[Kenapa Harus Filsafat]: “Membincangkan Fenomena Childfree dalam Dimensi Deontologi-etis Immanuel Kant (Filsafat Etika)”
![]() |
| source: @aqilanura |
“Ketika moral di atas moral menguasai dan mengendalikan manusia. Sebuah sikap dilematis antara manusiawi dan manusiawi, antara baik dan baik lahir, dan menghantui manusia.”
Kita akan mencoba menilai fenomena ‘childfree’ dengan etika filosofis. Apakah childfree adalah tindakan yang baik, atau childfree adalah tindakan yang buruk (imoral)? Atau sebenarnya childfree adalah perilaku yang ‘accepteble’ (amoral), yang artinya dia tidak bernilai baik atau buruk. Sementara baik buruknya adalah nilai konstruktif—sebuah nilai yang disisipi oleh ide-ide eksternal baik nilai agama maupun nilai normatif masyarakat (sebuah nilai atau aturan yang disusun oleh segenap orang atau kelompok); kita akan sekalian kembali membicarakan nilai (moral) dari erotis-libido (kebutuhan libidoistik). Saya ngga tau, se-cringe apa bahasan ini.
Kita mulai dengan dua asumsi: ‘pertama,’ bahwa manusia adalah makhluk nihilis. Manusia adalah makhluk yang hidup dalam dimensi non-moral (amoral)/bebas nilai. Alhasil, kewajiban yang nanti akan menjadi moral—sebagai sikap tanggung jawab dari good will—akan terlahir dari konsekuensi kewajiban yang dipilih oleh setiap manusia. Kedua, bahwa manusia adalah makhluk yang membawa esensi, sebagaimana nanti dinyatakan oleh Kant. Bahwa dalam diri manusia telah ada nilai-nilai yang nanti harus dikeluarkan. Berbeda dengan premis pertama tadi, pada asumsi kedua, manusia telah membawa esensi, bukan lagi manusia yang menciptakan esensi melalui eksistensi seperti asumsi pertama.
Kita buka dengan konsep ‘will to exist’ Arthur Schopenhauer. Kehendak tersebut juga akan melahirkan konsep ‘will to reproduction’ (kehendak untuk berkembang biak), sebagai jalan memenuhi kehendak untuk hidup (will to life). Inilah yang melahirkan konsep cinta, yang demikian itu adalah sarana ekspresif manusia dalam memenuhi kebutuhan erotis-libido (kehendak seksual), yakni untuk berkembang biak. Sementara Freud lebih mengatakan jika cinta adalah sublimasi atas kegagalan manusia memenuhi kehendak seksualnya.
Dengan asumsi di atas, kita setidaknya bisa menilai, apakah ‘wath`u’ atau berhubungan—sebagai perilaku ekspresif memenuhi kebutuhan instingtif erotis-libido—tidak membawa nilai apakah yang baik adalah pernikahan atau tidak dalam hubungan pernikahan. Kita bisa menilai, pernikahan sendiri adalah sebuah kehendak ekspresif-instingtif untuk memenuhi kebutuhan libido sesuai dengan legal-law (hukum). Dari sini, mungkin kita akan mengenal kebutuhan. Dari sini, mungkin kita akan mengenal naluri untuk mempertahankan spesies—sebagaimana Schopenhauer, bahwa cinta tidak lebih hanya sekedar ekspresi manusia mempertahankan dan melanggengkan spesiesnya. Dalam hal ini, kita mungkin akan mengenal kebutuhan akan fisiologis milik Masslow.
Selanjutnya, jika kita misalkan bahwa seluruh etik pada dasarnya adalah konstruk sosial, artinya seluruh nilai ditentukan dan disusun oleh segenap masyarakat: misal di tengah masyarakat kita, senyum dan menyapa adalah bagian dari nilai moral (baik), sementara jika ketika bertemu orang dan kita diam, kita akan—mendapat evaluasi dengan—dianggap tidak sopan. Berbeda dengan Rusia, yang menganggap orang tidak baik ketika ia senyum kepada orang asing. Artinya, bahwa nilai-nilai itu adalah sebuah aturan yang dibuat oleh segenap manusia—dalam hal ini, Nietzsche akan mengkritik universalitas moral Kant. Karena menurutnya—sebagai seorang perspektivis—ia memahami bahwa kebenaran dan sebuah nilai adalah sebuah perspektif—sebagaimana wartanya: “There are no facts, only interpretation.” Berbeda dengan Kant , terlebih ketika Kant harus menilai sebuah kebenaran ada pada taraf universalitasnya—sebagai sebuah nomena.
Maka, bagaimana jika etika kita gunakan untuk menilai fenomena childfree? Apakah childfree sebagai tindakan yang ‘blameworthy’ (imoral), ‘acceptable’ (amoral) atau non-moral, atau sebenarnya childfree malah sebagai tindakan yang bermoral? Jika kita mulai dari kacamata nihilis, maka nilai sifatnya adalah perspektif, artinya nilai diciptakan dari diri manusia sendiri, bukan lagi sebuah universalitas moral—dengan kata lain, nilai itu adalah (bisa jadi) konstruktif. Artinya, nilai sebuah tindakan, bahkan mungkin adalah ‘bahasa’ ada pada level non-moral (acceptable): sebuah tindakan akan bernilai baik dan buruk akan dipengaruhi oleh nilai konstruktif (normatif). Misal, sebuah warta Syeikh Siti Jenar pernah mengatakan: “Ulama telah membohongi, membodohi kita, kita disuruhnya jungkir balik hanya untuk mengharap surga.”
Misal dalam kata “membohongi” dan “membodohi” sebenarnya kedua kata itu tidak baik dan tidak buruk. Namun, karena ia tercemari oleh sebuah kebiasaan (habitus) sebuah praksis sosial normatif, kemudian habitus itu membawa kacamata yang sama di hadapan agama, maka kita akan menilai bahwa perkataan itu imoral (jelek). Begitu juga jika kita menilai, apakah “orientasi dan perilaku seksual” itu harus hetero atau sebenarnya dia bebas nilai?”
Misal kita lihat di atas, adanya kebutuhan manusia dalam memenuhi—dalam bahasa Freud akan kita kenal dengan—kebutuhan erotis-libido, atau dalam hierarki A. Masslow kita akan mengenal lima kebutuhan yang didasari oleh kebutuhan fisiologis, termasuk seks. Artinya, salah satu kebutuhan manusia adalah akan seksualitas. Begitu juga dalam satu ungkapan penulis: “Pernikahan adalah upaya ekspresif manusia dalam memenuhi kebutuhan erotis-libidonya secara legal-law, baik legal agama maupun konstitusi.” Secara tidak langsung, penulis ingin berbicara, “bisa jadi, hubungan non-marital adalah sah, dalam artian dia tidak baik dan tidak buruk.” Sementara, sebuah tindakan itu menjadi imoral—yang selalu diingatkan dalam agama—jika dampak yang dihasilkan bisa jadi malah dehumanis atau tidak manusiawi. Begitu juga Kant, bahwa etika atau moral bisa dinilai jika diam manusiawi, jika tidak manusiawi maka dia tidak lagi bermoral.
Maksud penulis, baik orang itu heteroseksual maupun homoseksual atau bahkan aseksual—baik karena ‘given’ maupun karena sebuah konstruksi—tidaklah memiliki muatan nilai: apakah dia imoral, amoral atau bermoral. Sebab praksis atau tindakan atau perilaku tersebut adalah upaya sang subjek memenuhi kebutuhan fisiologisnya berupa erotis-libido. Dengan kata lain, seseorang tidak bisa dinilai dia sedang menyimpang atau tidak.
Namun, jika kita meminjam konstruksi berpikir Arthur Schopenhauer maka saya kira, kita akan menemui sebuah hipotesis yang lain. Dengan memulai dengan apa yang kita sebut sebagai ‘kebutuhan’ atau ‘kehendak’ (Will). Sebagaimana penulis uraikan secara singkat di atas, menurut Schopenhauer, manusia memiliki sebuah kehendak—sebagai sebab sebuah tindakan, yang itu akan dipahami oleh Kant (selaku gurunya Schopenhauer) sebagai nomena. Kehendak yang paling besar adalah sebuah kehendak untuk eksis (the will to exist). Sayangnya, manusia menyadari akan kefanaan, kesemuan dirinya sebagai makhluk. Oleh karenanya, manusia memiliki kesadaran untuk terus melanggengkan eksistensi dirinya dengan cara berkembang biak. Maka lahirlah konsep “kehendak untuk reproduksi” yang memberi manusia kesadaran untuk melanggengkan spesiesnya. Dengan kata lain, reproduksi atau perilaku seksual sebenarnya didorong oleh sebuah kehendak, dan kehendak itu tidak lain adalah untuk terus berkembang biak dan melanggengkan spesies.
Dengan demikian, kita akan mendapati sebuah kesimpulan lain. Bahwa tindakan dan perilaku seksual didorong oleh kehendak untuk melanggengkan spesies. Ada seorang teman, ia selalu kekeh mengatakan, bahwa pernikahan dia didorong oleh dia dan kekasihnya, artinya dia ingin mengatakan bahwa anak bukan sebuah dambaan baginya. Namun, bisa jadi, pada taraf ‘unconscious-nya’ ia memiliki sebuah kebutuhan dan kehendak instingtif untuk memiliki anak, sebagai cara agar dia bisa hidup kembali—sebagai gambaran kecil seperti karma Momoshiki dalam tubuh Boruto, di mana sang subyek ingin terus hidup dengan mengekstrak dirinya ke salam inang.
Maka, jika kita menilai sebuah seksualitas dengan kerangka berpikir ini, kita akan menemui, bahwa “seorang yang memiliki orientasi dan perilaku aseksual dan homoseksual adalah menyimpang dari sebuah nilai.” Dengan kata lain, perilaku tersebut bukan lagi ‘acceptable’ (non-moral) atau amoral, melainkan malah tondakan yang imoral (blameworthy), karena jika kebutuhan instingtif manusia adalah “melanggengkan spesiesnya” dengan cara yang hanya bisa ditempuh dengan bereproduksi. Sementara, reproduksi sehat—yang mampu melahirkan anak—adalah perkawinan atau hanya dari perilaku heteroseksual, di mana yang akan mempertemukan sperma dengan sel telur—sperma bisa membuahi sel telur. Sementara, jika reproduksi homoseksual tidak mungkin mempertemukan sperma dengan sel telur. Alhasil, manusia gagal melahirkan penerusnya, dan manusia tersebut gagal melanggengkan spesiesnya.
Begitu juga dengan fenomena childfree. Jika dengan childfree manusia tidak mampu melanggengkan spesiesnya, dan di depan manusia akan mengalami kepunahan maka tindakan childfree dianggap imoral (blameworthy), sebab telah keluar dari apa yang disebut Kant sebagai good will, atau sebuah niat baik yakni melanggengkan spesies. Namun hari ini kita dihadapkan oleh sebuah kenyataan yang lain: bumi hanya mampu menampung 10 miliar populasi manusia; setiap tahun manusia bertambah tidak kurang dari 100 juta populasi; dan populasi kita hampir menyentuh 8 miliar populasi. Artinya, bumi bisa jadi tidak bisa dihuni—karena akan kekurangan banyak bahan makanan. Artinya, apakah childfree akan menjadi tindakan yang malah bermoral? Dengan kita melihat kenyataan hari ini. Itulah sebabnya kenapa narasi “2 anak cukup” harus menjadi rezim wacana, dengan meninggalkan epistem, “banyak anak banyak rezeki.” Pengetahuan (epistem) tersebut tidak lagi relevan dengan kenyataan kita hari ini. Bukan hanya itu, mungkin kita juga harus memulai gaya hidup dan pola makan baru, dengan mulai memilih kita mau makan apa, sebagai seorang vegan, vegetarian, atau memakan makanan hewani. Setidaknya, mengurangi sikap tamak, rakus setidaknya bisa membantu 0,0000 sekian persen kehidupan di bumi.

Komentar
Posting Komentar