Sebuah Surat! Demi Dunia Tanpa Uang

 oleh: Muhammad Fathun Niam

“Selamat pagi... negaraku sudah menghirup cahaya matahari... entah bagaimana di Highgate, di London. Ini, adalah suratku, di pagi hari, di pagi ‘ulang tahun’ negaraku... mengulangi sejarah kelam... tanpa ada gerakan melangkah... semngata ada, tetapi ketakutan juga masih ada. Doaku, untuk teman-teman yang mati di tangan kapitalis yang disoraki warganya, karena tidak tahu mereka ditipu. “Selama negara masih menjadi saudara kembar kapitalis, maka negara hanya sebagai legislator untuk terus memberikan ‘dirinya sendiri’ makan dari menghidupi saudaranya, si kapitalis melalui legal positif. Dan selama itu juga, aparatus, bahkan seluruh badan hukum tidak akan pernah berdiri membela rakyat. Sama seperti ‘rumahnya’, hukum hanya menjadi kitab suci doxic untuk mengiyakan kapitalisme.” (I wrote on August 27, 2025).

Apakah kapitalis punya konsepsi politis? Apa itu feodalisme? Mungkin kita hanya perlu mengganti objek ‘birahi’ feodalis, tanah sebagai kebutuhan feodal menjadi kebutuhan akan profit, maka dari sana muncul Smith; Kapitalis hanya sistem Ekonomi—kita bersyukur saja bahwa kita punya The FED, kita mungkin cuma akan selalu menjadi miskin, dan tambah miskin, dan terus miskin.

Dalam tulisan sebelumnya, ‘Communism is Humanism’, Adam Smith menguraikan bahwa kapitalisme “mengupayakan untuk selalu memaksimalkan keuntungan individu demi ‘kepentingan publik’.” The Invisible Hand said that supply dan demmand akan mengatur harga. Dengan kelangkaan produk, produsen akan mencetak produksi kembali dan membuat harga di pasar murah—karena jumlah produk kembali stabil. Mungkin sistem inilah yang didambakan Smith, bahwa kapitalisme memiliki concern terhadap kebutuhan publik.

Jika kapitalisme, seperti bualan Smith, “berupaya untuk memenuhi kebutuhan publik,” lalu kenapa selama 250 tahun setelah era industrialis, bahkan setelah 300 tahunan sejak berdirinya industri-industri di London, kita masih miskin? 22 Juli, 2025, seorang anak meninggal karena infeksi cacing kronis, tapi dibiarkan? Apakah kapitalisme adalah hadiah ilahi? Sebuah sistem konkret yang intrinsik? Kalau iya, kenapa kelaparan masih ada? Jika kapitalisme adalah apa yang disebutkan Smith, “ [...] untuk kepentingan publik”, mengapa masalah karena ekonomi masih ada? Bahkan ekonomi menjadi masalah utama. Bahkan, uang menjelma menjadi legitimasi kekuasaan personal. Memang dari mana kelas? Kelas muncul karena adanya stereotip—pemisahan nilai, yang nanti akan melahirkan ruang oposisi biner.

Demikian juga dengan gejala hedonisme yang muncul karena adanya keinginan untuk memvalidasi kekuasaan—uang, mampu memvalidasi kedudukan seseorang dalam ruang sosial: aku punya X sementara kamu tidak. Secara praksis, kita bahkan dapat melihat dalam ruang keluarga. Seorang laki-laki duduk di ruang tamu saat lebaran, kedua orang tuanya hanyalah pekerja serabutan. Datang keluarga kaya. Maka, ruang keluarga akan didominasi oleh si kaya, sementara si miskin harus menyingkir dan mulai memenuhi dan menuruti kebutuhan si kaya; dalam ranah yang menjijikkan dalam urat mata agama, seksualitas. Seksualitas menjadi komoditi, bahkan manusia itu sendiri menjadi barang dagangan—semenjak era kapitalis. Film porno, PSK, fenomena ‘Pangku’ di masyarakat pesisir (Tanjung Priok) adalah kenyataan bahwa kita berupaya memenuhi kebutuhan hidup. Di mana agama? Lapangan pekerjaan sulit, tapi hanya bisa berdendang, “cari kerja yang halal; kerja halal kan masih banyak!” tanpa ada pamflet, tanpa ada brosur, hanya dendang ria dari mulut baunya.

Sekali lagi, kapitalisme, berupaya untuk memaksimalkan keuntungan individu, profit. Jika feodalis, adalah mengumpulkan tanah, kapitalis mengumpulkan uang, memonopolinya sampai tumbuh subur menjadi imperialis. Apakah berhenti di sana? Tidak, mereka berusaha membuat uang itu terus tumbuh, dengan cara? Eksploitasi. Manusia, disuruh kerja 18 jam. Hasil penjualannya, karya dari tangan-tangan pekerja malah dinikmati pemodal. Ada yang salah? Kenapa perusahaan tidak membuka lapangan pekerjaan? Padahal dengan dia membuat kesempatan kerja jadi seemakin banyak, artinya pekerjaan baru ada, maka bisa membuat jam kerja setiap buruh lebih sedikit. Namun, tentu cost produksinya akan menjadi bengkak karena ada banyak tangan yang harus digaji—bukankah lebih untung menggaji segelintir orang yang bisa dimanfaatkan? Pemodal mana yang mau mendapat profit Rp100?

Kapitalis bukan sistem politis, tapi dia hidup dalam tubuh kekuasaan. Kenapa? Argumen di dalam tulisan saya yang pertama “Communism is Humanism” adalah, “Negara adalah kembaran (twin) dari kapitalisme.” Kapitalisme butuh hidup, maka negara muncul sebagai superstruktur, sebagai legislator kapitalis untuk membuat wacana epistemecal sistem kapitalis adalah benar, wajar, doxic, natural, baik, sementara komunis adalah pengkhianat—sebagaimana tragedi  Komune de Paris, atau tahun 65 di Indonesia, manusia komunis ditumpas atas alasan pengkhianatan. Argumen kedua, melihat agama hari ini, entah sengaja atau tidak, dia jadi legislator kapitalis. agamawan senantiasa berdendang ria: “sabar! Hidup bukan soal harta”, padahal dengan komunis, ada 22 jam, orang bisa ibadah, dan tidak ada lagi alasan melewatkan ibadah karena urusan pekerjaan atau perusahaan yang intoleran.

Chomsky dalam Who Rules the World, dalam pendahuluannya, “ [...] Amerika adalah negara liberal, negara yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat [...] Namun, kebijakan di Amerika, didominasi dari keputusan kapitalis.” Artinya, negara sendiri, secara sadar selalu berpihak pada kapitalis. Kapitalis tidak memiliki sistem kekuasaan, karena dia sendiri menempel di dalam tubuh suatu kekuasaan. Kunci kapitalis adalah industri: nikel, logging di Papua, batu bara di Kalimantan, sawit di Sumatra. Lihat saja dalam report (laporan) Ekspedisi Indonesia Baru (@idbaruid), setidaknya bisa melihat, bagaimana negara ‘bersenggama’ dengan kapitalis, rakyat digorok oleh aparat hanya karena rakyat tidak mau diusir dari RUMAHNYA SENDIRI.

Dari sini, Owen, Fourier memiliki kegelisahan yang sama. Darri pikiran kedua industrialis yang manusiawi ini sosialisme lahir. Sosialisme, secara sederhana, manusia secara kolektif butuh dan akan memenuhi kebutuhan kolektif. Apakah sistem transaksi adalah hakikat? Apakah dia hukum tuhan yang harus dianut? Hah! Era Naenderthal menunjukkan sejatinya manusia sudah berkomunis sejak awal. Lihat orang pedalaman! Mereka bukan bekerja untuk mendapatkan uang, mereka bekerja, mengumpulkan makanan, membuat perkakas dan alat untuk memenuhi kebutuhan mereka bersama. Intinya, manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan bersama. Misal, ada orang menanam padi, menernak sapi, menernak lele. Produksi mereka tidak dijual, tetapi disebarkan secara merata. Ingat masalah merata! Dalam ‘Kritik Program Gotha’, dalam sistem komunis, produksi harus surplus untuk memenuhi “ [...] seturut kebutuhannya”.

Sebagai contoh praksis: dalam kasus kebutuhan ponsel dalam skenario komunis, misal, dalam suatu wilayah, ada kebutuhan ponsel 100 unit. Artinya, ada 100 orang belum mendapatkan ponsel. Maka, komunal harus memproduksi 100 unit untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi ingat, komunisme mengharuskan produksi surplus, misal dengan memproduksi 1000 unit. Maka, 100 itu akan dibagikan secara gratis kepada mereka yang belum punya. 900 sisanya? Dia akan menjadi unit maintenance: misal, ada sekelompok orang yang ponselnya rusak, maka mereka hanya perlu untuk  menukarkan ponsel mereka dengan yang baru, tanpa uang, tanpa sistem transaksional bahkan segala hukum transaksinya, karena komunisme menghapus sistem uang.

Jika tidak ada uang, apa motif manusia ingin bekerja? Bagaimana manusia memberi penghargaan kepada orang yang memiliki keahlian? Dalam Kritik atas Program Gotha, tujuan produksi bukanlah kerja untuk memenuhi keuntungan segelintir orang (kaum borjuis), melainkan, kerja dilakukan sebagai kebutuhan vital, yakni karena kita butuh makan, butuh ponsel, butuh kendaraan, butuh kesehatan, maka manusia haru bekerja. Bagaimana sistem kerjanya jika tidak ada upah? Dalam ruang komunisme, kebutuhan manusia harus dipenuhi. Bukan berarti seorang pekerja di pabrik ponsel hanya mendapat ponsel, karena akumulasi seluruh produksi untuk memenuhi sandang, pangan, dan papan setiap manusia.

Lantas, bagaimana skenario kerja komunis? Dalam kasus pabrik ponsel di atas, karena tidak lagi memerlukan uang, gaji dll., maka jumlah pekerja bisa surplus, melimpah, artinya, jam kerja buruh bisa tidak hanya dikurangi menjadi cuma 6 jam, tapi malah bisa kerja hanya 2 jam sehari. Tenaga kerjanya banyak, melimpah, maka manusia akan di tempatkan di “ [...] dan orang seturut kemampuannya [...]” setiap sektor yang ia ahli. Dalam kasus satu pabrik ponsel, bisa jadi pekerja, karena melimpah membuat orang hanya perlu bekerja 2 jam, karena selalu shift dengan rekannya. Bayangkan, jika produksi kebutuhan bisa dikerjakan selama dua minggu, maka sisanya? Pekerja bisa pulang, menghabiskan waktu dengan keluarga atau dengan tubuhnya.

Bagaimana dengan kenyataan adanya AI? Bahkan, manusia bisa saja hanya hidup berkumpul dengan keluarga karena pekerjaan digantikan dengan AI, atau menggeser orang dari sektor A ke sektor B yang membuat jumlah tenaga kerjanya bertambah, dan membuat orang hanya bekerja 1 jam sehari, bukan malah kerja dari jam 7 pagi sampai 5 sore, selama satu bulan untuk mendapatkan uang 3jtan, habis karena gajinya dipres untuk kebutuhan minimum daerah. Dan, jam dengan keluarga hanya sore-malam, yang kebanyakan akan lelah, dan digunakan istirahat. Dan orang tua akan lebih rentan gagal mendidik anaknya karena kesibukan kerja. Bayangkan, karena ada AI, maka produksi semakin tidak membutuhkan manusia. Bukan hanya penggeseran kerja, tapi bagaimana jika digantikan AI secara total? Bisa jadi, kebutuhan 10 ribu unit malah bisa selesai dalam waktu 2 minggu tanpa bantuan manusia kecuali operasional mesin. Maka ke mana KITA? TURU.

Skenario Komunis, tidak ada mall berderet, tidak ada toko berderet yang menjual hal yang sama, tidak ada showroom. Artinya banyak lahan, artinya banyak rumah bisa dibangun. Tidak ada batu bara, nikel, emas (kecuali kebutuhan listrik), artinya polusi dapat ditekan, karena tidak ada ratusan, ribuan pabrik yang berbeda, lebel dan PT berbeda hanya untuk memproduksi barang dalam katalog yang sama. Listrik sendiri? Ada Fusi dari China. Bahan bakar? Jepang punya nitrogen. Apakah akan ada efek rumah kaca? Polusi dapat ditekan, tidak ada kriminalitas, tidak ada kemiskinan.

Jika manusia mendapatkan kebutuhannya: makan, segala teknologi, transportasi, hak hidup seperti makan, ponsel, motor atau mobil, transportasi umum, laptop, ponsel, entertainment, untuk alasan apa lagi seorang mencuri? Atas alasan apa seseorang membegal? Atas alasan apa seseorang menjual tubuhnya? Bagaimana seorang pekerja komunal? Bukankah mereka dapat kesempatan menimbun barang? Maka pertanyaannya, untuk apa ditimbun toh juga tidak ada uang juga, toh orang lain juga tidak butuh barang timbunan karena tidak ada hukum upah dan segala transaksi.

Namun, komunis adalah hantu (Marx, Manifesto Communist Party). Buku itu, mengandaikan keniscayaan runtuhnya imperialisme borjuis dan kebangkitan MANUSIA. Namun, 200 tahun lebih, Marx, aku minta maaf. Dan Marx akan sangat benci gaya tulisanku!


Komentar