Dasar bersyukur dalam Al Quran
Dalam Al Quran, Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk bersyukur.
Setelah sekian banyak Allah menurunkan nikmat nikmat itu dalam Setiap kehidupan
manusia. Nikmat berupa kesehatan, coba kita fikirkan bagaimana Allah
menciptakan kita dengan keadaan yang terbaik. Seperti firman-Nya dalam surah
At-Taghabun ayat 3, Allah berfirman,
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ
فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ
Atinya, “Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang
benar, Dia membentuk rupamu lalu memperbagus rupamu, dan kepada-Nya tempat
kembali”. (Q.S. At Taghabun/64:3)
Dialah
yang menciptakan manusia dengan kehendak-Nya. Dia yang menghendakimu demikian,
dengan gambaran seperti yang telah Dia kehendaki. Dan Dia yang menciptakanmu
dan memperbagus dirimu, yakni menjadikan indah rupa dan bentukmu.
Sebagaimana
Allah sudah menciptakan manusia dengan memperbagusnya. Maka inilah kenapa kita
tidak diperbolehkan untuk menghina segala ciptaan-Nya. Karena itu adalah sebaik
baik bentuk yang telah Allah kehendaki untukmu. Dia lebih mengetahui apa yang
baik untuk tiap tiap hamba-Nya.
Lalu
Allah pun senantiasa mengatur dan memelihara atas segala apa yang telah Dia
ciptakan. Allah swt. memiliki nama nama yang indah, salah satunya adalah Al
Muhaimin yang memiliki arti Yang Maha Memelihara. Yang mana Allah lah yang
telah menciptakan, lalu Dia yang menjaga, memelihara atas segala apa yang telah
Diciptakan-Nya. Seperti yang tertuang dalam Firman-Nya Q.S. Al Hasyr/59:23,
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ
اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ
عَمَّا يُشْرِكُوْن
Artinya, “Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia.
Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara
Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan,
Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.
Dialah
Rabb yang mengandung makna mencipta, mengatur, memelihara, mendidik,
menumbuhkembangkan, memberi rizki. Dia yang senantiasa mengucurkan kenikmatan
itu kepada setiap hamba-Nya, nikmat kesehatan. Coba kita fikirkan bagaiman Dia
telah menciptakan manusia dalam keadaan yang baik. Kita masih sehat, tidaklah
perlu kita untuk pergi cuci darah setiap waktu. Cuci darah seharga sekian juta
untuk sekali pemeriksaan, bagaiama kalau harus tiga kali sehari? Maka berapa
banyak uang yang akan melayang. Udara, Allah telah menyediakan udara yang
bersih dengan kandungan oksigen yang melimpah. Bagaimana jika kita harus
membayar oksigen itu? Berapa banyak lagi uang uang itu yang akan melayang. Maka
sebaik baiknya manusia itu bersyukur kepada Allah swt. dengan cara kita
beribadah kepadanya. Beribadah kita dengan baik dan benar, lalu pantaslah kita
untuk meminta apa yang mau kita minta. Rasa tak pantas jika kita meminta namun
tak beribadah kepada-Nya.
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
Artinya, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah
dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (Q.S. Al
Fatihah/1:5).
Dari segala apa yang telah diuraikan di atas tadi
bagaiaman Allah swt. telah memelihara atas apa yang telah Dia ciptakan.
Seharusnya kita mensyukuru segala nikmat yang telah Allah turunkan kepada
setiap makhluk-Nya. Bahkan Allah pun memerintahkan kita untuk mensyukuri atas
keindahan (bagus dan cantiknya rupa kita) dala bentuk berdoa kepada-Nya saat
kita bercermin missal, kita dibimbing untuk menerima dengan senang hati atas
rupa kita dengan ungkapan,”Ya Allah sebagaimana Engkau telah menciptakan (rupa
dan bentukku) dalam keadaan baik maka jadikan baik pula budi perangaiku.”
Di atas telah dikatakan, kita harus menerima dengan
senang hati atas segala limpahan rahmat yang telah Allah turunkan kepada kita.
Seperti yang telah dituangkan dalam firman Allah Q.S. An Nahl ayat 114
فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya, “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki
yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu
hanya kepada-Nya saja menyembah.”
Dalam tafsir Al Mishbah Pesan, Kesan,
dan Keserasian al-Quran volume 6 menjelaskan ayat tersebut. Dimana ayat ayat
sebelumnya menjelaskan tentang betapa kuasa Allah dan betapa siksa-Nya dapat
menimpa yang mengganti nikmat-Nya dengan kemusyrikan dan kekufuran. Dimana kita
dipesan agar tidak berlaku demikan seperti orang orang musyrik yang malah
mengingkari nikmat-nikmat Allah dengan menggantinya adengan keburukan. Kita
dipesan agar kita memilih untuk mensyukuri segala nikmat yang telah
dilimpahkan, bukan malah menyia-nyiakannya atau malah mengganti dengan
keburukan. Kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya agar
kita tidak ditimpa dengan apa yang telah ditimpakan terhadap orang orang
terdahulu.
Karena semua itu akan kembali kepada
diri setiap manusia. Seperti yang tertuang dalam al-Quran, bahwasanya jika
manusia itu bersyukur, maka dia telah bersyukur untuk kebaikannya sendiri.
Namun, jika dia malah kufur, maka sebenarnya dia telah berlaku rugi
untuk dirinya sendiri,
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ
اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Artinya “Dan sungguh, telah Kami berikan
hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Alla. Dan barang siapa
bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri
dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi
Maha Terpuji”
Ayat di atas menjelaskan tentang
Luqman yang berpesan kepada anaknya. Seorang yang telah di-anugrahi hikmah oleh Allah swt. sambil menjelaskan kepada
anaknya. Bahwa “Bersyukurlah kepada Allah, dan barang siapa yang bersyukur kepada
Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kemaslahatan untuk
dirinya sendiri. Dan barang siapa yang kufur, maka sesungguhnya ia
telah merugikan dirinya.
Banyak ayat yang membahas tentang
bersyukur. Antara nikmat dan akan diikuti dengan kekufuran. Banyak kisah kisah
orang orang terdahulu yang telah Allah limpahkan kenikmatan kepada mereka.
Namun, mereka malah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri dan orang lain.
Semisal dalam surat al-Qalam yang mengisahkan bagaimana Allah swt. menguji
orang-orang pemilik kebun dikarenakan mereka berjanji tanpa berkata, “insyaallah.”
Mereka berjanji untuk memetik hasilya pada pagi hari. Namun, Allah timpakan
kebun-kebun mereka dengan api yang melalap semua kebun mereka. Dengan
menjadikan kebun-kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.
Adapun kisah dari penduduk Saba yang
telah Allah swt. abadikan dalam al-Quran Q.S. Saba’ (34).
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Artinya “Sesungguhnya bagi
kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah
kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah
olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.
(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha
Pengampun”.
Penduduk negeri Saba’ yang
mengkufuri nikmat Allah. Maka Allah timpakan mereka dengan azab dunia. Padahal
Allah sudah anugrahi mereka dengan dua kebun yang mengelilingi negeri
mereka. Allah turunkan kepada mereka nikmat berupa kebun kebun yang subur nan
makmur. Dan Allah pun berpesan, “Wahai
penduduk Saba, makanlah dari rizki yang dianugerahkan kepadamu dan bersyukurlah
dengan cara menggunkan nikmat itu sesuai dengan petunjuk-Nya. Negeri kamu
ini adalah negeri yang baik dan Sentosa buat kamu semua dan Tuhan yang
akan melimpahkan itu adalah Tuhan Yang Maha Pengamoun buat siapapun yang
memohon ampunan karena itu bersyukurlah kepada-Nya dan memohonlah ampun atas dosa-dosa
kamu.”
Kata Saba’ berarti suatu wilayah
atau negeri. Yang negeri ini juga dikisahkan di dalam al-Quran pada surah
an-Naml. Kerajaan Saba’ berdiri pada
abad VIII SM, yang kekuasaan ini mencakup wilayah Ethiopia dan satu negeri yang
sangat terkenal kala itu, yaitu Ma’rib, dengan bendungannya yang besar.
Sementara suatu riwayat dikatakan,
kesuburan dari wilaya Saba’, seorang dapat meletakkan keranjang di atas
kepalanya. Sembari dia berjalan, maka keranjang itu akan penuh dengan buah
buahan. Meski terdengar berlebihan, namun riwayat ini menggambarkan bagaimana
suburnya negeri ini.
Pada ayat selanjutunya, dikisahkan
jika mereka malah berpaling dari Allah. Padahal Allah senantiasa menurunkan dan
melimpahkan kepada mereka beraneka anugerah dan senantiasa membukakan pintu
taubat-Nya. Malah mereka kufur atas limpahan Allah tersebut. Maka Allah
turunkan kepada mereka malapetaka. Dengan datangnya banjir dari jebolnya
bendungan, lalu Allah musnahkan perkebunan mereka dengan menggantikannya dengan
buah buahan yang pahit rasanya, pohon Atsl, yaitu pohon yang tak berbuah dan penuh duri, dan sedikit pohon
Sidr semacam seroja yang sedikit
kegunaanya. Itulah akibat dari mereka enggan bersyukur kepada Allah. Maka
Allah pun memeringati kita seperti yang tercantum dalam Q.S. Ibrahim ayat 7,
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ
إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya, Dan (ingatlah juga),
tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan
menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Komentar
Posting Komentar