[Dekonstruksi]: Antara Quran-Historis dan Quran-teologis: Dalam Upaya Rekonstruksi Islam-Historis dan Quran-Historis
oleh: Muhammad Fathun Niam
Satu hal kepicikan kita adalah: menerima kisah Al-Qur’an yang
disampaikan oleh guru-guru kita, tanpa kita mau memvalidasinya ke dalam kitab
yang menjadi rujukannya (Al-Quran). Alhasil, pemahaman kita atas kisah yang
didatangkan, pada akhirnya tercampur dengan narasi-narasi Biblikal
(Israiliyat). Perlu dipahami, kebiasaan Al-Quran dalam membawakan kisah selalu tidak
detail. Sebuah hipotesis—saya akan menganggapnya sebagai hipotesis—Mun'im
Sirry, bahwa Al-Qur'an bersikap demikian karena ia (Al-Qur'an) tahu siapa
audiensinya, di mana para pembaca (penerima Al-Qur'an) adalah mereka yang harus
sudah terbiasa dengan teks yang bercerita perihal, misal: Musa, Yesus,
Sulaiman, dsb. Tentu, jangan berpikir ini berita baik. Sebab, jika demikian
adanya, maka Al-Qur'an sangat aneh dipahami turun dalam ruang pagan di Mekah,
dan seharusnya mereka adalah penganut Yahudi ataupun Nasrani. Seperti argumen
Wansbrough, bahwa Al-Qur'an harus lahir dalam ruang yang memiliki polemik agama
yang intens seperti Irak; Kisah mengenai Musa dan Bani Israel, kisah Yusuf,
Musa membelah laut, sebagian teks benar-benar diambil dari teks Biblikal dengan
menggunakan dalil-dalil berupa riwayat. Misal adalah pertemuan Musa dengan
Su’aib dalam perjalanannya ke Madyan.
Contoh lain adalah kisah Habil dan Qobil yang terekam
dalam QS. 5: 27-31. Bagaimana bisa kita memahami bahwa yang dibicarakan ayat
“Idz qarrabāqurbānān, fatuqubbila min aḥadihimā wa lam yutaqbbal min al-ākhar.
Qāla la-aqtulannak” adalah Qabil dan Habil, bahwa yang diterima adalah Habil,
dan yang membunuh adalah Qobil? Sementara teks sama sekali tidak menyebut kedua
nama mereka kecuali dari ayat “nabā abnai Ādam” (kisah dua putra Adam), dan
Al-Qur'an berharap—dengan pasti tahu—bahwa audiensi mengetahui siapa yang
dibicarakan ayat. Bagaimana bisa, orang pagan memahami nama tersebut? Dan dari
mana kita bisa menerima kedua nama itu? Tafsir? Dari mana ‘mufassīr’ tahu?
Tentu adalah teks Israiliyyat (teks Biblikal). Namun, catatan Biblikal tidak
menyebutkan mengenai bagaimana Qobil diajarkan mengubur.
Anehnya, sikap sinis kita pada penganut agama lain
(infidel) tidak dibarengi dengan sikap kritis kita pada kredo kita sendiri—atau
mungkin karena ‘KREDO!’ itu sendiri?—atau malah memperlihatkan begitu lugunya
umat Islam. Di satu sisi sinis dengan kaum ‘infidels’ atau kaum kafir (mukmin)—kapan-kapan kita bicara
mukmin dan ajaran ekumenis pra-Islam formatif kenapa saya mengatakan orang
kafir adalah bisa disebut mukmin—tapi di sisi lain, seperti tidak ada rasa
bersalah dan berdosa ketika kita menerima dan menelan secara ‘taken for granted’
seperti seorang yang sedang kegirangan akan kisah-kisah Biblikal. Bahkan entah
dengan sadar atau pun tidak membawa narasi “Islam dan Kristen-Yahudi membawa
narasi yang sama” dan bersikap apologetik dengan mengatakan bahwa kesamaan
tersebut adalah validasi keautentikan dan kebenaran Quranik, tapi mengutuk
kedua ajaran tersebut dalam konteks sebagai
para penganut Islam-teologis dalam polemik perdebatan kaum hipertrofik.
Masalahnya adalah, penolakan kita terhadap teks Biblikal,
kita menganggap bahwa teks-teks itu telah teredit dalam masa formatifnya, yang
secara gradual sampai pada masa kanonisasinya. Pernyataan itu membawakan argumen
ketidak-sepakatan kita, dan ketidak-berimanan kita atas narasi Bibel secara
dismisif hari ini. Lantas, sangat aneh jika tiba-tiba, kita memilih menerima teks-teks
israiliyat (Biblikal) yang kita suka secara apologetik untuk memvalidasi teks
Quranik dengan mengeluarkan dalil-dalil dan kaidah-kaidah atas nama
salvation-argument (argumentasi keselamatan) dalam cara pikir yang seya kira
terjebak dalam fantasi-pragmatis.
Namun, sikap ‘taken for granted’, kita, juga menunjukkan
keluguan kita sebagai manusia-kerumunan yang menerima apa adanya teks Quranik
tanpa memberi porsi kritis atas argumentasi, narasi, atau dalil-dalil dari
guru-guru kita dalam menyampaikan Al-Quran. Bahwa Al-Quran begitu unik, tumbuh-berkembang
dari rahim pagan dan melahirkan kesan dan memunculkan narasi dramatis serta
ajaib, bahwa begitu ajaibnya (miracle) Al-Quran. Di mana dia muncul dan tumbuh
tanpa sebuah tahap formatif seperti agama-agama lainnya, yang secara gradual
tumbuh bertahun-tahun hingga terkanonisasi. Sementara tidak dengan Islam dan
Al-Quran. Meminjam istilah Wansbrough, argumen apologetik semacam itu disebut
sebagai narasi ’salvation-history’, atau sejarah keselamatan.
Al-Quran—sebagai Quran-Historis, ironisnya ini istilah
Islam-historis saya gunakan dalam konteks eskepis, lari dari tuduhan hinaan
atas teks—sebenarnya mendapatkan perhatian kritis pada era formatifnya: masa
Abu Bakar, dengan mengenyampingkan perdebatan kita mengenai siapa inisiator
penulisan Al-Quran, antara Umar dan Usman dalam dua teks (riwayat) yang berbeda,
di mana dalam ’ucapan’ yang sama tetapi dengan nama yang berbeda, Al-Quran
mulai ditulis (dikumpulkan). Kemudian masa Usman, dengan mulai adanya pengeditan
teks Quranik awal, hal ini dapat dilihat dalam filtrasi atau penyortiran
teks-teks ’yang dianggap Quranik’.
Salah satu syarat teks disebut sebagai teks Quranik
adalah harus mutawatir (diriwayatkan banyak orang), di mana dalam menyampaikan
teks-teks catatan Quranik mereka, mereka harus bisa mendatangkan saksi. Namun
permasalahannya lahir dari sini. Banyak sahabat yang malah melihat ketidaksesuaian
teks Usmani. Banyak teks (ayat) yang hilang, padahal pada masa Nabi saw.,
ayat-ayat itu diakui (dibaca). Misal laporan Umar dan Aisyah yang menyebutkan
ada satu ayat, tetapi karena tidak dapat menghadirkan saksi, catatan-kesaksian
mereka ditolak. Bahkan beberapa sahabat bersaksi, bahwa surat Al-Bara'ah
(At-Taubah) hanya sepertiga atau seperempat dari teks di zaman Nabi (turunya
Al-Quran). Serta kesaksian mengenai ayat-ayat hukum Rajam.
Di mana mereka? Apakah hanya dua atau tiga koleksi yang
hilang? Bagaimana dengan ayat Al-Bara’ah (At-Taubah), Al-Ahzab, An-Nur,
Al-Hijr, Al-Bayyinah yang sebenarnya memiliki ayat yang lebih panjang dari
susunan-koleksi yang kita baca hari ini. As-Suyuti bahkan, menulis adanya dua
surat yang hilang dari rasm Usmani, yang dua surat (surat, bukan ayat), yang di
mana surat tersebut tercatat dalam koleksi Ibn Mas’ud dan Abu Musa. Perlu
diingat, kita juga berhadapan dengan kontestasi politik yang cukup sengit, terlebih
dengan kelahiran sistem isnad yang melahirkan upaya kreatif untuk menyandarkan
teks-teks dan argumen politis kepada Nabi sebagai validasi argumen mereka.
Dalam satu percakapan Usman, ketika diketahui banyak
penulisan yang salah, ia membiarkan kejadian tersebut dengan asumsi bahwa orang
Arab bisa membacanya, tanpa mengetahui tulisannya (mereka sudah paham dengan
petanda teks). Begitu juga dengan Aisyah yang bersaksi bahwa pada beberapa
kesempatan, sahabat ketika menulis (mencatat) ayat, mereka mengantuk.
Apakah selesai di sini? Tidak! Atas semua kejadian itu,
pada era Malik bin Marwan (khalifah ke-5 Bani Umayyah)—sekitar abad ke8/9
H—membentuk satu komisi lain untuk melakukan pengecekan naskah Al-Quran, dan
dalam beberapa kasusnya, Al-Quran mendapatkan perhatian kritisnya: transformasi
Al-Quran dari ‘scrptio-defectiva’ menjadi ‘scriptio-plena’, yaitu ketika
Al-Quran mendapatkan diakritiknya (simbol titik dan taskil). Salah satunya
adalah kasus Abdullah bin Ziyad yang melakukan penambahan 2000 alif ke dalam Al-Quran,
misal dalam QS. 23: 87 & 89, yang tadinya "sayaqūlūnallah"
menjadi "sayaqūlūna lil-Allah". Begitu juga dengan alif sebagai mad-tabi’i
(untuk menjadi tanda panjang pendek). Artinya, teks Usmani belum memiliki tanda
(simbol) panjang-pendek seperti kata ’qāwl’ dan ’kānu’.
Atas kasus ini, apakah memang Al-Quran adalah kitab unik
yang ajaib? Yang kemudian harus dipandang dan diperlakukan istimewa dengan
narasi-narasi ’salvation-argument’? Itu sebabnya, misal adalah Wansbrough
menganggap kanonisasi Al-Quran, yakni fiksasi Al-Quran sebagai kitab suci
benar-benar baru terjadi di abad sembilan awal Hijriyah, bukan di saat Al-Quran
turun. Namun, dengan berpaling dari Wansbrough, dalam kacamata lain misal
adalah Arkoun, bahwa Al-Quran hari ini telah menjadi korpus yang tertutup, berbeda
dengan Bibel yang selalu terbuka. Inilah Al-Quran yang telah kehilangan
perhatian kritisnya. Dan kritik atas Quran hanyalah dosa dan kekufuran menuju
kemurtadan dalam kacamata picik
sang-manusia Hipertrofis-teologis absurd dengan seluruh liur ’salvation-argument’
dalam narasi ’salvation-history’nya.
Sementara itu, anggapan lain Al-Quran mengkristal atau
diakui sebagai teks ’Kitab Suci’ adalah sejak tahun 1970, ketika percetakan
King Fahad mendistribusikan Quran versinya secara global. Tentu, kenapa
asumsi-hipotesis ini lahir? Karena sebelumnya, Quran ditulis sebagai manuskrip
(teks tulis) yang berkembang sangat beragam. Ragam Al-Quran kuat dipengaruhi
oleh qira’at penulisnya. Oleh karenanya, Quran saat itu berbeda-beda: beda
dalam bentuk penulisannya, simbol, pemahaman mengenai beberapa catatan yang buram,
bahkan peletakan surat-surat dalam Al-Quran. Mungkin kita sulit
membayangkannya, karena Quran hari ini yang kita terima sudah menerima
’standarisasi’ kita kenal Mushaf Usmani, Qiraat Asim, atau bahkan model khat
yang hari ini kita kenal. Sementara dulu, jauh berbeda.
Sebagai sebuah penutup kecil: Keimanan yang tumbuh hanya
dengan persepsi agamis-teologis pasti akan gampang digoyahkan, sebagaimana juga
perkataan Mun’im Sirry. Oleh karena itu pula, kita bisa melihat
penolakan-penolakan terhadap ide-ide akademis dalam perdebatan-dialogis dunia
Islamic-studies ataupun Qur’anic-studies ketika ide-ide itu dianggapnya
menyimpang (sesat secara doktrin). Hal ini, kuat kaitannya akan kesadaran
(consciousness-belief) dan kesadaran berada (consciousness-being). Artinya,
keyakinan agama sebagai produk doktrin, tentu akan mudah goyah. Makanya, banyak
orang awam pasti tidak bisa menerima tawaran sarjana dan kritik sarjana atas
sarjana lain. Dan melihat secara hiperteofik, dengan menyimplifikasikan
persepsi dan mengubah kita dari manusia-cogito menjadi manusia
martil-hipertrofis. Artinya, dengan kesadaran-kesadaran itu, misal: ketika kamu
membaca teks Nietzsche, kritik orientalisme atas sejarah Islam (padahal
kesarjanaan Islam sendiri banyak memberikan kritik atas tradisinya sendiri) tidak akan menggoyahkan keimanan.

Komentar
Posting Komentar