“[Kerumitan Heidegger dan Sein und Zeit-nya]: Dasein dan Kesadaran akan Menuju-Kematian (Sein-zum-Tode)”

 oleh: Muhammad Fathun Niam

Tepat hari ini, aku mewartakan kematian Aphrodite sebagai kebenaran.” Apakah kalian mengingat teriakan pemuda waktu itu perihal ke mana Aphrodite?; aku tetap saja tidak tahu. Hari ini aku telah kehilangannya, tetapi hari ini, aku tetap dapat berdiri di sini, di tengah kerumunan tanpa penyesalan dan kesedihan tanpa arti apa pun. Apakah kalian ingat perihal Meursault ketika harus kehilangan ibunya?  Tanpa perasaan bersalah, karena seharusnya dalam kacamata konstruktif ‘sialan’, sebagai ‘das-Man’ dia bersedih. Namun, ia malah memilih untuk pergi ke bar bersenang-senang.

Pada akhirnya, aku harus bertanya. Kenapa aku tidak bersedih? Beberapa waktu lalu, aku berkata pada seorang teman. “Aku tidak tahu, apakah aku masih bisa meneruskan hidup, sementara alasanku untuk hidup mati?” Tetapi, kenyataan hari ini, aku bahkan tidak tertarik dengan warta kematian Aphrodite. Dan aku sedang berdansa, sebagaimana kita yang sering menari-nari di atas pekuburan Tuhan.

Pasca keterserakan akan kebenaran sebagai pemuda Mesir, menggali-gali tanpa tentu, dan kini bangkai Aphrodite telah tampak di hadapanku. Aku ingin bertanya. Lantas, jika demikian, ketika Tuhan harus mati, ke mana manusia akan berakhir? Bukankah itu juga yang diwartakan oleh si Sinting? Apakah kalian mengingatnya? “jika matahari menghilang, [...] ke mana bumi akan berputar? [...] di mana kanan? Di mana kiri? Di mana atas dan bawah?” sebagaimana kesedihan sang pengelana. “Hari ini aku harus ke mana?” Ingatkah kalian perihal sang Manusia yang jatuh cinta dengan matahari? Bukankah dalam catatannya ia mengakui telah kehilangan mataharinya?

Dulu, aku pernah mengatakan, jika cinta adalah alasan rasional manusia ‘mau’ untuk hidup, lantas bagaimana ketika cinta, sebagai satu alasan rasionalnya untuk hidup mati? Apakah hidup layak untuk diteruskan? Dalam artian apa kita masih saleh? Toh, “tidak sia-sia seperti kataku kepada sang prometheus cacat, seorang agamawan bodoh yang kutemui beberapa waktu lalu: “bukankah sudah jelas jalan sinisme menjadi lebih terang sekarang?” sayang, aku tidak memiliki alasan yang jelas untuk memuja Schopenhauer. Apakah aku bisa mengatakan: “obit puella, abit onus”? Apakah saat ini aku salah, bahwa keberakhiran menjadi alasan untuk menjadi das-Man? Namun, bukankah mengakui keberakhiran adalah jalan menuju seinde? Dengan demikian, aku adalah Dasein! Bukankah itu warta Dionysos yang menghilang?

Beberapa waktu lalu, saya mencoba untuk melakukan rekonstruksi ide Heidegger yang ingin ia sampaikan dalam Sein und Zeit. Saya tidak tahu harus mulai dari mana, dan ujung-ujungnya saya malah berpikir kembali mengenai, “memangnya apa yang ingin saya jelaskan kembali dari ‘Sein und Zeit’?” Bukan soal kejelasannya, sebab teks itu malah sebaliknya, yang cukup ‘ruwet’ untuk dipahami. Tetapi, teks rumit (ruwet) itu sebenarnya menjelaskan kembali apa yang selama ini sudah kita pahami dan apa yang memang selama ini kita lakukan, tetapi hanya saja Heidegger “ingin memperumitnya” dengan bahasa yang berbelit-belit, aneh, tidak mudah dipahami, yang jelas hanyalah keruwetannya saja—maksud ‘ruwet’ di sini bukan berbelit-belit seperti benang ‘takberaturan’, melainkan “sukar untuk dipahami.”

Dalam teks ini saya hanya ingin menguraikan perihal dua hal: Dasein yang sein-zum-Tode (ada-menuju-kematian), yang menghantarkan das-Man yang inotentik menjadi dasein yang otentik dengan menyadari dirinya sendiri “ada dan ada-bersama dalam dunia,” sebab dari kesadaran akan ketakterelakkan kematian dari wajah-wajah kita—bahwa manusia pasti dan akan mati, yang tidak mungkin dielak; dan finalitas Dasein, sebab Dasein menurut Heidegger tidak akan pernah sampai pada ‘kepenuhannya’ atau taraf finalitas, sebagaimana misal adalah katak: dari telur sampai menjadi katak dewasa.

Pertama, Dasein yang selalu menuju kematiannya. Sejak Dasein, yakni ‘seiende’ ada, maka sejak saat itulah harusnya dan memang selalu kesadaran menuju kematian muncul, yakni sebenarnya sein-zum-Tode ada sejak ia lahir. Namun sebelum itu, siapa itu Dasein, siapa itu seiende? Seiende adalah subjek ‘aku’ sebagai bentuk fenomenal (fisik/ragawi) dalam ide dasein, sementara dasein sendiri adalah manusia (seiende) yang sadar akan dirinya ada di dunia (in-der-welt-sein), yakni “sang ‘Aku’ yang menyadari keberadaan di-dalam-dunia”. Itulah, ketika orang menyadari akan—kemungkinan—kematiannya, maka dia adalah dasein yang siap melawannya dengan terus waspada dan menjaga jarak, sementara mereka yang lupa, lalai, dan tenggelam dalam eskapisme, lari dari kecemasan (angst) dan kengerian (unheimlichkeit) adalah Dasman  yang inotentik, yang terserap dalam kawanan.

Mungkin juga sebagaimana Nietzsche, agar manusia memiliki jarak dan waspada akan hidup yang “tidak-multak-positif dan juga tidak-mutlak-negatif,” artinya, hidup adalah faktis: sebuah keterlemparan ke-dalam faktisitas. Nietzsche dalam ‘Aslo Sparch Zarathustra’ mewartakan agar manusia jangan menjadi ‘roh unta’ yang “iya-naif” terhadap kecemasan faktis dari hidup yang tak tentu atau pun ‘roh singa’ yang “tidak-naif” dari hidup faktis yang campuran dari hidup positif dan negatif, yang akan selalu melahirkan kecemasan, ketakutan. Heidegger menunjukkan otentisitas dasein ketika dasein memiliki kesadaran ‘in-there-being’, dengan ‘kesadaran’ akan “being-toward-death” manusia akan menemukan ‘sorge’: baik ‘fürsorge’ maupun ‘bersogen’ yang ‘mitdasein’ atau ‘mitsein’ (ada bersama).

Kesadaran akan kematian inilah yang mendasari kewaspadaan itu dengan melahirkan sorge (kekhawatiran-kepedulian). Dengan demikian, dasein—sebagai Adaan (seiende) yang ‘sadar-ada-dirinya' pada dunia—akan melahirkan sikap moral tuan (master morality) yang otentik. Di mana dasein akan ada-bersama (mitsein) dan melahirkan nilainya sendiri. Ketika manusia telah sadar akan hubungan dirinya dan dunia—mengenai kematian (Tode)—akan melahirkan sikap ‘apa-yang-harus-dilakukan’, yakni kewaspadaan, itulah sorge. Alih-alih menjadi budak kawanan sebagaimana para apollonian, dasein akan memilih hidup otentik dengan memusatkan eksistensi dirinya dengan bertanggung jawab. Sebagaimana juga Sartre, bahwa ketika Tuhan mati, atau secara ekstrem karena “Tuhan memang tidak ada,” maka yang tersisa hanyalah tanggung jawab manusia atas hidup pilihannya.

Maksud saya begini, dikarenakan manusia sadar akan limitasi atau keterbatasan dirinya, maka manusia akan memfokuskan kepentingan dirinya agar dirinya hidup, ia mungkin secara eklektis memilih hal-hal yang penting untuk dirinya mengenai apa yang harus ia lakukan; Schopenhauer beranggapan, bahwa cinta tidak lain adalah ujud ragawi atau ujud fenomenal kehendak akan eksistensi. Menurut Schooenhauer, manusia, atau dalam hal ini makhluk, mereka memiliki kesadaran akan keterbatasan diri mereka, bahwa mereka (si makhluk itu) suatu saat akan mati. Kesadaran itu melahirkan berbuatan, yakni adalah kehendak untuk reproduksi; Heidegger ingin mengatakan, bahwa kematian menyadarkan manusia dari apa-yang-harus-aku-lakukan. Karena manusia itu terbatas, maka dari pada menyia-nyiakan hidupnya dengan melakukan hal-hal inotentik dengan tenggelam ke dalam ada-bersama menjadi kawanan, lebih baik memfokuskan sikap otentik dirinya dengan melakukan hal-hal penting sebelum kematian datang. Namun di sisi lain, dasein tidak boleh lupa dengan kematian yang dapat menyembul kapan saja.

Sementara inotentisitas Dasman berbalikan dengan Dasein. Dasein adalah kesadaran atas ada-di-dunia sebagai moral tuan, sang dionysos, para dionysian. Sementara dasman adalah manusia bermoral budak, bermoral kawanan, saya akan menyebutnya sebagai manusia yang terjebak dalam super-ego. Mereka hanyalah orang-orang yang menyesuaikan dirinya dengan hidup sesuai nilai-nilai konstruksi, bahkan ketika penilaian morfis yaitu konstruktif itu merugikannya, di suatu saat ia akan menjadi martir hanya untuk membela kawananya mati-matian. Itulah inotentisitas sang dasman, yang tenggelam, bukan ‘mitsein’ atau kesadaran akan ada-bersama, bahwa kita selalu terlibat dengan interaksi dengan orang lain, tapi malah karna dia ada-bersama, ia tenggelam ke dalam ‘bersama’, dan menjadi “si bersama” yang tidak otentik. Inilah yang saya sebut dengan keterjebakan di-dalam super-ego, ketika manusia berlagak, berlaku dengan melihat orang lain: misal, “jika aku memakai baju ini, sopan tidak, ya?” Di sisi lain, das-Man akan terus lari dari kecemasan akan kematiannya, ia menjadi sosok ‘roh unta’ yang lari dari kenyataan kematian bisa menyembul kapan saja, ia lebih memilih asketik, dan menenangkan dirinya dari kecemasan kematian yang tidak mau ia hadapi, dengan menenggelamkannya dalam ‘bersogen (kesibukan sehari-hari)’: “Akh, toh juga kematian pasti di alami setiap orang, nggak papa!”. Alih-alih demikian, dasein akan terus berisap dengan waspada, yang akan terus terpancar, terlihat dari tindakan sang dasein.

Terakhir adalah kepenuhan dasein. Kapan dasein mengalami kepenuhan atau finalitas? Jawab Heidegger adalah ketika manusia benar-benar mati. Mengapa? Ingat cerita Sisifusnya Camus? Atau Meursaultnya Camus? Keduanya adalah gambar jelas dari absurditas. Kenyataan bahwa manusia tidak akan pernah memiliki ujung, batas, atau dalam maksud ini adalah finalitas. Manusia tidak memiliki tujuan final, sebab manusia akan selalu melahirkan tujuan dan makna-makna baru; saya pernah berkata kepada seorang teman sewaktu kuliah dulu, bahwa manusia adalah abadi, manusia tidak akan pernah mengalami kematian. Tentu, pernyataan semacam ini tertolak sebagai proposisi, terlebih di hadapan penganut kredo moniteistik yang hipertrofik. Teman saya menuduh saya telah berdosa karena menyetarakan manusia dengan Tuhan—artinya saya telah meng-imanen-kan Tuhan untuk setara dan ‘sama’ dengan manusia, karena manusia kekal sebagaimana Tuhan. Dalam teks yang terpisah, saya menuliskan sebuah surat kepada beberapa teman lain, saya mengatakan jika keabadian manusia ‘ada’ sejauh manusia hidup. Bahwa manusia akan terus abadi, selama manusia tidak mengalami kematiannya. Tentu, teks saya ditertawakan, dengan anggapan proposisi saya hanyalah teks main-main dengan logika.

Saya rasa, saya juga tidak perlu mengambil pusing, saya tahu kenapa mereka menolak saya, dan di teks kedua mengapa mereka menertawakan saya. Dalam teks lain, saya mewartakan narasi yang sama kepada seorang teman lain, tetapi di akhir kalimat saya, saya menambahkan satu teks: “Mungkin, jika ini yang mengatakan adalah saya, saya mengatas namakan diri saya sendiri mungkin banyak orang yang tertawa, tetapi saya kira tidak jika yang mengatakannya adalah Heidegger!? Bukankah demikian?!” Manusia tidak akan pernah mati, sebab manusia tidak akan pernah mengalami kepenuhannya. Namun, ketika manusia mati, menjelma sebagai vorhendenes atau mungkin menjadi zuhandenes, menjelma menjadi manusia yang mengalami rigor-mortis, pengkakuan—maksud saya adalah mayat  itu sendiri yang sudah sangat kaku (rigor-mortis)—maka manusia tidak mampu lagi untuk tumbuh.

Schopenhauer misal, dalam Pesimisme, ia setidaknya mengatakan jika kehendak—sebagai ‘desire’—adalah biang dari penderitaan, sementara ‘desire’ (keinginan atau kehendak) tidak akan pernah memiliki ujung, manusia tidak akan memiliki rasa puas. Tak heran jika Schopenhauer menawarkan eskapisme-asketik. Namun, berbeda dengan Schopenhauer, Camus lebih memilih agar manusia menjalani ‘ketakpenuhan’ itu dengan bahagia. Maksudnya, kenyataan bahwa manusia tidak memiliki tujuan atau finalitas, dan manusia akan mengulangi siklus yang sama yakni: memiliki kehendak, tujuan, makna; kemudian memulai kerjanya dengan menggapai makna atau tujuannya—bagaikan Sisifus yang membawa batu ke atas gunung—dan sesampainya di atas, batu itu akan menggelinding, sebagaimana juga manusia, ketika tujuan atau makna dapat dicapai, ia akan mendapat makna atau tujuan baru “yang harus digapainya.” contoh sederhana mungkin seperti orang yang ingin beli Playstation 4, nah, ketika Playstation 5 muncul, ia akan ingin beli lagi, bahkan ketika Playstation 5 Pro ia pasti ingin membelinya lagi. Atau, ketika seseorang sudah selesai pendidikan sarjananya, ia ingin lanjut ke program magister, dan setelah selesai dia ingin lagi melanjutkan program doktoral, setelah itu ia ingin melanjutkan post-doktoral. Namun di sini, manusia diharapkan oleh Camus agar bahagia menjalani faktis absurditasnya yang tak pernah penuh, dan puas.

Begitulah gambaran dasein yang akan terus bergerak (ständige Unabgeschlossenheit—kebeluman terus-menerus). Namun, ada perbedaan yang cukup signifikan di antara Camus, Schopenhauer dan Heidegger. Saya mengajukan teks Camus dan Schopenhauer untuk menunjukkan maksud kebeluman Heidegger. Namun dalam ideal Heidegger, kebeluman ini bukan terfokus pada ‘kehendak’ atau juga ‘tujuan,’ melainkan adalah ‘seiende’ (Mengada/Adaan /’si yang-Ada’) itu sendiri yang tidak pernah berhenti bergerak, bertumbuh, berpose (baik dalam bentuk fisik yang seakan terus bergerak tetapi juga intelektualitas-idealnya). Misal saja kita memiliki kekasih, kita menilai dia adalah perempuan atau laki-laki yang biak, tetapi setelah menjalani hubungan lima tahun, tiba-tiba diia menjadi kasar, dia selingkuh, dan sebagainya. Atau, seorang teman yang kita kenal di SMA orang yang tidak menonjol dalam ruang intelektual, tetapi dua puluh tahun kemudian dia menjadi orang yang dipercaya oleh ruang intelektual. Itulah kebeluman dari Dasein. Kita tidak mampu menerka si Dasein seperti apa dia nanti kemudian hari.

Seperti dalam metamorfosis sempurna yang dialami oleh katak yang dimulai dari telur, menjadi kecebong: yang mengalami pertumbuhan jadi memiliki kaki, kemudian menjadi katak muda berekor, kemudian menjadi katak dewasa. Dalam tahap akhir, katak tidak mengalami perubahan fisik apa pun lagi, di sinilah kita mampu mencandra persoalan finalitas atau kepenuhan. Kepenuhan, tidak akan pernah dialami oleh dasein, selama “dasein sebagai ‘seiende’ (Mengada) itu ada.” Ada di sini maksudnya ada secara fisik, secara penuh sebagai seiende dan sebagai dasein, yakni ‘being-towards-death’ (sein-zum-Tode) atau “in there being.” Dengan demikian, dasein akan selalu bergerak tanpa henti, dengan terus mengalami pertumbuhan, perkembangan yang terus-menerus (ständige). Lantas, apakah dasein akan mengalami finalitas? Heidegger menjawabnya dengan “Iya!” Kalau demikian, kapan dasein mengalami kepenuhan atau finalitas? Menurut Heidegger, dasein akan mengalami finalitas pada saat kematian benar-benar datang. Di saat itulah Dasein sudah tidak lagi mampu mengalami keterus-menerusannya (ständige).

Dari sini kita tahu, bahwa Heidegger telah membunuh harapan para penganut kredo. Heidegger menganggap, bahwa kematian adalah keselesaian yang otentik, yang dialami oleh si Mengada (seiende). Ketika manusia sebagai seiende mati, maka manusia benar-benar telah selesai, tidak ada kehidupan pasca kematian seperti warta-warta agama monoteis: mengenai akhirat, surga dan neraka. Bukan juga seperti pikiran ideal Platon mengenai hidup manusia—yang sama dengan ajaran monoteistik—yang sebelum ada sebagai Mengada (seiende)—secara ragawi ‘being-in-the-world’ (in-der-welt-sein)—manusia telah ada dalam alam baka sebagai jiwa murni, yang kemudian nanti terperangkap dalam tubuh yang rusak (fana). Sebaliknya, Heidegger menganggap bahwa manusia ketika mati, ia akan selesai begitu saja, selesai. Tidak juga seperti penghakiman moral seperti harapan Kant, yang beranggapan jika Tuhan ada untuk memberi sanksi pada moral. Sebab, Kant beranggapan, moral tidak mungkin berjalan jika Tuhan tidak ada, maka Tuhan harus ada.

Namun, Heidegger memberi sedikit sekali ruang pada das-Sein, bahwa sang Mengada tetap ada sebagai bentuk ideal, sebagai konsekuensi dasein yang mengalami mitsein yakni ada-bersama dalam kehidupan bersama orang lain dalam bersogen yakni situasi kesibukan aktivitas sehari-hari dan fürsorge, atau juga dasein yang mengalami mitdasein, bahwa manusia sebagai Adaan (Mengada—seiende) ada-bersama, bersama dasein-desein lain di-dalam-dunia dalam bentuk interaksi sosial, menjalani hidup sosial bersama. Dalam taraf ini, dasein masih hidup dalam sedimentasi ingatan-ingatan, atau secara sederhana manusia mati itu masih diingat dalam benak-benak manusia lain—konsekuensi dari mitsein dan mitdasein yang mitwelt atau ada-bersama-di-dunia—sementara sebagai ‘manusia-fisik (seiende)’—sebatas hanya ujud fisik saja, bukan keseluruhan kata seiende—sang manusia telah benar-benar mati. Berbeda dengan ciri keseharian yang manusia dapat digantikan seperti dalam fürsorg; dengan adanya relasi-relasi interasi ada-bersama dalam mitwelt yakni dunia-bersama, di mana manusia mati masih membekas, memberi kesan walaupun dalam bentuk ideal—sebata bentuk ide atau yang di atas disebut sebagai ingatan.


Komentar