Partai Komunis!

 oleh: Muhammad Fathun Niam

Apakah komunisme tidak relevan? Apakah karena dia utopis membuat kita tidak mengupayakannya?

Beberapa waktu lalu saya bicara mengenai komunisme. Respons yang saya terima adalah, untuk mengupayakan komunisme berat. Maka pertanyaan saya kepada dia, “apakah dengan alasan semacam itu artinya kita diam? Apakah dengan alasan artinya tidak ada kelayakan untuk sebuah upaya?”

Kesetaraan? Apa? Untuk siapa? Bukankah yang ada adalah “...seturut kebutuhannya”?  dalam Manifesto Partai Komunis, komunis, sebagai tujuan final sosialis adalah upaya penggulingan kepemilikan private para pemodal atas alat produksi. Dengan demikian, alat produksi adalah milik publik, dalam artian tidak ada lagi biaya dan upah yang harus dibayar untuk menggiling daging, menggiling gabah, atau sekedar mengisi angin ban kempes. Skenario raksasa komunis adalah dunia tanpa uang dengan menghapus segala hukum upah bahkan upah besi. Yang tersisa adalah produksi yang mengalir deras—surplus—sebagai kunci memenuhi dan merawat kebutuhan manusia tanpa adanya transaksi kepemilikan berupa uang. Dengan demikian, seorang petani tidak lagi perlu menjual beras ke pengepul hanya untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan, tetapi manusia bekerja sebagai kebutuhan vital secara langsung. Tidak ada lagi perempuan yang menjual tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidup—mungkin sebagian juga kebutuhan hedonistik, yang tidak dapat dipungkiri lahir dalam ruang kapitalisme, bagaimana kekayaan adalah alat legitimasi kekuasaan. Tidak ada tubuh yang dijual. Tidak ada waktu yang terbuang karena kerja delapan hingga delapan belas jam yang mana sebenarnya perusahaan mampu merekrut lebih banyak pekerja. Namun perusahaan hanya ingin profit, maka menekan pengeluaran ongkos produksi. Tidak ada lagi anak yang mati karena cacing. Tidak ada orang tua yang menangis karena harga pendidikan yang tidak masuk akal. Tidak ada tanah yang direbut oleh perusahaan. Itulah komunisme, yang telah disalahpahami dalam waktu yang begitu lama.

Saya tidak pernah berbicara dengan seorang komunis khususnya Marxis—saya ingin—tapi, mungkin jika mereka disuruh membaca pernyataan Adam Smith mengenai goal kapitalis, bukankah seharusnya mereka tertawa? atau mungkin juga malah sedih? Smith menulis, Kapitalis bertujuan untuk memenuhi kepentingan publik dengan cara ‘memaksimalkan profit individu’. Pertanyaan sederhana, ‘bagaimana bisa, kebutuhan publik dipenuhi dengan kekayaan produksi dimiliki secara eksklusif’? Setidaknya 2 abad kita dibayang-bayangi oleh agama bernama kapitalis. Bayangan itu menjelma dalam ruang yang terlalu lama, bahkan rupanya seorang agamis tulen lebih birahi dengan ketimpangan sosial daripada dengan ketiadaan uang—bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya, bukan memenuhi kebutuhannya dengan menggemukkan para kapitalis. Bagaimana tidak, aku berbicara dengan seorang agamis, aku sampaikan bagaimana skenario komunis bekerja dengan menghilangkan kemiskinan total, karena kebutuhan manusia pasti terpenuhi. Apa yang dia katakan? Menurutnya, ketiadaan kemiskinan, orang yang mati-matian mencari nafkah adalah bentuk keseimbangan, karena dengan hilangnya mereka, sebagian hukuman juga tidak lagi berfungsi: zakat, sedekah dan segala turunannya. Logika kapitalisme telah menjadi doxa yang natural, sebuah hukum seharusnya demikian. Menjadi pertanyaan sederhana, ‘bagaimana kapitalisme memberikan kita penghidupan yang layak’? 2 abad, mungkin lebih dari 2 abad, apakah manusia mampu hidup sejahtera? Apakah manusia dapat lepas dari kemiskinan yang menjerat mereka? Tentu kita sudah melihatnya, TIDAK, mereka berbohong!

Sepertinya negara ini tidak punya sense visioner untuk ‘demi’ memenuhi kepentingan publik, yakni nasib ‘rakyat’. Program pemerintah dalam sektor investasi seakan tidak memperhitungkan kepentingan publik. Pemerintah menyetujui pengerukan SDA secara ugal-ugalan dan seakan tidak ada lagi pertimbangan terhadap konsekuensi jangka panjang. Kasus tambang di Raja Ampat dan Kalimantan, dan Logging di Papua sepertinya menjadi satu bukti bagaimana negara ini tidak memperhitungkan nasib rakyatnya—sementara bagaimana dengan tambang-tambang minyak yang dikuasai para pejabat? Di mana hilirisasinya dimonopoli. Ekspedisi Indonesia Baru (@idbaruid) misal, menunjukkan bagaimana daerah adat dirampas oleh kapitalis, bagaimana kapitalis mencemari lingkungan, tapi yang terjadi? GAG kembali diberi izin. Tentu, negara memiliki kebutuhan material, tapi nyatanya, puluhan tahun, semua itu tidak memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian Indonesia sebagai negara—maju. Dalam planing lain, bagaimana dengan MBG? Program MBG yang menjadi program politik unggulan Prabowo, hanya menjadi kebijakan politis yang tidak serius dalam eksekusinya. Tidak ada pertimbangan gizi yang memadai untuk harga 10 ribu per-anak, minim pengawasan, tidak ada sosialisasi kesehatan merata, target yang tidak tepat sasaran—misal kenapa tidak ada instruksi minimum muatan gizi dan nutrisi, yang ada hanya makanan proccessed food, karena semua itu di serahkan ke vendor. Kalau tujuannya bergizi, kenapa targetnya bukan anak dalam masa pertumbuhan? Kemudian anggaran dapat dipusatkan ke sana. Yang ada apa? Sosis, nugget, bun, semangka entah berapa gram, dan itu dianggap berhasil. Dan paling menggelikan, negara seakan lepas tanggung jawab dengan statement ngawur, keracunan, larangan mengkritik pemerintah dll. Bagaimana dengan kebijakannya? Upaya monopolisasi? Pertamina? Apakah dari semua itu negara memiliki concern terhadap rakyatnya?

Isu belakangan jauh dari bagaimana pemerintah memiliki perhatian terhadap segala gejala kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat, misal ilmu pengetahuan. Sebagai contoh adalah riset, bagaimana pemerintah belakangan tidak banyak bahkan seakan memang tidak tertarik berbicara dalam sektor teknologi, renewable energy. Sebaliknya, timeline berita dipenuhi oleh masalah ekonomi—bagaimana statement ngawur pemerintah: pajak, gaji guru, lapangan pekerjaan dengan segala pernyataan absurd pemerintah. Riset yang seharusnya memiliki andil untuk stakeholder sebagai legislator dan eksekutif untuk memberikan kebijakan based by research tidak tampak—saya tidak bicara soal perusahaan swasta yang memang memiliki concerning terhadap isu lingkungan, misal dalam bidang renewable energy—tapi adalah bagaimana kebijakan yang populer, tidak mengangkat isu ini yang menjadi simtom dari negara 'mau' mandiri—teknologi untuk menunjang kebutuhan akan kekuatan produksi, malah penahan seorang kades karena IF8, penahan advokat karena kritik pemerintah, guru menjadi tumbal keracunan, jangan banyak makan, tanam cabai sendiri, ancaman pidana TNI terhadap seseorang, “ndasmu”, mukamu yang gelap, dsb. Tahun 2018, BMKG sudah memberikan peringatan mengenai gempa, tetapi malah dipanggil polisi karena membuat gaduh. Kata mereka informasi semacam ini dapat membuat gaduh, dan akhirnya pemerintah sendiri tidak memiliki kesiapan agar rakyat siap menghadapi tsunami. Riset dibuat seharusnya menjadi bahan kajian pemerintah, para eksekutif dan legislatif untuk menyusun kebijakan. Kebijakan-kebijakan yang lahir, pada akhirnya tidak tepat guna, dan cenderung memberi kesan pemerintah sendiri tidak memberi perhatian kepada publik—kecuali kepada aristokrat pemodal; satu-satunya asumsi adalah, negara ini adalah pabrik kapitalis dan menjadi lumbung konsumen untuk para pemodal. Bagaimana tidak, negara sibuk dengan tambang tanpa memberikan ruang kepada rakyatnya untuk memberikan aspirasi agar pemerintah yang memiliki wewenang dapat tahu apa yang dalami rakyatnya.

Kita tidak lagi memikirkan suatu negara, tetapi sebuah kebutuhan paling primal sebagai manusia. Di atas, hanya ingin menekankan, ketidakadaan perhatian terhadap publik, dengan memperhatikan bagaimana kebijakan secara eksklusif hanya menguntungkan para pemodal, bahwa negara kita tidak sedang menghidupi manusia, tetapi menghidupi elit yang disebut pemodal. Kebijakan mengenai tambang yang jelas-jelas mencemari lingkungan yang berdampak secara langsung untuk manusia yang tinggal di sekitarnya. Kebijakan impor minyak satu pintu. Mungkin itu cukup untuk memperlihatkan ketidakcakapan pemerintah sendiri.

Komunisme membutuhkan momentum ledakan untuk menjadi revolusi; Makhluk hidup dimulai dengan ‘replikator’ yang terus melakukan replikasi hingga mengharuskan setiap individu untuk bertahan hidup, sampai pada satu titik mereka harus beradaptasi dengan lingkungannya. Lingkungan ini, dan keharusan beradaptasi ini membentuk survival-machine (survival-body) mereka. Inilah evolusi yang diketahui, di mana makhluk hidup berevolusi secara gradual, pelan yang disebut anagenesis. Namun, menurut Stephen J. Gould, dalam beberapa dekade yang sangat panjang lamanya, kita tidak memiliki perubahan besar. Tetapi, dalam satu titik, ada sebuah lonjakan yang begitu cepat, sebuah ledakan, entah bagaimana—memaksa makhluk hidup untuk—mengubah DNA mereka untuk menciptakan survival-machine, inilah yang disebut kladogenesis—percabangan yang cepat, bukan seluruh organisme, tetapi organisme tertentu mengalami perubahan ini, dan bereplikasi, yang mungkin akan menurunkan bentuk DNA yang baru ke generasinya; Alan Woods dalam “150 Tahun Manifesto Partai Komunis” memberikan satu aproksi menarik bagaimana komunisme digambarkan akan muncul. Komunisme seperti bagaimana alam—baik makro maupun mikro—itu bekerja. Evolusi—seperti petandanya—adalah proses gradual yang pelan. Bagaimana manusia modern, dan hewan modern terbentuk adalah melalui proses bertahap yang lama. Namun, Gould dia membawa satu teori yang berbeda, punctuated equilibrium di mana evolusi terjadi karena adanya ledakan yang menghasilkan patahan untuk spesies tersebut. Menurutnya, dalam dekade yang lama, suatu spesies tidak mengalami perubahan yang signifikan sampai pada garis tertentu, ketika ledakan itu terjadi menyebabkan spesies itu berubah, dan inilah revolusi—suatu ledakan, patahan yang mengubah struktur secara signifikan dalam momentumnya. Woods, dalam catatan kakinya, ia menggambarkan keadaan ini mirip dengan bagaimana dalam diri manusia dan alam mampu menyimpan ledakan yang besar. Bumi, di balik tanah yang tenang, di dalamnya menyimpan gesekan lempeng, magma yang terus dimasak. Hingga pada taraf tertentu, magma itu siap untuk keluar menjadi ledakan super dahsyat. Demikian juga manusia, manusia yang terlihat tenang, dia bisa jadi menyimpan segala macam angst, unhemlichkeit, yang pada satu titik dapat meledak dalam ledakan emosi dalam perubahan yang cepat.

Inilah yang diinginkan Marx, bagaimana manusia akan memasuki kesadaran kelasnya. Kesadaran kelas ini muncul karena tekanan diskriminatif, tekanan struktural, tekanan ekonomi yang mencekik manusia kolektif. Artinya, dalam momentum tertentu, maka manusia kolektif akan meledak. Adit MKM dalam artikel populernya dengan indah menyinggung pemerintah yang akan sia-sia menangkap Ferry Irwandi. Kenapa? Karena menurutnya, andai pun Ferry mati, gema revolusi akan bangkit dengan meminjam tubuh lain. Kenapa hal itu bisa terjadi—bahwa revolusi tidak bisa dibungkam semacam ini atau modelan Köln ketika Liga Komunis runtuh—? Karena pada dasarnya gema revolusi keluar dari ledakan dalam diri manusia kolektif yang terus tertindas. Revolusi yang selama ini terus digerakkan oleh para revolusioner—yang harusnya kita terus menghargai mereka—tidak akan berdiri diam sebagai gerakan sia-sia. Dalam Manifesto Partai Komunis, ledakan revolusi lahir dalam kesadaran kelas. Sebuah kesadaran akan penindasan yang dilakukan oleh pemilik modal atas tubuh proletariat, para labor yang dieksploitasi. Kemampuan seorang hanya untuk memperkaya para pemodal. Dalam artian, pembungkaman terhadap manusia yang tertindas tidak akan bisa berhenti. Tubuh-tubuh itu akan terus hidup dengan pergerakan-pergerakan dari kesadaran kelas. Kesadaran inilah, yang melahirkan rasa sakit hati, menggerakkan massa secara otomatis. Namun, apakah gerakan itu harus berhenti dalam gerakan kolektif yang reaksional? Tentu tidak. Di sinilah Marx mengajukan partai komunis sebagai jembatan sementara sosialis sebelum menjalankan komunisme total.

Anarkisme menolak gagasan Marx dalam pendirian partai komunis, bagaimana komunis disosialisasikan melalui gerak politis partai. Oleh karenanya, Anarkisme secara brutal mengambil jalan pintas untuk keluar dari negara. Namun, Menurut Marx perjuangan kelas tidak bisa dengan serta-merta mengabaikan sejarah sebagai langkah strategis. Komune de Paris (1871) menjadi contoh yang menyakitkan, bagaimana komunisme dihabisi. Kenapa? Mereka tidak memiliki kekuatan politis. Paris menjadi taman berdarah oleh alat borjuasi—militer, sebuah kerajaan Versailles dengan Prusia.

Pergerakan revolusi manusia selama ini selalu berhenti di pelengseran, tanpa ada penyembuhan, revolusi itu sendiri, cita-cita komunis untuk menciptakan dunia tanpa uang. Revolusi kaum buruh di Perancis 1848 atas ketidakpuasan dengan kaum borjuasi. Revolusi itu berhasil memindahkan kekuasaan dari borjuasi aristokratik kepada kaum proletariat. Tapi, kaum proletar tidak memiliki kekuatan secara politis. Pada tahun 1871, kaum proletariat mendapati kesadaran kelas dan menjalankan revolusi. Mereka mampu menduduki kekuasaan, benar-benar menyentuh jantung komunis: menghilangkan fungsi aparatus, penerapan demokrasi, merekalah Komune Paris. 72 hari menjadi satu pelajaran penting, bahwa kesadaran kelas tidaklah cukup untuk menghadapi kontra-revolusi yang matang. Kemudian revolusi Jerman dari Weimar sama saja—malah melahirkan fasisme—dan reformasi 98 hanya menggulingkan ‘yang katanya’ rezim, menggantikan rezim lama dengan yang baru. Bisa diperhatikan, pergerakan revolusi manusia hanya berhenti di sana, penggulingan, tanpa ada organisasi yang mapan. Pati? Tetap, kita masih berhenti di sana, tanpa ada seorang KOMUNIS yang mau merangkak menggantikan seluruh feodalisme modern, sang aristokrat oligarki, kapitalisme akan terus bertengger mencekik manusia. Pertanyaannya, kenapa? Kita butuh legislator, kita butuh organisator, kita butuh komunis sebagai partai. Inilah yang diinginkan Marx. Materialisme dialektika-historis bukan kitab suci omong kosong, dia adalah strategi pembebasan manusia yang logis. Melalui partai, komunis akan menguasai militer. Dengan demikian, gerak revolusi dapat dipertahankan. Kenapa? Karena kita memiliki kekuatan militernya sebelum akhirnya, surga dunia lahir, komunis dengan diikuti runtuhnya negara, runtuhnya militer.

“...aku seorang pemikir yang terkadang malas berpikir, sampai kau datang dalam kegelapan darah yang diusapkan kedua orang tuaku di kacamataku selama 20 tahun! Seperti yang lalu kepada Nietzsche, Derrida, Camus, dan sekarang adalah dirimu, Marx! Aku sampaikan permintaan maafku kepadamu, aku telah salah paham!”

“Aku tidak butuh surga abrahamik, aku hanya berharap, aku bisa merasakan dunia, di mana orang tak lagi menanyakan harga, tetapi, dengan baik hati mendekat dan tersenyum: “apa kebutuhanmu?” di sanalah skenario komunis lebih benderang daripada surga-surga absurdis para nabi.”


Komentar