Yellowstone National Park dan Moralitas Immoral Hegel
Oleh: Muhammad Fathun Niam
“Sejarah
kita adalah sejarah ekspansi maju vernunft, sang roh absolut menuju kesadaran”
Pada
tahun 1920-95, taman nasional Yellowstone tidak memiliki serigala. Alhasil rusa
berkembang biak dengan subur. Ini membuat rusa memakan semua rumput dan
menjadikan Yellowstone kering karena rumputnya habis dimakan rusa. Sampai
akhirnya serigala dimasukkan. Singkatnya, serigala mengontrol rusa: bukan hanya
jumlahnya, tapi secara instingtif membentuk teritorial. Ini membuat hutan
kembali pulih: tanaman tumbuh subur, hewan mulai berdatangan. Ancaman dari
kawanan serigala memaksa kawanan rusa membatasi teritorialnya dan secara tidak
langsung demikian ini menyelamatkan vegetasi dari perusakan dari kawanan rusa.
Kondisi ini membuat pertumbuhan tanaman di sana membaik; kembalinya ekosistem
ini membawa burung kembali, dan akar-akar pohon membaik, bahkan mendatangkan
berang-berang.
Jika
kita menilai kejadian di atas dengan kacamata antropo-sentris-morfis, mungkin
kita berpikir bahwa keadaan di atas begitu kejam untuk rusa, karena kita harus
mengorbankan kawanan rusa, hanya agar kehidupan dari sebuah ekosistem yang
lebih besar terus berjalan. Namun, Hegel akan lebih kejam lagi. Siklus semacam
ini harus dan perlu untuk terjadi. Serigala-serigala ini adalah anti-tesis rusa
(sebuah bagian dari sejarah). Dengan demikian—pembantaian atas rusa—adalah
bagian dari perkembangan menanjak sebuah sejarah yang dibutuhkan.
Demikian
itu adalah apa yang disebut oleh Hegel sebagai dialektika, atau apa yang saya
ingin sebut sebagai konflik-kontradiksi-dialektis. Dialektika bukan sebuah pendamaian
atas dua kontradiksi dalam ruang konkret, melainkan sebuah proses menjadi ‘becoming’.
Hegel tidak menyebut triadik tesis-antitesis-sintesis, melainkan dalam bahasa
yang sangat abstrak, yakni sebagai: ada-ketiadaan-menjadi.[1] Namun, sebelum merambat ke arena dialektika,
kita perlu memahami struktur fenomenologi roh. Peter Singer menjelaskan, bahwa
kesadaran akan diri sendiri, tidak dapat terjadi dalam ruang yang isolatif,
tanpa konflik, tanpa kontras. Maka, hanya dengan kontraslah, kesadaran diri
dapat dilakukan
Tentang Fenomenologi Roh
Setelah
kita membicarakan dialektika Hegel, maka kita kembalikan ke sebuah pertanyaan
ontologis mengenai realitas. Jika Platon mengatakan realitas adalah sesuatu di
luar kita, dan kita mampu mengenalinya melalui penalaran, dan Kant menolak
mengetahui realitas yang metafisik karena tidak dapat ditangkap oleh fakultas
akal kita—sebagaimana yang saya jelaskan di catatan kaki nomor [7]—maka
bagaimana Hegel mengatasi realitas ini? Sebagaimana yang dikatakan Hegel “yang
rasional (vernunft) itu nyata, dan yang nyata pasti rasional”.
Untuk memahami Roh Absolut, maka
kita perlu melakukan pelacakan-kembali secara tertib, dari Roh menuju
kesadaran; Idealisme Hegel dimulai dengan keyakinan universal akan apa yang
dimaksud dengan pengetahuan absolut. Dengan demikian, kita telah sampai pada
kesadaran-diri (self-consciousness) akan kesatuan, bahwa Aku (I)
bagai sang Engkau (thou) yang berdiri sebagai subjek-mengamati
sang Engkau (thou), sejatinya sedang mengamati dan mencoba
memahami (verstehen) dirinya sendiri. Dengan demikian juga, kita telah
menyadari, kita adalah bagian dari roh absolut yang melakukan
eksteriorisasi atas bagian diri kita sendiri untuk agar dipahami.
Keyakinan universal ini adalah jawaban untuk pertanyaan yang sama seperti
Platon hingga Russell dan negasi Kant sebelum Hegel, bahwa kita membutuhkan
‘sesuatu’ yang stabil, yang setiap orang memahaminya sama, karena indra tidak
stabil dalam mengalami sensasinya. Di sini, Hegel keluar dari asumsi Platon
yang menyatakan ada-sebenarnya ada di luar sana, begitu jauh, bahkan Kant yang
menutup pengetahuan-yang jauh tersebut—ia menyebutnya noumena. Menurut
Hegel, kebenaran adalah kita sendiri, benda-benda itu esensinya adalah kita
sendiri. Narasi ini mirip dengan orang-orang materialisme dan orang-orang
neoplotinian, bahkan Peter Singer menyebut Hegel mirip dengan sistem filsafat
Timur; saya akan mencoba menjelaskan kemiripan idealisme Hegel dengan konsepsi
penyatuan filsafat Timur. Peter Singer cukup ketat membatasinya, agar kita
dapat memosisikan Roh Absolut untuk tidak setara dengan Tuhan. Dan saya akan
menjawab mengapa untuk masalah ini.
Pertama adalah Sang Roh Absolut
sebagai mula-awal sejarah. Kita
awali dengan pertanyaan yang banal, “dari mana bentuk kehidupan dengan segala
bentuk fisiknya berasal?” Jawaban kaum teis adalah Tuhan sebagai pencipta.
Suatu entitas individu yang agung, menggunakan segenap fakultasnya mencipta
segala sesuatu di luar dirinya. Namun, bagi Hegel, pencipta tersebut adalah
sang Vernunft, yakni yang Vernunftig (yang-rasonal). Hegel
memulai dengan anggapan bahwa segala kehidupan dan bentuk-bentuk fisik, yakni
bentuk objek-indrawi yang memiliki data-indrawi yang teraba pancaindra kita
sekarang, merupakan manifestasi langsung dari ‘akal’ raksasa tersebut
Kedua adalah sejarah adalah gerak
ekspansi maju menuju kesadaran. Sejarah
kita bukan susuan dari peristiwa acak yang kebetulan, tetapi Hegel memastikan
bahwa sejarah kita adalah sejarah menanjak untuk memahami (verstehen).
Dan akhir dari memahami tersebut adalah kesadaran akan kesatuan. Kesadaran akan
kesatuan ini adalah konsekuensi kita mendapatkan pencerahan dari memahami bahwa
kita diciptakan dari bentuk yang sama, yakni sistem logika, maka dengan
demikian, kita adalah bagian dari Roh Absolut itu sendiri yang ingin menyadari
dirinya sendiri. Seperti yang diuraikan Kaufmann, bahwa Roh adalah
bentuk melingkar, sebuah siklus dari sebuah lingkaran (a cricle of circle),
dia adalah yang awal dan dia adalah yang akhir, yakni kesadaran atas kita
sebagai awal, yakni vernunft. Maksudnya, sejarah kita adalah sejarah
gerak memahami untuk menyadari, bahwa sebenarnya, kita adalah Roh itu sendiri.
Maka, kesadaran akan ke-Roh-an kita, di sini maksudnya adalah Roh Absolut,
bukan menyatakan spiritualitas terpisah kita, membawa kita pada kenyataan,
bahwa kita adalah Roh yang menyadari bahwa kita memahami Roh, yang demikian itu
adalah diri kita sendiri. Saya akan menjelaskannya lebih rinci di bawah.
Ketiga adalah mengenai
Sang-Neoplotinian dari Mursi untuk Hegel. Bagian ini tidak berusaha menyamakan
Hegel maupun mencoba mencari tahu kesamaannya, tetapi saya berusaha untuk
menjelaskannya dengan tradisi yang dekat dengan saya; kesatuan Hegel, mungkin
dapat dibaca melalui emanasi Ibn Arabi. Kita mulai dengan pertanyaan yang sama,
“dari mana alam berasal?” maka kita ajukan pertanyaan retoris, “jika kita
percaya bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta, sementara sebelum ke-ada-an
semesta adalah ketiadaan kecuali Tuhan dan ada membutuhkan sesuatu untuk ada,
maka dari mana Tuhan mengadakan sesuatu tersebut?” Maka, jawabannya adalah
Tuhan itu sendiri. Tuhan menciptakan hule, atau al-haba, atau
kita akan mengenalnya sebagai haqiqah al-muhammadiyah dari diri-Nya
sendiri. Tuhan menguraikan diri-Nya sebagai dasar akan segala sesuatu. Di sini
perbedaan Ibn Arabi dengan Hegel: Tuhan dalam tradisi teis—terkhususnya tradisi
Islam—adalah entitas wujūd yang berbeda dengan makhlūq-Nya.[2] Harun Nasution menuliskan,
bahwa Tuhan ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya, maka Dia menciptakan makhlūq.
Dengan demikian—saat Dia melihat makhlūq—maka Dia telah melihat diri-Nya
sendiri. Atau dalam teks lain, “kuntu khanzan makhfiyan, fa aḥbabtu an
u’rafa fa khalaqtu al-khuluqa, fa bi ‘arafunī.[3] Dari hule inilah,
alam, yakni ruang dan waktu diciptakan, lebih tepatnya makro kosmos, yakni
segala alam raya. Dari makro kosmos, Tuhan menciptakan segala yang mikro:
manusia dari tanah, hewan dari air, malaikat dari cahaya, jin dari api;
kesatuan wujūd Ibn Arabi adalah konsekuensi emanasi-plotinian, karena
esensi segala sesuatu masih memiliki unsur Tuhan, Inilah ketika semua hal
memiliki unsur Tuhan, ini adalah kesatuan wujūd (ada), karena di dalam
dirinya (baca: dunia dan sembarang apa yang disebut sebagai makhlūq)
terdapat unsur Tuhan.[4] Ibn Arabi berhenti di
sini, tanpa ada kesadaran kecuali kesadaran itu ada dalam ruang
spiritualya, insān kamīl. Itu taraf di mana manusia membendarkan
cahaya Ilahiyah agar sangat bersinar secara spiritual. Namun, menurut Hegel,
Roh Absolut—yakni sang Vernunft (akal budi)—sendirilah yang menjelma
sebagai bentuk-bentuk fisik. Jadi, gerak Roh Absolut yang berdiri sebagai
sebuah ‘sesuatu’ yang tak menyadari dirinya sendiri adalah ingin menyadari
dirinya sendiri. Maka, Roh Absolut menjelma dalam sejarah, yakni bentuk fisik
yang terus berkembang—dan memang harus berkembang—sebagaimana Tuhan Ibn Arabi
memecah diri-Nya untuk menjadi bentuk fisik.
Dengan demikianlah, baik Tuhan
maupun Roh absolut dapat mulai memahami diri mereka sendiri. Perlu saya
pertegas, Roh di sini bukan Tuhan, karena Tuhan dalam konsepsi teis adalah
bentuk terpisah dari sembarang makhluk, sementara Roh Absolut adalah sebuah
sistem raksasa yang bergerak dan menggerakkan sejarah. Tuhan sebagai entitas
independen dapat berdiri di depan sebuah cermin untuk mengenali, mengetahui
diri-Nya. Sementara Roh Absolut, mengetahui dirinya adalah dengan melalui
pikirannya sendiri, yakni kita. Di sinilah kesadaran Hegel bermula. Untuk Roh
Absolut menyadari dirinya—yakni dorongan awal dia yang menyebabkan dia
memanifestasikan dirinya ke dalam bentuk fisik—Sang Roh tidak melihat ke luar
dirinya, melainkan dengan manusia yang menggunakan ‘pikirannya’ sendiri.
Saat manusia mulai berpikir, dan dalam daya berpikir tersebut manusia menyadari
bahwa segala bentuk fisik adalah bergerak dan bekerja sebagaimana pikirannya
bekerja, di sinilah kesadaran akan persamaan tersebut menuntun kita pada
kesadaran akan kebersatuan (unity) kita dengan alam, dengan sang Roh
Absolut. Kesadaran kita atas kesatuan itu, menyadarkan diri kita bahwa kita
adalah bagian dari Roh Absolut, maka dengan demikian Roh Absolut telah
menyadari dirinya sendiri. Di sinilah, “pikiran mengetahui dirinya sendiri
dalam bentuk pikiran melalui pikiran.”
Untuk memperjelas bentuk kesadaran
tersebut, saya akan kembali menyusunnya secara runut untuk sampai pada taraf
kesadaran eureka tersebut.
Hegel memulai dengan apa yang disebut dengan kesadaran
primitif: pengetahuan ini didapatkan melalui sensasi (aisthesis)[5]; pada taraf ini, manusia
hanya menangkap data-indrawi atas suatu objek-tampak, seperti ketika melihat
apel, maka kita melihat apa yang kita maksud apel dengan segenap
data-indrawinya—yakni predikat-predikat yang melekat: bentuk, warna, bau,
posisi, lokasi, dll. inilah yang disebut ‘certainty-sense’ yang tidak
membutuhkan investigasi lebih jauh
Kedua, adalah persepsi
Ketiga adalah pemahaman-understanding
Namun, dalam memahami ini, kita
menyadari suatu hal, bahwa semua gerak kita itu memiliki kesamaan. Maka
pertanyaannya, “kenapa?” jawabannya adalah, karena logika kita, bahkan logika
gerak kita sama: berjalan berpindah, jatuh, minum, makan, detak jantung,
melempar, denyut nadi, peregangan otot, bahkan kesadaran berpikir kita yang
mengamini cara berjalan, cara melompat, cara beretika semuanya sama karena
sistem logika yang sama. Dalam taraf metafisis, menurut Hegel, pemahaman memberikan
kesadaran bahwa roh sedang memahami dirinya sendiri, mengingat (anamnesis)
dirinya sendiri menggunakan hukum sains ketika roh sadar menjadikan dirinya
sebagai objek dari pemahaman; saya akan memberikan contoh yang lebih konkret,
yakni misal, saya pernah menulis dua judul: “The Will to Reproduction is a
Naturalistic Selfish Behavior” dan “[Menuju Eksistensialisme] Art of Loving”.
Di sana, saya mengakui, bahwa kerja diagnosis di sana, merupakan diagnosis yang
lahir dari diri sendiri. Saya menjadikan diri saya sebagai objek pengamatan:
mengapa, bagaimana. Dapat diperhatikan, di sinilah subjek-mengamati dengan
objek-pengamatan terbuka, tidak lagi terpisah karena pengamatan tersebut tidak
lagi mengenai apel dan pesawat, tetapi mengenai struktur berpikir kita saat
kita mulai menyadari mengenai kesamaan. Di taraf ini, sebenarnya yang dilakukan
bukanlah sekedar berpikir akan suatu benda, tetapi sebuah kontemplasi
spiritual. Mungkin Hegel atau orang lain akan marah dengan istilah ini, namun
kenyataan bahwa kesadaran pada taraf ini adalah kesadaran akan kesamaan bentuk
logisnya, maka yang dilakukan melampaui pengamatan benda, yakni makna. Dari
kontemplasi logis inilah kita baru bisa menyadari adanya kesamaan gerak kita,
bahwa kita adalah sistem logika yang sama. Kita adalah bentuk fisik logika,
yakni Roh yang mencoba memahami sistem logika, yang demikian itu tidak lain dan
tidak bukan adalah Roh. Inilah, eureka moment kita menyadari siapa yang
sedang kita sadari.
Maka, dengan demikian, sebenarnya, dengan kita berpikir UNTUK
memahami akan sesuatu, yakni objek atau—yang sebenarnya sama-sama—subjek
yang—sedang—terobjektifkan—karena upaya mengalami sensasi kita membuat
kita berdiri sebagai subjek-mengamati yang mengharuskan sang subjek memisahkan
diri dari objek-pengamatan—bahwa dengan kenyataan sesuatu itu sebenarnya adalah
kita sendiri karena konsekuensi dari kita yang terbuat dari pikiran (baca: vernunft)
yang termanifestasikan, kita secara tidak langsung sedang memahami diri kita
sendiri karena esensi kita sama sekali sama yakni kita adalah satu pikiran yang
sebenarnya memang sama. Inilah yang disebut Hegel sebagai self-consciousness.
Kita menyadari, saat kita memikirkan benda lain, kemudian berpikir kita
bergeser ke dalam ‘pikiran’ melalui apa yang saya sebut sebagai kontemplasi,
akan menyadarkan kita bahwa dengan memikirkan ‘pikiran’ dengan harapan memahami
suatu benda, sebenarnya kita telah memahami diri kita sendiri. Lebih tepatnya,
momen kesadaran manusia, sang Aku (I) yang memahami dunia
bergerak degan sistem logika yang sama, adalah momen sang Raksasa Roh
Absolut telah MENYADARI DIRINYA SENDIRI
Pada
taraf ini, pengetahuan bergeser kepada upaya untuk mengenali diri. Lebih jauh
Peter Singer menjelaskan, bahwa kesadaran diri tidak dapat datang dari isolasi
diri, datang dari kesendirian. dalam hal ini adalah ketiadaan konflik; Singer
menjelaskan dengan indah, bahwa untuk membentuk gambar yang sempurnya (proper),
maka demikian membutuhkan kontras. kontras inilah yang dimaksud dengan anti
tesis. Pada taraf inilah dialektika akan terjadi; sebagaimana pengetahuan Eropa
yang sering melakukan kategorisasi-wacana, Hegel mengatakan, bahwa dalam memahami
diri kita, kita perlu hal yang bukan kita; saya mengatakan ini karena, dapat kita
lihat kritik Foucault, bahwa wacana adalah pembentukan kategori untuk
memisahkan siapa A dan siapa B, karena dengan demikian kita dapat memahami.
Kita butuh antitesis dari kita sendiri untuk dapat mengidentifikasikan kita.
kasus orientalisme dalam membaca ulang Timur adalah bagian dari gejala ini,
bahwa Erpa perlu mendefinisikan yang bukan dirinya untuk membentuk identitas
mereka. Di sinilah Master and Slave muncul
Segenap akan Masalah ‘Ada’
Apa
yang saya uraikan mengenai apa yang terjadi di Yellowstone National Park
merupakan sebuah simulasi mini di alam itu sendiri, bagaimana dialektika
membentuk sejarah. Untuk memahami dialektika Hegel, saya kira saya perlu
menguraikan mengenai konsep ada-ketiadaan-menjadi yang selama ini dipahami
dalam triadik tesis-antitesis-sintesis. Triadik à la Fichte ini akan sulit untuk
memahami sisi eksistensialisme Hegel karena terkesan metodis. Dan saya kira,
saya perlu menjelaskan konsepsi ada-mutlak untuk memberikan kesepakatan
pemahaman kepada pembaca, bagaimana seharusnya kita membayangkan ‘ada’, dan
saya harap kita akan paham, kenapa Hegel sendiri menggunakan analogi cahaya
Apa
itu ada? Mungkin saya akan memulai dengan masalah definisi ‘ada’ sebagai konsep
pertama dalam triadik dialektika Hegelian; jika kita membuka The Problem of
Philosophy, Russell memulai dengan masalah ada sebagai materi, dan ini yang
ia permasalahkan. Sebenarnya, baik Berkeley, Leibniz, Russell dan bahkan
Descartes serta Platon termasuk Kant memiliki anggapan yang sama mengenai
‘ada’-nya “yang-das-Ding-an-sich” (thing-in-itself/benda
pada dirinya—yakni benda sebagaimana adanya). Mengapa? Karena kita membutuhkan
bentuk universal yang dipahami bersama. Namun, kebendaan mereka tetap berbentuk
materi—bagaimanapun berdebatan mereka—termasuk Kant yang menolak kebendaan
suatu benda yang nyata di balik yang tampak (fenomena).[7]
Namun,
Hegel tidak mempermasalahkan kebendaan suatu benda, karena yang dia lihat
adalah struktur raksasa—Russell menyebutnya sistem, dan ini lah roh absolut.
Artinya, memahami adalah bentuk menyadari kesatuan ujud raksasa, bahwa gelas
pecah yang jatuh adalah bagian dari sejarah sang roh. Jika Kant mengandaikan
kita tidak dapat mengetahui yang das ding an sich karena noumenitasnya,
maka menurut Hegel, ketidaktahuan yang dikarenakan natas akal (verstand)
yang saya singgung, menunjukkan ketiadaan (nothingness), sementara menurut
Hegel, apa yang rasional adalah yang nyata, sementara yang nyata pasti
rasional. Maka, tidak mungkin kebendaan benda ada tanpa diketahui.
Namun
yang menjadi masalah, Hegel tidak menempatkan ‘ada’ sebagai bentuk yang
terkondisikan (the conditioned) atau ‘yang-ter-dereminate’,
tetapi suatu konsep yang sangat abstrak, yakni konsep ‘ada’ sebagai ada itu
sendiri sebagaimana kita memahami Tuhan. Artinya, kita harus memanfaatkan
masalah dari predikat, bahwa ‘ada’ adalah sesuatu yang bukan predikat tersebut.
Predikat di sini artinya adalah atribut untuk menyatakan akan ‘keberadaan dan
ke-ada-an’ akan sesuatu: apel itu merah, apel itu sudah ada bekas gigitan, apel
itu tergeletak di atas meja, apel iru mengeluarkan bau busuk adalah segenap
predikat. Namun, non-predikat adalah ‘sesuatu’ yang tidak memberikan
pengetahuan apa pun atas objek-indrawi, seperti “apel itu ada”. Konsep aka
‘yang-ada’ tidak menjadi perunjuk tambahan mengenai apel. Ada di sana, adalah
konsep abstrak mengenai sesuatu, bahwa sesuatu ada, tetapi tanpa predikat.
Inilah konsepsi akan ‘yang-ada’ Hegel sebelum kita memahami triadik metafisi
rumitnya. Ada inilah yang bebas dari segala asumsi apakah dia ada atau tidak. Kita
ingat masalah Berkeley, Platon, Descartes, dan Russell. Mereka mengandai-andai
apakah penampakan di depan mereka adalah kenyataan atau tidak. Menurut Hegel,
‘ada’ abstrak inilah yang tidak memiliki asumsi apa pun, karena dia hanya
penunjuk akan sesuatu disebut ‘ada.’
Tentang
Realitas (Realität) dan Aktual (Wirklich)
Dalam Elements of Philosophy of
Right, terdapay pernyataan terkenal Hegel, “sesuatu yang rasional (vernunftig)
adalah nyata (wirklich), dan sesuatu yang nyata—tadi—adalah yang rasional”
Perlu diingat, Hegel memisahkan realitas sejarah
ke dalam dua kategori: sejarah menanjak, dan sejarah yang tak berguna; Saya
akan perjelas maksud saya karena saya menggunakan kata ‘sejarah’ untuk
menjelaskan istilah ‘wirklich’ yang sebenarnya adalah bagian dari
sejarah. ‘Wirklich’ (kenyataan) adalah sebuah fakta-fakta partikular
dalam sebuah gerak raksasa sejarah. Sejarah, membutuhkan segala macam energi:
saya akan kesulitan untuk menggambarkannya hanya sebagai sebuah roda gigi (gear)
atau sebagai energi dorong, tetapi maksud saya adalah keduanya, bahwa sejarah
butuh penggerak. Bayangkan sejarah adalah sebuah bola angin raksasa yang
memiliki ruang di dalamnya, dan ‘kenyataan’ adalah benda-benda yang ada di
dalam bola. Jika benda-benda kita andaikan dapat bergerak dengan dirinya
sendiri—kita lepaskan logika fisika bahwa benda-dalam-bola
memerlukan energi di luar dirinya untuk bergerak sebagaimana bola bisa
bergerak—maka saat benda itu bergesekkan dengan permukaan dalam bola,
maka gesekan akan membuat bola bergeser, dan membuatnya bergerak. Bagaimana
dengan benda-benda yang ikut bergerak, benda yang secara logis seakan dapat
menggerakkan bola, tetapi bola tersebut tidak bereaksi sama sekali? Inilah
sebuah realitas hanya sebatas realitas (realität). Sementara untuk roda
gigi atau benda-benda yang mempengaruhi bola, itulah yang disebut sebagai realitas-aktual
(wirklich).
Saya akan pinjam istilah dalam sosiologi, dan
saya akan mencoba perketat definisinya agar tidak berantakan dan tumpang
tindih; pertama, tujuan dari sistem raksasa ini, sang Roh Absolut adalah
membentuk sejarah. Sejarah muncul dan
maju hanya jika tidak terisolasi. Dalam artian sejarah adalah gerak menuju
kesadaran Roh Absolut—yakni gerak ekspansi maju. Artinya, kalau kita
menggunakan istilah sosiologis, apa yang diseut realität adalah apa yang
disebut sebagai ‘fakta’ bukan realitas. Tapi cukup di sana, karena fakta dan
realitas dalam sosiologi jauh berbeda, karena berbicara tentang rangkaian kejadian
secara kronik, dan kualitasnya sama hanya saja fakta adalah penangkapan indra yang
terbatas sementara realitas adalah keseluruhan akumulasi dari fakta-fakta,
itulah mengapa kesaksian faktual meleset. Namun, kembali ke Hegel, apa yang
disebut realität adalah seluruh kejadian yang tidak memiliki hubungan
dengan gerak ‘menyadari’ dari Roh Absolut untuk sadar akan dirinya. Maka, realitas
ini adalah yang tidak rasional. Sebagaimana benda-benda yang tidak memberikan
dampak apa pun terhadap bola raksasa. Sebaliknya, jika suatu kejadian adalah
bagian dari gerak maju menyadari diri sang Roh Absolut, maka ini adalah aktual
(wirklich). Namun, ada satu poin yang saya perhatikan dalam tubuh Hegel,
yaitu: apa yang realität adalah segala sesuatu yang demikian itu tidak
menyebabkan sejarah maju, sebaliknya yang membuat maju adalah wirklich.
Ini nanti yang dikritik habis oleh Russell karena ketidakkonsistenan Hegel atas
hukum logikanya sendiri. Menurut Russell, Hegel menyelamatkan diri dari
kontradiksinya saat suatu hukum tak berfungsi, misal sebuah konflik yang tak
memberikan dampak maju. Logika deduksi dengan mengedepankan Hegel, suatu
konflik akan menggerakkan sejarah, maka seharusnya konflik itu menggerakkan
sejarah—perubahan. Namun jika nyatanya tidak, maka dia hanyalah tak lebih hanya
sebuah realität.
Tentang Dialektika
Triadik
ini adalah bentuk paling abstrak. Hegel tidak mengandaikan triadik ini pada
taraf yang-determinate, yang terukur, melainkan dalam ruang ideal abstraktif.
Hegel membayangkan bahwa Ada-absolut murni adalah cahaya putih yang menyilaukan—seluruh
mata kita hanya menangkap warna putih, tanpa pinggiran, tanpa garis kontras,
yang ada hanya putih, sementara ketiadaan adalah kegelapannya, sama saja, hanya
saja ini hitam seperti saat kita menutup kelopak mata kita
Lantas,
bagaimana saat kita memikirkan maksud ada itu sendiri? Saya menjelaskan bahwa
ada bukan ruang, tapi kerja membayangkan kita tidak dapat menghindari sebuah
ruang gelap, kosong, dan hampa. Inilah yang dimaksud ketiadaan (nothingness).
Namun, kenyataan kita memikirkan dan mulai menyadari ada (being) identik
(sama sekali sama, bahkan Hegel menyatakan tidak kurang dan tidak lebih bahwa
ada [being] dan ketiadaan [nothingness] sama sekali sama) dengan
ketiadaan (nothingness) akan menggeser ‘ada’ sebagai ‘ketiadaan’, namun
logika macam Descartes juga muncul saat kita memikirkan ketiadaan, maka
ketiadaan tersebut menjadi ada. Inilah yang dimaksud dialektika. Dialektika
bukan sebuah urutan logis jika A ditambah B maka menjadi C, tetapi gerak
melebur antara ada-tiada tersebit menjadi sebuah progres kemenjadian menjadi (becoming).
Dan, kemenjadian ini akan menjadi satu titik moralitas imoral Hegel, karena
untuk menjadi memerlukan peleburan, pada taraf lain adalah negasi yang dapat
diistilahkan secara sistemis sebagai anti-tesis.
Perlu
saya ingatkan sebagai sebuah batasan, triadik Hegel mengenai “ada (being)-ketiadaan
(nothingness)-menjadi (becoming),” ada pada taraf logika abstrak.
Hegel ingin menjelaskan mengenai kemenjadian itu sendiri, bahwa gerak menjadi
hanya dan hanya bisa terjadi jika proses ada-tiada terjadi. Peter Singer dalam Hegel:
A Short Introduction memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa
kesadaran-diri (self-consciousness) hanya terjadi jika ada antitesisnya,
yakni ia butuh sesuatu yang kontras darinya. Sejarah tidak dapat bergerak dalam
ruang isolasi yang diam, tanpa benturan, bayangkan ini: orang Yunani era pra-Sokrates
sudah hidup tertata dari moralitas-adat mereka. Negara berjalan sesuai dengan
konstruksi sosialnya hingga Sokrates datang membawa kesadaran akan hak
individu. Dalam ruang transendental historis, kita telah memiliki harmoni individu,
tetapi harmonisme Yunani sudah lenyap
“[…]
Taiwan takut karena China, Korea Selatan takut dengan Korea Utara […] Singapura
takut karena dia adalah mayoritas orang Tionghoa di tengah lautan Melayu, Israel
takut karena dia di tengah lautan Arab. Kalau dia ngga hebat, ya dikremus
(dikunyah)”
Apa
yang dikatakan Salim Said, adalah bagian dari dialektika sejarah. Dialektika Hegel
tidak menawarkan sebuah sistem metodologis sebagaimana Kant dengan a priori-kategori
kantiannya yang sistemis, bahwa bola A bergerak karena B, atau A ditabrakkan
dengan B maka menghasilkan C. Namun, Hegel mencoba menjelaskan secara metafisis
gerak menanjak (ascendant) untuk sejarah. Menurutnya, sejarah kita
adalah sejarah roh yang berekspansi menuju kemajuan.”
Immoralitasnya
di mana? Kita gunakan logika Hegel untuk manusia, dengan premis, “sejarah kita
adalah sejarah akan roh yang terus berekspansi maju” maka premisnya—sebagai
premis minor, bahwa “Manusia perusak”, telah merusak bumi. Jika manusia hadir
merusak alam, dan segenap ledakan populasi membuat dunia sekarat, yang artinya
berbanding lurus dengan kesekaratan roh—menjadikan sejarah akan berhenti—Maka
konklusinya, “Manusia perlu untuk dibatasi” Sintesisnya adalah: kontrol atas
manusia, entah sebenarnya nanti IPTEK, bahkan putusan semacam Thanos (menghapus
segenap manusia agar tidak terjadi lonjakan populasi ekstrem dengan membunuh
8,1 milyar penduduk). Demikian juga dengan yang terjadi oleh rusa, oleh Yunani,
oleh keluarga monarki.
Namun
pertanyaannya, apakah konflik-kontradiktif-dialektis tersebut dapat dihindari?
Jawabannya adalah tidak mungkin. Pada taraf praxis, sebenarnya gerak
menjadi (becoming) ini terus berjalan tanpa henti, dan jalannya alan
terus menanjak menuju kesadaran total, kesadaran absolut. Seluruh gerak sejarah
kita: peperangan era pra-Yunani, perang tribalis, perang dunia, konflik dalam
taraf paling private sekali pun adalah bagian dari apa yang terniscayakan,
ia adalah inevitable, yang mustahil dihindari. Bahkan, kematian 2 anak
SD karena bunuh diri, atau kematian Afan Kurniawan adalah bagian sejarah untuk menuju
masyarakat menanjak: berbenah birokrasi, transparansi hukum, dll adalah
konsekuensi yang bisa lahir, sebagaimana bom di Hiroshima melahirkan pembatasan
penggunaan bom atom. Sebagaimana yang terjadi di Yellowstone, serigala-serigala
yang memakan kawanan rusa dan mendorongnya berkelompok di hutan, membuat
ekosistem kembali berjalan dengan semestinya. Semua yang saya contohkan, adalah
apa yang disebut dengan wirklich, karena seluruh gerak itu, adalah gerak
berharga demi ekspansi maju sang Roh Absolut.
“Was
mich nicht umbringht, macht mich stärker” (sesuatu yang tak membunuhku,
maka membuatku kuat) —Nietzsche
Tentang Sumber
Singer, P. (1983). Hegel: A Very Short
Introduction. Oxford University Press.
Hegel, G. W. F. (1991). Elements of the
Philosophy of Right. Cambridge University Press.
Hegel, G. W. F. (2010). The Science of Logic.
Cambridge University Press.
Hegel, G. W. F. (2010). Encyclopedia of the
Philosophical Sciences in Basic Outline: Part 1, Science of logic.
Cambridge University Press.
[1] Hegel menggunakan istilah
yang berbeda. Dalam Ensiklopedia Filsafat Ilmu Pengetahuan, ia
menggunakan istilah metodis, abstrak-dialektika-spekulatif
[2] Makhlūq di sini
merujuk pada ism maf‘ūl sebagai kata benda yang memiliki arti apa yang
diciptakan (khlq) oleh pencipta (khāliq).
[3] Artinya, “Aku adalah
khazanah tersembunyi. Aku ingin dikenali, maka aku menciptakan makhlūq.
Karena aku-lah mereka mengenali-Ku”
[4] Tuhan menempati ke dalam 3
martabat: pertama aḥādiyah, ketika Tuhan apa adanya, tidak dikenali,
tidak diketahui. Kedua waḥidiyah, ketika Tuhan ingin mengenali diri-Nya
sendiri melalui penciptaan dan menjelma ke dalam asma’ wa al-shifat. Di
sinilah kita mengenal Tuhan melalui pengetahuan—Qur’an. Ketiga adalah
tajalli syuhūdī, ketika Tuhan menjelma ke dalam bentuk-bentuk fisik. Pada
level ini, sebenarnya ini merujuk pada konsekuensi materialisme emanasi Ibn
Arabi, bahwa segala sesuatu berasal dari unsur Tuhan, maka setiap bagian dalam
ciptaan terdapat Tuhan di sana.
[5] Sensasi (sensation)
di sini merujuk pada kata dalam bahasa Yunani, yang berarti persepsi indrawi.
Secara sederhana adalah aktivitas mengalami kita atau dalam kata lain adalah
penangkapan kita akan suatu objek-tampak, yakni suatu objek di depan kita yang
dapat diraba oleh pancaindra.
[6] Saya harus memisahkan dua
bentuk kategori yang saya tulis: kategori Rylean dan kategori Kantian; kategoti
Rylean sebenarnya hanya merujuk pada makna yang telah kita kenal, yakni
pemisahan secara kelompok berdasarkan kategori tertentu. Sementara kategori
Kantian merujuk pada sistem verstand Kant menegnai 12 kategorinya, di
mana kita telah memiliki segenap hukum bawaan akal. Inilah yang menyebabkan
mengapa kita mampu memahami: benda dalam bentuk kesatuan, menyebut bola sebagai
bola, apel sebagai apel, bahwa mesin sebagai mesin yang begitu memiliki detail
rumit, termasuk pemahaman kita atas sebab-akibat.
[7]
Saya ingin mengajukan pertanyaan, “jika benda-apa-adanya adalah sebatas
konstruksi indrawi personal, bukankah artinya setiap orang akan melihat benda
yang berbeda pada benda yang sama?” Tentu tidak mungkin. Inilah yang dicari
oleh Berkeley dkk. Menurut Berkeley, materi memiliki bentuk ‘ada’ sebagai
gagasan. Menurutnya, adanya suatu benda adalah karena sensasi,[7] artinya,
benda yang disensasi akan lenyap saat indra kita tidak menangkap benda
tersebut. Tentu ini akan tidak masuk akal karena benda seakan independen. Oleh
karenanya, Berkeley mengatasinya dengan Tuhan, bahwa benda ada karena kita
mengandaikan Tuhan lah yang terus mengalami sensasi atas suatu benda dan
memungkinkan materi tersebut terus ada dan dapat independen; Leibniz memulai
dengan sebuah bayangan absurd mengenai roh-roh kecil. Menurutnya, materi
memiliki dasar penyusunan, dan dasar ini tidak boleh sesuatu yang dapat diukur,
maka ia mengandaikan roh yang tidak bisa diukur. Sementara Platon mengandaikan
apa yang a priori adalah hasil pengalaman kita di alam ideal.
Menarik untuk
membicarakan Platon yang sama memahami idealisme semacam Hegel. Platon
memahami, bahwa pemahaman kita (verstand) akan segala hal dalam realitas
adalah bagian dari anamnesis (pengingatan kembali). Ia menganggap, realitas
akan yang das Ding an sich ada di luar sana sebagai
konsep sempurna atas seluruh pengalaman kita di dunia, sebagaimana kita tahu
bola adalah bola, segitiga adalah segitiga, segala hukum akal kategori kantian
adalah upaya kita mengingat kembali. Apa yang kita ingat itulah yang membuat
kita memiliki a priori akan sesuatu. Mengingat a priori,
Kant mengajukan apa yang disebut a priori adalah daya berpikir,
bukan benda, karena kebendaan yang das Ding an sich
mustahil untuk diketahui, karena akal manusia hanya terkondisikan untuk segala
yang terkondisi—karena sensibilitas kita hanya menangkap apa yang terkondisi
yakni yang ada dalam ruang-waktu.
Descartes cukup menarik
dan cukup membuat kita berputar. Dalam Discourse on the Methode, ia secara
eksplosit menyebutkan bahwa semua pengalaman indrawi dapat dan perlu diragukan,
bahkan sebuah perhitungan geometris sekalipun. Kita ajukan pernyataannya ke
dalam pertanyaan retoris, “bagaimana bisa kita memastikan akan pengalaman
sensasi (aisthesis) kita akan sesuatu jika pengalaman ini memiliki kualitas
yang sama dengan bagaimana kita mengalami ‘seakan-sensasi’ di alam mimpi?”
Apakah sekarang mimpi? Keraguan ini meniscayakan satu hal, bahwa kita ragu:
ragu kita hanya sesang mengalami mimpi, kita tagu seluruh pengalaman indrawi
sangat menipu, tetapi kenyataan “meragu” (dubitans) inilah yang tidak
dapat disangkal. Di satu sisi, apa uang disebut benar menurutnya adalah ketika
sesuatu dapat dipastikan dengan jelas, maka kepastian yang tidak dapat
disangkal adalah kita meragu. Dari sinilah “cogito ergo sum”
itu muncul, karena bagaimana bisa kita meragu tetapi kita tidak ada?
Russell menangi semua permasalahan
mengenai bentuk materi. Ia sepakat, bahwa ada suatu yang universal di baliknya,
tapi dia sendiri juga ragu. Namun, sensasi kita atas suatu data-indrawi benda,
meniscayakan ketidakmunhkinan kita tidak memungkinkan bahwa bentuk ada tidak
ada. Ia menawarkan simplicity-nya, bahwa kenyataan benda dapat diraba,
dan dipastikan posisinya, maka dapat dipastikan benda dengan kebendaannya pun
turut dengannya.
[8] Predikat di sini maksudnya
adalah atribut, bukan sebuah fungsi dalam aturan gramatikal. Predikat di sini akan
menunjukkan kebendaan suatu benda. Dalam kasus kan, kata ‘ada’ dalam proposisi
bahwa “Tuhan ada” adalah tidak jelas. Kata ada di sana tidak menunjukkan sifat
atribut yang disebut predikat mengenai Tuhan. Sebagaimana saat menyatakan
“Niam” ada. Ada tidak memberi informasi tambahan untuk memvalidasi, menguatkan
akan eksistensi Niam. Namun, konsepsi anstrak ada inilah yang dimaksudkan oleh
Hegel.
Komentar
Posting Komentar