebih jeli di satiap kejadian. Allah itu bukan hanya berbicara melalui kalam-Nya yaitu Quran, namun Allah berbicara melalui hati, telinga, mata, fikiran. Allah meliputi manusia. Terlepas dari perkara dan ajaran Wahdatul Wujud dari Ibnu Arobi, yang mengatakan, "Allah itu meliputi alam. Alam itu, ada Allah."

        Keluarnya manusia dari tempat "kedamaian" itu pun jika diteliti lebih jeli, kita akan melihat pesan Allah. Namun, kita lebih cepat untuk berfikir. Dan cepat sekali untuk menyimpulkan. Otak, pikiran, hati, merupakan sebuah part yang memiliki funsi untuk "memahami" Tuhan, memahami takdir Tuhan. Pikiran, bukan tempat untuk "menyimpulkan" yaitu untuk mencari jawaban dalam diri, namun lebih dari itu, yaitu memaknai kehidupan. Kenapa kita merasa hidup itu monoton, hidup itu monochrom, hidup itu tak bewarna, karena kita disibukkan dengan masalah, dan disibukan dengan pikiran. Terkadang kita sendiri yang memperbesar masalah itu.

        Bagaimana hidup agar berwarna ? Tentunya dengan memaknai hidup, memaknai takdir, mamaknai ketetapan dengan terus berfikir. Tujuannya bukan untuk mencari jawaban, namun untuk mencari "pelajaran" dan "hikmah" yang dapat dipetik disetiap peristiwa. Allah, dalam memberi itu selalu berbentuk drama, bukan makna negatif, namun sebagai makna positif, sebagai bentuk kasih sayang-Nya Allah kepada hamba-Nya. Mintalah sebanyak banyaknya, tapi ingat Allah adalah "al-haqq", bahwa semuanya terserah Dia. "Ana al-Haq".

            Minta saja, Allah akan kabulkan. "Sabar adalah Kunci" jika kata Candra Liow di Filmnya. Sabar aja, dalam meminta sekalipun, Allah lebih mengetahui apa yang sebenarnya hamba-Nya butuh, namun Allah juga tahu apa yang hamba-Nya inginkan. Banyak doa yang kita panjatkan, banyak yang dikabulkan. Sempitnya pikiran, dan dengan kata "lupa" Allah mengampuni manusia. Manusia terlalu memikirkan yang baru, hingga melupakan yang lama. Karena sesungguhnya, apa yang kita minta pada yang lalu, kemarin sudah Allah kabulkan. Manusia terlalu polos, dan lupa akan permintaannya yang lalu.

            Allah memang mengabulkan doa, Allah memberikan apa yang manusia butuh, namun Allah tahu sebenarnya apa yang manusia juga inginkan. Berdoa, minta, karena bisa jadi, apa yang "kita inginkan" memang akan menjadi "apa yang kita butuhkan", selebihnya, Allah yang tahu, dan Allah lebih sayang anda dari pada saya sayang kepada kalian. Sifat sayangnya manusia itu terbatas, tidak seperti sayangnya Allah kepada hamba-Nya.

Dalam firman-Nya Allah SWT berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا ۙ 

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,"
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

            Bukankah maknanya, Allah memuliakan manusia, Allah memuji manusia. Langit yang menopang gugusan bintang, planet, yang mengairi dengan hujan, meniupkan angin, kepada bumi, kemudiam Bumi yang yang menumbuhkan dari dirinya tumbub tumbuhan dan gunung gunung yang kokoh menjulang tinggi ke langit, tanda bahwa mereka adalah makhluk yang agung. Namun, mereka menolak tawaran Allah, mereka berkata "kami khawatir kami tak mampu memikulnya" maka, Allah pikulkan kepada manusia ? Allah tahu, Allah yakin manusia itu mampu.

        Kemuliaan manusia dan ketetapan alam semesta, dapat dilihat dari mata ilahiyah yang ada pada setiap makhluk. Iblis melihat Adam sebagai lumpur, tanah, kotor, bau, rendah, dan hina. Namun dia lupa, saking "enggannya" dia menyentuh Adam, dia tak tahu, di balik Adam, di balik lumpur kotor itu ada emas, perak, perunggu, zamburd, permata, berlian...

        Begitujuga kita, lihatlah dunia dengan mata Ilahiyah maka sesungguhnya dunia tak pernah memiliki sisi kesia-siaan. Meski itu sebuah musibah dan petaka menurut orang lain. Namun, melihat itu bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya yang hina nan mulia.

~Pesan
"Janganlah kamu melihat orang di atas kamu, tapi lihatlah orang yang di bawah kamu, agar kamu bersyukur"
x

Komentar