Sebuah Masalah—lain—tentang Banalitas: Realitas-Semiokapitalis
Oleh: Muhammad Fathun Niam
Realitas-Semiokapitalisme, mungkin sebuah term
yang terlalu memaksakan. Namun, dari term tersebut, saya ingin mengajukan
sebuah persepsi banalis kita dalam melihat dunia hari ini. Sejak industri,
mungkin juga sejak manusia mulai untuk bertransaksi dan memisahkan secara
kategoris dengan sebuah kedudukan status tradisionalis, sebuah konstruksi atas strata
di dalam struktur-peran-fungsional komunitas (masyarakat), kita telah menggeser
manusia dari thou (engkau) menjadi sekedar it (benda). Tentu,
saya ingin menegaskan bahwa demikian itu adalah apa yang kita kenal dengan
dunia baru bernama kapitalisme. Dialah yang membawa andil pembentukan segenap
persepsi fungsionalistik kita saat menatap manusia. Artinya, kita tidak lagi
melihat manusia sebagai thou yang liyan, yang unik, yang tak
terjamah, yang artinya kita mengandaikan segenap sejarah (geschichte),
segenap pengalaman hidup (leben) yang membentuk hidup dan dirinya,
melainkan hanya sekedar fungsi, nilai yang akan berperan di tengah setiap ekosistemnya:
rumah, pekerjaan, lingkungan (pertemanan atau yang luas adalah masyarakat
secara umum—luas). Penggeseran inilah yang saya sebut sebagai realitas
semiokapitalisme. Kita tidak lagi melihat manusia sebagai liyan yang
unik, tetapi sebagai benda perkakas yang siap digunakan. Artinya, jika
sembarang perkakas tersebut tak berfungsi, maka kita cukup menyingkirkannya,
menggantikannya dengan yang baru—yang lebih berguna.
Realitas Semiokapitalisme sebenarnya saya
ambil dari dua konsep: capitalist realism Marx Fisher, serta Semiocapitalis
Franco “Bifo” Beradi; Fisher, dalam Capitalist Realism mengajukan satu
gejala persepsi banalitas kita atas kapitalisme. Menurutnya, dunia kita hari
ini, yang telah terlalu panjang dan terlalu lama menelan kapitalisme, telah
menganggap dan meyakini secara luas dan mantap bahwa kapitalisme tidak hanya
menjadi satu-satunya sistem politik dan ekonomi yang pas, yang viable,
tetapi kita bahkan sampai tidak mampu untuk dapat mengandaikan alternatif-alternatif
lain, atau mungkin juga pembanding-kontras pada moda kapitalisme. Sementara, semiocapitalist
sendiri telah menunjukkan bagaimana manusia tidak lagi hanya dieksploitasi
sebagai forced-power atau bahkan aktor permintaan dalam pasar, sebagai
aktor yang menjalankan tugas ‘sang tangan tak terlihat’, tetapi juga telah
menjelma menjadi komoditas itu sendiri. Bahasa, pikiran, bahkan segenap mental
kita telah diperah sebagai komoditas, sembarang barang bernilai jual bagi para
kapitalis. Namun, saya ingin menggeser makna dari dua konsep ini sebagai satu
term untuk menunjukkan gejala persepsionalistik kita—umat manusia kapitalistik—dalam
melihat dunia yang ada di depan kita. Sebagaimana yang telah saya singgung, kita
telah menelan persepsi kapitalistik dalam ruang trancendental-history
yang teramat panjang, yang membiasakan kita akan pandangan kapitalistis, hingga
kita sendiri telah melihat manusia sebagai benda guna, menjadi perkakas,
menjadi barang fungsional ketimbang sebagai manusia. Dan agaknya, persepsi kita
telah melebar. Kapitalisme, tidak hanya membentuk ulang tubuh kita sebagai komoditas,
tetapi membentuk sebuah kacamata kapitalistik baru, sebuah kacamata voverständnis-kapitalistik
yang menuntut kita untuk melihat dunia—sejarah dan manusia—sebagai barang
bernilai.
Untuk membaca masalah persepsi voverständnis-kapitalistik,
saya akan lampirkan dua kasus; Tahun 2025—mungkin—terdapat sebuah kasus
mengenai seorang perempuan yang kehilangan tempat minumnya—sebuah botol tumbler.
Keluhan tersebut ia unggah ke media sosial miliknya. Perempuan itu lalai
menyebabkan ice bag yang menyimpan barangn-barangnya—termasuk botol yang
dimaksud—tertinggal di sebuah gerbong. Singkat cerita, tas tersebut diamankan
petugas, tetapi saat diambil, botol airnya sudah tidak ada. Masalahnya di sini
jelas, ada seorang perempuan yang kehilangan barangnya, berupa botol air minum.
Namun, karena perempuan tersebut mengunggah keluhannya di media sosial, masalahnya
menjadi meluas. Masalah ini membagi orang—yang melihat kasus tersebut—menjadi
dua pandangan. Pertama, orang yang membela perempuan yang kehilangan
barangnya, yang seharusnya KAI, sebagai penyedia pelayanan publik memiliki
andil dalam bertanggung jawab membantu seorang pelanggan. Kedua, orang
yang mengajukan kontras kepada keluhan perempuan tersebut. Saya kira, saya
perlu adil untuk menjelaskan perkaranya. Kontras respons tersebut muncul
disebabkan oleh konsekuensi unggahan si perempuan, berupa pemecatan petugas
yang bersangkutan—yang menerima dan bertanggung jawab menyimpan barang hilang.
Karena pemberitaan tersebut, kontras respons mengarah kepada pernyataan: “Hanya
sebuah tumbler; kalau saya jadi suaminya, saya akan belikan tumbler
yang baru; aku kira harganya jutaan,” sebagai bentuk respons-kritik—saya akan
sederhanakan definisi kritik di sini sebagai kontras—kepada tindakan yang
dilakukan si perempuan: mengunggah masalah kehilangan botol air minum ke media
sosial dan menyebabkan seorang pekerja diberhentikan.
Saya ingin mengajukan sebuah kasus lain. Pada
kasus identik, berupa kehilangan, kasus yang datang lebih awal. Seorang
laki-laki kehilangan satu unit laptop saat ia menggunakan transportasi bus. Ia
juga mengunggah keluhannya ke publik—lewat media sosial. Ia bercerita, bahwa ia
menaiki sebuah bus untuk sebuah perjalanan pulang. Di tasnya terdapat satu
laptop, yang saat dibuka di sebuah tempat makan—tempat pemberhentian
sementara—ia mendapati laptopnya sudah hilang dan tersisa sebuah buku—modus
pencuriannya adalah, pencuri mengambil laptop tersebut dan menggantikannya
dengan sebuah buku atau majalah atau barang yang setidaknya tidak akan membuat
orang curiga jika barangnya sudah diambil. Respons yang muncul—sebenarnya—juga
identik: pertama, mereka yang membela laki-laki dan menyalahkan pihak
penyedia layanan berupa penyedia transportasi, kedua, mungkin mereka
yang menyalahkan inadequecy laki-laki tersebut dalam menjaga barang
bawaannya. Kasus respons pertama, orang memiliki satu keberatan yang
sama, bahwa penyedia layanan seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan,
keamanan penumpang. Namun, jika kita sandingkan dua masalah identik ini,
mengapa respons yang diberikan berbeda? Mungkin kata berbeda adalah keberatan interpretasi-personal
saya, tetapi bukankah seharusnya memang penyedia layanan lah yang memiliki
tanggung jawab profesional untuk masalah ini? Itu, adalah hal yang seharusnya
kita ajukan. Demikian adalah sebuah respons yang seharusnya diajukan, baik
kepada KAI maupun kepada pemilik transportasi terkait, dan sembarang penyedia
layanan.
Pada kasus pertama, saat seorang perempuan
yang kehilangan botol air miliknya melakukan permintaan maaf pada publik,
respons yang datang adalah keberatan pada inadequecy, baik kepada ketidakcakapan
atau ketidakmampuan perempuan tersebut maupun suaminya. Kalimat yang telah saya
singgung di paragraf ketiga adalah komentar yang muncul, bahwa bagaimana bisa
seorang bisa mempermasalahkan sebuah botol air minum, bukankah seharusnya dia
bisa membelinya lagi? Terdapat dua komentar identik yang mengatakan, “Barangmu dapat
ditemukan saja sudah untung, seharusnya kamu bersyukur; hanya sebuah tumbler,
ikhlaskan saja.” Dari dua masalah yang saya ajukan, apakah kita dapat
mengandaikan masalah yang seharusnya menjadi perhatian kita? Masalah utamanya
adalah kehilangan. Sementara, keberatan kita seharusnya pada kecakapan pada
sebuah ekosistem dari sebuah pelayanan publik, pada sebuah lembaga. Namun,
kenapa kontras pada kasus pertama menyalahkan pihak perempuan yang kehilangan tumbler?
Asumsi sederhana saya adalah karena perempuan itu hanya kehilangan tumbler,
bukan sebuah laptop—yang nota bene nilainya lebih tinggi dari sebuah botol seharga
300 ribu rupiah.
Saya ingin mengajukan satu kasus yang direkam
oleh Kafka dalam Metamorphisis-nya; suatu pagi, seorang laki-laki, seorang
tulang punggung keluarga terbangun dan mendapati tubuhnya tak bisa bangun.
Perutnya berbuku-buku. Tangan menjadi lebih tipis, menjijikkan. Dan ia tak bisa
terbangun dari posisi rebahnya. Gregor Samsa telah berubah menjadi seekor
serangga raksasa—Ungeheueres Ungeziefer. The Metamorphosis bukan
sebuah cerita fantasi, atau petualangan fantasi ajaib. Akan tetapi, ia
menceritakan sebuah masalah paling mendasar manusia modern, manusia industrial
kita, fungsionalitas. Gregor adalah satu-satunya anak laki-laki yang dimiliki,
dan satu-satunya orang yang bekerja untuk keluarganya. Gregor-lah yang membuat
kedua orang tuanya dapat makan. Gregor-lah yang membuat Grete dapat tetap
bersekolah, yang tetap cantik, yang mungkin setidaknya bisa hidup tak
menggelandang di jalanan. Namun apa yang terjadi saat mereka tahu Gregor
menjadi serangga besar? Grete, seorang adik, seorang yang seharusnya menyayangi
kakaknya, secara performatif, ia mengatakan, “Kita harus membuang benda ini”;
secara sederhana, Kafka ingin menggambarkan bagaimana kita, manusia, bahkan dalam
relasi keluarga sekalipun telah melihat orang lain sebagai fungsi. Inilah yang
disebut Marcel sebagai dunia yang rusak—broken world. Orang tua Gregor,
mungkin pada akhirnya adalah Grete, tidak dan mungkin memang tidak—pada akhirnya—menatap
Gregor sebagai anak mereka. Mereka hanya menatapnya sebagai mesin uang. Dan saat
mesin itu tak lagi berfungsi, saat Gregor tak lagi dapat bekerja—karena menjadi
serangga yang tak berguna, bahkan harus dirawat—maka saat itulah ia perlu untuk
disingkirkan. Di saat yang sama, Gregor pada akhirnya tidak lagi dilihat
sebagai manusia yang sedang sakit, menderita, tetapi hanya sebagai benda tak
guna yang membebani kita. Demikianlah saat kita melihat manusia dan mungkin
hari ini berupa masalah dalam persepsi nilai-guna, termasuk melihat dua masalah
di atas.
Namun, jika kita mencoba mencandra gejala
kapitalisme, ia tak lagi mengubah hidup manusia, tetapi mengubah pandangan
manusia dalam melihat dan pada akhirnya menghakimi apa yang sedang ia tatap; Jika
kita meminjam sebuah prinsip hermeneutis Gadamer, ia mengandaikan jika
sejarahlah yang memiliki andil dalam pembentukan manusia melalui sejarah-pengaruh
(Wirkungsgeschichte). Ia berangkat dari asumsi yang identik dengan
Heidegger, bahwa manusia senantiasa-niscaya untuk terlempar ke dalam sejarah—faktisitas.
Dalam keterlemparan itulah manusia ada-bersama (mit-sein), ada-di-sana-bersama
(mit-dasein) dengan segenap thou (engkau). Engkau ini adalah
seluruh sejarah: sejarah termasuk dunia, termasuk sembarang benda, sembarang
mental, sembarang zuhandenes ataupun mungkin hanya seutas vorhandenes,
dan sembarang manusia. Keterlemparan dalam sejarah inilah yang membentuk
manusia. Mengapa? Karena keniscayaan manusia adalah bildung (educational).
Kita telah dan niscaya menyerap sejarah, yang dari demikianlah bagaimana
sejarah mempengaruhi kita, membentuk kita. Keniscayaan atas keterlemparan dan ada-bersama
membentuk horizont-horizont. Horizont inilah yang mengonstruksi segenap
cara pandang kita, pra-pemahaman kita—vorverständnis. Maka, bagaimana
jika sejarah kita telah terlalu familier dengan kapitalisme sebagaimana keluhan
Fisher? Dengan sederhana dapat kita katakan, sejarah kapitalistik kita tidak
hanya mengubah rutinitas kita, tidak hanya mengubah tubuh dan pikiran kita
menjadi komoditas, tapi pada ranah lebih dasar, lebih dekat, ia telah mengubah
dengan melakukan pembentukan ulang atas persepsi-persepsi kita, pada cara
pandang kita, pada pra-refleksi kita yang terlalu kapitalistik.
Respons-kontras yang diajukan pada kasus
pertama menjadi satu bukti diagnosis di atas, bahwa demikian itu menunjukkan
satu gejala, bagaimana kita telah melihat dunia di luar kita—termasuk dalam
melihat manusia dan segenap masalah—sebagai—pada ranah—barang bernilai. Dalam
artian lain, kita melihat keluar diri kita dalam persepsi fungsional, persepsi
penilaian alih-alih melihat dunia apa adanya, melihat sejarah apa adanya. Menurut
saya, cara pandang kapitalistik kita pun telah melebar. Kita tidak hanya
melihat fungsionalitas manusia—sebagaimana yang digambarkan Kafka—tetapi, dalam
mencandra sebuah persoalan, penilaian reflektif atau jika saya boleh menuduh
lebih awal, yakni pada taraf pra-reflektif, kita menilai segala sesuatu pada
ranah fungsinya; saat seorang perempuan mengelih botol minumnya hilang, kita
tidak peduli dengan sebuah masalah mendasarnya, “bahwa di KRL, seorang
perempuan kehilangan botol air, sementara bukti awal memperlihatkan botol
tersebut masih ada.” Kita telah menggeser perhatian kita ke masalah value,
bahwa “Itu sekedar tumbler.” Sebuah kontra respons lain mengajukan satu
pertanyaan, “Bagaimana jika yang hilang adalah sebuah laptop seharga 30 juta?”
Maka, saya mengamini pernyataan retoris tersebut, “apakah kita masih memiliki
respons yang sama?” Apakah karena yang hilang bukan laptop, sebagaimana yang terjadi
dalam kasus kedua, maka kita tidak pantas peduli? Maka, mengapa respons “Itu
hanya tumbler; suaminya seharusnya membelikan tumbler yang baru!”
muncul? Saya rasa, karena kita sendiri telah melihat masalah ini dengan
kacamata pra-pemahaman kapitalistik.
Sebuah Kesimpulan yang terlalu Dini
Kapitalisme—yang telah ‘terlalu’ terkosmopolitanisasi—tidak
hanya membentuk ulang manusia: membentuk ulang sebuah rutinitas, membentuk
ulang tubuh dan pikiran menjadi barang-guna bernilai yang dapat ditawarkan,
tetapi seharusnya kita telah memahami, bahwa sejarah-realitas kapitalistik kita
telah membentuk cara kita melihat dunia. Inilah yang saya sebut sebagai Realitas-Semiokapitalisme.
Ia adalah sebuah kondisi, keadaan konsekuentif dari realitas akan realitas-kapitalistik
yang menjadi banal. Namun, banalitas tersebut juga melalui sebuah pembiasaan
episteme wacana, pendidikan, entah dia formal atau pun pada ruang yang lebih
subtil, sebuah keseharian yang terlalu lembut: media, lingkungan, narasi,
kebiasaan, sebuah habitus tak sadar, sebuah cerita motivasi keluarga, telah
membentuk persepsi tunggal akan kapitalisme, serta membentuk seakan bagaimana
seharusnya atau mungkin juga pada ranah taksadar—pra reflektif—sebuah persepsi vorverständnis-kapitalistik,
yang melihat sembarang sebagai sebuah nilai berharga atau tidak.
Komentar
Posting Komentar