[Dekonstruksi]: “Setan adalah Sikap Durhaka sebagai Sebab Kemurkaan Tuhan atas Adam”
oleh: Muhammad Fathun Niam
Jika Iblis dikeluarkan dari surga tepat setelah Adam diciptakan (QS. 7:
13)—secara kronologis, Allah menciptakan Adam (QS. 7: 11; QS. 2: 30), dan
menyuruh mereka (siapa yang ada di hadapan Allah) untuk bersujud kepada Adam
(QS. 7: 11; QS. 2: 34; QS. 20: 116), namun Iblis menolaknya (QS. 7: 12; QS. 2:
34; QS. 20: 116), saat itulah Tuhan menurunkan Iblis (QS. 7: 13) dari surga,
artinya Iblis turun setelah Tuhan menciptakan Adam—kemudian kenapa Iblis bisa
menggoda Adam? Sebagaimana ‘kelakuan’—kebiasaan—tafsir kita selama ini, kita
menelan mentah-mentah informasi Biblikal sebagai upaya rekonstruksi kisah:
bahwa Iblis menjelma sebagai ular (Kej. 3: 1-5), sebagaimana uraian Ibn
Abbas—saya akan ikut mengomentari, jika apa yang dia katakan terkesan
pseudotik. sementara Al-Quran tidak memberikan penjelasan apa pun. Bagaimana
jika saya tawarkan: bahwa Adam dibuang dari surga adalah sebab kedurhakaannya
sendiri. Apakah pendapat ini tanpa dasar? Di bawah, kita akan bicara perihal
‘setan’.
Kita beranjak pada bahasan yang agaknya terabaikan beberapa waktu lalu,
mengenai setan sebagai sifat durhaka. Dalam pertemuan lalu (teks yang secara
kronologis saya tulis lebih awal belum saya post [publish]), saya ingin membawa
pembaca pada pembacaan genealogis untuk membatalkan asumsi setan sebagai
makhluk (dābah—walaupun dābah adalah hewan [hayawān] yang bergerak, namun kata
dābah ingin saya ajukan untuk menggambarkan makhluk semisal dengan manusia dan
hewan, artinya sebagai makhluk [yang kita pahami], sebab makhluk artinya
sebenarnya adalah ‘ciptaan/yang tercipta’, atau apa pun di luar Tuhan).
Artinya, setan yang dipahami Al-Quran bukan sebagai makhluk yang gentayangan,
melainkan merujuk pada sebuah sikap.
Sebelum itu, saya ingin memberi batasan mengenai objek yang akan saya
bicarakan—yakni, setan: bahwa setan yang saya maksud adalah setan yang saya
kembalikan dalam horizon Arab: “syaiţān” (شيطان) untuk mempermudah, saya hanya
akan menulisnya sebagai ‘setan’, yang saya maksudkan sebagai ‘syaiţān’;
sebenarnya, kata setan dalam bahasa Arab memang terdapat perbedaan dalam
memahaminya: (1) setan yang dipahami sebagai “syaţana” (شطن) dengan ‘an-nūn’
sebagai “harf al-aşliyyah” (huruf yang memang bagian dari kata).
Maka, setan di sini memiliki arti 'jauh'.
(2) huruf ‘nūn’ dalam kata “syaţana” yang dianggap sebagai
huruf tambahan, yang memiliki kata asal sebagai “syāţa-yasyīţu” (شاط-يشيط) akan dipahami sebagai “masyīţu”
atau “yang terbakar”. Pada pendapat kedua inilah, kenapa setan dipahami sebagai
makhluk yang tercipta dari api, sebagaimana Jin, yang memang tercipta dari api
yang panas (QS. 55: 15)—dalam ayat lain disebut sebagai makhluk yang tercipta
dari hawa yang sangat panas (QS. 15: 27). Dengan demikian, kita bisa memetakan
mengapa setan dianggap bagian dari Jin (sebagai makhluk), yakni sebab kesamaan
keduanya yang berasal dari api—setan sebagai ‘syāţa-yasyīţu’
(membakar), yakni maksudnya adalah ‘masyīţu’ (yang terbakar).
Dalam beberapa teks, setan dipahami sebagai gambar ragawi dari sifat
pembangkangan, atau kita sementara bisa menyebutnya sebagai ‘ţāgūt’.
Namun saya kira, kata tersebut secara etimologis tidak bisa dipertemukan kedua
maknanya, kecuali sebagai bentuk ‘cocokologis’ saja; ada beberapa pendapat
mengenai siapa setan: misal adalah Hasan Al-Basri yang lebih memilih mengatakan
bahwa setan adalah jin yang durhaka kepada Allah. Sebagaimana juga Ibn Abbas
yang lebih ingin memahami jika setan adalah anak Iblis, ibaratkan manusia
dengan Adam—bahwa Adam dianggap sebagai bapak manusia, artinya Iblis adalah
bapak dari setan (artinya setan adalah golongan jin). Setan sama dengan Jin yang
berasal dari nyala api.
Namun, Ibn Taimiyyah memiliki pendapat yang sama sekali berbeda setidaknya
dengan keumuman pendapat yang saya kira memang populer di tengah kita—bahwa
setan adalah makhluk tersendiri, sebagaimana apa yang saya uraikan secara
singkat di atas. Ibn Taimiyyah mengatakan jika setan adalah bentuk sikap
durhaka, sebagaimana kata ‘syaţana’ sendiri yang memiliki kata ‘jauh’ (tabā‘adu).
Sebagaimana pendapat yang saya sebutkan sebelumnya, bisa jadi setan adalah
sikap ‘ţāgūt’, tetapi selama kata tersebut menunjukkan makna yang sama
dengan kata ‘syaţana’ yakni “tabā‘adu” (jauh). Sementara dalam “Mufradāt
fī Garīb Al-Quran”, ţagūt memiliki makna
mereka yang kedurhakaan dengan bermaksiat.
Sebagai sebuah tawaran, dan bentuk ‘positioning’ saya sendiri dalam
memahami setan, saya kira setan lebih logis untuk dipahami sebagai sikap
durhaka. Hal ini, sebab dengan kita mengembalikan kata ‘syaiţān’ kepada
kata ‘syaţana’ sebagai “tabā'adu”, yakni jauh. Artinya, setan
adalah “apa yang ada dalam diri—dari kalangan—manusia dan Jin”,
yakni adalah sikap durhaka, mereka yang telah melampaui batas, melakukan
kemaksiatan dan menjauhkan diri mereka dari Allah. Dari sini lah, saya kira ‘ţāgūt’
bisa menggambarkan apa itu setan, yakni sikap durhaka yang menjauhkan diri dari
rahmat Allah.
Ragib Al-Asfahani ketika menguraikan kata setan dalam QS. 37: 65 mengenai “...kepala-kepala
setan...”, menyebut jika maksudnya adalah makhluk jahat dari kalangan
Jin dan Manusia. Namun, pendapat ini saya kira tidak koherensi dengan uraiannya
sendiri ketika ia membincangkan QS. 6: 112 dan QS. 2: 102, bahwa setan
maksudnya adalah jin dan manusia yang durhaka kepada Allah, sebagaimana juga
QS. 6: 112, bahwa musuh para Nabi adalah para setan, yakni “...setan-setan
dari kalangan manusia dan jin”. Artinya,
setan bukan makhluk yang bisa kita asumsikan selama ini—mereka yang
menyesatkan, bergentayangan ke mana-mana—sebab setan adalah sikap (bentuk dari
sifat) durhaka yang menjauhkan kita dari rahmat Tuhan. Bukan perihal ‘makhluk’
yang menyesatkan, melainkan orang (baik jin maupun manusia) yang tersesat,
yakni dengan melakukan dosa.
Tentu, konsekuensi kita menerima tawaran semacam ini adalah, kita harus
berani mengakui beberapa hal; sebelum itu, misal dalam hadis mengenai “...ketika
Ramadan datang [...] setan-setan dibelenggu"
(HR. Muslim, 1079/1793), pertanyaannya, apakah yang dibelenggu adalah—makhluk
bernama—setan yang mengganggu manusia? Atau sebenarnya hadis itu hanyalah
sebuah kiasan saja? Atau pertanyaan yang saya kira lebih mendasar, jika
demikian, “apakah setan itu ada—sebagai—makhluk yang suka menggoda manusia?”
Bukankah dengan apa yang saya uraikan di atas menjawab pertanyaan ini?
Alhasil, ketika kita mencoba memahami mengenai Adam, sebagaimana teks yang
saya ajukan di depan bahwa Adam turun ke muka bumi adalah sebab kedurhakaannya
(QS. 20: 120, 121; QS. 7: 20-24). Dalam Al-Quran, Adam diceritakan, bahwa Tuhan
memerintahkan Adam untuk tidak mendekati sebuah pohon (tidak ada nama yang bisa
disebut mengenai nama pohon tersebut) (QS. 2: 35). Lantas kemudian ‘setan’
membisiki keduannya (QS. 7: 20), “fawaswasa lahumā asy-syaiţānu
liyubdiya lahumā mā wūriya ‘anhumā”, kemudian keduanya memakan buah dari
pohon yang dimaksud (QS. 7: 22), padahal Allah telah melarang mereka berdua
mendekatinya (QS. 7: 19).
Masalahnya adalah, ayat yang saya kutipkan, baik dalam QS. 2: 36; QS. 7:
20-24; QS. 20: 120, 121, di sana Al-Quran menggunakan kata “syaiţān”,
bukan Iblis: bahwa setan membisikkan kepada keduanya—Adam
dan Hawa—untuk membuka apa yang mereka tutupi
dan memakan buah dari pohon yang dimaksud. Secara
eksplisit, Al-Quran menunjukkan bahwa yang membisiki mereka berdua—Adam dan
Hawa—adalah setan. Maka, sebagai konsekuensi kita memahami setan sebagai sikap
durhaka, maka dalam cerita Adam, yang membuat Adam turun ke bumi adalah sebab
kedurhakaannya sendiri, yakni ketika ia melanggar larangan Allah (QS. 2: 35).
Artinya, apakah ada yang namanya hantu (setan, lah; atau jin yang menyamar)? Saya kira, banyak narasi-narasi yang kita terima selama ini memiliki inkonsistensi dalam menyebut, atau mendeksripsikam siapa itu setan, jin, atau hantu; dalam beberapa kasus, jin disebut sebagai makhluk yang hina, jorok, jelek, bau, mengerikan yang tinggal di tempat-temapt kotor, tinggal di lubang, suka makan bangkai, makan tulang; namun di beberapa kasus, seperri ketika bicara perihal teknologi dan dunia, jin seperti makhluk yang melampau peradaban kita, yang kaya, yang canggih dan sebagainya karena dia hidup lebih lama. Terus, bagaimana soal jin yang tinggal di lubang? saya berasumsi, (1) ada satu hadis yang mengatakan jika jin adalah saudara manusia. (2) kenyataan kita tidak menutupi idealisme Nabi saw., sendiri. Berbicara mengenai lubang, bahwa kita dilarang membuang air panas ke lubang, bisa hanyalah ancaman Nabi saw. Maksdunya, Nabi tidak ingin manusia menyakiti binatang yang hidup di dalam lubang, kemudian Nabi menggunakan narasi demikian: bahwa lubang adalah tempat tinggal jin, mungkin juga ada kaitan habitus mistis ruang kala itu.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar