Higeinitas Mental: Urgensi sebuah Filsafat
Oleh: Muhammad Fathun Niam
Terdapat
term dari bahasa Latin yang menempel kepada tubuh René Descartes melalui
ungkapannya, “dubitans [...] ergo cogito, ergo sum” (aku meragu [...]
maka aku berpikir,—maka dengan demikian—maka aku ada—sebagai subjek
yang berpikir).
“Ada”
di sana bukan hanya “das Sein” (berada-di-sana) untuk menujukan
kategori[1]
kebendaan yang ada dalam dunia di suatu tempat, karena ‘ada’ di sini adalah
kesadaran dari rangkaian keraguan yang ditulis oleh Descartes sendiri (dubito).
René
Descartes telah mengatakan bahwa ‘aku’ adalah ‘res cogitans’ (subjek yang
berpikir—thinking thing). Dalam Discourse on the Method dan Meditation
on First Philosophy, Descartes melihat indra sering kali menipu, sementara kesadaran
akan suatu benda di luar kita tidak dapat dipastikan. Kenapa? Seperti
kalimatnya, karena “pengalaman ‘yang-seakan’ sensation serupa—mengalami,
yakni menangkap kebendaan benda dengan indra—dapat dialami dalam alam mimpi”. Maksudnya,
sensasi penangkapan atas objek yang kita rasakan saat terjaga, seperti
memegang, melihat seseorang, melihat daun, memiliki kualitas yang sama saat
kita bermimpi. Lantas pertanyaan lain, “apa yang disebut kepastian?” Di sinilah
keraguan tersebut muncul. Keraguan inilah yang memaksa manusia untuk berpikir (cogito), dan berpikir inilah yang
menjadi pokok masalah tulisan ini. Di bawah, kita akan membicarakan masalah
berpikir yang terkadang kita terpeleset dalam ilusi transendental—yang melampaui fisik yakni akal di mana kita
terkadang merasa— ‘seakan-benar’. Maka pertanyaannya, “apakah (demikian itu)
benar?”
Sebelum
lebih jauh, mari kita ajukan pertanyaan sederhana, “apakah filsafat penting?”
Jawaban sederhananya pula adalah, iya, penting. Filsafatlah yang memberikan
perhatian kepada tuntunan cara berpikir dengan benar. Kebenaran di sana
sebenarnya bukan problem, karena problem itu adalah cara berpikir
itu sendiri. Jawaban tersebut juga akan melahirkan pertanyaan lain, “bukankah
kita sudah bisa berpikir tanpa filsafat?” Dan tentu sekali lagi, kita bisa
berpikir tanpa kita mengenal istilah filsafat itu sendiri, bahkan pria 40 tahun
yang tak bersekolah, tak suka membaca, lebih banyak ditipu oleh propaganda dan
wacana-kekuasaan mampu untuk berpikir tanpa mengenal kumpulan suku kata dalam kata filsafat,
karena makan, minum, bahkan memutuskan pulang melalui jalan yang mana adalah bagian
dari proses berpikir. Namun, problem berpikir tidak di sini, melainkan dalam
taraf cogito—bagaimana seharusnya kita berpikir. Terkadang kita merasa
kita telah berpikir dengan benar yang sebenarnya itu adalah ‘seakan-benar’ yang
kita pahami sebagai ‘benar’.
Pagi
ini (11/02/26), saya melihat satu post dari seorang pengguna Instagram @lyafahmi. Dia membagikan keluh
kesahnya mengenai keputusan Ormas Muhammadiyah menyetujui bergabungnya
Indonesia ke dalam Board of Peace. Tulisan ini tidak akan
membahas keputusan itu, tetapi satu perhatian yang sama—antara saya dan dia—yakni
dalam tajuk Suara Muhammadiyah edisi 1-15, dalam judul “Hasrat Berlebih
Mengkritik Keadaan” walaupun dalam ‘perhatian’ yang berbeda. Saya melihat satu
kalimat yang dikutip oleh @lyafahmi, “Muhammadiyah jangan dibawa ke arah
perlawanan terus-menerus dengan pemerintah, termasuk dalam menghadapi
masalah-masalah kebangsaan seperti pengelolahan SDA, proyek-proyek strategis,
dll”, dan dalam kutipan yang lain, “…Ingatlah poin kesembilan Kepribadian
Muhammadiyah, ‘Membantu Pemerintah serta kerja sama dengan golongan lain dalam
memelihara dan membangun negara untuk masyarakat adil dan makmur yang diridai
Allah SWT’.” Maka pertanyaannya, “apa masalahnya?”
Perhatian
saya terarah kepada apa yang disebut sebagai wacana (discourse). Saya
tidak terlalu sepakat dengan “bahasa itu tidak netral” à la
Bourdieuean. Menurut saya, bahasa akan selalu netral (amoral—tanpa nilai).
Muatan nilai masuk seperti dan mungkin juga berbarengan dengan bagaimana
petanda (signifié)
diproduksi atau dalam kasus ini adalah—hanya—difikskan (fixe). Karena
bahasa—dalam ragam bentuknya (sonor atau aksara)—netral, maka makna (sgnifié) dapat dimasukkan: kata “MasyaAllah”
bahkan kalimat takbir (Allah akbar) adalah term liturgina, tetapi,
kata liturginal pada taraf tertentu menjadi penghakiman melalui makna yang
diproduksi seturut dengan konsepsi abstraksi. Penghakiman dan bahasa inilah
yang disebut wacana. Kasus lebih praxis adalah ketika Ulil menyebut
Wahabi (term ideologis), atau agamawan mengucapkan “masyaAllah bener” ketika
jualan. Dari sinilah saya sepakat dengan Bourdieu, bahwa bahasa tidak lagi
netral; saya mungkin memunggungi Foucault—saya tidak sepakat dengan
anti-humanismenya (karena saya belum sampai pada pemahaman untuk melakukan
kontra argumen atas humanitas Foucauldian)—untuk mengatakan bahwa bahasa
diciptakan dalam ruang arbitery-nya selalu netral. Namun ideologisme
telah memaksa kita merampok ‘bahasa’ untuk diperkosa dan memuntahkan maksud
baru.
Dalam
kasus Tajuk Suara Muhammadiyah di atas, wacana tidak tersebar dalam struktur
atomik kata, melainkan sebuah konsepsi abstrak yang sedang dimuat dalam
paragraf besar, tajuk itu sendiri. Pertanyaan materialistiknya adalah, “untuk
apa tulisan ini muncul?” Sementara isu yang berkembang beberapa bulan terakhir
berkaitan dengan proyek berkaitan dengan SDA yang disentil oleh seorang komika
dan isu terakhir adalah kesetujuan Muhammadiyah atas langkah pemerintah
bergabung dengan Board of Peace. “Lantas apa masalahnya
dengan filsafat?” Pertanyaan saya kembalikan kepada pembaca, “apakah kita sadar
tulisan indah itu adalah wacana (discourse)?” Wacana tidak lagi
membicarakan kebenaran, tetapi memahami bagaimana bahasa sebagai alat kekuasaan
untuk melakukan pendisiplinan. Author ingin menegaskan normalisasi atau
banalisasi atas keputusan ormas Muhammadiyah atas keputusan-keputusannya selama
ini, bahwa “Muhammadiyah jangan dibawa ke arah perlawanan terus-menerus dengan
pemerintah”, karena menurut poin kesembilan, Muhammadiyah juga perlu “membantu
pemerintah” untuk menciptakan masyarakat yang adil. Dan masalahnya, jika kita
tidak peka: MBG menggerus dana pendidikan, 29/01/26 seorang anak SD bunuh diri
karena ekonomi, regulasi tambang di Raja Ampat dan yang lain hingga banjir di
Sumatra. Yang menjadi masalah, ketika kita tidak peka dengan bahasa karena
terkadang kita ‘merasa’ suatu pernyataan (verbal maupun verbatim
tekstual) ‘tidak ada yang salah’, yang sebenarnya kita sendiri akan buta
dalam melihat mana kebenaran dan mana yang tipuan, atau bahkan sebuah kesalahan.
Inilah yang saya sebut “seakan-benar”. Bagaimana kita mengatasinya? Yaitu
dengan kembali untuk mengajukan pertanyaan di paragraf ketiga, “apakah kita
butuh belajar berpikir?”.
Namun,
terdapat sebuah masalah dalam ‘berpikir’—mungkin tulisan ini tidak bisa saya
lepaskan dari kepentingan saya sendiri dalam berupaya melakukan supermasi atas
filsafat, walaupun saya hanya rendah ‘diri’ karena tulisan ini nihil memiliki
muatan semacam itu; saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang sama seperti
sebelumnya, “apakah filsafat penting?” Sementara filsafatlah yang mengajarkan
kepada kita cara berpikir; Masalah berpikir tidak sebatas menggunakan fungsi
otak, tapi juga potensi akal (cogito). Tujuannya? Agar kita tahu,
tulisan macam apa yang sedang kita baca sebagaimana di atas. Kita dapat melihat
bagaimana suatu argumen dikonstruksi dan memungkinkan mengajukan pre-conclusion
dalam benak kita sendiri mengenai ‘seperti apa kesimpulan dari argumentasi
tersebut’ dan kita dapat melakukan cek atas suatu conclusion. Meminjam
deduksi silogisme, kita memiliki peta pikiran deduktif, bahwa kita sadar dalam
suatu bacaan memiliki premis A dan premis B mungkin C, D,… (dst), maka kita
dapat mengasumsikan lebih awal dengan memungkinkan kita benar atas kesimpulan (conclusion)
kita sendiri. Maka dengan demikian kita dapat melakukan checking apakah
tulisan itu membawa kepada kesimpulan tersebut atau malah ‘ngaco’? Dalam sebuah
debat mengenai ontologi ketuhanan, mengenai ada dan tidaknya Tuhan, terkadang
terdapat pernyataan, “dunia ini ada membuktikan Tuhan itu ada karena ‘yang-ada’
butuh pengada”. Seseorang yang tidak sampai pada taraf berpikir (cogito)
akan melihat pernyataan tersebut benar yang padahal sebenarnya pernyataan
tersebut hanya ‘seakan benar’ karena jika kita teruskan, “apakah artinya Tuhan butuh
pengada?” Yang di mana demikian ini akan diputus—bukan ini yang kita bahas tapi
pada taraf “pernyataan yang kita anggap benar” itulah yang jadi masalah sentral
tulisan ini. Kita butuh kembali belajar untuk berpikir, sementara hanya
filsafatlah yang memegang panduan tersebut.
Tulisan
ini akan membicarakan mengenai berpikir benar. Kebenaran dalam berpikir di sini
bukanlah kebenaran dari wacana-kekuasaan, di mana kita sedang membicarakan sebuah
kontrak sosial dalam menyoal kebenaran, yakni sesuatu yang dikatakan benar atau
dalam istilah lain sebagai yang-doxic, atau yang sebenarnya hanya
yang-seakan-benar, melainkan sebuah cara berpikir menurut aturan logis yang
menuntun kita untuk dapat membuat kesimpulan yakni sebuah argumentasi, bukan
sebagai sebuah retorika untuk memenangkan debat, tetapi argumentasi yang tepat.
Di sisi lain, membantu kita untuk membaca teks wacana, bukan untuk
mengikutinya, tetapi untuk membongkarnya dan mengetahui betapa konyolnya suatu
argumentasi wacana yang ‘sycophantic’ (penjilat) yang bertujuan untuk
mendisiplinkan. Karena masalahnya adalah, ada kecenderungan bagaimana kita
sendiri menerima suatu pernyataan. Misal adalah kasus tajuk Suara Muhammadiyah
di atas atau pernyataan profesor yang juga menduduki dewan pakar BGN dan
menerima argumentasi semacam itu atas dasar validitas figural mereka., Dalam
beberapa kasus, suatu tulisan tidak dapat dikatakan benar hanya karena dia
ditulis oleh ethos. Karena setiap ethos punya kepentingannya
sendiri, seperti seorang guru besar yang dipilih pemerintah maupun agamawan
yang dipilih kapitalis.
A.
Masalah
tentang Ada: Tentang Penampakan dan Kebenaran
Sebelum
membincangkan perihal ‘ada’, saya ingin kembali ke ungkapan terkenal dari René
Descartes kembali,
bahwa ‘ada’ itu menjadi kan subjek mengada karena dia melakukan sebuah proses berpikir
yang datang dari keraguan (dubito). Lantas, mengapa ragu? Sebagaimana
yang saya singgung di atas, Descartes berangkat dari keraguan atas indra yang
menangkap penampakan-indrawi, bahkan perhitungan geometris sekalipun.
Masalah lain, sensasi—pengalaman aithesis—menurutnya juga meragukan,
mengapa? Karena dalam mimpi sekalipun kita mampu mengalami ‘yang-seakan’
sensasi suatu penampakan indrawi, maka mana yang benar? Di sinilah keraguan
atas yang ada muncul. Mengapa muncul? Karena menurut Descartes, bahwa ‘yang-benar’
adalah penangkapan atas sesuatu yang begitu pasti, dan begitu jelas. Sementara,
kita tidak mampu menghindari kesalahan penangkapan suatu objek dalam proses
sensasi, dan degan kenyataan filosofis kita juga mengalami mimpi. Maksudnya,
dalam penangkapan pemahaman—proses pengetahuan—kita masih ragu atas apa yang
ada di depan kita. Namun, dari keraguan inilah, kenyataan bahwa subjek berpikir
(res cogitans) sedang berpikir, karena untuk mengalami dan berpikir
subjek berpikir harus dan harus ada, maka, yang tidak dapat diragukan
kepastiannya adalah ‘aku’ sebagai subjek berpikir (res cogitans).[2] Mengapa?
Tentu sederhana, bagaimana bisa kita sebagai subjek yang berpikir tapi kita
ilusi? Kita, kata Descartes, “bisa membayangkan benda tak ada dalam ruang
waktu, lenyap. Namun, kita tak bisa membayangkan kita tidak ada”, karena
kita sedang berpikir dalam suatu kerja yang disebut ‘membayangkan’ (imagine).
Maka inilah yang mempertegas bahwa saya adalah suatu substansi, karena dengan
berpikir saya yakin saya ada bahkan, melampaui keyakinan saya atas benda.
Mari
kita mulai dengan sebuah uraian menarik dari Betrand Russell saat membuka masalah
dalam The Problems of Philosophy, mengenai warna dan sebuah meja, begitu
juga dengan meja yang berwarna; ketika seseorang mengatakan “meja tersebut berwarna
merah”, apakah warna itu benar warna merah? Atau dengan ilustrasi lain, sebuah
bola berwarna kuning tergeletak di carpot
yang beratap kanopi berwarna hijau. Saat indra menangkap cahaya benda,
informasi itu menyimpulkan bahwa benda tersebut berwarna kuning. Apakah artinya
benda ‘pasti’ berwarna kuning? Tapi kenyataan, saat bola itu dicek, bola tersebut
berwarna merah.
Kita
perluas masalah sepele ini dengan masalah sepele lain yang menimbulkan masalah
beruntun dalam filsafat hingga Russell selesai dengan Occam-nya—saya
akan coba jelaskan bagian ini di bab berikutnya. Ibu saya senang menonton seri
Harry Potter, dan mau tak mau saya akhirnya tertarik menontonnya. Di sana, saya
melihat wujud dementor. Dalam pengalaman lain, saya melihat banyak ilustrasi
mengenai malaikat berjubah. Di sinilah, bentuk-bentuk sederhana bisa saya
asumsikan antropomorfik. Tahun 2023, saya duduk di ruang tunggu bandara. Ada
sebuah stall pakaian yang tutup, dan di depan berdiri kain putih
berdiri, berbentuk seperti orang yang dililit dengan kain itu. Saya berpikir,
itu ilustrasi malaikat terbaik, malaikat tanpa sayap. Bukan perihal ilustrasi,
tetapi bagaimana jika kita melakukan validasi, “apakah itu bentuk manusia?
Apakah itu artinya manusia? Apakah itu juga malaikat?” Sebenarnya pertanyaan
ini seakan tak perlu dijawab, karena orang bodoh mana yang mengira mannequin
adalah manusia? Namun, ini penyakit kita. Dan saat ada orang yang membukanya,
itu bukan mannequin, tentu bukan manusia, tapi sebuah hiasan lampu yang
dililit kain penutup. Masalah lain juga muncul saat seseorang menggendong sesuatu
yang dianggap mayat. Apakah itu mayat? Saat dibuka itu hanyalah seekor biawak
yang dia gendong dengan cara ditutupi karung goni agar tidak membahayakan orang
atau menakut-nakuti orang lain.
Dalam
pengalaman lain. Rumah saya memiliki gerbang. Saat gerbang dibuka, menimbulkan
suara besar di sana, mirip deru pesawat yang sampai ke telinga saya; suatu hari
saya diberitahu ayah saya bahwa siang hari nanti akan ada tukang yang
membereskan kamar, jadi saya harus berjaga. Karena saya di lantai dua, dan
rumah tidak menggunakan bel, saya hanya mengandalkan suara gerbang; saat saya
menunggu, ada suara gerbang terbuka, namun suara itu panjang. Dan saat saya cek
keluar, itu hanya suara deru pesawat; demikian juga dengan masalah yang
diajukan Betrand Russell mengenai warna meja. “Apakah meja itu benar berwarna
merah?” Karena jika meja itu diletakkan di ruang dengan temperatur warna yang
hangat atau dingin, warna merah itu akan pudar bahkan menjadi gelap atau
seperti dalam situasi yang dialami oleh bola uang saya sebutkan, meja merah
terletak dalam ruangan dengan warna lampu hijau, atau bahkan warna merah yang
sama dengan warna merah meja, meja itu akan kabur, hilang atau malah berubah
warna menjadi kuning. Demikian inilah yang membuktikan bagaimana pengalaman
indrawi adalah ilusi yang memerlukan validasi. Inilah yang dimaksud Descartes,
bahwa karena penangkapan indrawi itu meragukan, maka perlu untuk melakukan
verifikasi atas fenomena indrawi. Maka dengan demikian, secara filosofis seseorang
dikatakan ‘ada’.
Al-Ghazali
dalam Al-Munqiż min Aḍ-Ḍalāl menyebut masalah indrawi (al-hiss)
yang sama. Ia menjelaskan, indra kita memang menangkap bayangan tersebut diam,
tetapi sebenarnya bayangan yang dihasilkan dari cahaya matahari bergerak
sedikit demi sedikit seturut dengan
geraknya matahari—sebagai sumber cahaya. Demikian juga dengan bintang, saat
kita melihat matahari, kita melihat sebuah lingkaran seukuran koin—atau dalam
kasus bintang lain, kita juga melihat bintang-bintang ‘kecil’ berkelip,
memancarkan cahaya, yang sebenarnya adalah bola super raksasa yang ada di luar
angkasa. Demikian juga dengan masalah cahaya bintang yang berkelip. Jika kita
melihat ledakan bintang hari ini (tahun 2026), apakah ledakan bintang itu terjadi
saat yang sama dengan saat mata kita menangkap cahaya untuk melihat ledakan
tersebut yang padahal bisa saja terjadi puluhan tahun yang lalu. Maka dengan
demikian, jika penampakan indrawi saja menjadi masalah mengenai ‘yang-ada’, apa
yang disebut ada? Apakah ‘yang-ada’ itu ada? Atau meminjam struktur sintaksis
Russell, “jika yang disebut ‘ada’ itu ada—jika memang ada—maka—objek
seperti apakah ia?”
Saya
akan menggunakan Russell untuk mencoba menjelaskan mengenai konsepsi ada; Russell
sendiri menjelaskan dalam The Problems, mengenai Berkeley dan Liebniz dalam
upaya mereka mencoba memberikan definisi dan memosisikan mengenai ada. Baik
Berkeley, Leibniz dan Russell sepakat bahwa apa yang disebut ‘ada’ itu ada.
Maka pernyataan kedua yang diajukan Russell untuk memberikan kategori logis,
mengenai “objek macam apa ia?” Tidak memiliki kesepakatan pasti.
Berkeley
mengajukan bahwa yang disebut ‘ada’ adalah ketika objek ditangkap oleh indra.
Maka, jika kota uji premis Berkeley ini, kita akan menemukan, bahwa suatu objek
dikatakan ‘ada’ ketika indra mengalami penangkapan akan suatu objek, atau dalam
kata lain kita mengalami sensasi—sensation[3]—dan
ini sebagai premis mayor. Artinya, objek ‘yang-ada’ adalah ketika
kita melihatnya, merasakannya dengan penciuman, perabaan, pendengaran. Jika
kita ajukan premis kedua, bahwa saya melihat meja, maka demikian dapat
disimpulkan meja memang ada. Apakah Anda dapat membayangkan masalah silogistik
di sini? Tentu, Berkeley akan menyatakan objek ada hanya dan hanya jika objek
ditangkap oleh indra. Maka jika indra tidak menangkapnya, saat sang pengamat
keluar ruangan atau menutup mata—indranya—maka objek menjadi tidak ada. Tentu
di sini akan memunculkan pertanyaan, “artinya meja itu—saya pinjam istilah
dalam tradisi Islam—mumkin al-wujud” yang disebut secara paradoksal ada
dan kadang tidak? Di sinilah Berkeley menawarkan konsepsi ide Tuhan. Tuhan
adalah bentuk konsistensi. Konsistensi teratur inilah, yang dapat menjaga
“keberadaan” dari ada suatu hal. Memang, indra kita tidak lagi mengalami
sensasi atau penangkapan akan suatu objek saat kita pergi, tetapi karena di
sana ada Tuhan yang tetap mengalami sensasi, maka objek tetap ada karena ia ada
dalam penangkapan indrawi Tuhan. Inilah yang dimaksud ‘Esse est percipi’,
bahwa ‘ada’ adalah yang terpersepsikan. Dalam kata lain, sebagaimana yang
diuraikan Russell, bahwa yang disebut dengan ‘ada-materiil’ tidak lain adalah
sekumpulan gagasan sebagaimana juga yang dimaksud oleh Leibniz mengenai tampak-materi
adalah kumpulan dari banyak atau sedikit pikiran.
Melihat
tawaran Berkeley, kita mungkin mengingat nama Platon dengan idea-nya. Dalam The
Republic, mengenai analogi gua, Platon menjelaskan bahwa realitas
sebenarnya adalah realitas-murni yang demikian itu hanyalah bayangan-bayangan
dari ide.[4] Platon
menjelaskannya melalui sebuah dialog antara tokoh Sokrates dengan
Glaukon—mengenai historisitas dua figur ini saya tangguhkan, oleh sebab itu
izinkan saya menjaga jarak dengan nama Sokratas sebagai tokoh dalam cerita
Republik. Socrates menjelaskan mengenai tiga orang yang dikurung dalam gua.
Selama ini, tiga orang tersebut—tahanan—hanya melihat ke arah dinding yang
memproyeksikan bayangan-bayangan. Mereka selama ini tidak melihat bentuk
detail, mereka hanya melihat sebuah bentuk kabur, yakni bayangan-bayangan
tersebut. Hingga, ketika seseorang di antara mereka dapat melepaskan diri, ia
lari keluar gua dan mendapati cahaya matahari yang begitu menyakiti mata. Di
sini, Platon menggambarkan, realitas yang ditangkap oleh indra—yakni adalah
bentuk realitas-indrawi—adalah ilusi-anamnesis. Anamnesis adalah pengingatan
kembali, jadi maksud saya, realitas-indrawi, menurut Platon adalah sebuah gerak
anamnesis (pengingatan kembali) atas idea-idea dalam realitas-mutlak. Maksudnya
begini, bentuk-bentuk bayangan itu adalah bentuk anamnesis yang kabur, yang
tidak detail, karena dia hanya sebuah shape hitam. Dari sini, seseorang
hanya mengingat ide mengenai sesuatu dari realitas. Jika sesuatu digambarkan,
maka kita tidak mampu menggambarnya dengan tepat. Misalkan saja sebuah segitiga.
Segitiga sempurna ada dalam dunia idea sebagai realitas-mutlak. Namun, yang
menjadi menarik sebenarnya letak dari idea sebagai realitas-mutlak. Jika
Berkeley menawarkan bahwa ‘ada’ itu ada ketika dia dialami, artinya suatu yang
disebut ada itu teraih oleh pancaindra, dan menawarkan Tuhan untuk mengangkat
objek yang materi sebagai suatu hal yang ada dalam benak, di mana ‘ke-ada-an’
objek tersebut diadakan dengan mengasumsikan ada Tuhan yang terus mengalami,
mengawasi objek dengan indra-Nya, maka Platon menyatakan bahwa ide telah ada
dalam alam idea. Maka, saya perlu pertanyaan untuk melanjutkan diskusi kita,
yakni, “dari mana datangnya pengetahuan?”
Kita
misalkan kembali mengenai segitiga sempurna. Yang menjadi pertanyaan lain
darinya adalah, “kenapa kita dapat mengetahui dan memahami konsep segitiga?
Demikian juga kita memahami mengenai kursi?” Saya akan membawa dalam ruang
lebih praxis, kita, saya, pernah dan mungkin pernah mengalami suatu
momen di mana kita memahami suatu hal, atau benda, atau bahkan suatu fungsi
akan sesuatu itu instingtif. Misal saya pernah menggunakan Adobe After Effect
atau bahkan Unrel Engine. Pengetahuan saya atas beberapa fungsi,
yang tidak saya dapatkan dari penjelasan adalah bentuk pengingatan kembali. Artinya,
kita menemukan langkah kita sendiri. Dalam hal itulah, saat kita disodorkan
suatu benda, pemahaman kita secara natural suatu benda tersebut—misal sebuah
bentuk segitiga—atau suatu fungsi adalah apa yang disebut sebagai anamnesis,
yakni pengingatan kembali, yang demikian itu yang menyebabkan mengapa kita bisa
mengetahui dan memahami bahwa benda X adalah segitiga. Platon, memahami
bahwa kita telah dan pernah mengalami—maksud mengalami di sini saya kembalikan
kepada Russell dengan sensasinya, yakni maksudnya adalah momen ketika kita
menangkap suatu objek dengan indra dan akal kita—akan suatu objek dalam dunia
sebelumnya, yakni dunia idea. Idea Platon ada di luar pengetahuan
realitas-indrawi kita. Maka, pemahaman kita akan sesuatu sebenarnya adalah
bentuk pengingatan kita, walaupun tidak sempurna, karena ingatan yang sampai ketika
terlalu kabur—yakni dalam bentuk bayangan-bayangan. Idea inilah yang nanti
disebut oleh Kant sebagai verstand dan vernunft dalam artian
struktur logis.[5]
Lantas,
apa itu ada? Yang mana ada? Apakah aku yang subjektif? Ataukah apa yang teraba
oleh pancaindra? Di sini Leibniz mendasarkan apa yang disebut ada-materiil
sebagai sesuatu yang majemuk. Ia berangkat dari, bahwa apa yang disebut dengan
materi yang dapat disensasi adalah sesuatu yang dapat dibagi, artinya sesuatu
yang tidak terbagi adalah non-materi. Dari sini, karena sesuatu dikatakan
majemuk ketika sesuatu disusun oleh sesuatu-sesuatu penyusun yang sederhana,
berupa non-materi. Namun yang menjadi masalah adalah prinsip suatu dikatakan
materi: adalah dia memiliki ukuran, dengan demikian dia masih dapat dibagi.
Artinya, penyusun suatu materi yang sederhana haruslah sesuatu yang tidak
memiliki ukuran dan tidak terbagi. Di sini Leibniz menawarkan monad,
yakni sekumpulan roh; kritik Russell bertumpu pada konsepsi fantasi monad-monad
ini yang tidak dapat diverifikasi. Kenapa roh-roh ini memiliki kesadaran rabun
yang tak saling berinteraksi? Sementara, reaksi yang dihasilkan dari interaksi
antar materi ada? Masalahnya, Leibniz kembali mendasarkannya kepada Tuhan,
sesuatu yang telah mengatur segalanya. Demikian itu terlalu rumit.
Berkeley dengan para idealis dan Leibniz
memosisikan materi—sebagai objek-indrawi—sebagai yang-dependen. Keberadaan
materi selalu terikat, tergantung oleh persepsi: Berkeley dengan persepsi Tuhan
yang sedang mengalami sensasi ataus suatu objek-materiil dan menjaganya tetap
materi, dan Leibniz dengan asumsi monad-monad-nya. Materi, artinya menjadi
ketiadaan ketika tidak ada sensasi—yaitu pengalaman yang sedang mengindra tadi.
Demikian dengan Platon. Ia meniadakan materi. Menurutnya, materi bukanlah yang
ada, materi inilah yang mengalami perubahan-perubahan semacam asas Herakleitos,
bahwa sesuatu perubah, seperti kauu menjadi abu saat terbakar. Sementara, yang
ada sempurna, tanpa perubahan ada lah apa yang ada dalam dunia idea. Yang
menjadi masalah di sini, apakah kemudian kita menafikkan dunia fisik depan
kita? Descartes mengandaikan yang ada hanyalah ‘aku’ sebagai subjek yang
berpikir—res cogitans. Menurutnya, dunia luar dari diri kita perlu
diragukan, bahkan perhitungan geometris sekalipun. Bisa jadi, ketika sang
aku—sebagai res cohitans—melihat dalam artian sensasi akan suatu
objek-tampak atau seseorang yang memiliki kesadaran, maka bisa jadi penampakan
itu ilusif, bisa jadi bentukmu, bahkan adamu secara fenomenon yang phanesthai
(menampakkan diri) hanyalah proyeksi akal yang tidak nyata. Keraguan-keraguan
ini membuktikan satu hal, bahwa hanya subjek yang berpikirlah yang tidak dapat
diragukan. Dubitans, yakni ‘meragu’ dan cogitans, yakni berpikir
adalah aktifitas yang tak memungkinkan kita tidak ada. Aktivitas inilah yang
satu-satunya disadari oleh subjek tersebut, yakni aku. Maka, apakah kemudian
suatu objek tampak tidak bisa dikatakan ada hanya karena kita ragu ini benar
atau tidak? Di sinilah kritik Russell. Mengandaikan
materi-materi sebagai sekumpulan jiwa-jiwa yang punya kesadaran tipis tetapi
tak saling berinteraksi sangat sulit dibayangkan, atau yang disebut dengan
materi-materi tersebut adalah sesuatu yang berkedip: saat indra tidak mengalami
sensasi, maka benda itu melayang dan akan muncul kembali saat indra mengalami
sensasi. Menurut Russell ini absurd.
Dari
sini, pertanyaannya menjadi bercabang. Apakah ‘ada’ dengan objek-tampak itu
sama? Objek-tampak yang saya maksud adalah phenomenon, yakni segala hal
yang dapat diraba oleh sensibilitas (sinnlichkeit) pancaindra, di mana
segala sesuatu ini selalu terkondisi dalam ruang dan waktu yang ber-phanesthei,
menampakkan diri kepada kita. Russell akan menyebutnya data-indrawi.[6] Saya
akan bergantia menyebutnya sebagai objek-tampak, data-indrawi. Sementara bagaimana
dengan ada? Ada inilah yang dibicarakan oleh Berkeley sebagai gagasan Tuhan
yang berbentuk ide, oleh Platon disebut idea, dan oleh Leibniz adalah jiwa-jiwa
kecil; Russell di sini sepakat mengenai adanya universalitas, dan sepakat akan
sesuatu di balik penampakan dari objek-indrawi. Kenapa? Karena kita membutuhkan
bentuk ide yang sama. Masalahnya adalah apa yang saya singgung, yakni
materinya. Materi jika dia dependen itu sangat absurd. Maka Russell menawarkan
jika materi akan selalu independen. Materi terlepas dari persepsi manusia.
Adanya materi dalam ada-di-sana, tidak mengikuti sensasi seperti anggapan
Berkeley. Meja, akan tetap di sana bahkan saat indra tidak menangkapnya. Apakah
artinya meja hilang? Lenyap? Tidak. Contoh Russell adalah seekor kucing: ketika
kita mengalami sensasi, kucing itu melingkar di atas kasurnya. Namun, saat
pergi, dan kita kembali, kucing ada di atas meja kelaparan. Jika Berkeley
benar, maka kucing itu akan berhenti bergerak, karena keberadaan kucing itu
terikat oleh sensibilitas atau pengalaman sensasional kita. Namun, karena
kucing bergerak, lapar, maka kucing ini akan menjadi contoh sederhana
independensi suatu materi. Kemudian, apa itu ada? Russell tidak berdiri dengan
Kant saat mengandaikan ada sebagai sesuatu di luar dunia yang dapat ditangkap
sensibilitas kita, melainkan sesuatu yang ditangkap oleh sensibilitas kita saat
kita mengalami sensasi. Menurut Russell, pengalaman sensasi kita menangkap data
indrawi adalah merekam bentuk ada dari materi. Apakah kita yakin demikian
adalah demikian? Maksud saya, saat melihat kucing, apakah kucing tersebut
adalah kucing? Menurut Russell, penangkapan akan bentuk kucing dengan segenap
data-indrawinya: berbulu, warna, bola mata, gigi, kuku, ekor secara simplifikasi
menunjukkan ada dari kucing. Namun saya perlu batasi, bahwa Russell
menangguhkannya dalam artian, kita tidak tahu pasti, tapi secara sederhana,
dengan adanya data-indrawi yang kita tangkap, secara masuk akal kita katakan
bahwa ‘sesuatu’ yang kita tangkap ada, yakni ada-di-sana. Apakah kita tahu ada?
Dalam taraf penampakan saat ini adalah iya!
Dalam
ruang Al-Ghazali, keraguan dia atas sensasi objek-indrawi membawa kita pada
sebuah kerja disiplin logika untuk menghindari kesalahan-kesalahan. Al-Munqiż
min Aḍ-Ḍalāl dan termasuk dalam Al-Mi’yar Al-‘Ilm, Al-Ghazali
menunjukkan kesalahan persepsi atas penangkapan indrawi yang membawa pada
keraguannya sendiri dan membawa kita pada apa yang disebut logika berpikir,
yaitu mantiq. Ia menjelaskan, bahwa logika inilah yang mendasari segala ilmu
pengetahuan, maka siapa yang tidak memahaminya, apa yang datang dari dia perlu untuk
diragukan, bahkan Al-Ghazali menegaskan ketidakkredibelannya, bahwa
pengetahuannya tidaklah mendasar—man lā yaḥīṭu bihā falā śiqata lahu bi
‘ulūmihi aşlān. Al-Ghazali menunjukkan urgensi untuk memberikan hadd
dan burhan secara jelas untuk melakukan pembatasan secara definitif
karena vonis, taşdiq sangat bergantung pada taşawwūr (konsepsi)
yang benar. Hadd sebagai batasan-batasan konsepsi taşawwūr
khususnya yang disebut oleh Al-Ghazali sebagai yang maṭlub, sementara burhan
sendiri adalah argumentasi bukti-bukti untuk memberikan vonis taşdiq.
Dalam Al-Mustaşfā, ia menegaskan ketidakmungkinan suatu vonis sebagai
hasil logika silogistik yang mengabaikan taşawwūr. Secara sederhana, untuk mengatakan bahwa racun itu
berbahaya, seseorang harus tahu konsepsi dasar mengenai racun, bukan hanya
secara definitif—terminologis, sebagai penanda (signifiant)—tetapi
memahami konsep dasarnya.
Sebagaimana
di atas, bahwa kegagalan pada taraf taşawwūr secara niscaya akan membuat
cacat dari kerja vonis taşdiq; dalam kasus indra, dalam penangkapan kita
atas bintang, bayangan, yang datang dari kekeliruan atas taşawwūr
(karena kita tidak memiliki maṭlub, dan kita tidak memahami bintang pada
taraf awwalī [aprioristik])
menyebabkan kesalahan mengambil kesimpulan. Kita mengira bintang itu kecil,
kita mengira bayangan itu diam. Padahal, bintang sendiri terlampau besar, dan
bayangan terbentuk disebabkan cahaya yang tidak menyorot bagian tertentu. Maka
seturut gerak cahaya, maka seturut itulah bayangan bergerak. Di sini Al-Ghazali
ingin menegaskan bagaimana ketidaktepatan taşawwūr akan membuat kita
gagal menarik kesimpulan. Sebelum lebih jauh, kita perlu memahami pembagian
yang ada dalam taşawwūr dan taşdiq: yang awwalī
dan yang maṭlub; apa yang dimaksud dengan awwalī adalah
pengetahuan yang a priori. Dalam Al-Mustaşfā, Al-Ghazali memosisikan
yang a priori adalah pengetahuan kita mengenai konsepsi kebendaan (quiditty)
secara natural, yakni “huwa al-lażī lā yuṭlabu bi al-ḥadis, wa huwa al-lażī yartasimu
ma‘nāhu fī al-nafsi min ghairi baḥiś wa ṭalabin”. Pengetahuan atau konsepsi
ini sudah ada dalam benak kita, dan kita telah mengetahuinya secara pasti, misal
adalah aku. Tanpa definisi, kita tahu aku adalah aku. Sementara maṭlub
adalah konsepsi, pengetahuan yang membutuhkan penjelasan, misal adalah kursi,
bolpen, di mana kita memerlukan pengetahuan lain untuk menyusun komponennya
menjadi satu kesatuan.
Saya
akan mencoba jelaskan bagaimana kesalahan taşawwūr dan juga menjadi konfirmasi
bahwa taşdiq tidak mungkin tidak memiliki taşawwūr. Saya akan
mulai dengan sebuah contoh yang sedikit abstrak, mengenai pemahaman, konsep,
kesepakatan; pertama, saya ajukan dulu Saussure mengenai kesepahaman itu
lahir dari kesepakatan kita atas suatu definisi atau dalam kasus Saussure
adalah bahasa (signe) dalam bentuk penggunaan penanda (signifiant)
maupun petandanya (signifié). Menurut Saussure, pemahaman
adalah kesepahaman dari kesepakatan kita atas suatu bahasa. Dari kesepakatan
inilah, bagaimana pengetahuan pra-reflektif kita atau presuposisi kita dilahirkan.
Artinya, saya sedang mendefinisikan, bahwa taşawwūr sendiri adalah hasil
dari pengalaman internalisasi dari sejarah. Maksud saya, pengetahuan
pra-reflektif yang membentuk taşawwūr adalah internalisasi atas sejarah
atau realitas. Kedua, kesalahan taşdiq terjadi karena adanya
kesalahan taşawwūr, bahwa kita tidak sepakat dengan suatu definisi atau
kita salah dalam memahami suatu definisi. Kenapa? Tentu menurur saya
variablenya sangat banyak yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan dari
seseorang.
Kita
misalkan kita sedang ada dalam sebuah forum diskusi mengenai humanisme dan
Foucault. Kita sebenarnya telah memiliki taşawwūr atas dua kata tersebut: pertama, bahwa
kita telah memahami konsepsi humanisme adalah konsepsi antroposentrisme mengenai
ukuran segala sesuatu adalah manusia, dan manusia memiliki esensi kodrati.
Inilah bagaimana seakan manusia dapat menggali esensi asal dirinya yang menjadi
kritik Foucault. Kedua adalah anti-humanitas Foucault. Ia, menolak adanya
pandangan humanistik, bahwa manusia punya bentuk murni. Menurutnya, semua
pengetahuan sendiri adalah wacana. Maka
humanisme sendiri adalah bentuk wacana sebagai upaya disciplinaty-categoryzation,
bahwa kategori adalah upaya pendisiplinan: manusia harus baik, bermoral, maka
jika seseorang berbuat buruk dia bukan manusia. Oleh karenanyalah Foucault
menawarkan kematian manusia dan menawarkan pembentukan diri. Lantas, masalahnya
adalah saya mengajukan premis, “saya mungkin memunggungi Foucault—saya tidak
sepakat dengan anti-humanismenya —untuk mengatakan bahwa bahasa diciptakan
dalam ruang arbitery-nya selalu netral". Saya bisa asumsikan kritik
keras yang akan datang ke saya.
Sebuah
kesalahpahaman—kesalahpahaman itu akan muncul dalam multy-layer. Pertama,
seseorang akan memahami Foucault sebagai anti humanisme, dengan steuktur
berpikir yang sudah saya jelaskan di paragraf sebelumnua. Maka saat saya mengajukan
konsep saya sebagai sikap keberatan saya terhadap Foucault dan Bourdieu,
seseorang tersebut pasti akan menolaknya karena menganggap pengajuan saya salah
karena saya seakan tidak memahami posisi Foucault atau malah mengkritik pemahaman
saya mengenai humansime. Padahal, humanisme yang saya ajukan sendiri sudah saya
lepaskan dari istilah humanisme—human—itu sendiri—sebagai pandangan
antroposentri. Karena saya memosisikan kata tersebut untuk menyebut adanya das
ding an sich atas suatu benda, dan dalam kasus saya adalah bahasa. Dalam
artian lain, suatu benda memiliki esensi—humanisme saya ajukan sebagai
esensialisme yang sebenarnya saya ambil dari definisi Foucault.
Kekeliruan
taşdiq yakni sebuah upaya penyimpulan dari pernyataan sebagai upaya kritik
atas saya, lahir karena adanya ketidaksepakatan atas taşawwūr. Saya
memahami humanisme sebagai esensialisme, sementara audiensi saya memahami
humanisme sebagai antroposentrisme. Kesalahan dalam taşawwūr inilah yang
menyebabkan kesalahan penyimpulan tersebut.
Dalam
perkara lain: seorang anak memiliki pengetahuan mengenai permen, bungkus, gambar
lucu, buah, warna-warni, bahkan dengan font yang candy-ness, dan mungkin
mengetahui perkara brand: Fiesta, sebuah brand nuget. Suatu hari seorang anak datang dengan orang tuanya ke
minimarket melihat bungkus bernama 'FIESTA' terpajang di atas sebuah rak dekat
kasir. Anak itu akan menunjuk barang tersebut dan berkata, “mah aku mau permen
itu.” Kita dapat membesah keslaahan taşdiq si anak karena kesalahan
dalam taşawwūr-nya. Pertama, Pandangan mental anak, di mana
pengetahuan pra-reflektif memahami font, warna, bungkus, dan brand
membuat si anak menyimpulkan produk tersebut sebagai permen. Sementara, orang
tua mungkin memiliki pengetahuan mengenai apa itu Fiesta yang sedang ditunjuk
anak tersebut. Maka, kesimpulan dari kedua belah pihak bahkan dalam vonis hukum
moralitas berbeda. Anal melihatnya sebagai mungkin makanan, sementara tidak
dengan orang tua. Mana yang benar? Jika kita sepakat dengan Fiesta tersebut,
maka yang benar adalah orang tua saat memberikan larangan. Kenapa? Karena si
anak memiliki taşawwūr yang keliru.
Di
atas, sebenarnya pertanyaan saya sendiri berpisat pada pemisahan antara awwalī,
sebagai sebuah definisi yang sudah dipahami secara doxic, apa adanya
dan definisi yang memerlukan penjelasan konsepsional. Namun, saya akan berikan
satu jawaban yang memang sebagai akrobat intelektual mengenai taşawwūr awwalī dan taşawwūr maṭlub. Dalam
menjelaskan kesalahan taşdiq, saya
telah melakukan penolakan atas taşawwūr awwalī , karena bagaimana bisa
kita memahami sesuatu tanpa adanya internalisasi pengetahuan? Artinya,
pengetahuan selalu penjelasan eksternal. Menurut saya definisi atau
pengetahuan—horizont—didapatkan dari internalisasi sejarah—wirkungsgeschichte.
Artinya dunia luarlah yang mengajarkan kita. Itu mengapa saya berpikir, taşawwūr
Ghazalian pasti akan selalu ada dalam ruang maṭlub, tidak ada yang awwalī
. Kenapa? Karena bagaimana kita bisa tahu definisi benar-doxic jika
sebenarnya pengetahuan adalah wacana, konstruksi, sejarah, eksternal yang
mengajarkan kita.
Namun,
bagaimana jika kita meminjam konsepsi ideal Platon di atas? Maksudnya saya
begini, saat diajukan pernyataan bahwa, “Pertama, segitiga sempurna dan
konsepsi sempurna hanya ada dalam alam ideal-realitas, sementara kita yang
berdiri di atas dasar realitas-ilusif tidak akan menemukan kesempurnaan bentuk
segitiga. Kedua, pengetahuan kita atas dasar segitiga untuk memahami dan
mengatakan bentuk tidak sempurna dari segitiga sebagai sebuah segitiga adalah
sebuah anamnesis (pengingatan kembali) atas konsep di alam ideal”, dan dengan
demikianlah mengapa secara taşawwūry kita dapat mengatakan “ya! ini
segitiga” sebelum masuk taşdiq, karena pengetahuan definitif dasariah
soal segitiga itu telah didapatkan dari pengalaman ideal. Inilah mengapa tawaran
atau keraguan saya sendiri mengenai awwalī dan membuat saya memutuskan memberi definisi
atas penolakan konsepsi awwalī dapat dibantah. Demikian ini karena kota telah
mengetahui konsepsi akan sesuatu terlebih dahulu. Inilah mengapa kita dapat
mengatakan “demikian itu ya demikian!”
Lantas,
dari semua itu, apa itu ada? Yang mana dan seperti apa itu ada? Apakah dia
adalah benda tampak? Tapi apakah benda tanpa konsisten? Ketika seseorang
pengidap silinder melihat tepi meja, dia akan mengatakan bahwa meja itu miring.
Apakah artinya realitas meja itu miring? Mengikuti Russell dengan pisau Occam-nya
(Occam’s Razzor), ada adalah sekumpulan data-indrawi suatu objek-indrawi
yang dipastikan dengan pasti dia ada dan ada sesuatu di dalamnya. Kita mungkin
perlu mengingat Gabriel Marcel dengan presence (kehadiran) dan encounter-nya
(perjumpaan),[7]
bahwa kita mengalami sensasi itulah saat sesuatu memang dikatakan ada. Bukan
berarti saya mengikuti Berkeley secara radikal, bahwa sesuatu lenyap karena
kita tidak mengalami sensasi atasnya, melainkan penangguhan atau bentuk
radikalnya adalah ketika kata ‘tidak ada’ benar-benar meyakinkan untuk tidak
bisa disebut. Mengapa? Karena kita tidak mampu menyebut sesuatu tersebut ada
atau tidak. Sesuatu disebut ada ketika sesuatu itu hadir, maka demikian kita
sudah menerima konsepsinya dan kita dapat menyatakan suatu ada atau tidak dalam
suatu posisi di dalam ruang waktu kita. Saya tahu penjelasan saya berputar.
Ambil suatu kasus yang saya alami: tahun 2022 saya duduk di kursi tunggu di
depan kantor dosen. Seorang teman berjalan mendekat dan menanyakan, “Niam, apakah
di dalam ada X?” Saya tidak mengenal X, saya tidak memiliki pengalaman atas
data indrawi X, X tidak hadir dalam pengetahuan saya. Di sana saya tidak bisa
mengatakan, “tidak ada”, karena kata tidak ada harusnya menjadi kata penunjuk
posisi bahwa “X tidak ada di sana.” Di saat itulah saya hanya mengatakan, “aku
tidak tahu.” Dari sinilah saya sadar bahwa ‘tidak ada’ bukan kata penihilan.
Saya pernah ikut sebuah perkuliahan. Dosen mengajukan pertanyaan, “apakah
‘tidak ada’ itu ada atau tidak ada?” Jawabannya, kita pinjam simplicity
Russell, yakni ada sebagai penunjuk posisi. Keberadaan dari ‘tidak ada’
memiliki kualitas yang sama dengan bola yang tidak ada. Dalam kasus saya,
‘tidak ada’ menunjukkan bentuk ketiadaannya, bahwa ‘tidak ada’ itu tidak ada:
saya bahkan tidak bisa menyebut “tidak ada.” Dalam kasus lain, misal saya duduk
dengan teman saya. Saya membeli dua croissant yang saya letakkan di depan saya.
Saay saya beranjak ke kamar mandi, dan kembali melihat roti itu hilang, di
sanalah ‘tidak ada’ itu ada. Demikian ini kita sepakati bahwa ada adalah bentuk
presence (kehadiran) objek-indrawi yang menampakkan diri kepada kita
sehingga kita mampu menangkap data-indrawinya. Presence inilah yang
memberikan kita konsep (taşawwūr) dan mempertegas mengapa taşawwūr
selalu berbentuk maṭlub—karena dia harus diketahui,
bukan secara bawah sadar kita membawa konsep-konsep tersebut. Dentan demikian,
ke-ada-an benda tersebut dapat seharusnya diyakini ada seturut dengan
keberadaan benda tersebut. Anggap saja sensasi adalah cctv rumah kita menangkap
(capture) seekor kucing tidur di atas batu di halaman kita. Penangkapan
cctv itu adalah sensasi kita, dan kucing sebagai ada, sebagai asli-kucing ada
di sana—anggap saja kita bisa memastikannya dengan keluar dan melihatnya,
walaupun pada taraf kita, kita hanya dapat memastikan ‘ada’ dengan data-indrawi,
yakni gejala fenomenologis partikularnya. Seperti kata saya dari penyederhanaan
Russell, bahwa ‘ada’ akan suatu objek-indrawi’ dapat dipastikan ada seturut
dengan data-indrawinya yang kita tangkap.
B.
Kesalahan
Berpikir: Sebuah Masalah Umum yang tidak Diselesaikan dengan Membaca
Dari
sini, saya ingin kembali kepada masalah berpikir; kembali ke pertanyaan awal
dari tulisan ini: “bukankah kita sudah dapat berpikir tanpa belajar cara bagaimana
untuk berpikir?” Jawabannya adalah ‘iya’. Sejatinya manusia telah dan pasti
mampu menggunakan otaknya, sebagaimana pria yang berumur 40 tahun dapat
memahami arah jalan pulang. Orang yang sama, tanpa mengenal filsafat bahkan
sekedar petanda-nya, mampu untuk memberikan argumentasi. Namun, yang menjadi
masalah, apakah lantas dia ‘pasti’ mampu berbicara—dalam taraf ini adalah
berpikir—dengan benar?
Pria
yang sama dapat mengatakan bahwa rokok itu sehat karena ayahnya perokok dan
hidup selama 70 tahun. Atau pria yang sama mengatakan, “ini kuat! Ini metode
sudah saya terapkan 10 tahun!” Di hadapan seorang supervisor bangunan karena si
pria membangun rumah kliennya tanpa kolom. Atau seseorang yang geram karena ada
seorang engineer yang mengkritik kesalahan kerja yang dilakukan tukang
yang menuangkan semen kering dan pasir langsung ke dalam lubang fondasi yang berair
karena hujan, atau saat seseorang membuat video dia menciptakan sengkang balok
(besi yang mengikat tulangan utama) serbaguna untuk kanopi. Video tersebut
mendapat respons dari seorang engineer.
Ia mengatakan jika sengkang harus bekerja maksimal, artinya tidak boleh dimodif
terlebih mengakibatkan beban sengkangnya menjadi berlebih: untuk menjadi
sengkang dan menahan beban kanopi. Namun, video reaksi tersebut mendapatkan
sebuah komentar lain, “ini contoh dari orang yang bisa baca tapi ga bisa
inovasi […] jangan dikit-dikit disalahkan! Terima kreativitas tukang, kemudian
diuji.” Atau terdapat sebuah narasi bagaimana ritual tidak memiliki andil dalam
mitigasi bencana. Narasi itu dilawan dengan narasi, “orang Jepang ngikutin
logika juga sama gak ngilangin bencananya”. Atau, seorang pengusaha sound-system mengritik statement yang menyatakan keberatan
terhadap adanya sound-horeg (baca: sound-getar) yang mengganggu hingga
muncul narasi keharaman sound-horeg. Menurutnya, keputusan memberikan hukum
haram terhadap sound-horeg sebagai bentuk kesenian adalah bentuk penolakan
terhadap kemajuan suatu bangsa. Ia mengatakan, “ [...] terus Indonesia ini
majunya kapan? Tetap membahas halal-haram, nasab, dosa—sementara—orang-orang
luar negeri sudah pintar-pintar: sudah membuat bom atom, pesawat, robot [...]
letak haramnya itu di mana?” Atau seorang pejabat yang dikritik karena
kebijakan pemerintah selama ini buruk dengan, “jadi pemerintah itu capek!”
Pernyataan-pernyataan
tersebut terdengar ‘seakan baik-baik saja’, tetapi si penutur sendiri
sebenarnya telah terjebak dalam kesalahan berpikir, baik in dictione (kesalahan secara sitaksis,
atau aturan kebahasaan), maupun extra-dictionem (kesalahan di luar aturan
kebahasaan: cacat kesimpulan, salah aturan subjek-predikat dalam premis).
Dari
apa yang saya uraikan di atas, kita dapat menakar masalah-masalah umum dalam
berpikir. Artinya, kita dapat mengira kemungkinan kesalahannya: masalah
ambiguitas, masalah kategoris, maupun masalah yang extra-dictionem. Masalahnya
adalah, bagaimana jika kita dihadirkan masalah-masalah extra-dictionem
yang meminjam alur logis silogisme? Artinya, aturan silogismenya benar. Misal,
ada seorang pejabat yang di hadapan publik mengatakan, “ [...] paru-paru dunia
bukan hutan [...] tetapi lautan. Karena—Lautan adalah penghasil oksigen
terbesar pertama di dunia [...] makin tinggi suhunya, es di Kutub mencair, es
di Kutub mencair, lautnya makin lebar, lautnya makin luas, makin banyak
oksigennya.” Masalahnya bukan hanya
dalam kegagalan silogisme, tetapi bagaimana kita, yang jika tidak memiliki concern
pada daya berpikir, akan melihat bagaimana pernyataan tersebut benar, terlebih
jika diuji secara silogistik akan benar. Kita buat premis pertama sebagai
premis umum, bahwa lautan adalah penyumbang pertama oksigen di bumi. Kedua,
premis minor dalam sebuah kasus di mana es mencair dikarenakan efek rumah kaca,
bahwa es mencair, maka volume laut di bumi meningkat. Maka, dengan dua premis
ini, bahwa es mencair, volume air laut naik, maka meningkatkan produksi
oksigen. Dia benar. Namun, dia salah.
Kesalahan
pernyataan penutur adalah, pertama, penghasil oksigen bukanlah lautan,
melainkan alga dan juga fitoplankton. Fitoplankon dan alga menghasilkan oksigen
dari fotosintesis. Masalahnya, fitoplankton hidup di zona fotik—zona permukaan
air yang berkisar 100-200 meter dari permukaan laut—sementara kebutuhan nutrien
mereka banyak ditemui di zona air dalam. Nutrien, butuh sebuah mekanisme
alamiah bernama upwelling, di mana yang dingin di kedalaman akan naik ke
permukaan—karena suhunya lebih hangat. Di saat inilah nutrien bagi fitoplankton
dapat ikut naik. Masalahnya, jika permukaan air meningkat, maka upwelling
tidak mengangkat nutrien, karena yang mengalami upwelling tidak sampai
pada zona di mana nutrien berada. Artinya, jika suhu bumi naik, es mencair dan
mengakibatkan naiknya permukaan air laut, maka reproduksi fitoplankton akan
gagal. Dengan demikian, bumi akan kehilangan produsen oksigennya—juga setelah
keilangan banyak hutan. Artinya, premis pertama gagal, di mana secara taşawwūri
dia salah memberikan asumsi definitif mengenai asal produsen oksigen dari laut.
Kedua, Kegagalan ini adalah kesalahan kategoris, antara lautan, dan
produsen oksigen. Penutur, tidak memiliki taşawwūr mengenai produsen
oksigen di lautan karena kesalahan kategoris yang menyebabkan pengambilan
kesimpulan atau upaya taşdiq salah walaupun sebagai sebuah pernyataan
yang diuji dengan struktur silogisme benar. Di sini kita dapat melihat, bahkan
narasi yang benar dan sah secara logis—sebagai sebuah pernyataan—dapat gagal.
Maka, jika kita tidak memiliki daya berpikir, kita tidak memiliki pengetahuan
mengenai aturan berpikir, apakah kita dapat menangkap kerancuan suatu statement?
Tentu tidak. Namun di luar ini, pernyataan ini datang dari seorang pengacara.
Maka, jika kita berpijak pada materialisme-dialektis dan meminjam kecurigaan
dan keraguan (dubito) wacana, maka, pertanyaan ini patut diajukan:
“kenapa pernyataan ini muncul?”
Terdapat
hal menarik untuk dibicarakan mengenai paripatetik. Dari kasus pejabat yang
memberikan pernyataan mengenai lautan adalah sumber oksigen, pernyataan dia sah
secara silogis, tetapi gagal secara logis—karena dia bertentangan dengan fakta.
Jika kita bertumpu pada Al-Ghazali, kesalahan ini terletak pada kesalahan taşawwūr.
Namun, dalam pendahuluan Al-Mustaşfa dan Al-Munqiż, sebagaimana
yang saya di atas, Al-Ghazali memberikan peringatan kepada kita mengenai kesalahan
pengindraan—ghalat al-hiss. Indra dapat membaca suatu penampakan
indrawi—data-indrawi—salah, maka artinya kita membutuhkan sebuah induksi, yakni
mengumpulkan banyak data untuk mempersempit kesalahan. Syatibi dalam
pendahuluannya Al-Muwāfaqāt menjelaskan jika pengambilan asumsi umum
sebagai hasil generalisasi sebagai premis utama, dapat mengacaukan pengambilan
kesimpulan. Memang, concern Syaṭibi adalah untuk membangun argumen logis
pengambilan hukum Islam, tetapi Syaṭibī memberikan concern atas kelemahan
dari deduksi silogisme. Hal ini karena bagaimana kita dapat menyatakan premis
mayor adalah sebuah kebenaran. Syaṭibī mencoba meragukan deduksi tersebut,
karena kita bahkan perlu induksi, yakni mengumpulkan banyak data untuk
melakukan konfirmasi terhadap premis mayor itu sendiri. Lebih jauh, untuk
menyatakan bahwa “semua manusia akan mati”, kita memerlukan bukti induktif
untuk meyakinkan dengan pasti bahwa manusia mati. Dalam kasus pejabat di atas,
membuktikan bahwa logika paripatetik sekalipun, tidak dapat menjamin suatu
pernyataan adalah suatu kebenaran. Maka, dari sini, pertanyaan yang ada di
paragraf tiga di awal perlu dipertanyakan ulang, “apakah kita harus belajar
berpikir?” jika bahkan deduksi mengalami eror. Karena jika kita bahkan tidak
belajar untuk berpikir, kita akan selalu terjebak dalam pembodohan, atau pada
taraf personal, kita sendiri tidak mampu mengatasi hidup kita sendiri. Bayangkan,
kita punya setumpuk masalah. Kegagalan kita dalam taşawwūr, dalam data,
dapat membuat kita salah mengambil keputusan. Kesalahannya adalah sistem
ekonomi, tetapi seorang presiden malah menawarkan gentengisasi demi mengatasi
‘look yang buruk’. Dalam contoh lain, ketika dihadapkan dengan masalah
judi onlien, masalahnya adalah akses, kemudian ekonomi yang buruk,
tetapi pejabat malah memberikan kebijakan untuk memberi bantuan sosial (bansos)
untuk pelaku judi online—walaupun direvisi, yakni yang menerima adalah
korban. Apakah ini bermasalah? Tentu! Ini terjadi karena kegagalan taşawwūr,
yakni termasuk kesalahan memahami kategori Rylean.
Lantas,
pertanyaan lain yang telah saya singgung, “bukankah kita sudah mampu berpikir,
bahkan tanpa harus belajar cara berpikir?” Kant, dalam Kritik der Reinen
Vernunft, menunjukkan bagaimana manusia sendiri telah memiliki kemampuan
berpikir, antara verstand
dan vernunft,[8] dan
inilah nanti yang dimaksud dengan a priori, di mana manusia memiliki kemampuan
dasar dalam berpikir. Kant, lebih jauh mengatakan, bahwa seluruh kemampuan
berpikir kita bukan tunduk dan terikat pada sifat benda yang ada di luar
manusia, di mana untuk mengetahui, kita harus memahami benda, tetapi menurut
Kant, bendalah yang tunduk pada kita melalui a priorinya: sensibilitas (sinnlichkeit),
kategori, verstand (memahami), dan vernunft (akal budi). Inilah
mengapa, dalam Antinomi Kritik der reinen Vernunft, Kant
mengatakan jika kita hanya memungkinkan mengetahui apa yang terkondisikan, di
mana indra kita menangkap penampakan objek dan akal kita memahaminya. Maka
tidak mungkin kita mengetahui hal yang ada di luar kita. Maka jika
dipertanyakan apakah Tuhan ada? Untuk mengatakan ada atau tidak karena kita
tidak memiliki pengalaman sensasi menangkapnya, kedua kita telah mendefinisikan
Tuhan secara final sebagai causa prima yang transenden. Jika Platon
mengandaikan manusia mampu mengingat mengenai idea yang das Ding an sich melalui
anamnesis, maka Kant menolak ide tersebut, karena yang dimiliki manusia bukan
mengenai benda, tetapi kemampuan, daya (fakultas) berpikir. Inilah yang saya
maksud ekosistem tersebut—atau Kant menyebutnya trancendental apparatus.
Mungkin
kita dapat membentuk sebuah alur bagaimana seseorang pasti mampu berpikir:
Manusia memiliki bawaan untuk menangkap dan memahami data-indrawi (objek
fenomena). Dari sini, kita dapat mengatakan, bahwa sensasi (aithesis)
dapat disensasi karena kita memiliki sebuah fakultas untuk menangkap benda,
inilah yang dimaksud dengan sensibilitas (sinnlichkeit). Kita
menangkap suatu kebendaan, bentuk, lokasi, arah, bahkan ‘kapan’ adalah
kemampuan bawaan kita untuk menangkap benda. Yang perlu dipahami, sifat benda
sendiri yang perlu kita letakkan dengan presisi. Benda dapat disensasi hanya
jika benda tersebut teraba oleh pancaindra, artinya benda harus ada dalam ruang
dan waktu, Inilah benda yang terkondisikan (the conditioned) oleh
ruang berupa letak dan waktu sebagai progresi yang terikat oleh urutan waktu.
Maka jika saya mengajukan pertanyaan mengenai Tuhan yang saya singgung, apakah
transendental Tuhan disensasi dalam ruang sementara sifatnya transenden? Namun,
konsekuensi dari kebendaan yang terikat oleh waktu ini, dia tunduk pada hukum kategoris.
Kategori-kategori ini adalah segenap aturan yang membentuk kita memahami apa
yang disensasikan: penangkapan objek tampak sebagai bola, bulat, tanpa sisi,
tanpa sudut, atau penangkapan objek-tampak mengenai pesawat hingga dapat kita
pahami sebagai pesawat, bukan hanya besi, putih, lebar, lonjong, demikian juga
dalam memahami bahwa bola bukan sayuran yang bisa dikonsumsi, atau batu bukan
hal yang dapat dikonsumsi, serta mengapa bola menggelinding dan pesawat dapat
terbang. Penangkapan atas semua gejala tersebut adalah karena akal kita
memiliki fitur tersebut. Atau dalam kata lain, fitur kategori tersebutlah yang
membuat kita dapat memahami (verstehen). Pemahaman inilah yang disebut verstand.
Secara sederhana, verstand sebagai fakultas kita dalam memahami (verstehen)
dengan menggunakan kategori sebagai tatanan aturan, di mana aturan ini sudah
melekat dengan manusia—akal. Itulah mengapa, seorang pria 40 tahun yang tak
belajar mampu memutuskan jalan mana yang harus ia lewati, bahkan pada pengetahuan
mengenai: jalan, batu, aspal, pohon, motor, orang, dan cara untuk makan dan
mencari uang, atau bahkan menipu dan memberikan pernyataan, “di dalam vaksin
tersebut ada microchip”.
Namun,
jika kita memperhatikan perhatian Kant, ia sendiri menyebutkan bahwa manusia
secara natural memiliki kemampuan berpikir. pertama, demikian menjadi
penegas pertanyaan yang diajukan, “bukankah kita sudah bisa berpikir tanpa
harus belajar?”; tentu, kita telah dan mampu berpikir, tetapi Kant hanya
menjelaskan kapasitas keniscayaan kita. Jika kita bertanya, “mengapa kita tahu,
dan kenapa kita mampu memahami sesuatu?” maka, Kant menjawab mental kita.
Namun, apakah demikian meniscayakan kesehatan kita dalam berpikir? kasus yang
saya sebutkan menjadi satu bukti, kapasitas berpikir kita tidak serta-merta
membuat kita mampu untuk mengambil kesimpulan dengan baik.
C.
Logical
Fallacy: Retorika
Saya
mulai diskusi bagian ini dengan narasi apologetika yang mengatakan bahwa Tuhan
ada karena dunia ada. Dunia adalah bukti konkret dari ke-ada-an Tuhan. Alur
berpikir mereka adalah, mengajukan sebab-akibat, bahwa A ada karena B, dan B
ada karena C, maka dengan demikian mereka mengajukan pernyataan istifham,
“jika manusia ada karena evolusi, siapa yang ada dan yang menciptakan pangkal
dari manusia. Jika manusia dan hewan evolusi, siapa penciptanya? Jika kehidupan
ada dari ledakan bintang atau pun ledakan Big Bang, siapa yang
menciptakannya?” kita dapat melihat narasi apologetika lain sebagai upaya
pembelaan atas ada-nya Tuhan, bahwa jika big bang ada dari sebuah
materi, siapa yang meng-ada-kan materi tersebut? Ia juga menambahkan, jika
kemungkinan kita ada harus memungkinkan Tuhan ada, secara eksplisit dia
mengatakan—dengan mengutip orang lain—“god must exist” karena bagaimana
bisa semua presisi ini ada tanpa pencipta—yang antropomorfik.
Pernyataan
mengenai Tuhan ada sebagai sebab pertama adalah pernyataan yang ‘seakan-benar’.
Mari kita lakukan inversi-dekonstruksional, (pembalikan), pertama, “kenapa
tidak bisa?” maksud saya, mengapa harus Tuhan yang menciptakannya? Kenapa harus
ada supra-human yang mengatur keteraturan dan kepresisian? Maksudku, dunia
tidak memerlukan Tuhan hanya untuk mengatakan dunia ada karena bisa jadi, dunia
tercipta disebabkan sesuatu lain: ekspansi, ledakan bintang. Sementara Tuhan
hanyalah figur yang diciptakan oleh vernunft untuk memutus infinite
regress. Jika diajukan, bahwa dunia memiliki nilai intrinsik, maka,
bagaimana kita dapat memastikan apa yang dimaksud intrinsik tersebut adalah
intrinsik? Pemahaman, dalam artian kita mengetahui sesuatu sebagai sesuatu
adalah ketika akal kita menangkapnya, artinya, penangkapan akal atas suatu
objek adalah ketika objek terkondisikan dalam ruang dan waktu. Hanya saat
itulah kita mengalami sensasi untuk mengatakan ada adalah ada. Bagaimana dengan
Tuhan? Kita tidak mampu memastikannya. Karena belum bisa memastikan, kita tidak
bisa juga mengklaim Tuhan ada hanya karena keharusan ada tuhan sebagai causa
prima. Kedua, jika kita menggunakan silogisme untuk menyatakan
keberadaan Tuhan dengan menyatakan Tuhan adalah penyebab dari adanya dunia—sebagai
causa prima—apakah artinya Tuhan juga membutuhkan pengada? Premis mayornya,
bahwa ada selalu membutuhkan pengada, karena tak mungkin ada dengan sendirinya.
Maka, dunia ada, Maka tuhan ada karena dunia butuh pencipta. Masalah lain
adalah, ketika kaum teis diajukan narasi pembalik dengan menggunakan silogisme
di atas, bahwa jika sesuatu ada karena diciptakan, dan Tuhan ada, maka Tuhan
ada yang menciptakan. Demikian ini karena tuhan butuh pencipta untuk ada.
Kaum
teis memotong pertanyaan mengenai keharusan Tuhan memiliki pengada dengan
mendefinisikan Tuhan menjadi kategori Rylean yang lain, bahwa Tuhan tak perlu
pengada sebagaimana kategori Rylean yang terkondisikan yang tunduk pada
kausalitas. Definisi ini dapat diambil dari konsepsi wajib al-wujud, di
mana Tuhan adalah ‘ada’ mutlak. Definisi ini mengatakan, jika sesuatu adalah mumkin
al-wujud (yang kontingen), maka yang mumkin al-wujud mengharuskan
adanya yang niscaya, yang wajib al-wujud. Demikian untuk memutuskan infinite
regress—rangkaian kausalitas tanpa akhir. Lebih jauh lagi, sebagaimana narasi
apologetika yang saya kutip pada paragraf pertama bab ini, bahwa kepresisian
dan ketepatan, yang membuktikan konsistensi hukum fisika menjadi bukti Tuhan
ada. Namun, yang menjadi masalah pernyataan ini adalah, kegagalan taşawwūr
dan kegagalan logis, yakni kesalahan kategori Rylean (mistake category).
Pertama, jika konsistensi keberlakuan hukum fisika dijadikan sebagai
alasan, premis utama sesuatu menjadi ada, bagaimana dengan kenyataan bukti
probabilitas dalam fisika kuantum? Dalam taraf atomik, fisika—klasik—tidak
berlaku. Apakah artinya Tuhan hanya ada dalam ukuran-ukuran tertentu? Bukankah
dengan demikian Tuhan termasuk yang terkondisikan? Ini juga menyambung ke
kegagalan kategori. Masalahnya. Pertama mengenai kausalitas: bahwa hukum
kausalitas adalah hukum bawaan akal manusia. Penangkapan memahami (verstehen)
akan kausalitas hanya terjadi pada dunia yang terkondisikan. Mengapa? Karena
sensibilitas (sinnilchkeit) manusia terjebak dalam dunia yang terkondisi,
yang artinya dunia yang diraih oleh manusia. Sementara Tuhan adalah entitas
transenden yang harusnya ada dalam bentuk tak terkondisi, dan tidak dapat
diraba. Di sinilah kegagalan sensibilitas kita bekerja. Maka, kita dapat menyebutkan,
bahwa jika kausalitas hanya untuk yang terkondisi, maka karena Tuhan itu tidak
terkondisi (the unconditioned), maka atribut kausalitas tidak
dapat dimasukkan ke Tuhan. Kedua adalah masalah inkonsistensi kategori
Rylean dan penciptaan special pleading: kaum teis sepakat bahwa Tuhan
entitas di luar ruang waktu, artinya sensibilitas manusia tidak bekerja
untuk-Nya. Dia adalah yang wajib al-wujud, yang “laisa ka mislihi
sya’un” (berbeda dengan yang lain—makhlūq [ciptaan]).[9]
Artinya, Tuhan dan manusia tidak dalam kategori yang sama, jika kita menerima
premis filsafat Islam yang menyatakan makhlūq sebagai yang bukan Tuhan.
Dalam artian ini, Tuhan berdiri sendiri di luar kategori yang kontingen. Maka,
ketika kaum teis mengajukan konsepsi wajib al-wujud sebagai upaya
mengatasi infinite regress untuk meletakkan Tuhan sebagai sebab, di mana
hukum sebab seharusnya hanya atribut yang dapat diletakkan untuk yang
kontingen, maka kaum teis telah melanggar aturan kategorisnya hanya untuk
menciptakan figur Tuhan yang logis sebagai pengada segala sesuatu; Kegagalan Tuhan
sebagai penyebab terjadi karena kegagalan logika, lebih tepatnya adalah masalah
taşawwūr, karena dia mengacak-acak predikat[10] atau
seperti sebelumnya, bahwa Tuhan adalah produk vernunft yang ditempelkan.[11] Di
mana, kaum teis mencampur predikat-predikat untuk yang terkondisi ke pada yang
tak terkondisi juga dengan menarik Tuhan ke dalam ruang waktu secara
sepihak—karena Tuhan niscaya gagal untuk ditarik ke dalam ruang waktu, dengan
saat kaum teis mendefinisikannya ke dalam yang termasuk memiliki atribut untuk
dipahami secara kausalistik maka secara sepihak kaum eklektis memaksa Tuhan. Bukan
karena ada, tetapi diadakan. Menyatakan Tuhan ‘ada’ tidak memberi tambahan
pengetahuan—inilah yang disebut predikat.[12]
Mengapa? Karena ‘ada’ di sana adalah penunjuk posisi Tuhan yang ada-di-sana.
Pertanyaannya, apakah terdapat informasi definitif akan Tuhan saat kita mengajukan
pernyataan tersebut? Tidak. Dalam banyak kasus di atas, kita terjebak dalam
masalah-masalah berpikir. Demikian menunjukkan ketidak-serta-mertaan kita
memiliki akal maka kita pasti bisa berpikir dengan benar, bahkan kita memiliki
masalah dalam kategoris, seperti Gilbert Ryle yang menggambarkan ketidakmampuan
seorang turis memahami kategori bangunan dan konseptual mengenai ‘universitas’.
Dalam contoh praxis-nya adalah kegagalan ‘ada’ sebagai predikat yang
diajukan berbarengan dengan kategori lain. Dalam kata lain, kita tak mampu
membuktikan Tuhan ada, baik secara logis yang in dictione dan extra
dictionem maupun empiris. Kita akan emlahirkan antinomi baru yang tidak
disadari oleh kaum teis yang menganggap mereka telah mengatasi antinomi dari infinite
regress.
Namun,
saya kira saya tetap harus adil. Jika pernyataan keadaan dari kesalahan
kategoris, maka, pernyataan oposisi saya dengan membalik kebutuhan atas
penciptaan Tuhan secara deduksi dengan mengambil kerja silogis orang teistik
juga akan bermasalah degan masalah yang sama, yakni kesalahan kategoris (mistake
category).
Jika
kita meminjam premis Kant di atas, bahwa suatu pemahaman atau kerja memahami (verstehen)
kita adalah karena, yang fenomenon
adalah yang tunduk pada kategori sekaligus melekat dalam ruang dan waktu, maka di
sini jelas, aturan untuk ‘ada’ sebagai hal tampak atau tersensasikan, atau
teralami oleh akal kita, berkaitan dengan kategori dalam akal manusia terhadap
objek yang tampak, yang dijelaskan di atas. Maka, untuk mengadakan Tuhan, ia
harus tunduk dalam penangkapan akal, karena dengan dan hanya dengan cara itulah
kita tuhan ada dan mengikuti aturan kategoris Kantian yang 12. Di sinilah
antinomi muncul, sebuah pertanyaan “dari mana Tuhan berasal.” Artinya, pernyataan
saya di atas, “dari mana Tuhan berasal” adalah kesalahan kategoris, di mana “keberasalan”
adalah konsekuensi aturan kategoris sebab-akibat yang harusnya ada dalam hal
yang duduk di ruang-waktu, sementara Tuhan sesuatu yang dipercayai tidak ada di
sini, artinya dia bukan kategori (ini kategori pemisah Rylean, bukan kategori
kant) yang fenomenon. Maka pertanyaan itu juga cacat.
Dalam
hal ini, saya sendiri gagal, dan salah-kategori dalam upaya kritik atas
argumentasi ada-Tuhan, bahwa segala sesuatu selalu membutuhkan pencipta untuk
ada, karena tidak mungkin suatu datang dari ketiadaan, artinya segala sesuatu
butuh pencipta. Premis ini ditarik untuk menyatakan keadaan spesifik, bahwa
dunia ada karena penciptaan. Dari sinilah figur Tuhan sebagai Causa Prima tersebut
datang. Saya mengatakan, bahwa argumentasi logis tersebut salah karena salah
kategori: pertama, kesalahan kategori predikat, yang menyatakan ada
adalah predikat padahal buka. Dalam ruang Kantian, ada adalah posisi bagi yang
fenomenon atau yang terkondis (the conditioned) dalam ruang-waktu.
Menyatakan ada, tidak memberikan legitimasi verifikatif mengenai Tuhan ‘ada’ (wujud).
Kedua, kecacatan premis karena seakan memaksakan definisi berbeda untuk
Tuhan. Yang menjadi masalah adalah, tidak ada argumentasi logis untuk
memastikan Tuhan demikian, karena Tuhan tidak dapat dipersepsi sehingga kita
dapat mengalai (sensation) akan Tuhan—yang hal ini menurut Kant tidak
mungkin—kecuali kita sepekat dengan Kant untuk memahami Tuhan sebagai postulat,
bahwa Tuhan tidak diketahui ke-ada-annya, tetapi mempercayai keberadaannya.
Artinya, seorang harus mengaku, bahwa kita tidak tahu apakah Tuhan ada atau
tidak. Namun, saya harus mengakui, bahwa jika kita menggunakan sistem logis
Kantian untuk membalik argumentasi kaum teis, maka yang ada hanyalah
keterjebakan saya sendiri atas kesalahan kategori lain yang saya alami. Kenapa?
karena kalau kita bentuk kategori Rylean, dia bukan kategori fenomenon. Saya
harus mengakui rasa bersalah untuk melakukan pembalikan tersebut. Namun, terdapat
dua masalah, pertama, hal ini sebenarnya tidak dengan serta-merta
membatalkan pernyataan penyerangan mengenai bahwa keterbutuhan suatu hal, yakni
segala macam benda tampak—yakni fenomena yang kontingen atau berubah—akan ke-adaan
yang mengharuskan ‘ia’ diciptakan oleh entitas antropomorkfik, yakni Tuhan. Artinya,
pernyataan bahwa dunia tidak serta-merta menjadi bukti adanya Tuhan tidak dapat
dibantah dengan premis Kant di atas, karena penyebutan kategori Rylean—saya
harus terus mengulanginya untuk memisahkan antara kategori Kant dan kategori
Ryle—terhadap apa yang harus menempel dalam atribut Tuhan adalah pengkhususan
lain. Kita seakan diberi batas untuk memaksanya ada dengan cara tersebut, yakni
special pleading. Kedua, yang sebenarnya juga masalah kaum
teistik menggunakan premis suatu hal ada karena kausalistiknya, Kant juga
membatalkannya, karena kategori kausalistik hanya dan haya dapat dialami oleh yang
terkondisi yang duduk dalam ruang waktu. Maka, jika counter-argument
atas argumentasi saya disandarkan pada Kant, bahwa saya salah kategori, maka
kesalahan mereka tetap sama, salah kategori karena Tuhan memang kategori lain
di luar yang terkondisi, artinya Tuhan tidak terkondisi (the unconditioned),
karena jika mereka mempertahankan premis kasualitas bahwa dunia ada karena
Tuhan menciptakannya, maka konsekuensinya adalah, Tuhan adalah bagian dari progressi
yang ada dalam ruang. Artinya Tuhan juga kontingen, berubah-ubah. Di sinilah, definisi
Tuhan gagal dengan premis kausalitas Kantian.
D.
Lantas?
Saya
tidak menafikkan kenyataan manusia mampu berpikir. sedari awal, kita memiliki
dayanya. Kant melalui Kritik der reinen Vernunft adalah diagnosis atas
daya bawaan berpikir kita. Dialah yang menegaskan bahwa kita sedari awal mampu
untuk berpikir. Lantas, apakah kita masih perlu untuk belajar berpikir? maka
pertanyaan saya, jika kita melihat berbagai kasus yang coba saya kumpulkan di
atas, apakah kita masih yakin, berpikir tidak membutuhkan aturan ketat untuk
mencapai kebenaran? Ghazali telah memperingatkan kita, bahwa kesalahan atas
konsepsi (taşawwūr) akan mengacaukan vonis kita: apakah jika kemiskinan
melanda, maka gentingisasi—mengganti genting seng dengan genting tanah liyat
atas dasar agar dipandang tidak kumuh—adalah jalan keluarnya? Apakah ketika judi
online merebak malah memberi bantuan sosial? Pada taraf yang lebih
personal, apakah kita yakin sudah mampu untuk berpikir? diagnosisnya sederhana,
yakni dalam mengambil kesimpulan. Pernyataan kita tidak pernah tunggal, kita
selalu memiliki premis. Terkadang kita sendiri mengalami kesalahan kategori,
kita meletakkan sesuatu yang berkategori A dalam suatu kelompok kategori B,
tanpa kita sadar kita salah. Membandingkan negara kita dengan negara lain
adalah kesalahan kategori; dan di sinilah, filsafat memiliki concern
terhadap aturan-aturan ketat dalam berpikir. apakah ada yang lain? Tahun 2023
saya ditanya, “mengapa—dalam tulisan ini (mengenai homoseksual yang saya baca
melalui deontologi-etis Kant)—tidak memberikan porsi untuk argumentasi agamis?”
saya hanya mengatakan, bahwa jika saya mengajukan argumentasi agama, maka
tulisan saya akan selesai di kalimat pertama. Saya lebih jauh bilang, bahwa
agama tidak memberi kita ruang berpikir kecuali perintah untuk percaya,
menerima argumentasi begitu saja—taklid. Namun, jika diajukan, bukankah Quran
sendiri mengatakan “yatażakkarū; yatafakkarūn”? perlu diperhatikan,
intensi Quran hanyalah memikirkan kebesaran Tuhan melalui hal-hal yang disebut kauniyah,
yang tujuannya untuk mengingat Tuhan itu sendiri. Jika pun pernyataan ini
dibantah dengan kontekstualisasi hermeneutis, maka tetap saja tidak membatalkan
bahwa Quran tidak memberikan aturan-panduan dalam berpikir.
Seorang
teman pernah membalas satu tulisanku, bahwa filsafat mungkin tidak penting. Tawaran
dia adalah, hanya jika “sesuatu penting hanya jika tidak memiliki pengganti”. Saya
hanya sempat berpikir, mungkin seseorang yang memiliki ketertarikan terhadap
matematika, dia paham mengenai bagaimana logika rumus bekerja—tidak hanya hafal
rumus saja—saya kira ia tak perlu membaca filsafat; tulisan ini ingin menjawab,
“apakah kita perlu membaca filsafat?” maka dari uraian cukup panjang ini, dari
masalah berpikir: kesalahan argumentasi karena kegagalan premis hingga
kesalahan argumentasi karena kegagalan konsepsi (taşawwūr), tidak dapat dihindari bahwa kita
perlu belajar filsafat. Intensi saya di sini bukan filsafat eksistensialisme. Itu
sebuah produk berpikir dan penuh perenungan. Yang ingin saya tekankan untuk
mengajak pembaca adalah filsafat sebagai sebuah ‘hal’—saya tidak tahu harus
mengategorikan filsafat sebagai apa—yang memberikan panduan kita untuk berpikir
dengan benar. Mungkin itulah mengapa kita dapat menyebut filsafat sebagai organon,
alat untuk berpikir itu sendiri. Saya juga harus jujur, saya terkontaminasi
dengan Nietzsche dan Foucault yang menuntut otentisitas, jadi saya tidak
bermaksud menyatakan kemutlakan filsafat harus diikuti seratus persen, tetapi
yang ingin saya tunjukkan, bahwa sampai hari ini, filsafatlah alat yang kita butuh
kan dengan peringatan yang telah saya uraikan: bahwa kita tidak dapat
mengandalkan hanya deduksi, tetapi mungkin tawaran Martin Suryajaya menarik,
untuk melakukan kontekstualisasi. Logika selama ini dibangun dalam case
yang terpisah, mungkin itu yang menyebabkan kelemahan logika tidak dapat
diterapkan pada taraf universal, sebagai contoh mengenai seorang pejabat yang
mengatakan semakin banyak volume air laut maka semakin banyak oksigen di atas
yang sah secara silogis tapi cacat secara faktual. Logika material, mungkin
perlu menjadi pertimbangan untuk membaca ‘kita’ hari ini, dan yang akan datang;
sekali lagi, sampai hari ini, belum ada sebuah institusi—jika dia sebagai
institusi—yang menggantikan peran filsafat sebagai organon, alat untuk
berpikir.
E.
Sebuah Kesimpulan
Kemampuan
natural berpikir tidak serta-merta membawa jaminan kita mampu untuk berpikir.
Di sinilah apa yang disebut Higenitas Mental diperlukan untuk membersihkan
mental. Mental di sini adalah alam pikir kita sendiri dari kekacauan agar kita
mampu menyusun data tersebut dengan baik, dan mengambil kesimpulan dari data
yang tujuannya untuk mengambil suatu tindakan darinya.
Indra
selama ini dapat membawa kekeliruan karena masalah taşawwūr yang
menyebabkan indra sangat ilusif dan memaksa kita untuk melakukan pengecekan
berulang melalui kerja empiris. Tentu, memang kita akan dan memang harus
memulainya dengan keraguan, bahkan pada hal-hal penampakan-indrawi yang begitu
jelas. Namun, apakah indrawi benar? Apakah suatu wewangian adalah bunga? Apakah
wewangian bangkai? Apakah sebuah siluet atau suatu bentuk putih yang
antropormorfistik selalu manusia? Pengambilan kesimpulan secara simplifikasi,
tanpa upaya pengecekan berulang adalah bentuk kemalasan sendiri yang menjebak
kita dalam kekacauan berpikir.
Di
sinilah filsafat berdiri. Jika kita mengamini asumsi teman saya, bahwa filsafat
penting sejauh dia tidak tergantikan, namun masalahnya jika kita pertanyakan
kembali, “apakah ada institusi lain yang mengajarkan kita dalam berpikir dengan
segenap aturan?” apakah agama memberikannya? Jawaban singkatnya tidak, karena
kalimat “yatażakkarū; yatafakkarūn” tidak perintah itu sebagai sebuah pelajaran
berpikir, kecuali hanya perintah. Dan, berpikir di sana terbatas pada berpikir,
yakni kondisi kontemplatif mengenai dunia agar manusia mengindahkan Tuhan.
Artinya, concern agama bukan pada sebuah langkah berpikir. Perlu
diingat, pertanyaan saya sederhana, “apakah agama mengajari kita berpikir?”
bukan mengenai perintah atau ada tidaknya term ‘berpikir’.
Jika
kita harus tunduk pada asumsi yang ditawarkan, dan kenyataan filsafat tidak
bisa digantikan, maka filsafat penting untuk dipelajari. Karena filsafatlah
yang mengajarkan kita untuk berpikir. Dengan demikian, kita dapat menyelesaikan
masalah kita sendiri, dan kita dapat berulang melakukan pengecekan terhadap
setiap statment. Mungkin tidak dengan meruntuhkan wacana, tetapi
setidaknya kita dapat memberikan penilaian (taşdiq) kepada suatu hal.
Misal pernyataan pemerintah, kita dapat mengetahu pernyataan itu ngawur, yang
tendensinya tak lain adalah wacana kekuasaan.
“Kita andaikan dua hal.
Jika Tuhan hanyalah god of the gaps, bukankah
suatu saat nanti Tuhan akan mati? Dan saat itulah, saat tak ada lagi keraguan,
saat di mana manusia telah menemukan nenek moyangnya, saat manusia menemukan segala
asal-mula bahkan pertanyaan esensial atas kebermaknaan, maka saat itulah Tuhan
mati. Bahwa kita tak lagi membutuhkannya. Namun, Jika besok—yang sangat aneh
tiba-tiba sains membuktikan dan dunia mengumumkan tuhan ada dan dapat
dibuktikan secara empiris—ya, artinya tuhan benar, ada, dan aku harus
menyembahnya. Bukan karena takut kepadanya, tetapi sebagai konsekuensi
kebenaran mutlak yang hadir dengan dan oleh data; karena Kalau aku salah, aku
salah. Artinya, jika kau (agamamu) benar maka aku menyatakan keislamanku.”
Tentang Penulis:
“Apakah engkau masih mau
mengatakan bahwa aku hanyalah seorang tribalis? Aku tak butuh jawaban darimu!
Tuduhanmu adalah eksistensiku. Adalah Ada-nya aku. Adalah Niam yang kau pahami,
tanpa tahu dan peduli tentang siapa yang menulis, dan dengan detak jantung
macam apa ketika dia menulis dan hidup di setengah matinya.”
“aku tak pernah menyebut
diriku sebagai seorang filsuf atau pun bahkan hanya sekedar manusia... aku
hanyalah Niam... hanya itu... dan jika kau bertanya mengenai siapa Niam? Lihat
lah hari ini, esok, lusa dan kemarin, dahulu, dan yang lain.”
[1] Kita perlu memisahkan kata
kategori, karena dalam tulisan ini ada dua maksud kategori yang sangat berbeda
jauh; pertama, kategori dalam ruang Rylean adalah pemisahan sesuatu ke
dalam sub-sub sebagaimana makna konvensional yang telah kita pahami selama ini
yakni bagian dari sistem klasifikasi itu sendiri. Kedua, kategori
Kantian yang merujuk pada segenap aturan-aturan yang telah dibawa oleh akal kita
sejak awal; untuk memisahkannya, saya akan menyebut kategori sebagai pemisahan
atau pengelompokan dengan ‘kategori Rylean’ serta jika saya menyatakan
‘kesalahan kategori’ saya merujuk kategori Rylean untuk menyebutkan kesalahan
kita dalam memasukkan suatu bagian (X) ke dalam bagian yang bukan (X).
Sementara kategori yang dimaksud oleh Kant akan saya tulis “Kategori Kantian”.
[2] Dalam bahasa latinnya
ditulis ‘res cogitans’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris
sebagai ‘thinking things’ atau sesuatu yang berpikir, “...but i am a
true thing, and truly existing. Yet what kind of thing? I have said: a thinking
thing.”
[3] Saya perlu memisahkan apa
yang dimaksud mengalami dan sensasi. Mengalami yang saya maksud adalah sebuah
aktivitas menangkap benda-tampak (ini yang dimaksud dengan objek-indrawi, data-ndrawi,
yang-terkondisikan, atau semua ini merujuk pada benda fisik). Dalam
penggunaannya, saya memaksudkan penglihatan dalam ‘mengalami’ adalah aktivitas
mental, non-fisik, sebagaimana pengalaman penangkapan objek idea dalam dunia
Platon. Maka, mengalami di sini hanya akan saya sebut dalam aktivitas non-fisik.
Sementara ‘sensasi’ di sini merujuk pada aisthesis, yakni penangkapan
suatu objek dengan indra fisik, yakni mata, penciuman, perasa, pendengaran.
[4] Saya akan coba
mendefinisikannya agar kita tidak mengalami kebingungan di sini: pertama,
mengenai istilah ide, saya akan memisahkan secara konsisten penggunaan istilah
dari konsep Ide dalam istilah Platon sebagai Idea/idea. Maka, setiap saya
menulis Idea/idea, maka saya memaksudkan ide dalam definisi Platon. Kedua,
saya akan memisahkan secara konsisten mengenai istilah realitas. Dalam masalah
Platon, realitas akan sedikit mengacaukan bayangan kita, karena realitas
menurut Platon adalah sesuatu yang ada di luar realitas kita. Maka, untuk
menjelaskan istilah ini, saya akan menggunakan dua istilah realitas: pertama,
adalah realitas-murni yang demikian ini saya maksudkan untuk menjelaskan
realitas yang dimaksud oleh Platon, dan realitas-indrawi untuk menjelaskan
realitas yang secara konvensional kita pahami, yakni yang teraih oleh
pancaindra.
[5] Saya perlu menjelaskan
intensi saya mengenai idea dan apa yang disebut Kant sebagai yang-a-priori.
Keduanya sepakat, bahwa kita memiliki pengetahuan bawaan, dan pengetahuan
bawaan inilah yang perlu saya pertegas; Idea yang dimaksud Platon adalah
kebendaan itu sendiri, yakni apa yang dimaksud Kant sebagai yang das Ding an
sich (benda-pada-dirinya-sendiri). Artinya, Platon mengandaikan kita pernah
mengalami terhadap objek tersebut. Pengingatan atas objek itulah yang dimaksud
anamnesis. Sementara menurut Kant, pengetahuan tersebut bukan mengenai
kebendaan suatu objek, melainkan sebuah struktur dalam memahami: sinnlichkeit
(sensibilitas), verstand, vernunft, dan pengetahuan kita atas
kategori. Di sini, kategori bukan sebuah benda yang diketahui sebagaimana yang
saya tulis, melainkan sebuah fitur untuk pengetahuan atas segala syarat dari
suatu objek yang terkondisikan atau objek tampak yang teralami oleh subjek—yakni
kita. Artinya, apa yang disebut idea oleh Platon adalah benda sempurna di alam
idea sebagai yang realitas-mutlak, dan kita mengingat konsep kebendaan tersebut
menjadi sebuah a priori. Platon mengandaikan kita mengetahui yang das Ding
an sich. Sementara, a priori Kant bukan benda, melainkan sebuah ekosistem
berpikir, yakni penangkapan yang sensibel, pemahaman melalui kategori dan verstand.
Di sini, bukan ‘bendanya’ yang diketahui tetapi sebuah daya memahami (verstehen)
yang ada sedari awal, karena pengetahuan akan das Ding an sich
artinya mengetahui yang transenden, sementara a priori kita tidak menangkap
yang transenden.
[6] Saya perlu membuat
batasan. Di sini saya mengintensikan data-indrawi juga termasuk benda utuh yang
kita tangkap seperti: bola, sepatu, kucing. Sementara Russell memosisikan
data-indrawi sebagai sekumpulan hal dalam suatu fenomena atau apa yang saya
sebut sebagai objek-tampak atau objek-indrawi: warna, bentuk, ukuran, tekstur.
[7] Intensi Gabriel Marcel
atas konsepsi presence (kehadiran) dan encounter (perjumpaan)
adalah hubungan intersubjektif, dan ini yang akan menghantarkan Marcel pada
konsep communion; di sini, saya meminjam presence Gabriel Marcel
untuk menggambarkan perjumpaan atau selama ini saya menggunakan istilah
mengalami sensasi suatu objek-indrawi. Artinya di sini, kehadiran adalah bentuk
penangkapan secara fenomenologis. Setelah penampakan itu datangkap melalui
sensasi, maka konsep akan sesuatu ditangkap oleh indra kita. Di sinilah kita
dapat memisahkan antara nothingness (ketiadaan) sebab dari ignorance
(ketidaktahuan) dengan absence (tidak hadiran).
[8] Saya tidak akan
menjelaskan bagian vernunft (akal budi), karena tulisan ini tidak
bermaksud membongkar Kant, karena konsepsi vernunft sendiri ada di luar
kerja logis; sebagai tambahan untuk melengkapi, saya tetap akan memberi cacatan
untuk vernunft. Secara sederhana, Vernunft adalah fakultas untuk
menangkap nilai moralitas. Kant menyimpulkan akal budi sebagai prinsip.
Fakultas inilah yang menuntut kita menemukan kemutlakan final, di mana vernunft
lah yang ingin mengatasi infinite regress. Vernunft adalah
kesadaran yang ingin membongkar, mencari finalitas. Maka, bagaimana jika
finalitas itu tidak ditemukan? Maka, dia (vernunft) menciptakan
jawaban-jawaban itu (Tuhan, ide jiwa, ide dunia); Kant mengkritik kebiasaan
orang—misal era mitologis—bagaimana kita seakan bisa mengakses hal-hal
metafisis, beyond dari kita untuk menjelaskan sesuatu yang harusnya sesuatu
itu bersifat indrawi (yang terkondisikan). Artinya ada Rylean mistake
cetegory, karena kita berusaha memahami benda yang tidak terkondisikan )the
unconditioned object) dengan aturan-aturan yang hanya menangkap objek yang
terkondisikan: ada dalam ruang waktu, sementara Tuhan, ide ada di luar itu
semua. Misal mengetahui siapa yang menciptakan dunia, orang dengan putus asa—karena
kita belum mendapatkan jawaban—maka secara simplifikasi kita menyimpulkan bahwa
itu dari Tuhan padahal kita sendiri tidak mampu menggapainya, kita tidak tahu
apakah tuhan itu ada atau tidak, bagaimana bisa kita melompat sejauh itu
seperti seorang pendongeng. Maka di sinilah vernunft tidak dapat
digunakan untuk hal-hal indrawi, kecuali kita hanya akan berakhir sebagai
pendongeng.
[9] Dalam filsafat Islam,
Tuhan adalah yang wajib al-wujud, yakni ke-ada-an Tuhan adalah kemutlakan. Sementara,
makhluk adalah yang mumkin al-wujud, di mana ada manusia bersifat
kontingen termasuk apa yang selain Tuhan, yang demikian ini termasuk alam
kategori definitif yang kontingen; kata makhlūq saya miringkan untuk
mempertegas bahwa kata tersebut bukan kata dalam bahasa Indonesia, melainkan
bahasa Arab. Makhlūq di sini artinya adalah ‘apa yang diciptakan’
sebagai ism maf‘ūl (objek). Lebih jauh lagi, makhlūq artinya
adalah apa yang ada di luar Tuhan. Maka segala sesuatu yang bukan Tuhan adalah makhlūq
yang kontingen—berubah.
[10] Predikat di sini adalah
atribut untuk memperluas konsep mengenai subjek. Lihat masalah predikat di bab B
mengenai kesalahan predikat dalam catatan kaki nomor 12.
[11] Rujuk catatan saya
mengenai vernunft dalam catatan kaki nomor 8.
[12] Kant memperjelas predikat
menjadi dua: pertama, predikat logis yang kita pahami sebagai bagian
dari kalimat yang menempel pada subjek. Kedua, predikat riil, yakni
suatu atribut yang memperluas konsepsi akan sesuatu yang ditunjuk dengan cara
memberikan informasi baru dengan menyifatinya; dalam tulisan ini, semua
predikat kembali hanya menunjukkan predikat riil.
Komentar
Posting Komentar