Agama dan Filsafat

 

Gesekan antara agama dengan filsafat, tidak terjadi dalam dunia Islam, namun lebis sering terjadi di dalam dunia Barat (Kristen). Gesekan ini terjadi pada abad pertengahan (medieval/middle ages), antara abad 7-16 M. awal masa Renaissance (transisi medieval ke abad modern). Pada masa kekaisaran Romawi, Eropa dipengaruhi oleh segala dogma agama dan doktrin-doktrin Gereja. Yang mana, rakyat tunduk pada aturan gereja. Siapa yang menyinggung ajaran gereja, atau menolak ajaran gereja, maka seorang akan dihukum karena dianggap melanggar aturan.

Dalam dunia Islam sendiri, pada abad pertengahan masehi, Islam sudah mulai mengalami perkembangan dalam dunia pendidikan. Terlebih dengan munculnya para Khalifah sepertin al-Makmun, al-Manshur, dan Harun al-Rasyid. Ilmu sangat diperhatikan. Meski banyak kita ketahui, bani Umayyah pandai dalam ilmu politiknya, di mana mereka mampu menggulingkan dinasti sebelumnya yang dipegang oleh Hasan, peristiwa itu disebut "amul jamaah" yaitu pemindahan kekuasaan Hasan pada Muawiyah.

Begitu juga menyangkut ilmu Tafsir, walaupun ilmu tafsir lebih dominan dibanding dengan Ilmu Quran itu sendiri. Ilmu Quran berkembang sekitar abad keempat, meski tidak diakui dan lebih disebut sebagai Tafsir. Dan Ilmu Quran berhenti pada abad ke-13 Hijriah oleh Jalauddin as Syuyuti. Dikarenakan, telah terjadinya taklit dalam diri umat islam sendiri, meski pada kenyataannya, taklid sudah menjadi parasit hingga masa kini. Kekhawatiran yang terjadi adalah, dikuasainya ilmu-ilmu oleh kaum Orientalis yang kemudian menyusun dan menerbitkan tesis-tesis yang kemudian menjadikan keraguan dalam diri (sebagian) umat muslim dalam memaknai kitab sucinya. Ulum al-Quran adalah ilmu yang bersifat subtansial. Yang seharusnya dibekalkan di tiap generasi. Tapi pada kenyataanya, ulumul quran tidak banyak yang dikaji. Dalam ilmu quran, setidaknya syeikh Muhammad Hasbi ash-Shiddqie menuliskan, ada sekitar delapan puluh cabang ilmu dalam ulumul quran.

Inilah, yang kemudian menyebabkan masyarakat tidak mengerti, tidak memahami ilmu inti dalam kitab sucinya. Apalagi mengatasi bagaimana perbedaan dalam memahami, karena tidak adanya ilmu yang mendasari diri mereka masing-masing.

Memang, perkembangan Ilmu pengetahuan, atau periode pendidikan Islam akan berakhir setiap 100 tahun sekali, yang artinya setiap 100 tahun itu, pembaharuan akan selalu diterbitkan. Namun, setidaknya diri kita tak hanya diam, namun ikut andil dalam memperbaharui pendidikan islam. Tafsir akan mengikuti, tapi ilmunya harus terus berkembang. Tafsir akan memiliki coraknya masing-masing, namun untuk memahami dan menyusun sebuah tafsir diperlukan ilmu dalam memahami al-Quran itu sendiri. Sayangnya, ilmu dasar jarang dipelajari. Qiroat, I'rab... adapun tibyan fil ulumil quran, tibyan fi adabil quran...

Pendidikan Islam, berkembang pesat mulai bani Umayah dan mengalami puncak pada masa bani Abbas. Di mana Baghdad kemudian menjadi pusat ilmu pengetahuan, dan menjadi pusat pertemuan tiga Emperium besar. Dalam masa kepemimpinan al-Makmun, al-Manshur, maupun Harun ar-Rasyid, sarjana besar, baik dari Romawi (romawi barat, Roma), Yunani (romawi timur, Bizantium), dan Islam, kemudian bertukar fikiran, berbagi, dan mengembangkan ilmu di Baghdad. Sebagai pusat Ilmu pengetahuan, Baghdad kaya akan segala informasi berupa karya-karya berupa buku. Yang tertulis dan tersusun rapi. Banyaknya buku, akan digambarkan setelah bagaimana pasukan Mongol menyerang Baghdad. Yang dipimpin oleh Hulagu Khan di bawah pemerintahan Monkey Khan, Bahgdad runtuh. Sungai bewarna hitam kemerah-merahan. Hitam karena banyak buku yang dibuang, dibakar, dan arang, tintanya membuat sungai menghitam. Dan kemerah-merahan, adalah dari darah ummat. Di bawah al-Mu'tasim Billah, Baghdad runtuh. Ilmu pengetahuan juga runtuh.

Filsafat berkembang di dalam diri umat Muslim sendiri ketika Bani Umayah berdiri. Islam berkenalan dengan filsafat melalui orang Kriasten di Persia yang kala itu telah tersentuh dengan tradisi Yunani–dibawa oleh Alexander Agung ketika melakukan ekpansi serta Helenisasi. Kita ketahui bersama, Umayah adalah Kekhilafahan Islam dengan menggunakan Madzhab Theologi Mu'tazilah, yang tentunya akan sangat mencintai ilmu pengetahuan. Madzhab pemikiran Mu'tazilah, lebih dikenal dikarenakan sering mendahulukan akal pikir (ahl ra’yu). Dan, pemikiran filsafat yang cenderung mengikuti Aristoteles–yang merupakan guru Alexander Agung. Pada masa Bani Abbas, Kekhalifahan mengumpulkan orang-orang Persia untuk masuk ke dalam Istana. Terutama berasal dari keluarga Baramikah. Lalu pertanyaannya, Kenapa ? Jawabanya adalah, karena Persia sendiri telah bersentuhan dengan Filsafat Ilmu, karena juga, Persia merupakan Emperium adi kuasa bersama Romawi.

Pada abad ini pula (sekitar abad 2 dan 3 H), Islam memanen tokoh aliran sufistik, yang kemudian harus berakhir dipancung oleh para penguasa–yaitu al-Hallaj. Karena dirasa menyesatkan umat. Seperti kisah al-Halajj, bagaimana ia disiksa, hingga dikatakan dalam pembukaan kitab at-Thawasin, "ia bagaikan se-onggok daging di atas genangan darah" karena semua bagian darinya sudah terpotong. "Ana al-Haqq" ungkapan bukan untuk dia, namun untuk Siapa yang ia cintai.

Pengenalan ilmu filsafat Yunani dalam tubuh umat Islam sendiri, sebenarnya sudah akrab, khususnya Bani Abbasiyah. Itu karena setelah terjadinya gerakan Helenisasi atau lebih dikenal dengan istilah pe-Yunanisasian oleh Alexander The Great. Sebuah upaya, pengenalan peradaban Yunani (225 SM). Dan munculah tokoh tokoh berpengaruh. Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd sendiri, adalah seorang penganut Plotinus dan anak murid dari Aristokels. Ia adalah seorang filsuf yang berkiblat kepada Plato. Pada masa-masa ini pula, umat Islam terpecah menjadi dua. Mereka yang berpihak kepada Ibnu Rusyd dan mereka yang berpihak kepada al-Ghazali. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Tahafut Tahafut yang mengeritik habis kitab al-Ghazali yang burjudul at-Tahafut al-Falasifah. Ibnu Rusyd menganggap, dialektika para sufis tidak mampu memberi pemahaman pada orang awam. Namun di sisi lain, sebagaian pemikir menganggap, al-Ghazali yang dianggap sesat karena pemikirannya, adalah disebabkan oleh ketidak mampuan pemikiran pada zaman itu. Maksudnya, pemikiran al-Ghazali telah terlalu maju, sedangkan pada masa al-Ghazali hidup, pemikiran orang awam dan pemikir saat itu, tak mampu memahami segala teori al-Ghazali.

Islam telah melalui lima periode pendidikan Islam. 1.) Periode Pembinaan (pada masa Rasul, diwarnai dengan penyampaian wahyu), 2.) Periode Pertumbuhan (masa rasul hingga bani Umayah), 3.) Periode Kejayaan (masa bani Abas, dengan munculnya Madrasah, perkembangan ilmu dan kebudayaan), 4.) Periode Keruntuhan (runtuhnya Baghdad, sekaligus meruntuhkan ilmu dan budaya islam, dan berpindahnya pusat ilmu ke dunia barat), 5.) Periode Pembaharuan (Jatunya Mesir, hingga kini. Dengan ditandai, gejala perhatian terhadap agama oleh generasi), dan selanjutnya adalah Periode Kebangkitan (hasil dari perkembangan masa lalu). 2. Pengaruh Kaum Oriental Terhadap Perkembangan Islam: “Perkembangan pada masa Pra-Islam hingga Pasca Renaisans”.

Untuk mengenal apa itu filsafat Islam: Apa itu Filsafat Islam dan Sejarah Singkat

Komentar