Hidup: "Theory of Chaos dan Sekaligus Sebuah Perjalanan Takdir"
Mungkin, kita mulai dengan sebuah
pengertian akan apa itu Theory of Chaos atau Teori Kekacauan, bisa diartikan
ini merupakan sebuah sistem taklinier atau keadaan acak dari sebuah
keteraturan. Bisa kita pahami, teori kekacauan ini merujuk pada sebuab
perjalanan takdir, atau bisa kita jelaskan sebagai aliran takdir. Teori Chaos,
bisa digambarkan dari kegagalan prediksi ataupun ketidak mampuan dalam
memprediksi sesuatu. Meski demikian, teori kekacauan dapat dihitung secara
matetamtis, namun karena ia tak teratur, maka dianggap sebagai kekacauan.
Teori chaos, adalah sebuah sistem
yang kiranya tak dapat diprediksi apa yang akan terjadi. Begitu juga dengan
istilah problem prediction, di mana manusia tak mampu memprediksi apa yang akan
terjadi. Misal, seorang sedih hari ini, namun dua hingga tiga hari ke depan,
seorang itu kembali berbahagia, semangat dan malah kebahagiaannya melampaui
sebelum ia sedih. Dan misal lagi, seorang yang jatuh cinta—meski kami tak
sependapat dengan istilah "jatuh"—yang mungkin hari ini merasa dia
orang istimewa, namun lambat laun, dua, tiga tahun sudah bosan. Terlalu sering
menatap hingga menjadi bosan.
Dalam teori kekacauan akan
ditemukan sebuah istilah bagian darinya yang disebut "Butterfly
Effect". Jika dalam sebuah video game, efek kupu-kupu ini merupakan sebuah
permainan yang memiliki sistem atau role sebagai RPG (Role Play Game) atau bisa
diistilahkan game interakrif, yang mana permainan ini berdasar pada pilihan,
yang kemudian akan menjadi akibat dan konsekuensi nantinya.
Begitu juga istilah dalam alam
realitas ini. Butterfly effect, merupakan sebuah sebab yang nantinya akan
membuat perubahan yang cukup signifikan. Maksudnya, efek kupu-kupu ini,
nantinya akan meneraturkan kekacauan, yang tadinya kacau menjadi teratur. Hidup
dan peristiwa—ketetapan—bisa kita ibaratkan sebuah berkas, yang mana
berkas-berkas itu seakan tidak memiliki arti, karena dari lembar satu ke yang
lainnya seakan tidak terkait. Namun, ada satu hal (thing) yang ternyata membuat
berkas berkas itu dikumpulkan hingga membentuk makalah. Itulah Butterfly Effect.
Misal, dalam pelbagai literatur,
sufi adalah mereka yang memiliki kegelisahan dan juga berasal dari kekecewaan.
Menurut Hamka, bisa dikatakan sufi adalah jalan untuk melarikan diri dari
kegelisahan duniawi. Jika kita menganggap, jalan sufi adalah jalan melarikan
diri dari kata cinta, agaknya kita salah besar. Ibaratnya, kita lari dari
sungai tapi malah menuju pada muara, yang jelas jelas penuh dengan air dan
tempat berkumpulnya sungai. Tasawuf, berisi tentang cinta, orang lari dari
cinta untuk masuk tasawuf, tentu orang itu salah besar. Menurut pandangan
as-Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Arobi, tingkat sebenar seorang hamba adalah
hub, cinta pada apa tujuan dia.
Adapun beberapa kisah mereka, orang
yang lari dari dunia karena kekecewaan. Ada kisah seorang yang ingin melamar
kekasihnya, namun ia ditolak, dan kemudian ia malam menjadi seorang sufi. Hal
inilah, kejadian ditolaknya ini yang seakan diremehkan sebuab hal kecil,
padahal hal kecil mampu menjadikan itu hal yang besar.
Beberapa hari belakangan ini, kita
mengetahui kisah seorang pemuda, yang karena ia hanya membaca Quran di tengah
hujan dan kepayahan. Tertiba ada seorang bapak yang memotret anak tersebut, dan
tidak taunnya sampai anak itu didengar dan sampai berita itu pada Syaik Ali
Jaber, dan tidak disangka, Syaikh memberikan ia hadiah umroh, dan jika tak
salah dengar, ia juga diangkat sebagai putra.
Inilah, ketidak teraturan. Yang
awalnya hanya seorang bapak yang memotrt karena ingat sesuatu, kemudian tidak
taunnya membawa anak itu pada yang lebih baik. Inilah takdir, kita tak tahu,
tapi Tuhan tau. Jangan remehkan hal kecil, bisa jadi hal kecil itu yang akan
merubah kehidupanmu. Adapun kita lihat, kita pinjam kisah Panji Pragiwagsono,
coba tengok dalam vieo berjudul "5 menit yang mengubah hidup", Panji
pun berkisah, jika saumpama dia tak melakukan hal kecil itu (disiplin), ia tak
mungkin ada pada tangganya sekarang. Itulah bagaimana takdir bekerja, takdir
itu berjalan sebagaimana mustinya, tapi manusia tetap harus memilih. Hidup
adalah pilihan.
Life is Choices, hidup merupakan
pilihan. Takdirpun juga pilihan. Semisal, ada sebuab kisah, seorang yang berdoa
pada Tuhan-nya agar ia mendapatkan apa yang ia mau. Setiap malam, setiap
menghadap Rabb-nya, ia selalu meminta. Diketahui, ia meminta seorang kekasih,
ia selalu menyebut namanya, memujinya, dan selalu berdoa untuknya. Tiada malam
yang teelewat untuk menyebut namanya di hadapan Tuhan. Hingga pada satu titik,
sang pemuda ini terlalu cepat untuk menyimpulkan takdir, ia menyerah, ia
pasrah, dan ia tak lagi berdoa. Ia tak kecewa pada Tuhan, namun ia kecewa pada
sang kekasih, yang nampaknya tak lagi mau dengannya. Ia berhenti menyebur
namanya. Hingga pada kemudian waktu, ia mendapat berita, sang kasih yang
awalnya hendak menikah dengan orang lain, ternyata tidak jadi. Namun sayang,
pemuda itu terlambat, sang kekasih terlebih dahulu menikah dengan yang lain.
Maknanya, jika seorang memilih
untuk istiqomah, coba misal pemuda itu istiqomah memanjatkan doa, bisa jadi ia
mendapatkan perempuan dambaannya tersebut. Coba perhatikan, sang kekasih yang
batal menikah, bukankah itu sebab dari doanya ? Namun, ia terlebih dulu
berhenti dan menyerah, maka Allah mentakdirkan pada kesempatan lainnya. Itulah
takdir, maka sebisa mungkin ambillah apa yang indah saat itu juga. Banyak kisah
yang dapat kita uraikan, namun bisa kita tulis pada lain pertemuan. Hidup kita
tak bisa diprediksi, maka ambilah kesempatan yang baik, berdoalah pada Tuhan
Yang Mahaagung.
Komentar
Posting Komentar