[Logoterapi]: “Kesadaran adalah Motivator” (Bagian 1 dari Logoterapi)
“tulisan ini banyak berbicara soal ‘Aku’ jadi silakan dipikirkan kembali”
Dalam sedikit renungan saya, saya
menyadari bahwa motivator terbesar saya adalah motivator yang ada dalam diri
saya sendiri [ya saya sendiri; saya mengibaratkan, ia adalah makhluk, yang kadang
terlelap dan kadang terbangun]. Karena,
terkadang motivator itu terlelap, oleh karenanya terkadang saya mencari cara
bagaimana saya mampu membangunkannya. Ataupun jika tidak, saya akan mencari
cara lain, untuk mencari sebuah alasan, misal: “apa tujuan saya sebenarnya?”
maksud dari ‘alasan’ ini adalah sebuah ‘kesadaran’.
Hal ini saya sadari, ketika saya ada pada rasa
kesal sebab keputus asaan saya; ada dua cerita yang agaknya dapat mewakili
keadaan seperti
itu. Pertama, ketika saya kuliah, saya sering kali mendapat teman pasif [player
beban kalau istilah dalam gim MOBA ketika mengejek teman yang harus di ‘carry’
dan tidak memiliki kontribusi dalam permainan], bahkan dalam diskusi kadangn ia
tidak ikut andil. Salah satunya, kelompok saya diberi satu tugas makalah, tapi ujungnya,
semua itu saya yang mengerjakananya. Walaupun, sebelum keputusan itu saya
ambil, saya berpikir ingin membuat mereka tidak lulus mata kuliah dengan tidak menulis nama mereka. Namun,
kemudian dengan ketersediaan moral [artinya moral dalam diri saya tetap hidup]
saya tetap menulis nama mereka. Kekesalan itu teru membuat saya berpikir “apakah saya harus mengerjakannya
sendiri?” Saat itu, hal yang memotivasi saya adalah
perkataan saya sendiri dengan ego saya sendiri, bahwa “saya ingin lulus, saya
ingin cumlaude” kesadaran
bahwa saya seorang mahasiswa, dan untuk saya bisa lulus, saya harus mengerjakan
tugas sebagaimana harusnya.
Kisah kedua, adalah kisah yang menunjukkan bawa
motivator outter terkadang tidak memberi dampak apapun; ada kalanya saya
iku tour
wisata, perjalanan sangat jauh, harus jalan kaki. Sampai kita sampai di anak
tangga yang saya sendiri males melihat jumlahnya [emang ditulis], dan kami harus naik ke atas. Dan “wala”,
kaki saya benar2 mati rasa, bahkan tidak bisa berdiri [ini beneran] ketika
menginjak anak tangga ke lima ratus [ya ini karena saya jarang olah raga juga,
sebab di waktu lain sebelum ini saya pernah sampai ke atas]. Saya kemudian memutuskan duduk di salah satu tempat yang disediakan.
Tak lama kemudian, seorang perempuan datang
dan berkata dengan sedikit berbisik, “kamu [dengan menyebut nama saya],
semangat!!!” Dengan senyum tipisnya yang tidak akan pernah saya lupakan. Dia
adalah perempuan yang saya suka.
Namun, perkataan darinya tidak mampu membakar niat saya untuk
sampai ke tujuan [bahkan saya bilang ke teman saya, agar di izinkan saya untuk
tinggal di bawah dan tidak ikut naik ke
atas]. Ucapannya tidak mengobati kaki saya sama sekali yang sedang mati rasa; tidak
seperti yang diperlihatkan dalam film-film komedi kebanyakan, misal film animasi
berjudul “Komi-san wa Comyushou desu”, episode dimana ketika Tadano kelelahan
saat mengikuti lomba tahunan di sekolahnya, kemudian perempuan tercantik di
sekolahnya, yakni Komi berbisik dengan suara yang sangat kecil di tempat
penonton [Tadano Cuma melihat gerakan mulut Komi yang tipis], “ganbatte kudasai
[yang artinya: semangattt!!! (Arti literalnya “semangatlah,
kumohon/tolong semangat”)]”, seakan api semangat Tadano seketika itu langsung
membara begitu saja. Ibarat di dalam dunia gim Tadano mendapat “buff [patch,
tambah kuat]” [seperti Argus di Mobile Lagend saat ulti, dia tidak mampu
mati, seakan semua indra perasa dalam dirinya mati begitu saja]. Lantas Tadano,
dengan muka komiknya, ia malah mampu berlari dan menyusul keterlambatannya dan
berhasil memenangkan kompetisinya, karena ucapan Komi [dia main Baseball kalo
ngga salah, dan saat itu dia jadi hitter atau pemukul].
Itulah, dua kisah yang kemudian memberikan saya ruang untuk
berpikir, bahwa motivator terbesar saya adalah saya sendiri, bukan orang lain.
Bahkan seorang perempuan yang saya suka-pun tidak
menggerakkan tubuh saya, membakar semangat saya seperti yang digambarkan dalam film-film komedi. Apa yang saya katakan perihal motivator,
saya kira dapat dipahami dalam salah satu seris animasi berjudul, “Kimetsu no Yaiba”, saat dimana Kamado
Tanjiro saat melawan Daki dan Gyutaro, ia sangat-sangat kelelahan. Tetapi,
dirinya sendirilah yang selalu menyalakan api dalam hatinya, ia selalu berkata,
“ini demi...” bukan sebuah ucapan semangat atau uluran tangan, tetapi adalah
kesadaran Tanjiro untuk melawan Iblis tingkat atas, dan menyelamatkan
teman-temannya. Begitupun sebuah semangat, ia hidup dan dihidupi oleh diri
seseorang. Saya bahkan berkata, “seorang psikiatris pun tak mampu memberi
semangat kpd insan yang berputus asa, kecuali dia yang berputus asa menyadari
makna hidupnya sendiri. Atau jalan lain adalah, kesadaran sang pelaku [bunuh
diri] untuk menghentikan niatannya, ia malah akan mencari cara, untuk
membangkitkan atau menghidupkam kembali semangat hidup dalam dirinya”;
begitupun dengan Logoterapi Viktor Frankl, ia berusaha untuk menyadarkan
sesorang dan mendorong seseorang untuk mencari makna hidupnya.
Inilah apa yang disebut Frankl dengan istilah
“will of meaning” (keinginan untuk mencari makna). Dimana pencarian makna hidup
adalah suatu motivator yang rupanya cukup ideal untuk menyelamatkan hidup
seseorang. Jika katanya Frankl, pd dasarnya Logoterapi itu ibaratnya seorang
pasien yang datang boleh berdiri, duduk, kayang, dan ia juga harus mendengarkan
banyak hal yang bahkan membosankan. Demikian itu tidak sama dengan “will of
pleasure” milik Sigmund Fraud, yang lebih memperhatikan pencarian thdp
kesenangan untuk mengakhiri penderitaan. Dan “will of power” milik Adler yang menekankan
pencarian “striving of superiority” (perjuangan untuk mencari keunggulan).
%20(1).jpg)
Komentar
Posting Komentar