Pengantar Filsafat Islam dan Dimensi Falsafi Ibnu Arabi

 Pengantar Filsafat Islam

Para Kaum Orientalis mengira bahwa filsafat Islam hanya sebatas catatan atau penjabaran dari filsafat Yunani., atau hanya disebut sebagai catatan kaki dari filsafat Yunani dan dianggap tiruan atau sekedar sarah (penjelas). Adapun pendapat lain menyatakan filsafat Islam disebut sebagai Filsafat Arab. Majid Fahri menyatakan, bahwa filsafat Islam yang sebelumnya sekedar dianggap sebagai filsafat Arab, hal ini karena di dalamnya menggunakan bahasa Arab. Dan tanpa adanya proses intelektualitas.

Namun, sekarang filsafat Islam dianggap memiliki tempat sendiri, yang artinya filsafat Islam telah diakui kedudukannya. Proses kreatif telah tumbuh. Menurut Majid Fahri, filsafat islam merupakan hasil dari proses intelektual yang rumit. Yang mana, banyak sarjana muslim ikut andil dalam melakukan kajian dan peracikan filsafat Islam.

Bukan hanya itu, dalam hasil racikan tadi, tidak akan lepas dari yang disebut budaya. Yang mana artinya dalam filsafat islam teramat kental unsur Arab yang terdapat dalam filsafat Islam, terutama bahasa. Dan di sinilah Majid berpandangan bahwa nama filsafat Arab lebih cocok disematkan pada Filsafat Islam.

Sayyed Huasin Nasr menganggap bahwa filsafat Islam merupakan hermeneutika filososfis teks sacral al-Quran dan Hadits yang juga memanfaatkan khazanah keilmuan Yunani. Pendapat Nasr bisa dikatakan sama dengan pendapat filsuf Prancis Henry Corbin yang menyatakan bahwa filsafat Islam bersumber dari dimensi-dimensi kenabian yaitu quran dan hadits.

Menurut Oliver Leaman, filsafat Islam merupakan filsafat yang di dalamnya memiliki percikan keislaman atau unsur keislaman di dalamnya meskipun memiliki keterikatan dengan filsafat pada umumnya. Namun, di sana memiliki unsur keislaman yang difaktorkan lingkungan filsafat itu lahir di dunia Islam. Menurtnya, masyarakat Islam memolakan persoalan filosofis sesuai dengan masyarakatnya. Missal persoalan terhadap pengenalan Tuhan. Yang mana sis dari konteks filsafat akan dipolakan dan dibangun sesuai dengan ajaran Islam. Yang dalam duniai filsafat dikenal dengan being yang mana dalam Islam dikenal dengan kenteks “ada” dan “wujud” yang mana manusia dan alam disebut sebagai maujud.

A.    Ruang Lingkup

1.      Objek Material

Dibagi menjadi dua yaitu Normatif dan Historis

a.       Normatif / Ajaran: Keimanan / Tauhid; Tasawuf; dan Fiqih.

b.      Historis: Bagaimana ajaran Islam hidup dan menghidupi masyarakat dan kebudayaan; dan bagaimana Islam mempengaruhi dan dipengaruhi tempat dan zamanya.

2.      Objek Formal

Filsafat (yang tidak terbatas oleh filsafat Yunani), seperti filsafat modern dan kontemporer. Yang tidak hanya persoalan filsafat Klasik yang cenderung menjadi kajian sejarah.

B.     Sejarah Filsafat Islam

Melalui dua proses yaitu Apropriasi dan Naturalisasi.

1.      Apropriasi: ketika filsafat disesuaikan dengan konteks budaya yang baru dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab atau diterjemahkan secara sistematis.

a.       Penerjemahan karya Yunani (abad 8 sampai abad 9 – zaman Harun ar-Rasyd).

b.      Penulis sistematis filsafat Yunani (seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina). Pada masa ini bukan hanya sekedar penerjemahan namun juga penulisan ulang. Meski pada era ini filsafat Islammasih persis atau belum mengalami perubahan.

2.      Naturalisasi

Yang mana filsafat yang sejatinya asing dalam duna Islam, kemudian dibumikan hingga hilang kesan asing terhadap tubuh Islam, dalam proses ini, tidak kemudian seluruh khazanah filsafat dimasukkan begitu saja kedalam tubuh islam, tapi juga melewati filsafat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam akan sepenuhnya ditolak. Dan yang dianggap positif, mana akan dipadukan dengan Islam, akan diintegrasikan sedemikian rupa terhadap Islam.

Kajian Islam berupa kalam, tasawuf atau sufisme merupakan kendaraan utama dalam melakukan naturalisasi filsafat kedalam Islam. Dan tokoh sentral yaitu al-Ghazali yang kemudian membuat Filsafat memiliki ciri khas tersendiri.

Filsafat Ibnu Arabi

Ibnu Arabi dianggap sebagai filsuf yang sulit dipahami. Hal ini dikarenakan beberapa faktor. Yang pertama adalahmengenai pembahasan metafisis-ontologis yang di sana menguraikan tentang hakikat ketuhanan dan relevansi dengan manusia. dan yang kedua adalah pemikiran-pemikiran Ibnu Arabi yang memuat segala hal yang bersifat transenden. Yang demikian inni bersumber dari pengalaman-pengalaman intuitif.

Meskipun pemikiran Ibnu Arabi ini terlampau sulit dipahami, menurut Abdul Kadir Riyadi dalam buku “Arkeologi Tasawuf” pemikiran Ibnu Arabi ternyata malah banyak diminati. Terlebih di Nusantara yang demikian sejak abad ke-15 M, banyak pemikir yang tertarik pada pemikiran-pemikiran Ibnu Arabi. Hal ini dikarenakan dengan relevansi kepercayaan masyarakat kala itu dan dipandang memiliki dimensi kewalian.

A.       Dimensi Kewalian Ibnu Arabi

Beliau mengkritik pemikiran seorang filsuf yang ceramah tentang meragukan kemu’juzatan nabi Ibrahim. Dengan menganggap bahwa api yang membakar nabi Ibrahim hanya sekedar simbolik mengenai kemarahan Namrud, yang demikian api yang dimaksud bukan api secara harfiahnya namun hanya sebuah simbol yang menggambarkan kemarahan Namrud pada nabi Ibrahim. Yang kemudian ada seorang sufi yang dapat diperkirakan itu adalah Ibnu Arabi bertanya pada filsuf tersebut dengan menunjuk api, “apakah itu?”, lantas ada seorang yang menjawab, “itu adalah api”. Kemudian sufi itu melemparkan api tersebut pada orang yang menjawab pertanyaannya tadi. Dan ternyata orang tersebut menangkap api tersebut dan mengembalikanya ke tempat semula. Lantas disuruhlah filsuf tadi untuk memegang api tersebut, namun api itu malah membakar tangannya. Dan dari situ filsuf tersebut bertobat.

B.       Konsep Tasawuf Ibnu Arabi

1.      Wahdatul Wujud

Istilah ini tidaklah dipopulerkan oleh Ibnu Arabi, namun dipopulerkan oleh murid-murid beliau. Namun istilah ini dapat dikaitkan pada pemikiran-pemikiran Ibnu Arabi. Terlebih dalam pembahasan mengenai doktrin ajaran beliau mengenai kesatuan wujud. Dalam ajarannya, wujud yang sebenar yang realitas adalah satu atau realitas tunggal. Ralitas tunggal yang dimaksud oleh Ibnu Arabi adalah bentuk kesadaran diri yang ia menemukan atau memikirkan dirinya sendiri lalu mengetahui kemungkinan-kemungkinan penyebarluasan dirinya melalui “asma” dan “sifat”.

2.      Barzah

Barzah menurut Ibnu Arabi merupakan tempat “antara” atau khayal atau imajinasi. Imajinasi atau khayal ini bukan hanya pelengkap dari akal namun, adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaan antara.

Hal ini dapat digambarkan dengan cermin. Barzah adalah bayangan antara jasad dan ruh. Bukan bayangan di balik cermin atau siapa yang bercermin namun adalah di antaranya. “Barzah” adalah antara ruh dan badan.

3.      Insan Kamil

Manusia tercipta dari citra atau pancaran Tuhan, yanag demikian adalah bayangan Tuhan. Di sana, manusai memiliki potensi untuk mengetahui dan menghidupkan sifat-sifat Ilahiyah yang ada dalam dirinya.  Manusia yang mampu mencapai atau mengetahui disebut sebagai insan kamil atau manusia sempurna yang semua iti direpresentasikan oleh para nabi dan wali.

C.       Tasawuf Filosofis Ibnu Arabi

Pemikiran tasawuf filosofis Ibnu Arabi dapat dilihat dari sikap beliau dalam melihat akal dan kasyaf. Bagi Ibnu Arabi dan para sufi pengetahuan dengan kasyaf lebih tinggi maqamnya etimbang pengetahuan dengan akal. Namun, meski kasyaf memiliki maqam lebih tinggi dari akal, akal memiliki peran penting demi memperoleh pengetahuan yang benar akan sesuatu. Yang mana akal digunakan sebagai pemisah antara perbedaab dan keragaman.


Penulis: Muhammad Fathun Niam


Komentar