Arab Pra-Islam
Arab Pra-Islam merujuk pada keadaan sosial budaya bangsa Arab
sebelum datangnya Islam. Era Pra-Islam dikenal juga dengan istilah zaman Arab Jahiliyah,
atau zaman kebodohan. Meski kebodohan ini hanya tercermin pada akhlak dan
beberapa moral orang Arab, bukan berarti zaman ini Arab seakan terisolasi
bagaikan suatu kelompok masyarakat primitif yang tak tahu apa-apa. Namun, kebodohan
yang dimaksud adalah apa yang di sebut di atas. Bahkan Arab sebenarnya sudah
maju jika dilihat dari beberapa aspek, seperti pada sektor perekonomian, mereka
adalah pedagang yang handal, di tambah mereka memiliki kesusastran yang baik. Bahkan
dalam salah satu buku di sebutkan, bahwa berkat syair-syair dari merekalah,
studi al-Quran lebih mudah dan sebagai penguat atas firman-firman Allah atas
kebenaran mereka.
Bangsa Arab berasal dari jalur
keturunan Sam bin Nuh. Para pakar sejarah membagi orang Arab menjadi dua yaitu,
Arab Baidah dan Arab Baqiyah. Dimana Arab Baidah merupakan orang Arab yang
sekarang sudah musnah. Mereka diantaranya adalah ‘Aad, Tsamud, Thasm, Jadis,
Asha bar-Rass, dan penduduk kota Madyan. Yang mana mereka semua sudah Allah
ratakan dengan bumi. dan sekarang adalah dari suku Arab Baqiyah. Mereka adalah
orang Arab yang hingga saat ini masih ada. Mereka adalah Bani Qahthan dan bani
Adnan.
Bani Qahthan adalah Arab Aribah(orang arab
asli) dan tempat mereka adalah di selatan Jazirah Arab. Diantaranya terdapat
raja Yaman, al Munadzarah, dan al Ghassaniyah serta raja raja Kindah. Diantara
mereka juga ada Azad, yaitu kabilah yang besar dan ternama yang nanti akan
muncul bani Aus dan bani Khazraj. Sedangkan bani Adnan, mereka adalah
orang-orang Arab Musta’ribah, yakni orang-orang Arab yang mengambil Bahasa Arab
sebagai Bahasa mereka. Mereka menetap di Makkah al Mukarramah. Mereka adalah
anak keturunan dari Nabi Ismail a.s. bin Ibrahim. Salah satu anak Nabi Ismail
yang paling menonjol adalah Adnan. Darinya kemudian muncul kabilah Arab.
Watak Bangsa
Arab Pra-Islam
Masyarakat Arab sebelum Islam
datang, memiliki kebiasaan yang buruk, seperti suka meminum khamr, judi,
berzinah, dan menyembah berhala. Dan juga, orang Arab dahulu suka berperang (dalam
arti sering), dan bisa dikatakan, bangsa Timur dan Barat juga telah berhadapan
selama berraus tahun lamanya. Maka dari itu, salah satu alasan kenapa penduduk
Madinah senang dengan datangnya nabi shalallahu alaihi wa sallam adalah
salah satunya berakhirnya perang yang berkepanjangan antar suku. Bahkan, ada
yang menyebutkan sifat atau watak bangsa Arab adalah angkuh dan sombong, mereka
merasa darah yang mereka miliki sangat berharga. Jika seorang anggota darahnya
telah tertumpah di atas tanah, maka wajib bagi sukunya menuntutkan balas. Masyaratkat
Arab juga memandang mabuk adalah tanda dari kekayaan, namun ada pandangan dari
orang bawah mabuk adalah sarana pelarian dari penderitaan dan kesengsaraan
hidup yang mereka derita.
Dalam penjelasan Prof. Wahbah
Zuhaili dalam menafsirkan QS. Al-Hujurat ayat 1-5 menerangkan, bahwa
orang-orang Arab memiliki perangai yang buruk dan adab yang buruk, hall ini tergambar
ketika mereka datang kepada Nabi dengan penuh ketidak sopanan, namun hal ini
karena mereka tidak tahu. Namun, dari sini dapat dipahami bahwa memang pada
dasarnya orang Arab memiliki perangai dan adab yang buruk. Namun diluar itu,
masyarakat Arab memiliki sikap dermawan (dianggap sholih, seperti saat nabi
muda, mereka sangat mengkagumi dan menghormati nabi, namun ketika nabi mushlim
mereka mulai membencinya). Dan juga masyarakat Arab dikenal keberaniannya,
karena itu merupaka salah-satu syarat mutlak unuk diakui. Oleh karenanya mereka
bangga dengan anak lelaki, karena anak perempuan tak mampu untuk turun
berperang.
Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Arab sebenarnya telah
menganut agama sebelum agama Islam datang kepada manusia. Orang Arab adalah
penganut Yahudi yang ada di Yatsirb (nama sebelum menjadi Madinah), dan
penganut agama Nasrani yang ada di Najran, dan mayoritas mereka adalah penganut
paham pagan (penyembah berhala), dan pada saat itu berhala-berhala itu juga
tersebar di sekitaran Ka’bah. Adapun agama Majusi (zoroaster yang dibawa oleh
Zarathustra) yang dianut oleh orang-orang persia, yang juga berkembang di
kalangan orang Arab yang berada di pesisir telut Arab dan juga Irak dan
Bahrian. Dan penyembah Bintang (Shabi’iyyah) yang ajaran ini banyak berkembang
di Irak, Syam, dan Yaman.
Pada awalnya, nenek moyang bangsa
Arab merupakan pengikut ajaran nabi Ibrahim, namun lambat laun ajaran ini
luntur. Dan mereka kemudian kembali pada paganisme. Ajaran Pagan ini, ada yang
memandang di awali oleh seorang bernama Amr bin Luhay yang kala itu pergi ke
Syam, dan melihat orang menyembah patung, dan ia berniat untuk membawanya ke
Makkah, dan ada yang menaganggap motivasinya adalah ingin adanya pengakuan atas
dirinya menjadi seorang reformer.
Namun, dari segi ketuhanan, orang
Arab sebenarnya telah mengenal nama Allah, namun tentunya ritus dan pandangan
mereka dipandang keliru. Sebab itulah kenapa Allah swt menurunkan Al-Quran pada
mulanya menyebut Diri-Nya hanya dengan kata Rabb, hingga pada QS. Al-A’la
menyebut nama Allah, meski tidak menyebutkan sifat dari Allah. Dan kemudian
Quran menyebutkan dengan kata Rabb sampai QS. Al-Ikhals turun baru Allah
memperkenalkan Diri-Nya sendiri meski dengan menggunakan sudut pandang orang
ketiga yaitu Huwa (Dia). Dan pada QS. Taha ayat 14 baru Allah pertama
kalinya memperkenalkan Diri-Nya sendiri “innanii anallah laailahailla anafa’budni”.
Alasan penggunaan kata Rabb
pada ayat-ayat makiyah adalah untuk membedakan sesembahan nabi Muhammad dengan
sesembahan kafir Quraisy saat itu. Orang kafir Quraisy mengenal Tuhannya adalah
Allah, namun mereka memiliki pandangan bahwa Allah terlalu tinggi dan tak dapat
diraih (dalam pengetahuan tasawuf disebut tanzih wa tashbih) oleh
manusia–mereka menganggap bahwa manusia itu kotor, maka mereka tidak dapat
langsung meminta kepada allah, dan membutuhkan perantara– dan oleh karenanya mereka
membutuhkan perantara dan berhala-berhala itulah yang mereka jadikan berhala. Nama
berhala yang besar adalah Hubal, Mana (Yatsrib), Lata (terletak di Thaif), dan
Uzza (terletak di Nakhalah, kedudukannya terletak di bawah Hubal). Melalui berhala-berhala ini mereka suka bertanya dan
mengundi nasib, sebagaimana yang terlukis dalam QS. An-NAjm ayat 19-23. Mereka adalah
orang yang dianggap sholih, dan melalui merekalah orang arab berdoa agar
berhala itu menyampaikan doa mereka pada Allah. Melalui berhala-berhala itulah
yang menjadi sarana untuk berhubungan dengan Tuhan.
Namun, orang-orang Arab memiliki
semangat dalam beragama, dan sebab inilah mereka memerangi agama Islam saat
pertama kali datang. Namun, kebanyakan orang Badui sering meninggalkan praktik
ritus agama. Orang Arab dipandang sangat mencintai dunia, dan menganggap agama
adalah penjara, rantai yang akan mengurung dan mengikat mereka, oleh karenanya
mereka menolak akan hal itu, mereka mencintai kebebasan.
Seni dan Sosial Budaya
Seni budaya dalam kehidupan bangsa Arab
bisa dikatakan sangat berkembang terlebih dalam seni bahasa. Bahasa Arab penuh
dengan syair dan kosakata yang indah. Mereka juga segang berkumpul mengitari
penyair-penyair hanya untuk mendengarkan syair-syairnya. Bahkan ada yang
mengatakan orang Arab acapkali saling beradu syair.
Masyarakat Arab juga terkenal dengan
pidato-pidato yakni kepiawaian dalam berbicara. Mereka fasih dalam berkata-kata.
Mereka yang pandai akan dijadikan juru bicara dan penasihat. Tak jarang, dari
syair-syair itu mereka perdengarkan di pasar-pasar dan akan dikelilingi oleh
banyak kafilah kafilah yang nantinya syair yang menurut mereka bagus, juga akan
di pajang di sisi-sisi Ka’bah. Dan jika terlahir seorang penyair di salah
satu kafilah, maka kafilah lain akan
datang dan memberi selamat, dan mengadakan berbagai jamuan. Para penyair bukan
hanya sebagai penasihat, namun mereka juga seorang yang mencatat sejarah. Di sisi
lain, mereka adalah penunggang kuda yang
ahli, dan mereka sangat ahli dalam pengetahuan persenjataan.
Kondisi sosial budaya pada
saat itu, sedikit buruk. Terlebih bangsa Arab dalam memandang perempuan yang
memandang perempuan adalah benda mati, yang tentunya kedudukannya lebih rendah
dan bahkan kedudukan perempuan Arab lebih rendah dibanding pada peradaban yang
lain. Di peradaban Arab, perempuan adalah benda, bahkan tidak dihormati, seorang
perempuan dapat melakukan poliandri, mereka tidak berhak mendapat waris, mereka
akan merelakan suami mereka mengawini perempaun lain, merelakan suami mereka
untuk mendapat anak dari perempuan lain. Terkadang ibu tiri dikawini anaknya,
dan saudara lelaki mengawini saudara perempuannya. Mereka juga sangat merasa
sedih jika anak yang lahir adalah perempuan, mereka malu, mara, dan merasa itu
adalah sebuah aib. Oleh karenanya, banyak di antara mereka mengubur anak-anak
perempuan mereka hidup-hidup. Hingga ada yang menyatakan, Bangsa Arab Jahiliyah
memanifestasikan dari kehidupan barbarisme, yakni karena ketimpangan sosial,
penganiyaan, meminum minuman keras, perjudi, pelacuran, dan pembunuhan, yang
semua itu merupakan pemandangan yang irannya dapat dilihat sehari-hari di sana.
Ekonomi dan Pemerintahan
Pada masa pemerntahan Saba’ dan
Himyar, Jazirah Arab selatan menguasai perdagangan darat dan laut. Kegiatan perdagangan
mereka ke India, Tiongkok,, dan Sumatera, dan perdagangan darat meliputi
Jazirah Arab. Namun, setelah Yaman dijajah oleh bangsa Habsyi, mereka hanya
menguasai perdagangan laut, sedangkan darat dikuasai oleh orang-orang Makkah. Ada
beberapa faktor yang menjadikan Mekkah sebagai kota perdagangan. Pertama,
banyak orang Yaman yang pandai berdagang pindah ke Yaman. Kedua, di
Makkan terdapat Ka’bah, dan sebagai ladang dalam perdagangan, karena banyaknya
orang yang berdatangan ke sana. Ketiga, karena faktor geografis, yang
mana Makkah terletak di tengah Arab. Keempat, daerah yang juga karena
gersang menjadikan orang berpergian.
Dalam pemerintaha Hasyim, kota
Makkah menjadi tempat transit perdagangan yang sangat maju. Dan juga Hasyim bin
Abd Manafbin Qushai adalah seorang negarawan yang cakap, yang dia melakukan
usaha dan upaya mengembangkan pemerintahan Quraisy, dan juga mengadakan
persetujuann-persetujuan dagang dengan negara-negara tetangga seperti Bizantium
dan Ghassani, juga membuka jalur perdagangan baru. Dan juga membentuk dua
kabilah untuk berpergian ke Yaman saat musim dingin dan ke Syiria pada musim
panas (sebagaimana QS. Al-Quraisy).
Di Yaman, kafilah bangsa Arab
membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutera, kulit, senjata, rempah-rempah,
cengkeh, palawija, dan lain-lain. Ada yang dihasilkan dari Yaman, adapula yang
didatangkan dari Indonesia, Tiongok, India. Di Syiria, mereka membawa
barang-bara di atas ke Syam. Dan ketika mereka kebali, mereka membawa gandum,
minyak zaitun, beras, jagung, dan tekstil dari Syam. Abu Thalib juga pernah
mengajak nabi melakukan perjalanan perdagangan ke Syam, dan juga nabi pernah
melakukan perdagangan ke Syam–membawa barang dagang Ibunda Khadijah saat itu.
Untuk pemerintahan, dapat dikatakan
tidak ada pemerintahan yang mengatur dengan baik dan terstruktur.
penulis: Muhammad Fathun Niam (Mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga)
Komentar
Posting Komentar