[Menuju Eksistensialisme]: “Art of Loving”
oleh: Muhammad Fathun Niam
Teks ini adalah projek dari pembacaan selama 3 tahun lamanya: pembacaannya saya mulai di tahun 2020, sebagai lanjutan pembacaan kontemplatif di tahun-tahun sebelumnya. Teks ini adalah produk dari pengamatan penulis terhadap keadaan psikis (petualangan kognitif mungkin lebih dari 10 tahun) dari diri penulis sendiri.
Judul di atas—Art of Loving—bukan label orisinal dari saya, melainkan sebuah judul karangan Erich Fromm, “Art of Loving” (Seni Mencintai); Setelah jenuh dari “Al-Jannāt wa Al-Mi‘raj”, saya ingin berbicara lebih jelas lagi, tanpa teka-teki yang terkadang membuat saya sendiri kesal, karena dengan topeng-topeng itu, dengan segala atribut yang saya berikan itu, orang akan kesulitan memahami apa yang ini saya bicarakan di sana. Bahkan saya sendiri juga harus mengingat wajah di balik topeng yang bernama ‘teks’ tersebut. Namun, kebiasaan saya menulis dengan memilih sebuah ‘batu loncatan’ ‘bertopeng’ mungkin juga dengan segala atribut yang begitu tebal membuat saya mengalami kebingungan sendiri, dari mana saya harus memulai teks yang ada di hadapan Anda saat ini.
Menuju eksistensialisme? Benar! Saya ingin berbicara cinta dari sudut pandang eksistensialisme, di mana saya kira dimensi itu berbicara perihal cinta pada taraf yang adil. Atau lebih tepatnya saya ingin mengajukan sebuah teks eksistensialisme. Cinta bukan lagi sebuah perasaan natural yang seakan given begitu saja. Tetapi sebuah kesadaran untuk memeliharanya. Kita tahu, ada kata “menuju”, memang saya ingin berbicara cinta dalam kacamata tasawuf dan saya harap bisa berpindah menuju cinta pada taraf eksistensialisme. Dalam artian lain, saya sedang menunjukkan kepada pembaca sebuah argumentasi logis bagaimana seharusnya cinta kita pahami. Cinta bukan lagi bentuk dekadensi kemanusiaan—kemerosotan sebagai manusia yang being—yang objek “diperbudak, dan subjek yang memperbudak; menghamba dan diperhambakan,” Maksud saya, cinta tidak dipandang sebagai sebuah perasaan pasif, dan manusia hanya berhadapan dengan subjek yang terus diobjekkan. Tetapi, cinta adalah hal sebaliknya, sebuah keputusan dewasa; cinta sebagai sebuah upaya eksistensi diri. Di sini saya juga tidak ingin terlalu naif untuk mengatakan cinta sebagai pembentuk diri, melainkan cinta kita adalah bentuk tanggung jawab (die Pflicht). Tentu, saya harap, apa yang saya bicarakan bukan pengetahuan konvensional menjijikkan yang selama ini terjebak dalam narasi kekanak-kanakan (infantile). Mungkin!
Sebuah Definisi
Menurut saya, konsep mengenai cinta tidak dapat didefinisikan. Di luar itu, sebagai sebuah objek-materi, cinta tak bisa sampai ke taraf definitifnya, ia tak dipahami, dan tak bisa dilihat—mungkin maksud saya adalah ketidakmampuan kita berbicara cinta pada kesadaran demonstratif. Di mana saya rasa, Cinta sendiri sama halnya dengan hermeneutika, ataupun juga dekonstruksi yang ditawarkan Derrida, mereka tidak dapat didefinisikan dalam kalimat yang sederhana. Tentu, karena mereka bukan hal yang sempit. Maksud saya, mereka tidak memiliki arti absolut—bisa jadi definisi atau absolutismenya akan mengurung kata itu sendiri seperti dekonstruksi. Hal demikian karena mungkin sebagai konsekuensi kompleksitas. Tidak ada makna ataupun arti konkret yang menyelimuti kata-kata tersebut—demikian juga dengan kata cinta. Bahkan, terkadang, secara serampangan dan subjektif, kita memahami cinta seenak kita (hermeneutis)—secara arbitrer, bahkan menimbulkan kecacatan berupa polarisasi atau upaya marginalisasi. Sebagaimana sebuah warta yang saya tulis sendiri dalam teks lain.
“Aku tak mampu menerjemahkan perasaanku ke dalam bahasa yang paling sederhana. Bahkan aku membutuhkan nama-nama seperti Nizami, Rumi, Gabriel Marcel, bahkan sampai pada manusia-manusia sinis seperti Nietzsche dan Schopenhauer, bahkan Sartre.”
Definisi dalam Samudra
Ketika membaca sebuah buku milik Annemarie Schimmel, “Akulah Angin Engkaulah Api” saya menemukan bagaimana sang Maulana Rumi menggambarkan betapa luasnya sebuah definisi dari cinta. Kata Rumi. “Bahkan, sampai hari kebangkitan pun engkau tak akan pernah melihat wajah sebenar dari cinta.” Rumi juga mengatakan, “Bagaimana bisa, kita mengukur luasnya samudra hanya menggunakan piring.” Begitulah cinta, setiap gambaran yang berusaha ditunjukkan—melalui bahasa—sebenarnya itu telah menggambarkan cinta itu sendiri. Bahkan ketika engkau menghardik cinta sebagai penderitaan. Itulah yang saya maksud dengan ketidak-adaan arti absolut—karena tidak ada absolutisme, tidak ada yang pasti, sebab kita diselimuti banyak kehendak yang kita sebut variabel—di mana penerjemahan tersebut pada akhirnya akan berkaitan dengan variabel lain—karena kita hanya akan terpental dalam faktisitas yang absurd, dan faktisitas itu juga sebagai variabel yang tak bisa dilepaskan oleh dan dari manusia, karena manusia adalah Dasein. Karena yang tersisa dari kita hanyalah imperatif hipotetis, bahwa segala hal dipengaruhi oleh yang lain.
Lantas jika demikian, apa itu cinta? Saya teringat dengan Nizami, melalui mulutnya Qays. Nizami mengatakan. “Menurut mereka, cinta adalah noda yang harus dibersihkan, adalah kotoran yang harus disucikan. Namun mereka telah lupa, aku dan Layla adalah tawanannya.” Dalam syair yang sama, “Cinta bagaikan ilham, rahasia dari langit yang turun tak diundang masuk ke dalam dada dan bersemayam di dalamnya. Karenanyalah, aku dan Layla akan mati. Katakan kepadaku, pemuda mana yang mampu selamat dari penyakit cinta?” Menurutnya, cinta adalah ketidaktahuan, sebuah hal yang tiba-tiba hadir begitu saja, atau kita akan kenal kata ‘afeksi’. Bahwa cinta adalah afek pasif yang datang tiba-tiba, sebagaimana kata Qays. “Ia bagaikan ilham yang turun dari langit...!”
Sementara, berbeda dengan Fromm—seorang yang telah menyeret saya sejauh ini—mengatakan, “love is an activity not a passive affect. It is standing in not falling for”. Menurutnya, cinta adalah tindakan aktif—memberi, sebagaimana juga warta Rumi, “cinta itu memberi bukan meminta atau malah memaksa—bukan sebuah afek pasif/perasaan pasif yang datang begitu saja. Fromm memahami, bahwa cinta adalah perkara yang harus dipelajari, bukan sebuah afek pasif yang datang dan pada akhirnya pergi begitu saja. Seperti katanya Fromm, bahwa cinta sangat perlu untuk dipelajari, bukan didiamkan yang pada unjungnya akan menemui ajalnya. Manusia akan menangis karena ke-terpisahan itu.
Cinta bukanlah sebuah perasaan mendadak yang tiba-tiba mendobrak sebuah tabir—kaca—yang selama ini menutupi manusia—cinta adalah hal yang mampu menembus tabir. Tabir itu adalah batas dari manusia atas manusia lain. Kata Fromm, rasa mendadak itu malah menjadikan cinta cepat menemui ajalnya. Perasaan terburu-buru itulah yang pada akhirnya memberikan rasa bosan. Menurut Fromm, cinta bukan afeksi (pemaksaan). Kita mungkin akan berkenalan dengan eksistensialis Prancis, Sartre di depan nanti. Cinta sejatinya bukanlah pemaksaan atas yang lain, dalam hal ini juga pemaksaan nilai atas yang lain: katanya, “kamu harus menjadi apa yang kumau”. Harusnya cinta adalah aktualisasi dari rasa hormat, mungkin kata Marcel adalah engagement atau keikutsertaan. Harusnya kita akan melihat istilah resiprokal, atau kesalingan di ujung pembicaraan kita.
Sebuah Gambar yang Menarik
Suatu hari, seorang teman pernah mengunjungiku. Dengan raut sedihnya, ia berkata dengan lirih. “Aku putus sama dia.” Ketika malah harus datang dia curhat kepada saya. Entah, dia kemudian menyuruh saya bercerita, dan saya mengatakan, jika ‘saya tidak pernah mencintai’. Secara sengaja, saya menjebak dia untuk masuk dalam sebuah gambar yang lebih sistematis untuk dibicarakan. Dia bilang, “ngga mungkin! Setiap orang pasti mencintai. Cinta pun bukan harus selalu berurusan dengan lawan jenis”. Seperti katanya. Cinta bukan sebuah term yang mudah untuk dipahami. Bukankah cinta itu banyak jenisnya?
Mungkin akan terlalu panjang jika kita harus mengingat Buya Syakur. Ia memahami, jika cinta digambar dalam 60 penanda (kata) yang berbeda—dalam bentuk ‘mutaradhif’ (anti-sinonimitas): rahman, rahīm, mawaddah, hubb, dan seluruh kata yang menjadi penanda dari petanda ‘cinta’. Karena itu, mungkin pengelompokan Plato lebih mudah untuk dipahami dan dijelaskan. Setidaknya, cinta memiliki tiga dorongan: cinta eros (erotis); philia; dan agope.
Cinta eros (erotis) adalah cinta yang didasari oleh hasrat seksual. Mungkin kita akan mengenal istilah kehendak erotis-libido. Salah satu kehendak—sebagai perwujudan ragawi sebuah abstraksi ideal—itu adalah kehendak erotis libido. Kehendak itu akan dikenal oleh Freud sebagai ‘id’, sebuah kebutuhan insting-primitif. Kehendak fisiologis paling dasar, mungkin hampir ada dalam ‘unconsciousness’ (Ketidaksadaran). Kehendak inilah yang menyelimuti manusia, walaupun kehendak ini didasari oleh kehendak lain, yaitu will to life dan will to exist, atau mungkin secara sederhana, Schopenhauer mengatakan jika kehendak reproduksi diselimuti oleh kebutuhan ‘mempertahankan spesies’. Cinta inilah yang dimaksud Plato dalam teks Pausanisas dengan nama Aphrodite Pandemos, yakni cinta biologis yang masih melihat ujud fenomenal-ragawi: ketelanjangan, adalah gambar menarik untuk dilihat dalam kesadaran Aphrodite Pandemos.
Cinta kedua adalah philia. Cinta ini adalah cinta persahabatan. Sebuah hubungan atau relasi yang cukup aneh, tetapi philia lebih luas ketimbang eros yang hanya menginginkan tubuh, menginginkan sebuah sentuhan seperti cinta Philia. Mencintai ilmu, alam, harta benda, mungkin mencintai seorang tokoh, atau mencintai orang tua sekalipun letaknya ada pada philia. Terakhir adalah cinta agope. Cinta agope adalah cinta ilahiyah (devine love).
Cinta Altruis para Sufi
Cinta para sufi: pecinta Tuhan adalah cinta yang altruistis. Fromm mengatakan, jika cinta yang tidak egois inilah cinta tertinggi. Sementara, kita akan mengenal ‘cinta kasih’ (rahmah), sebuah cinta tanpa harapan. Namun, altruis pada akhirnya melenyapkan subjek dan meleburkannya dalam sang kekasih. Sebagaimana Al-Hallaj dan juga Abu Yazid al-Bustami yang mengatakan ketiadaan mereka. Katanya. “Ketika aku mencapai maqam tertinggi, kemudian bertemu dengan Tuhan, di sanalah ‘aku’ (I) (Abu Yazid) telah hancur. Aku (I) telah hilang” begitu juga Al-Hallaj. “Yang tersisa dari diriku hanyalah Allah—sebagai Thou (Engkau).”
Altruistisme ini adalah sikap yang saya kira cacat. Altruis adalah lawan dari sikap narsis. Narsis sendiri adalah sikap mementingkan diri sendiri, mengedepankan kata ‘aku’. Sementara altruis, adalah sikap yang melenyapkan sang pecinta. Mungkin, yang bisa ia katakan adalah, “Yang tersisa dari diriku adalah dirimu”. Saya teringat dengan sebuah syair dari al-Hallaj: “anā man ahwa wa man ahwa ana, nahnu ruhāni hallalnā badanā, faidzā abshortanī abshortahu, wa idzā abshortahu abshortanī” (aku adalah yang ku rindu dan yang ku rindu adalah aku, kami adalah dua ruh yang bercampur dalam satu badan, apabila engkau melihatku engkau akan melihat-Nya, [dan sebaliknya) apabila engkau melihat-Nya engkau akan melihatku); kata al-Hallaj: “mazajat rūhika fī rūhī kamā, tamzajul khamra’ fil mā’i zalal, faidza massaka syai’un massanī, wa idzā anta ana kulli hālin” (percampuran ruh-Mu dengan ruhku bagaikan, bercampurnya air khamr dengan air murni, apabila tersentuh diri-Mu akan sesuatu, maka aku akan merasakannya, dan apabila Engkau aku, adalah di setiap hal.”
Mungkin penggambaran cinta yang hancur, yang melebur ke dalam kekasih sulit dipahami dari horizon al-Hallaj maupun Abu Yazid. Mungkin kita akan lebih memahami apa yang dikatakan Qays. Ketika Qays sakit, Qays harus ke dokter. Saat hendak disuntik, Qays menolak. Lantas, sang dokter tanya, perihal keengganan Qays. “Kenapa kamu tidak mau disuntik?”, kata Qays. “Aku tidak mau Layla merasakan sakitnya”. Dengan heran dokter itu bertanya. “Loh, bukannya yang disuntik itu kamu, bukan Layla?” kata Qays. “Karena tiap-tiap anggota badanku adalah Layla. Ketika tubuhku terlukai, maka Layla akan merasakannya”
“Ke-kamu-an” inilah yang dibicarakan al-Hallaj dan juga Abu Yazid. Maksudnya adalah, ketika mereka jatuh dalam kecintaan Ilahiyah, mereka sebagai “aku” (ego-narsistik) telah hilang. Karena sekarang, yang tersisa menyelimuti mereka adalah kekasihnya, yakni Tuhan. Mereka sudah lagi tidak peduli dengan “keAkuan”, karena yang mereka pikir sekarang adalah kekasihnya. Seperti penggambaran yang diberikan Al-Ghazali ketika mengomentari al-Hallaj. “Percampuran mereka (al-Hallaj dan juga Tuhan adalah bagaikan air tawar yang menetes di tengah-tengah samudera.” Yang tersisa di sana adalah samudera. Kita tidak lagi bisa melihat air tawar. Samudera itu adalah sang Kekasih (Tuhan), sementara air tawar itu adalah al-Hallaj. Begitu juga dengan dituangnya khamr ke dalam bejana berisi air murni, maka yang tersisa dari percampuran itu adalah khamr—hukum air itu bukan lagi air murni, karena adanya campuran khamr, dan hukumnya menjadi hukum meminum khamr.
Artinya, sang subjek (pencinta) telah melebur, hancur menyatu dalam ‘ke-Aku-an’ sang Kekasih. Di sanalah ketika ‘aku’ telah mati, karena yang tersisa dari ‘aku’ adalah ‘kamu’ (sang kekasih). Begitu juga dengan Qays, karena yang tersisa dari Qays hanyalah Layla. Oleh karenanya, Qays tidak mau Layla sakit, karena Qays adalah Layla. Dalam gambar yang mungkin lebih sederhana: misal kamu pulang dari kerja, atau kuliah, kamu keluar dari kantor atau kampus, yang kamu ingat bukan lagi ‘aku’, melainkan ‘kamu’—dia, yakni sang kekasih. Ketika kamu keluar kantor, kamu lapar, kamu tidak lagi berpikir, “Aku mau makan apa, ya?”, tetapi malah berpikir, “Dia enaknya dibeliin apa, ya?; dia sukanya apa, ya?; dia kalau dibeliin ini senang ngga, ya?” kamu sudah kehilangan ‘aku’.
Artinya, sang subjek (pencinta) telah jatuh, merosot (dekaden) menjadi objek. Kematian ‘aku’ dalam relasi ini, adalah bentuk dekadensi manusia. Dia adalah bentuk kegagalan. Seperti yang nanti akan dikatakan Sartre, bahwa cinta adalah kegagalan manusia mempertahankan kusubjekkan dirinya. Di mana, sang-pecinta tenggelam dalam kubangan inferioritas. Bahkan, cinta Aphrodite Pandemos ada dalam kesadaran yang disapa oleh Sartre: ketika manusia-si-neraka itu mulai mengobjekkan lawannya—kekasihnya—dengan menekankan nilai-nilai ke-Aku-an sang subjek (kekasih) pada siapa yang dia cintai. Saya akan tertarik dengan cinta pada taraf kesadaran hasrat menguasai yang kita bicarakan pada bagian akhir teks ini.
Cinta Eksistensialisme
Entah mengapa kita dengan seenaknya terus mengulang-ulang narasi bahwa cinta itu abadi. Saya kira, persepsi asumtif ini lahir dari habitus berpikir kita yang selalu menghegemoni subjeknya (manusia atau dalam hal ini adalah kita). Lebih jelasnya, fatalisme yang sedari kecil dan terus menerus dijejalkan pada kita, melahirkan asumsi-asumsi imajiner semacam ini. Kenyataannya, cinta tidak demikian. Bahkan cinta memerlukan perhatian untuk dia hidup. Bahkan, cinta tidak lebih dari reaksi kimiawi otak yang ujung-ujungnya akan mereda, yang akhirnya akan habis. Reaksi kimiawi itu adalah bentuk kesenangan, yang kesenangan itu semu, ‘temporal’, yang kapan-kapan bisa hilang begitu saja. Seperti kata Ben Zeev, bahwa cinta itu bagaikan baterai yang bisa habis kapan pun. Atau, dalam perhatian Fromm, cinta butuh dipelajari.
Mungkin kita mengingat sebuah film berjudul “You Are My Apple of My Eyes”. Ada satu scene yang saya ingat, ketika si Perempuan bergumam, menghadapi situasinya saat itu yang sudah mulai merenggang: ketika si Perempuan berjalan, ia kemudian bergumam. “Kenapa, jika cinta belum dimiliki, rasa cinta, hati yang berdebar-debar itu ada. Tetapi ketika-setelah cinta itu dimiliki, perasaan itu malah mulai pudar”. Beberapa teman pernah mengeluh pada saya. Dan mereka semua mengeluhkan hal yang sama, bahwa “cinta kami sudah mulai pudar”; sebagian mereka mengeluh, ketika mereka ada dalam taraf PDKT (pendekatan), entah kenapa rasa ‘aku-sangat-mengharapkanmu’ itu selalu hadir. Bahkan katanya, ‘sang dia-kekasih’ selalu ada dalam benaknya, bahkan di mana pun, bayangan ‘sang-dia’ selalu ada. Namun, setelah cinta dimiliki, perasaan ‘cinta’ aku-suka itu mulai pudar. Perhatian mulai pudar. Bahwa rasa aku-kamu sudah tidak sekuat dahulu. Itulah kata mereka.
Seperti di atas, cinta bukan sebuah ‘ilham’ atau bahkan pengalaman misterius yang ‘tiba-tiba’ merasuki manusia sebagaimana yang dipahami orang-orang altruis. Pada akhirnya kita harus mau mengakui, bahwa cinta adalah upaya aktif—“love is an activity not passive affects...” (Fromm). Artinya cinta itu perlu untuk dihidupkan, bukan sebuah misteri ilahiyah yang tiba-tiba terpancar, dan hidup, menetap dan ‘pasti’ selalu hidup. Kemudian, kita pasrah dengan hadirnya cinta, karena menganggap bahwa cinta itu adalah wahyu atau ilham Tuhan yang akan dijaga oleh-Nya. Kita perhatikan perkataan Fromm, bahwa cinta itu “standing in” (berdiri di dalam) bukan “falling for” (jatuh untuk). Seperti perkataan Ben Zeev, bahwa cinta itu bagaikan baterai yang suatu saat nanti kehabisan dayanya—cinta, pada akhirnya akan mati. Maka, Fromm mengatakan jika cinta itu adalah upaya menghidupi (standing).
Sebelum berbicara dalam dimensi eksistensialisme, ada baiknya kita mengenal konsep ‘ada’ dalam pengetahuan Gabriel Marcel, yaitu: presence (kehadiran) dan encounter (perjumpaan). Dalam pertemuan atau perjumpaan dan kehadiran ini, saya kira akan menjadi satu kunci memahami cinta pada taraf yang nanti akan saya sebut sebagai mit-bewusstsein atau kesadaran-bersama. Kesadaran inilah, yang harusnya menjawab dan menyadarkan kita dari cinta-cinta kanak-kanak (infantile-love) atau juga cinta yang mentah (immature-love-principle) yang sering kali mengganggu kita dalam pertanyaan ribet dalam relasi manusia. Kadang, kecacatan atau bentuk prematur (immature-infantile) menjadi alasan perpisahan yang tidak berarti, atau bahkan perpisahan karena alasan yang tidak berarti—hanya karena rasa kebosanan yang menerobos ke dalam dada. Kecacatan prematur ini akan disebabkan dari ketidaksadaran kita atas cinta. Kita terus menelan cinta hanya sebagai afeksi pasif, sebagai keberkahan dari ilham Ilahi. Seharusnya, cinta adalah kesadaran akan perjumpaan dan kehadiran bersama. Kesadaran akan kehadiran bersama inilah yang memaksa manusia melahirkan sorge (kekhawatiran-kepeduluian).
Presence atau kehadiran yang dibicarakan Marcel, bukanlah arti ‘Ada’ sebagai ujud fenomenal yang apa adanya. Kehadiran ini muncul dari perjumpaan, sebuah pengalaman pertemuan antara I-Thou (Aku-Engkau). Maksud ujud fenomenal adalah ujud yang tampak—phainesthai dari sebuah phenomenon, yakni adalah ‘penampakan diri’, atau secara sederhana adalah sebuah bentuk penampakan yang menampakkan dirinya sendiri dalam ujud ragawi yang tergapai oleh indra—bagaimana akal kita menyensasi (aisthesis) suatu objek ragawa yang terkondisikan dan dapat diamati oleh akal dan dikatakan ‘ada’ di sana. Heidegger akan menyebutnya sebagai ujud Das-Man, bentuk manusia sebagai sesuatu yang ada, sebagai benda yang teramati oleh sensibilitas kita. Namun, dalam taraf lebih tinggi, keniscayaan das-man adalah sebuah keterlemparan-ke-dalam sebuah dunia, yang meniscayakan das-man untuk ada bersama. Dan saat itulah, sang Das-man akan memilih, dia menjadi vorhandenes atau zuhandenes. Saat itulah manusia tidak hanya ‘menjadi’ melainkan adalah apa yang nanti disebut Heidegger sebagai Dasein (ada-di-sana), yakni manusia yang berada dalam dunia (In-der-Welt-Sein). Atau maksudnya, ‘Ada’ atau ‘Berada’ dalam konteks kesadaran-eksistensi; menurut Heidegger, manusia diniscayakan untuk terlempar ke dalam faktisitas, ia terlempar ke dalam dunia. Keterlemparan ini memaksa manusia ada-bersama (mit-sein) dan berinteraksi dengan sembarang Thou (Engkau). Saat manusia hanya menjadi benda (vorhandenes), yakni mayat, manusia hanya akan menjadi das-man yang terlantung dalam dunia yang mencekiknya sendiri. Akan tetapi, jika manusia menjalani hidupnya, menyadari akan sein-zum-Tode (ada-menuju-kematian), bukan malah lari dengan keterputusasaan, ia telah menjelma menjadi Dasein. Bukan hanya ‘Ada’, melainkan Ada-di-sana yang terus bergulir ke dalam Werden (menjadi) dalam sebuah kemewaktuan (Zeitlichkeit) yang terus-menerus menempa manusia dalam waktu (Zeit).
Kehadiran (presence) yang dimaksud, misalkan adalah kita yang ada dalam sebuah bus. Kemudian, ada teman kita yang ada di depan, baru masuk bus dia tanya ke sopir—di mana sopir tidak tahu siapa kita kecuali hanya penumpang yang membayar jasanya—mengenai keberadaan kita, apakah kita (temannya dia) ada di dalam bus miliknya atau tidak. Sang sopir tentu saja akan menjawab dengan jawaban absurd: “siapa dia?”; “tidak tahu”; atau dengan jawaban lain, padahal kita saat itu, secara pasti ada, duduk di dalam bus tersebut. Tidak tahuan sopir akan kita, akan menunjukkan satu gejala dari ketiadaan, bahwa seseorang yang dimaksud, mungkin tidak ada dan mungkin ada. Bentuk kemungkinan ketiadaan dan keadaan inilah yang menjadi simtom ketidak-hadiran kita di dalam pengetahuan si sopir. Maksudnya, keberadaan atau berada—yakni kehadiran yang disapa oleh Gabriel Marcel—ini adalah ketika ‘kita’ atau ‘aku’ (I) sebagai subjek—bagi diri kita sendiri—yang objek—sang Thou bagi pengamat (subjek I atau orang lain)—itu ada pada taraf intuitif atau pengetahuan orang lain tersebut (Thou). Maka, ketidakhadiran sang subjek dalam pengalaman perjumpaan (encounter) tidak akan memberikan informasi keberadaan, bahwa bagi dia, yang tidak mengalami perjumpaan dengan kita akan menganggap kita tidak ada. Bukan karena kita tidak ada (tidak eksis), melainkan karena orang lain tidak menyensasi (aisthesis) kita.
Untuk mempermudah membayangkan ‘ada’ sebagai sebuah kehadiran, dan menjadi sebuah kebenaran pasti akan sesuatu itu ‘ada’, maka saya ingin perlu mengajak pembaca untuk berbicara mengenai ‘yang ada’ (sein) ini; saya awali dengan sebuah pertanyaan. “Apakah ‘tidak-ada’ itu ada? Atau yang namanya ‘tidak-ada’ itu tidak ada?” Kita coba menjawab dengan satu cerita berikut: misal kita—sebagai subjek Aku (I)—ada dalam sebuah kelas. Kemudian, ketika dosen mulai melakukan presensi terhadap mahasiswanya, ada satu nama yang tiba-tiba muncul—misalkan adalah Taro. Dari awal, dosen itu membacakan nama yang benar dari nomor urut satu hingga kesekian, artinya dosen tersebut tidak salah membaca presensi mahasiswa. Bahwa dosen tersebut, memang sedang berada di kelas yang benar, dengan daftar mahasiswa yang benar, yang dibuktikan dengan kertas presensi yang ia bawa. Tetapi, tiba-tiba dosen memanggil nama Taro, tidak ada satu pun orang yang menjawab, dosen itu bertanya. “Di mana Taro?” Kemudian, semua mahasiswa di kelas itu kebingungan. Mahasiswa tahu, tidak pernah ada nama Taro dalam kelas tersebut.
Ilustrasi yang lain. Cerita ini adalah pengalaman saya sendiri. Suatu hari, ketika saya harus bertemu dengan dosen untuk keperluan ujian lisan, saya menunggu di depan kantor dosen, karena di dalam sudah banyak teman-teman yang lain. Ketika saya duduk di depan kantor, ada seorang teman yang mendekati saya. Dia kemudian bertanya. “Eh, di dalem ada fulanah atau tidak, ya?” dengan nada terburu-buru. Saat itu, saya hanya menjawab dengan jawaban aneh: “Tidak tahu!” Kata ‘tidak tahu’ sendiri bukan jawaban dari pertanyaan teman saya. Itu hanya sebuah respons dari ketidakhadiran; sebelum itu, apa itu ‘tidak-salah?’ apakah tidak-salah adalah benar (sinonim benar) atau tidak-benar malah menunjuk pada “sesuatu yang disebut itu tidak-benar?”
Jika Anda bertanya pada seorang teman. “Sekarang jam berapa, ya?” Kemudian teman itu menjawab. “Biru! Ungu? Atau merah?” Maka, pertanyaan saya kepada Anda adalah: apakah jawaban teman Anda benar? Atau jawaban teman Anda salah? Atau jawabannya adalah, bahwa teman Anda sama sekali tidak menjawab pertanyaan Anda? Teman Anda, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Anda. Yang ia lakukan hanyalah merespons suara Anda, bukan sebuah jawaban dari struktur sintaksis dari “sekarang jam berapa?”, karena seharusnya jawaban itu merujuk pada keberadaan waktu untuk subjek dan objek. Itulah yang dimaksud ‘tidak-salah’. Tidak-salah bukan lawan kata salah (baca: benar), melainkan adalah “sesuatu itu memang tidak-salah, bahwa ‘salah saja tidak’ apalagi benar.” Begitu juga dengan ada dan tidak ada. Apakah tidak ada itu menjadi petanda (signifiant) dari ‘tidak-Ada’, artinya Taro dan juga si Fulanah itu tidak ‘Ada’ sebagai ujud yang fenomenal (ragawi), atau dia menunjukkan kehadiran eksistensial? Atau ‘ada’ adalah sebuah kehadiran I dalam pengalaman Thou, atau dalam bahasa Marcel adalah presence?
Saya kira, saya harus mengambil sikap (positioning). Tidak-ada, bukan berarti dia tidak ujud sebagai penampakan fenomenal-ragawi, melainkan bisa jadi adalah situasi eksistensial, sebagaimana berada (Sein), mengada (Eksistenz), bahkan mewaktu (Zeitlichkeit). Bahwa kata itu bukanlah objek, melainkan gambar atau ujud situasional dari keberadaa manusia yang terus menjadi (werden). Kehadiran yang dibicarakan Marcel adalah bentuk situasional ketika orang (Thou) diraih atau digapai—disensasi—sebagai ujud yang eksis. Kenapa bisa demikian? Ketidaktahuan saya soal ‘si Fulanah’ membuat saya menjawab tidak tahu, bahkan jawaban ‘tidak-tahu’ bukanlah jawaban dari ‘apakah ada di dalam...?’; begitu juga dengan situasi: ketika dosen mengabsen temanmu, tetapi temanmu tidak masuk karena sakit. Ketika di tanya. “Di mana ‘Si Anu’?” Kemudian kamu menjawab. “Dia sakit, Bu!” Maka, apakah ketiadaan ‘Si Anu’ menunjukkan ketidak-ujudan dia sebagai makhluk yang eksis (Das Eksistenz-Man)? Atau menunjukkan bahwa dia tidak ada ‘di sini’ (baca: kelas), tetapi ada di tempat lain karena sakit. Artinya, ‘si Anu’ mungkin—secara potensial—ada di tempat lain, dan dia ‘Ada’ di sana.
Artinya, bahwa tidak-ada di atas adalah hadir dari pengalaman intuitif dari ketidak-terjangkauan atau tidak tergapainya objek-yang-diamati. Begitu juga dengan pengetahuan mengenai Tuhan. Mengapa Tuhan tidak ada? Karena Dia tidak tergapai oleh pancaindra. Dia (Tuhan) ‘tak terkondisikan’ (unconditioned) oleh akal yang meniscayakan akan kemustahilan untuk menyebutnya ‘ada’, jika kita sepakat bahwa ‘ada’ di sini adalah bentuk pengetahuan kita akan sesuatu dengan mampu memastikannya degan pasti. Kepastian ini hanya dapat diterima oleh pengalaman indrawi. Sementara Tuhan tidak akan pernah ada dalam pengalaman indrawi, kecuali Tuhan ingin tunduk dengan akal manusia. Tuhan tidak ada pada pengalaman intuitif yang bisa dikatakan Dia ada—kecuali hanya pada taraf Ada sebagai konsekuensi penganut kredo atau bagian dari doktrin—sebagai sebuah postulat; dalam ilustrasi mengenai bus di atas: kenapa kita—sebagai teman I yang bertanya kepada sopir—tidak dianggap? Sampai sopirnya malah menjawab: “Tidak tahu!”? demikian itu karena, kita tidak ada dalam pengalaman intuitif si sopir. Kenapa? karena kita tidak eksis atau ‘mengada’ (Eksistenz) di pengalaman dia. Jadi, eksistensi yang dimaksud Marcel adalah situasi ‘Mengada’ dan ‘Berada’ karena kamu diketahui, atau situasi “ketika kamu ada dalam diri seseorang sebagai atau berbentuk sebagai ujud pengetahuan”. Saya harap, penjelasan ini bisa memberi pemahaman.
Di sinilah letak presence atau kehadiran dalam cinta. Menurut Marcel, cinta adalah sebuah kehadiran bersama antara aku-engkau (I and Thou). Cinta adalah sebuah bentuk komunian yang bertanggung jawab: responbility: engagment, recipibiity, serta fidelity. Dalam pemahaman bahwa cinta adalah bentuk engagment, atau dalam istilah lain, Marcel menyebutnya sebagai communion. Hubungan atau relasi communion inilah yang nanti juga disebut sebagai hubungan misterius, sisi ke-entah-an (tidak tahu atau ‘entahlah’). Relasi communion adalah situasi ketika aku dan ‘kamu’ yang mungkin tadinya masih ‘aku’-‘dia’, di mana ‘kamu’ masih jauh atau hubungan itu masih berjarak-yang cukup jauh atau bahkan jauh—mungkin dalam bentuk kehendak atau harapan absurd, atau bahkan lebih ironis sebagai bayangan imajinatif sebagai gambar ‘aku ingin’. Maka, Marcel ingin mengatakan, bahwa cinta ada dalam taraf kehadiran: “Ketika aku dan kamu telah menjadi kita (communion)”. Lebih jauh, cinta bukanlah sebuah problem yang di luar manusia. Sebuah masalah yang dipahami, berjarak, sebagai objek yang perlu dan dapat diatasi. Sementara cinta adalah sebuah kemisteriusan yang ada dalam diri manusia, yang harus dialami, dihidupi.
Dalam satu bentuk refleksi, sebuah pertanyaan sok filosofis muncul: “apakah aku mencintai?” pada akhirnya kita kembali pada pertanyaan, “apa itu cinta?”
Tentang Manusia
Apakah aku mengetahui manusia seperti aku mengetahui betul mengenai batu di tanah itu? Mengapa kita mengetahui batu? Karena dia hanyalah sebuah Seindes yang ‘mandeg’, yang final, yang telah selesai. Manusia memiliki jarak untuk memahaminya, dan kita tak memiliki kepedulian apa pun sebagaimana batu tak peduli dengan dirinya sendiri. Inilah yang mendasari kritik Dilthey atas pembacaan manusia yang terlalu tak tahu diri. Sains telah melihat manusia bukan sebagai siapa yang mengalami (Erlebnis) kehidupannya (leben), tetapi membuat manusia setara dengan batu meteorit yang bahkan tak berteriak saat dia dihancurkan bertubi-tubi. Menurutnya, manusia adalah siapa yang telah hidup dan menghidupi pengalamannya. Pengalaman inilah yang terus membentuk manusia. Heidegger menyebut kita sebagai Dasein. Kita adalah keniscayaan untuk selalu menjadi liyan (the other) bagi yang lain. Kemewaktuan manusia akan meniscayakan kemenjadian (werden) dalam bentuk anti-finalitasnya sebagai yang terjebak dalam ständige Unabgeschlossenheit. Dengan demikian, manusia akan terus terjebak dalam kemenjadian tak terbatas. Dari mana kemenjadian tak terbatas ini muncul? Saya akan mencoba memaparkannya dengan runtut.
Meminjam Heidegger, manusia telah dan terniscayakan untuk terlempar ke-dalam dunia faktis. Keterlempara ke dalam sejarah itulah yang meniscayakan manusia pasti ‘ada’ di dalam ada-di-sana-bersama (mit-dasein) dengan sembarang seindes. Keniscayaan ada-bersama inilah yang meniscayakan manusia untuk berinteraksi dan bertegangan (Spannung) antara I dan Thou, antara Aku Subjek dengan segala engkau, segala seindes (yang-ada). Inilah yang mungkin dapat ditulis sebagai sebuah hubungan-yang-bertegangan (Spannungsverhältnis). Kebertegangan ini bukan sebuah tegangan yang ditimbulkan dalam konflik yang kompleks saja, melainkan dalam ruang yang paling bersih sekalipun, sebuah upaya untuk saling memahami. Ketegangan ini dihaslkan dari kenyataan manusia selalu memiliki kesepahaman. Meminjam Gadamer, walaupun dia menyatakannya dalam konteks hermeneutis yang mungkin akan sering disalahpahami dengan membatasinya hanya untuk memahami dalam ruang teks, namun dalam kenyataannya Gadamer menyapa I dan Thou yang menempatkan keduanya memiliki pemahaman (verstandnis). Menurutnya, Hermeneutika beranjak dari sebuah memahami-diri (sebuah pemahaman dalam diri sendiri) menuju kesepahaman bersama (Sichverstehen zum mit-Einverständnis). Tegangan ini meniscayakan dua hal, sebuah pembelajaran tak berujung (Bildung) dan upaya memahami bersama antara I dan Thou. Yang pertama inilah yang memaksa manusia akan terus bergerak. Manusia tidak akan pernahmemiliki batas final untuk menjadi, karena manusia akan terus mengalami kemenjadian (werden) melalui sebuah Verstehen—sebuah gerak memahami yang membentuk kemenjadian. Dengan demikian, manusia akan terus menjadi.
Kesadaran Mencintai: Apa yang Saya Sebut ‘Mit-Bewusstsein’
Oleh karenanya, cinta sebenarnya harus ada pada taraf kemenjadian. Maksud taraf kemenjadian di sini adalah keniscayaan manusia bergulir maju, dan kesadaran-untuk mencintai (concsiousness-love). Cinta adalah sesuatu yang harus di atasi tanpa akhir. Tidak sebagai sebuah masalah, tetapi sebagai sebuah misteri yang dialami, dihidupi. Kesadaran inilah, yang pada akhirnya membawa kita pada perhatian kita, bahwa cinta bukanlah sebuah perasaan afektif yang datang, yang diamini dan dihidupi hingga kematian datang sebagai sebuah inklinasi bersyarat. Bahwa cinta seharusnya sebagai sebuah kesadaran total (Totalität des Bewusstseins) akan keharusan mencintainya, bukan kepasrahan das-Man yang membiarkannya mati. Cinta seakan menjadi ada-yang-bersyarat, aku I) mencintaimu (Thou) hanya dan hanya jika perasaan afektif itu ada. Maka ketika kematian afeksi muncul, cinta dilepaskan begitu saja. Sebagaimana di atas: “love is an activity, not passive affect—because—it is standing in, not falling for”. ‘...Standing in...’ cinta seharusnya adalah sebuah bentuk aktif menghidupinya. Apa yang dimaksud Fromm adalah apa yang saya sebut sebagai kesadaran-untuk mencintai. Artinya, cinta itu ada karena juga memiliki ‘yang-ada’, yang menjadikan dia ada. Kesadaran inilah, yang melahirkan perhatian, dan kesadaran untuk merawat, menjaga dan mempertahankan cinta.
Kesadaran-mencintai (consciousness-love) di sini bukan kesadaran mengenai keharusan atau menggambarkan bahwa manusia memiliki kesadaran atau kebutuhan instingtif (Das-Ding-an-sich) bahwa manusia harus atau hakikatnya mencintai, tetapi adalah bentuk situasi consciousness (sadar) ketika mencintai, maka akan melahirkan ‘apa-yang-harus-dilakukan’, atau istilah yang digunakan Heidegger adalah sorge (kekhawatiran-kepedulian) atau bentuk ‘apa-yang-akan-atau-harus-ku-lakukan’. Kesadaran ini melahirkan anggapan, persepsi bahwa cinta harus dirawat, dijaga, dilanggengkan (standing), bahkan ketika harus menghadapi guncangan, atau bahkan badai sekalipun. Kesadaran bahwa cinta adalah bentuk kesadaran inilah, yang nanti melahirkan kesadaran ‘mewaktu’ antar dua subjek (I and Thou).
Salah satu kritik Nietzsche atas Schopenhauer adalah soal bagaimana kehendak atau yang namanya das-Ding-an-sich atau kata Kant nanti adalah nomena, atau kita memahami kata itu dengan nama ‘hakikat’ hidup sebagai penderitaan, yakni bagaimana Schopenhauer masih memberi makna hidup: bila agama terlalu optimis dengan memaknai realitas-hidup adalah positif, maka Schopenhauer sama saja dengan mengatakan hakikat dari hidup adalah penderitaan. Maka, dengan kita tahu bahwa hidup itu derita, tawaran Schopenhauer adalah asketisme. Namun, menurut Nietzsche, yang namanya hakikat itu tidak ada. Jadi, hidup itu tidak mutlak-positif ataupun tidak mutlak-negatif tidak ada. Di mana hidup adalah bercampuran yang positif dan negatif. Mungkin kata Heidegger, hidup adalah sebuah faktisitas, yakni keterlemparan manusia pada pengalaman ‘mengejutkan’ yang tak-terelakkan atau yang-tak-terkirakan. Menurut Nietzsche, Schopenhauer membawa manusia pada eskapisme, yakni pelarian-diri-dari. Sebab hidup adalah kaos (chaos atau kekacauan).
Menurut Nietzsche, manusia yang-lari, memilih menjadi eskapis—yakni baik dalam bentuk etis, estetis maupun asketisme sebagai bentuk pelarian diri-sang-manusia dari kenyataan-realis-hidup menyedihkan, yang kata Schopenhauer adalah kekekalan-penderitaan yang menjadi esensi dari hidup kita—dalam menghadapi hidup yang kaos (kacau) adalah ujud dari manusia yang lemah, manusia takut yang disebut manusia kawanan. Manusia hanya akan menjadi das-Sein. Menurut Nietzsche, manusia yang overman adalah dia yang berani menghadapi hidup yang kaos itu.
“Hidup adalah tragedi. Bagi kita yang telah sadar akan hidup-tragedi, adalah derita, tetapi dengan kesadaran kenyataan tragis itu kita terus mau menjalaninya adalah bentuk ironisnya kita.”
Karena manusia-over, adalah mereka yang dengan berani menghadapi hidup apa adanya. Mungkin dengan kenyataan bahwa sikap itu melahirkan jarak, kewaspadaan (Sorge) mengenai faktisitas masa depan.
Mungkin, kita teringat bangsa Viking. Mereka beranggapan, bahwa das-Ding-an-sich (hakikat) yang harus mereka terima adalah takdir bahwa mereka adalah tentara perang yang harus senantiasa berperang. Mereka beranggapan, bahwa kematian dalam pertempuran adalah sebuah keagungan. Mereka yang mati dalam berperang, akan pergi ke Valhala dan bertemu Odin untuk makan bersama di Hall of Odin. Namun, bagi mereka yang kabur, lari dari pertempuran. Kemudian mati karena sakit, tua, maka mereka adalah manusia lemah yang hanya akan berakhir dalam Helheim. Begitu juga manusia-berada (being). Manusia yang Dasein, adalah mereka yang berani menghadapi faktisitas di depan mereka. Maka, manusia yang Dasein, being in the world (In-der-Welt-Sein) adalah mereka yang dalam menghadapi angst mungkin juga unheimlichkeit (keseraman): maksudnya adalah badai dalam mencintai, yakni kematian cinta itu sendiri, adalah mereka yang sadar mau untuk mempertahankannya, bukan malah memilih berpisah. Keterpisahan itu, adalah bentuk keterputus-asaan sang manusia berada.
Menurut saya, cinta adalah bentuk penghayatan (Erlebnis). Bagaimana saya bisa dengan sombong mengatakan bahwa cinta adalah penghayatan (Erlebnis), dan menghina ujud Ilahiyah—cinta Ilahiyah yang saya maksud adalah asumsi atau anggapan bahwa cinta adalah anugerah, rahasia dari langit “...yang turun tak diundang” sebagaimana anggapan Nizami di atas—abstraktif (kognitif) pada cinta yang-tiba-tiba? Artinya apakah cinta hanya sebatas akesi? Sebuah perasaan impulsif? Jika kita melihat pemetaan yang dilakukan Gabriel Marcel, cinta itu memang tumbuh dalam kesadaran untuk-berada atau kesadaran penghayatan. Sebelum manusia sampai pada taraf cinta, manusia akan melewati kontemplasi-reflektif: pertama, adalah admiration (kekaguman). Taraf inilah yang kerap kali orang ambigu dengan perasaan cinta. Kita sering menganggap, bahwa kekaguman adalah simtom dari cinta itu sendiri. Kedua, penghayatan reflektif (reflection). Pada taraf ini, manusia mulai meleburkan dirinya, mulai memunculkan pertanyaan-pertanyaan sok-filosofis: “apakah aku pantas..”; “apakah dia mau...”; mungkin admiration malah melahirkan angst (anxiety) bagi pelakunya, maka muncullah sorge: “kalau kami berpacaran, nanti gimana, ya?”; “nanti kalau kami jadian, langgeng ngga, ya?” Perenungan inilah yang akan mendorong atau menghantarkan manusia pada aksiologisnya: exploration, yakni aksi dari penghayatan: menyatakan cinta.
Maka, ketika dia menerimamu, di sinilah ‘dia’ dan ‘kamu’ sampai pada taraf ‘communion’, taraf komunian inilah yang nanti akan disebut dengan kehadiran (presence). Di mana, kamu sebagai ujud fenomenal dan ujud form diakui dan dihayati oleh ‘dia’, begitu juga dengan dirimu: ‘dia’ sebagai ujud fenomenal dan ujud ideal (form) hadir—ada—dalam dirimu. Inilah kehadiran yang sedang dibicarakan dalam cinta; misal, kamu dan dia—sebelum kamu menyatakan perasaan, bahkan sebelum kamu menghadapi taraf admirasi—ada dalam satu ruang kelas, misal. Belum tentu kamu ‘Ada’ sebagai form, sebagai ‘pengetahuan’ yang bisa mengatakan bahwa kamu ‘ada’ (being)-untuknya. Begitu juga kamu yang tidak ada untuknya, walaupun mungkin kalian duduk satu deret. Inilah cinta yang disebut Pausanias sebagai Aphrodite Uranian—walaupun saya mengakui, bahwa ungkapan ini terlalu dini untuk ‘kalian’.
Kesadaran, bahwa cinta adalah hasil perenungan, yakni: kesadaran aku-ingin atau maksudnya bukan sebuah situasi keterlemparan manusia pada faktisitas. Cinta bukan faktisitas, tetapi sebuah kehendak yang diteruskan secara aktif dan praksis. Di mana, cinta adalah kesengajaan-mencinta, bukan ketidak-sengajaan sang aku jatuh-ke-dalam (falling in), sebagaimana Marcel, bahwa cinta adalah penghayatan reflektif, sementara taraf falling in sebenarnya adalah keadaan di mana sang aku yang jatuh ke dalam admirasi, sebuah situasi ketidak-kesengajaan. Singkatnya, saya ingin mengatakan bahwa cinta adalah kesengajaan aku untuk mencintai, bahwa aku secara sadar, secara aktif mencintai. Bukan manusia yang tiba-tiba didatangi Tuhan dan diberi cinta, tetapi kita adalah manusia yang berjalan, dan menjalani cinta.
Kedua, kesadaran bahwa cinta pada taraf reflektif menghadirkan angst (kecemasan, kekhawatiran) melahirkan sorge (kepedulian-preventif). Di sinilah kita tahu, sebuah komunian menghadirkan Spannungsverhältnis (hubungan-bertegangan) yang perlu untuk diatasi. Masalahnya sama, dua pemahaman-diri (Sichverstehen) yang harus dilebur ke dalam pemahaman-bersama (mit-Einverständnis). Inilah yang disebut Horizonverschmeltzung. Seperti katanya Fromm, bahwa cinta adalah standing in, yakni berdiri di dalam. Di mana, kesadaran bahwa cinta adalah hasil perenungan, saling memahami dalam peleburan, maka harus menghantarkan kita pada kesadaran-harus. Kesadaran-harus itu adalah sorge, yaitu kesadaran merawat, menjaga, dan mempertahankannya. Kemudian, kesepakatan kita bahwa cinta adalah bentuk semu, temporal yang pada akhirnya akan dan harus mati, maka jalannya bukanlah dengan perpisahan—membiarkannya mati begitu saja. Bukankah banyak dari kita, menganggap cinta adalah ilham, anugerah. Ketika cinta surut, memudar maka artinya dia bukan jawaban-kehendak Tuhan, makanya, banyak narasi: “kita sudah tidak cocok”; “kita sudah tidak sejalan”; “kita sudah tidak seperti dahulu lagi” Kenyataan bahwa cinta itu memudar, dan mati harusnya membawa kita pada kesadaran aku-harus. Aku-harus itu adalah keharusan seorang manusia untuk melahirkan, menciptakan cinta baru. Artinya, bukan memperbarui objeknya dengan selingkuh, dengan verai, dengan putus. Namun, melahirkan cinta itu kembali. Namun yang menjadi masalah, kesadaran ini harus dimiliki dua pihak, inilah maksud saya mit-bewusstsein, bahwa cinta adalah kesadaran dua pihak atas kenyataan mereka mencintai. Keduanyalah yang bertanggung jawab atas cinta mereka berdua. Mungkin, saya akan menjelaskannya dalam bentuk lebih ringan,
....bagaikan Tuhan turun, Dia kemudian memberikan sebuah bibit pohon kepada dua manusia yang mencintai: jika keduanya mau merawat bibit itu, maka bibit itu akan tumbuh menjadi pohon yang kuat serta sehat; Sementara, jika salah satu saja yang mengeluarkan potensi effort-nya, maka antara dua: penderitaan yang harus ditelan salah satu pihak, karena dia berjuang mati-matian dalam kesendirian merawat bibit itu dengan baik, atau keduanya yang pada akhirnya memutuskan untuk membiarkan bibit itu mati. Keduanya sama, bibit itu cacat, lemah, bahkan mati. Bibit itulah cinta. Bukankah ketika pohon itu tumbuh dengan baik, pada akhirnya ia melahirkan kebaikan? Buah, oksigen, tempat sejuk....
Cinta ibarat gembok sebuah ikatan. Dia (cinta) yang akan mengunci ikatan itu biar tidak putus. Namun, sebagai sebuah keniscayaan bahwa gembok itu pasti akan terkorosi, rusak. Maka, yang bisa kita lakukan adalah merawatnya. Tetapi, jika dia harus mati, maka yang perlu kita lakukan adalah membeli gembok baru: begitulah cinta. Ketika cinta mati sebagai keniscayaan. Maka, perceraian, perpisahan, kesudahan bukan jalan yang diambil dalam taraf kesadaaran, karena yang harus kita lakukan adalah melahirkan cinta yang baru, bukan dengan mengganti objeknya, tetapi memperbarui cintanya.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar