[Menggugat Agama]: “Menjadi Agamis adalah Jalan Menjadi Orang Malas (Ide Tentang Meninggalkan Dialektika-Mitos)”
oleh: Muhammad Fathun Niam
Tulisan ini bukan sebuah hipotesa, bahkan saya harus menurunkannya
pada taraf yang lebih rendah daripada asumsi (aksioma): mungkin juga hanya
sebatas bentuk dari akrobat intelektual saja; saya kira, sumber dari sikap ‘taken
for granted’ kita selama ini adalah konsekuensi dari tradisi
transmisi intelektual agamis mengingat penduduk muslim menjadi mayoritas di
Indonesia. Tradisi talqin, yang saya kira ingin saya katakan sebagai
transmisi doktriner yang memang mengharuskan orang menelan apa adanya si
‘sesuatu’ itu. Tanpa kita boleh mempertanyakannya, dan membiarkan
‘sesuatu’—sebagai proposisi tersebut—bebas dari mata sang ‘pencuriga’. Bagaimana
jika proposisi doktriner dicurigai, maka seseorang akan mendapatkan evaluasi
dan dianggap menyimpang (sesat)—dari keumuman sebagai penganut agamis. Dengan
kata lain, seseorang akan dianggap kufur, atau bahkan dihina sebagai kaum ‘zindiq’
hanya karena misal mencoba mengkritik agamanya sendiri—memiliki pandangan
metodologis yang berbeda dari keumumannya.
Dengan membaca Nietzsche, Nietzsche ingin mengatakan jika sikap ‘taken
for granted’ sebenarnya sebagai gambar (fenomenon) dari yang namanya
sikap hipertrofik. Lebih sedikit jauh, Nietzsche curiga bahwa sikap hipertrofik
lahir dari sikap dekaden (kemerosotan), yaitu karena manusia mengidap
‘kebutuhan akan percaya’, berupa “kebutuhan akan pegangan”. Sikap hipertrofik,
mungkin bisa dipahami sebagai sikap mati-matian membela suatu isme yang
dipegang. Mungkin gejalanya sama dengan ketegangan yang dialami otot, yang
kondisi ini dinamai hipertrofi; saya tidak dekat dengan praktik politik, bahkan
saya juga tidak memiliki minat apa pun dalam dunia politik. Tetapi, ada banyak
kesempatan, sering kali saya berdialog dengan salah satu teman, yang mungkin
bisa dikatakan cukup dekat dengan dunia politik, walaupun tidak langsung. Dalam
beberapa kesempatan, pertanyaan yang sama-sama kami ajukan adalah gejala
fanatisme-hipertrofik para pendukung parpol: “mengapa mereka bisa fanatik?
Bahkan mati-matian membela ‘idol’-nya (baca: berhala) padahal secara logika,
pernyataan si ‘idol’ memang salah”. Gejala ‘pembengkakan persepsi’ ini,
sebenarnya dapat kita lihat dalam banyak ruang kita, tidak harus ruang agamis.
Dalam kasus yang lebih common, kita dapat melihat bagaimana
seorang penganut kredo mati-matian membela doktrin agamisnya: sebagai contoh, seseorang
yang tidak terima dengan kesimpulan para revisionis yang berhenti pada argumen
bahwa Islam lahir pada era Umayah (Malik bin Marwan), dan Al-Quran
terkanonisasi di abad 9 masehi. Dengan segala cara, umat Islam kebanyakan (saya
mengecualikan para akademisi) mengutuk pendapat itu, dan menyerang (mengkritik)
dengan mengajukan kesimpulan-kesimpulan yang ditolak oleh metodologi
revisionis. Artinya, penolakan tersebut tidak melihat kerja genealogis
revisionis. Begitu juga dengan kenyataan, sebuah argumen mengenai Al-Quran yang
kita terima “bermasalah”. Sekali lagi, kita tidak mencoba meruntuhkan
argumentasinya, tetapi yang dilakukan malah menyerang argumentatornya. Gejala
inilah yang disebut Nietzsche sebagai hipertrofik, mereka menjelma sebagai
(palu) martil yang siap memukuli seluruh kepala yang berbeda (pendapat)
dengannya.
Ketika agama dikritik, maka akan muncul narasi, “pendapatmu salah!
Kamu dosa!” Gejala semacam ini sama sekali tidak hanya ditemukan dalam ruang
polemik agamis, melainkan pada banyak diskusi. Dalam ‘The Gay Science’
Nietzsche menggambarkan sains sebagai sebuah “cite”, yakni kota
berbenteng. Sebuah kota, yang jika orang masuk, maka harus melewati setiap
pengawasan polisi cite. Itulah sains, yang selalu ‘curiga’. Masalahnya adalah,
kecurigaan itu tidak diberikan pada warga cite—warga saintifik. Maksud Nietzsche,
“mengapa jika asumsi lain (anggap saja pelancong yang ingin masuk cite) harus
digeledah, bahkan dilucuti—bahwa pengetahuan apriori, misal sebut saja keimanan
harus direndahkan dengan diturunkan sebagai asumsi—sementara kenapa warga cite
tidak? Di mana, apa pun kerja sains, menurut mereka pasti ‘benar’ dan tidak
perlu dipertanyakan lagi. Inilah logosentris, yang ke depannya akan saya sebut
dengan gejala ‘sentris-morfis’: misalkan, bahwa kebenaran harus korespondensi,
yang tidak korespondensi artinya salah. Itulah hiperteofis logosentris. Dan
dari sana, gejala anti-kritik mewabah, menjangkit manusia dalam ruang yang
lebih luas. Pertanyaan yang sama, “mengapa mereka demikian?”
Nietzsche entah kenapa berhenti pada, "sebab mereka manusia yang
selalu memiliki kebutuhan akan pegangan," sebagaimana yang dia gambarkan dalam ‘The
Gay Science’ aforisme 125—Anda dapat membaca uraian saya di tulisan
sebelumnya mengenai Avatar Aang; Apakah mitos adalah semua hal yang ‘gaib’?
Maksudnya adalah sesuatu hal yang ‘unseen’ atau “unsensible”
yaitu tidak teraih oleh pancaindra? Saya ingin memberikan positioning
terhadap mitos. Mitos bukan lagi perihal dongeng-dongeng, melainkan sebuah gejala
mistika. Mitos bisa menjadi simtom, gejala untuk sesuatu yang semisal
dengan dongeng, yang imajinatif, atau cerita-cerita kreatif. Dengan demikian, mitos
di sini adalah cara berpikir ‘model’—seperti orang yang berpikir akan
hal—mistis. Artinya, mitos adalah kegagalan atau ketidak mampuan kita dalam membuktikan atau menjelaskan fenomena. Kita bisa pahami, secara sederhana, orang bisa menuduh, menghakimi
‘suatu’ fenomena dengan cara pikir pseudotik, dengan cara berpikir yang
singkat, misal mengatakan bahwa fenomena itu karena setan, adalah satu ciri
orang yang berpikir mitos; dialektika-mitos, istilah ini, saya samakan dengan
apa yang kita kenal dengan istilah logika-mistika Tan Malaka.
Rasionalisasi tanpa sikap curiga, atau skeptis tanpa refleks
sebagai seorang ‘pencuriga’, mereka benar-benar hanya akan terjebak dalam nalar
rasionalisasi absurd, nyeleneh, ngawur. Misal, mendengar sebuah suara ketika di
rumah sendirian, suara itu benar-benar terdengar seperti burung berkicau,
sementara tidak ada burung di rumah. Kemudian pelaku hanya melakukan
rasionalisasi, “ah mungkin itu memang burung, atau hewan lain!?”, tanpa
melakukan validasi—menguji secara empiristik—asumsinya. Di sanalah dia sudah
terjebak dalam ruang mitos—dialektika-mitos. Karena si pelaku hanya
mengedepankan asumsi-spekulatifnya, yakni kita dapat menyebutnya sebagai
keimanan (kita kenal dengan nama, ‘percaya’). Gejala semacam ini adalah simtom
yang dapat kita temui dalam berpikir apriori. Masalahnya, dalam kerja apriori
adalah pengedepanan ‘percaya’ berupa asumsi-spekulatif yang diimani (sangat
diimani—gejala doktriner) secara arbiter.
Beberapa waktu lalu, terdapat satu perdebatan mengenai film
kontroversial, “Dirty Vote” yang tayang berdekatan dengan hari
pemilihan, bahkan tayang (publish) pada masa tengang pemilu—yang nota
bene tidak boleh ada kampanye. Saya tidak akan membicarakan mengenai isi
tayangan tersebut, melainkan mengenai gejala ‘mistika’ di sana. Sebelum itu,
saya ingin membatasi kata ‘gejala mistika dan dialektika mitos’ sebagai gejala
pikir mitos yang cenderung simplifikatif dan terkesan males: di mana dialektika
mitos menunjukkan gejala keengganan orang dalam melakukan pengujian asumsi, dan
pengujian hipotesis untuk mencapai kebenaran validatif apakah asumsi dan
hipotesanya benar atau tidak; dalam banyak portal berita, dan akun-akun media
masa akan kita temui perdebatan dalam kolom kementar mengenai “pertanggung
jawaban argumen yang disampaikan pembicara dalam film dokumenter tersebut”.
Mereka yang ‘pro’ dengan argumentasi ‘Dirty Vote’ selalu hanya selesai dengan narasi,
“mereka adalah dosen; ahli hukum, bagaimana mereka bisa salah, dan bagaimana
bisa argumentasinya diragukan?” Singkatnya, narasi tersebut selesai dengan
membiarkan argumentasi berdiri dan selesai dengan beriman kepada para pembahas.
Masalahnya adalah, sikap kita yang tidak mau untuk memberikan perhatian
‘curiga’ dengan melakukan validasi terhadap data, argumen, logika argumen yang
diberikan oleh pembahas, dan kita memilih untuk menjadi manusia beriman dengan
percaya pada gelar dan profesi mereka.
Saya akan menunjukkan gejala lain dalam ruang yang paling banyak
gejala ini, dan saya rasa, gejala mistika bersumber dari ruang ini, ruang
agamis. Ketika saya mencoba mengatakan, jika dalam tafsir Aţ-Ţabarī terdapat
banyak sekali narasi-narasi Biblikal ketika berbicara mengenai Nūh dan Ādam. Pertama,
ketika kita berbicara mengenai Nuh Al-Quran, kita tidak akan menemukan beragam
informasi yang entah secara tiba-tiba dimunculkan oleh At-Tabari: nama anak
Nuh; bentuk kapal Nuh; berapa kapal dibuat; narasi Tuhan menenggelamkan seluruh
makhluk yang kemudian mendapat komentar, jika mereka yang mati padahal bisa
jadi beriman, itu adalah kehendak Allah, padahal secara jelas Al-Quran hanya
mengatakan bahwa Allah menenggelamkan mereka yang durhaka—baca uraian saya dalam
tulisan saya yang lain mengenai Nuh kronologis; berapa lama Nuh dan kaumnya
terapung-apung di atas banjir, yang semua itu adalah narasi Biblikal. Dalam
kisah Adam, At-Tabari menampilkan kisah-kisah Biblikal mengenai ular;
penciptaan Hawa dari rusuk Adam; Hawa yang digoda ular; Hawa sebagai sebab
perempuan mentruasi sebagai bentuk hukuman Hawa. Sekali lagi, itu adalah narasi
Biblikal. Namun sayang, komentar dan kritik pada argumen mengenai informasi
Biblikal yang banyak dikutip dalam tafsir mendapat satu kritik yang lain.
Mereka beranggapan, bahwa (1) narasi yang diambil At-Tabari adalah ‘israiliyat’,
yakni kisah-kisah yang dibawa oleh Ahli Kitab yang masuk Islam, (2) adalah
figur At-Tabari sendiri sebagai penafsir (exeget) yang dinilai
memiliki otoritas.
Dua argumentasi semacam itu adalah bentuk sikap hipertrofik: apakah
dengan kenyataan seseorang adalah profesor, doktor, dosen, yang nota bene
mereka adalah para ahli menjadi teks otoritatif tanpa sanggahan? Apakah hanya
karena riwayat yang dibawakan At-Tabari berupa “riwayat” yang memuat perkataan;
“hadasana (diceritakan kepada kami); akhbarana (dikabarkan kepada
kami)” menjadi satu validasi pendapat tersebut bisa benar—walaupun teks saya
mengenai ini memperdebatkan (mendisusikan) sikap inkonsiten kita terhadap teks
agama lain, bahwa kita polemis tetapi hanya karena berupaya memvalidasi figur
Nabi agar kronologis dan dianggap benar kita meminjam narasi lain yang
sebenarnya memiliki berbedaan presuposisi dan perbedaan cerita, di sisi kita
polemis (menolak) dengan menganggap bahwa Bibel telah dirubah? Bukankah pada
akhirnya mereka tetap memiliki kepentingan? Artinya, sikap yang sebenarnya
harus selalu lahir adalah sikap ‘curiga’: “apakah argumentasi tersebut benar?”
Maka dengan itu, kita harus mencoba melakukan validasi atas argumentasi
tersebut.
Menjadi manusia Nihilis (pencuriga) sebagai seharusnya menjadi
jawaban bagaimana kita harusnya hidup dalam ruang post-truth (post-struktualis),
atau sebenarnya nihilisme-lah yang melahirkan post-truth? Saya
kira, kita jauhi dulu nama-nama Nietzsche, Heidegger, Rorty, Foucault, Derrida,
dkk., melainkan kita serap saja keadaan di sekeliling kita hari ini. Di tengah
kemudahan ‘sharing’ informasi, dihadapkan dengan ‘banyak-sekali’
informasi. Masalahnya, informasi itu sulit, atau lebih tepatnya kita harus
mengeluarkan efort lebih untuk mencerna ‘suatu’ tersebut agar sampai
pada taraf “sebagai sebuah kebenaran”, terlebih ketika informasi satu yang sama
mengatakan A, dan informasi yang lain mengatakan B.
Saya rasa, nihilisme, mungkin menjadi satu solusi hidup di tengah
kenyataan kita yang terjebak dalam “Budaya Komentar”. Menjelmakan menjadi para
‘neo’ sofis-nihilis (sofis-nihilis baru) yang dihinakan. Banyak orang
menganggap, nihilisme inilah yang melahirkan neo-sofis, atau kaum sofis baru,
yang akhirnya dan terus menerus mengaburkan ‘kebenaran’. Sebagaimana sebuah
pertanyaan, “jika pemikir saja telah kehilangan ‘kebenaran’—sebagai konsekuensi
era Nietsche, bahwa tidak ada lagi yang namanya absolutisme kebenaran
(kebenaran absolt)—lantas ke mana lagi para awam mencari kebenaran? Sementara
‘idol’ sebagai harapan satu-satunya mereka sudah tidak lagi memiliki
kebenaran”. Tapi, saya rasa sikap curiga itulah yang menjadi satu ‘sense’ yang
memang diperlukan. Saya ingin mencoba untuk mengatakan, bahwa menjadi seorang
nihilis bukan berarti menjelma menjadi para sofis; sementara para agamawanmu
itulah para sofis yang bersembunyi dibalik topeng-topeng mereka!.
‘Budaya Komentar’? Ibu Karlina Supelli menggunakan istilah itu
untuk menunjukkan budaya ‘troll’ yang nanti diterjemahkan oleh beliau sebagai
‘setan gundul’—mungkin karena troll juga gundul. Kata ‘troll’ adalah kata slang
untuk menunjukkan sikap orang-orang yang suka berkomentar yang mengganggu—dalam
hal ini adalah asal komentar. Budaya komentar ini, lahir dari kemudahan
teknologi yang dapat dengan mudah diakses siapa pun. Dan saat itulah, orang
mampu membuat komentar yang ia suka. Tidak peduli, apakah komentar itu
menyakiti orang lain atau tidak. Di sisi lain, kemudahan akses, membuat orang
dengan mudah menyebarkan apa pun. Apakah mereka peduli dengan kebenaran? Itulah
yang menjadi masalah, ketika kita menjelma menjadi troll yang ternyata juga
terjebak dalam dialektika-mitos yang enggan melakukan kerja analitis untuk
mencari tahu apakah informasi yang kita dapatkan benar atau tidak.
Namun, sebagai sebuah fakta—fakta sendiri sebenarnya memang hanya
bentuk (manifestasi—gambar) interpretasi-perspektif dari sebuah fenomena yang
menampakkan diri (phanesthai) di hadapan kita—transmisi intelektual
kita, nyatanya tidak memiliki fokus perhatian pada upaya genealogis berpikir,
atau alur berpikir. Hal ini bisa kita lihat dalam pendidikan kita: tradisi
intelektual agamis lah, yang saya rasa ikut andil dalam pembentukan persepsi
asumtif, bagaimana kita berpikir. Sebagai penganut kredo, tidak lain penyampaian
pendidikan agama selalu akan berkutat pada urusan ‘iman dan takwa’. Maksudnya,
narasi tersebut bukanlah narasi yang dibentuk sebagai bahan berpikir—kecuali
untuk memikirkan kebenaran-kebenaran teks (kitab suci, bahwa kitab suci selalu
benar). Dapat kita pahamai ketika agama berdialog secara akademis, bukankah
banyak narasi dialogis ditolak hanya karena narasi-narasi dialogis (teks
ilmiah) tersebut tidak sesuai dengan doktrin kebanyakan? Kita dapat mendengar
narasi semacam itu dalam khotbah-khotbah para agamawan. Bukankah pada akhirnya
penjelasan-penjelasan yang diutarakan akan berhenti sebagai narasi kebenaran
pragmatis? Bukan hanya itu, bahkan dalam pendidikan kita, kita bukan anak-anak
yang diajari bagaimana berpikir melalui soal, bagaimana kita memahami logika
suatu rumus, tetapi kita hanyalah anak yang dituntut untuk dapat menjawab soal,
dan akhirnya muncul ‘cara cepat’ bagaimana cara menjawab soal. Tentu, sudah
sangat jelas bagaimana kita tidak diajari untuk berpikir, melainkan diajari untuk
dapat menjawab soal, agar lulus, dan bisa bekerja. Pertanyaannya, apakah selama
ini pendidikan kita peduli dengan “bagaimana cara berpikir yang benar”?
Padahal, hal yang paling penting adalah memahami bagaimana logika soal bekerja,
bahkan juga bagaimana logika dari suatu rumus bekerja.
Pertanyaan saya selanjutnya, “apakah ada yang namanya: ‘kajian
ilmiah Al-Quran’ (misal)?” bukankah pada ujungnya narasi yang dibawakan adalah
narasi aologetik, yang ujung-ujungnya adalah “untuk meningkatkan iman dan
takwa”? Cara berpikir mitos adalah sebuah penampakan (phenomenon) dari
kemalasan orang berpikir secara genealogis, runut. Entah, segampang apa kita
mengaitkan suatu fenomena dengan hal mistis timbang berpikir kemungkinan yang
lebih humanis—dengan konsekuensi lebih panjang, ketimbang sekedar mencari
kambing hitam, yakni ‘setan’: lebih mudah menganggap ‘suara-suara’ di tengah
hutan sebagai ulah setan ketimbang mencari tahu—ketimbang kita membiarkan
asumsi mitos (males) untuk berhenti sebagai asumsi-spekulatif, kadang orang
lebih memilih untuk menceritakan asumsinya, dan berubah menjadi narasi cerita
horor yang kemudian dipercayai. Segampang itu, ya? Lebih praktis (dalam hal ini
maksud saya adalah efisien, singkat), kita berpikir hujan adalah tangis dewa
ketimbang berpikir logis (ilmiah) mengenai sebuah fenomena yang memang rumit
untuk dijelaskan—karena memiliki jalan yang rigor (ketat/kaku). Bukankah dengan
mengetahui femomena, manusia lebih bisa memanfaatkan sebuah fenomena, bahkan
bisa berbuat lebih.
Misal. misal mengenai bagaimana siklus hujan, kita mampu membuat
hujan buatan, dsb. Dengan tahu, bahwa
hujan adalah fenomena fisika, maka kita tahu bagaimana mengontrol siklus hujan,
atau bahkan mengontrol terjadinya penguapan. Sementara, berpikir mitos akan
mendorong kita pada kacamata buta, malas: yakni adalah fatalisme
fanatis-hipertrofi. Hasilnya, ketika mengharapkan hujan, manusia mitos hanya
bisa memandang ke atas, berharap dewa menangis dan mengasihi mereka. Artinya,
berpikir mitos, akan melahirkan sikap fatalis, sikap malas karena tercebak pada
realitas absurd (tidak jelas apakah realitas itu riil atau delusif). Misal,
fenomena di Arab ketika raja Abdul Aziz yang mampu menyatukan wilayah Arab.
Namun wilayah itu adalah wilayah gersang, wilayah itu hanya memiliki 0.9% lahan
yang dapat dijadikan lahan pertanian. Hingga suatu hari, Saudi menemukan
cadangan minyak berlimpah. Saat itulah Saudi bertransformasi menjadi negara
yang super kaya. Masalahnya bukan di situ, melainkan adalah narasi dialektika mitos
yang muncul, bahwa agamawan menganggap kekayaan yang didapat bangsa Arab adalah
karena karunia Tuhan, sebab bangsa Arab senang bersedekah.
Beranjak kepada gejala berpikir agamis; satu tradisi intelektual
Islam (yang dibawa oleh orang Arab) melahirkan teks-teks ‘qawaid’ yang
menjebak kita dalam kekolotan tekstual-konservatif. Tradisi intelektual Silam
adalah deduktif, yang mengumpulkan fragmen-fragmen pengetahuan dan membentuknya
sebagai suatu teks kaidah-kaidah, dan menyelesaikannya dalam bentuk teks rigor
(kaku). Itulah kita, kita menjelma menjadi manusia dogmatis. Terjebak dengan
teks, dan kolot, atau kita mengenal istilah itu dengan istilah konservatif.
Orang agamis hanyalah manusia pengidap penyakit hipertrofik. Pembengkakan
perspektif itulah yang menyebabkan manusia-manusia dogmatis berubah menjadi
para martir yang siap memukul kepala musuh-musuhnya.
Ketika berbicara mengenai etika, antara etika filosofis dan agamis,
seorang menggugat saya hanya karena argumen yang saya tawarkan tidak berpihak
pada agama, dalam hal ini adalah argumentasi saya tidak sesuai dengan
doktrin—sebagaimana kritik Ibn Hisyam ketika melakukan syarah terhadap teks Ibn
Ishaq yang dianggapnya membawa narasi-narasi yang merendahkan Nabi saw., (tidak
sesuai dengan dogma), bagaimana figur seorang Nabi ‘seharusnya’. Anggapan lain
lahir, bahwa saya mencoba menyudutkan agama; alih-alih agama—maksud saya adalah
doktrin agamawan, saya rasa agama menyuruh hambanya untuk berpikir, setidaknya
itu uraian Abduh—mengajak umatnya berpikir, ia hanya menyuruh kita menelan
nilai-nilai kostruktif absurdnya (dogma); ketika seorang Ustadz berceramah, bahwa
bohong adalah dosa, ia mengkhianati premisnya sendiri dengan mengatakan bahwa
bohong bisa dilakukan ketika kita terjebak. Agama hanya bisa berkata,
"ma'fu" (dimaafkan) ketimbang berpikir dinamis, sebab dia mengira
bahwa kebenaran adalah absolut. Bukankah kita memiliki ‘good will’?
Bukankah selama ini agama tidak pernah mengajarkan kepada kita
dinamisme berpikir? Artinya, agama, dalam hal ini adalah doktrin kita selama
ini tidak mengajarkan kepada kita bagaimana cara berpikir runut, dengan
demikian kita mampu berpikir pada taraf logis. Dengan logika, setidaknya kita
selalu terbiasa untuk ‘curiga’. Namun selama ini, kita malah dijadikan sebagai
objek untuk meletakkan ideal-ideal penguasa agama—ingat istilah ‘kehendak untuk
menguasai’ dan ‘kehendak eksis’ Schopenhaur? Pada akhirnya, manusia martir yang
disebut ‘umat’ akan mulai memukuli kepala lawannya hanya karena perbedaan
ideologi yang dianut ‘idol’ (berhala—dalam hal ini adalah figur)-nya: berbeda
manhaj, golongan, mazhab, bahkan ironisnya adalah hanya karena berbeda majelis,
orang bisa bertengkar. Apakah salah ketika saya menuduh mereka pengidap
hipertrofik dan fanatisme? Kita hanya diajarkan mengenai: A adalah A, dan B
adalah B. Sementara, hidup tidak demikian, banyak variabel yang harusnya tidak
diabaikan; Kita bagaikan kanvas yang dicemari oleh tinta orang lain (idol
kalian). Kita adalah budak, yang dipaksa menelan nilai-nilai tersebut. Mereka,
para idol (berhala) tidak melihat kita sebagai manusia itu sendiri, yang ‘dasein’.
Terakhir, sebagai salah satu keresahan saya dalam menyusun teks
ini, sekaligus menjawab pertanyaan mengenai pragmatisme, agama, dan cacat
pikir; saya akan membatasi pragmatisme di sini adalah
pragmatisme-epistimologis, yakni salah satu teori kebenaran dalam epistimologi:
pragmatisme. Pragmatisme adalah salah satu teori dalam epistimologi yang
berfokus pada upaya validatif bagaimana
suatu pernyataan disebut benar dan salah dengan mengembalikannya pada
kebermanfaatnya. Artinya, kebenaran pragmatis sebenarnya tidak lagi memiliki
perhatian akan ‘kebenaran’, sebab apa yang dia lihat bersikap sentis-morifis,
bagaimana sesuatu itu membawa manfaat: artinya ketika ‘sesuatu’ itu membawa
manfaat, maka ‘sesuatu’ tersebut di nilai benar; dalam salah satu kasus ketika berdebat
mengenai Attaturk, orang Islam Indonesia menganggap berita bahwa makan Attaturk
bau, sebab dia dikutuk Tuhan karena dia mengubah azan—dari bahasa asalnya,
bahasa Arab—menjadi bahasa Turki. Ketika ditanya, apakah berita itu benar,
orang menjawab hanya dengan kata “tidak tahu”. Ketika kita mencoba menjelaskan,
mereka akan terus ngotot. Kemudian menjawab bahwa informasi tersebut ia dengar
dari seorang ustaz, dan dia mencoba memperkuat sumbernya dengan mengatakan jika
ustaz tersebut seorang profesor. Pada akhirnya, narasi debat ditutup dengan
teks doktriner, bahwa kenapa narasi tersebut diucapkan, agar kita mengambil
hikmahnya, agar kita tidak sekuler. Sayang, narasi tersebut menunjukkan
ketidakpedulian kita dengan kebenaran. Semua itu memiliki tujuan untuk
meningkatkan iman dan takwa, selama narasi itu dapat meningkatkan iman dan
takwa, maka narasi tersebut sah. Itulah pragmatisme. Kita akan terus terjebak
dalam narasi apologetik, dan itulah teks-teks kita. Saya ingatkan, tafsir tidak
akan pernah beranjak sebagai teks apologetik, ia tidak mampu menjadi teks
ilmiah. Ujung-ujungnya, tafsir memiliki presuposisi epistemis untuk
meningkatkan iman dan takwa, narasi ilmiah yang dihadirkan hanyalah sikap
eklektis: mana teks yang mau saya ambil karena sesuai dengan kitab suci, dan
mana yang saya buang karena tidak sesuai dengan kitab suci, sebab teks tersebut
malah menunjukkan kesimpulan yang malah berlawanan.
Pertanyaan terakhir saya, saya akan mengulangi pertanyaan saya yang
saya ajukan di atas sebelumnya, “apakah hanya karena dia adalah seorang
agamawan, apa yang ia sampaikan adalah kebenaran?” bukankah karena dia seorang
agamawan kita harus mempertanyakan argumentasinya? Apakah karena dia seorang
profesor, seorang doktor kita bisa menuduh argumentasinya pada taraf kebenaran?
Kebiasaan taklid semacam inilah yang menjangkit kita. Kita menjadi
manusia malas! Sepertinya kita terlalu malas untuk melakukan kerja analitis
untuk menguji fenomena. Setidaknya untuk pelan-pelan membaca sebuah berita, dan
tidak berakhir menjadi ‘troll’, atau ‘setan gundul’. Pada akhirnya, sikap
semacam ini akan dimanfaatkan oleh banyak orang. Saya di atas menyebut bahwa
agamawan lah kaum neo-sofis itu. Bukankah kita sering kali melihat bagaimana
agamawan menjual agama mereka?: menjual air doa, menjual jimat, menjual tasbih
untuk keberkahan, menjual doa, dsb. Dan satu hal lagi, sikap hipertrofik adalah
sikap khas. Foucault kagum dengan muslim, sebab dengan habitus kitalah, muslim
mampu digerakkan. Ingat 212? Atas nama Tuhan, orang-orang Islam mampu diubah
menjadi hewan-hewan buas yang siap memangsa lawan dari sang ido (berhala
mereka)--maksud saya adalah agamawan mereka.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar