[Menuju Eksistensialisme]: “Nihilisme dan Rumah, Sebuah Tempat Pulang”




Entah, seabsurd apa dan seabstrak apa saya bisa membuat tulisan ini; tulisan ini lahir dari pertanyaan saya sendiri, “kenapa saya ‘ingin’ pulang”. Asumsi sederhana, “bukankah seluruh tempat berlindung, meneduh adalah sama saja? Apakah ada hubungannya dengan nilai? Atau bahkan ikatan emosi?”. Secara emosional, mungkin karena ada orang tua, atau ada anak, atau ada orang yang kita kasihi. Akan tetapi, apa itu menjadi masalah utama? Toh ketika di rumah juga tidak jauh dari makian, hinaan, bahkan candaan-candaan tolol dari keluarga (sebuah faktisitas saja). Maksud saya, “apakah rumah se-berharga itu”. Walaupun, saya ingin mengatakan perihal ‘pulang ke rumah’—ya kalo rumah [sebagai benda dan aset], mah ya berharga.

Lantas, kenapa ‘aku ingin pulang?’ Mungkin, sikap saya dalam melihat ‘value’ atau bahkan urgensi ‘pulang’ seakan seorang nihilis yang  meragukan hidup, bahwa hidup tidak ada artinya. Begitu juga dengan ‘rumah’ dan ‘pulang’, yang keduanya tidak ada nilainya (bebas nilai) atau ya, ‘tidak ada artinya’. Mungkin dari sikap semacam ini, filosof Prancis, Camus atau mungkin seorang Logoterapis—psikoanalisis—asal Wina, Viktor Frankl menekan kita untuk terus mencari makna. Bahkan secara  tidak sadar, Nihilisme-Perspektif (aktif) milik Nietzsche, juga mendorong kita mencari tujuan (walau terlalu samar). Bagaimana bisa? Sebuah narasi dari nihilisme aktif adalah ketika manusia mau bergerak karena dia ‘mau!’. Ya, karena dia sadar dia ‘tidak memiliki tujuan’, maka dia menciptakan tujuan. Berbeda dengan pesimisme yang seakan membiarkan asap-asap keterpaasrahan meliputi dia sampai merenggut nyawanya, bagaikan Dementor.

Sebuah warta dari Nietzsche: “he who has a ‘why’ to live for bear almost any how”; Jangankan Nietzsche, gurunya sendiri: Schopenhauer juga menyadari, bahwa dalam menyelami hidup, manusia terus mengais keinginan-keinginan yang  tak jelas dan terkadang tidak masuk akal. Dalam beberapa kondisi, bahkan manusia stres, depresi dengan kehendak yang  dia buat sendiri.

Salah satu kehendak yang mendorong manusia hidup adalah will to exist, tapi bukan itu masalahnya; sebuah keinginan-keinginan atau ‘why’ itulah yang mendorong kita melakukan sesuatu yang ‘how’, bagaimana. Artinya, “jika memang dunia tidak berarti”, berarti aku bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan. Dengan demikian, manusia akan meraih alasan-alasan hidup sebagai konsekuensi pilihannya. 

Begitu juga dengan kata ‘rumah’. Dia hanya kata, sebatas penanda (signifié) seperti kata ‘Yogyakarta’, hanya sebuah kata untuk sebuah tempat, tidak istimewa, tidak memiliki nilai. Dia hanya tempat, daerah, wilayah, tidak lebih. Sama saja dengan kata Kediri, Surabaya, Pare, bahkan Tawang. Namun, kata-kata ‘itu’ akan menyerap ideé fixe atau petanda (signifiant)—walaupun pentanda berbeda dengan ideé fixe—dan menjadikan kata atau nama tempat menjadi istimewa dan sakral—memiliki nilai. Misal kota Yogyakarta yang menjadi istimewa karena kenanganmu dengan pacarmu, yang sekarang kamu sudah putus; Secara sederhana, saya sendiri telah menemukan alasan-alasan ‘why’, ‘kenapa’, untuk saya sampai pada keinginan pulang; saya ingin sedikit cerita tentang Frankl. Frankl, seorang Yudais yang mampu selamat dari kamp konsentrasi milik Nazi. Sebuah semangat yang seakan dia bawa adalah ‘istrinya’. Dia bahkan menghadirkan istrinya dalam mimpi-mimpi yang dia alami. Dengan ini, setidaknya dia memiliki alasan untuk harus tetap hidup, yakni keinginan kuat dia bertemu dengan istri dan anak-anaknya.

Entah, secara absurd saya mempertanyakan, ‘kenapa saya ingin pulang?’, bahkan saya mencoba membuat beberapa skenario, misal bagaimana jika suatu saat nanti, saya tinggal di Jerman, atau kemudian menikah dan memutuskan tinggal di sana? Kemudian, ‘kenapa saya harus pulang?’ toh saya sudah pulang. Mungkin, pertanyaan-pertanyaan ini memang akan mengerucutkan saya pada sikap nihilisme yang secara tidak sadar hampir menginfeksi saya—ya, mungkin sebuah ‘akibat’ dari berkenalan dengan Nietzsche. Pandangan ‘ketidak-punyaan nilai suatu hal’, menjadi ‘nilai’ dalam tulisan kali ini. Begitu juga dengan pandangan tentang nilai keberagamaan, bahwa nilai itu adalah konstruksi, sebuah aturan yang disepakati oleh suatu kelompok atau komunitas.

Begitu juga dengan Agama. Nilai-nilai yang coba diterapkan dan ditransmisikan adalah sebuah upaya memberi gambaran pada manusia mengenai sebuah tujuan. Tujuan agama adalah ‘surga’, walaupun saya kira pandangan ini kurang tepat. Saya kira, tujuan kita benar-benar Tuhan, bukan surga sama sekali. Sementara, ketika agama mewartakan sebuah tujuan adalah Tuhan, saya kira agama tidak akan begitu ‘laku’. Walaupun, ujung-ujungnya surga menjadi tempat paling kotor dan menjijikkan. Tentu hal ini karena konsepsi surga yang terus dipenuhi dengan ‘nasut’, kehendak manusiawi, nafsu-nafsu menjijikkan dari manusia. Lihat saja, bagaimana kita terus memotivasi diri kita untuk bisa masuk surga: harta yang melimpah, pesta seks, makanan yang tak terbatas, keinginan-keinginan ‘yang sangat pasti’ dikabulkan, dan seluruh kehendak menjijikkan lainnya.

Singkatnya, konsepsi surga dan neraka diciptakan agar manusia memiliki sebuah tujuan dan melahirkan sebuah konsekuensi aturan-aturan yang lain. Itulah nilai-nilai yang hari ini kita terima; hal yang sama ketika saya harus melihat apa itu pulang. Pada hakikatnya, pulang bukan sebuah kehendak instingtif, tetapi ada sebuah selubung yang menyelimuti kehendak-kehendak itu. Misal, keinginan saya ‘pulang’ dari KKN adalah rasa capek saya yang harus hidup berbaur secara kelompok, secara komunal dengan orang yang tidak saya kenal; tahun 2019, kenapa saya ingin pulang? Sama saja, kehendak saya untuk rehat. Lantas, kenapa tahun ini saya ingin pulang?

Mungkin, sikap nihilistik akan membawa manusia pada ketidak-beraturan—sebagaimana dalam warta Nietzsche misal, ketika manusia berhasil membunuh Tuhan, harusnya manusia bagaikan si Sinting yang membawa lentera di hari siang bolong. Namun, dalam perspektif Nietzsche, Nihilisme sebagai sebuah konsekuensi ‘kita membunuh—konsepsi—Tuhan’ (sebuah norma)—kita tidak memiliki aturan bahkan kosong akan tujuan, kita tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan, ibarat manusia yang kehilangan matahari. Tentu, dengan matinya aturan, manusia secara bebas akan menemukan tujuan-tujuan secara mandiri—dengan mengetahui Tuhan telah mati, maka kita akan bebas mencari tujuan, tidak hanya dan tidak lagi hanya soal surga. Walaupun saya rasa, saya harus menggaris bawahi bahwa di dalam nihilisme ada upaya mencapai dan menemukan sebuah tujuan. Dari memiliki tujuan atau ‘kenapa’ atau bahasa Frankl sebagai ‘makna’, maka kita akan mampu menjalani hidup yang sekiranya absurd ini. Dan, dengan menemukan ‘why’, ‘pulang’ telah menjadi momentum yang sangat mengasyikkan, bahkan seakan-akan menjadi waktu yang saya tunggu. Tentu, momentum itu ada, karena saya telah menemukan ‘why’. Bahkan, tulisan ini sendiri sudah menjadi bagian dari ‘tujuan’ pulang. Mungkin bukan tujuan, tapi sebuah ‘selebrasi’. Namun pada unjungnya, “oh, yaudah” 

Komentar