Dekonstruksi: Dari Kritik Logosentris hingga Gender, Feminisme dan Qirā’ah Mubādalah

 

oleh: Muhammad Fathun Niam

“Bahasa akan Menunjukkan Kesehatan Logika”

Dalam filsafat Islam, manusia akan dikenal sebagai hayawānun nāţiq. Kata nāţiq merujuk pada kemampuan bertutur. Artinya, manusia sebagai hewan yang berbahasa—berbicara. Demikian untuk memisahkan dengan hewan itu sendiri. Sementara dalam filsafat, Logika—logike—atau logos, adalah daya pikir dengan budi yang termanifestasikan dalam bahasa. Logos sendiri adalah legō yang berarti perkataan, dalam teks lain bisa disebut sebagai firman (kalām—ucapan/perkataan). Sebagaimana warta Arthur Aston Luce, bahwa akal pikiran akan berkaitan erat dengan bahasa. Oleh karenanya, bahasa akan disebut sebagai tanda (sign) dari konsep rasio/akal.

Bahasa adalah manifestasi dari konsep akal bersifat idea. Itulah kenapa akal dan bahasa tidak terpisahkan. Bisa jadi, dengan kita melihat bahasa atau cara orang berbicara—di mana dalam pembicaraan itu ada yang namanya bahasa—kita bisa melihat kesehatan logikanya. Misal ada orang, cara bicaranya tidak jelas, dalam artian tidak memiliki s-p-o-k yang jelas, maka logika atau alur berpikirnya tentu saja sudah kacau. Dalam pengetahuan de Sassure misal, bahasa adalah tanda (sign), dan ‘kata’ adalah penanda (signifié), sementara konsep dari sebuah ‘kata’ adalah petanda (signifiant). Misal adalah kata ‘kursi’, kursi itu adalah penanda (signifié), sementara konsep kursi adalah tempat duduk (entah bayangan kita merujuk pada bentuk apa pun, sesuai dengan pengalaman kita). Itulah struktualisme.

Nietzsche, memahami ‘kata’ sebagai gambar atau manifestasi dari sonor (bunyi). Sementara dalam satu pengetahuan lain, kata akan menjadi selubung—walaupun arti selubung adalah penutup, tetapi selubung diartikan oleh A. Setyo Wibowo dengan makna sinkronik. Di mana sebuah kata akan membawa konsep-konsep tertentu. Namun, masalahnya, dalam konsep atau petanda itu akan terjadi pembengkakan (hipertrofi). Maka, sebuah kata akan terasingkan dari maknanya (signifiant): misal kata Anarkisme, radikalisme, ikhlas, dll., yang kerap kali mengalami pembengkakan. Seperti kata ikhlas yang tersimplikasikan dengan makna ‘rela’. Kata anarkis yang bergeser maknanya pada kekerasan atau kericuhan, padahal makna aslinya sangat jauh dari itu.

Kenapa Berbahasa itu Sulit? Bahkan terkadang hanya untuk sekedar Mengungkap sebuah Rasa? Apakah bahasa yang sulit atau petandanya? Misal Beberapa waktu lalu, telinga saya sakit. Hal yang paling saya malesin adalah ketika ke dokter dan ditanya, “apa keluhan kamu? rasanya seperti apa?” Tapi sekali lagi, seluruh rasa itu jarang bisa saya susun sebagai sebuah bahasa—sebuah ide atau konsep yang ingin dibicarakan, maka harus melalui tanda atau yang akan kita sebut sebagai bahasa. Malah tidak jarang mikir, “mending dokter sendiri yang merasakannya, jadi saya tidak susah-susah menerjemahkan idea dalam bahasa!” Yap! Rasa itu tidak pernah termanifestasikan dengan baik ke dalam bahasa, dan sering bingung sendiri kalo mau ke dokter—lebih tepatnya bete sendiri. Bahkan sampai sekarang, saya ngga bisa menjelaskan rasanya seperti apa. Begitu juga perasaanku kepadamu, dia tidak akan pernah bisa diungkap dengan bahasa yang paling sederhana. Bahkan saya butuh nama-nama Erich Fromm, Rumi, Plato, Freud, bahkan nama-nama manusia tragis seperti Sartre, Schopenhauer, dan Nietzcshe hanya untuk merekonstruksi perasaanku kepadamu.

Namun, dalam Dekonstruksi Derrida, yang ada hanyalah penanda—berupa kata. Konsep sebuah kata itu tidak ada, karena konsep kata atau petanda sebuah penanda adalah penanda. Maksudnya, sebuah konsep dari kata, ternyata tetap dilengkapi dengan kata lain atau penanda lain. Karenanyalah, tidak ada satu hal yang bisa diungkap tanpa kata. Semua hal perlu kata, bahkan rasa sekalipun. Perasaanku padamu, juga perlu kata untuk mengungkapkannya.

Lantas, kenapa kita bisa paham dengan suatu bahasa? Bahasa adalah kesepakatan, di mana petanda atau arti (signifiant) bersifat arbiter atau sewenang-wenang. Makna itu dilahirkan begitu saja, walaupun pada beberapa kata berbentuk kepanjangan dari sebuah susunan kata yang lain. Ada seorang teman bertanya perihal: “kenapa kata kenapa itu harus kenapa?” Sebagaimana Saussure, bahasa itu arbiter, datang begitu saja, dan kita sepakat akan bahasa itu, itu juga sebab bagaimana kita bisa paham dengan bahasa. Misal kenapa harus ‘kucing’ untuk menggambarkan hewan berbulu, berkaki empat, lucu, imut, banyak ras, keluarga felidae dengan kucing besar lainnya, dll. Masalahnya, struktualisme seakan-akan telah menjadi makna mutlak. Kita memahami sebuah bahasa, ketika kita sepakat akan petanda yang ada dalam penanda: kita telah sepakat, kata A, itu memiliki arti (signifiant) BCD—setiap huruf adalah simbol dari kata, dan kata itu berbeda: putih-hitam, aku-kamu.

“Kritik Dekonstruksi atas Tradisi Filsafat Tradisional”

Dari pada menyibukkan diri pada pemaknaan atas “kenapa kata kucing” Derrida lebih mengkritik ketiadaan konsep petanda. Di mana, pada akhirnya, semua yang ada itu adalah penanda atau kata, bukan petanda. Sebab, petanda itu juga berbentuk penanda lain. Dalam konsep oposisi-biner sebuah kata, dibuang oleh Derrida, karena dirasa adanya subordinasi, ada satu yang menghegemoni yang lain. Kata itu heirarkis: ada hitam, maka ada putih, dsb. Sementara Derrida memahami, oposisi itu setara, tidak ada mana yang inferior mana yang superior.

Memulai dari apa itu dekonstruksi saya kira cukup membuang banyak ruang. Dekonstruksi sendiri ditawarkan oleh Jaqcues Derrida sebagai ‘pas de methode’. 'Pas' berarti bukan, dan method adalah langkah. Namun rupanya, ‘pas’ juga memiliki arti langkah, maka dekonstruksi adalah “bukan langkah sekaligus metode”. Yah, begitulah Dekonstruksi, membingungkan, bahkan Derrida sendiri mengakui bahwa dekonstruksi sulit didefinisikan. Ada salah satu narasi yang pernah saya baca, bahwa ada tiga tulisan yang sulit untuk dipahami, yakni tulisan dari Nietzsche, Heidegger, dan Derrida. Namun setidaknya dekonstruksi adalah poros yang ‘tertarik, meminati yang terpinggirkan, yang termarginalkan’.

Apakah pemaparan ini cukup menguraikan apa itu dekonstruksi? Tentu saja sama sekali tidak. Sebagaimana juga hermeneutika, dekonstruksi juga tidak memiliki definisi yang jelas untuk dibicarakan. Coba kalian membaca uraian McQuilan, mungkin akan lebih kesal lagi; singkatnya, Dekonstruksi akan hadir sebagai nafas baru setelah kematian logosentris, atau sebenarnya dekonstruksi-lah yang membunuh logosentris atau struktualisme? Tentu, dekonstruksi lahir sebagai kritik terhadap tradisi filsafat klasik, yang di mana zaman itu dipandang Derrida sebagai zaman logosentris (paradigma).

Mungkin kita akan kehabisan ruang untuk memulai seluruh uraian definitif ini, atau mungkin dalam khazanahnya de Saussure kita kenal dengan istilah ‘signifiant’, mengungkap petanda dari masing-masing term membingungkan ini; kita mulai dari struktualisme dan bahasa. de Saussure memulai kajian ilmiah bahasa dari metodologi sosiologi Émile Durkheim. Dari sana lahir struktualisme. Itu sebabnya, mengapa struktualisme akan dipahami secara dikotomis: “dia adalah pendekatan sosiologi atau lingustik?” Namun, dari sinilah, de Saussure merumuskan bahasa. Kita telah menyinggung bahasa di tulisan sebelumnya.

Bahasa menurut struktualisme adalah tanda: bahasa adalah tanda atau gambar dari idea, atau pikiran. Di dalam bahasa ada kata (penanda) atau signifié. Sementara di dalam 'kata' ada yang namanya ‘makna’ atau petanda (signifiant). Lantas, bagaimana bahasa terlahir? Bahasa lahir secara arbitrer atau sewenang-wenang. Bahasa atau istilah yang dikeluarkan dalam bentuk sonor (suara) itu disepakati oleh banyak orang. Misal kita sepakat dengan kata anjay, anjir, fomo, alay, cucok, lambreta, atau kita sepakat kata cebong dan kampret dengan membawa ‘signifiant’-nya atau arti—yang bersifat selubung atau sementara, mungkin kita memahaminya dengan ‘makna sinkronik’—masing-masing. Itulah bahasa. Apakah ada masalah? Tentu saja iya! Masalah yang dibicarakan oleh Derrida adalah petanda (arti). Ia memahami, bahwa petanda itu tidak stabil, petanda itu tidak ada, karena yang ada hanya penanda (kata).

Lantas, apakah itu masalah? Masalah lain muncul adalah tradisi heirarkis yang tumbuh dalam era logosentris tersebut, atau kita akan mengenalnya dengan ‘oposisi biner’. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang mencoba membagi atau mengklasifikasikan suatu hal. Dalam oposisi biner, ada dikotomi yang bersifat heirarkis. Maksudnya, ada pihak yang menghegemoni sementara ada pihak lain yang termarginalkan. Dalam kata, oposisi biner itu akan kita temui dalam sebuah stereotipe: hitam-putih, laki-laki-perempuan, maskulin-feminim, baik-buruk, dst. Kita coba bedah, misal hitam-putih, kata putih menghegemoni kata hitam. Hitam akan dipandang buruk, dan putih adalah baik. Itulah sebuah stereotipe kelas sosial pada waktu itu. Kemudian adalah laki-perempuan, maskulin-feminim. Kata feminim dan perempuan menjadi kata untuk menjelaskan siapa laki-laki dan maskulin. Laki-laki dan maskulin adalah jiwa yang kuat, logis, dsb. Kata-kata yang terpinggirkan itu, sifatnya hanyalah sebagai penjelas, mereka tidak mendapatkan perhatian bahkan sebagai sebuah ‘kata’.

Di sinilah dekonstruksi memainkan perannya sebagai ‘penghancur’ dan penyelamat. Dekonstruksi hadir bukan hanya untuk mengkritik tesis de Saussure mengenai bahasa, melainkan Derrida melalui dekonstruksi mencoba mengkritik epitimologi dan paradigma modern kala itu. Bukan hanya heirarki dalam bahasa, rupanya relasi heirarkis itu juga tumbuh subur di tengah masyarakat. Diskriminasi sosial pada kelas-kelas rendah, pada kaum marginal, kaum subornal inilah yang coba dihancurkan oleh Derrida. Begitu juga teks. Di mana teks bersifat ‘opened’, yang akan selalu memiliki makna yang baru. Inilah kenapa, dekonstruksi dipahami sebagai poros yang sangat minat dengan yang terpinggirkan.

Feminis prancis, misal adalah Simon de Beauvoir telah lama membawa konsep dekonstruksi dengan asumsi menghancurkan kelas atau oposisi biner yang sangat-sangat merugikan salah satu pihak (gender). Di mana, di tengah masyarakat kala itu memiliki stigma bias gender. Anggapan bahwa laki-laki lebih baik, lebih kuat, dsb. Feminisme sejatinya juga menggunakan asumsi-asumsi dalam dekonstruksi. Kenapa demikian? Kembali lagi pada apa itu dekonstruksi. Kata kunci paling sederhana untuk memahami apa itu dekonstruksi adalah “ia—dekonstruksi—meminati yang terpinggirkan”. Di mana yang pinggir itu ia coba untuk diketengahkan atau diangkat. Terma-terma yang dianggap tidak penting, hanya ekstras, pelengkap (prioritas sekunder) ia coba bicarakan. Itulah dekonstruksi yang menghancurkan 'tangga' atau kelas sosial dan bahasa—misal adalah fonosentrisme.

Misal sebagai sebuah gambaran kecil: coba kamu sekarang pergi ke Youtube, cari channel “The Lazy Monday”, cari video dengan judul “Jangan Review Berandal Sekolah, Troublemaker KW 6, gacha beli motor bebek”. Ada salah satu momen di mana Aldo (reviewer) yang harusnya me-review gamenya dari aspek yang lazim: seperti voice over, gameplay, cerita (mungkin saya tahu alasan kenapa grafis tidak usah dibicarakan), dll., alih-alih akan mendengar itu, Aldo akan berkomentar tentang style dapur yang dimiliki sang karakter. Itulah dekonstruksi. Aspek yang pasti akan menjadi pembicaraan adalah: gambar, voice over, cerita. Namun kita akan melihat Aldo TLM me-review kitchen-set dari sebuah setting yang sama-sekali tidak penting dan tidak berpengaruh pada cerita. Inilah dekonstruksi.

Kita masuk dalam sesi akhir tulisan ini. Saya sendiri harus banyak berbicara mengenai gender. Belakangan ini, ada satu buka yang harus menjadi pegangan saya, yakni “Qirā’ah Mubādalah ” karya Faqihuddin Abdul Kodir. Qirā’ah Mubādalah  sendiri adalah sebuah term yang digunakan untuk membawa ide mengenai pendekatan interpretatif yang memiliki prinsip resiprokal (timbal balik/kesalingan), singkatnya dia adalah salah satu dari variasi pendekatan dalam tafsir. Dalam satu narasi yang saya baca, saya menggaris bawahi sebuah teks: “kerap kali metode interpretasi dalam berbagai disiplin keislaman tidak menempatkan perempuan sebagai subjek kerja interpretasi...”; “...ayat-ayat ini menjadi pondasi, bahwa perempuan adalah subjek teks bersama laki-laki. Di mana tidak ada lagi penomorsatuan dan penomorduaan, karena keduanya adalah subjek yang disasar”.

Dari berbagai asumsi-asumsi yang menyelimuti semangat “mubadalah”, semangat untuk menempatkan subjek terpinggirkan. Dari situ, maka muncul sebuah pertanyaan: Berarti, apakah Qirā’ah Mubādalah adalah bagian dari dekonstruksi? Atau lebih tepatnya, Qirā’ah Mubādalah  adalah satu aplikasi dari dekonstruksi Derrida? Karena, dalam habitus kita, dalam konstruk kita, dalam oposisi-biner, perempuanlah penanda atau kata yang pasti terpinggirkan. Dengan ungkapan, “...menempatkan perempuan dalam subjek interpretasi” maka apakah Qirā’ah Mubādalah  adalah Dekonstruksi? Harsunya, jawaban itu adalah, “IYA”.


Komentar