Kesadaran yang Melampaui Manusiawi yang Manusiawi: Totalität des Bewusstseins

Oleh: Muhammad Fathun Niam

Premis kebebasan (Freiheit) sepertinya terlalu menjijikkan di telinga kaum totalitarian-teis. Nama seperti Nietzsche, Hegel, terlebih Dosteovsky dan Sartre hanya akan dianggap membawa ketidak-teraturan. Etika kebebasan akan dianggap sebagai wacana yang tidak masuk akal. Namun saya kira, ini seperti mengatakan bahwa “pernyataan bahwa Tuhan adalah sebab segala sesuatu tidak logis” sebagai pernyataan tidak logis. Karena sebenarnya, pernyataan saya akan ketidaklogisan tersebut adalah kritik saya atas pernyataan sebagai sebuah proposisi, bukan berkaitan dengan Tuhan ada atau tidak secara langsung. Demikian juga dengan etika kebebasan. Demikian terdengar absurd karena akan memunculkan antinomi—sebuah kontradiksi tanpa ujung. Mengapa? Premis bebas selalu lekat dengan Dionysios yang pemabuk, penuh subjektivitas-relativistik. Ini yang menjadi titik kritik seseorang terburu-buru memukul Nietzsche hingga Sartre.

Kesalahpahaman kita atas Nietzsche adalah meletakkan ‘relativisme’ dan ‘kebebasan’ dari segala nilai moralitas-adat (custom-morality), atau sederhananya adalah moralitas yang dikonstruksi (constructed-morality) ke dalam keseluruhan tubuh pemikiran Nietzsche, termasuk kreasi-moral yang menjadi tujuan akhirnya. Kita tidak mampu membedakannya karena tidak membacanya. Kebebasan kita adalah memang dalam meninggalkan segala nilai moralitas-adat termasuk agama. Mengapa? Menurutnya, nilai-nilai ini memaksa kita mengikuti moralitas tanpa lagi memikirkan apakah moralitas ini adalah bentuk ‘bermoral’ atau hanya suatu tindakan yang mendapatkan konsepsi signifiant-fixe  yang memang seharusnya bermoral? Misal, suatu agama menyuruh membunuh seorang infidel, maka secara deduksi, seseorang bermoral jika menghabisi seorang kafir. Dia membunuh. Dia menghabisi hak hidup. Apakah demikian ini yang dimaksud moralitas? Moralitas inilah yang mencekik kita, membelenggu kita untuk tidak lagi berpikir suatu nilai dari suatu tindakan, kecuali nilai tindakan itu sudah dan telah terpaku secara fixe, kaku sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Kita tidak lagi bermoral atas dasar moralitas manusiawi kita—saya akan membebaskan pembaca di taraf ini memahami manusiawi ini bagaimana—tetapi atas dasar moralitas-adat.

Di Jawa, saya melihat moralitas kita tidak disandarkan kepada manusiawinya, tetapi kepada moralitas-adatnya, sebagaimana agama yang menyusun moralitas atas dasar perintah Tuhan. Hal demikian terlihat dalam sebuah diskriminasi kelas yang subtil, tertutup, yang simbolis. Mengapa simbolis? Karena adat—adat yang sedari tadi saya maksud adalah bentuk konstruksi sosial termasuk agama, jadi adat di sini sangat luas, bukan adat secara minor—memasukkan nilai tersebut dalam tubuh sejarah transenden hingga menjadi sebuah doxa yang banal. Nilai-nilai moralitas-adat tersebut, menjelma menjadi nomos Ilahiyah yang natural, yang deontologi—seharusnya memang demikian. Lantas, apa maksud kekerasan diskriminasi-simbolik? Dari mana? Apa hubungannya?

Pertama, sedari awal, sistem sosial di Jawa tetaplah berbentuk strata, bertingkat. Strata ini lahir dari adopsi kebangsawanan yang menjadi biang sejarah. Raja adalah wakil Tuhan di dunia, maka bangsawan memiliki jarak dengan manusia jelata. Terdapat jarak antara Aku dan Engkau. Artinya, terdapat kategorisasi, pemisahan mana yang Aku dan mana yang seharusnya menjadi Engkau. Maka, mudah untuk menciptakan wacana-etis, siapa yang perlu dihormati oleh siapa. Dapat dibayangkan, berapa abad kita mengulangi wacana-etis yang sama? Pengulangan inilah yang membentuk sistem strata tersebut banal, deontologi, dan memang seharusnya demikian. Di sisi yang sangat lain, wacana-etis—yakni kategorisasi antara Aku-Engkau—diadopsi oleh manusia jelata ke dalam struktur sosial. Itulah mengapa, seorang yang lebih tua dianggap lebih arif, lebih baik, dan seseorang lebih muda perlu menghormati mereka. Bukan ini yang menjadi masalah. Masalahnya adalah, sistem moralitas kita tidak lagi bersifat antroposentrik, menjadi kan manusia sebagai ukuran moral, melainkan menjadikan pemisahan antara Aku-Engkau sebagai dasar keperluan moralitas. Mari kita lihat dalam keseharian: anak kecil atau yang lebih muda, menghormati yang lebih tua bukan atas dasar manusiawi, tetapi wacana-etis yang diciptakan. Demikian sebaliknya, mereka yang lebih Tua, memiliki hak yang lebih kepada yang muda. Dalam ranah struktural, sopan santun kita tidak didasarkan kepada manusiawi, tetapi gelar, jabatan. Seseorang menunduk kepada CEO yang umurnya lebih muda dari dia.

Masalah? Mari lihat dampaknya! Seorang agamawan, Kyai, guru mencabuli muridnya. Mengapa hal ini terjadi? Karena adanya relasi kuasa yang kuat antara Aku yang berkuasa, lebih tua yang harus dihormati, dan jabatan sosial yang Aku sandang. Itulah power sekaligus bagaimana seseorang menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Orang tua seakan boleh mencaci anak kecil atas dasar pendidikan, sementara sebaliknya, anak kecil berbuat tindakan yang tidak sopan. Sebenarnya, contoh yang lebih parah ada dalam ruang publik-struktural, antara mereka yang memiliki jabatan struktural dengan sipil. Seorang presiden, dicium tangannya oleh seorang pria berumur 79 tahun berkaos lusuh. Demikian juga seorang pegawai harus menunduk kepada bosnya. Di sinilah, moralitas-adat kita tidak menumpukan moralitas pada tempat yang benar. Moralitas kita, tidak dilandasi oleh moralitas-yang-manusiawi. Bukankah sopan santun kita seharusnya berdasarkan manusiawi ini? Aku menghormati Engkau bukan karena Engkau adalah CEO, Jendral, Guru, tetapi karena Engkau adalah Aku yang sama secara spiritual, yakni Aku yang manusiawi. Pendek kata, Aku menghormatimu karena Engkau adalah manusia itu sendiri.

Kedua, apa hubungannya? Landasan moralitas kita tidak masuk akal. Apa tujuan moralitas semacam ini? Apakah hanya karena seseorang adalah pegawai dari seseorang lain, maka seseorang tersebut harus membungkuk dan mencium kaki si seseorang yang lain atas dasar moralitas semacam ini? Inilah yang ingin dilampaui oleh Nietzsche. Jika kita bertumpu—membudak—kepada moralitas-adat, maka tindakan kita tidak lagi karena moralitasnya, tetapi nilai normatifnya. Inilah yang disebut budak, bahkan oleh Hegel sekalipun dalam keterbudakan kita atas nafsu dalam kebebasan.

Kebebasan yang dimaksud oleh Nietzsche bukan kebebasan mutlak, bahwa artinya kita bebas melakukan apa pun. Kebebasan ini, adalah kebebasan dari belenggu moralitas-adat. Apakah artinya kita berhak melakukan segala sesuatu atas dasar kebebasan-relativistik? Apakah artinya kita boleh mencuri? Apakah kita boleh mencaci, membunuh, memukul, menghina atas dasar kebenaran subjektif? Dalam Sabda Zarathustra, ketika Zarathustra bertemu dengan sang Santo, Zarathustra hanya mengatakan, bahwa “Aku mencintai manusia”. Atas dasar itulah Zarathustra turun dari gunung. Menjadi guru, pewarta akan Manusia Melampaui. Apa tujuannya? Untuk mengandaikan lahirnya Manusia Melampaui dalam suatu komunitas, agar ia menjadi contoh, agar manusia menanjak (ascendant). Maka, jika tujuannya adalah kembali kepada manusia, agar manusia dapat menanjak dengan cara berkreasi—menjadi pencipta—apakah kebebasan Nietzsche mewartakan kebolehan mencuri? Bukankah ketika suatu kelompok menjadi pencuri atas premis kebebasan mutlak, akan menyebabkan kerugian, kekacauan, dan keruntuhan moralitas manusia sementara Nietzsche ingin mengangkat manusia sebagai manusia bermoral?

Kita terlalu terburu-buru menghakimi Nietzsche hanya karena kata kebebasan (Freiheit) sebagai wacana tidak masuk akal karena ilusi antinominya; kebebasan Nietzsche adalah dari segala belenggu. Seseorang harus bermetamorfosis menjadi roh Singa yang berani mengatakan ‘tidak’ kepada moralitas-adat. Maka dengan demikian, manusia harus bermetamorfosis menjadi sang pencipta moralitas sendiri, seperti anak kecil yang berani bermoral tanpa mengikuti dikte-dikte sektarian. Namun, apakah penciptaan moralitas ini hanyalah kemabukan sang Dinoysos? Tidak! Zarathustra turun dari penempaannya. Ia membawa kelimpahan pengetahuan setelah menempa diri secara disiplin tanpa ampun. Maka, kesadaran keterlimpahan muncul untuk membaginya kepada semesta bumi. Nietzsche tidak memisahkan secara mutlak antara Apollinian dan Dionysian, karena kedua roh ini ada dalam tubuh manusia. Kebebasan yang dikatakan Nietzsche adalah kebebasan-yang disiplin. Tidak masuk akal? Tentu tidak jika kita masih tidak sepakat dengan kebebasannya. Kebebasan di sana adalah kebebasan dari belenggu moralitas-adat untuk menjadi pencipta moralitas itu sendiri yang terus dinilai melalui pendisiplinan diri.

Demikian juga kesalahpahaman kita atas kebebasan Sartre. Kita dapat melihat, kebebasan Sartre sebenarnya lebih jauh daripada Nietzsche. Ia memulai dengan pernyataan Dostoevsky, “Jika Tuhan hilang, maka saat itu juga segenap aturan lenya”. Apa yang tersisa jika Tuhan sebagai sumber moral lenyap? Aturan-aturan dan sembarang nilai hilang. Dan, di sana menyisakan sebuah kebebasan. Jika ingin menghakimi kebebasan, saya kira nama Sartre yang harusnya muncul, bukan Nietzsche. Menurutnya, lenyapnya Tuhan—karena Tuhan memang tidak ada—menyisakan manusia sebagai subjek moralitas tertinggi di tengah kebebasan. Kita, telah dikutuk oleh dan dalam kebebasan. Apa artinya? Inilah bebas mutlak. Manusia boleh mencuri, manusia boleh berzina. Manusia boleh makan babi. Namun, kita tidak boleh berhenti di sini. Kalimat Sartre tidak terlalu jauh, bahkan hanya berjara satu kalimat untuk mengatakan, bahwa “yang tersisa dari kebebasan adalah segenap tanggung jawab-tanggung jawab”. Jika kita melakukannya, kita harus mau dan harus menerima segala tanggungannya. Jika kita membunuh, maka kita tak boleh memelas untuk keringanan. Hanya penyesalan dan penerimaan dipasung di guillotine, sebagaimana Meursault, dan Raskolnikov—Raskolnikov menyerahkan dirinya kepada yang berwenang untuk diadili atas pembunuhan yang ia lakukan.

Apa maksud semua itu? Kebebasan tidak bermaksud sebagai upaya keluar dari nilai bertanggung jawab. Hegel mungkin nama yang saya tertawakan. Kesadaran akan Roh atas dirinya sendiri membawa kita kepada kebebasan (Freiheit). Kebebasan Hegel lebih tidak masuk akal, karena terlalu memaksa dan seakan melompat; kebebasan mutlak menurutnya adalah bentuk dari penghambaan atas nafsu. Artinya, Hegel menganggap, bahwa tindakan-tindakan yang terburu-buru, yang mengandalkan perasaan: mencuri, membunuh atas dasar kebebasan ini, adalah bentuk ketundukan kita kepada nafsu. Kita hanyalah roh untuk yang menghamba pada nafsu kita. Maka, segenap kebebasan itu, karena jika ditarik pada taraf ekstremnya akan menemukan kekacauan, kerusakan, maka mengharuskan pendisiplinan total. Di sinilah kontrak-kontrak sosial dibentuk. Sekarang, tahukan bagaimana penciptaan moralitas-adat? Pelaksanaan kita dan ketundukan kita atas moralitas tersebut adalah bentuk kebebasan. Menurutnya, mengikuti aturan moralitas-adat, baik agama maupun negara atas dasar kesadaran, yakni pelaksanaan sepenuh hati, bukan keterpaksaan adalah bentuk kebebasan itu. Menurut saya, bentuk moralitasnya tidak masuk akal karena ada lompatan yang tidak terhubung dengan baik. Maka, bagaimana jika saya tawarkan moralitas-kebebasan? Karena menurut saya, harus ada prinsip tertentu untuk sampai ke ranah kebebasan aneh dan memaksa ini, yaitu kesadaran total “Totalität des Bewusstseins” (kesadaran mutlak). Demikian itu sebagaimana Kant saat menyatakan bahwa moralitas menyadarkan kita ‘untuk harus’.

Pertama, Hegel dan Gerak Roh. Saya dapat sederhanakan filsafat Hegel dengan, bahwa “sejarah kita adalah gerak ekspansi maju Roh Absolut menuju kesadaran.” Menurut Hegel, segala hal fisik adalah manifestasi dari akal murni (vernunft) yang berusaha untuk menyadari dirinya sendiri melalui kesadaran manusia. Karena hanya melalui manusia, Roh Absolut mampu menyadari dirinya sendiri, karena kesadaran itu adalah sebuah pikiran yang disadari melalui pikiran dalam bentuk pikiran. Mengapa? Karena bentuk kesadarannya adalah logika, bahwa dunia memiliki logika yang sama sebagaimana sang Aku saat berpikir. Dengan demikian sejarah dapat terus maju, dan Roh Absolut dapat terus menyadarkan dirinya sendiri.

Sebelum jauh, kita mulai dengan kesadaran Hegel; kesadaran paling dasar adalah kesadaran yang kategoris. Kita memisahkan diri kita —sang Aku—dari benda-pengamatan—sang Engkau. Kita melakukan objektivikasi atas suatu benda, misal apel yang jatuh. Pengamatan indrawi, yakni kepastian indrawi (certanty-sense) hanyalah bentuk sensasi (aisthesis) antara sang Aku yang sedang melihat sang Engkau, yakni apel yang sedang jatuh. Namun, saat kita mulai berpikir—understanding—sebenarnya kita tidak lagi memberi kategori atas Aku-Engkau,  melainkan kita sedang memikirkan sebuah kerja dari logika itu sendiri: bagaimana sebuah apel bergerak jatuh, karena apa, bagaimana, seperti apa hantaman yang diterima, berapa joule yang diterima tanah saat apel menghantam tanah, jika dilihat densitasnya antara tanah dan apel siapa yang akan hancur. Semua itu adalah sistem logika. Maka, dengan demikian, saat kita memikirkan sesuatu, sejatinya kita sedang memahami sebuah kerja logika. Maka, jika kembali kepada premis raksasa Hegel, bahwa kita—sembarang bentuk fisis—adalah manifestasi dari akal murni (vernunft), dan ketika kita mulai berpikir dan memikirkan logika—yakni akal murni itu sendiri—maka sejatinya kita telah memikirkan mengenai diri kita sendiri, karena kita tercipta dari logika, dan dengan demikian kita sendiri telah memikirkan Roh Absolut itu sendiri. Kesadaran kesatuan, bahwa “sebenarnya aku sedang memikirkan diriku sendiri” adalah apa yang dimaksud dengan kesadaran-diri (selft-consciousness).

Sementara, kesadaran Roh atas dirinya jika ia terisolasi. Dengan demikian, sejarah akan diam, dengan demikian Roh Absolut tidak lagi mampu menyadari dirinya sendiri. Sementara, menurut Hegel, sejarah selalu ada dalam ruang yang memiliki kontras, dalam ruang penuh konfil. Konflik inilah yang disebut dialektika—saya menyebutnya sebagai konflik-kontradiksi-dialektis. Bahwa sejarah membutuhkan konflik yang bertentangan untuk dapat membangun, aufhebung. Dialektika Hegel berpusat pada sebuah gerak untuk ‘menjadi’ (werden). Kemenjadian ini mungkin dalam sebuah proses antara yang abstrak dilahap oleh dialektika.[1] Menurutnya, sejarah hanya dapat bergerak ketika sejarah menemukan anti-sejarah yang membuatnya berhenti. Kemandekan ini memaksa sejarah mengatasinya. Maka dengan demikian, lahirlah sejarah yang lebih maju, sebagai mana sistem monarki yang runtuh dan dibangun sistem demokratis.

Namun, saya perlu untuk menjelaskan alur bagaimana ketaatan terhadap negara merupakan bentuk kebebasan; dari mana sebuah negara? Negara merupakan pelembagaan atas konstruksi moral. Segenap manusia yang tak memiliki batas, akan menemukan kehancurannya sendiri dengan segenap kriminalitas dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan setiap individu: pemalakan, pemerasan, perampokan, pembunuhan. Masalah manusia yang kompleks, tanpa sebuah kesepakatan moral, akan terus membentuk kekacauan. Maka, sebuah kontrak sosial diperlukan untuk menetapkan segenap hukum, segenap aturan untuk mengatur kehidupan bersama. Menurut Hegel, dengan kembali pada premis utamanya, bahwa kita adalah manifestasi fisik logika—vernunft. Yang dalam sejarah, logika bergerak untuk menyadari dirinya sendiri melalui pikiran manusia. Maka, ketika manusia mulai menggunakan logika—vernunft­—nya untuk menyusun segenap kontrak sosial berupa tatanan hukum, secara langsung manusia tidak hanya menyadari akalnya, melainkan mel-reveal akalnya ke dalam bentuk fisik—fisik ini abstrak—yang berupa negara. Dalam kata lain, manusia melakukan eksteriorisasi logika ke dalam bentuk fisik-abstrak berupa negara. Di sinilah logika Hegel untuk menyatakan negara sebagai wujud dari logika itu sendiri. Maka, jika kita ajukan deduksi Hegel, maka kepatuhan atas negara adalah kewajiban dengan alasan, bahwa demikian itu merupakan bentuk kepatuhan kita kepada logika—vernunft. Namun, apakah kepatuhan terhadap negara juga bukan bentuk pembudakan kita atas mereka? Bagaimana jika dasar penyusunan tatanan hukum tidak didasarkan secara benar seperti moralitas-adat di Jawa? Saya kira saya tetap perlu menyusun alur lebih logis untuk ini.

Logika etis Hegel, menurut saya bermasalah. Bukan hanya perihal kontradiksinya dengan kebebasan, tetapi, menjadikan negara sebagai alasan-moral, atau dalam konteks ini adalah motif moralitas tidak masuk akal, bahwa kebebasan mutlak adalah saat kita mematuhi akal, sementara akal kita dimanifestasikan ke dalam negara. Artinya, menurut Hegel, keharusan ini datang karena kesatuan (unity) kita adalah roh absolut, dan membentuknya mejadi fisik, yakni sebuah negara. Menurut saya, keharusan moralitas kita ditumpukan kepada kemanusiaan. Artinya, manusia menjadi anchor, menjadi alasan bermoral kita. Mengapa? Jika tujuan Roh Absolut adalah menyadari dirinya, dari ketidaksadaran akan diri, memaksa dia membentuk bentuk fisiknya dari dirinya sendiri, maka, apabila manusia sebagai satu-satunya corong bagi Roh Absolut memahami dirinya sendiri hancur, bukankah sejarah akan lenyap dan dengan demikian Roh Absolut akan berhenti? Maka dengan demikian, kebebasan kita terletak pada kapasitas kreatif untuk menciptakan moralitas, namun dengan sebuah alasan yang jelas, yakni alasan manusiawi. Apa tujuannya? Jika meminjam Hegel, kita tidak akan mengkhianati Hegel, karena dengan demikian, kita menyelamatkan sang Roh Absolut mati.

Kedua, Heidegger dan Sorge. Saya kira, untuk membangun prinsip-prinsip moralitas yang humanis, kita memerlukan sebuah kebutuhan yang ‘harus’. Dalam ruang Heidegger, kata sorge sebenarnya merujuk pada autentisitas manusia sebagai Dasein-yang-ada-di-sana. Menurutnya, manusia yang ada-di-sana meniscayakan dua hal: kengerian (unheimlichkeit) dan kecemasan (angst), dan sebuah kesadaran akan sein-zum-Tode (ada menuju kematian). Kesadaran akan keresahan, baik karena terlempar dalam kebersamaan yang melahirkan angst maupun kesadaran akan keniscayaan kematian, memaksa manusia melahirkan sorge (kekhawatiran-kepedulian). Maksudnya, kekhawatiran-kekhawatiran manusia—akan kematian maupun ketakbergunaan—memaksa manusia mengatasinya dengan cara peduli. Kepedulian inilah yang saya maksud dengan keharusan yang harus untuk dilakukan.

Maka, jika kita buat sebuah premis: pertama, Nietzsche dan Hegel memiliki kesepakatan yang sama, bahwa kebebasan mutlak sejatinya mendorong manusia pada kekacauan—Nietzsche menyebutnya sebagai kekacauan dionysiak yang sama saja merasakan anggur kemabukan binatang tanpa batas, sementara Hegel menyebutnya hanyalah penghambaan kepada hawa nafsu. Kedua, kebebasan mutlak yang menyebabkan kekacauan akan menemukan bentuk ekstremnya berupa peperangan dan kepunahan. Ketiga, kepunahan manusia akibat dari kebebasan mutlak, akan membuat sejarah berhenti. Keempat, sejarah kita adalah gerak ekspansi maju Roh Absolut untuk menuju kesadaran dirinya sendiri. Kelima, hanya melalui manusialah yang memiliki daya berpikir untuk menyadari kesatuan kita dengan Roh Absolut melalui logika dalam bentuk pikiran. Keenam, maka, Roh Absolut akan berhenti memahami dirinya sendiri, karena hanya melalui manusia yang memiliki daya berpikirlah, manusia dapat menyadari kesatuannya dengan sang Roh Absolut. Ketujuh, kesadaran ‘memahami’—maksudnya adalah dalam tahap memahami kesadaran, karena ada dua istilah memahami di sini—itulah yang membuat kita ‘harus sadar untuk harus melanggengkan sejarah. Maka, dengan demikian, hanya oleh dan dengan manusialah Roh Absolut menyadari dirinya sendiri. Sementara, keresahan tersebut, yakni kengerian dan ketakutan kita atas kepunahan manusia adalah unheimlichkeit dan angst. Demikian ini, memaksa kita untuk melahirkan sorge (kekhawatira-kepedulian), yakni bentuk dari keharusan untuk tunduk pada moralitas yang manusiawi. Karena jika tidak, kebebasan mutlak yang akan membawa kita kepada kepunahan itu sendiri melalui kegagalan moralitas: sembarang kriminalitas, sembarang perpecahan, sembarang peperangan, dan akhirnya adalah sebuah kepunahan itu sendiri.

Maka, keharusan bermoral ini masuk akal. Keharusan bermoral kita tidak ditumpukan kepada bentuk negara, karena negara adalah manifestasi benderang dari akal, tetapi sebuah kebutuhan primordial, kita bermoral karena kita butuh melanggengkan sejarah bagi Roh Absolut. Mengapa lebih masuk akal? Karena menurut saya, argumentasi Hegel terasa tidak penting kecuali dalam ranah doktrin yang lain—agar seseorang mengikuti segala kehendak negara tanpa pandang bulu, walaupun Hegel membatasi mengenai negara dan yang bukan negara saat negara malah menjadi monarki elitis yang menguntungkan salah satu pihak.Sebagaimana di atas, jika immoralitas kita menyebabkan kepunahan, maka di saat yang sama—dengan selesaiannya peradaban manusia—Roh Absolut akan mati, berhenti untuk menyadari dirinya sendiri. Dengan demikian, kesadaran ini spesifik untuk kepedulian kita dalam membentuk moralitas disiplin demi manusia, tidak hanya bentuk ketundukan buta atas moralitas-adat. Tujuan adalah, mengembalikan bentuk manusiawinya, bahwa titik moralitas, adalah manusia itu sendiri. Bahkan, jika Hegel menyandarkan manusia pada Roh Absolut, maka Roh Absolut sendiri bertumpu pada manusia. Artinya, kepedulian kita tidak atas dasar ketundukan moralitas-adat, tetapi kesadaran karena kepedulian sorge kita atas sejarah sendiri, maupun manusia itu sendiri yang menjadi pikiran sejarah. Karena kita, sedang bermoral, UNTUK DIRI KITA SENDIRI sebagai konsekuensi kesatuan kita—bahwa sejatinya Aku-Engkau adalah Aku-Aku. Aku bermoral, karena Engkau adalah aku.



[1] Hegel menggunakan istilah yang berbeda untuk tesis-antitesis-sintesis; dalam Ilmu tentang Logika, Hegel menyebutnya sebagai ada-ketiadaan-menjadi. Sementara dalam Ensiklopedia Filsafat Ilmu, ia menulisnya secara kaku sebagai, abstrak (pemahaman—banal)-dialektika (naral negatif, yakni anti dai pemahaman)-spekulasi (nalar positif, apa yang dihasilakn dari peleburan antara pemahaman dan dialektika). Apa yang maksud dengan ada (Sein) adalah apa yang disebut Fichtean sebagai tesis; ketiadaan (nichts) sebagai antitesis; dan menjadi (werden) sebagai sintesis. Namun perlu saya tegaskan, bahwa gerak Hegel adalah gerak menjadi, di mana Ada, saat dia ditarik pada taraf paling ekstrem akan menemukan apa yang bukan-Ada (Ada-) sebagai ketiadaan—sebagai antitesisnya sendiri. Artinya, tesis dengan antitesis berasal dari asal yang sama, yakni tesis itu sendiri.

Komentar