[Logoterapi]: “Hidup seperti Kamado Tanjiro, sebagai Langkah Awal Meneruskan Hidup” (Bagian 2 dari Logoterapi)

 



“tulisan ini banyak berbicara soal ‘Aku’ jadi silakan dipikirkan kembali”

Jika kita membaca upaya Frankl menyembuhkan para tawanan baik di Auschwitz maupun di Bavaria atau Dachau, langkah terakhirnya hanyalah ajang dialog untuk menemukan makna hidup [sebab kadang obat-obatanan tidak lagi memadai, atau seorang dokter sudah tahu, bahwa pasiennya sudah tidak memiliki harapan lagi]; ketika Frankl harus menghentikan percobaan bunuh diri, ia bertanya mengenai hidup, ia berkata, “jangan berharap dengan hidup, tapi jadikan dirimu diharapkan oleh kehidupan”; ada suatu kisah, dimana ada tawanan yang mencuri kentang di gudang penyimpanan. Ketika para serdadu SS mengetahui kejadian itu, ia memerintahkan pada para tawanan untuk menyerahkan pencuri itu [dimana para tawanan tahu siapa pelakunya, tetapi jika mereka tidak menyerahkan pelakunya, maka mereka tidak mendapat jatah makanan. Ke-2500 tawanan memilih untuk puasa semalaman].

Pada akhirnya, tawanan itu tertidur dengan perut yang kosong. Demikian ini malah memunculkan emosi-emosi tertentu, hingga satu tawanan senior meminta Viktor Frankl [seorang dokter kejiwaan] untuk memberi sedikit ceramah. Farnkl berbicara mengenai penderitaan, kebahagiaan, sampai pada makna hidup. Setidaknya mengatakan, bahwa hidup-hidup kita yang seakan dirampas, pada hakikatnya tidak pernah dirampas, sebagaimana kata seorang penyair, “Was Du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir rauben” (tidak ada kekuatan apapun di Bumi yang mampu merampas pengalaman yang telah kamu jalani). Upaya Frankl rupanya berhasil memberi api semangat hidup untuk para tawanan, setidaknya sedikit dari mereka mulai meraih kesadaran hidup, maka mereka pun akan meraih makna hidup mereka..

Adapun kisah lain, suatu ketika, ada dua orang tawanan yang ingin melakukam bunuh diri [ini fase psikologi awal yang dihadapi oleh para tawanan]. Kemudian, Frankl menasihati dengan sebuah pertanyaan, “apa hal yang sangat membutuhkan dirimu?”: dua orang itu masing-masing menjawab, “aku memiliki seorang putri yang sangat aku sayangi”; tawanan kedua [dia seorang ilmuwan] berkata, “aku memiliki naskah yang belum selesai, dan hanya aku yang dapat menyelesaikannya”, dari sanalah, semangat berjuang mereka tumbuh kembali [semangat hidup mereka telah termotivasi oleh diri mereka sendiri], dari sana mereka menyadari tujuan setidaknya menjawab sebuah pertanyaan, “kenapa aku harus tetap hidup? Kenapa aku harus tetap selamat?” [walaupun kenyataan memberikan gambaran, bahwa kecil bagi mereka kata bebas]. Dalam kalimatnya ia berkata, “kita tidak perlu berharap sesuatu dari hidup [berharap kebebasan para tawanan]. Sebaliknya, biarkan hidup yang berharap dari kita [sebagaimana dua tawanan yang hendak bunuh diri tadi].”

Viktor Frankl pun bercerita, bahwa sebuah hal “yang menjadikannya tetap waras” adalah kesadaran atas upaya dia yang harus melanjutkan dan menyelesaikan naskahnya [dia punya naskah pertama yang dirampas oleh Nazi. Kemudian naskah itu dilebeli, “The Doctor and the Soul: An Introduction to Logotherapy”]. Kesadaran akan kebutuhan atas dirinya yang mampu menyelesaikan tulisan itu, yang menjadikan dia tetap bertahan dalam kamp Konsentrasi.

Anggaplah seperti ini: kamu seorang mahasiswa, yang mungkin mencapai titik konflik batinmu, kamu sudah hampir putus asa. Kamu punya setumpuk ‘tugas’, hingga kamu berpikir, “ini tugas... khayal bisa khatam, bisa selesai”. Dengan keputus asaanmu, kemudian kamu mencoba keras untuk menyelesaikan tugas itu, bahkan kamu terus berusaha mencari semangat. Setidaknya kamu bisa bertahan sampai tugas-tugas itu selesai. Hingga kamu mencoba merenungkan banyak hal, yang tadinya overthinking sebab mengkhayalkan tugas ngga selesai-selesai sampai pada taraf kamu memikirkan kembali tujuan kamu. Yang lebih parah lagi, kamu hanya memikirkan dan membayangkan jikalau tugas-tugas itu selesai tanpa kamu bergera sedikitpun.

 Sebuah kesadaran seorang mahasiswa: “Ah, aku pingin lulus tepat waktu; aku pingin cumlaude: dengan aku ngga ngerjakan tugas, bisa jadi nilaiku ‘E’, aku jadi ngga lulus”. Hal yang pernah saya lakukan adalah, saya mengingat perkataan teman saya, “pasti bisa!” Dan perkataan itu saya ucapkan seharian dengan mengerjakan tugas-tugas yang pada dasarnya, tugas itu sangatlah mudah [ya walaupun makalah berjibun dengan deadline yang diberikan cuma 1 minggu; ada yang cuma tiga hari, ditambah satu teman kampret yang tugasnya ngga mau dikerjain, kan kezel... soalnya saya yang jadi ketua kelompoknya].

Ada suatu kesempatan, mata kuliah Hadis Kealaman, saya mendapat kelompok yang sama sekali ngga guna. Dari diskusi soal ide, bahkan eksekusi yang pada hakikatnya adalah saya sendiri [di saat bersamaan saya ada tugas antropologi yang selama tiga bulan saya berusaha mencari tema atau obyek bahasan, yang ngga nemu-nemu. Alhasil, demi tugas itu, saya berhenti mikirin tulisan lain, hilang sejenak dari dunia ‘meta’ [dunia digital, semacam instagrma—ya saya cuma instal apps itu aja, sih]. Sangking jengkelnya, saya berpikir untuk tidak mencantumkan nama mereka.

Hal yang menjadikan saya tetap mengerjakan makalah itu adalah ucapan saya sendiri [kesadaran saya sendiri], “saya pingin lulus”; ada sebuah hal yang saya pegang, “kebanyakan berpikir untuk menentukan sesuatu (menunggu) adalah hal yang menyia-nyiakan. Lebih baik lakukan saja, kerjakan saja”—pikiran ini lahir dari perkataan seorang pemikir: “tidak penting kita mengetahui siapa manusia pertama, apakah dia Adam, atau ada Adam sebelum Adam, atau ada ribuan Adam sebelum Adam. Karena demikian tidak menambah kualitas iman kita”; sementara kata Sayyid Qutb dan Amin Khuli, “mencari tahu kebenaran kisah al-Quran [mencari bukti-bukti empiris] adalah hal yang menyia-nyiakan saja, dan menghabiskan waktu”; Dan adapun yang demikian saya katakan, senada dengan Lao Tzu.

Lao Tzu mengatakan, [bil lafdzi-nya], “berhentilah berpikir, kerjakanlah”; dengan hati yang ngga nyaman, saya mengerjakan makalah kelompok itu sendirian [saya berikan sedikit paparan hermeneutikan psikologinya: saya setiap jadi koor kelompok, sekaligus yang tukang kodifikasinya tidak hanya nyuruh, tapi beberapa tema yang saya kuasai, saya berikan buku pdfnya, saya potokan bab2 tertentu, saya kirim artikel, bahkan saya selalu coba menggiring mereka, mengajak mereka berpikir dan menjadikan mereka usefull. Tapi itu nihil!]. Dan kesadaran saya sebagai seorang mahasiswa adalah bisa lulus [ada hal buruk yang jadi ego saya—Khudi Iqbal selalu menghalalkan pikiran saya].

Kesadaran itulah yang menghantarkan manusia pada “bertahan hidup”. Misal kesadaran Frankl soal dia sebagai author dari naskahnya, yang kemudian menumbuhkan dorongan untuk tetap hidup, selamat, dan bebas [walaupun harapan itu ‘seakan nihil sama sekali’] demi ia mampu meneruskan dan menyelesaikan naskahnya. Artinya, semangat itu tumbuh sebab kesadaran dan sebab dirimu sendiri. “Motivator terbesar seseorang adalah motivator yang ada dalam dirinya sendiri”, walau terkadang ia membutuhkan motivasi eksternal untuk membangunkan motivator dalam diri [memberi kesadaran akan tujuan hidup, baik jangka panjang maupun yang jangka pendek].

Saya teringat dengan karakter animasi dalam series Kimetsu no Yaiba, yakni Kamado Tanjiro. Episode Tanjiro melawan Iblis Bulan Atas, Daki dan Gyutaro, adalah episode yang menampilkan kesengsaraan sang karakter: sedikit kita mau menyelami diri Tanjiro, kita bisa bayangkan betapa kelelahannya dia, bahkan berkali-kali ia mengucapkan kata-kata yang menggambarkan ketidak sanggupan dia untuk melanjutkan pertarungannya. Namun, hal yang selalu dia ingat adalah tujuan dia selama ini [kesadaran makro: kesadaran jangka panjang; dan mikro: kesadaran jangka pendek atau bersifat lokal], yakni menyelamatkan adiknya, membasmi Iblis dari muka bumi, serta tanggung jawab moral dia terhadap atasannya, Uzui Tangen yang ikut dalam pertempuran.

Ia sangat merasa bersalah, ketika ia mengetahui kenyataan, bahwa mereka telah kalah—terlebih, kita mampu melihat keterputus asaan bahkan Tanjiro, dan dua temannya setelah menyaksikan kekahalah Rengoku dalam pertempuran sebelumnya. Dimana Tanjiro menyalahkan dirinya sendiri sebab ia tak mampu membantu menyelamatkan atasanya, yakni Rengoku—: Uzui Tangen yang sudah tengkurap dengan pergelangan tangan terpotong, satu temannya yang sudah tergeletak begitu saja [dia kena racun; dimana racun itu menjadi satu dengan senjata sang antagonis. Ditambah, senjata itu juga mengenai dadanya], teman satunya tertimpa reruntuhan, ia tak mau mengulangi ketidakberdayaan sama seperti sebelumnya. Oleh karenanya, kesadaran mengenai tujuannya terus tumbuh dan membakar semangat hidupnya [padahal dua jarinya sudah patah], yang ingin menyelamatkan adiknya [kesadaran mikro], teman-temannya, moralnya sebagai manusia [yang terenyuh, dan menyalahkan dirinya sebab sempat meninggalkan Uzui Tangen demi membantu dua temannya yang lain untuk meghadapi Iblis yang satunya], terus menjadikan dia bertahan dalam kesengsaraan dan terus berharap kemenangan [walaupun harapan itu ‘seakan nihil sama sekali’], yang mungkin ia bisa berharap hanyalah menahan pertempuran sampai matahari cepat menyingsing. Dan pada akhirnya, ia mampu bertahan dari kesengsaraan itu, dan melewatinya.

Saya kira, kesadaran Kamado Tanjiro lebih enak untuk menggambarkan gagasan Viktor Frankl. Dimana kesadaran itulah sebagai sebuah motivasi hidup, sebagai sebuah jalan untuk menemukan makna hidup. Sebelum sampai pada ‘makna’, seorang akan bertanya mengenai tujuan daripada hidup itu sendiri, sebagai mana Tanjiro yang berpikir mengenai tujuannya sebagai ‘Demon Slayer’; dalam pertempurannya, ia sudah menghadapi kematian, apalagi ketika ia sudah terkena racun tepat di rahangnya. Ia hanya berharap, ia mampu menebas leher sang Iblis. Kesadaran [yang memotivasi bertahan hidup dan harus hidup] telah menyelamatkan, bukan hanya Tanjiro, tetapi juga Uzui Tangen beserta Istrinya yang ikut pertempuran, serta kedua temannya, terlebih ia telah mengeluarkan kesengsaraan manusia dari adanya Iblis.

Ditulis oleh: Muhammad Fathun Niam, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Komentar