[Filsafat]: “Sebuah Solusi menghadapi Absurditas”
Sebuah hipotesa yang saya pegang adalah, bahwa “setiap orang pasti
berfilsafat”. Tidak hanya Thales dan Anaximenes & Anaximandros di muka,
tapi eksi banyak orang yang sezaman dengannya telah berfilsafat, walaupun tidak
semua orangyang berfilsafat sampai pada taraf ‘filosof’; walaupun, Epictitos
jengkel dengan orang yang mengaku filosof. Bahkan, manusia sekarang mampu untuk
berfilsafat. Demikian itu adalah produk dari segala kontemplasi seseorang
belakangan. Atau Bahasa sederhananya adalah ‘meaning’ atau dalam
istilah teologinya adalah ‘hikmah’.
Socrates [entah, ada seorang yang mengatakan bahwa dia adalah
Luqman yang disebut dalam Al-Quran; pendapat ini keluar dari seorang akademisi
yang sama yang telah mengeluarkan argumennya mengenai Dzulqarnain adalah
Alexander The Great], seorang filososf di muka mengatakan, “menikahlah, maka
engkau akan menjadi filosof”. Ia memberi pemahaman, dengan segala urusan
yang dialami manusia, kemudian renungan-renungan yang ia lakukan, akan
menghantarkan dirinya menjadi orang yang penuh dengan ‘hikmah’ atau ‘meaning’
jika kata Viktor Frankl; Secara mandiri, penulis memahami, filosof—dalam terma
agama—adalah “ulil albab’ (lih. Qs. 4: 190-191).
***
Dunia dipenuhi oleh ketidak jelasan—demikian ini disebabkan oleh
ketidak mampuan kita dalam menerka sebuah peristiwa—. Saya mengenal sepasang
kekasih, keduannya adalah orang-orang positivis. Saya melihat, tidak ada
kemungkinan dan merasa sebagai hal khayali memikirkan keterpisahan mereka. Namun,
setelah lima tahun bersama, ujungnya sang perempuan menikahi anak kolega orang
tuanya, sang lelaki menikah dengan temannya sewaktu SMA—hanya teman sekelas,
bahkan keduanya jarang ngobrol sama-sakali—. Yang bahkan masing-masing dari
pasangan itu sama-sama asing dengan pasangannya.
[Takdir yang
Absurd]: “Sepasang
Kekasih”
Saya membatasi takdir adalah “apa yangtelah dan sedang terjadi”;
Absurd akibat keduanya menikah dengan orang yang dikenal baru kemarin sore; padahal
kedua temanku tadi, keduanya berismbiosis mutualisme dalam simbiosisnya. Mereka
adalah suporter bagi masing-masing dari mereka dan keduanya. Walaupun mereka
memiliki perbedaan satu sama lain, tetapi menurut saya, perbedaan bukan sebuah
alasan rasional memutuskan sebuah hubungan, dengan melihat bagaimana sikap
positif yang mereka bagi antar yang lain. Namun, pada akhirnya laku alam yang menentukan
nasib masing-masing.
Saya kemudian duduk dengan temanku itu tadi, ia memulai percakapan dengan
menceritakan akhir hubungan mereka, dan memutuskan untuk menikahi orang lain.
Aku tak perlu banyak bertanya, sebab aku menyadari kedudukanku siapa dan di
mana. Secara runtut, ia memceritakan segalanya. Yangku pahami, keduanya bahkan
tidak memulai perpecahan hubungannya dengan emosi (baca: hawa nafsu)—emosi termasuk
senang, sedih, amarah, dan sebagainya. Melainkan, masing-masing telah ‘selaras dengan
alam’ (baca: kepala dingin, memanfaatkan akal rasio). Perpisahan mereka mulai secara
sederhana dan tanpa sebuah badai—meminjam istilah Dzakiyah Darajat: ‘badai’ sebagai
allegori konflik—, mereka memutuskan hubunganya. Keduanya saling memahami,
keduanya berpikir dengan rasional dan dengan kepala yang dingin. Dan temanku
berkata pada akhir ceritanya, “aku tak perlu dikasihani, ini bukan kisah sedih”.
Cara pikir demikian adalah gambaran, bahwa mereka adalah ‘praktisi
stoikisme’. Berjalan tanpa emosi, dan mengedepankan akal rasio. Dengan kata
lebih praktis, mereka enggan tergesa dalam mengambil sebuah kesimpulan. Demikian
itu mengungkap jati diri mereka sebagai manusia. Walaupun, nampak di sini
adanya rasa mengalah satu sama lain. Walaupun, saya rasa demikian itu tidak
akan pernah terungkap; dalam dunia ‘teras’ (baca: Stoa), apa beda antara
manusia dan binatang ? adalah bagaimana manusia memanfaatkan akal rasionya. Sementara
binatang-itulah mengapa manusia disebut hayawanun natiq, bahkan Ibn Suna
dalam ‘tiga nafsu’nya mengatakan, bahwa salah satu jiwa yang hidup dalam diri
manusia adalah jiwa berbahasa atau jiwa berlogika—tidak memiliki akal, mereka
hanya memanfaatkan naluri dan instingnya. Berbeda dengan manusia, yang memiliki
akal. Maka, dalam dunia stoa, maksud dari ‘selaras dengan alam’ adalah
memanfaatkan potensi akal rasionya untuk berpikir dengan jernih. Tidak tergesa-gesa
dan memilih mendahulukan nafsunya.
Saya rasa, demikian itu juga senada dengan tawaran Albert Camus
maupun Viktor Frankl. Yang keduanya menyuruh kita memahami sebuab agony (baca:
penderitaan) sebagai sebuah rasa ‘hidup’. Katanya, dengan penderitaan itu, kita
tahu bahwa kita masih hidup. Bahkan, Michael Angelo mengomentari tawaran Camus,
“menurut Camus, hidup adalah agony (baca: penderitaan) dan ecstasy (baca:
candu/sebab rasa enak); Camus dan Frankl, menyuruh kita untuk memahami dan
menggali sebuah “meaning”—hikmah kata agama—, alih-alih merasa merana,
menderita, dan berakhir bunuh diri, melainkan malah meresapi penderitaan itu, dan
mengambil sebuah makna, hikmah, ibrah dalam suatu peristiwa. Atau jika
tidak, ia hanya akan terjatuh dalam “ketidak enakan dan ketidak bergunaan atau meaningless
hidup”.
[Viktor
Frankl]: “Logoterapi, yang Harus Lahir dari Penderitaan”
Saya ingin membawa kisah
Frankl; pada era perang dunia kedua, Ketika Nazi mulai memasuki Austria, mereka
memulai ‘holocaust’nya. Singkat cerita, Viktor Frank, istrinya, serta kedua orang
tuanya menjadi korban, tentu dengan seluruh sanak-famili berdarah Yahudi. Dalam
bukunya [ia menulis buku ini setelah dibebaskan oleh Amerika pada tahun 1945]
berjudul, “Man’s Search of Meaning”, yang ia tulis dalam kurun waktu Sembilan
hari dengan ide yang menggebu-gebu di benaknya ia menulis pengalaman
mengerikannya di kamp kosentrasi ‘Auschwitz’. Ia sedikit detail
menceritakannya, bagaimana ia masuk dengan mengalami fase psikologi awal: syok,
melihat kenyataan, bahkan Sebagian besar tawanan merasa berputus asa. Bahkan ia
mengatakan, melihat plang ‘Auschwitz’ seakan ia telah tahu bagaimana akhir dari
kisah hidupnya.
Rentetan penyiksaan, bahkan walaupun ketika manusia [twanan-tawanan] memasuki fase psikologi kedua: apatis, tak acuh, menjadi normal dalam keabnormalan yang merubah manusia menjadi abnormal juga, ia tetap merasakan tekanan batin; pada fase kedua ini, tawanan tak lagi memiliki rasa, bahkan Sebagian mereka mati emosi, bahkan mereka mengalami kematian etika. Bagaimana pada mulanaya mereka terenyuh, iba, menderita bahkan dengan melihat kawan-kawannya disiksa, mayat dimana-mana, tetapi pada minggu selanjutnya mereka telah beradaptasi, begitulah kata Dovtoevsky, bahwa manusia cepat beradaptasi. Kehilangan sesuatu, kemudian tekanan lingkungan dan keadaan akan memaksa manusia beradaptasi dengan cukup cepat; pada minggu selanjutnya, rasa iba, sakit telah hilang, tetapi tidak dengan tekanan mental. Semua itu dirasakan oleh Frankl, bahkan ini sebuah keajaiban. Dari rentetan ini, dari kehilangan keluarga hingga penyiksaan, Frankl tetap mencoba waras, ia menjadikan perjalanannya sebagai sebuah Lembaga Pendidikan baginya. Dari penderitaan itu, ia melahirkan ‘Logoterapi’, yang bahkan telah menyelamatkan ribuan jiwa, dan sebuah buku yang bahkan telah dibaca puluhan juta mata [bukunya kini terjual tidak kurang dari 16 juta examplar], yakni “Man’s Search of Meaning”.
“Tawaran Bunuh Diri dari Kierkegard dan Dovtoevsky serta Kebanyakan Pemikir”
Kekecewaan atas hidup, memberikan dampak cukup besar dalam mengubah
prinsip hidup seseorang. Bahkan, Prof. Dzakiyah Darajat menggambarkan, “badai
yang telah berlalu, akan memberikan manusia ruang yang sangat menenangkan untuk
memberikan manusia pilihan, bagaimana hidup mereka dilanjutkan”. Walaupun
gambaran yang diberikan oleh Prof. Dzakiyah Darajat adalah antara orang beriman
dan tidak [melalui puncak sebuah konflik, apakah ia berkonversi menjadi manusia
yang beriman atau memilih memutus hubungannya dengan Tuhan], tetapi saya
gambarkan bahwa “badai itu akan menuntun manusia pada keputusan”, mengakhiri
hidup atau berjuang dan tetap hidup dalam penderitaan.
[Tawaran
Kierkegard]: “Seorang
pengelana yang tersesat dan mati dalam Kebingungannya”
Kiekergard menawarkan, solusi dari keabsurdan adalah bunuh diri
filsafat, meninggalkan rasio dan dunia, untuk menyendiri sebagai manusia soliter dan mencapai hamba sejati.
Dalam tradisi Islam, maksud Kierkegard adalah menjadi seorang sufi,
meninggalkan hingar-bingar dunia—baik keabsurdan sebagai “social creatures”/zoonpoliticon
[contohnya ya putus sama pacar] maupun gemerlap dan glamornya suatu keadaan
atau zaman—dan berpaling kepada kekhusyuan dan penghambaan pada Tuhan; saya
punya seorang teman, ia selalu curhat dengan saya soal hatinya.
[Sebuah Perjalanan]: “Sang
Pengelana”
Kesengsaraan hatinya menjadikan ia seorang pengelana. Ia telah
berjalan ke banyak tempat, tapi ia tidak mau berhenti untuk tadabbur
atasnya. Kekecewaan meghatarkannya pada tarekat (esoterisme), dan dibuang ke dalam
filsafat (eksistensialisme), tetapi mati sebab keegoisan serta kefanatikan atas idealismenya.
Maksudnya, ia telah belajar banyak hal untuk menyembuhkan hatinya. Namun, ilmu
yang ia peroleh, sama sekali tidak dijadikannya sebagai ilmu praktis. Ia hanya
diam, dan membiarkan pikiran dan hatinya terus terkoyak-koyak. Semakin lama ia
membiarkan makhluk—idea khayali sebagai gambaran imajinatif—yang mengoyak
itu ada, ia akan mati dalam ketidak pekaan hati.
Kata seorang reformis Arab abad 6-7 M.—adalah Muhammad bin Abdullah
bin Ma’ed—, dalam doktrin teologisnya ia bersabda, “orang yang berilmu tapi
tidak memanfaatkan ilmunya, ia bagaikan keledai”. Saya mengingat kata-kata itu,
dan menyampaikannya pada temanku. Namun, dengan kefasihan mulut serta akalnya,
ia berkata, “aku bukan hewan, aku adalah manusia. Bagaimana engkau bisa
menyamakanku dengan seekor binatang?” Sayang, ia tak memahami, sikap
ketergesaannya selama ini adalah bukti bahwa ia adalah hewan. Ia tak mau
mengeluarkan potensi manusiawinya sebagai makluk berakal, berlogika, berbahasa
(baca: natiq). Ia hanya makluk yang menyerap keabsurdan dengan hawa
nafsunya, dan menyebabkan hadirnya rasa derita.
Ia berkisah, perjalanannya sebagai seorang sufi menghantarkannya
pada sebuah kenyataan, ia memberiku sebuah ungkapan indah dari mulutnya, “aku berkelana
hingga aku sampai sebuah sungai yang sangat deras lagi besar. Aku takut
terseret dan tergelincir ke dalamnya. Lantas aku lari, tanpa kusadari, aku
sampai pada muara sungai. Aku lari dari ‘cinta’, tanpa sengaja aku malah
berlari menuju muara cinta. Tasawuf, adalah muara cinta”.
“Tawaran Dovtoevsky dan Nietzsche dalam menghadapi Absurditas”
Seorang teman—dia adalah pembimbing saya, dan kini kami terlepas
dari ikatan itu. Kini kami adalah teman—pernah kutanya perihal pasangan.
Bagaimana ia dapat merasa puas dengan hidupnya, padahal ia tetap melajang
hingga usianya kini 39 tahun. Padahal salah satu ‘kebutuhan fisiologis’ adalah
menuntaskan keinginan hewani untuk berhubungan. Demikian kata Sigmund Fraud; ia
kemudian menjawab, bahwa ia selalu meninggalkan konsepsi itu. Ia mengabaikan
kebutuhan itu. Lantas, ia bercerita mengenai bunuh diri.
[Bunuh diri dan Membunuh Sebuah Konsepsi]: “Ada dan tidak berguna atau Ada dan Menjadi
Supermen?”
Kebanyakan pemikir mengakhiri sebuah pembicaraan absurd dengan bunuh
diri. Misal adalah Schopenhauer sang pesimis, ia mengatakan, “ngantuk itu enak dan baik, tetapi tidur lebih enak dan lebih baik. Namun, ada hal yanglebih enak
dan lebih baik ketimbang kesemuanya tadi, yakni ‘tak lahir sama sekali’“;
Nietzsche memahami, mati itu bagaikan sampah yang dibuang, ia tak berguna sama
sekali.
Maka, ada dua tawaran yang diberikan Jean-Paul Satre, Kierkegard,
Camus: kata Vincent Martin dalam bukunya, adalah pertama, bunuh diri
jasmani atau kedua, bunuh diri filsafat seperti yang dilakukan
Kierkegard; tawaran mengenai bunuh diri, adalah sebuah solusi praktis untuk
mengakhiri agony (baca: penderitaan). Namun, alih-alih mengakhiri derita akibat
absurditas, bunuh diri malah menjadi masalah dan beban ideal, menjadi sebuah
dilema tersendiri untuk para penganut monothesime.
[Nietzche dan Tawarannya untuk Hidup Menjadi Manusia Super]: “Bunuhlah Dia!”
Sebuah tawaran menarik bagi penulis, Nietzsche malah menawarkan,
alih-alih bunuh diri, tetapi malah menyuruh kita untuk membunuh sesuatu hal
yang menjadi sebab derita dalam diri kita. Gagasan ini, ia tuang dalam karya
monumentalnya berjudul, “Also Sprach Zarathustra: ein Buch für Alle und
Keinen”. Dalam ungkapan kontroversialnya ia mengatakan, bahwa “Tuhan telah
mati” (baca: Goss ist tott).
Ketika ditanya—entah Zarathustra atau orang yangmembunuh Tuhan—, “bagaimana
kamu dpt membunub Tuhan ?”, katanya, “aku telah meninggalkannya”; bagaimana
bisa ? Demikian ini harus kita pahami dari bagaimana seorang Nietzsche melihat
Tuhan. Nietzsche memahami, bahwa Tuhan adalah konsepsi yang menjelma, bersemayam
dalam ideal manusia. Maka dari itu, cara membunuh ideal adalah dengan meninggalkan
idea tentang itu. Nietzsche mengistilahkan, demikian itu sebagai ‘membunuh’.
Kata teman saya, ia bekata, “itulah cara bagaimana membunuh tanpa harus
memisahkan ruh dari jasadnya”.
Gagasan kebebasan ini tidak digambarkan hanya untuk berkonversi
menjadi seorang atheis, sebab “big ideas” dari gagasannya—disebut
übermensch—adalah bukan menegasikan keberadaan (baca: wujud) Tuhan, melainkan
menjadikan manusia memiliki kebebasan berkehendak dan berlaku, bahkan kebebasan
untuk menentukan moral (nilai baik dan buruk). Bukankah itu yang disinggung Viktor
Frankl dalam “Freedom of will”-nya? Bahwa kita memiliki “freedom from”
tapi kita tidak pernah mencapai taraf “freedom to/for”. Demikian ini
sebab kekhawatiran manusia itu sendiri. Kita takut, khawatir bahwa kebebasan
itu tidak pas, tidak cocok, itulah sebab mengapa kita tidak sampai pada taraf ‘freedom
to/freedom for’.
[Nietzsche]: “Apakah dia Ateis?”
Jawabnya adalah iya—mungkin. Namun, ia pada dasarnya tidak
menegasikan wujudiyah Tuhan, melainkan ia melokan doktrin bahwa ‘jagat
adalah ciptaan’. Dalam dimensi tradisi intelektual Islam, kita akan mengenal
Ibn Rusyd yang memahami bahwa alam/jagat adalah dampak dari adanya (baca:
wujud) Tuhan. Ia bagaikan api dan sifatnya.
Ia dialegorikan sebagai ada api, maka tanpa jarak waktu pasti ada
panas dan cahaya—walaupun diumurnya ke-55 thn., saat ia berdialog dengan Ibn
Arabi dengan dialog yang singkat [Ibn Rusyd menyambut Ibn Arabi, memeluknya dan
berkata, “iya”, kemudian Ibn Arabi yang masih belasan tahun menjawab, “iya”.
Kemudan, tak berselang lama Ibn Arabi malah menimpalinya dengan jawaban, “tidak”.
Saat itulah Ibn Rusyd ragu dengan argumennya sendiri]. Tak ubahnya dengan Nietzsche.
Apakah demikian itu dapat melegitimasi bahwa dia adalah seorang ateis? Walaupun,
kita dapat menjawabnya “iya” sebab ia tak lagi mempercayai Tuhan. Walaupun ia
hanya membunuh konsepsinya saja.
[Nietzsche II]: “Kenapa ia menawarkannya?”
Kita pahami dulu kondisi sosio-hostorisnya. Nietzsche hidup di masa
di mana dunia Barat, kiranya mengalami ‘cultur shock’ akibat revolusi
pemikiran mereka—Barat masuk era positif—. Di mana, pada era Medieval, dunia
Barat menganut paradigma ‘teosentris’, mereka sangat bergantung pada doktrin
dan keputusan gereja, serta pada dogma-dogma agama. Kemudian, secara mendadak
mereka beralih ke era positif—menganut paradigma antroposentris. Oleh
karenanya, ketika melihat ‘kesendatan’—mungkin—Nietzsche memberikan panduan
bagaimana cara hidup tanpa Tuhan.
Positivisme sendiri dapat dipahami sebagai mazhab yang memahami “ada”
dan kebenaran adalah hasil dari kegiatan empiris-metodologis. Sementara Tuhan
tidak empiris—makanya, agama dipahami sebagai keyakinan. Sebab kita menyakini
kebenarannya padahal ia tidak terjamah dan tdk empiria—, Dia tak terjamah, Dia
jauh (transenden—agama monotheis semuanya memahami Tuhan itu transenden, baik
agama Yahudanisme, Yesusisme, Zoroastrianisme, maupun Muhamadanisme).
Apa yang dikatakan Nietzcshe, sebenarnya adalah kritikan juga,
sebab banyak manusia yang memang telah meninggalkan Tuhan. Maka, karena sebelumnya
manusia sangat terikat dengan doktrin gereja dan dogma agama, maka Nietzsche
memberi alternatif hidup, bagaimana hidup tanpa Tuhan; sementara, kegiatan ‘membunuh
adalah kata yang digunakan Nietzsche’ untuk mengungkapkan cara ‘meninggalkan’
sebuah konsepsi. Pada dasarnya, gagasan ini sangatlah luas, tetapi intinya
adalah “kebebasan dari perbudakan”, baik agama, sampai pada moral, sebab
Nietzsche melihat, moral itu cenderung normatif, tidaklah murni dari sifat
manusiawi manusia—katanya mazhab stoa adalah apa yangdisebut dengan ‘selaras dengan
alam’.
[Anwendung]: “Aplikasi”
Dengan gagasna Nietzsche, kita dapat membunuh banyak hal negatif
dalam hidup kita. Ketika kita melihat hal negatif, maka Nietzsche menyuruh kita
untuk membunuhnya, yakni menyuruh kita untuk mengabaikannya, meninggalkan
konsepsinya. Misal kita tidak suka dengan ‘public figure’ tertentu, maka
kita jangan pernah meresponnya, yang perlu kita lakukan adalah meninggalkannya.
Sebab, jika kita lihat belakangan ini, “cara menaikkan tarfik adalah dengan membuat
kegaduhan (hal negatif)”. Misal, orang viral dan bisa mendapat panggung hanya
karena ngomong, “anjing! Iron Man, odading”. Ketika kita mmbeci sebuah tradis
itu, maka tawarannya adalah meninggalka mereka, bukan memberi kritikan atau
ejekan secara masif. Jika kita meresponnya dengan harapan dia akan
tersingkirkan dari dunia hiburan, maka langkah ini adalah salah sama sekali.
Maka caranya adalah, tinggalkan dia, jangan beri dia ruang dan abaikan dia;
kata teman saya ini, di akhir pemaparannya ia berkata, “demikian juga dengan
bagaimana aku bertahan menjadi manusia yang mandiri”.
Ditulis oleh: Muhammad Fathun Niam, mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Komentar
Posting Komentar