Kehendak adalah Penguasa

 

Kehendak (will) yang dalam realitas lain menunjukkan bahwa dia adalah penguasa dunia. Yang demikian itu Tanpa manusia sadari sedikitpun. Karena, kehendak inilah yang terkadang mengontrol manusia dan membimbing manusia—dalam bahasa saya disebut—untuk menjadi hewan yang terperangkap dalam kandang. Dalam ceramah Rumi, ia menggambarkan siapa manusia yang menjadi hewan—kuda— yaitu mereka yang tak ingin lepas dari dunia.

Manusia adalah penunggang kuda, namun terkadang, manusia bercampur dan menyatu menjadi kuda itu sendiri. Hidup terpenjara—oleh kandang— hidup dalam kebusukan—kandang yang penuh tai— dan juga hidup dalam penderitaan serta beban yang berkepanjangan. Dan itulah, manusia muncul sikap, "hidupku menderita, aku harus melakukan ini itu agar aku dapat lepas dari penderitaan".

Sayang, mereka ketika sampai pada tujuan, mereka berkata, "aku masih butuh ini itu lagi". Dan hidupnya akan terus demikian selama ia hidup. Sampai-sampai ia tak sadar, ia telah melangkah ribuan kilo meter hingga ke ujung kehidupannya. Dan di sanalah manusia sadar, jika hidupnya selama ini sia-sia karena hanya memperhatikan dirinya saja. Hingga ia memohon pada Malaikat, "kembalikan aku pada dunia, akan ku berikan seluruh hartaku untuk saudaraku".

Itulah hidup, pada dasarnya ketika manusia memenuhi kehendak mereka, mereka tidak akan pernah menemui kepuasan yang pasti. Mereka akan hanya tersu mencari apa-apa yang mereka cari. Mereka terbodohi oleh kehendak (will) dan tanpa sadar mereka terus menari dan melakukan pertunjukan di depan sang maut!.

Dan lagi, kehendak-kehendak yang terus mereka raih, pada akhirnya akan menumbuhkan benih harapan baru. Yang itu artinya, mereka akan memunculkan hasrat baru untuk memperoleh keinginan yang lain. Alasannya hanyalah satu—kata Schopenhauer— yaitu "karena kehendak adalah penguasa seluruh dunia. Yang mana segala sesuatu menjadi miliknya, dan tiada pasti ia menemui kepuasan, kecuali keinginan dan kehendak yang baru.

Surga dan neraka adalah alam selanjutnya yang Tuhan persiapkan. Jika pun kita melihat tujuan dari kalimat (kuntu khanzan makhfiyan faahbabtu an 'urafa fakhalaqtul khuluqa...) maka Tuhan bertanggung jawab—sifat pasti karena Tuhan memiliki sifat adil— yang oleh sebabnya tak mungkin Tuhan membinasakan manusia sebagaimana Tuhan menggariskan makhluk lain dalam kehidupan—yaitu hewan yang mereka tak memiliki alur dalam cerita penimbangan amal.

Jika kita pahami, dunia adalah jalan. Namun, kebanyakan manusia terpenjara di dalamnya. Yang mana seharusnya manusia dapat berpindah dari alam menuju pencipta alam, malah kebanyakan manusia tersesat. Mereka hanya berpindah dari alam menuju alam yang lain. Bahkan dalam beragama, manusia terkadang hendap berpindah dari alam yang buruk menuju kebaikan—maksud hati adalah menuju leridloan Tuhan— namun malah tersesat ke alam yang lain. Alam di sini, adalah kehendak yang laim

Sebagaimana dalam kitab al-Hikam syarah syaikh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati, di sana diceritakan bahwa seorang yang berhijrah—yaitu berpindah dari kejelekan menuju kebaikan— namun pada ujungnya seorang itu mengharap maqom dan segala karamah yang demikian ini menunjukkan ia telah terperangkap dalam keinginan, ia terperangkap dalam alam yang lain.

Dalam memahami akhir perjalanan manusia pun, kita harus pahami, bahwa kemana sebenarnya kita kembali. Jika sebenarnya keikhlasan yang seharusnya ada, namun kita mapah mengjarap, itulah yang menjadikan kita terperangkap. Amalan kita adalah buah dari kehendak-kehendak. Seperti misal beramal salih, namun dia berkata, "aku salat untuk masuk surga" maka di sana menunjukkan bahwa dia telah dikuasai kehendaknya.

Oleh karenanya, Rabi'ah al-Adawiyah bersyair di tengah gulitanya malam, "...wahai Allah, jika aku bersujud menyembah-Mu hanya karena aku takut akan neraka-Mu, maka bakar aku di dalamnya. Yaa Allah, jika aku bersujud menyembah-Mu karena aku mengharap surga-Mu, maka campakkan aku darinya. Yaa Allah, jika aku bersujud menyembah-Mu karena Engkau, maka jangan Engkau enggan menampakkan wajah Indah-Mu kepadaku.."

Adapun kisah, ketika Rabi'ah al-Adawiyah berlari-lari membawa ember dan tongkat, lantas seorang bertanya, "wahai Rabi'ah, kenapa dari tadi engkau lari-lari dengan membawa ember dan tongkat ?" Lantas Rabi'ah menjawab, "aku ingin memadamkan Neraka dengan air yang ada di dalam ember ini, dan aku hendak menghancurkan Surga menggunakan tongkatku". Maknnya sebenarmya sangat dalam, yaitu kita disuruh mematikan ketakutan terhadap neraka. Karena kayaknya, keinginan kita mesuk surga hanya karena tidak ada pilihan lain kecuali masuk surga. Kemudian manusia beribadah hanya karena mengharap surga. Oleh karenanya, Rabi'ah ingin berkata, "jangan takut dengan neraka—karena telah kupadamkan—, dan jangan berharap pada surga—karena telah kuhancurkam— maka harapanmu akan tinggal satu yaitu Allah subhanahu wa ta'alaa".

Maka oleh karenanya, matikan seluruh tuan-tuan dalam dirimu—berupa ego— dan matikan pula tuhan-tuhan duniamu—yang meliputi harta, tahta, dan sebagainya. Maka, keluarlah dari dunia dengan keadaan yang tenang.

Sebagai diclaimer, semua pemikiran ini hadir dari Scohpenhauer dalam buku Pesimisme. Ibnu Atha'illah dalam Al Hikam. Maulana Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi. Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam (khusus untuk ini, penulis sandarkan penuh pada seluruh literatur pendukung berupa sumber sekundernya dan juga pada kitab Fushush al-Hikam sendiri). Dan tentu hal yang selalu menarik adalah ketika agama disentuhkan pada hal yang lain semisal seperti masyarakat, budaya, dan juga agama yang lain

Pasti di sana akan sangat menarik. Terlebih jika memang terdapat concern pembahasan yang ingin difokuskan dan tidak mengambang seperti di atas. Mungkin penulis sarankan untuk membaca tulisan penulis di blog pribadi penulis. Di sana ada beberapa pemaparan yang cukup menatik antara agama dan budaya. Terima kasih.

Dalam memandang dunia, Nietzsche memandang, bahwa manusia sekarang telah terperangkap dalam dunia. Terjerat pada moral yang dibangun, terikat oleh segala aturan tak masuk akal, terpenjara dan sebuah adat yang tak karuan dan tak memiliki esensi subtantif di dalamnya. Oleh karenanya, melalui novel "Also Sprach Zarathustra" ia mengharapkan manusia mampu bebas dan menjadi supermen (Übermensch), yaitu manusia yang ia adalah manusia hebat, manusia bebas dan penuh moral yang murni. Tanpa ada campurtangan manusia yang lain. Dan dari sini, ia mengeluarkan istilah "Gott its tot" atau God is dead atau artinya adalah Tuhan telah mati.

Ia menguraikan, bahwa kematian tuhan bisa terjadi jika tuhan ditinggalkan. Maka lama kelamaan tuhan tak akan disebut kembali. Dari pandangan inilah, penulis mengarang sebuah tulisan di salah satu postingan dengan judul "Ada apa Gerangan ?". Dalam konteks yang penulis terima, hanya pada bagaimana kita meninggalkan kehendak yang memenjarakan kita. Karena penulis memeluk agama, maka penulis katakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa penulis tidak menerima pandangan Nietzsche soal Gott ist tot. Namun, dari sini penulis memilah, bahwa yang harus kita bunuh adalah ego dalam diri kita, yang ego itu merupakan tuan dalam diri kita. Dan Sebagai yang penulis singgung di atas, bahwa kita harus membunuh "tuhan dunia" yang itu berupa harta, tahta, dan sebagainya.

Dan pada akhirnya, kita mampu terlepas dari belenggu dunia.

Penuli: M Fathun Niam (Mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga)

 

Komentar