Penafsiran Ayat Tentang Kemiskinan (QS Hud ayat 6)

Dalam QS. Hud ayat 6, Allah berfirman,

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Artinya, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan atas Allahlah rezekinya, dan DIa mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semua telah tertulis dalam kitab yang nyata”.

Kata wa maa (وما)  merupakan zaa’idah atau tambahan, dan kata dabbah (دابة) memiliki arti yang bergerak, dan manusia mencakup di dalamnya. Secara bahasa, asal kata dabbah diambil dari bentuk faa’ilah, dari akar kata dabba-yadubbun (دب-يدب) yang memiliki arti “bergerak” dan “melata”. Adapun dalam penerjemahan secara istilah kata dabbah dimaknai kuda, bighal (hasil kawin silang antara kuda jantan dan keledai betina), dan keledai[1]. Dalam pemaknaan lain, dabbah diartikan hewan yang bergerak dan sebagian hewan yang merangkak atau melata. Dalam ceramahnya Prof. Dr. Quraish Shihab menguraikan, bahwa mereka yang “bergerak” adalah mereka yang berjalan menggunakan kaki-kaki mereka ataupun yang berjalan menggunakan perut mereka. Dan manusia mencakup di dalamnya.

Dalam penafsirannya Imam ar-Razi dalam kitabnya al-Kasyaf menyebutkan bahwa dabbah di sana adalah segala hewan (makhluk yang bernyawa–manusia termasuk hayawan yang disebut sebagai hayyawanun natiq. Seluruh hewan yang ada di udara (terbang), yang ada di darat,yang ada di laut, dan yang ada di dalam tanah.[2] Adh-Dhahhak mengatakan, bahwa Allah telah mencukupi segala rezekinya, mencakup seluruh binatang melata, yang demikian itu manusi juga termasuk di dalamnya. Dalam  pemahaman Ibnu Sina pula, manusia memiliki jiwa yang kemudian dibagi menjadi tiga, yaitu jiwa tumbuhan, jiwa hewan, dan jiwa rasional, dan rasional inilah yang disebut sebagai natiq atau akal. Yang menjadi pembeda antara hewan dan manusia. Hewan hanya memiliki insting dan naluri, berbeda dengan manusia yang memiliki akal. Menurut penuturan Dr. Fahrudin Faiz dalam ceramahnya, beliau menyebutkan, dalam otak manusia memiliki beberapa lapisan, dan lapisan paling dasar disebut sebagai otak reptil. Meski kadang akal akan menjadi sebab kerusakan atau malaha dapat menjadi alat penghancur masal itu kata Suparlan PHd dalam buku “Filsafat Ilmu Pengetahuan”[3]. Mahkluk yang ada di udara, gunung, maupun yang ada di darat dan di tanah.

Allah berfirman, إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا  (kecuali telah Allah tentukan riezeki bagi mereka, yaitu makhluk Allah). Kata alaa (على), dalam penafsiran al-Qurtubi dimaknai sebagai kata min (من) yang artinya “dari”. Maka dapat diartikan, segala rezeki datangnya dari Allah, dan dari Allah-lah rezeki yang telah ditetapkan kepada mereka tadi[4]. Bahwa, semua mahkluk telah Allah jamin rezekinya, dan tidak ada yang terlewat satu pun. Dalam uraian Imam ar-Razi, rezeki mencakup rezeki yang diperoleh secara halal dan baik, maupun diperoleh dengan cara yang buruk yang hukumnya menjadi haram. Bukan berarti membolehkan menggapai rezeki melalui jalan haram, namun itu hanya penjabaran apa yang dimaksud dengan rezeki.[5]

Jika ditilik pendapat dari al-Zujajj mengenai penafsiran surah Hud ayat 6, makna dari  ad daabbah disana adalah hewan. Dimana hewan itu mencakup apa yang ada di darat dan apa yang ada di laut. Dan hewan disini meliputi seluruh makhluk yang bernyawa. Oleh karena dalam konteks ini seluruh makhluk yang bernyawa mendapatkan rezeki dari Allah. Dimana Allah sudah menyediakan rezeki setiap makhluk, dan makhluk itu tinggal mengambil rezeki yang telah Allah sediakan tersebut.

Melalui ayat-Nya, maka dapat kita ketahui, bahwa Allah telah mencukupkan rezeki seluruh makhluk-Nya. Tiada yang terlewat, dan tiada yang luput dari pengelihatan dan pengetahuan-Nya. Dalam ceramah Habib Quraish, beliau menyebutkan bagaimana  manusia itu dapat memperoleh rezeki, yaitu beliau memaparkan kunci dari mendapatkan rezeki atau meraih rezeki yaitu dengan cara “bergerak” sebagaimana firman Allah tadi. Sebagaimana yang Allah firmankan dengan memberi isyarat dalam lafadz dabbah (makhluk yang bergerak). Jadi, Selama manusia mau untuk bergerak, berusaha maka Allah temukan mereka dengan rezeki. Sebagaimana pendapat Imam Syafi’I yang menyatakan bahwa rezeki dapat diperoleh dengan cara berusaha. Beliau mengibaratkan dengan seekor burung yang mendapat kan makanan dengan cara keluar sarang. Selama burung itu keluar sarang, maka rezekinya akan dipertemukan oleh Allah. Berbeda deengan burung yang hanya berdiam diri di sarang, yang tak mungkin makanan datang menghampiri sarang burung tersebut. Namun, di sisi lain, Imam Malik berpendapat, Allah mencukupi rezeki seluruh makhluk, kuncinya adalah, cukup seorang itu beribadah dengan benra, melaksanakan tugasnya, menjalankan tugasnya dengan baik, maka Allah akan mendatangkan rezeki untuknya.

Dan pada semua itu, rezeki yang telah Allah tetapkan kepada setiap makhluk itu sudahlah tersusun rapi di dalam Lauhil Mahfuzd. Bukan hanya rezeki yang manusia dapatlan yang telah Allah tetapkan, namun juga seluruh tempat untuk berteduh, yang aman, dan nyaman pun telah Allah tetapkan dan tempat penyimpanan rezeki itu telah Allah tetapkan jauh sebelum segalanya Dia ciptakan. Di sanalah Allah telah tetapkan bagi manusia  jodoh, rezeki, di mana ia tinggal, di mana manusia mencari makan, hingga di mana manusia akan mengalami kematiannya. Adapun ketika kita memandang takdir, apakah itu merupakan takdir yang telah Allah tuliskan dalam lauh mahfudz ataukah manusia sendiri sendiri yang menciptakan takdir ? tentu mungkin ini ada dalam perdebatan kaum teolog. Namun baiknya kita mampu memahami dan membedakan akan pengetahuan kita, antara pengetahuan realitas dan pengetahuan hakikat.

Adapun manusia dapat merubah takdir, namun bukan berati atas perubahan itu Allah tidak mengetahui itu. Perubahan itu dapat terlihat dari sisi manusia yang hendak hijrah, berubah, menuju tempat yang lebih baik. Yang mana seakan manusia telah merubah nasib dirinya. Namun kata al-Hikam, manusia sesungguhnya bukan merubah takdir, namun sebenarnya kita benar-benar ikut pada sekenario Allah. Lebih jauh lagi, Gus Baha’ dalam kajiannya menerangkan, bahwa sebuah perubahan takdir tidak semata-mata berubah berkat manusia, namun perubahan itu memang sudah jalan yang Allah lukiskan sebelumnya. Jadi, berpindahnya kita pada tempat satu ketempat yang lain sesungguhnya memang benar-benar atas apa yang telah Allah lukis dalam buku manusia. namun, ketidak tahuannya kitalah yang kemudian memandang bahwa manusia mampu merubah takdir. Inilah yang penulis maksud di mana kita mampu membedakan antara penegtahuan hakikat (bersifat ghoib) dengan pengetahuan realitas. Ibarat dalam doktrin Ibnu Arabi, yaitu kapan kita dikatakan adalah menunjukkan “satu” wujud, dan kapan kita dikatakan beragam. Kita satu wujud itulah hakikat, namun pada kesadaran kita, kita berbeda.

Begitu juga yang diuraikan oleh Sayyid Qutbh, bahwa Allah menurunkan rezeki kepada seluruh makhluk. Meski jika manusia itu hanya duduk di rumah, tidak bergerak (berusaha), tidak keluar rumah (untuk bekerja dan sebagainya), walaupun manusia hanya bermalas-malasan, maka Allah tetap mendatangkan rezeki untuk yang bersangkutan. Namun, bisa kita cerna, bahwa apa yang datang kepada kita, kepada yang bersangkutan itu adalah rezeki dari Allah. Dari al-Qasimi ia berkata, Mujahid berkata: “dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya”, “rezeki yang datang kepada binatang melata itu merupakan pemberian dari Allah, dan terkadang Dia tidak memberikan rezeki-Nya hingga binatang itu mati kelaparan, namun apa yang menjadi bagian rezeki itu merupakan pemberian Allah”.

Namun, adapun yang namanya rezeki itu pun telah Allah haramkan bagi makhluk-Nya. Yang maksudnya, tidak semua rezeki itu Allah halalkan bagi makhuk-Nya, ada sebagian yang Allah haramkan bagi mereka.

Seperti pandangan al-Zujajj mengenai rezeki itu ada yang telah Allah haramkan. Disini penulis berpendapat, meski itu bukanlah hal yang mudharat bagi mereka. Karena itu adalah hak Allah. Namun, tentunya Allah punya maksud dan alasan tersendiri menjadikan negara-negara itu dalam kemiskinan, kekurangan. Jika pun ditilik dalam Al-Quran itu sebagai cobaan dan ujian untuk melihat sesiapa diantara mereka yang beriman kepada Allah. Karena, mudah untuk diri kita bersyukur, bertaqwa kepada Allah ketika Allah mencukupi kita. Mudah bagi kita untuk bersedekah dikala lapang. Namun, berbeda keadaan ketika kita berada pada keadaan sempit, marah, dan sebagainya pasti kita akan sulit untuk berbagi atau malah berucap syukur.

 

 



[1] Wahbah az-Zuhaili, al-Munir jilid 6, (Gema Insani).

[2] Fakhrudin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, (Beirut).

[3] Pendahulian dalam buku, Suparlan, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: ar-Ruzz).

[4] Al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, (Pustaka Azzam).

[5] Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, (Beirut).

Komentar