Akhir sebuah Surga: Al-Jannah adalah Nirwana: Keterkembalian Pada Ujud Pertama, Sang Alam Pertama
oleh: Muhammad Fathun Niam
“Cara meruntuhkan neraka adalah dengan menghancurkan terlebih dahulu konsepsi surga; jika Marx bisa mengatakan jika jalan menuju neraka diliputi oleh niat baik, maka hari ini, surga telah diselimuti oleh kehendak menjijikkan manusia”
Sayang, teks ini jauh dari ruang filosofis,
tetapi teks ini lahir sebagai konsekuensi dialogis saya saat bersentuhan dan
mengamini emanasi Plotinian yang diajukan Ibn Arabi, bahwa manusia akan kembali
pada Tuhan! (Inna lillāhi wa inna ilaihi raji‘ūn). Demikianlah keterkembalian
sejati kepada Tuhan yang benar-benar Tuhan, di saat itulah kita tidak
lagi memiliki surga, sebuah dunia ideal, sebuah bualan para ‘prometheus
cacat’ (agamawan); teks di depan, akan bicara mengenai kata Al-Jannah (الجنّة) dengan tidak mengabaikan
konteks historisnya.
Jika kita melihat Mu‘jam Al-Arabī, kata
‘jannah’ (جنّة) memiliki akar kata yang sama
setidaknya dengan kata jann (جنّ), ajinnah
(أجنّة), majnūn
(جنون-مجنون). Sementara
dengan cukup jelas, dalam Al-Mu'jam Al-Mufahras memperhatikan jika semua
kata yang berakar dari huruf ‘jim-nun-nun’ (ج-ن-ن) rupanya membawa makna (mafhūm/implisit)
‘ketertutupan/ketersembunyian’.
Misal adalah kata jinn: jinn
sendiri bisa dipahami sebagai makhluk (dābbah) atau dalam kebiasaan Arab
dapat dipahami sebagai perisai (junnatun-جنّة) (QS. 56: 16), bahkan dalam
beberapa ayat, Al-Quran menyebut kata malam dengan menggunakan kata jann
(جنّ) (QS. 6: 76); sementara, secara
etimologis, kata majnūn tidak bisa secara simplifikatif dipahami gila.
Pemaknaan gila sebenarnya dari pemahaman kata majnūn (junūn-جنون), yakni menunjukkan “ketertutupan
akal akan sesuatu”, artinya, ‘orang yang tidur’ sebenarnya juga dapat dikatakan
orang yang sedang majnūn, karena dia tidak berakal, begitu juga orang
yang sedang dalam keadaan mabuk, bahwa dia sedang tidak berakal—dalam artian
dia tidak sadar.
Kata ‘ajinnah’ (أجنّة) menunjuk pada janin (QS. 53:
32). ‘Ajinnah’ (أجنّة)
menunjuk pada ketertutupan atau ketersembunyian sang bayi di balik perut
ibunya; bisa dipahami, bahwa semua kata yang memiliki akar kata ‘janan’
(جنن) memiliki arti mafhūm sebagai
keadaan ‘ketertutupan’, di mana ‘sesuatu’ tidak terlihat, misal kata jinn,
baik perisai, malam, atau jinn itu sendiri, mereka tidaklah menampakkan
sesuatu—‘sesuatu’ tidak tampak. Adapun Jinn yang tersembunyi di balik
tabir. ‘Malam’ yang menutupi sesuatu, begitu pun perisai. Begitu juga dengan
kata majnūn yang membawa makna ketertutupan akal, kondisi di mana
seseorang dianggap tidak sadar. Demikian juga kata ‘jannah’ yang memiliki arti
kebun yang tersembunyi atau kebun yang tertutup.
Kata jannah sendiri sebenarnya dipahami
sebagai sebuah kebun. Secara bahasa, dia adalah kebun. Secara spesifik Rāgib
Al-Aşfahāni menyebutkan bahwa jannah adalah kebun yang tertutup, atau tidak
terlihat. Ketertutupannya disebabkan oleh pepohonan, di mana rerimbunan dari
dedaunan itu menutupi tanah di balik kebun tersebut. Misal dalam QS. 34: 16,
Al-Quran menggunakan kata jannatun untuk menyebut kebun orang Saba—dalam
bentuk muśanna (جنتين).
Mungkin, tafsiran Quraish Shihab perlu
mendapatkan sedikit perhatian untuk membicarakan kebun-kebun milik orang
Saba’. Quraish Shihab mengutip satu
riwayat, walaupun beliau menyuruh kita untuk menurunkan derajat riwayat itu,
mungkin di sini, kita bisa anggap bahwa riwayat itu sebatas ungkapan (syair).
Teks itu setidaknya berbunyi, “apabila engkau melewati kebun-kebun milik orang
Saba' dengan keranjang di kepalamu, maka engkau akan menemui keranjang itu
penuh dengan buah-buahan saat engkau keluar darinya”. Bisa dipahami, bahwa jannah
adalah kebun yang subur, di mana karena suburnya (tanahnya) tempat itu , maka
tumbuhan akan tumbuh dengan baik dan rimbun, yang menyebabkan tanah di baliknya
atau bahkan ‘sesuatu’ di dalamnya tidak terlihat dari luar, sesuatu itu menjadi
tersembunyi, ditutupi oleh rerimbunan dedaunan.
Setelah sebelumnya kita mengajukan pendekatan
lingustik, bahwa ‘jannah’ sejatinya memiliki arti ‘kebun yang
tertutup/tersembunyi sebab rerimbunanya', dan dengan memperhatikan satu riwayat
yang kita turunkan derajatnya sebagai syair yang menggambarkan kebun-kebun
orang Saba' yang juga menggunakan kata 'jannah', jannah adalah tempat subur,
yang berbeda jauh dengan dataran Arab yang didominasi oleh gurun bebatuan yang
gersang. Maka, kita masuk pada hermeneutika-psikologis yang ditawarkan
Schleiermacher.
Sederhananya, kita bisa melihat Dataran Arab
(Jazirah Arab) didominasi oleh gurun pasir bebatuan yang gersang. Dengan
melihat ruang ‘macro-context (historical-context)’, teks Al-Quran
merekam dan berdialog dengan ruang Arab waktu itu. Hal ini bisa diperhatikan
dalam penggunaan diksi ketika Al-Quran berdialog dengan orang Arab—diwakili oleh
nabi Muhammad. Misal kisah Adam dan dua anaknya, yang bisa dikenali oleh audiensinya,
bahkan tanpa Al-Quran menyebut nama secara spesifik: Habil-Qobil—sementara Al-Quran
secara eksplisit sama sekali tidak menyebut kedua nama tersebut (QS. 5: 27-31). Begitu
juga pengenalan Sang Causa Sui, Tuhan yang menamai
(memperkenalkan) diri-Nya sebagai Allah (QS. 20: 14).
Dalam kisah yang dibawa oleh Al-Quran, Tuhan
memperkenalkan diri-Nya pada Musa sebagai Allah (QS. 20: 11; 28: 30), sementara
dalam teks Biblikal, Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai El (Kel. 6:
2-3—bahwa Tuhan turun pada Ibrahim sebagai El-Shaddai, bukan YHWH), sebagian
lain sebagai Elyon, dan YHWH kepada Musa (Kel. 6: 2-3; Yesaya 42: 8—walaupun
dalam teks yang saya miliki menggunakan nama Hoewa, saya ragu jika dia menulis
‘Huwa’, karena teks yang saya dapatkan masih menggunakan ejaan lama. Di sisi
lain, dalam beberapa teks terjemahan kita hanya akan menemukan nama Allah, hal
ini berkaitan dengan pemaknaan dari beberapa teks Tuhan. Karena di Indonesia
dan Malaysia nama Tuhan [baik sebagai El, maupun YHWH/Almighty] disematkan pada
nama Allah sebab lebih dikenal), dalam Avesta, Tuhan memperkenalkan diri-Nya
sebagai Ahura Mazda. Penyebutan ini menunjukkan sebuah idea-epistemik yang coba
diperkenalkan oleh teks. Maksud saya, karena Tuhan ingin memperkenalkan
diri-Nya sebagai Allah, maka ia mengubah teks dari penyebutan dia sebagai El,
Elyon, Elohim menjadi Allah.
Saya kira, hal ini perlu diperjelas secara
genealogis atas argumentasi tersebut. Untuk memperjelas, saya membacakan teks
Ibn Arabi dalam memetakan tiga martabat Tuhan. Dalam doktrinnya, Ibn Arabi
memahami akan Tuhan yang menjelma dalam tiga martabat—bahwa Tuhan
memperkenalkan diri-Nya dalam bentuk perwujudan. Martabat pertama akan dikenal
dengan Tuhan yang aḥadiyah, di mana Tuhan tidak diketahui. Di sinilah
pengetahuan mengenai penamaan atau bentuk perkenalan Tuhan bisa dipahami. Dalam
taraf ini, Tuhan adalah yang apa adanya, Dia tidak diketahui dan tidak
dikenal, di sinilah Tuhan bersifat transenden. Lantas, mengapa kita bisa
mengenal Tuhan? Bukankah Dia esa (QS. 112: 1-4; 20: 14; 59: 22-23)? Bukankah
Dia yang memiliki nama (QS. 59: 23-24; 7: 180)? Pada taraf itu, Tuhan telah
memperkenalkan diri-Nya, bahwa Dia telah mendefinisikan diri-Nya. Di sinilah
Tuhan masuk ke dalam martabat kedua, yakni Tuhan yang wāḥidiyyah: di
mana Tuhan menjelma ke dalam asmā’ dan shifāt. Pada level ini,
kita mengenal Tuhan kita dengan nama yang Dia bawa: dalamAl-Quran Dia
menggunakan nama Allah (QS. 20: 14). Dan pada martabat ketiga, Tuhan
memperkenalkan diri-Nya pada taraf tajallī syuhūdi, Tuhan yang menjelma
ke dalam alam fenomenon (tampak).
Tentu, pola semacam ini bisa dilihat dengan
cukup jelas dalam teks-teks kisah. Apakah teks kisah dalam Al-Quran sama atau
bahkan identik dengan teks yang diwartakan dalam Biblikal? Nyatanya, Al-Quran
tidak benar-benar mengambil kisah itu utuh apa adanya, melainkan mengambil teks
sebagai bentuk upaya membangun sebuah episteme (pengetahuan) ideal yang sedang
dia wartakan. Itulah kenapa dalam Al-Quran ada perbedaan yang ternyata cukup
signifikan dalam menceritakan ulang kisah-kisah yang dibawa oleh teks biblikal,
misal dalam menceritakan kisah Yusuf, yang memiliki perbedaan dalam
penyampaiannya. Dalam beberapa hal, Al-Quran juga menggunakan terma-terma yang
dekat dengan audiensinya saat itu: yakni orang Arab yang didominasi oleh
pedagang. Dalam beberapa teksnya, Al-Quran sering menggunakan terma perdagangan
dalam ayat eskatologi (QS. 61: 10).
Begitu juga dengan kata ‘jannah’,
kenapa Al-Quran membawa konsep jannah di tengah masyarakat Arab? Tentu, untuk
menarik hati audiensinya, agar mereka mau masuk dalam agama yang sedang
diwartakan (Islam). Demikian itu bisa dilihat bagaimana Al-Quran membawa konsep
jannah (kebun yang subur—dipenuhi oleh rerimbunan dari pepohonan),
sungai yang mengalir di bawahnya (sungai-sungai yang senantiasa mengalir ‘di
dalam’ kebun), dan perempuan, yang dapat
dilihat muncul berkali-kali dalam Al-Quran. Kenapa? Tujuannya tentu untuk
menarik hati sang audiensi yang memiliki habitus yang dekat dengan semua itu:
hidup dalam ruang geografis yang tandus, kesenangan terhadap perempuan, harta,
dan khamr. Tentu, bisa dilihat bahwa apa yang ditawarkan adalah apa yang sangat
diminati oleh audiensinya.
Apakah mengartikan kata ‘jannah’
sebagai tempat ideal, dunia serba-ada dan serba-bisa, harapan yang tidak
terbatas, dan sebagai tujuan dan akhir menuju kebahagiaan masih relevan? Apakah
masih relevan kita memaknai kata jannah sebatas sebagai 'sebuah tempat'? Atau
sebenarnya surga yang dibicarakan Al-Quran dalam kata ‘jannah’ tidak
benar-benar berbicara mengenai konsep tempat ideal, melainkan sebuah konsepsi
nirwana? Bukan perihal tempat, tetapi konsep dari ‘kebahagiaan sejati’ yang
memang sulit untuk dibayangkan, namun yang jelas surga bukanlah tempat. Sulit
di sini adalah, surga adalah “sebuah ‘sesuatu’ yang diinginkan sebagai daya
tarik, atau sesuatu yang menarik untuk suatu kaum, kelompok, atau bahkan
manusia itu sendiri”.
Kenapa surga dipenuhi oleh "hasrat menjijikkan manusia?" Bukankah surga memang telah diisi dengan 'hasrat' manusiawi? Bukankah surga hari ini malah dicemari oleh nasut-nasut manusiawi? Seorang da'i, dia berceramah di televisi (on air/live—mungkin), dia bilang bahwa kenikmatan tertinggi di surga adalah pesta sex (saya tidak melebihkan katanya, saya mengutip secara tekstual). Coba kita renungkan sendiri, kenapa kita ingin masuk surga? Bukankah hanya karena kita menelan hidup tragis? Akhirnya, kita membayangkan dunia dan hidup ideal. Ketika kita menginginkan surga, kita tidak lain hanya menginginkan kesenangan (pleasure): "saya ingin pesta sex dengan bidadari, saya ingin jadi tuhan, saya ingin makan banyak, saya ingin, saya ingin, dan hanya kata "saya ingin..." yang keluar ketika kita mengingat surga.
Konsekuensi Sebagai Sang Monis-Pantheis
Dalam doktrin Ibn Arabi, Tuhan adalah
permulaan. Dia, membentuk dari sebagian diri-Nya sendiri —tanpa
berkurang—sebagai materi, yang akan kita kenali sebagai materi pertama (hule;
dalam filsafat Islam: alhaba). Dalam doktrin Ibn Arabi akan dikenal
dengan ‘haqiqatul muhammadiyah’ (hakikat yang terpuji), atau ‘nur
muhammad’ (cahaya yang terpuji) dalam teks Al-Hallaj. Dari materi
pertama itulah, alam kedua (makro kosmos) tercipta: elemen, langit, dan bumi.
Dan dari alam kedua, alam ketiga sebagai mikro kosmos tercipta: hewan dari air,
manusia dari air dan tanah, malaikat dari cahaya, golongan jin dari api yang
menyala, dll.
Artinya, dengan melihat konsep emanasi yang
ditawarkan Ibn Arabi sebagai terusan dialogis plotinus, manusia memiliki materi
Tuhan secara tidak langsung—dalam aliran Materialisme ada satu pandangan, bahwa
seluruh benda ujud dalam dunia memiliki satu materi yang sama. Dengan begitu,
ujud kita awal adalah bagian dari Tuhan, maka dengan demikian, ke mana kita
kembali? Bukankah pada akhirnya, kita akan kembali pada Tuhan itu sendiri?
Kembali pada ujud awal sebagai unsur Tuhan. Dalam artian benar-benar Tuhan,
kita kembali pada alam permulaan, yakni Tuhan itu sendiri. Di sinilah konsepsi
surga telah runtuh. Artinya, inna lillāhi wa inna ilaihi raji‘ūn adalah
keterkembalian kita bukan lagi pada surga, tetapi pada Tuhan (Ilah),
yakni sebagai diri-Nya.
.jpg)

Komentar
Posting Komentar