as-Sual wal Jawwab (Pihak yang Berdialog Di Dalam al-Quran)

Tanya jawab atau dialog dan sebagainnya seperti jadal (debat) dan diskusi adalah sebagai metode dalam memberikan pembelajaran kepada umat rasulullah atau hamba-Nya. Yang mana Al-Quran turun sebagai media pendidikan dari Allah Sang Murabbi–Maha Pendidik–maka dari itu kenapa al-Quran juga dinamai al-Furqan (pembeda) dan juga al-Huda (petunjuk), karena al-Quran merupakan kitab yang menuntun manusia pada kedamaian, itulah kenapa disebut sebagai pedoman hidup. Sebagai pedoman hidup umat manusia,  al-Quran merupakan media pendidik dari Allah untuk mendidk manusia melalui kandungan di dalamnya yang diantaranya memuat perihal; al-aqa’id (keimanan), akhlak, al-Irsyad illa an-nadhzr wa at-Tadabbur (bimbingan), kisah umat terdahulu, Ibadah dan sosial (muamalah).[1]

Al-Quran, memuat berbagai kisah yang demikian itu agar manusia mengambil ibrah, mengambil pelajaran dari segala kisah-kisah tersebut. Dalam ayatnya, Allah berfirman agar manusia mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, yang itu merupakan peristiwa lampau (yang dikisahkan di dalam al-Quran maupun tidak) dan juga peristiwa yang sedang terjadi pada manusia. Misal dalam Qs. Al-Waqiah ayat 62 Allah berfiman, “Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran ?” yang di pangkal ayat-nya Quran menggunakan kata “تذكرون ” yang di sana menggunakan fi’il mudlodri’ yang memiliki isyarat waktu sekarang dan yang akan datang. Artinya, manusia dituntut untuk selalu belajar dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang lampau–yang dikisahkan al-Quran maupun tidak–dan juga peristiwa yang ada di depan kita.

Dari segala kisah tersebut, sering kali al-Quran juga mengabadikan dialog-dialog dari setiap peristiwa dan malah beberapa kali al-Quran (Allah) sendiri melakukan dialog langsung dengan hamba-hamba-Nya seperti para nabi, malaikat, maupun iblis.

Pihak yang Berdialog (Tanya Jawab)

1.      Allah dengan Para Malaikat (Qs. Al-Baqarah ayat 30-35)

Ayat ini merupakan pertanyaan para Malaikat tentang akan diciptakannya khalifah. Pada surat ini, Allah menjelaskan kepada para Malaikat akan diturunkan-nya khalifah –pengganti dari penghuni sebelumnya–untuk mendiami sekaligus merawat Bumi. Pada awal ayat 30, diawali dengan kata “apakah” bukan “mengapa”, jika kita terjemahkan dengan kata “mengapa” maka demikian memiliki makna ketidak setujuan, padahal di sini Malaikat tidak bersifat ingkar pada Allah. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Qs. At-Tahrim ayat 6,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya, “wahai orang-orang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu. Di atasnya ada Malaikat-malaikat yang kasar-kasar, kayng keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjaka apa yang diperintahkan”.

Mendengar pertanyaan para Malaikat, kemudian Allah menjawab mereka, “sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. Di sini, Allah hanya menjawab singkat, tanpa adanya pembenaran maupun penyalahan.[2]

Selanjutnya, dalam ayat 31 hingga ayat 35 Allah menjadikan nabi Adam mengetahui segala nama dan benda–yang demikian itu telah Allah ajarkan padanya–dan Allah mengutus nabi Adam a.s. untuk mengemukakannya–dari apa yang telah diajarkan–kepada seluruh Malaikat. Hingga pada ayat 33, di sini membuktikan kemampuan khalifah Allah. Dari sini-lah para Malaikat mengetahui dan mengambil pelajaran. Meski Malaikat merupakan makhluk-makhluk suci, tetapi mereka tidak wajar menjadi khalifah, karena yang bertugas (yaitu Khalifah) harus mengetahui atas segala aspek-aspek yang berkaitan dengan tugasnya.

Dari sini, maka Allah membuktikan kemampuan khalifah yang hendak Dia utus ke bumi. Hal ini juga untuk menjawab dugaan-dugan dari pengetahuan para Malaikat, yang boleh jadi, manusia (anak cucu Adam) akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah.

2.      Allah dengan nabi Isa (Qs. al-Maidah ayat 116)

Ayat ini menguraikan tentang percakapan antara Allah dengan nabi Isa a.s. yang mana Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِى بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُۥ فَقَدْ عَلِمْتَهُۥ ۚ تَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِى وَلَآ أَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ

Artinya, “dan ingat-lah ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa putra Maryam, adakah engkau telah mengatakan kepada manusai: “Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?” Dia (Isa) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hak-ku. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinnya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Ayat ini membicarakan persoalan uluhiyah dan rububiyah. Yang  mana ayat ini menguraikan mengenai nabi Isa a.s. yang tidak-lah ia memerintahkan kaumnya untuk menjadikan dia (Isa a.s.) dan ibunya sebagai tuhan. Nabi Isa a.s. menjawab pertanyaan dari Allah dengan penuh kesopanan, penuh rasa takut, penuh kekhusyuan dan kepasrahan ini dimulai dengan tasbih dan tanzih. Ayat ini jugalah menjawab bahwa nabi Isa a.s. merupakan hamba Allah sekaligus rasul Allah.[3]

3.      Jibril dengan Maryam (Qs. Al-Maryam ayat  18-21)

قَالَتْ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِٱلرَّحْمَٰنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا (18) قَالَ إِنَّمَآ أَنَا۠ رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَٰمًا زَكِيًّا (19) قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلَٰمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20) قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُۥٓ ءَايَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا (21)

Artinya, “Maryam berkata:Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa". Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!Jibril berkata: Demikianlah. Tuhanmu berfirman: Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.

Ayat ini mengisahkan Maryam yang kala itu sedang meyendiri (uzlah) untuk beribadah.[4] Dan di tengah kesendiriannya ia tiba-tiba didatangi seorang pemuda yang memiliki paras indah, yang kemudian ia berkata, “sesungguhnya aku berlindung kepada ar-Rahman dari dirimu…” yang kemudian pemuda itu mengutarakan maksud kedatangannya, ia (Jibril yang menjelma menjadi pemuda), berkata, “sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk menganugerahkan untukmu seorang anak laki-laki yang suci”.[5]

4.      Iblis dengan Allah

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Artinya, “Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Ayat ini memuat dialog antara Iblis dengan Allah, akan ketidak mauan Iblis bersujud (sujud tahiyyah atau sujud penghormatan) kepada nabi Adam, ia memandang dirinya lebih baik daripada nabi Adam. Keennganan Iblis bersujud ini lahir dari keangkuhannya, yang ia mengira, bahwa ia yang lebih baik. Adapun sebagian pandangan yang menyatakan akan keengganan Iblis sujud adalah karena alas an syirik, namun kiranya hal demikian dianggap sebagai kedangkalan ilmu.

Banyak lagi Tanya jawab di dalam al-Quran, seperti bani Israil dan nabi Musa selepas mereka lolos dari kejaran Firaun yang menanyakan akan Tuhan-nya. Adalagi ketika, bani Israil diperintahkan untuk menuju kota Jerusalem yang semuanya bertanya kenapa mereka harus meninggalkan mesir dan susah payah mereka di sana tanpa ada makanan dan kemudian mereka (bani Israil) menyuruh nabi Musa meminta makanan dan minuman (Qs. Al-Baqarah ayat 60-63), nabi Musa dengan Allah ketika perjalanannya dari Mesir ke kota Madyan dan saat itulah Musa diangkat menejadi nabi (Qs. Al-Qashash ayat 29-36).

Pertanyaan dalam al-Quran, ada kalanya menggunakan kata perintah, misalnnya

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ

Artinya, maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?

Yang mana huruf hamzah merupakan salah satu bentuk kalimat Tanya atau istifham yang memiliki makna perintah, yaitu perintah mendalami Quran. Ada pula saatnya al-Quran menggnakan bentuk penolakan opini, seperti ayat “am yakuluna af-ftaroh” yang artinya, “Apakah mereka mengatakan bahwa dia (Muhammad) telah membuatnya (al-Quran)?”. Ladaz lam merupakan salah satu kalimat Tanya yang dalam ayat itu menepis anggapan sebagian orang bahwa al-Quran merupakan karangan nabi Muhammad. Terbukti setelah itu Allah membimbing nabi Muhammad untuk menantang mereka untuk membuat surat yang semisal deengan al-Quran.

Demikian juga yang terdapat dalam Qs. Al-Baqarah ayat 214, yang mana pertanyaan di sana menepis anggapan sebagian orang bahwa masuk surge itu mudah. Kemudian ayat ini menepisnya,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.

Penulis: Muhammad Fathun Niam (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga)

 

 

 

 



[1] Yuli Isryadul Ibad, Uslub Dialogis Kisah Nabi Musa a.s. Dalam al-Quran, “Jurnal al-Fatim”, vol. 3, edisi 1, hlm. 48.

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran vol 1, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 142.

[3] Adapun penganut ajaran Kristen beranggapan bahwa al-Quran telah menyalahpahami ajaran Kristen. Penganut agama Kristen sendiri menjawab keberatan ini dengan menyatakan bahwa agama Kristen tidak-lah mempertuhankan Isa dan Maryam, adapun Isa dan Maryam dipertuhakan pada saat konsili Gereja di Nicea. Nabi Isa, kemudian pada decade berikutnya, Maryam dianggap sebagai tuhan. Namun dalam tafsir Ruh al-Ma’ani al-Ausi menyatakan bahwa pernah ada sekte yang menyembah Maryam yang dinamai al-Maryamiyah yang menyakini Maryam adalah tuhan. Namun kemudian dalam tafsi al-Mishbah, quraish Shihab menguraikan atas beberapa pandangan yang memang menyakini Isa maupun Maryam adalah tuhan, memanglah al-Quran dalam menjelaskan hal tersebut melalui ayat ini tidak keliru. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran vol 3, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 248-250.

[4] Kalangan bani Israel seringkali dalam  beribadah mereka pergi ke suatu tempat untuk menyendiri, yang itu adalah sarana untuk mendekatkan diri pada Allah. Di kalangan umat Kristen sekarang, adapun para perempuan yang pergi menyendiri untuk mengabdi pada gereja (agama). Lihat Hamka, Tafsir al-Azhar Juzu’ 13-14-15-16, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 19. Adapun tempat yang dipilih oleh Maryam adalah tempat yang berada di Timur, yang itu ia pahami bahwa timur adalah tempat terbitnya cahaya Ilahi. Lihat pula M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah…. Vol. 8, hlm. 164.

[5] Kata ar-Rahmah bias jadi sebagai kata yang lazim dan dikenal dikalangan bani Israel. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah…. Vol. 8, hlm. 164.

Komentar