Humanism is Communism: The Twin of Capitalism is a Modern Country
oleh: Muhammad Fathun Niam
“Menjadi seorang komunis adalah
menjadi seorang humanis; kenapa, sangat menyakitkan ketika seorang mengatakan
ketidakrelevanan komunisme? Apakah Gulag memecah isi kepala kosong kalian?
Apakah kalian anak neoliberal yang dipantati oleh poster-poster propaganda
imperealisme agung kapitalis? Apakah kita telah tenggelam dalam surga Dajjal
Soeharto dengan narasi agamisnya yang menghina komunisme dengan, ‘ateis!’
Ingatlah, Menjadi Marxis adalah menjadi humanis! Picik dengan putra-putri
Soeharto yang berhasil melumuri tembok Berlin dengan kotoran sapi dan kotoran
dirinya.”
“Yang paling bodoh, anak-anak
Soeharto—yang dengan bangga meludahi komunisme—sekarang tercekik dan selalu
protes, iri dengan para cukong, terselip di pantat agamawan dengan janji
manisnya alih-alih menjadi seorang kapitalis itu sendiri.” —Tuhan itu
adalah Kapitalisme.
Saya tidak pernah bisa memahami, kenapa seseorang
benci dengan komunisme, secara spesifik adalah Marxisme. Entah kenapa senjata
paling mudah untuk diludahkan adalah, “sudah tidak relevan”. Kenapa sudah?
Apakah karena kita nyaman dengan menjadi buruh? Nyaman menjadi babu? Menjadi
konsumen? Apakah dengan PPATK membuat kebijakan membekukan rekening dorman
adalah bentuk pemaksaan kita sebagai konsumen? Artinya, kita terus dihantam,
dibentuk menjadi agen kapitalisme, dan ya, kita senang.
Kita telah ditipu oleh para pendongeng—Negara
adalah bentuk absolutis dari mastery, penguasaan total. Artinya negara,
memiliki kendali penuh atas apa yang dikontrol, dan bagaimana
melakukannya: melalu pendidikan, sosialisasi simbolis kebijakan—walaupun
terkadang akan dilakukan secara keras di awal, tapi dalam ruang trancendetal
history akan melalui normalisasi yang membuatnya banal dan dianggap
absah—serta melalui narasi secara performatif. Negara adalah kembaran
kapitalisme. Negara berperan seperti agama, sebagai legislator yang mengontrol
pengetahuan yang beredar di tengah penguasaannya sebagai ‘yang’ normal dan
‘sebagai’ abnormal dari sesuatu. Dan negara modern secara khusus menjadi
legislator superstruktur bagi kapitalisme; agama bisa mengatakan, babi adalah
haram, Al-Quran itu saintifik, Marx pencinta Muhammad, bahkan komunisme
adalah Islam, atau nilai sosialisme adalah nilai kristiani sebagaimana
ucapan George Lansbury yang demikian ini sama halnya bagaimana
kekuasaan mengatakan bahwa kapitalisme adalah demi keberlangsungan kebutuhan
sosial sebagaimana yang ditempelkan di dinding-dinding propaganda Berlin
seperti seorang Adam Smith.
Agama adalah lembaga yang sebenarnya dalam tubuh
Marxsten berdiri di dataran yang sama, tapi dalam ruang Foucauldian, agama akan
menjadi epistémé yang difusif, cepat menjalarkan pengetahuan fixe
ke masyarakat—agama bagaikan virus. Dalam ruang Marx, agama adalah bentuk
superstruktur yang memberikan kendali untuk membantu menghidupi saudara
mereka—kapitalisme. Demikian itu, karena agama memiliki otoritas dalam ruang
struktur masyarakat berkat otoritas karismatik yang bertransformasi dalam ruang
transendental historis menjadi otoritas tradisional. Agama memiliki otoritas
dalam bentuk struktural masyarakat secara ideal sebagai hukum yang sah, dengan
demikian melalui agama, suatu pengetahuan fixe dapat disampaikan dengan
baik yang sebagai contoh adalah “menghina seseorang, bahkan seorang koruptor
adalah dosa”. Kekuasaan itulah yang memiliki kontrol penuh atas apa yang ia
kuasai, termasuk bentuk kacamatanya—dia mampu menciptakan kacamata horizont
Gadamerian—dan menciptakan bagaimana seharusnya manusia atau publik melihat.
Agama, bukan menjadi bangunan setara sebagai bagian
superstruktur, tetapi alat bor yang efisien, menjadi virus yang diinjeksikan ke
tubuh seseorang, bahkan disebar melalui udara—lihat era Soeharto dan Sukarno,
bagaimana agama menjadi bor politik untuk mendobrak gerbang massa agar mengalir
deras ke tubuh mereka. Era Marx, agama adalah bor para kapitalis, bagaimana
agama menjadi epistémé negara untuk melanggengkan kapitalisme dengan
menyebarkan pesimisme buta a lá asketiame buddhism. “Agama adalah ‘obat
penenang’ bagi masyarakat” yang membuat orang mengiyakan penderitaannya,
memaklumi hidupnya secara fatalistik karena kejahatan Tuhan-walaupun agama akan
mengatakan membungkus itu dengan nama ‘takdir’ itu pasti baik. Pada era
Sukarno, era PM Juanda, misal, secara rasial menumbuhkan sistem diskriminasi
rasial dengan memberikan aturan limitasi Tionghoa untuk bersekolah. Isu rasial
adalah bentuk kontrol kekuasaan. Dalam kasus hari ini, isu agama tetap menjadi
bor untuk pemerintah, kekuasaan melanggengkan kapitalisme. Isu belakangan,
komunitas Kristen mendapatkan diskriminasi. Komunitas Islam memiliki
sentimental terhadap agama lain, terjadilah kerusuhan. Dalam dua bulan
terakhir, setidaknya ada dua kerusuhan yang sama, dengan motif kegiatan gereja.
Apakah pergerakan ini murni dari sentimen komunitas agama, atau kekuasaan yang
menggunakan bornya? Ya, keduanya! Kekuasaan akan menggunakan seluruh alatnya
untuk melanggengkan kekuasaannya. Dalam sistem kapitalis, dalam kacamata Marx,
bukan negara yang sedang dibela sebagaimana Foucault, melainkan adalah
kapitalisme itu sendiri—para aristokrat yang pusing dengan bursa saham dan ‘kegiatan
ekonomi’. Kekuasaan melihat alat efisien untuk menciptakan ketegangan untuk
adanya merkantilisme di ruang sidang tertutup di atas Olympus istana negara
yaitu agama. Islam memiliki sentimen polemik dengan agama lain, makan sentimen
ini diberikan untuk memberikan publik hiburan, untuk memaksa mereka mengalihkan
perhatian mereka kepada isu itu. Dalam kemungkinan lain, mungkin ada
merkantilisme yang sedang menjadi sosok pahlawan publik sekaligus sebagai
pahlawan kapitalis.
Komunisme Marxsten—Apakah komunisme
adalah utopia? Bukankah Marx juga menggunakan kata itu? Pertanyaan itulah yang
lahir, entah kenapa narasi itu berhenti hanya sebagai hinaan pesimistis
daripada kerja intelektual untuk membuka ruang bertanya. Dia seakan menjadi
gema dogma yang haram dipertanyakan. Sosialisme utopis adalah gerak sosialisme
paling awal pada era John Lock, oleh Robert Owen, Charles Fourier yang dengan
jeli mengupas dengan kritis gejala penyakit kapitalisme. Namun, yang menjadi
masalah bagi kaum Utopis adalah belum memiliki perhatian materialistis,
perhatian ilmiah. Maksudnya, kaum Utopis belum menyentuh ranah analisis
walaupun ide mereka baik, dan masuk akal, setelah melihat gejala kapitalisme
yang dehumanis, mengeksploitasi buruh. Mereka mengandaikan pulau-pulai surgawi,
desa-desa komunal di mana mereka sejahtera tanpa kepemilikan pribadi. Namun
dengan ketiadaan riset, anggapan utopis mereka, yang terlalu indah tanpa
perhatian kritis atas sejarah material, mereka malah terjebak oleh alam pikir
mereka dan membuatnya tidak realistis karena tidak melihat kondisi realitas
sosial bagaimana cara melakukan perebutan kelas, oleh siapa, bagaimana. Owen
misal, mengandaikan sebuah cetak biru yang ditawarkan ke para feodal, para
kapitalis, para penguasa, apakah mereka mau untuk melepaskan kekayaan mereka?
Apakah para feodal mau melepaskan tanah-tanah mereka? Ketiadaan pengetahuan
terhadap politik, gerak ekonomi, bagaimana gerak sejarah inilah yang membuat
perjuangan sosialisme utopis menjadi utopia yang tidak realistis, karena cara mereka
yang tidak realistis. Di sinilah Marx, memberikan pisau analisisnya,
materialisme-historis, yang kerap kali akan dipisahkan dengan istilah
sosialisme ilmiah—karena mereka memiliki perhatian observatif tersebut, maka
komunisme lahir sebagai perhatian yang sangat serius.
Sosialisme utopis telah melupakan sebuah
kemungkinan materialistis, artinya utopis tidak berdiri dalam sebuah kerja
serius sebagai gerakan yang memadai kecuali hanya blue print yang diharapkan
dibaca dan diterima leh para feodal dan para kapitalis. Marx seperti di atas
datang dengan perancangan matang dengan melakukan analisis materialistis untuk
membentuk strategi bagaimana komunisme dapat didistrisubikan. Sebagai narasi
prakisis, Noam Chomsky dalam Who Rules the World, ia sudah membuka
dengan narasi, bagaimana Amerika menginterferensi negara-negara lain
pasca-perang dunia pertama. Tapi pertanyaannya, siapa yang mengontrol
negara?Noam Chomsky dengan jelas menyebut jika aturan dan kebijakan politis
negara mereka ditentukan oleh elit politik—para pemilik modal, kapitalis.
Konsekuensinya adalah ketiadaan partai—sebuah gerakan massa sosialis—oposisi
untuk pemerintah. Artinya, kebijakan-kebijakan sosialis akan lebih gampang
tersingkirkan karena penguasa yang mengontrol penuh kebijakan mereka, bukan
demokrasi. Uraian Chomsky menunjukkan bagaimana Negara berdiri sebagai
superstruktur untuk memberikan narasi doxic yang mendukung kapitalisme.
Maka, untuk meruntuhkan kapitalisme tidak dengan ‘membom jembatannya’
sebagaimana yang rancang oleh Anarkisme dengan memisahkan diri seutuhnya dari
negara dan enggan berinteraksi dengan sistem negara sementara, tetapi dengan
melalui ‘jembatan’ itu sendiri yang disebut negara.
Partai digunakan oleh Marx sebagai jalan untuk
mendistribusikan komunisme. Distribusi komunisme tidak bisa dilakukan begitu
saja. Negara memiliki tentara, memiliki aparatus, memiliki kekuasaan, power
untuk mastery dan mempengaruhi asumsi publik melalui wacana (discours)
yang dariya narasi diskursif menjelma sebagai narasi doxa—seharusnya
memang demikian. Amerika sukses membuat narasi konstruktif menjelma
sebagai sebuah doxa yang natural, ‘yang memang seharusnya demikian’ yang
diterima oleh publik dalam pandangan mereka terhadap konsumerisme, bahaya laten
komunisme berupa: sentralisasi, pemiskinan, diktaktoral, yang sangat terlihat
dalam menarasikan negara demokrasi Amerika yang penuh kebebasan berpendapat,
dengan menyandingkannya dengan Tiongkok, Korea Utara yang mengakui
komunismenya, namun negara membungkam rakyatnya. Narasi ini, bisa dilumpuhkan
dengan masuk melalui pemerintahan itu sendiri, karena jika tidak, pergerakan
akan selalu dijegal oleh aparatus, tentara, bahkan massa sebagai produk wacana
pemerintah. Skenario politis komunis adalah menduduki pemerintahan yang sah,
menggunakan tentara dan aparatus untuk mengendalikan distribusi—mengambil alat
produksi—dari para pemilik modal. Maka, langkah selanjutnya adalah
meruntuhkan sistem negara itu sendiri, dan diganti dengan komite perencanaan
demokratis, tanpa struktur, tanpa uang, tanpa gaji, tanpa upah, tanpa transaksi
sebagaimana kritik Marx terhadap sosialis macam Lassalle dan para Lassallean.
Partai bukan sebagai roda pengegrak, tetapi institusi yang digunakan oleh para
penggerak untuk mendistribusikan komunisme. Berbeda dengan Lenin yang
menggunakan partai sebagai penggerak masa, yang hal ini dipengaruhi oleh
kondisi materialitasnya saat itu—buruh, uneducated.
Terdapat dua dosa besar kapitalis: Kapitaslisme
telah merenggut hak sosial berupa kepemilikan bersama alat produksi dengan
menjualnya dengan dalih kepentingan publik, dan meraup keuntungan individu yang
maksimal. Namun, terkadang upaya untuk meraih keuntungan itu harus dengan
menekan biaya produksi, dan kerap kali biaya produksi yang dipangkas adalah
upah buruhnya. Pertentangan komunisme adalah terhadap eksploitasi kerja yang
dialami buruh. Buruh di sini bukan hanya para pekerja kasar di pabrik maupu
petani, tetapi mereka yang ‘diupah’, artinya, apa yang disebut sebagai karyawan,
bahkan aparatus adalah buruh itu sendiri, yakni buruh dari para kapitalis.
Kapitalisme pada dasarnya selalu menekankan pada keuntung. Dapat dilihat
dalam narasi Adam Smith dalam The Wealth of Nation yang mengatakan bahwa
komunisme selalu menekankan pada pemaksimalkan keuntungan individu ‘demi
kepentingan publik’. Sementara penekanan komunisme adalah untuk memenuhi
kepentingan publik melalui kerja yang dilakukan secara kelompok. Jika
diperhatikan dari pendefinisian Adam Smith, kapitalisme memiliki mimpi yang
sama dengan komunisme, yakni ‘kepentingan publik’. Namun, yang menjadi
pertanyaan sebagai seorang komunis, “apakah tujuan kapitalisme benar-benar
untuk kepentingan publik? Dalam ranah apa? Seperti apa? Dan mengapa?”
Mengapa kapitalis memaksimalkan keuntungan
pribadi mereka, keuntungan individual mereka untuk memenuhi kebutuhan
publik dengan menjual mesin-sosial yang seharusnya dimiliki publik sementara
mereka dapat menikmati keuntungan itu, dan menciptakan kekuasaan dengan
keuntungan itu? Tentu dari sini, narasi Adam Smith sama sekali tidak masuk akal
untuk mengatakan bahwa profit maksimal untuk dan demi kepentingan publik,
kepentingan yang mana? Dan dengan kepemilikan pribadi atas ‘alat (kapital)’,
maka kapitalisme dapat bertransaksi dengan menjual komoditas kepada para
proletariat, secara spesifik akan saya sebut sendiri ‘mereka yang tidak
memiliki alat’. Bayangkan, secara sederhana adalah seperti seorang laki-laki,
sebut saja ‘A’ memiliki alat giling. Menurut komunisme, alat giling adalah alat
milik publik karena itu dibutuhkan secara konsumtif. Namun, ‘A’ menguangkan
alat itu kepada siapa pun yang hendak memaainya. Inilah gambaran sederhana dari
kapitalisme, mereka menjual alat mereka, dan mereka menekan biaya produksi
dengan mengurangi upah pekerja.
Komunisme mengandaikan hilangnya kelas, hilangnya
kepemilikan pribadi yang menurut mereka hal inilah yang melahirkan kelas anatar
yang proletar dan yang borjuis. Yang jadi masalah adalah narasi mengenai
kepemilikan pribadi terkadang tercampur dengan istilah kepemilikan pribadi
non-produksi. Maksud Marx, penghapusan kepemilikan pribadi (private property)
dalam Manifesto Partai Komunis adalah penghapusan kepemilikan dari alat
dan mesin produksi yang dipegang dan dikuasai oleh para borjuis. Dalam Kritik
atas Program Gotha, mesin produksi adalah alat vital untuk membuat produk
pakai yang tentu dibutuhkan secara publik. Mesin produksi yang dikuasai secara
personal, secara private yang pada dasarnya adalah alat yang utama yang
dibutuhkan secara sosial hanya akan menggembungkan lumbung milik pribadi dari
pemilik mesin produksi, yang di sisi lain sangat bertentangan dengan narasi
Smith bahwa tujuan akhir kapitalisme adalah kepentingan publik. Dengan alat
produksi dimiliki secara pribadi akan menyebabkan kepemilikan profit hanya akan
dilimpahkan kepada lumbung pemilik alat. Dari skenarionya, kapitalis sebagai
pemilik modal (capital) akan melakukan monetization terhadap
kepemilikan modal—mesin produksi. Mesin produksi, misal mesin giling,
masyarakat akan membutuhkan mesin itu, di sisi lain pemodal juga membutuhkan
pekerja. Skenario inilah yang dijalankan oleh kapitalis sebagaimana narasi
Smith adalah kapitaisme mengupayakan pemaksimalan profit pribadi.
Bagaimana caranya sementar pemodal juga memerlukan maintenace terhadap
alatnya? Di sinilah sistem kapitalis tidak lagi memanusiakan manusia. Tiongkok,
bagaimana bisa mereka menekan harga mereka lebih murah? Tentu dengan menekan
biaya produksi dengan memberikan upah yang lebih sedikit, maka harga dapat
bersaing. Inilah skenario eksploitatif yang digambarkan dengan bagaimana
perusahaan tidak membayar buruh mereka dengan bayaran yang ideal. Artinya,
kepemilikan itu adalah kepemilikan alat produksi yang dibutuhkan secara
sosial—baik dalam menggunakannya maupun kegunaannya—tidak termasuk kepemilikan
rumah, ponsel, kendaraan, pakaian di mana properti tersebut masih milik pribadi
secara sah, inilah yang dimaksud (personal property). Skenario
belakangan, pasca-Lenin akan mengenal level dari komunisme: low,
medium, high. Maka komunisme akan diperhatikan bagaimana suatu perusahaan
tidak eksploitasi. Perusahaan yang memberi upah sesuai dengan rata-rata
kebutuhan hidup di region-nya adalah bentuk dari komunisme.
Apakah menjadi komunis artinya dibungkam? Apakah
sentralisasi komunisme adalah bentuk pembungkaman? Apakah menjadi komunis
berbanding lurus dengan hilangnya kebebasan berpendapat? Prinsip komunisme
adalah: pertama, memenuhi kebutuhan manusia secara utilitaris, secara
menyeluruh. Kedua, mengangkat manusia dari eksploitasi yang dilakukan
oleh pemilik modal yang memanfaatkan capital kepemilikan mereka atas
alat produksi publik secara pribadi untuk menarik untung secara pribadi (Kritik
atas Program Gotha). Dari sini, jika pembungkaman terhadap aspirasi
rakyat, pendapat rakyat adalah dianggap bentuk komunisme, maka bukankah
komunisme sudah mengkhianati prinsip komunismenya? Jika komunisme
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan setiap individu, maka apakah masuk
akal jika seseorang pergi ke pusat perencanaan komunal dan teriak-teriak bahwa
dia belum mendapatkan haknya: bahan makanan, mobil, ponsel, dsb., bukankah
narasi di atas tidak masuk akal? Tentu. Dalam ...Gotha cukup terang.
Lantas, dari mana sentralisasi muncul? Lenin. Ruang
material Marx dan Lenin jauh berbeda. Marx bergerak di Jerman, di Inggris di
mana dia melihat buruh-buruh industri adalah orang-orang yang
berpendidikan—mereka sudah sadar akan kelas, dan mereka siap untuk bergerak.
Partai adalah kendaraan, organisator yang membawa para
‘proletariat-yang-sadar-kelas’ menuju kunci perlawanan—negara dan siap
menggulingkan kelas kapitalis dan negara itu sendiri. Sementara, bagaimana
dengan Lenin? Lenin menghadapi buruh tani, tidak teredukasi. Mereka yang
berpendidikan, yang tidak memerlukan pelopor adalah aristokrat-elit—saya
hanya ingin menggambarkan bahwa mereka sedikit. Lantas, apa yang dilakukan
Lenin? Partai Vanguard (partai pelopor). Partai Vanguard, sebagai partai
pelopor yang menggerakkan masa menuju kesadaran kelas bersama. Namun, yang
menjadi masalah adalah pasca-lengsernya Lenin, seorang birokrat ulung, Stalin
berdiri dan mengambil alih komunisme menjadi alt baru untuk menggerakkan masa,
bukan untuk kesadaran kelas, tapi kebutuhan birokratis.
Dalam Manifesto Partai Komunis dan Kritik
atas Program Gotha, akhir dari komunisme adalah penghilangan segala gejala
kapitalisme: kepemilikan ekslusif borjuis, sistem upah, uang, dan segala
transaksi. Gejala komunisme sebenarnya adalah gejala natural yang dimiliki
manusia yang zoonpoliticon yang sudah diperlihatkan pada zaman hunting
dan gathering atau beberapa gambaran sederhananya dapat dilihat dari
masyarakat pedalaman (suku) yang hidup berkelompok. Kerja kelompok, baik
manusia suku maupun kelompok Naenderthal hidup berkelompok untuk memenuhi
kebutuhan mereka: menanam, berternak, berburu untuk kebutuhan kelompok—bukan
menjualnya, bukan menyimpannya secara individu. Gambaran itulah yang akan
menjadi gambar yag cukup terang untuk apa yang disebut Marx sebagai Komunisme
yang lebih Maju (advenced communism). Komunisme lanjutan lahir ketika
manusia sudah tidak lagi bekerja untuk saranan hidup—memperoleh
uang—melainkan sudah menjadi kebutuhan vital, orang sudah bukan lagi
bekerja untuk memperoleh uang, tetapi untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri—seluruh kebutuhan, dengan menghapus upah dan hukum upahan. Dalam
kapitalisme, seseorang bekerja untuk mendapatkan uang untuk membeli
kebutuhannya, maka komunisme adalah kerja tanpa upah, tetapi kerja untuk
memenuhi kebutuhannya. Skenario komunis akan bergerak, negara—anggap saja dalam
konteks ini masih ada istilah negara—tidak melakukan produksi untuk dijual,
tetapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Maka, produksi dilakukan untuk
mendapatkan surplus yang mengalir deras. Hasil produksi, didistribusikan
ke seluruh orang. Dalam komunisme tidak ada lagi membeli bahan, yang ada adalah
mencari bahan untuk menciptakan mesin, memperbarui mesin, maintain
mesin. Secara praktis, kelompok komunis di pusat perencanaan akan mendata
kebutuhan masyarakat: seluruh kebutuhan, ambil satu kasus adalah ponsel. Maka,
ketika dewan perencanaan mendapatkan data, maka produksi dilakukan sampai
surplus. Ketika produksi selesai, misal negara hanya membutuhkan 1jt ponsel, tetapi
negara memproduksi 2jt ponsel, maka 1jt akan didistribusikan, 1jt akan
distribusikan untuk mengganti kebutuhan yang usang—misal ponsel A sudah pecah,
maka dia mengambil dari surplus. Bagaimana dengan pekerja? Mereka hanya bekerja
ketika produksi dilakukan. Dapat diilustrasikan dengan, jika dalam 1 minggu
pekerja komunal bidang ponsel sudah mencapai surplus, maka setelah itu pekerja
libur sampai dibutuhkan kembali. Dan ilustrasi ini adalah seluruh kebutuhan:
kebutuhan primer, sekunder, dan bahkan luxury. Inilah sistem tanpa uang,
tanpa transaksi, tanpa eksploitasi dari sang hantu kapitalis di balik negara
yang bijak. Negara yang bijak itu, adalah pelindung sistem kapitalis,
membentangkan komoditas konsumerisme, kepemilikan kekuatan kerja (alat),
dan bagaimana semua tu dijual.
Komunisme lanjut mungkin akan sulit dibayangkan
dengan menggunakan persepsi kapitalistis—dengan memikirkan upah, kepemilikan
properti dengan uang, dan transaksi. Komunisme lanjut adalah ketika transaksi
sudah tidak ada. Bayangkan suku pedalaman, suku baduy, atau manusia zaman
Naenderthal—hanya ada pengumpulan produksi secara surplus dan dimanfaatkan,
tanpa transaksi bahkan barter sekalipun, atau kita bisa membayangkan koloni
semut yang mengumpulkan makanan sampai surplus untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Jika itu menyulitkan, bayangkan saja suatu negara kapitalis yang
maju seperti Korea Selatan, Luksemburg, Jerman, Finlandia yang sejahtera sampai
rakyatnya dapat menikmati fasilitas negara dengan baik—transportasi,
pendidikan, makan siang, listrik, internet—yang semua itu diberikan negara
secara gratis, tapi mereka bukan sistem komunis, jadi sekarang bayangkan yang
gratis adalah seluruh kebutuhan kita, pakaian, bahan makanan, ponsel,
kendaraan, kebutuhan bangun rumah, dll. Itulah komunisme lanjut. Komunisme
lanjut adalah ketika negara sebagai sebuah negara pekerja memenuhi seluruh
kebutuhan rakyatnya.
Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya
kepadaku, “Apakah Prabowo komunis dengan MBG?” Saya pernah teriak-teriak ‘eurika’
karena seakan memahami komunisme, dan dengan tanpa rasa bersalah menjembarkan
Tiongkok sebagai bentuk sosialis yang memiliki probabilitas untuk mampu
bergerak ke arah komunisme dengan baik, dan juga karena mereka kenyataan
dikepung oleh kapitalisme. Tiongkok punya kesempatan yang besar untuk menjadi negara
pekerja, begitu juga dengan Amerika. Maksud saya, kita berusaha memunculkan
pertanyaan, “apakah Indonesia mampu menjadi negara pekerja dengan bergerak
secara politis sebagai gerakan dari kesadaran kelas, menguasai negara, kemudian
menggunakan kekuatan politik itu untuk membebaskan dari borjuasi?—dengan
kenyataan presiden, bahkan kelas menengah mereka ditodong pistol di mana-mana,
oleh mafia, oleh negara lain. Hoegeng, misal, ia mengaku setelah menjadi
Kapolri, banyak sekali para cukong, borjuis yang mencoba merebut hatinya,
bahkan ia harus menutup toko bunga istrinya agar tidak dilarisi oleh
borjuis. Namun, mungkin saja, jika suatu partai kelas yang berdedikasi
menduduki negara dari para pekerja kesadaran kelas, merebut aparatus, mungkin
mereka masih mampu untuk melawan mafia. Tapi, bagaimana dengan monster
imperialis di luaran sana? Mereka memiliki kekuasaan ekonomi, memiliki nuklir,
memiliki senjata dan pasukan. Negara US misal, dia bahkan bisa menginterferensi
politik Indonesia—bahkan di mana-mana. Tapi apa yang saya dapat? Tamparan
seabrek kertas-kertas materialis kasus bagaimana Tiongkok menekan biaya
produksi dengan mati-matian dalam upah buruh mereka, pelanggaran human right
dalam bentuk eksploitasi yang merampok waktu para pekerja, imperialisme
menjijikkan! Begitu juga dengan Prabowo dengan MGB-nya. Memang, niatan
Prabowo baik, tapi lihat siapa yang diuntungkan? Para pemilik modal! Ultramilk,
susu ultra-processed-food perusahaan, monopoli vendor.
Dari sinilah, Tiongkok memiliki kesempatan untuk
memulai proyek internasional untuk menjadi negara pekerja, yang demikian itu
sama halnya dengan kesempatan Amerika menjadi negara pekerja. Andaikan
Tiongkok, atau negara adidaya seperti Tiongkok dan Amerika menjadi komunis,
ketika negara kapitalis melakukan boikot ke negara itu, negara pekerja masih
bisa hidup. Misal Tiongkok dengan kemandirian energinya, dia masih bisa hidup
tanpa memerlukan pasokan batu bara, atau bahkan Tiongkoklah yang dibutuhkan
negara kapitalis, di sisi lain mereka memiliki SDM-nya sendiri yang melimpah.
Yang mana artinya, Tiongkok akan lebih dapat dimungkinkan untuk memulai
proyek negara pekerja daripada Indonesia, karena Indonesia akan kolaps kalau
lepas secara bilateral. Sebagaimana di atas, Indonesia tidak memiliki
kemandirian itu. Indonesia masih banyak bergantung ke negara lain. Jika
Indonesia yang memulai proyek komunisme itu, akan lebih mudah negara besar
menjegal partai negara pekerja, sebagaimana PKI pernah dibersihkan oleh
Soeharto. Hal ini juga yang diandaikan Marx, bahwa proyek komunis pasti akan
lahir dari negara-negara raksasa, dulu seperti Jerman, Perancis, atau sekarang
seperti Amerika atau Tiongkok. Menarik untuk dilihat bagaimana perjuangan
partai Vanguard oleh Lenin akan menunjukkan bagaimana komunisme dilahirkan
bukan oleh negara besar, namun oleh negara kecil yang terisolasi, yang unedicated.
Oleh karenanya, gerakan itu harus melalui sebuah partai aristokrasi kecil untuk
menjadi pelopor suatu komunitas raksasa seperti Rusia pasca-kekuasaan-Sar.
Berbeda dengan Marx, partai adalah alat yang digunakan oleh pekerja terdidik
untuk menggerogoti kapitalisme dari dalam, namun pertanyaan untu kasus Rusia
era pasca-Sar, ‘bagaimana jika rakyatnya tidak kompeten’? Maka Vanguard
diperlukan. Tentu, mungkin itulah yang diperlukan Indonesia. Tapi yang jadi
masalah adalah puing-puing Vandguard gagal ditangan birokrat kejam, Stalin.
Komunis adalah sang humanis—Dari
gejala yang telah diperlihatkan Foucault, Bourdieu, dan Chomsky, superstruktur
dengan wacana melalui gerak politis: pendidikan, media, sosialisasi dapat
membentuk bagaimana orang berpikir, bagaimana orang melihat, dan bagaimana orang
mendefinisikan sesuatu. Narasi “orang pintar bayar pajak”, dan “menghormati
guru adalah bagian dari agama” adalah bentuk jelas kontrol yang disebarkan
dalam bentuk wacana (discourse). Di sinilah, menurut Marx, negara adalah
pelindung dari mode produksi itu sendiri dengan: melalui sembarang kebijakan
demi melanggengkan transaksi mode kerja kapitalistik yang elitis. Masalah dalam
mode kerja kapitalistik adalah, pertama, manusia dibentuk untuk
mengamini secara doxic transaksi komoditas, kedua, bagaimana
alat produksi yang vital sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia—misal alat
giling untuk memisahkan secara efisien gabah menjadi beras—seharusnya adalah
alat bersama, tetapi dalam mode kerja kapitalsitik, kekuatan kerja
(alat produksi) dimiliki segelintir orang, maka orang dipaksa untuk membeli,
bertransaksi. Alat produksi memerlukan buruh, sementara buruh memerlukan uang
dari upah untuk membeli komoditas. Dalam Manifesto Partai Komunis, Marx
menjelaskan tujuan komunis secara terang benderang: penggulingan kelas
aristokrasi borjuis dalam menguasai kepemilikan alat produksi secara pribadi,
secara elitis. Dalam Kritik atas Program Gotha, komunisme bertujuan
untuk menghapus eksploitasi pekerja untuk menciptakan mode produksi
ideal tanpa konsep uang. Marx berangkat dari sosialis utopis yang melihat
bagaimana kapitalisme merenggut kebutuhan publik sebagai komoditas yang dijual
ke publik dengan menguasai (kekuatan produksi) alat produksi. Maka,
ketika daya produksi dan seluruh hasil kekayaan mengalir deras, maka kita
telah melewati cakrawala sempit borjuis. Tidak ada kemiskinan, tidak ada
ketimpangan, tidak ada kecurangan—jika kebutuhan adalah vital yang harus
dipenuhi, dewan perencanaan komunal, yaitu seluruh dari kita terpenuhi
kebutuhannya, untuk apa kita menimbun? Toh juga tidak bisa dijual dengan
demikian, selamat menikmatinya!
“Entah sampai kapan, tapi skenario
komunisme lebih benderang daripada surga di telapak kaki agamawan.”
.jpg)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus