Upaya Dekonstruksi Kisah Nūḥ dalam Al-Quran: “Rekonstruksi Mustahil dan guna Mengidentifikasi Presuposisi-Epistemis Teks Al-Quran”

 oleh: Muhammad Fathun Niam


Presuposisi sebenarnya terbagi menjadi dua: presuposisi-doktriner (teologis) dan presuposisi-epistimis. Mungkin untuk mempersingkat, yang dimaksud presuposisi adalah asumsi awal (aksioma) sebagai bentuk pengetahuan awal (voverstandnis/pra-pemahaman). Tentu, doktrin-teologis merujuk pada aksioma dogmatis bersumber dari teks dogma. Sementara epistemis adalah asumsi latar belakang sebuah teks.

Kisah Nūḥ yang direkam oleh Bibel dan Al-Quran memiliki perbedaan yang cukup signifikan, bukan hanya konten atau pesan yang ingin disampaikan, tetapi juga beberapa alur dan informasi yang sama sekali berbeda. Sebagai asumsi awal, Bibel tidak bisa digunakan sebagai teks untuk melakukan rekonstruksi seluruh kisah dalam Al-Quran. Hal ini saya kira juga berkaitan dengan presuposisi-epistemis masing-masing kitab suci. Bagian ini, akan saya terangkan pada bagian kesimpulan nanti, dan kita bisa melakukan positioning terhadap teks kitab suci Al-Quran; ada beberapa perbedaan yang cukup jelas jika kita melakukan komparasi antara Bibel dan Al-Quran; dalam Al-Quran, kisah Nūḥ tidak diceritakan secara kronologis, bahkan minim sekali informasi historis yang termuat.

Al-Quran merekam Nūḥ sebagai Nabi yang membawa risalah tauḥīd yang terekam jelas dalam QS. 7: 59, 61, 62; QS. 23: 23; QS. 11: 26; Nūḥ menyuruh mereka (kaumnya) untuk bertakwa: QS. 26: 108, dan ia diulang lagi oleh Nuh: QS. 26: 110; QS. 71: 3, 25. Tuhan melarang mereka menyembah berhala-berhala mereka (QS. 71: 25), dengan membawakan kepada mereka—melalui Nuh—sebuah peringatan (QS. 71: 1, 2, 10) berupa azab. Akibat kedurhakaan kaum Nuh, mereka ditenggelamkan oleh Tuhan (QS. 7: 64; QS. 23: 33; QS. 29: 14; QS. 26: 120; QS. 37: 82; QS. 54, 9-12; QS. 71: 25, bahkan Nūḥ mengutuk mereka: QS. 71: 26). Kemudian, siapa yang diselamatkan oleh Allah? Mereka adalah orang-orang beriman yang masuk ke rumah Nūḥ (QS. 71: 28; QS. 23: 27; QS. 7: 64;), merekalah yang menerima risalah dakwah (ajakan) Nūḥ (QS. 11: 30; QS. 23: 23; QS. 26: 119; QS. 37: 79, 80, 81).

Kemudian, bagaimana dengan Bible? Pertanyaan yang saya kira akan selalu hadir dalam pembahasan cerita Nūḥ adalah: "kenapa Tuhan menenggelamkan manusia?" Atau, "apakah memang Tuhan menenggelamkan dunia (sampai tidak ada daratan dan bahkan tempat untuk hinggapnya burung-burung)?" Dalam Bible ada perbedaan yang cukup jelas mengenai jangkauan bah yang ditimpakan. Pertama, kenapa Tuhan menenggelamkan manusia? Karena Tuhan menyesal menciptakan manusia (Kej. 6: 6) dan mereka telah berbuat kezaliman, yakni manusia telah berbuat kerusakan seluruhnya (Kej. 6: 5, 11, 12, 13), oleh karenanya, Tuhan ingin melenyapkan seluruh makhluk (Kej. 6: 7, 13), dengan air bah (Kej. 6: 17). Dengan menenggelamkan seluruh kehidupan (Kej. 6: 7, 13), Tuhan hendak membuat kehidupan baru melalui Nūḥ yang diberkati Tuhan (Kej. 6: 8). Melaluinyalah, dunia hendak diubah dengan generasi kehidupan baru (Kej. 6: 18; 7: 1) dengan beranak pinak (Kej. 9: 1), baik manusia maupun binatang-binatang (Kej. 6: 7). Al-Quran juga secara jelas merekam bahwa Tuhan menyelamatkan binatang-binatang, yang dimasukkan secara berpasang-pasangan (QS. 11: 40), demikian juga Bibel (Kej. 6: 19-20, secara tekstual menyebut, agar Nūḥ membawa hewan-hewan itu berpasangan, jantan dan betina, agar nantinya beranak pinak).

Pakar Al-Quran mendapati perdebatan mengenai di mana air bah itu terjadi. Ada dua asumsi yang diperdebatkan oleh mufasir: pertama, air bah itu hanya menenggelamkan suatu tempat saja, yaitu tempat kaumnya Nūḥ berada. Kedua, beberapa mufasir beranggapan, bahwa air bah tersebut menenggelamkan seluruh dunia, entah dengan berlandas apa. Secara eksplisit, Al-Quran hanya memberi informasi bahwa Allah akan segera menenggelamkan mereka yang enggan untuk beriman (QS. 23: 27; QS. 11: 25, 26; QS. 26: 117; QS. 71: 10), merekalah yang masih terus berpegang pada kesyirikan mereka dan terus bermaksiat (QS. 23: 28, 29; QS. 11: 27, 36; QS. 71: 21, 24) dengan terus—membangkang pada perintah Nuh, yakni untuk ber-tauḥīd, tetapi mereka menolaknya (dengan melakukan tipu daya QS. 71: 22; mereka, kaum Nūḥ telah mendustakan para rasul yang datang kepada mereka: QS. 26: 105, 117) dan berpaling dari Nūḥ dengan—menyembah pada tuhan-tuhan mereka (QS. 71: 23), bahkan mereka menantang Nūḥ (QS. 7: 60; QS. 11: 32; QS. 71: 6, 7), sebagai bukti Nūḥ adalah orang yang benar (QS. 11: 32, 39).

Al-Quran tidak merekam apa pun mengenai seberapa banyak mereka yang tenggelam, kecuali bahwa Allah menenggelamkan orang-orang yang zalim, ingkar kepada risalah Nūḥ untuk beriman kepada Allah (QS. 7: 64; QS. 23: 33; QS. 29: 14; QS. 26: 120; QS. 37: 82; QS. 54, 9-12; QS. 71: 25)—untuk ber-tauḥīd. Artinya, bisa jadi Allah hanya menenggelamkan kaum Nūḥ yang enggan untuk beriman. Sementara dalam Tafsir—saya kira merujuk Tafsir bukanlah jawaban untuk mencoba melakukan rekonstruksi, demikian mungkin juga karena asumsi Tafsir tidak lain adalah asumsi apologetik—misal adalah Aţ-Ţabarī yang memunculkan berbagai riwayat, salah satunya riwayat dari Ḥusain bin Al-Faraj, bahwa Allah juga mengazab mereka yang tidak memiliki dosa. Berbeda dengan Al-Quran, Bibel dengan spesifik menyebutkan jika Tuhan menenggelamkan dunia seluruhnya (Kej. 6: 7, 13, 17).

Untuk mempermudah pembacaan, saya akan menguraikan kisah Nūḥ dalam Al-Quran secara kronologis dengan kembali kepada Al-Quran itu sendiri, serta mencantumkan ayatnya seperti di atas. Kemudian, saya akan secara kronologis mencantumkan kronologi Nūḥ dalam Bible. Dengan begitu, kita akan melihat distingsi konten dari kedua literatur tersebut, dan kita bisa memulai kerja komparatifnya; untuk melakukan rekonstruksi kronologi Nuh, agar mudah dibaca, saya akan menulisnya mengikuti kronologi Nūḥ yang dibacakan Al-Quran dalam QS. 11: 25-49, dan menghadirkan ayat lain sebagai pelengkap dan mengonfirmasi kelompok ayat ini (QS. 11: 25-49). Kelompok ayat QS. 11: 25-49 adalah teks nuansa (variasi) dialog Allah dengan Nabi saw., yang memerintahkan beliau untuk bersabar menghadapi orang-orang Mekah yang menolak beliau (QS. 11: 35, 49)

Dalam Al-Quran: Al-Quran merekam Nūḥ ketika dia menerima risalah, dia sebagai Nabi (QS. 23: 23; QS. 11: 25; QS. 7: 59; QS. 107; QS. 71: 1, 2; QS. 29: 14; 26: 107, 115; QS. 7: 61, 62) yang membawa peringatan kepada kaumnya untuk bertakwa kepada Tuhan yang Esa (QS. 11: 25; QS. 26: 106, 108, 110; QS. 23: 23; QS. 7: 59; QS: 71: 2, 3; QS. 7: 61). Hal ini mungkin karena kaum Nūḥ adalah penganut pagan—setidaknya Al-Quran merekam 5 berhala kaum Nūḥ (QS. 71: 23). Perintah itu datang bersamaan dengan peringatan berupa azab yang akan ditimpakan kepada mereka yang ingkar kepada perintah Nūḥ (QS. 11: 25, 26, 33; QS. 23: 27; QS. 26: 116, 117)—untuk beriman dan bertakwa kepada Allah dan kepadanya. Nuh, mulai dakwahnya (QS. 11: 28-31; QS. 26: QS. 71: 4, 5, 7, 10-20)—dakwahnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan ketika gagal ia melakukan secara terang-terangan (QS. 71: 8), dan kemudian ia melakukan keduanya (QS. 71: 9)—mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah (QS. 71: 1, 2, 3). Namun, kaumnya enggan menerima ajakan Nūḥ (QS. 26. 105; QS. 71: 6, 7, 21, 22). Allah memperingatkan hamba-Nya melalui Nuh, bahwa mereka akan ditimpa azab, mereka akan ditenggelamkan (QS. 7: 64; QS. 11: 37, 39, 40; QS. 23: 27; QS. 26: 129; QS. 71: 25). Kaum Nūḥ terus mendustakan Nūḥ (QS. 11: 32, 33QS. 54: 9, 10; QS. 23: 26), mereka selalu mempertanyakan, mengenai dia, bahwa kenyataan Nūḥ adalah manusia biasa, bukan malaikat (QS. 23: 24, 25; QS. 11: 27; QS. 7: 63).

Allah  menurunkan perintah agar Nūḥ membuat bahtera/kapal (QS. 11: 37; QS. 23: 27) dari papan dan pasak (QS. 54. 13). Di sanalah, Nūḥ mulai diejek oleh kaumnya (QS. 11: 28); tidak diceritakan berapa lama ia membuatnya, tetapi entah bagaimana, Aţ-Ţabarī menghadirkan riwayat yang mengatakan jika Nūḥ membuat kapal itu selama 400 tahun—Al-Quran tidak menyebut angka apa pun, kecuali umur Nūḥ adalah 950 (QS. 29: 14), entah itu seluruh umurnya, atau umurnya saat bah itu terjadi atau bagaimana, Al-Quran hanya menyebut “...Kami telah mengutus Nūḥ kepada kaumnya, lalu ia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir” (QS. 29: 14), dengan melihat ayat ini, artinya Nūḥ berumur bisa jadi lebih dari itu, dan peristiwa ini terjadi ketika Nūḥ berumur 950 tahun.

Ketika waktunya tiba—tidak dikatakan berapa lama Nūḥ membuat kapal, dan tidak disebutkan berapa lama waktu antara perintah membuat kapal dengan datangnya bah (azab yang dijanjikan Tuhan)—Allah memfirmankan kepada Nūḥ agar masuk ke dalam bahtera (QS. 11: 40), yakni adalah siapa yang masuk ke rumah Nūḥ (QS. 71: 28), yakni merekalah orang yang beriman, yang di dalamnya termasuk keluarga, hewan-hewan yang berpasangan, serta orang-orang beriman (QS. 11: 40; QS. 23: 27; QS. 7: 64; QS. 26: 119; QS. 37: 78-81). Al-Quran secara rinci tidak menyebutkan hewan apa, letaknya di mana, begitu juga dengan kapal yang digunakan oleh Nuh, kecuali kapal tersebut dari papan dan pasak (QS. 54: 13), tidak lebih dari itu. Al-Quran juga tidak menyebutkan siapa saja dari keluarga Nūḥ yang ikut bersamanya, kecuali mungkin termasuk bapak dan ibu Nūḥ (QS. 71: 28). Dalam QS. 11: 40, Al-Quran hanya menyebut “...kecuali hanya sedikit”. Lantas, ketika Tuhan membuka tanur, dan air mulai keluar darinya (QS. 11: 40; QS. 23: 27; QS. 54: 12) begitu juga dengan langit (QS. 54: 11) dan air mulai tampak meninggi, dengan seruan Nuh, semuanya naik ke kapal dengan memuji Tuhan (QS. 11: 41; QS. 23: 28-30). Di saat itulah air mulai menenggelamkan orang-orang zalim (QS. 23: 27; QS. 29: 14; QS. 26: 120; QS. 37: 82), termasuk anak Nūḥ (QS. 11: 42, 43, 46) yang termasuk dari mereka—yang enggan mendengar seruan Nūḥ (QS. 23: 27; 7: 64). Anak Nūḥ diceritakan jika dia durhaka, dan memilih untuk pergi ke gunung (QS. 11: 42-43).

Dalam kelompok ayat ini (QS. 11: 25-49), Al-Quran loncat saat ketika air mulai surut atas perintah Allah (QS. 11: 44). Bahtera Nūḥ kemudian berlabuh di gunung Judy (QS. 11: 44). Kisah Nūḥ dalam kelompok ayat ini (QS. 11: 25-49) ditutup dengan permohonan ampun Nūḥ kepada Tuhan (QS. 11: 45-49); Al-Quran tidak menguraikan apa pun mengenai nama anak Nūḥ yang durhaka—sebagian teks mengatakan jika dia adalah Kan’an, sementara dalam Tafsīr -Ţabarī memuat terdapat riwayat yang menguraikan jika anak Nūḥ itu bernama Yam—Al-Quran hanya menyebutnya dengan kata ganti orang ketiga tunggal (QS. 11: 42), dan Nūḥ tidak menyebut nama anaknya, dia hanya memanggilnya dengan “yā bunayya” (wahai anakku). Namun Aţ-Ţabarī memberi komentar mengenai siapa yang ikut bersama Nuh, bahwa Aţ-Ţabarī mengatakan jika kita tidak berlebihan, dan melampaui batas dari apa yang Allah firmankan, bahwa siapa yang naik bersama Nūḥ adalah mereka yang beriman, sebagaimana firman-Nya, “...kecuali hanya sedikit” (QS. 11: 40). Aţ-Ţabarī juga mengutip riwayat dari Ibn ‘Abbās yang secara rinci juga menceritakan tentang Allah menciptakan dua hewan lain dalam kapal, yakni: kucing yang diciptakan Allah dari singa, ketika memerintahkan Nūḥ untuk mengusap ekor singa tersebut karena tikus menggerogoti tali-tali yang ada di dalam kapal; dan babi yang diciptakan dari gajah ketika Allah memerintahkan Nūḥ untuk mengusap ekor gajah tersebut agar babi-babi tersebut memakan kotoran di sana. Namun, Al-Quran tidak memberikan informasi apa pun kecuali apa yang kami himpun di atas.

Jika kita kembali kepada riwayat-riwayat yang dihimpun oleh Aţ-Ţabarī, dan juga Al-Qurţubī, banyak sekali narasi-narasi yang memiliki kesesuaian dengan narasi yang dibawa oleh teks Bibel. Yang menjadi masalah adalah, narasi-narasi tersebut tidak bisa dikonfirmasi oleh Al-Quran, sebab Al-Quran hanya memberikan sedikit informasi kronologis Nuh; penulis mencoba untuk menulis teks kisah mengenai Nūḥ yang ada dalam teks Bibel secara kronologis. Saya rasa, Bibel memiliki perhatian kronologis dengan mengisahkan teks cukup detail dari pada Al-Quran yang lebih terfokus pada pesan dakwah tauḥīd.

Dalam Bibel: Bibel setidaknya memulai dengan populasi manusia yang terus bertambah dengan berkembang-biak (Kej. 6: 1-4; Kej. 9: 1, 2, 9). Namun terjadi banyak kerusakan sebab kejahatan yang dilakukan oleh manusia kala itu (Kej. 6: 5, 11, 12, 13). Lantas Tuhan merasa menyesal telah menciptakan mereka (Kej. 6: 6, 7), Tuhan kemudian ingin melenyapkan seluruh makhluk hidup (Kej. 6: 13, 17)—baik manusia, binatang-binatang baik yang melata dan burung-burung di udara (Kej. 6: 7, 19, 20; Kej. 7: 21)—dengan air bah yang sangat besar, yang akan menenggelamkan seluruh makhluk di muka bumi (Kej. 6: 17). Tuhan berencana mengubah dunia melalui Nūḥ yang Dia berkati (Kej. 6: 8; Kej. 9: 1, 2), sebab Nūḥ tidak termasuk dari mereka yang telah berbuat kejahatan (Kej. 6: 9). Lantas Tuhan memerintahkan Nūḥ untuk membuat bahtera (Kej. 6: 16). Bibel secara jelas menguraikan bagaimana Nūḥ harus membuat kapalnya, yakni: Nūḥ membuatnya dari kayu ghofir (Kej. 6: 14). Kapal tersebut harus memiliki panjang 300 hasta, dengan lebar 50 hasta, dengan tinggi 30 hasta (Kej. 6: 15). Kemudian ia harus menutup kapal tersebut dengan pakal—semacam bahan untuk menutup sambungan kapal—dan dibuat berpetak-petak (Kej. 6: 14)—dan memberinya penutup (atap), dan pintu di lambung kapalnya, serta membuat kapal tersebut dengan memiliki tiga bagian (tiga tingkat) (Kej. 6: 16).

Tuhan mewartakan, bahwa Ia akan menenggelamkan bumi dengan air bah (Kej. 7: 4)—Bibel menyebutkan jika umur Nūḥ (ketika peristiwa banjir) di sini adalah 600 tahun (Kej. 7: 6), dan pasca kejadian itu, Nūḥ masih hidup 350 tahun (Kej. 79: 28). Tuhan memerintahkan agar Nūḥ dan keluarganya (Ibr. 11: 7): istri, tiga anak Nūḥ beserta istri mereka masing-masing—Bibel merekam jika yang ikut dengan Nūḥ ada delapan (8) orang (1 Ptr. 3: 20), yakni istri Nuh, ketiga anaknya, yaitu Sem, Ham, dan Yafet beserta istri mereka masing-masing (Kej. 7: 13)—agar mereka segera masuk “...ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu...” (Kej. 7: 1, 7, 16). Tuhan juga memerintahkan agar Nūḥ membawa binatang (Kej. 7: 14) dan makanan ke kapal secara berpasangan (jantan dan betina) (Kej. 7: 8, 9, 15)—bahkan Bibel secara eksplisit merekam perintah Tuhan kepada Nuh, agar Nūḥ membawa seluruh binatang, di antara binatang tersebut adalah yang tidak haram sebanyak tujuh pasang; sementara di antara binatang yang haram adalah satu pasang (Kej. 7: 2), demikian juga dengan burung-burung (Kej. 7: 3, 14)—demikian agar hidup terpelihara (Kej. 6: 20). Kemudian, Tuhan menurunkan air dari langit, dan mengeluarkan air dari bumi (Kej. 7: 11, 12, 19, 20), dan dunia diliputi olehnya (Kej. 7: 10)—air terus keluar selama empat puluh hari empat puluh malam (Kej. 7: 12).

Tuhan menenggelamkan seluruh bumi (Kej. 7: 17, 18, 19, 20, 24)—selama seratus lima puluh hari (Kej. 7: 24)—bahkan tidak ada tempat untuk burung-burung bertengger dan hinggap di daratan mana pun—sebab air sudah menenggelamkan gunung-gunung (Kej. 19, 20). Air menenggelamkan mereka selama 150 hari (Kej. 7: 24), dan seluruh makhluk telah binasa (Kej. 7: 21-23). Setelah 150 hari, Tuhan menghembuskan angin, menutup mata air serta tingkap-tingkap langit dan air turun—surut (Kej. 8: 1, 2, 3). Bahtera Nūḥ berlabuh di Ararat (Kej. 8: 5). Air itu terus surut selama beberapa hari (40 hari) (Kej. 8: 5, 6)—ketika Nūḥ melepaskan seekor burung merpati, ia akan mendapati burung tersebut membawa sehelai daun zaitun, dan saat itulah Nūḥ tahu jika air yang ada di atas bumi sudah mulai berkurang (Kej. 8: 11). Untuk melihat apakah air benar-benar surut, dan siapa yang ada di bahtera dapat turun, Nūḥ melepaskan seekor burung gagak (Kej. 8: 6, 7). Setelah itu, Nūḥ kembali melepaskan seekor burung merpati, namun burung tersebut kembali lagi kepada Nūḥ (Kej. 8: 8, 9). Sampai suatu hari (minggu kedua), ketika Nūḥ melepaskan burung merpati, burung tersebut sudah tidak kembali lagi (Kej. 8: 12), artinya Nūḥ dan keluarganya dapat turun dari kapalnya (Kej. 8: 13, 17, 18, 19). Kemudian Nūḥ mendirikan mazbah (Kej. 8: 20). Pasal ini (Pasal 8), ditutup oleh Tuhan yang tidak akan mengutuk bumi lagi (Kej. 8: 21; Kej. 9: 9, 10, 11, 12).

Tuhan mulai untuk mengembalikan hidup di dunia dengan menumbuhkan tanaman-tanaman (Kej. 9: 3)—Bibel juga memberikan hukum agar tidak memakan hewan yang masih terdapat darah di dalamnya (Kej. 9: 4, 5). Tuhan memerintahkan Nūḥ untuk mengembalikan kehidupan di bumi dan beranak pinak (Kej. 9: 7, 19). Dan Nūḥ hidup selama 950 (Kej. 9: 28, 29). Teks ditutup dengan kisah Nūḥ dengan anak-anaknya (Kej. 9: 18-28)—Sem, Ham, dan Yafet, sementara Kanaan adalah nama anak Ham (Kej. 9: 18, 19, 22).

Dalam kitab Kejadian, Bibel tidak memperlihatkan konflik-polemis (penolakan) terhadap ajaran lain—Al-Quran secara eksplisit menyebut jika kaum Nūḥ adalah kaum pagan (QS. 71: 23), dan tidak menunjukkan upaya Nuh—sebagaimana risalah kenabiannya untuk menolong kaumnya dengan memberi peringatan (QS. 23: 23; QS. 11: 25; QS. 7: 59; QS. 107; QS. 71: 1, 2; QS. 29: 14; 26: 107, 115; QS. 7: 61, 62)—untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan mereka karena durhaka (menyembah Tuhan selain Allah) (QS. 11: 26; QS. 26: 106, 108, 110; QS. 23: 23; QS. 7: 59; QS: 71: 2, 3; QS. 7: 61), sebagaimana yang dimunculkan dalam Al-Quran. Bibel, malah menunjukkan ideal Tuhan untuk membersihkan manusia dan seluruh makhluk yang lain (Kej. 6: 7, 17), sebab dari kedurhakaan mereka, manusia telah berbuat kejahatan di muka bumi (Kej. 6: 5, 6). Al-Quran tidak memberikan informasi mengenai Tuhan yang memang menenggelamkan bumi sebagaimana yang diwartakan oleh Bibel (Kej. 6: 13, 17; Kej. : 4, 12, 24). Bibel secara eksplisit menyebutkan siapa saja yang diselamatkan Tuhan dengan naik ke kapal Nuh: Tuhan memerintahkan agar Nūḥ memasukkan keluarganya (Kej. 6: 18; Kej. 7: 1, 13): istri, tiga anaknya beserta istri mereka masing-masing (Kej. 7: 13). Dalam 1 Ptr. 3: 20 dan Ibr. 11: 7, Bibel secara eksplisit menyebut berapa manusia yang ikut naik ke kapal Nuh, yakni mereka, keluarga Nūḥ yang berjumlah delapan orang (termasuk Nuh)—artinya, hanya keluarga Nūḥ saja yang selamat. Berbeda dengan Al-Quran yang tidak menyebut secara pasti siapa yang selamat “...kecuali sedikit...” (QS. 11: 40), atau dalam teks lain bisa jadi yang termasuk selamat adalah bapak dan ibunya (QS. 71: 28). Al-Quran juga menyebutkan jika anak Nūḥ termasuk orang-orang yang durhaka kepada Tuhan (QS. 11: 42, 43). Dalam teks lain, Al-Quran juga menyebutkan secara jelas bahwa istri Nūḥ adalah termasuk orang-orang yang membangkang sebagaimana juga istri Lūţ (QS. 66: 10).

Namun, memang ada beberapa kesamaan informasi yang disampaikan oleh kedua kitab suci ini, seperti: perintah Tuhan atas Nūḥ untuk membuat kapal—Al-Quran hanya sebatas menyebut agar Nūḥ membuat kapal dari papan dan pasak (QS. 54: 13), sementara Bibel menjelaskan secara rinci dari apa (kayu gofir) dan bagaimana Nūḥ harus membuat kapalnya (Kej. 6: 14)—sebab Tuhan berencana untuk menenggelamkan seluruh manusia (Kej. 6: 13, 17; Kej. : 4, 12, 24).)—sementara Al-Quran hanya menyampaikan bahwa Tuhan akan menenggelamkan orang-orang yang tidak beriman (QS. 7: 64; QS. 11: 37; QS. 23: 27; QS. 26: 120; QS. 71: 25); Tuhan memerintahkan agar Nūḥ membawa binatang-binatang berpasangan (QS. 23: 27; apa yang dibawa oleh Nuh, Bibel merincikannya, Kej. 6: 7, 20; Kej. 7: 2); Tuhan menurunkan air dari langit, serta memerintahkan bumi untuk mengeluarkan air dari dalam dirinya (QS. 23: 27; QS. 11: 40; QS. 54: 11, 12; Kej. 7: 10, 11, 17, 18 24). Dan Nūḥ turun dari kapalnya, setelah air menenggelamkan mereka (QS. 11: 42, 44; Kej. 8: 1, 2, 3, 13-18)—ada perbedaan di mana Nūḥ berlabuh, Bibel menyebut jika Nūḥ berlabuh di Ararat (Kej. 8: 4), sementara Al-Quran mengatakan jika Nūḥ berlabuh di Judy (QS. 11: 44).

Masalahnya adalah, beberapa pakar Al-Quran kerap kali mencoba melakukan rekonstruksi sejarah (merekonstruksi kisah), misal adalah Nūḥ dengan merujuk pada teks di luar khazanah Islam—maksud saya, sumber yang bisa kita jadikan sebagai bahan rekonstruksi harusnya hanya Al-Quran dan Hadis, sebab teks yang sedang dibicarakan adalah Nūḥ dalam Al-Quran, bukankah pada akhirnya kita hanya bisa merujuk Al-Quran? Sering kali ditemukan teks tafsir yang mengutip narasi-narasi Biblikal (isrī’īliyāt) dengan alasan untuk melakukan rekonstruksi sejarah—sebagai pelengkap, atau yang menyempurnakan. Telah dipahami bahwa Al-Quran bersikap polemis (menolak) ketika berhadapan dengan agama lain hal ini kita lihat dalam kritikannya terhadap agama-agama lain—agama Nasrani, Yahudi, dan Majusi. Kita mengakui, jika narasi yang dibawakan Bibel telah diubah (QS. 5: 59, 60, 72, 73; QS. 2: 75, 76), artinya, kita juga sama sekali menolak teks-teks yang ditawarkan Bibel—bahwa Bibel tidak sesuai dengan ajaran Islam. Namun, kenapa ada inkonsistensi ketika berhadapan dengan tema kisah? Bagaimana bisa dengan mudahnya para pakar mengakui teks-teks isrī’īliyāt? Apakah hanya karena ingin memvalidasi kebenaran figur yang dibacakan oleh Al-Quran saja? Artinya, teks-teks yang lahir di hadapan kita hari ini hanya berhenti sebagai teks doktrin-teologis (pragmatis) semata, jauh dari kata ilmiah sama sekali?

Bisa kita lihat misal dalam tafsirannya Aţ-Ţabarī dan Al-Qurţubī yang memuat banyak sekali narasi Biblikal. Sebab, terdapat sebagian narasi yang diuraikan oleh riwayat-riwayat yang disebutkan di sana, yang dapat dikonfirmasi oleh Al-Quran. Misal dalam tafsiran Aţ-Ţabarī yang memuat beberapa riwayat yang tiba-tiba mengatakan detail yang sebenarnya memang tidak ada dalam Al-Quran, seperti: penciptaan kucing dan babi; nama anak Nuh, sebagian teks menyebut nama Kanan, dan yang lain adalah Yem; terdapat dua riwayat yang berlawanan mengenai keluarga Nuh: pertama riwayat dari Bisyr, Ibn Wakī‘, Ibn Hasan bin ‘Irfa, dan Al-Qāsim dan beberapa riwayat yang lain, yang menyebutkan bahwa yang ikut bersama Nūḥ adalah keluarganya yang berjumlah tujuh orang, dan anak-anak Nūḥ adalah Sem, Ham, Yafet, termasuk istrinya Nuh—padahal Al-Quran tidak menyebut istri (kedurhakaannya disebut oleh ayat lain, QS. 66: 10), dan anak Nūḥ juga durhaka (QS. 11:  42); kedua, riwayat yang menyebutkan jika anak, dan istri Nūḥ termasuk mereka yang durhaka (demikian adalah apa yang memang disebutkan oleh Al-Quran). Di sisi lain, Al-Quran hanya menyebutkan satu anak Nūḥ yang durhaka, dan tidak menyebutkan perihal istri, dan anak-anak lain seperti yang diuraikan oleh Bibel (Kej. 6: 10; Kej. 7: 13 Kej. 9, 18; 1 Ptr. 3: 20; Ibr. 11: 7).

Kebanyakan riwayat yang dibawakan oleh Aţ-Ţabarī, banyak yang sesuai dengan informasi Biblikal, seperti: umur Nuh, yang dalam Al-Quran cukup jelas, bahwa dia bersama kaumnya selama 950 tahun, kemudian, mereka dilanda oleh banjir besar (QS. 29: 14), sementara Bibel menyebut jika saat peristiwa banjir itu melanda, umur Nūḥ adalah 600 tahun (Kej. 7: 6), dan kemudian melanjutkan hidup selama 350 tahun (Kej. 9: 28), dan ia wafat ketika mencapai umur 950 (Kej. 9: 20); lama pembuatan kapal; dalam riwayat lain juga menyebut nama anak-anak Nuh: Sem, Ham, Yafet, sementara informasi ini adalah informasi Biblikal; 150 hari; berita perihal merpati dan daun zaitun yang menandakan bahwa air telah surut. Banyak sekali tambahan yang diberikan, dengan catatan, bahwa tambahan-tambahan tersebut tidak mampu divalidasi oleh Al-Quran.

Dari apa yang saya uraikan, saya kira, perbedaan yang terdapat dalam dua teks tersebut menunjukkan adanya perbedaan presuposisi-epistemis yang diajukan oleh kedua teks, baik Bibel dan juga Al-Quran. Hal ini dapat dilihat pada penekanan Al-Quran dalam mengajukan nilai-nilai dakwah/ajakan pada ke-tauḥīd-an (QS. 11: 25; QS. 26: 106, 108, 110; QS. 23: 23; QS. 7: 59; QS: 71: 2, 3; QS. 7: 61). Sebagaimana di atas, secara spesifik Al-Quran menunjukkan sikap polemis (penolakan) atas konsep politheisme kaum Nuh, yang secara jelas Al-Quran menyebut 5 berhala mereka (QS. 71: 25). Sementara, Bibel tidak memuat informasi apa pun mengenai polemik (penolakan) kitab suci—maksud saya adalah polemik (penolakan) secara dismisif—atas konsep ketuhanan manusia sebagai audiensi Nūḥ kala itu. Bibel hanya menyinggung kedurhakaan manusia berupa kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh umat manusia seluruhnya (Kej. 6: 5, 6); Saya kira, perdebatan Nūḥ dalam Al-Quran mengenai beberapa hal memang seharusnya tidak ada—apakah Tuhan zalim karena menenggelamkan seluruh makhluk atau sebenarnya Tuhan hanya menenggelamkan sebagian tempat saja (tempat kaum Nūḥ berada). Secara jelas, teks tidak mengatakan jika Tuhan menenggelamkan seluruh dunia, sebab teks (QS. 11: 26; QS. 26: 106, 108, 110; QS. 23: 23; QS. 7: 59; QS: 71: 2, 3; QS. 7: 61) hanya mengatakan bahwa Tuhan menenggelamkan mereka yang durhaka (menyembah kepada selain Allah)

Jika kita perhatikan secara kronologis, kenyataan bahwa Bible turun lebih awal dari pada Al-Quran, tentu di sini Al-Quran membawa ide Biblikal untuk menyampaikan ide Quranik-nya (presuposisi-epistemisnya), yang bisa kita lihat bahwa Al-Quran sering kali mengulang teks perihal ajaran ke-tauḥīd-an (ke-Esaan Tuhan) (QS. 7: 59, 61, 62; QS. 23: 23; QS. 11: 26; QS. 26: 108; QS. 26: 110; QS. 71: 3). Saya akan ajukan satu asumsi, secara genealogis, kita bisa melihat kebiasaan Al-Quran, yang membawa ide-ide audiensinya. Misal dalam tulisan saya sebelumnya perihal ‘Dekonstruksi Jannah dalam Al-Quran’, kata Jannah dipilih sebagai konsep surga bukan tanpa alasan, tetapi karena audiensi Al-Quran adalah orang Arab itu sendiri, yang secara geografis hidup di tengah-tengah padang gurun. Dalam teks lain, kerap kali Al-Quran menggunakan terma-terma perdagangan dalam teks-teks (ayat-ayat) eskatologi; dalam teks ini (kisah Nuh), Al-Quran yang membawa risalah ke-tauḥīd-an, dan saai itu Al-Quran turun pada ruang paganisme, yang berhadapan dengan kaum pagan (penyembah berhala)—yakni orang-orang Mekah. Bisa jadi, Kisah Nūḥ dalam Al-Quran adalah variasi dialektika mitos yang diberikan oleh Al-Quran dalam menyampaikan ide tauḥīd, maka teks sering kali mengulang narasi-narasi larangan durhaka, syirik pada Tuhan (menyekutukan Allah) (QS. 11: 26; QS. 26: 106, 108, 110; QS. 23: 23; QS. 7: 59; QS: 71: 2, 3; QS. 7: 61). Artinya, Al-Quran meminjam kisah-kisah orang-orang terdahulu, yang dekat (memang sudah dikenal) oleh horizon Arab untuk membawa ide epistemik Quranik berupa ke-tauḥīd-an. Begitu juga mengapa kisah-kisah isrī’īliyāt, yakni kisah-kisah tradisi semitik diajukan oleh Al-Quran, sebab mungkin memang orang Arab dekat dengan kisah-kisah semitik; kelompok ayat QS. 11: 25-49, sebenarnya berbicara mengenai dialog Nabi saw., dengan Tuhan—melalui teks—agar Nabi saw., saat itu terus bersabar (QS. 11: 35, 49) sebagaimana nabi Nuh menghadapi kaumnya, yang terus mendapatkan cemoohan, bahkan terus ditantang oleh kaumnya.

Melakukan rekonstruksi ayat kisah, guna melakukan genealogisasi-kronologis terhadap figur-figur historis dalam Al-Quran adalah kerja yang sama sekali mustahil dan sia-sia. Kenapa? Sebagai kenyataan, Al-Quran tidak peduli dengan kisah-kisah yang dia bawakan. Al-Quran bukan kitab sejarah, yang secara kronologis mengisahkan figur-figurnya, tetapi ada satu epistem yang sebenarnya ingin ditonjolkan oleh Al-Quran. Kita bisa melihat, sering kali Al-Quran tidak menyebut figur yang sedang dibicarakan dengan jelas: terkadang hanya nama tanpa ada keterangan lain; menggunakan kata pengganti orang ketiga tunggal (dia). Kita tidak memiliki informasi apa pun perihal kisah-kisah dari Al-Quran kecuali Al-Quran itu sendiri. Jika pun Nabi menyinggung kisah itu, saya kira, informasi tersebut bisa jadi menjadi informasi tambahan, tetapi di luar itu, mustahil teks-teks lain, yakni misal adalah Bibel menjadi bahan untuk melakukan rekonstruksi kisah dalam Al-Quran. Saya kira, saya juga tidak sendirian. Sayyid Quţb menganggap, bahwa informasi mengenai kisah adalah Al-Quran itu sendiri. Kita sepakat, bahwa Injil telah mendapatkan perubahan, dan dianggap tidak lagi sesuai, lantas kenapa dalam hal ini kita bisa menggunakan teks isrī’īliyāt? Kita akan kehabisan waktu untuk melakukan penelitian terhadap teks kisah dan melakukan validasi teks tersebut sampai pada taraf sebagai fakta historis; Suka tidak suka, Bibel dan Al-Quran memuat konten yang sama berbeda, misal adalah kisah Nuh. Ada perbedaan yang bahkan cukup signifikan seperti alasan Tuhan menenggelamkan dunia, ke mana Nūḥ berlabuh, dan siapa yang ditenggelamkan Tuhan, sebagaimana apa yang telah kami uraikan secara singkat di atas.

Inilah pengantar, bagian dari teks besar saya, sebuah proyek masa depan bagaimana kita membaca Al-Quran. Asumsi yang harus berani ditelan adalah, mengakui bahwa Al-Quran tidak merekam kisah sebagai fakta historis. Sayang sekali, teks ini lahir dari inspirator kami, revisionis yang memang mengharuskan kita berpikir pelan-pelan, bukan membabi buta. Apakah revisionis tidak membabi buta? Mereka, sama saja! tapi, dengan membiarkan mereka berbicara, kita bisa melakukan rethinking atas kitab suci kita, sebenarnya, apa gunanya dia? Bukankah dia adalah huda? Dan kita telah kehilangan dia, sang huda! Maka, dengan mengakui bahwa Al-Quran bukan kitab sejarah, dan menyisihkan sementara teks kisah bukan sebagai fakta-historis, kita akan lebih banyak ruang untuk meresapi pesan yang sedang dibicarakan oleh teks. Dalam kasus Nuh, Tuhan ingin membawa ide tauḥīd dalam ruang pagan, maka kisah Nūḥ diangkat dengan mengedepankan nilai tauḥīd-nya. Apakah artinya kisah Nūḥ dalam Al-Quran adalah teks mitos (fiktif)? Bukankah dengan kenyataan bahwa Al-Quran sangat distingtif dapat menunjukkan presuposisi-epistemis Al-Quran? (tentu dengan saya menjawab “iya!” akan membawa permasalahan teologis sendiri); saya tahu, musuh saya adalah penganut martil kredo! Bukankah QS. 11: 49 sudah jelas?

Sebagai satu renungan: daripada kita pusing dengan siapa Dzulkarnain—apakah dia manusia cacat yang memang memiliki tanduk (Aţ-Ţabarī), atau apakah dia Alexander Agung, atau raja Persia (Cyrus), atau seorang raja bergelar Dzu—sebagaimana tawaran Richard Netton, bahwa Dzulkarnain adalah figur hero, sebaga sosok teladan bagaimana manusia menjadi hero (manusia bermoral); begitu juga dengan memahami siap itu Ya’jūjj wa Ma’jūjj—entah dia adalah makhluk barbar yang cacat, atau keturunan orang Turki, atau dia adalah tentara Mongol (Ibn ‘Āsyūr)—mengapa kita tidak memahami bahwa Ya’jūjj wa Ma’jūjj adalah figur anti-hero, sebagaimana Ţaba‘ţaba‘ī yang memahami bahwa Ya’jūjj wa Ma’jūjj adalah manusia itu sendiri. Artinya, Ya’jūjj wa Ma’jūjj adalah figur anti-hero yang harus ditinggalkan: menjadi manusia buruk, bahkan sampai-sampai dibenci oleh orang lain. Kenapa kita tidak memahami, bahwa ayat sedang berbicara sesuatu, dalam contoh Ya’jūjj wa Ma’jūjj adalah agar kita tidak menjadi dia, yang suka merusak, membuat ulah, membuat kejahatan, sampai merugikan dan menjadi teror bagi orang lain (tetangga sendiri, mungkin). Dari pada kita hanya fokus, dan membuang banyak waktu untuk mencari di mana tembok Zulkarnain, dan di mana sosok Ya’jūjj wa Ma’jūjj. Kenapa kita tidak merenunginya sebagai idol bagi kita? Idol di sini maksudnya adalah figur sebagai contoh (figur teladan).

Komentar