BUDAYA GOTONG ROYONG MASYARAKAT PEDESAAN YANG TERGAMBAR DI DALAM FILM “KTP” SEBAGAI PENOPANG KEUTUHAN BERMASYARAKAT

 

Film KTP dipublish oleh BMPT yang diproduksi oleh Asa Film. Film ini menggmbarkan bagaimana kehidupan di pedesaan dan menggambarkan bagaimana sikap masyarakat yang peduli terhadap sesama. Film ini menceritakan seorang petugas dari kecamatan bernama Darno, yang hendak mensosialisasikan kartu sehat manula, yang demikian itu seseorang untuk bisa mendapatkannya harus memiliki KTP. Namun, dari laporan ketua RT, ada beberapa warganya yang belum mendapatkan KTP, salah satunya Mbah Karsono. Suatu hari, Darno pergi ke rumah mbah Karsono untuk mencatat data yang diperlukan dalam pembuatan KTP. Darno mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan sampai ke pertanyaan Agama yang dianut mbah Karsono, untuk nantinya akan dicantumkan di KTP. Singkat cerita, mbah Karsono mengaku berkeyakinan “Kejawen” dengan term “Manunggal ing kawulo Gusti”. Karena kolom agama hanya ada enam pilihan, dan tidak ada agama “Kejawen” maka Darno memutuskan untuk memilihkan agama untuk mbah Karsono. Tetapi tidak ada yang pas. Hingga kemudian datang seorang perempuan yang kemudian ikut menyelesaikan masalah ini. Perempuan itu kemudian memanggil warga, dan berembug untuk menentukan solusi yang nantinya dapat diambil. Hingga singkat cerita, para warga memutuskan untuk mengurus mbah Karsono secara mandiri, tidak ada campur tangan kecamatan.

Kedatangan petugas kecamatan bernama Darno ini, bertujuan untuk mencatat data untuk pembuatan KTP, yang nantinya KTP itu sebagai syarat seseorang mendapatkan Kartu Sehat Manula, yang dengan kartu ini, seseorang dapat periksa ke puskesmas maupun rumah sakit dengan gratis atau tidak bayar. Dengan kartu ini, warga dapat dengan mudah periksa jika mereka sedang sakit. Namun di film ini, berhubung mbah Karsono tidak memiliki KTP, maka otomatis beliau tidak mendapatkan Kartu Sehat Manula tersebut, dan warga sepakat untuk mengurus mbah Karsono, jika nanti sakit atau ada keperluan lainnya, maka nanti warga akan memenuhi kebutuhan mbah Karsono.

Dalam film ini, menurut penulis menggambarkan bagaimana kepedulian warga satu terhadap warga yang lain. Pada contoh ril-nya dalam kehidupan bermasyarakat terlebih pedesaan, banyak ditemukan budaya-budaya gotong royong yang masih melekat. Bisa kita temui, seperti jika salah seorang warga memiliki “gawe” atau ada sebuah hajatan, maka banyak masyarakat yang ikut berperan di dalamnya. Atau seperti “genduri” atau “slametan” (di Kediri) menjelang hari peringatan HUT RI, pasti akan ditemui masyarakat yang menggelar makan bersama di jalan-jalan pedesaan. Dalam contoh lain, ketika ada berita duka, maka akan banyak orang yang berpaartisipasi seperti mengangkat “pendoso” (peti mati) sampai ke liang lahat, nanti sebagian aka nada di tengah jalan dengan mengibarkan bendera kuning, dan terlebih terkadang (jika yang meninggal suami) ibu-ibu akan berkumpul dan menemani sang isteri yang sedang berduka. Inilah gambaran bagaimana masyarakat yang masih memiliki kepedulian satu sama lain, yang menurut penulis menjadi sebuah kekayaan tersendiri, karena di lingkungan massyarakat perkotaan sudah jarang kita temui. Adapun pemaparan dari seorang teman yang ada di Bantul, bahwa bisa dikatakan kepedulian dalam bentuk gotong royong ini masih nampak sanagt kental. Ketika salah seorang terkena bencana, banyak orang berbondong-bondong membawakan sembako, seperti keadaan di kala pandemi seperti ini.

Dalam menerjemahkan masyarakat, Redclife-Brown mengatakan, bahwa masyarakat ini memiliki struktur dan setiap masyarakat dan budaya memiliki fungsi masing-masing. Ia mengibaratkan, bahwa masyarakat itu ibarat tubuh biologis, yang mana setiap organ akan menopang organ lain demi sebuah keberlangsungan hidup sebuah tubuh manusia atau hewan.  Dengan masih hidupnya budaya gotong royong, ini membuktikan masih adanya ikatan yang menandakan bahwa sebuah masyarakat yang masih sehat (jika diibaratkan tubuh). Seorang yang “serawung” (akbrab atau kumpul dengan orang lain) maka banyak orang yang memperhatikan atau yang akan peduli. Di kala ia sakit atau susah, bisa jadi satu kampong menjenguk dia. Seperti tergambar di dalam film “KTP”, yang mana adegan ketika warga berkumpul di rumah hanya demi menyelesaikan permasalahan “data KTP”. Terlebih pada adegan ketika ketua RT memutuskan untuk merawat mbah Karsono sendiri (tanpa ada campur tangan pihak kecamatan), menandakan bagaimana kepedulain di suau masyarakat, yang di sini akan menggambarkan bagaimana masyarakat yang hidup. Mau untuk bahu membahu membantu antar sesama.

Kepedulian seperti ini, memang masih lekat dengan masyarakat dan menurut penulis menjadikan masyarakat itu “ada”. Namun, di era sekarang, sedikit-demi sedikit budaya-budaya seperti ini sudah menghilang, sebuah budaya seperti yang digambarkan di film, yang pada era ini, antar individu hanya bertemu sebatas “papas an” (bertemu di jalan). Yang jika dilihat, maka suatu komplek perumahan itu sepi, tidak seperti suasana pedesaan yang rame dengan anak-anak atau orang-orang yang ngobrol bareng.

Sebagaimana pendapat Redclife-Brown, bahwa kebudayaan memiliki fungsi dan maksud tertentu di dalam diri masyarakat. Bukan hanya sebuah kebudayaan itu hadir tanpa makna namun memiliki khazanah yang luar biasa. “Serawung” di mana ketika orang-orang berkumpul, yang tentunya akan membangun sebuah persaudaraan. Dan jika budaya-budaya ini ditinggalkan, tentunya akan menjadikan masyarakat itu hilang atau tidak berbaur satu sama lain. Tidak aka nada tetangga yang peduli, semua hanya memikirkan diri masing masing. Oleh karenanya, perlunya kita menjaga sebuah hubungan, yang pada akhirnya dari sana akan muncul budaya gotong royong yang hadir karena kepedulian antar sesama. Demikian juga tradisi “bersih deso” yang melibatkan dan mengumpulkan warga adalah bentuk dan wujud masyarakat itu “ada dan hidup”. Di sanalah mereka bertemu, bercengkrama dan berdoa, dan bahkan makan bersama. Di sana di gelar aneka pertunjukkan yang itu menambah “gayeng dan kokoh” persaudaraan yang hendak dan terus mereka bangun.

Link Film Pendek: Film "KTP" oleh Boby Prasetyo

Penulis: Muhammad Fathun Niam (Mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga)

Komentar