Dekonstruksi: Dari Kritik Logosentris hingga Gender, Feminisme dan Qirā’ah Mubādalah
“Bahasa akan Menunjukkan
Kesehatan Logika”
Dalam filsafat Islam,
manusia akan dikenal sebagai hayawānun nāţiq. Kata nāţiq merujuk
pada kemampuan bertutur. Artinya, manusia sebagai hewan yang berbahasa—berbicara.
Demikian untuk memisahkan dengan hewan itu sendiri. Sementara dalam filsafat,
Logika—logike—atau logos, adalah daya pikir dengan budi yang termanifestasikan
dalam bahasa. Logos sendiri adalah legō yang berarti perkataan, dalam
teks lain bisa disebut sebagai firman (kalām—ucapan/perkataan).
Sebagaimana warta Arthur Aston Luce, bahwa akal pikiran akan berkaitan erat
dengan bahasa. Oleh karenanya, bahasa akan disebut sebagai tanda (sign)
dari konsep rasio/akal.
Bahasa adalah
manifestasi dari konsep akal bersifat idea. Itulah kenapa akal dan bahasa tidak
terpisahkan. Bisa jadi, dengan kita melihat bahasa atau cara orang berbicara—di
mana dalam pembicaraan itu ada yang namanya bahasa—kita bisa melihat kesehatan
logikanya. Misal ada orang, cara bicaranya tidak jelas, dalam artian tidak
memiliki s-p-o-k yang jelas, maka logika atau alur berpikirnya tentu saja sudah
kacau. Dalam pengetahuan de Sassure misal, bahasa adalah tanda (sign), dan
‘kata’ adalah penanda (signifié), sementara konsep dari sebuah ‘kata’ adalah
petanda (signifiant). Misal adalah kata ‘kursi’, kursi itu adalah penanda
(signifié), sementara konsep kursi adalah tempat duduk (entah bayangan kita
merujuk pada bentuk apa pun, sesuai dengan pengalaman kita). Itulah
struktualisme.
Nietzsche, memahami
‘kata’ sebagai gambar atau manifestasi dari sonor (bunyi). Sementara dalam satu
pengetahuan lain, kata akan menjadi selubung—walaupun arti selubung adalah
penutup, tetapi selubung diartikan oleh A. Setyo Wibowo dengan makna sinkronik.
Di mana sebuah kata akan membawa konsep-konsep tertentu. Namun, masalahnya,
dalam konsep atau petanda itu akan terjadi pembengkakan (hipertrofi). Maka,
sebuah kata akan terasingkan dari maknanya (signifiant): misal kata Anarkisme,
radikalisme, ikhlas, dll., yang kerap kali mengalami pembengkakan. Seperti kata
ikhlas yang tersimplikasikan dengan makna ‘rela’. Kata anarkis yang bergeser
maknanya pada kekerasan atau kericuhan, padahal makna aslinya sangat jauh dari
itu.
Kenapa Berbahasa itu
Sulit? Bahkan terkadang hanya untuk sekedar Mengungkap sebuah Rasa? Apakah
bahasa yang sulit atau petandanya? Misal Beberapa waktu lalu, telinga saya
sakit. Hal yang paling saya malesin adalah ketika ke dokter dan ditanya, “apa
keluhan kamu? rasanya seperti apa?” Tapi sekali lagi, seluruh rasa itu jarang
bisa saya susun sebagai sebuah bahasa—sebuah ide atau konsep yang ingin
dibicarakan, maka harus melalui tanda atau yang akan kita sebut sebagai bahasa.
Malah tidak jarang mikir, “mending dokter sendiri yang merasakannya, jadi saya
tidak susah-susah menerjemahkan idea dalam bahasa!” Yap! Rasa itu tidak pernah
termanifestasikan dengan baik ke dalam bahasa, dan sering bingung sendiri kalo
mau ke dokter—lebih tepatnya bete sendiri. Bahkan sampai sekarang, saya ngga
bisa menjelaskan rasanya seperti apa. Begitu juga perasaanku kepadamu, dia
tidak akan pernah bisa diungkap dengan bahasa yang paling sederhana. Bahkan
saya butuh nama-nama Erich Fromm, Rumi, Plato, Freud, bahkan nama-nama manusia
tragis seperti Sartre, Schopenhauer, dan Nietzcshe hanya untuk merekonstruksi
perasaanku kepadamu.
Namun, dalam
Dekonstruksi Derrida, yang ada hanyalah penanda—berupa kata. Konsep sebuah kata
itu tidak ada, karena konsep kata atau petanda sebuah penanda adalah penanda.
Maksudnya, sebuah konsep dari kata, ternyata tetap dilengkapi dengan kata lain
atau penanda lain. Karenanyalah, tidak ada satu hal yang bisa diungkap tanpa
kata. Semua hal perlu kata, bahkan rasa sekalipun. Perasaanku padamu, juga
perlu kata untuk mengungkapkannya.
Lantas, kenapa kita bisa
paham dengan suatu bahasa? Bahasa adalah kesepakatan, di mana petanda atau arti
(signifiant) bersifat arbiter atau sewenang-wenang. Makna itu dilahirkan begitu
saja, walaupun pada beberapa kata berbentuk kepanjangan dari sebuah susunan
kata yang lain. Ada seorang teman bertanya perihal: “kenapa kata kenapa itu
harus kenapa?” Sebagaimana Saussure, bahasa itu arbiter, datang begitu saja,
dan kita sepakat akan bahasa itu, itu juga sebab bagaimana kita bisa paham
dengan bahasa. Misal kenapa harus ‘kucing’ untuk menggambarkan hewan berbulu,
berkaki empat, lucu, imut, banyak ras, keluarga felidae dengan kucing besar
lainnya, dll. Masalahnya, struktualisme seakan-akan telah menjadi makna mutlak.
Kita memahami sebuah bahasa, ketika kita sepakat akan petanda yang ada dalam
penanda: kita telah sepakat, kata A, itu memiliki arti (signifiant) BCD—setiap
huruf adalah simbol dari kata, dan kata itu berbeda: putih-hitam, aku-kamu.
“Kritik Dekonstruksi atas
Tradisi Filsafat Tradisional”
Dari pada menyibukkan
diri pada pemaknaan atas “kenapa kata kucing” Derrida lebih mengkritik
ketiadaan konsep petanda. Di mana, pada akhirnya, semua yang ada itu adalah
penanda atau kata, bukan petanda. Sebab, petanda itu juga berbentuk penanda
lain. Dalam konsep oposisi-biner sebuah kata, dibuang oleh Derrida, karena
dirasa adanya subordinasi, ada satu yang menghegemoni yang lain. Kata itu
heirarkis: ada hitam, maka ada putih, dsb. Sementara Derrida memahami, oposisi
itu setara, tidak ada mana yang inferior mana yang superior.
Memulai dari apa itu
dekonstruksi saya kira cukup membuang banyak ruang. Dekonstruksi sendiri
ditawarkan oleh Jaqcues Derrida sebagai ‘pas de methode’. 'Pas' berarti
bukan, dan method adalah langkah. Namun rupanya, ‘pas’ juga memiliki
arti langkah, maka dekonstruksi adalah “bukan langkah sekaligus metode”. Yah,
begitulah Dekonstruksi, membingungkan, bahkan Derrida sendiri mengakui bahwa
dekonstruksi sulit didefinisikan. Ada salah satu narasi yang pernah saya baca,
bahwa ada tiga tulisan yang sulit untuk dipahami, yakni tulisan dari Nietzsche,
Heidegger, dan Derrida. Namun setidaknya dekonstruksi adalah poros yang ‘tertarik,
meminati yang terpinggirkan, yang termarginalkan’.
Apakah pemaparan ini
cukup menguraikan apa itu dekonstruksi? Tentu saja sama sekali tidak.
Sebagaimana juga hermeneutika, dekonstruksi juga tidak memiliki definisi yang
jelas untuk dibicarakan. Coba kalian membaca uraian McQuilan, mungkin akan
lebih kesal lagi; singkatnya, Dekonstruksi akan hadir sebagai nafas baru
setelah kematian logosentris, atau sebenarnya dekonstruksi-lah yang membunuh
logosentris atau struktualisme? Tentu, dekonstruksi lahir sebagai kritik
terhadap tradisi filsafat klasik, yang di mana zaman itu dipandang Derrida
sebagai zaman logosentris (paradigma).
Mungkin kita akan
kehabisan ruang untuk memulai seluruh uraian definitif ini, atau mungkin dalam
khazanahnya de Saussure kita kenal dengan istilah ‘signifiant’, mengungkap
petanda dari masing-masing term membingungkan ini; kita mulai dari
struktualisme dan bahasa. de Saussure memulai kajian ilmiah bahasa dari
metodologi sosiologi Émile Durkheim. Dari sana lahir struktualisme. Itu
sebabnya, mengapa struktualisme akan dipahami secara dikotomis: “dia adalah
pendekatan sosiologi atau lingustik?” Namun, dari sinilah, de Saussure
merumuskan bahasa. Kita telah menyinggung bahasa di tulisan sebelumnya.
Bahasa menurut
struktualisme adalah tanda: bahasa adalah tanda atau gambar dari idea, atau
pikiran. Di dalam bahasa ada kata (penanda) atau signifié. Sementara di dalam
'kata' ada yang namanya ‘makna’ atau petanda (signifiant). Lantas, bagaimana
bahasa terlahir? Bahasa lahir secara arbitrer atau sewenang-wenang. Bahasa atau
istilah yang dikeluarkan dalam bentuk sonor (suara) itu disepakati oleh banyak
orang. Misal kita sepakat dengan kata anjay, anjir, fomo, alay, cucok,
lambreta, atau kita sepakat kata cebong dan kampret dengan membawa ‘signifiant’-nya
atau arti—yang bersifat selubung atau sementara, mungkin kita memahaminya
dengan ‘makna sinkronik’—masing-masing. Itulah bahasa. Apakah ada masalah?
Tentu saja iya! Masalah yang dibicarakan oleh Derrida adalah petanda (arti). Ia
memahami, bahwa petanda itu tidak stabil, petanda itu tidak ada, karena yang
ada hanya penanda (kata).
Lantas, apakah itu
masalah? Masalah lain muncul adalah tradisi heirarkis yang tumbuh dalam era
logosentris tersebut, atau kita akan mengenalnya dengan ‘oposisi biner’.
Oposisi biner adalah sebuah sistem yang mencoba membagi atau mengklasifikasikan
suatu hal. Dalam oposisi biner, ada dikotomi yang bersifat heirarkis.
Maksudnya, ada pihak yang menghegemoni sementara ada pihak lain yang termarginalkan.
Dalam kata, oposisi biner itu akan kita temui dalam sebuah stereotipe:
hitam-putih, laki-laki-perempuan, maskulin-feminim, baik-buruk, dst. Kita coba
bedah, misal hitam-putih, kata putih menghegemoni kata hitam. Hitam akan
dipandang buruk, dan putih adalah baik. Itulah sebuah stereotipe kelas sosial
pada waktu itu. Kemudian adalah laki-perempuan, maskulin-feminim. Kata feminim
dan perempuan menjadi kata untuk menjelaskan siapa laki-laki dan maskulin.
Laki-laki dan maskulin adalah jiwa yang kuat, logis, dsb. Kata-kata yang terpinggirkan
itu, sifatnya hanyalah sebagai penjelas, mereka tidak mendapatkan perhatian
bahkan sebagai sebuah ‘kata’.
Di sinilah dekonstruksi
memainkan perannya sebagai ‘penghancur’ dan penyelamat. Dekonstruksi hadir
bukan hanya untuk mengkritik tesis de Saussure mengenai bahasa, melainkan
Derrida melalui dekonstruksi mencoba mengkritik epitimologi dan paradigma
modern kala itu. Bukan hanya heirarki dalam bahasa, rupanya relasi heirarkis
itu juga tumbuh subur di tengah masyarakat. Diskriminasi sosial pada
kelas-kelas rendah, pada kaum marginal, kaum subornal inilah yang coba
dihancurkan oleh Derrida. Begitu juga teks. Di mana teks bersifat ‘opened’,
yang akan selalu memiliki makna yang baru. Inilah kenapa, dekonstruksi dipahami
sebagai poros yang sangat minat dengan yang terpinggirkan.
Feminis prancis, misal
adalah Simon de Beauvoir telah lama membawa konsep dekonstruksi dengan asumsi
menghancurkan kelas atau oposisi biner yang sangat-sangat merugikan salah satu
pihak (gender). Di mana, di tengah masyarakat kala itu memiliki stigma bias
gender. Anggapan bahwa laki-laki lebih baik, lebih kuat, dsb. Feminisme
sejatinya juga menggunakan asumsi-asumsi dalam dekonstruksi. Kenapa demikian?
Kembali lagi pada apa itu dekonstruksi. Kata kunci paling sederhana untuk
memahami apa itu dekonstruksi adalah “ia—dekonstruksi—meminati yang
terpinggirkan”. Di mana yang pinggir itu ia coba untuk diketengahkan atau
diangkat. Terma-terma yang dianggap tidak penting, hanya ekstras, pelengkap
(prioritas sekunder) ia coba bicarakan. Itulah dekonstruksi yang menghancurkan
'tangga' atau kelas sosial dan bahasa—misal adalah fonosentrisme.
Misal sebagai sebuah
gambaran kecil: coba kamu sekarang pergi ke Youtube, cari channel “The Lazy
Monday”, cari video dengan judul “Jangan Review Berandal Sekolah, Troublemaker
KW 6, gacha beli motor bebek”. Ada salah satu momen di mana Aldo (reviewer)
yang harusnya me-review gamenya dari aspek yang lazim: seperti voice over,
gameplay, cerita (mungkin saya tahu alasan kenapa grafis tidak usah
dibicarakan), dll., alih-alih akan mendengar itu, Aldo akan berkomentar tentang
style dapur yang dimiliki sang karakter. Itulah dekonstruksi. Aspek yang pasti
akan menjadi pembicaraan adalah: gambar, voice over, cerita. Namun kita akan
melihat Aldo TLM me-review kitchen-set dari sebuah setting yang
sama-sekali tidak penting dan tidak berpengaruh pada cerita. Inilah
dekonstruksi.
Kita masuk dalam sesi
akhir tulisan ini. Saya sendiri harus banyak berbicara mengenai gender.
Belakangan ini, ada satu buka yang harus menjadi pegangan saya, yakni “Qirā’ah
Mubādalah ” karya Faqihuddin Abdul Kodir. Qirā’ah Mubādalah sendiri adalah sebuah term yang digunakan untuk
membawa ide mengenai pendekatan interpretatif yang memiliki prinsip resiprokal
(timbal balik/kesalingan), singkatnya dia adalah salah satu dari variasi
pendekatan dalam tafsir. Dalam satu narasi yang saya baca, saya menggaris
bawahi sebuah teks: “kerap kali metode interpretasi dalam berbagai disiplin
keislaman tidak menempatkan perempuan sebagai subjek kerja interpretasi...”; “...ayat-ayat
ini menjadi pondasi, bahwa perempuan adalah subjek teks bersama laki-laki. Di
mana tidak ada lagi penomorsatuan dan penomorduaan, karena keduanya adalah
subjek yang disasar”.
Dari berbagai
asumsi-asumsi yang menyelimuti semangat “mubadalah”, semangat untuk
menempatkan subjek terpinggirkan. Dari situ, maka muncul sebuah pertanyaan:
Berarti, apakah Qirā’ah Mubādalah adalah bagian dari dekonstruksi? Atau lebih
tepatnya, Qirā’ah Mubādalah adalah satu
aplikasi dari dekonstruksi Derrida? Karena, dalam habitus kita, dalam konstruk
kita, dalam oposisi-biner, perempuanlah penanda atau kata yang pasti
terpinggirkan. Dengan ungkapan, “...menempatkan perempuan dalam subjek
interpretasi” maka apakah Qirā’ah Mubādalah adalah Dekonstruksi? Harsunya, jawaban itu
adalah, “IYA”.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar