Melampaui “Jenseits von Gut und Böse”: Seleksi Alam sebagai bentuk Moralitas Melampaui yang Melampaui
oleh: Muhammad Fathun Niam
Thanos telah dan selalu memusnahkan
setengah populasi di setiap planet yang ia kunjungi. Apa yang ia lakukan? Tentu
untuk mengontrol populasi semesta. Sumber daya yang terdapat dalam semesta kita
tidak akan mampu memenuhi setiap kebutuhan populasi. Itu adalah alasan masuk
akal, maka, bukakah alasan tersebut lebih bermoral daripada membiarkan populasi
terus meningkat dan menunggu alam secara mandiri menyeleksi populasi semesta.
Memangnya, apa yang terjadi jika populasi meledak sementara sumber daya alam
kita tidak mampu memenuhi populasi makhluk hidup lagi? Skenario terakhir adalah
kepunahan populasi, dan secara spesifik adalah umat manusia. Maka, bagaimana
jika kita tarik pada taraf yang lebih dekat dengan kita? Bagaimana jika Bumi
tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan kita?
Memang logika tidak berbanding lurus
dengan etika bahkan estetika. Namun, bagaimana jika kita uji tindakan Thanos,
dan saya akan ajukan sebuah pernyataan argumentatif lain mengenai sesuatu yang
dekat dengan kita tersebut; Bagaimana jika saya ajukan sebuah premis-etis, jika-pertama,
humanisme menuntut kita untuk meletakkan manusia sebagai segala ukuran termasuk
ukuran etis. Jika-kedua, over populasi menyebabkan habisnya
sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jika-ketiga, habisnya
sumber daya menyebabkan kepunahan, dan mengakhiri peradaban manusia untuk eksis.
Dan jika-keempat, sebuah peperangan menurunkan populasi, maka,
bukankah sebuah peperangan dan segala bentuk pembunuhan yang memungkinkan populasi
manusia terkontrol, akan memberikan peluang terhadap terkontrolnya sumber
daya, dan dengan demikian sumber daya tersebut masih dapat memenuhi
kebutuhan manusia, yang demikian artinya manusia masih mampu untuk
melanggengkan keturunannya adalah bentuk moralitas?
Kita mulai dengan, jika kita
sandingkan Nietzsche dengan Kant, maka kerja moralitas Nietzsche akan melampaui
kerja “tertutup” Kant yang ujungnya akan menciptakan “agama” baru, batas-batas
baru dengan segenap aturan imperatif kategorisnya. Tentu, Übermensch mampu
melampaui ide-ide universalitas, konstruksi-yang-nanti-universalis; demikian
jika dibandingkan dengan etika tanggung jawab Sartre sebagai respons lenyapnya
tubuh “Ilahi”, ketika Tuhan “hilang”, maka sembarang nilai-nilai absolut
hilang, yang menyisakan sebuah kenyataan akan “keterkutukan kita dalam
kebebasan tanpa batas”. Tentu, Sartre dalam taraf ini akan lebih mengerikan
dari narasi Übermensch yang mendobrak pintu-pintu moralitas-konstruktif, sementara
kebebasan Sartre akan benar-benar memberikan ruang kebebasan, tentu dengan
tanggung jawab besar. Namun, Nietzsche sebenarnya tidak benar-benar mengarah
pada moral utilitarian sebagai makhluk “antroposentris”, Übermensch
terlalu melampaui itu.
Perlu diingat, Nietzsche telah
melampaui konstruksi dan segala jenis antroposentrisme. Dalam pengejaran
Zarathustra, Übermensch bukan berdiri sebagai pembela manusia secara
utilitaris, tetapi berdiri sebagai dirinya sendiri. Berbeda dengan Kant, tentu
dalam antroposentrisme, tapi Übermemsch harusnya lebih mengerikan dari
itu; secara dangkal, ketika kita melupakan eksistensi kreatif yang diwacanakan,
maka Nietzsche akan terseret ke bentuk humanisme. Misal, Thanos. Apa yang
dilakukan Thanos bisa jadi dan memang baik untuk kehidupan, tapi masalahnya, Übermensch
tidak pernah mengejar kebahagiaan cité-cité melainkan hanya
dirinya sendiri.
Apakah kelahiran (reproduksi)
hanyalah satu-satunya jalan moral untuk melanggengkan spesies? Jika kita baca
sedikit bagaimana secara alamiah makhluk mengalami eliminasi, bahkan dalam bentuk
paling lampau, sebagai nenek moyang kita, yakni “Replikator”, eliminasi adalah
bagian terpenting “juga”, dalam melanggengkan spesies; jika kita menggunakan
konsekuensi Deontologi-etis Kantian, maka good will sebagai anchor-nya
akan ditusuk ke dalam tubuh ‘humanisme’, manusia menjadi batas moral,
terlebih dalam sabda-sabda Kantian mengenai imperatif kategorisnya. Namun,
konsekuensi kreatif Übermensch akan lebih mengerikan untuk diucapkan. Contoh,
kasus Thanos sebelumnya. Memang, saya gagal mengatakan bahwa pembantaian setengah
populasi adalah bentuk moralitas Kantian, karena kenyataan saya dibatasi oleh
batas humanisme, bahwa ukuran segala sesuatu adalah manusia. Maksud saya, jika
suatu tindakan berdampak pada kerusakan manusia, bahkan pada taraf individu,
maka suatu tindakan dikatakan immoral—keji.
Jika kita melampaui Kant dengan mengambil
ide—kebebasan roh anak kecil—Übermensch dan juga dengan mengawali premis
darwinisme, bahkan bisa dikatakan, pembunuhan dan segala peperangan adalah
bentuk moralitas natural yang sebenarnya dapat dikatakan secara deontologis
bahwa itu bermoral. Hal ini tentu dengan cacatan, melampaui kategorisasi antroposentris
Kantian dan menggunakan bayangan “jenseits” (melampaui) segala sesuatu.
Kenapa? Karena, baik seks maupun pembunuhan sebagai bentuk eliminasi demikian
juga peperangan mengerikan, bahkan hari ini sekalipun adalah sebuah cara
natural (genetis) untuk melanggengkan spesies. Inilah kenapa Übermensch
bisa lebih mengerikan, walaupun kenyataannya lebih mengerikan. Argumentasi ini,
sayangnya sama sekali runtuh dengan kenyataan bahwa Nietzsche memang melampaui
humanisme dan antroposentris. Moralitas Übermensch tidak mencari
moralitas umum atau moralitas untuk manusia, tetapi hanya untuk diri sendiri.
Namun, jika kita perhatikan dalam Sabda
Zarathustra, ketika Zarathustra bertemu dengan Santo, Zarathustra
mengatakan, “Aku mencintai manusia”. Pernyataan ini membatalkan argumentasi
saya sendiri, bahwa moralitas Nietzsche adalah moralitas yang melampaui
segalanya, yang berpusat pada diri sang Aku. Melampaui, sebagai jenseits
di sini, sebenarnya berdiri dalam ruang kreasi atau penciptaan nilai, bukan titik
pusat (anchor) dari mana moralitas di sandarkan: untuk siapa. Turunnya
Zarathustra sebagai idol, sebagai figur, pewarta, guru, memiliki tujuan
yang sama dengan tujuan Kant, bahkan mengapa suatu kontrak sosial perlu di
susun. Memang produknya, berbeda, namun Nietzsche masih melihat manusia sebagai
ukuran segala sesuatu; moralitas Nietzsche menilai suatu tindakan menyebabkan
manusia menanjak atau tidak, membuat manusia dapat menciptakan nilai sendiri
atau malah mengajarkan manusia menjadi unta. Jika suatu ajaran membentuk
manusia cinta untuk menjadi unta, maka tindakan tersebut immoral. Di sinilah
Nietzsche tetaplah seorang humanis, bukan mementingkan diri, kecuali diri
manusia yang menanjak. Maka, argumentasi saya di atas gugur, karena memaksa
agar penilaian melampaui sebagai sesuatu yang melampaui segalanya termasuk
melampaui humanisme. Artinya, pernyataan Nietzsche melampaui humanisme adalah
salah.
Dengan demikian, Nietzsche sendiri
tidak dapat memberikan argumen logis untuk membaca moralitas Thanos, kecuali
hanya sebuah keputusan yang terkesan eklektis. Saya harus memotong kehendak
baik Kantian, kebutuhan humanistik untuk melanggengkan manusia, melepaskan
kebebasan dari etika tanggung jawab yang masih terjerat dengan tanggung jawab
itu sendiri, serta harus mengangkat kebebasan moralitas Nietzsche yang
sebenarnya masih terikat dengan kebutuhan menyelamatkan manusia—dengan melalui
pengangkatannya. Namun, dari beberapa premis yang saya sebutkan, yakni
kebutuhan kemajuan sejarah, moralitas yang terikat dalam gerak maju sejarah,
mengingatkan kita dengan Hegel.
Lantas, bagaimana jika kita mengajukan Hegel?
Fenomenologi Roh merupakan upaya kesadaran Roh atas dirinya melalui sejarah
manusia, yang tidak lain, sejarah kita adalah sejarah ekspansi maju Roh untuk menyadari
dirinya. Bagaimana sejarah dapat bekerja? Tentu dengan adanya segala
dialektika-spekulasi, yakni kemenjadian-menjadi (becomingness-becoming),
karena kesadaran tidak dapat dialami dalam ruang yang mati, statis, isolatif.
Kita membutuhkan yang-bukan-kita untuk membaca diri kita sendiri. Seorang Hitler
yang berkuasa, yang ahli berorasi tidak akan menemukan dirinya demikian jika ia
ada dalam ruang yang kosong. Barat, tidak dikatakan superior jika dia tidak
menemukan anti-Barat—maka mereka menciptakan anti-Barat, yakni non-Barat untuk
mendefinisikan mereka siapa, yakni yang superior. Sebagaimana Nazi harus
membuat Arya dan non-Arya. Demikian ini, menyimpulkan satu hal, bahwa sejarah membutuhkan
kontras untuk bergerak.
Dialektika Hegel bekerja dalam
sebuah kemenjadian (werden) saat ada menjadi tidak ada. Pernyataan ini
akan terus berputar tanpa arah, maka saya akan jelaskan: gerak Hegel lebih
eksistensialistik yang membicarakan sebuah perubahan. Kata berubah adalah bentuk
yang memiliki makna progresif. A tidaklah bergerak, karena A
hanyalah yang kemudian dinegasi oleh B, yang menyebabkan lenyapnya A.
Apa yang terjadi setelah keduanya saat keduanya bertemu, adalah C, di
mana C adalah ‘menjadi’ (werden) spekulasi (spekulative). Saya
akan membawa contoh yang lebih jelas. Misalkan kita memiliki cat akrilik berwarna
kuning sebagai A dan warna biru sebagai B. Adanya B,
membuat lenyapnya A. Saat kita mencampurkan kedua warna tersebut,
perubahan itulah yang disebut die Dialektische atau negativ-vernünftige
(nalar negatif). Dan warna hijau adalah apa yang disebut spekulative (disederhanakan
sebagai sintesis). Namun, sangat perlu saya batasi, dialektika Hegel membawa
sebuah premis utama, yakni B adalah yang bukan-A, artinya A dan
B adalah hal yang—berasal dari asal yang—sama sekali sama. Dialektika,
adalah ketika A menemukan bentuk ekstrem dari dirinya sendiri, dan
inilah A- (buka-A). A- Inilah
yang akan melahap A itu sendiri, terjadilah aufhebung—menegasikan
bentuk A dengan A- dan membangunnya dalam bentuk lebih
tinggi.
Hegel menggunakan istilah yang berbeda:
dalam Ilmu tentang Logika ia menyebutnya ada-ketiadaan-menjadi,
sementara dalam Ensiklopedia Filsafat Ilmu ia menggunakan istilah lebih
rigid: abstrak-dialektika-spekulasi; cukup membingungkan untuk membacanya. Namun,
kita mulai dengan Ilmu tentang Logika: “ada” (sein)
adalah sebuah ada. Ada adalah bentuk abstrak yang non-predikat. Ia bukan sifat
yang memberikan pengetahuan akan sesuatu. Tidak ada bentuk dan sembarang
data-indrawi. Ia ibarat cahaya, tetapi tanpa tepi, tanpa distingsi antara
cahaya dengan yang non-cahaya di sekelilingnya. Ia bagaikan sebuah warna putih,
hanya warna putih. Apa yang tersisa? Hanya kekosongan. Sementara “ketiadaan”
(nichts) adalah kegelapan, warna hitam—dark absolut. Namun, “ketiadaan”
ini bukan benda diam, dia akan memberikan gerak sebagai konsekuensi dari “ada”
yang dilampaui—yang di atas saya sebut bagaimana A malah menemukan A-
dalam dirinya sendiri—yakni “ketiadaan”. Secara sederhana, dia,
yakni “ketiadaan” telah melakukan negasi atas “ada”. “Ketiadaan”
ini muncul saat kita memikirkan mengenai “ada”. Di momen inilah, “Ada”
sebagai warna putih, sebenarnya sama dengan warna hitam, atau cahaya itu sama
dengan ketiadaan cahaya, sama-sama kosong. Ketika pikiran kita memberikan kesimpulan
atas kekosongan “ada”, kita telah melakukan aufheben, pembatalan.
“Ada” adalah understanding,
berpikir, bentuk awal—Hegel mengkritik taraf berpikir terkadang membuat kita
berpikir ini final. Momen ketika kita memberikan kategori Rylean
terhadap benda-benda, memisahkannya: meja bukan kursi, kursi bukan sendok.
Namun, di dalam setiap kategori, sebenarnya menyimpan yang bukan kategori. Jika
kita andaikan “ada” adalah yang A maka dia memiliki potensi A-,
dan hasil penyatuan keduanya. Momen menemukan A- dari dalam A
inilah yang disebut “ketiadaan”, yakni momen dialektis ketika A dibatalkan
oleh A-. Dan momen keutuhan, fusion-yang-menjadi
inilah yang disebut “menjadi”. Menjadi bukan serta-merta benda ada
karena benturan keduanya, melainkan sebuah proses yang bergerak “menjadi”
untuk melampaui yang A. Hegel, menggambarkan proses ini seperti bunga. Bunga
diawali sebagai ‘biji’ yang memiliki potensi ‘bukan-biji’ (biji-).
Biji ini pecah mengeluarkan tunas. Tunas yang tumbuh merusak biji, namun tidak
benar-benar merusaknya, karena biji masih ada di sana. Tunas ini tumbuh menjadi
pohon yang mengeluarkan bakal bunga yang tertutup dalam kuncup. Kuncup pecah
dan mengeluarkan bunga. Pohon merontokkan bunganya untuk mengeluarkan buah. Yang
perlu diperhatikan, semua proses dialektis selalu dan akan selalu terjadi dari
dalam, bukan sebuah B yang ditempelkan dari luar. Inilah momen dialektis-spekulatif.
Jika kita mengedepankan Hegel, bahwa
sejarah adalah gerak maju menuju kesadaran Roh akan dirinya sendiri (self-consciousness),
dan sejarah membutuhkan penderitaan, yakni kontras untuk agar dapat maju—dengan
melalui dialektika di atas—dan kita ajukan tujuan moralitas yang melampaui
humanisme, yakni kelanggengan manusia itu sendiri, maka, apa yang dilakukan
oleh Thanos adalah bentuk yang moralitas walaupun dalam gambar yang immoral;
sejarah dalam dunia Thanos bergerak dalam kepenuhan populasi. Kepenuhan itu
menguras seluruh sumber daya, yang terjadi adalah kekacauan, dan kepunahan itu
sendiri. Untuk mengatasinya, Thanos menyatakan perang ke setiap planet yang ia
kunjungi, dan menghapus setengah populasinya. Apa tujuannya? Tentu keberlangsungan
sejarah. Saya akan membawa pada taraf yang lebih dekat. Jika suatu peperangan
membawa maju sejarah, maka peperangan itu diperlukan. Peperangan itu pada
akhirnya, tidak mampu dihindari dari sebuah gerak dialektis apa pun—kila loncati
bagian ini. Karena jika tidak, sejarah tidak bergerak, dan Roh Absolut akan
berhenti mengenali dan menyadari dirinya sendiri. Maka, saya tawarkan satu hal:
jika dunia telah sampai batas maksimalnya, sementara manusia sudah melampauinya,
dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia mandeg, apa yang
terjadi? Kepunahan. Saya tidak akan membicarakan konflik dialektis, karena
pertanyaan utama saya adalah, “jika kepunahan manusia terjadi, maka manusia lenyap,
maka berpikir hilang, maka dengan demikian sejarah berhenti sekaligus
keberhentian Roh absolut memahami dirinya sendiri”, bukankah kontrol atas
populasi dengan peperangan dan pembunuhan menjadi masuk akal?
Mungkin pertanyaan lain muncul, “bukankah
Thanos adalah dunia luar, maka peristiwa kita bukan sejarah-dialektis?” Maka, bukankah
Thanos, adalah bagian dari sejarah itu sendiri? keasingan Thanos hanya karena konsepsi
alien kita hari ini—di realitas kita. Kenapa kita tidak berpikir sebagai
Gamorah, putri Thanos yang dia ambil dari planet yang ia musnahkan? atau
seorang pria tua sekarat melihat Thanos, anak zamannya, anak peradabannya
menghancurkan setengah planetnya sendiri? bukankah Hegel sendiri menyatakan
bahwa kita pada akhirnya sama? Di tambah, Thanos bukan sebagai “ketiadaan”,
karena “ketiadaannya” adalah peperangannya. Peperangan itu menghapus
manusia. Lantas Thanos adalah yang berdiri mempertahankan sejarah, dia LAHIR
DARI KONFILKNYA SENDIRI—kenyataan dunia sudah terengah-engah dengan peperangan
kosmik. Thanos adalah Sang Tokoh Sejarah Dunia yang menjaga gerak maju sejarah.
Komentar
Posting Komentar