Yellowstone National Park dan Moralitas Immoral Hegel

Oleh: Muhammad Fathun Niam

Sejarah kita adalah sejarah ekspansi maju vernunft, sang roh absolut menuju kesadaran

Pada tahun 1920-95, taman nasional Yellowstone tidak memiliki serigala. Alhasil rusa berkembang biak dengan subur. Ini membuat rusa memakan semua rumput dan menjadikan Yellowstone kering karena rumputnya habis dimakan rusa. Sampai akhirnya serigala dimasukkan. Singkatnya, serigala mengontrol rusa: bukan hanya jumlahnya, tapi secara instingtif membentuk teritorial. Ini membuat hutan kembali pulih: tanaman tumbuh subur, hewan mulai berdatangan. Ancaman dari kawanan serigala memaksa kawanan rusa membatasi teritorialnya dan secara tidak langsung demikian ini menyelamatkan vegetasi dari perusakan dari kawanan rusa. Kondisi ini membuat pertumbuhan tanaman di sana membaik; kembalinya ekosistem ini membawa burung kembali, dan akar-akar pohon membaik, bahkan mendatangkan berang-berang.

Jika kita menilai kejadian di atas dengan kacamata antropo-sentris-morfis, mungkin kita berpikir bahwa keadaan di atas begitu kejam untuk rusa, karena kita harus mengorbankan kawanan rusa, hanya agar kehidupan dari sebuah ekosistem yang lebih besar terus berjalan. Namun, Hegel akan lebih kejam lagi. Siklus semacam ini harus dan perlu untuk terjadi. Serigala-serigala ini adalah anti-tesis rusa (sebuah bagian dari sejarah). Dengan demikian—pembantaian atas rusa—adalah bagian dari perkembangan menanjak sebuah sejarah yang dibutuhkan.

Demikian itu adalah apa yang disebut oleh Hegel sebagai dialektika, atau apa yang saya ingin sebut sebagai konflik-kontradiksi-dialektis. Dialektika bukan sebuah pendamaian atas dua kontradiksi dalam ruang konkret, melainkan sebuah proses menjadi ‘becoming’. Hegel tidak menyebut triadik tesis-antitesis-sintesis, melainkan dalam bahasa yang sangat abstrak, yakni sebagai: ada-ketiadaan-menjadi.[1]  Namun, sebelum merambat ke arena dialektika, kita perlu memahami struktur fenomenologi roh. Peter Singer menjelaskan, bahwa kesadaran akan diri sendiri, tidak dapat terjadi dalam ruang yang isolatif, tanpa konflik, tanpa kontras. Maka, hanya dengan kontraslah, kesadaran diri dapat dilakukan (Singer, 1983, p. 84).

Tentang Fenomenologi Roh

Setelah kita membicarakan dialektika Hegel, maka kita kembalikan ke sebuah pertanyaan ontologis mengenai realitas. Jika Platon mengatakan realitas adalah sesuatu di luar kita, dan kita mampu mengenalinya melalui penalaran, dan Kant menolak mengetahui realitas yang metafisik karena tidak dapat ditangkap oleh fakultas akal kita—sebagaimana yang saya jelaskan di catatan kaki nomor [7]—maka bagaimana Hegel mengatasi realitas ini? Sebagaimana yang dikatakan Hegel “yang rasional (vernunft) itu nyata, dan yang nyata pasti rasional”.

Untuk memahami Roh Absolut, maka kita perlu melakukan pelacakan-kembali secara tertib, dari Roh menuju kesadaran; Idealisme Hegel dimulai dengan keyakinan universal akan apa yang dimaksud dengan pengetahuan absolut. Dengan demikian, kita telah sampai pada kesadaran-diri (self-consciousness) akan kesatuan, bahwa Aku (I) bagai sang Engkau (thou) yang berdiri sebagai subjek-mengamati sang Engkau (thou), sejatinya sedang mengamati dan mencoba memahami (verstehen) dirinya sendiri. Dengan demikian juga, kita telah menyadari, kita adalah bagian dari roh absolut yang melakukan eksteriorisasi atas bagian diri kita sendiri untuk agar dipahami. Keyakinan universal ini adalah jawaban untuk pertanyaan yang sama seperti Platon hingga Russell dan negasi Kant sebelum Hegel, bahwa kita membutuhkan ‘sesuatu’ yang stabil, yang setiap orang memahaminya sama, karena indra tidak stabil dalam mengalami sensasinya. Di sini, Hegel keluar dari asumsi Platon yang menyatakan ada-sebenarnya ada di luar sana, begitu jauh, bahkan Kant yang menutup pengetahuan-yang jauh tersebut—ia menyebutnya noumena. Menurut Hegel, kebenaran adalah kita sendiri, benda-benda itu esensinya adalah kita sendiri. Narasi ini mirip dengan orang-orang materialisme dan orang-orang neoplotinian, bahkan Peter Singer menyebut Hegel mirip dengan sistem filsafat Timur; saya akan mencoba menjelaskan kemiripan idealisme Hegel dengan konsepsi penyatuan filsafat Timur. Peter Singer cukup ketat membatasinya, agar kita dapat memosisikan Roh Absolut untuk tidak setara dengan Tuhan. Dan saya akan menjawab mengapa untuk masalah ini.

Pertama adalah Sang Roh Absolut sebagai mula-awal sejarah. Kita awali dengan pertanyaan yang banal, “dari mana bentuk kehidupan dengan segala bentuk fisiknya berasal?” Jawaban kaum teis adalah Tuhan sebagai pencipta. Suatu entitas individu yang agung, menggunakan segenap fakultasnya mencipta segala sesuatu di luar dirinya. Namun, bagi Hegel, pencipta tersebut adalah sang Vernunft, yakni yang Vernunftig (yang-rasonal). Hegel memulai dengan anggapan bahwa segala kehidupan dan bentuk-bentuk fisik, yakni bentuk objek-indrawi yang memiliki data-indrawi yang teraba pancaindra kita sekarang, merupakan manifestasi langsung dari ‘akal’ raksasa tersebut (Hegel, 2010, pp. 46 & 49). Akal tersebut bersifat abstrak, tidak memiliki bentuk, tidak memiliki data-indrawi, dia adalah sistem logika itu sendiri. Secara sederhana, logika ini adalah bagaimana kita sendiri berpikir. maka pertanyaan menariknya adalah, “bagaimana sistem logika tersebut dapat termanifestasikan kepada bentuk yang fisiologis?” Saya akan memberi contoh, yang mungkin akan dipahami oleh mereka yang terbiasa dengan programming dan 3d modeling. Sejatinya, dalam pembuatan model fisik, berbentuk, merupakan kumpulan kode yang tersusun di baliknya. Susunan logika kode tersebut tertampilkan (showness) di layar sebagai sebuah bentuk yang bervolume maupun tidak. Baik dalam pembuatan animasi maupun gim (game), semua apa yang ‘terbentukkan’ (formedness) berasal dari susunan logika. Demikianlah bagaimana setidaknya kita membayangkan, sebuah ‘akal’ (venunft) bisa bermanifestasi ke bentuk yang sama sekali berbeda dengan logika itu sendiri seperti apa. Maka di sinilah, semua hal adalah logika yang sama.

Kedua adalah sejarah adalah gerak ekspansi maju menuju kesadaran. Sejarah kita bukan susuan dari peristiwa acak yang kebetulan, tetapi Hegel memastikan bahwa sejarah kita adalah sejarah menanjak untuk memahami (verstehen). Dan akhir dari memahami tersebut adalah kesadaran akan kesatuan. Kesadaran akan kesatuan ini adalah konsekuensi kita mendapatkan pencerahan dari memahami bahwa kita diciptakan dari bentuk yang sama, yakni sistem logika, maka dengan demikian, kita adalah bagian dari Roh Absolut itu sendiri yang ingin menyadari dirinya sendiri. Seperti yang diuraikan Kaufmann, bahwa Roh adalah bentuk melingkar, sebuah siklus dari sebuah lingkaran (a cricle of circle), dia adalah yang awal dan dia adalah yang akhir, yakni kesadaran atas kita sebagai awal, yakni vernunft. Maksudnya, sejarah kita adalah sejarah gerak memahami untuk menyadari, bahwa sebenarnya, kita adalah Roh itu sendiri. Maka, kesadaran akan ke-Roh-an kita, di sini maksudnya adalah Roh Absolut, bukan menyatakan spiritualitas terpisah kita, membawa kita pada kenyataan, bahwa kita adalah Roh yang menyadari bahwa kita memahami Roh, yang demikian itu adalah diri kita sendiri. Saya akan menjelaskannya lebih rinci di bawah.

Ketiga adalah mengenai Sang-Neoplotinian dari Mursi untuk Hegel. Bagian ini tidak berusaha menyamakan Hegel maupun mencoba mencari tahu kesamaannya, tetapi saya berusaha untuk menjelaskannya dengan tradisi yang dekat dengan saya; kesatuan Hegel, mungkin dapat dibaca melalui emanasi Ibn Arabi. Kita mulai dengan pertanyaan yang sama, “dari mana alam berasal?” maka kita ajukan pertanyaan retoris, “jika kita percaya bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta, sementara sebelum ke-ada-an semesta adalah ketiadaan kecuali Tuhan dan ada membutuhkan sesuatu untuk ada, maka dari mana Tuhan mengadakan sesuatu tersebut?” Maka, jawabannya adalah Tuhan itu sendiri. Tuhan menciptakan hule, atau al-haba, atau kita akan mengenalnya sebagai haqiqah al-muhammadiyah dari diri-Nya sendiri. Tuhan menguraikan diri-Nya sebagai dasar akan segala sesuatu. Di sini perbedaan Ibn Arabi dengan Hegel: Tuhan dalam tradisi teis—terkhususnya tradisi Islam—adalah entitas wujūd yang berbeda dengan makhlūq-Nya.[2] Harun Nasution menuliskan, bahwa Tuhan ingin melihat diri-Nya dari luar diri-Nya, maka Dia menciptakan makhlūq. Dengan demikian—saat Dia melihat makhlūq—maka Dia telah melihat diri-Nya sendiri. Atau dalam teks lain, “kuntu khanzan makhfiyan, fa aḥbabtu an u’rafa fa khalaqtu al-khuluqa, fa bi ‘arafunī.[3] Dari hule inilah, alam, yakni ruang dan waktu diciptakan, lebih tepatnya makro kosmos, yakni segala alam raya. Dari makro kosmos, Tuhan menciptakan segala yang mikro: manusia dari tanah, hewan dari air, malaikat dari cahaya, jin dari api; kesatuan wujūd Ibn Arabi adalah konsekuensi emanasi-plotinian, karena esensi segala sesuatu masih memiliki unsur Tuhan, Inilah ketika semua hal memiliki unsur Tuhan, ini adalah kesatuan wujūd (ada), karena di dalam dirinya (baca: dunia dan sembarang apa yang disebut sebagai makhlūq) terdapat unsur Tuhan.[4] Ibn Arabi berhenti di sini, tanpa ada kesadaran kecuali kesadaran itu ada dalam ruang spiritualya, insān kamīl. Itu taraf di mana manusia membendarkan cahaya Ilahiyah agar sangat bersinar secara spiritual. Namun, menurut Hegel, Roh Absolut—yakni sang Vernunft (akal budi)—sendirilah yang menjelma sebagai bentuk-bentuk fisik. Jadi, gerak Roh Absolut yang berdiri sebagai sebuah ‘sesuatu’ yang tak menyadari dirinya sendiri adalah ingin menyadari dirinya sendiri. Maka, Roh Absolut menjelma dalam sejarah, yakni bentuk fisik yang terus berkembang—dan memang harus berkembang—sebagaimana Tuhan Ibn Arabi memecah diri-Nya untuk menjadi bentuk fisik.

Dengan demikianlah, baik Tuhan maupun Roh absolut dapat mulai memahami diri mereka sendiri. Perlu saya pertegas, Roh di sini bukan Tuhan, karena Tuhan dalam konsepsi teis adalah bentuk terpisah dari sembarang makhluk, sementara Roh Absolut adalah sebuah sistem raksasa yang bergerak dan menggerakkan sejarah. Tuhan sebagai entitas independen dapat berdiri di depan sebuah cermin untuk mengenali, mengetahui diri-Nya. Sementara Roh Absolut, mengetahui dirinya adalah dengan melalui pikirannya sendiri, yakni kita. Di sinilah kesadaran Hegel bermula. Untuk Roh Absolut menyadari dirinya—yakni dorongan awal dia yang menyebabkan dia memanifestasikan dirinya ke dalam bentuk fisik—Sang Roh tidak melihat ke luar dirinya, melainkan dengan manusia yang menggunakan ‘pikirannya’ sendiri. Saat manusia mulai berpikir, dan dalam daya berpikir tersebut manusia menyadari bahwa segala bentuk fisik adalah bergerak dan bekerja sebagaimana pikirannya bekerja, di sinilah kesadaran akan persamaan tersebut menuntun kita pada kesadaran akan kebersatuan (unity) kita dengan alam, dengan sang Roh Absolut. Kesadaran kita atas kesatuan itu, menyadarkan diri kita bahwa kita adalah bagian dari Roh Absolut, maka dengan demikian Roh Absolut telah menyadari dirinya sendiri. Di sinilah, “pikiran mengetahui dirinya sendiri dalam bentuk pikiran melalui pikiran.”

Untuk memperjelas bentuk kesadaran tersebut, saya akan kembali menyusunnya secara runut untuk sampai pada taraf kesadaran eureka tersebut.

Hegel memulai dengan apa yang disebut dengan kesadaran primitif: pengetahuan ini didapatkan melalui sensasi (aisthesis)[5]; pada taraf ini, manusia hanya menangkap data-indrawi atas suatu objek-tampak, seperti ketika melihat apel, maka kita melihat apa yang kita maksud apel dengan segenap data-indrawinya—yakni predikat-predikat yang melekat: bentuk, warna, bau, posisi, lokasi, dll. inilah yang disebut ‘certainty-sense’ yang tidak membutuhkan investigasi lebih jauh (Singer, 1983, p. 80). Kesadaran ini belum universal.

Kedua, adalah persepsi (Singer, 1983, p. 80): persepsi adalah kesadaran atas kategori Rylean.[6] Dalam taraf ini, saya akan pinjam istilah Kant, bahwa pada taraf ini, kita sudah menggunakan kategori Kantian berupa unity yang membuat kita dapat memisahkan dan membedakan kebendaan.

Ketiga adalah pemahaman-understanding (Singer, 1983, p. 83): dalam taraf inilah, kita memberi atribut atas objek tampak dengan hukum alam. Pada dua level sebelumnya, kita telah melakukan objektivikasi atas suatu benda. Gerak berpikir kita dari tahap pertama (baca: anamnesis) dan kedua (baca: persepsi) terjadi dengan melakukan eksteriorisasi, yakni secara metafisis mencabut sang Aku (I) dari tubuh Roh absolut, dan membedakan diri antara sang Aku (I) berdiri sebagai subjek-mengamati yang mengamati objek-pengamatan. Maka, di sini kita telah memisahkan diri, membedakan diri dengan benda-pengamatan. Kita telah teralienasi—dengan siapa? Sebenarnya dengan Sang Roh Absolut (kita simpan ini). Lebih sederhana, saat kita ingin memahami apel yang jatuh atau pesawat yang terbang. Di sini, kita meletakkan diri kita sebagai subjek yang mengalami sensasi dengan mengindra keduanya. Inilah saat kita menjadi subjek-mengamati yang mengamati objek-pengamatan: apel jatuh dan pesawat terbang. Namun, kita perhatikan, bahwa kita sedang melihat objek indrawi yakni si objek-tampak berupa apel jatuh dan pesawat terbang, bukan pikiran. Saya akan contohkan dengan contoh memikirkan hal abstrak yang sebenarnya tetap benda, bukan pikiran. Seperti kita belajar dialektika Hegel, belajar vertand Kant, atau belajar materialisme-dialektis Marxist. Semua itu tetap benda, karena kita subjek-mengamati sedang mencoba memahami objek-pengamatan walaupun bentuknya bukan bentuk fisik. Namun, pada taraf understanding, kita tidak lagi mengalami sensasi, karena kita bergerak lebih jauh dari pada itu. Kita mulai mencoba melekatkan hukum fisika di sana—di sinilah kita sebenarnya menggunakan kategori kantian untuk memahami—untuk memahami: bagaimana apel jatuh? seperti apa? bagaimana bisa? secepat apa? dari titik mana ke mana? Bagaimana pesawat bisa terbang? Dll. Hukum logika digunakan di sini.

Namun, dalam memahami ini, kita menyadari suatu hal, bahwa semua gerak kita itu memiliki kesamaan. Maka pertanyaannya, “kenapa?” jawabannya adalah, karena logika kita, bahkan logika gerak kita sama: berjalan berpindah, jatuh, minum, makan, detak jantung, melempar, denyut nadi, peregangan otot, bahkan kesadaran berpikir kita yang mengamini cara berjalan, cara melompat, cara beretika semuanya sama karena sistem logika yang sama. Dalam taraf metafisis, menurut Hegel, pemahaman memberikan kesadaran bahwa roh sedang memahami dirinya sendiri, mengingat (anamnesis) dirinya sendiri menggunakan hukum sains ketika roh sadar menjadikan dirinya sebagai objek dari pemahaman; saya akan memberikan contoh yang lebih konkret, yakni misal, saya pernah menulis dua judul: “The Will to Reproduction is a Naturalistic Selfish Behavior” dan “[Menuju Eksistensialisme] Art of Loving”. Di sana, saya mengakui, bahwa kerja diagnosis di sana, merupakan diagnosis yang lahir dari diri sendiri. Saya menjadikan diri saya sebagai objek pengamatan: mengapa, bagaimana. Dapat diperhatikan, di sinilah subjek-mengamati dengan objek-pengamatan terbuka, tidak lagi terpisah karena pengamatan tersebut tidak lagi mengenai apel dan pesawat, tetapi mengenai struktur berpikir kita saat kita mulai menyadari mengenai kesamaan. Di taraf ini, sebenarnya yang dilakukan bukanlah sekedar berpikir akan suatu benda, tetapi sebuah kontemplasi spiritual. Mungkin Hegel atau orang lain akan marah dengan istilah ini, namun kenyataan bahwa kesadaran pada taraf ini adalah kesadaran akan kesamaan bentuk logisnya, maka yang dilakukan melampaui pengamatan benda, yakni makna. Dari kontemplasi logis inilah kita baru bisa menyadari adanya kesamaan gerak kita, bahwa kita adalah sistem logika yang sama. Kita adalah bentuk fisik logika, yakni Roh yang mencoba memahami sistem logika, yang demikian itu tidak lain dan tidak bukan adalah Roh. Inilah, eureka moment kita menyadari siapa yang sedang kita sadari.

Maka, dengan demikian, sebenarnya, dengan kita berpikir UNTUK memahami akan sesuatu, yakni objek atau—yang sebenarnya sama-sama—subjek yang—sedang—terobjektifkan—karena upaya mengalami sensasi kita membuat kita berdiri sebagai subjek-mengamati yang mengharuskan sang subjek memisahkan diri dari objek-pengamatan—bahwa dengan kenyataan sesuatu itu sebenarnya adalah kita sendiri karena konsekuensi dari kita yang terbuat dari pikiran (baca: vernunft) yang termanifestasikan, kita secara tidak langsung sedang memahami diri kita sendiri karena esensi kita sama sekali sama yakni kita adalah satu pikiran yang sebenarnya memang sama. Inilah yang disebut Hegel sebagai self-consciousness. Kita menyadari, saat kita memikirkan benda lain, kemudian berpikir kita bergeser ke dalam ‘pikiran’ melalui apa yang saya sebut sebagai kontemplasi, akan menyadarkan kita bahwa dengan memikirkan ‘pikiran’ dengan harapan memahami suatu benda, sebenarnya kita telah memahami diri kita sendiri. Lebih tepatnya, momen kesadaran manusia, sang Aku (I) yang memahami dunia bergerak degan sistem logika yang sama, adalah momen sang Raksasa Roh Absolut telah MENYADARI DIRINYA SENDIRI (Hegel, 2010, p. 49).

 Pada taraf ini, pengetahuan bergeser kepada upaya untuk mengenali diri. Lebih jauh Peter Singer menjelaskan, bahwa kesadaran diri tidak dapat datang dari isolasi diri, datang dari kesendirian. dalam hal ini adalah ketiadaan konflik; Singer menjelaskan dengan indah, bahwa untuk membentuk gambar yang sempurnya (proper), maka demikian membutuhkan kontras. kontras inilah yang dimaksud dengan anti tesis. Pada taraf inilah dialektika akan terjadi; sebagaimana pengetahuan Eropa yang sering melakukan kategorisasi-wacana, Hegel mengatakan, bahwa dalam memahami diri kita, kita perlu hal yang bukan kita; saya mengatakan ini karena, dapat kita lihat kritik Foucault, bahwa wacana adalah pembentukan kategori untuk memisahkan siapa A dan siapa B, karena dengan demikian kita dapat memahami. Kita butuh antitesis dari kita sendiri untuk dapat mengidentifikasikan kita. kasus orientalisme dalam membaca ulang Timur adalah bagian dari gejala ini, bahwa Erpa perlu mendefinisikan yang bukan dirinya untuk membentuk identitas mereka. Di sinilah Master and Slave muncul (Singer, 1983, p. 87).

Segenap akan Masalah ‘Ada’

Apa yang saya uraikan mengenai apa yang terjadi di Yellowstone National Park merupakan sebuah simulasi mini di alam itu sendiri, bagaimana dialektika membentuk sejarah. Untuk memahami dialektika Hegel, saya kira saya perlu menguraikan mengenai konsep ada-ketiadaan-menjadi yang selama ini dipahami dalam triadik tesis-antitesis-sintesis. Triadik à la Fichte ini akan sulit untuk memahami sisi eksistensialisme Hegel karena terkesan metodis. Dan saya kira, saya perlu menjelaskan konsepsi ada-mutlak untuk memberikan kesepakatan pemahaman kepada pembaca, bagaimana seharusnya kita membayangkan ‘ada’, dan saya harap kita akan paham, kenapa Hegel sendiri menggunakan analogi cahaya (Hegel, 2010, p. 69).

Apa itu ada? Mungkin saya akan memulai dengan masalah definisi ‘ada’ sebagai konsep pertama dalam triadik dialektika Hegelian; jika kita membuka The Problem of Philosophy, Russell memulai dengan masalah ada sebagai materi, dan ini yang ia permasalahkan. Sebenarnya, baik Berkeley, Leibniz, Russell dan bahkan Descartes serta Platon termasuk Kant memiliki anggapan yang sama mengenai ‘ada’-nya “yang-das-Ding-an-sich” (thing-in-itself/benda pada dirinya—yakni benda sebagaimana adanya). Mengapa? Karena kita membutuhkan bentuk universal yang dipahami bersama. Namun, kebendaan mereka tetap berbentuk materi—bagaimanapun berdebatan mereka—termasuk Kant yang menolak kebendaan suatu benda yang nyata di balik yang tampak (fenomena).[7]

Namun, Hegel tidak mempermasalahkan kebendaan suatu benda, karena yang dia lihat adalah struktur raksasa—Russell menyebutnya sistem, dan ini lah roh absolut. Artinya, memahami adalah bentuk menyadari kesatuan ujud raksasa, bahwa gelas pecah yang jatuh adalah bagian dari sejarah sang roh. Jika Kant mengandaikan kita tidak dapat mengetahui yang das ding an sich karena noumenitasnya, maka menurut Hegel, ketidaktahuan yang dikarenakan natas akal (verstand) yang saya singgung, menunjukkan ketiadaan (nothingness), sementara menurut Hegel, apa yang rasional adalah yang nyata, sementara yang nyata pasti rasional. Maka, tidak mungkin kebendaan benda ada tanpa diketahui.

Namun yang menjadi masalah, Hegel tidak menempatkan ‘ada’ sebagai bentuk yang terkondisikan (the conditioned) atau ‘yang-ter-dereminate’, tetapi suatu konsep yang sangat abstrak, yakni konsep ‘ada’ sebagai ada itu sendiri sebagaimana kita memahami Tuhan. Artinya, kita harus memanfaatkan masalah dari predikat, bahwa ‘ada’ adalah sesuatu yang bukan predikat tersebut. Predikat di sini artinya adalah atribut untuk menyatakan akan ‘keberadaan dan ke-ada-an’ akan sesuatu: apel itu merah, apel itu sudah ada bekas gigitan, apel itu tergeletak di atas meja, apel iru mengeluarkan bau busuk adalah segenap predikat. Namun, non-predikat adalah ‘sesuatu’ yang tidak memberikan pengetahuan apa pun atas objek-indrawi, seperti “apel itu ada”. Konsep aka ‘yang-ada’ tidak menjadi perunjuk tambahan mengenai apel. Ada di sana, adalah konsep abstrak mengenai sesuatu, bahwa sesuatu ada, tetapi tanpa predikat. Inilah konsepsi akan ‘yang-ada’ Hegel sebelum kita memahami triadik metafisi rumitnya. Ada inilah yang bebas dari segala asumsi apakah dia ada atau tidak. Kita ingat masalah Berkeley, Platon, Descartes, dan Russell. Mereka mengandai-andai apakah penampakan di depan mereka adalah kenyataan atau tidak. Menurut Hegel, ‘ada’ abstrak inilah yang tidak memiliki asumsi apa pun, karena dia hanya penunjuk akan sesuatu disebut ‘ada.’

Tentang Realitas (Realität) dan Aktual (Wirklich)

Dalam Elements of Philosophy of Right, terdapay pernyataan terkenal Hegel, “sesuatu yang rasional (vernunftig) adalah nyata (wirklich), dan sesuatu yang nyata—tadi—adalah yang rasional” (Hegel, 1991, p. 20).

Perlu diingat, Hegel memisahkan realitas sejarah ke dalam dua kategori: sejarah menanjak, dan sejarah yang tak berguna; Saya akan perjelas maksud saya karena saya menggunakan kata ‘sejarah’ untuk menjelaskan istilah ‘wirklich’ yang sebenarnya adalah bagian dari sejarah. ‘Wirklich’ (kenyataan) adalah sebuah fakta-fakta partikular dalam sebuah gerak raksasa sejarah. Sejarah, membutuhkan segala macam energi: saya akan kesulitan untuk menggambarkannya hanya sebagai sebuah roda gigi (gear) atau sebagai energi dorong, tetapi maksud saya adalah keduanya, bahwa sejarah butuh penggerak. Bayangkan sejarah adalah sebuah bola angin raksasa yang memiliki ruang di dalamnya, dan ‘kenyataan’ adalah benda-benda yang ada di dalam bola. Jika benda-benda kita andaikan dapat bergerak dengan dirinya sendiri—kita lepaskan logika fisika bahwa benda-dalam-bola memerlukan energi di luar dirinya untuk bergerak sebagaimana bola bisa bergerak—maka saat benda itu bergesekkan dengan permukaan dalam bola, maka gesekan akan membuat bola bergeser, dan membuatnya bergerak. Bagaimana dengan benda-benda yang ikut bergerak, benda yang secara logis seakan dapat menggerakkan bola, tetapi bola tersebut tidak bereaksi sama sekali? Inilah sebuah realitas hanya sebatas realitas (realität). Sementara untuk roda gigi atau benda-benda yang mempengaruhi bola, itulah yang disebut sebagai realitas-aktual (wirklich).

Saya akan pinjam istilah dalam sosiologi, dan saya akan mencoba perketat definisinya agar tidak berantakan dan tumpang tindih; pertama, tujuan dari sistem raksasa ini, sang Roh Absolut adalah  membentuk sejarah. Sejarah muncul dan maju hanya jika tidak terisolasi. Dalam artian sejarah adalah gerak menuju kesadaran Roh Absolut—yakni gerak ekspansi maju. Artinya, kalau kita menggunakan istilah sosiologis, apa yang diseut realität adalah apa yang disebut sebagai ‘fakta’ bukan realitas. Tapi cukup di sana, karena fakta dan realitas dalam sosiologi jauh berbeda, karena berbicara tentang rangkaian kejadian secara kronik, dan kualitasnya sama hanya saja fakta adalah penangkapan indra yang terbatas sementara realitas adalah keseluruhan akumulasi dari fakta-fakta, itulah mengapa kesaksian faktual meleset. Namun, kembali ke Hegel, apa yang disebut realität adalah seluruh kejadian yang tidak memiliki hubungan dengan gerak ‘menyadari’ dari Roh Absolut untuk sadar akan dirinya. Maka, realitas ini adalah yang tidak rasional. Sebagaimana benda-benda yang tidak memberikan dampak apa pun terhadap bola raksasa. Sebaliknya, jika suatu kejadian adalah bagian dari gerak maju menyadari diri sang Roh Absolut, maka ini adalah aktual (wirklich). Namun, ada satu poin yang saya perhatikan dalam tubuh Hegel, yaitu: apa yang realität adalah segala sesuatu yang demikian itu tidak menyebabkan sejarah maju, sebaliknya yang membuat maju adalah wirklich. Ini nanti yang dikritik habis oleh Russell karena ketidakkonsistenan Hegel atas hukum logikanya sendiri. Menurut Russell, Hegel menyelamatkan diri dari kontradiksinya saat suatu hukum tak berfungsi, misal sebuah konflik yang tak memberikan dampak maju. Logika deduksi dengan mengedepankan Hegel, suatu konflik akan menggerakkan sejarah, maka seharusnya konflik itu menggerakkan sejarah—perubahan. Namun jika nyatanya tidak, maka dia hanyalah tak lebih hanya sebuah realität.

Tentang Dialektika

Triadik ini adalah bentuk paling abstrak. Hegel tidak mengandaikan triadik ini pada taraf yang-determinate, yang terukur, melainkan dalam ruang ideal abstraktif. Hegel membayangkan bahwa Ada-absolut murni adalah cahaya putih yang menyilaukan—seluruh mata kita hanya menangkap warna putih, tanpa pinggiran, tanpa garis kontras, yang ada hanya putih, sementara ketiadaan adalah kegelapannya, sama saja, hanya saja ini hitam seperti saat kita menutup kelopak mata kita (Hegel, 2010, p. 69). Namun, gambaran Hegel ini tidak akan memberi pemahaman yang jelas, seperti saat kita diajukan definisi bahwa konsepsi abstrak-ada adalah sesuatu yang tidak memiliki predikat-data-indrawi: bentuk, warna, bau, konsep, ukuran.[8] Namun, jika kita menyatakan demikian, kita akan membayangkan ‘ada’ tersebut tetap ‘seakan-materi’, karena kita memikirkan bentuk, dan ketiadaan bentuk dalam bayangan membuat kita mengira ‘ada’ adalah ruang kosong itu sendiri. Namun perlu sangat diingat, bahwa ‘Ada’ di sini adalah bentuk abstraksi, ada adalah sekedar kata ada, hanya ada tanpa segala macam predikat, seperti Tuhan ‘ada’. Dia bukan sebagai penunjuk posisi sebagaimana Russell ketika menyatakan ‘ada’ sebagai suatu posisi objek-tampak yang memiliki segenap data-indrawi dalam ruang yang berwaktu. Namun, dalam taraf Hegel, ada di sini adalah kata ada itu sendiri: kita tidak memiliki segenap predikat mengenai kata ada, tidak seperti meja, makan, berdiri, senang yang semuanya memiliki predikat (informasi tambahan untuk menyatakan eksistensi akan ‘sesuatu’).

Lantas, bagaimana saat kita memikirkan maksud ada itu sendiri? Saya menjelaskan bahwa ada bukan ruang, tapi kerja membayangkan kita tidak dapat menghindari sebuah ruang gelap, kosong, dan hampa. Inilah yang dimaksud ketiadaan (nothingness). Namun, kenyataan kita memikirkan dan mulai menyadari ada (being) identik (sama sekali sama, bahkan Hegel menyatakan tidak kurang dan tidak lebih bahwa ada [being] dan ketiadaan [nothingness] sama sekali sama) dengan ketiadaan (nothingness) akan menggeser ‘ada’ sebagai ‘ketiadaan’, namun logika macam Descartes juga muncul saat kita memikirkan ketiadaan, maka ketiadaan tersebut menjadi ada. Inilah yang dimaksud dialektika. Dialektika bukan sebuah urutan logis jika A ditambah B maka menjadi C, tetapi gerak melebur antara ada-tiada tersebit menjadi sebuah progres kemenjadian menjadi (becoming). Dan, kemenjadian ini akan menjadi satu titik moralitas imoral Hegel, karena untuk menjadi memerlukan peleburan, pada taraf lain adalah negasi yang dapat diistilahkan secara sistemis sebagai anti-tesis.

Perlu saya ingatkan sebagai sebuah batasan, triadik Hegel mengenai “ada (being)-ketiadaan (nothingness)-menjadi (becoming),” ada pada taraf logika abstrak. Hegel ingin menjelaskan mengenai kemenjadian itu sendiri, bahwa gerak menjadi hanya dan hanya bisa terjadi jika proses ada-tiada terjadi. Peter Singer dalam Hegel: A Short Introduction memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa kesadaran-diri (self-consciousness) hanya terjadi jika ada antitesisnya, yakni ia butuh sesuatu yang kontras darinya. Sejarah tidak dapat bergerak dalam ruang isolasi yang diam, tanpa benturan, bayangkan ini: orang Yunani era pra-Sokrates sudah hidup tertata dari moralitas-adat mereka. Negara berjalan sesuai dengan konstruksi sosialnya hingga Sokrates datang membawa kesadaran akan hak individu. Dalam ruang transendental historis, kita telah memiliki harmoni individu, tetapi harmonisme Yunani sudah lenyap (Singer, 1983, p. 106). Contoh lain: Eropa pra perang dunia pertama di penuhi oleh sistem monarki, namun perang dunia I dan II membentuk sistem negara adalah konstitusi yang lebih demokratis—tidak semuanya. Lantas, coba bayangkan suatu masyarakat mapan, tanpa adanya antitesis, tanpa adanya kegelapan, tanpa adanya ketiadaan, apa yang mereka lakukan? Diam. Saya ingin mengutip perkataan Salim Said,

“[…] Taiwan takut karena China, Korea Selatan takut dengan Korea Utara […] Singapura takut karena dia adalah mayoritas orang Tionghoa di tengah lautan Melayu, Israel takut karena dia di tengah lautan Arab. Kalau dia ngga hebat, ya dikremus (dikunyah)”

Apa yang dikatakan Salim Said, adalah bagian dari dialektika sejarah. Dialektika Hegel tidak menawarkan sebuah sistem metodologis sebagaimana Kant dengan a priori-kategori kantiannya yang sistemis, bahwa bola A bergerak karena B, atau A ditabrakkan dengan B maka menghasilkan C. Namun, Hegel mencoba menjelaskan secara metafisis gerak menanjak (ascendant) untuk sejarah. Menurutnya, sejarah kita adalah sejarah roh yang berekspansi menuju kemajuan.”

Immoralitasnya di mana? Kita gunakan logika Hegel untuk manusia, dengan premis, “sejarah kita adalah sejarah akan roh yang terus berekspansi maju” maka premisnya—sebagai premis minor, bahwa “Manusia perusak”, telah merusak bumi. Jika manusia hadir merusak alam, dan segenap ledakan populasi membuat dunia sekarat, yang artinya berbanding lurus dengan kesekaratan roh—menjadikan sejarah akan berhenti—Maka konklusinya, “Manusia perlu untuk dibatasi” Sintesisnya adalah: kontrol atas manusia, entah sebenarnya nanti IPTEK, bahkan putusan semacam Thanos (menghapus segenap manusia agar tidak terjadi lonjakan populasi ekstrem dengan membunuh 8,1 milyar penduduk). Demikian juga dengan yang terjadi oleh rusa, oleh Yunani, oleh keluarga monarki.

Namun pertanyaannya, apakah konflik-kontradiktif-dialektis tersebut dapat dihindari? Jawabannya adalah tidak mungkin. Pada taraf praxis, sebenarnya gerak menjadi (becoming) ini terus berjalan tanpa henti, dan jalannya alan terus menanjak menuju kesadaran total, kesadaran absolut. Seluruh gerak sejarah kita: peperangan era pra-Yunani, perang tribalis, perang dunia, konflik dalam taraf paling private sekali pun adalah bagian dari apa yang terniscayakan, ia adalah inevitable, yang mustahil dihindari. Bahkan, kematian 2 anak SD karena bunuh diri, atau kematian Afan Kurniawan adalah bagian sejarah untuk menuju masyarakat menanjak: berbenah birokrasi, transparansi hukum, dll adalah konsekuensi yang bisa lahir, sebagaimana bom di Hiroshima melahirkan pembatasan penggunaan bom atom. Sebagaimana yang terjadi di Yellowstone, serigala-serigala yang memakan kawanan rusa dan mendorongnya berkelompok di hutan, membuat ekosistem kembali berjalan dengan semestinya. Semua yang saya contohkan, adalah apa yang disebut dengan wirklich, karena seluruh gerak itu, adalah gerak berharga demi ekspansi maju sang Roh Absolut.

Was mich nicht umbringht, macht mich stärker” (sesuatu yang tak membunuhku, maka membuatku kuat) —Nietzsche

Tentang Sumber

Singer, P. (1983). Hegel: A Very Short Introduction. Oxford University Press.

Hegel, G. W. F. (1991). Elements of the Philosophy of Right. Cambridge University Press.

Hegel, G. W. F. (2010). The Science of Logic. Cambridge University Press.

Hegel, G. W. F. (2010). Encyclopedia of the Philosophical Sciences in Basic Outline: Part 1, Science of logic. Cambridge University Press.

 

 



[1] Hegel menggunakan istilah yang berbeda. Dalam Ensiklopedia Filsafat Ilmu Pengetahuan, ia menggunakan istilah metodis, abstrak-dialektika-spekulatif (Hegel, 2010, p. 123). Sementara, dalam Ilmu tentang Logika, ia menjelaskannya dengan istilah pure being, ada-ketiadaan-menjadi (Hegel, 2010, p. 45).

[2] Makhlūq di sini merujuk pada ism maf‘ūl sebagai kata benda yang memiliki arti apa yang diciptakan (khlq) oleh pencipta (khāliq).

[3] Artinya, “Aku adalah khazanah tersembunyi. Aku ingin dikenali, maka aku menciptakan makhlūq. Karena aku-lah mereka mengenali-Ku”

[4] Tuhan menempati ke dalam 3 martabat: pertama aḥādiyah, ketika Tuhan apa adanya, tidak dikenali, tidak diketahui. Kedua waḥidiyah, ketika Tuhan ingin mengenali diri-Nya sendiri melalui penciptaan dan menjelma ke dalam asma’ wa al-shifat. Di sinilah kita mengenal Tuhan melalui pengetahuan—Qur’an. Ketiga adalah tajalli syuhūdī, ketika Tuhan menjelma ke dalam bentuk-bentuk fisik. Pada level ini, sebenarnya ini merujuk pada konsekuensi materialisme emanasi Ibn Arabi, bahwa segala sesuatu berasal dari unsur Tuhan, maka setiap bagian dalam ciptaan terdapat Tuhan di sana.

[5] Sensasi (sensation) di sini merujuk pada kata dalam bahasa Yunani, yang berarti persepsi indrawi. Secara sederhana adalah aktivitas mengalami kita atau dalam kata lain adalah penangkapan kita akan suatu objek-tampak, yakni suatu objek di depan kita yang dapat diraba oleh pancaindra.

[6] Saya harus memisahkan dua bentuk kategori yang saya tulis: kategori Rylean dan kategori Kantian; kategoti Rylean sebenarnya hanya merujuk pada makna yang telah kita kenal, yakni pemisahan secara kelompok berdasarkan kategori tertentu. Sementara kategori Kantian merujuk pada sistem verstand Kant menegnai 12 kategorinya, di mana kita telah memiliki segenap hukum bawaan akal. Inilah yang menyebabkan mengapa kita mampu memahami: benda dalam bentuk kesatuan, menyebut bola sebagai bola, apel sebagai apel, bahwa mesin sebagai mesin yang begitu memiliki detail rumit, termasuk pemahaman kita atas sebab-akibat.

[7] Saya ingin mengajukan pertanyaan, “jika benda-apa-adanya adalah sebatas konstruksi indrawi personal, bukankah artinya setiap orang akan melihat benda yang berbeda pada benda yang sama?” Tentu tidak mungkin. Inilah yang dicari oleh Berkeley dkk. Menurut Berkeley, materi memiliki bentuk ‘ada’ sebagai gagasan. Menurutnya, adanya suatu benda adalah karena sensasi,[7] artinya, benda yang disensasi akan lenyap saat indra kita tidak menangkap benda tersebut. Tentu ini akan tidak masuk akal karena benda seakan independen. Oleh karenanya, Berkeley mengatasinya dengan Tuhan, bahwa benda ada karena kita mengandaikan Tuhan lah yang terus mengalami sensasi atas suatu benda dan memungkinkan materi tersebut terus ada dan dapat independen; Leibniz memulai dengan sebuah bayangan absurd mengenai roh-roh kecil. Menurutnya, materi memiliki dasar penyusunan, dan dasar ini tidak boleh sesuatu yang dapat diukur, maka ia mengandaikan roh yang tidak bisa diukur. Sementara Platon mengandaikan apa yang a priori adalah hasil pengalaman kita di alam ideal.

Menarik untuk membicarakan Platon yang sama memahami idealisme semacam Hegel. Platon memahami, bahwa pemahaman kita (verstand) akan segala hal dalam realitas adalah bagian dari anamnesis (pengingatan kembali). Ia menganggap, realitas akan yang das Ding an sich ada di luar sana sebagai konsep sempurna atas seluruh pengalaman kita di dunia, sebagaimana kita tahu bola adalah bola, segitiga adalah segitiga, segala hukum akal kategori kantian adalah upaya kita mengingat kembali. Apa yang kita ingat itulah yang membuat kita memiliki a priori akan sesuatu. Mengingat a priori, Kant mengajukan apa yang disebut a priori adalah daya berpikir, bukan benda, karena kebendaan yang das Ding an sich mustahil untuk diketahui, karena akal manusia hanya terkondisikan untuk segala yang terkondisi—karena sensibilitas kita hanya menangkap apa yang terkondisi yakni yang ada dalam ruang-waktu.

Descartes cukup menarik dan cukup membuat kita berputar. Dalam Discourse on the Methode, ia secara eksplosit menyebutkan bahwa semua pengalaman indrawi dapat dan perlu diragukan, bahkan sebuah perhitungan geometris sekalipun. Kita ajukan pernyataannya ke dalam pertanyaan retoris, “bagaimana bisa kita memastikan akan pengalaman sensasi (aisthesis) kita akan sesuatu jika pengalaman ini memiliki kualitas yang sama dengan bagaimana kita mengalami ‘seakan-sensasi’ di alam mimpi?” Apakah sekarang mimpi? Keraguan ini meniscayakan satu hal, bahwa kita ragu: ragu kita hanya sesang mengalami mimpi, kita tagu seluruh pengalaman indrawi sangat menipu, tetapi kenyataan “meragu” (dubitans) inilah yang tidak dapat disangkal. Di satu sisi, apa uang disebut benar menurutnya adalah ketika sesuatu dapat dipastikan dengan jelas, maka kepastian yang tidak dapat disangkal adalah kita meragu. Dari sinilah “cogito ergo sum” itu muncul, karena bagaimana bisa kita meragu tetapi kita tidak ada?

Russell menangi semua permasalahan mengenai bentuk materi. Ia sepakat, bahwa ada suatu yang universal di baliknya, tapi dia sendiri juga ragu. Namun, sensasi kita atas suatu data-indrawi benda, meniscayakan ketidakmunhkinan kita tidak memungkinkan bahwa bentuk ada tidak ada. Ia menawarkan simplicity-nya, bahwa kenyataan benda dapat diraba, dan dipastikan posisinya, maka dapat dipastikan benda dengan kebendaannya pun turut dengannya.

 

[8] Predikat di sini maksudnya adalah atribut, bukan sebuah fungsi dalam aturan gramatikal. Predikat di sini akan menunjukkan kebendaan suatu benda. Dalam kasus kan, kata ‘ada’ dalam proposisi bahwa “Tuhan ada” adalah tidak jelas. Kata ada di sana tidak menunjukkan sifat atribut yang disebut predikat mengenai Tuhan. Sebagaimana saat menyatakan “Niam” ada. Ada tidak memberi informasi tambahan untuk memvalidasi, menguatkan akan eksistensi Niam. Namun, konsepsi anstrak ada inilah yang dimaksudkan oleh Hegel.

Komentar