[Menuju Eksistensialisme]: “Kematian Tuhan dan Keresahan Manusia Loyo akan Kebutuhan untuk Percaya”
Beberapa waktu lalu, seorang teman yang mengaku sebagai seorang skeptis, mencoba mendebat seorang agamis. Mereka berdebat tentang Tuhan, seorang agamis—dia seorang muslim—mati-matian membela doktrinnya, dan menggunakan dalil-dalil profan untuk melegitimasi keberadaan Tuhan, sementara sang manusia skeptis mencoba mempertahankan tesis ilmiahnya mengenai ketiadaan Tuhan dengan korespondensi dan positivismenya.
Tiba-tiba, sang ‘ruh bebas’ mendekat dan berbisik di telinga kananku. Ia kemudian bersabda: “Memulai sebuah pikiran dengan keyakinan adalah sebuah kebuntuan. Dia tidak berbeda dengan sikap hipertrofis warga saintifik dari Cite seberang. Sama saja! Dan kita telah melihat keyakinan dan manusia-manusia martir sedang membela agama mereka masing-masing.”
***
Sebuah kebutuhan akan kebenaran, pada ujungnya hanya akan menjadi gambar untuk sebuah kebutuhan akan pegangan. Sebagaimana warta Nietzsche dalam “la Gaya Scienza,” dalam aforisme 125, bahwa ketika Tuhan, sang Matahari mati, hilang, dibunuh, bagaikan matahari yang dicabut dari bumi maka kemana dan bagaimana bumi akan berputar? Bagaimana juga alasan (why) dicabut dari manusia, maka kemana manusia akan bisa bergerak? Sang manusia telah kehilangan sebuah alasan, bahkan ia telah kehilangan moral. Ketika Tuhan dibunuh, rupanya secara otomatis membunuh moral, maka sebagaimana sebuah pertanyaan sang manusia martir, “Kalau begitu, bagaimana manusia bisa berbuat baik?”
Sebagaimana dalam trilogi postulat Kant, nyatanya Tuhan (God) menjadi aspek terpenting dalam lahir dan adanya moral. Dengan deontologisnya, Kant ingin mengatakan bahwa nilai, moral malah mengharuskan Tuhan ada. Sebab, sebagaimana pertanyaan manusia martir. “Jika Tuhan tidak ada, buat apa kita bermoral?” Bukankah tidak masalah kita membunuh? Mencuri? Berbohong? Oleh karenanya, dengan kematian Tuhan yang teramat disambut baik oleh Sartre, kita akan melahirkan nihilisme. Namun, dalam nihilisme itu adakah Matahari baru?
Ingatkah? Dalam “la Gaya Scienza” Si Orang Sinting—mungkin Nietzsche mengambil kisah Diogenes Sinope—dengan membawa lentera di siang bolong berteriak-teriak, “dimana Tuhan?” kepada para pembunuh Tuhan. Si Orang Sinting ingin mengatakan, ke mana kah manusia berlabuh sebab nyatanya, ketika para pembunuh Tuhan membunuh Sang Matahari, tuhan-tuhan lain malah hidup. Sebagaimana bayang-bayang sang Buddha yang hidup dalam goa metafisis. Pada ujungnya Tuhan itu menjelma pada sebuah kredo (keimanan) lain, dalam isme-isme lain, bahkan kata Nietzsche, Tuhan menjelma sebagai selubung dalam tubuh sains.
Apakah Tuhan benar-benar mati? Dalam aforisme 125-nya, Nietzsche mengatakan, bahwa Tuhan menjelma ke dalam bentuk metafisis-spekulatif yang abstrak. Dan masuklah para martir baru, sang penganut kredo isme, salah satunya adalah sains. Nietzsche menggembarkan sains—abstraksi Tuhan dalam selubung lain—sebagai sebuah Cite. Sementara itu apa itu Cite? Dengan demikian, kita akan melihat kritik Nietzsche pada kredo sains. Sebuah agama baru. Dalam wartanya, ia hanya ingin mengatakan, “Apakah sains adalah sebuah kerja obyektif yang murni? Atau dia adalah agama, pegangan stabil bagi manusia?”
Sebelum itu, sebenarnya dalam aforisme 125 dan 343, Nietzsche hendak mengkritik bahwa manusia-manusia pembunuh itu, mereka sebenarnya adalah manusia bertuhan. Sebagaimana digambarkan Nietzsche oleh manusia sinting. Ketika Orang Sinting itu membawa lentera, sementara orang lain malah menertawakannya karena si Sinting membawa lentera, sebenarnya Nietzsche ingin menggambarkan bahwa jika manusia telah membunuh Tuhan, sebagai pegangan stabil, maka hidup menjadi gelap. Sementara, orang di pasar itu tidak demikian, karena setelah para pembunuh (Gaya Scienza aforisme 125) membunuh Tuhan, mereka telah menggantikan-Nya dengan tuhan-tuhan baru. Salah satunya mungkin adalah sains dam manusia martir dari kota sains.
Menurutnya, sains bagaikan Cite (Gaya Scienza aforisme 344) yakni, sebuah kota berbenteng. Untuk bisa masuk ke dalam Cite, kita harus melucuti seluruh atribut ‘keyakinan.’ Maka dari sanalah, kita akan dituntut menjadi manusia yang obyektif, dan terhindar dari tendensi-tendensi menjijikkan. Namun, sebuah anomali memuakkan terlihat. Ketika manusia martir mulai memasuki Cite, polisi pengawas gerbang saintifik selalu memeriksa dan melucuti seluruh keyakinan. Akan tetapi, kita akan melihat di dalam, warga saintifik yang dengan bebasnya berjalan ke sana-kemari tanpa sebuah pengawasan atau pengecekkan. Bukankah aneh? Itulah yang dipertanyakan Nietzsche.
Seperti apa yang diwartakan di atas. Manusia pada akhirnya akan selalu butuh apa yang disebut sebagai pegangan stabil, atau percaya. Bahkan dalam hal ini adalah kebutuhan akan kebenaran obyektif yang tidak lain adalah sebuah implementasi dari kebutuhan akan pegangan stabil tersebut. Ketika pegangan, atau misalkan adalah pondasi sebuah bangunan itu loyo atau kita hancurkan, alhasil bangunan di atasnya akan rusak, ‘amblek’, hancur, runtuh. Begitu juga dengan manusia, ketika kehilangan Matahari, kehilangan Tuhan, maka manusia tidak akan bisa hidup. Manusia tidak lagi memiliki alasan kenapa dia harus hidup. Bahkan Dr. Setyo Wibowo mengatakan, politik pun akan runtuh. Maka dari sinilah nihilisme Nietzsche akan lahir.
Dalam trilogi postulat Immanuel Kant, ia mengatakan jika moral mengharuskan Tuhan ada, agar moral mendapat penghakiman. Bayangkan, bagaimana jika Tuhan mati? Bukankah kita akan kehilangan moral, dan “buat apa bermoral?” Oleh karenanya, manusia menginginkan tuhan-tuhan baru. Maksud penulis, kehilangan itu cukup berarti. Manusia menjadi manusia tanpa alasan. Namun, Nietzsche mengatakan jika tidak semua manusia lahir sebagai Dionysos, tidak semua manusia lahir bisa melepaskan pegangan. Oleh karenanya, manusia mencari pegangan.
Di atas, penulis menceritakan dua teman penulis yang bertengkar, dan menyindir pertengkaran mereka adalah tentang dua orang yang sedang mencoba mengklaim agama siapa yang benar. Yap! Agama. Keduanya tidak lain adalah agama. Secara lebih telanjang, penulis ingin mengatakan bahwa manusia saintifik sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan sang agamis. Oleh karenanya penulis menyindir bahwa “Keyakinan tidak hjauh berbeda dengan Cite seberang, kota saintifik.” Maksudnya, pada beberapa taraf, sikap saintifik pada akhirnya adalah agama baru. Sampai sini, penulis sendiri hanya mampu mendiagnosis, bahwa isme, sains, atau pegangan lainnya akan tidak saintifik ketika dia dogmatis, menolak falsifikasi, sebagaimana doktrin yang akan mengevaluasi kritik dengan jawaban pamungkas, “dosa.” Itulah yang disebut Nietzsche sebagai manusia martir.
Manusia martir sendiri adalah manusia yang mencoba mati-matian mau membela agamanya—keyakinan atau pegangan stabilnya. Dari sini, kita akan masuk dalam idée fixe dan ‘kata’. Kata, sebagai manifestasi sonor, ia adalah selubung—semacam oenutup, topeng yang bersifat sementara. Atau kita akan memahaminya sebagai epistem—sebuah pengetahuan yang dimantapkan, dimana ketika A adalah harus normal dan B harus abnormal—dalam khazanahnya Foucault. Namun, dalam kata, manusia terkadang bersikap hipertrofik atau mengalami pembengkakan. Dimana, manusia akan bersikap fanatik. Sikap hipertrofis inilah yang melahirkan manusia-manusia martir. Ia hanya mampu melihat satu aspek dalam ratusan aspek. Misal, dalam melihat ‘Kata’, seseorang hanya mau mengakui huruf K, dan mengabaikan tiga kata yang lain. Dan secara mati-matian dia membela huruf K tanpa mau mengakui keberadaan tiga huruf lain.
Alhasil, kita telah melihat manusia dekaden, manusia-manusia yang merosot. Orang-orang yang loyo itu, adalah orang-orang yang sangat butuh pegangan. Misal apa yang dianalogikan oleh Agustinus Setyo Wibowo, mereka bagaikan manusia yang sedang dalam masa terpuruk. Kita lihat, manusia yang tidak terjerat dalam penderitaan, manusia bersikap tidak memiliki masalah. Namun, ketika manusia jatuh sakit, tiba-tiba diputus pacar, bangkrut, atau apa pun itu, yiba-tiba manusia menjadi manusia saleh yang mencoba mendekati Tuhan.
Begitu juga dalam sebuah kajian dikata ilmiah, ketika dia berjalan melalui aposteriori, bukan melalui apriori (dogma). Jika langkah akademik dimulai dari pintu keyakinan, pasti produk atau hasil kerjanya berupa teks-teks tendensius atau teks yang hanya berupaya memvalidasi doktrin-doktrin semata—hipertrofis. Manusia sebagai martir, sebagai palu bagi keyakinannya akan menghantam seluruh orang-orang yang mencoba memfalsifikasikan argumentasinya. Sebagaimana warta C. Raymond Popper yang menusuk, bahwa sebuah pengetahuan yang tidak bisa ter/dan di- ia hanyalah bentuk doktrin dari guru agama.
Dalam fenomenologi, mungkin kita akan mengenal terma ‘epoché’. Bahkan dalam berbicara mengenai teks suci—adalah al-Quran, misal sebagai fokus disiplin penulis—dengan cara apriori—dengan mulainya dengan dogma, dengan kredo sang kepala martir—kata artinya kita tidak bisa menerjemahkan teks dengan benar. Karena teks-teks lain ataupun teks-teks profan lainnya hanya akam dipergunakan untuk mengamini kredo atau dogma. Bahasa lain, hanya untuk membenarkan sebuah dogma.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar