Hidup: "Awalan dan Akhiran"
Hidup. Pandangan tentang kehidupan mungkin
telah banyak kita saksikan dari
berbagai peristiwa di atas mayapada ini. Hidup merupakan
karunia, anugerah, maupun sebuah pemberian (gift)—dari siapapun yang kita pahami. Yang mana, hidup
dimulai dari sebuah ketiadaan dan menjadikannya “ada”. Ketika kita berkiblat
pada fisika, kehidupan dimulai dengan dentuman raksasa berjuta tahun yang lalu.
Hingga muncullah kita yang hidup. Yang mana, mereka beranggapan bahwa kehidupan berasal dari sebuah
kesalahan, kecelakaan (accident).
Ketika kaum tak bertuhan beranggapan, bahwa
hidup adalah anugerah dari sebuah kecelakaan, maka di situlah muncul anggapan
bahwa kehidupan merupakan hal yang penting. Meski, mereka menyakini akan
kematian—tanpa menyelami apa yang ada setelah kematian—mereka mengartikan,
kematian bagaikan sampah yang dibuang dan
dilupakan pada akhirnya. Ibarat mereka
Lahir, hidup, mati, dan kemudian selesai. Manusia tak berguna, oleh
sebab itu, ada sebagaian orang yang memaknai hidup sebagai bentuk menunjukkan eksistensi.
Yang mana, eksistensi
inilah, yang kemudian memberikan semangat hidup. Mereka tahu akan kematian,
maka harus setiap manusia itu nampak, terwujud, menampakkan sebuah keberadaan,
dan inilah bukti, manusia yang telah menjadi “ada” yang itu dibuktikan “keadaan” atau eksistensi dari
manusia. Namun, dibalik itu semua, mereka—kaum Eksistensialis—terlalu fokus
dengan eksistensi, hingga mengabaikan esensi. Mereka memandang
kehidupan itulah yang penting, bahwa hidup berarti harus diakui. Dan kebanyakan
mereka tak memandang kehidupan setelah kematian.
Di masa ini, banyak manusia yang berusaha menampakkan
dirinya, dan inilah bentuk dan bukti bagaimana manusia menyadari bagaimana
hidup itu harus berlangsung. Hidup ada jika dia diakui, maka dengan itu, ia
melakukan banyak hal demi dia diakui “keadaannya”. Manusia berekja keras,
membuat karya, yang semua itu menjurus pada popularitas, yang itu bentu dari
eksis.
Esensi di sini adalah hakikat seorang itu hidup, tujuan seorang itu
hidup. Adapun Kematian adalah kehidupan. Socrates menyatakan, “aku memahami
perkara kehidupan hingga aku sampai pada persoalan kematian. Dan aku menyadari,
bahwa kematian adalah hidup abadi.” Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “hidup
itu untuk mati, dan mati untuk hidup”.
Pada dasarnya, siapa yang merasakan kematian adalah
mereka yang hidup, bukan mereka yang mengalami sakaratul maut itu sendiri. Mereka
yang mengalami perjumpaan dengan al-maut hanya merasakan perpisahan
dengan jasadnya, yang demikian itu menyakitkan karena Ruh yang enggan untuk
berpisah dengan jasad. Meski pada awalnya, ruh enggan masuk pada jasad yang
Tuhan hadirkan di hadapan ruh tersebut. Namun karena lamanya ia bersama dengan
jasad, maka ia enggan untuk berpisah. Setidaknya demikian telah diuraikan
panjang lebah oleh Habib Quraish dalam karyanya “Kematian adalah Nikmat”. Dan kematian
dari sisi mereka yang masih hidup adalah sebuah hal yang mengerikan, kenapa ?
karena mereka merasa akan meninggalkan isteri yang telah ia pinang, anak yang
telah ia rawat, harta yang telah ia kumpulkan. Rasa takut itulah yang hadir
dalam diri manusia yang masih hidup.
Adapu perasaan, bahwa sesungguhnya, ia menyadari
ketidak sanggupan sekaligus ketidak siapan dalam menghadapi kematian itu
sendiri. Ia sangat menyadari, abagimana kehidupan yang selama ini ia jalani
penuh dengan kesia-siaan. Namun, terkadang perasaan itu akan pergi seiring
dengan berjalannya masa. Selama ia merasa aman, amak ia tak akan merasakan
kematian itu. Kematian sesungguhnya hanya dirasakan pada mereka yang hidup,
yang mereka lihat adaah jasad tanpa ruh, tubuh tanpa detak, mata tanpa kedip,
mulut tanpa suara. Itulah kematian, yaitu ketika otak tak berfungsi, jantung
yang tak berdetak, mulut yang tertutup, mata yang terpejam, dan tubuh yang kaku
dan dingin. Itulah kematian. Namun, apakah kematian itu ada pada siapa yang
sedang mati ? tentunya tidak.
Sungguh, kematian adalah jalan, dan dunia adalah
jembatan. Untuk mencapai Tuhan adalah dengan mati, untuk mati manusia harus
hidup. Begitulah tutur Tuhan dalam ayat-Nya. Bahwa manusia yang awalnya tiada
kemudian menjadi ada, keudian dimatikan (berpindah ke alam rahim) masuk ke alam
kandungan. Kemudian manusia dilahirkan, masuk ia ke dunia. Lantas apa fungsi
manusia hidup ?
Bukankah manusia hidup untuk menuju kematian ? ada
sebuah kalimat, “tujuan hidup adalah mati, dan untuk mencapai kematian manusia
hanya akan menunggu. Oleh karenanya Tuhan menurunkan tugas-tugas berupa masalah
agar manusia tak bosan dalam menjalani kehidupan”. Esensi hidup adalah mati,
dan esensi mati adalah demi melakukan perjumpaan dengan Sang Rabb, sebagaimana
sabda nabi yang “ada dua perkara yang sangat disukai oleh seorang mukmin, yaitu
wakti ifthor dan waktu saat perjumpaan dengan Rabb-nya”
Maka dari itu, manusia harus mampu memahami
esensi. Sufi terkemuka, yaitu Maulana
Jalauddin Rumi menyatakan, bahwa manusia yang berbuat
banyak hal namun melupakan satu hal, maka ia tak peenah melakukan banyak hal.
Sekiranya orang tak banyak melakukan banyak hal, namun ia ingat satu hal, maka
hidupnya telah benar. Maka, yang
kita–sebagai manusia beriman–harus menyadari, apa sebenarnya tujuan kita di
sini (di dunia). Apakah Tuhan hanya menciptakan manusia begitu saja ? (sebagaimana
kalimat bernada istifham dalam QS. Al-Mukminun 115), ataukah manusia tercipta
dari ketidak sengajaan ?.
Kita sebagai orang yang beriman harus menyadari, tujuan
hidup adalah mati, melalui mati manusia itu hidup. Dan kehidupan terakhir
manusia, adalah kekekalan. Yang kekekalan itu merupakan anugerah dari Allah. “Inna
lillahi, wa inna ilaihi roji'un” manusia berasal dari Tuhan, dan akan
kembali pada Tuhan, bukan kembali kepada tempat yang selama ini manusia
ngrengekkan pada Tuhan.
Komentar
Posting Komentar