Homo Homini Deus: Konstruksi Wacana Kekuasaan yang Menubuh
Oleh: Muhammad Fathun Niam
Tidak ada kekuasaan absolut. Yang ada hanyalah sebuah jaringan kekuasaan
yang terbentang dalam jaringan relasi; faktisitas Heideggerian bukan
hanya sekedar ruang sebagai sejarah (geistichlichkeit), tetapi sebuah
keterkaitan dan keterikatan ‘sesuatu’ akan ‘sesuatu’ yang lain
agar dia bermakna. Artinya, makna ‘sesuatu’ tidak dibentuk oleh dirinya
sendiri, tetapi oleh dirinya dengan sesuatu ‘yang ada bersama dengan si
sesuatu’. Demikian juga dengan kekuasaan. Kekuasaan hari ini tidak dibentuk
oleh dan dalam satu individu, tetapi oleh keterikatan dan keterkaitan antar
individu untuk menciptakan web-of-power (jaring kekuasaan). Artinya,
sebenarnya setiap individu memiliki ketergantungan dengan ‘yang-lain’.
Inilah yang disebut dengan relasi-kuasa (relation-power). Sementara,
relasi ini bukan relasi hierarkis struktural negara—model top-down. Seperti
dalam relasi Foucaultian, relasi kuasa tersebut bahkan ada dalam relasi
pertemanan, ada di mana-mana, hubungan, kita telah terikat. Bukan dalam makna
positif, tetapi makna negatif secara etis. Itulah kenapa, borok kekuasaan
adalah kanker. Untuk mengangkatnya, kita tidak bisa mengangkat satu organ—dalam
fungsional-struktural Radcliffe-Brown, masyarakat adalah organ—tetapi harus
mengangkut sekumpulan organ berpenyakit—kadang yang diangkat adalah sebagian besar
organnya, seperti dokter yang harus mengangkat sepertiga otak untuk mengangkat
tumor.
Kekuasaan adalah sebuah
Fitur Bawaan
Dalam tulisan yang lain saya menulis,[1] bahwa manusia adalah hasil
dari kecelakaan evolusi yang mengalami kecacatan, bukan bentuk sempurna yang
diwartakan para mistikus. Argumentasi teologis menyimpulkan adanya distingsi
yang mendiferensiasi manusia dengan hewan—konsekuensinya juga memisahkan
manusia dari keterikatan evolusioner alam. Mereka berkesimpulan bahwa manusia
diciptakan berbeda, manusia adalah bentuk kesempurnaan. Argumen ini juga saya
kembalikan ke ranah mistisisme yang mengatakan bahwa manusia adalah gambar Tuhan
paling sempurna. Sementara, jika berpijak pada argumentasi evolusioner, manusia
tidak diciptakan terpisah dari alam oleh suatu kekuatan supranatural (Tuhan) di
luar manusiawi. Manusia tercipta dari apa yang disebut Einstein sebagai Der
Alte, yakni dari dunia itu sendiri. Hal ini dapat dibuktikan adanya
materi yang sama antara manusia dan hewan, bahwa kita tersusun dari karbon,
oksigen, hidrogen, dan nitrogen. Lebih rumit lagi, adanya kemiripan anatomis
bahkan pada taraf genetis yang sebenarnya membentuk pola perilaku primal yang
sama. Maka hal ini lebih masuk akal, karena akan memunculkan pertanyaan, “jika
manusia adalah ciptaan Tuhan, bukan hasil turunan evolusif, kenapa ada
kemiripan? Apakah Tuhan adalah scavenger? Manusia adalah makhluk yang
lahir dari percabangan yang rumit, dan kenyataan manusia berkerabat dengan
hewan dan tumbuhan.
Saya perlu pembatasan ketat untuk uraian saya berikutnya: perlu dipahami, pertama,
dalam Order of Things, Foucault membunuh determinasi manusia (the
death of man). Artinya, Foucault memosisikan diri untuk beroposisi dengan
sembarang pandangan deterministik, bahkan semacam evolusi Darwinisme. Pandangan
evolusioner meniscayakan adanya nilai-nilai—yang biologis—esensial-humanis
bahwa manusia-sejatinya adalah—dinotasikan dengan—A. Maka jika ada manusia yang
bukan-A maka dia bukan manusia dan bisa ditulis bukan-A≠A karena dia bukan-A.
Namun—dan ini adalah kedua—saya kira ada argumentasi evolusioner yang
perlu menjadi pertimbangan saya pribadi: saat melihat kelompok hewan, saya
teringat dengan adanya ras-unggul (individu alpha) dalam kelompok hewan. Saya
juga teringat dengan argumen Dawkins yang menunjukkan bagaimana manusia dan
hewan—bahkan tumbuhan—berbagi nenek moyang yang sama dan memiliki perilaku
identik hingga hari ini. Saya curiga, dominasi alpha dalam kingdom
animalia tersebar rata ke semua genus termasuk juga ada dalam genus
homo. Misal struktur primata memiliki hierarki sosial-struktural yang ketat.
Dominasi dari ras dominan memonopoli akses makanan dan pasangan. Secara
spesifik, dominasi menunjukkan adanya ketundukan, ketakutan atas yang lain. Kecurigaan
inilah yang membawa saya, ingin menjelaskan secara runut, bahwa peran
dominan—dalam ranah domestik, institusi, keinginan menguasai—sebenarnya terbawa
dalam genetik kita dan yang menarik adalah, dominasi kekuasaan manusia menjadi
lebih kompleks daripada dominasi melalui kekuatan, tetapi modal (capital).
Seperti yang telah disinggung di atas, manusia adalah produk pembentukan
evolusi—yang cacat—ini dapat dibuktikan dengan adanya kesamaan unsur kimiawi, anatomis,
dan bahkan kesamaan genetik dengan hewan—misal adanya kromosom 2 yang cacat
terdapat arkais kera yang disabled di sana—bahkan dengan tumbuhan. Kemiripan
anatomis—sebagai hasil kerja Huxley—dan kemiripan genetis, bahwa manusia dan
kera sebenarnya memiliki kromosom yang hampir sama: kera memiliki 24 pasang,
artinya memiliki 48 kromosom, sementara manusia hanya 23 pasang atau 46
kromosom. Hal ini terjadi karena ada kecacatan di kromosom nomor 2 untuk genus
homo. Terdapat fused di sana, karena seharusnya kromosomnya terpisah,
tetapi terjadi penggabungan secara head-to-head fusion. Pada kera besar,
kromosom 2 adalah 2a dan 2b. Sementara pada manusia hanya ada satu kromosom,
tetapi menunjukkan adanya penggabungan yang memungkinkan memang seharusnya
terpisah: di mana terdapat 2 telomer tetapi ada 2 sentromer adanya
interstitial telomere sequences. Seakan, dua kromosom—kromosom A dan B
pada kera—menumpuk, di mana telomer A-bawah bertemu dengan telomer
B-atas. Sementara terdapat sentromere yang inactive. Ini lebih masuk
akan untuk menjelaskan manusia terbentuk dari perjalanan evolusi. Mungkin dalam
tulisan saya yang saya cantumkan, kita dapat membayangkannya dengan kasus down-syndrome.
Jadi, Tuhan menciptakan kita dari tanah,
kenapa harus ada rongsokan dari hewan lain? Bahkan adanya unsur yang sama. Jika
kita bersikeras untuk mengajukan narasi Kitab Suci, unsur kimiawi antara
manusia (CHON) berbeda dengan tanah—oksigen, silika, aluminium, dan besi; maka,
mengapa struktur anatomis dan genetikanya hampir mirip? Maka dari itu, saya
kira—dengan mengkhianati Foucault sebentar, dengan meninggalkan idealisme dalam
Order of Things, bahwa manusia disusun oleh wacana bukan biologis,
karena biologi juga konstruksi wacana—gejala manusiawi dapat ditarik kepada
gejala makhluk hidup lain.
Dalam kalimat sederhana, saya hanya ingin mengatakan bahwa manusia dan
hewan tak ada ubahnya. Dalam artian lain, manusia dan hewan memiliki kesamaan,
dan dalam taraf tertentu, kita dapat membuat sebuah hipotesa atas beberapa
gejala, salah satunya: mengapa kita—manusia—memiliki perilaku yang sama dengan
hewan, yaitu dominasi; Kita dapat memahami gejala hewan dalam manusia, demikian
sebaliknya. Dan ini lah yang dikatakan Sagan dan Druyan dalam Shadow of
Forgotten Ancestors, bahwa kita—manusia—membawa warisan arkais nenek moyang
dalam tubuh kita—kesadaran reptilian yang mengontrol kesadaran bertahan hidup,
tulang ekor, usus buntu, penciuman, dan mungkin pada taraf genetik adalah
kromosom kera, dan kesadaran limbik mamalia; pada taraf paling awal, dominasi
sebenarnya sudah muncul pada tataf replikator, dan terjadi pada taraf reptil.
Dominasi ini uang terus kita warisi, entah kita sadar atau tidak, atau pada
taraf lain adalah “apakah kita mau mengakuinya, bahwa dominasi manusia atas
manusia lain, sebenarnya adalah bawaan reptil yang demikian artinya memiliki
perilaku yang sama sekali sama dengan hewan, bagaimana mereka mencari,
mempertahankan teritorialnya, seperti Kaswari.”
Kenapa argumen di atas lebih masuk akal? Katena manusia tidak diciptakan
secara terpisah, tetapi adalah lepasan dari genetic-drift, dalam kata
lain manusia adalah bentuk cacat dari genus proconsul, australopithecus yang
membentuk homo dan berkembang menjadi habilis & erectus dan akhirnya sebagai
sapiens yang membawa kesadaran mereka—termasuk nenek moyang paling tua,
replikator dan para reptilian.
Saya ingin menawarkan satu asumsi, tentu dengan meninggalkan sementara
Foucault—karena menurutnya, pengetahuan sendiri akan selalu menjadi episteme
dan produk wacana yang disampaikan, bukan bicara mengenai kebenaran secara
total dan mutlak, karena “apakah ada?”—dengan beranjak dari kesepakatan atas
asumsi di atas—manusia membawa arkais nenek moyang.
Dalam Dragon of Eden, Sagan
meneruskan kerja MacLean untuk kembali memetakan tiga lapisan otak manusia.
Lapisan paling awal atau dasar manusia—sebagai mantan reptilian—adalah r-complex.
MacLean menjelaskan, bagian inilah yang memuat kesadaran instingual—berburu,
melanggengkan spesies, agresi, termasuk di dalamnya adalah hierarki dominasi
dan teritorial. Namun, Triune Brain yang dipopulerkan MacLean dan
kemudian dipopulerkan kembali oleh Carl Sagan telah dibantah oleh neurosaintis
belakangan. Argumen triune brain tersebut oversimplification,
karena susunan kesadaran neuron tidak sesederhana bertumpuk dan dapat
dipisahkan begitu saja menjadi reptil: yang agresif, limbik: emosi, neokorteks:
penggunaan rasio—vernunft. Pertama, otak manusia berkembang dalam
ruang evolusi, artinya tidak serta-merta ada otak reptil dalam tubuh manusia. Kedua,
otak manusia adalah sebuah jaringan, demikian juga kesadaran manusia: limbik,
reptil, dan neokorteks adalah hasil akumulasi proses otak secara keseluruhan,
seperti reseptor lidah menerima dan bagaimana otak menangkap rasa. Bahwa
sejatinya, seluruh bagian lidah adalah reseptor untuk merasa; namun tetap,
kenyataan akan kembali pada sebuah asumsi, manusia memiliki dorongan dominasi
agresif. Jika kita sepakati dua asumsi di atas: manusia adalah percabangan dari
evolusi selama ini, dan manusia membawa warisan reptilian dari leluhur, maka
tidak ada salahnya mengajukan bahwa ada kesadaran bawaan teritorial
untuk mendominasi yang identik dari manusia dan hewan—identik dalam artian
sama.
Dalam kingdom hewan ada individu alpha sebagai pemimpin atau
individu unggul, misal: dalam kelompok serigala maupun singa. Dalam spesies
singa, mereka akan mencari kelompok sendiri untuk menjadi dominan dalam kelompok
tersebut. Dominan artinya punya akses kepada kelompok untuk melakukan
pendisiplinan. Dalam taraf hewan, moralitas tidak diciptakan, bahkan terdengar
mengerikan sebagaimana singa yang akan menyingkirkan bayi singa hasil dari
singa alpha sebelumnya—maka di sini sedikit memaksa jika dunia itu indah
sebagaimana kata Quraish Shihab, karena sejatinya dunia bergerak dalam ruang
amoral [non-moral] yang tidak dapat dinilai dan cenderung kejam dalam
syarat-syarat kategoris antropomorfistik. Dalam hierarki serigala, pendisiplinan
dilakukan oleh induk mereka. Berbeda dengan lumba-lumba yang hidup berkelompok
dan menciptakan pendisiplinan secara sosial untuk berkembang biak. Maka, secara
sederhana, dominasi adalah bentuk pendisiplinan sebagai fitur bawaan.
Dominasi ras alpha dalam suatu kelompok kingdom animalia,
sebenarnya mencakup bagaimana dominasi manusia atas manusia lain—saya menyebut homo
homini deus—karena manusia sendiri termasuk genus homo dalam kingdom
hewan. Artinya, ras alpha sebenarnya adalah individu dominan dalam
kelompok, dan secara sadar manusia menjalani relasi-kuasa yang mengedepankan
dominasi. Namun, dominasi dalam tubuh manusia jauh lebih kompleks—walaupun
secara dalam pengertian politis hewan juga melakukannya.
Entah bagaimana, tetapi dalam ranah (arena) manusia, dominasi tersebut bukan
habitus (field dan capital) reptilian yang teritorial, tetapi
kategori-kategori yang disusun secara aklmatif itu yang lebih beragam—tidak
hanya kekuatan fisik, tetapi jaringan, kekayaan, arena kekuasaan, bahkan
kepemilikan informasi satu sama lain adalah kapital dominasi yang nanti akan dikelompokkan
oleh Bourdieu dalam tiga kategori utama—ekonomi, budaya, dan sosial.
Kepemilikan informasi yang saya singgung termasuk kapital sosial,
bagaimana seseorang mungkin memiliki informasi rahasia yang dapat
membungkam—dalam taraf ini adalah mengontrol—seseorang: misal seorang manager
yang memiliki bukti korupsi direktur yang membuat manager dapat mengendalikan
direktur. Artinya, relasi-kuasa adalah dominasi dari r-complex yang sama
sekali sama dengan singa, serigala, mungkin jika pun naga ada juga dengan naga.
Pada taraf evolusi—walaupun hewan juga memiliki neokorteks—manusia membawa
kesadaran agresi untuk mendominasi sebagaimana hewan. Dominasi ini terkadang
bersifat fisik—kekuatan: hiss dari keluarga kucing besar atau yang lain. Namun,
manusia dengan sistem bahasanya mampu menciptakan wacana untuk menyembunyikan kesadaran
agresif untuk mendominasi. Dominasi ini menjadi sebuah dominasi simbolik di
mana seseorang mungkin tidak sadar bahwa dia sedang ada di bawah kontrol
seseorang. Sebagaimana yang sedikit disinggung di atas, dengan meminjam
Bourdieu, kekuasaan sendiri adalah sebuah habitus. Kekuasaan tidak di dapatkan
karena kepemilikan satu kapital, tetapi bagaimana seseorang menguasai banyak
kapital: kapital budaya, sosial, simbolik serta arena (field): ketakutan
bukan kekuatan dominasi efisien, ataupun uang. Karena dominasi dibentuk oleh
kekuatan ketakutan, uang, jaringan, dan lain sebagainya, bahkan kepemilikan
data diri orang lain. Inilah yang nanti menghantarkan kita pada bagaimana
kekuasaan modern adalah sebuah jaringan tumor yang mengerikan. Menjadi satu
alasan, kenapa seorang koruptor sulit untuk ditangkap.
Wacana Para Homo:
Kategorisasi Canggih Elitis
Membaca Foucault sebenarnya membaca satu hal: “kategori untuk
pendisiplinan”, artinya, saya meminta pembaca untuk memfokuskan pada
pendisiplinan sebagai gairah Foucault; maksud saya, kegilaan dan sejarah seksualitas
sebenarnya berusaha menunjukkan bagaimana kekuasaan membentuk ‘kategori’
sebagai upaya pendefinisian yang dalam Archeology of Knowledge disebut sebagai
episteme, untuk menyatakan atau lebih tepatnya ‘untuk melakukan
kategorisasi dan memisahkan’ mana yang—ditetapkan oleh kekuasaan sebagai
yang—baik dan mana yang—ditetapkan oleh kekuasaan sebagai yang—buruk.
Dengan demikian, kekuasaan tak perlu menanamkan timah panas kepada oposisi.
Kekuasaan tidak perlu melakukan pendisiplinan melalui sovereign-power tetapi
cukup melalui pendisiplinan itu sendiri. Dan, menarik untuk disoroti, bahwa
kita telah melihat bagaimana produksi ‘nilai-nilai simbolik’
yang terkadang terselip oleh logika kita. Kekuasaan cukup membentuk sembarang
kategorisasi untuk memisahkan subjek S dari subjek-kolektif. Dengan
demikian, subjek-kolektif sudah tahu secara pra-sadar bahwa subjek S
harus dijauhi—konteksnya subjek-kolektif sebenarnya ditipu oleh kekuasaan.
Kategori-kategori ini sama halnya dengan membentuk ciri-ciri untuk
melakukan pemisahan secara dikotomis atau oposisi-biner. Yang jadi masalah,
apakah pemisahan ini adalah intrinsik? Tentu tidak; saya akan menolak Kant
untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai yang dikotakkan dapat menjadi nilai doxic
yang jadi dan seakan natural. Pertama, apakah Kant dapat memastikan apa
yang disebut sebagai imperatif-kategoris sejatinya—sebagai das ding An Sich—adalah
nilai yang intrinsik—deontologis? Atau nilai imperatif-kategoris adalah nilai
yang dilahirkan dari kerja denfinitif untuk membentuk prinsip dan menghukumi
suatu tindakan? Kategori kedua inilah yang dirumuskan Kant. Maka, sejatinya
nilai—yang esensial—tidak ada berdasarkan ketiadaan bukti. Jika pun dipaksakan
secara deduktif, maka alternatifnya adalah melakukan penangguhan dan kerja Kant
adalah pembentukan wacana baru melalui kategorisasi untuk menghukumi objek yang
telah dikotakkan.
Kedua, meminjam istilah Pierre Bourdieu, transendental-history adalah
ruang yang cukup panjang untuk menyusupkan wacana dan membentuknya sebagai doxa
yang natural dan tak perlu seseorang mempertanyakannya lagi, karena “demikian
itu memang demikian.” Foucault melihat, wacana kekuasaan—atau inilah
yang sedang saya perjuangkan untuk menyebut sebagai hasil-pengkategorisasian—ini
disusupkan melalui pendidikan. Pendidikan inilah yang dimaksud épistémè, di mana kekuasaan
membentuk cara pandang-berpikir kolektif untuk mengatakan yang mana yang-normal
dan yang mana yang-abnormal. Cara pandang ini disosialisasikan bukan hanya
melalui pendidikan formal tetapi pendidikan sebagai épistémè itu sendiri, artinya
tidak dibatasi sebagai institusi, tetapi sebagai alat pendidikan: nilai moral
normatif, media masa (koran, acara tv, bahkan kebijakan politik). Pendidikan
ini tidak berlangsung sebentar, tetapi sangat lama (sejarah transenden).
Melalui ruang transendemtal-historis, hasil-pendidikan itu
berubah menjadi doxa yang berkembang sebagai nomos—nilai-nilai
banal. Dan di sinilah kategorisasi menjadi nilai simbolik yang tidak lagi
disadari oleh kolektif.
Jadi, kategori yang oposisi-biner tersebut disisipkan ke dalam tubuh
masyarakat melalui pendidikan dalam waktu yang lama sampai menjadi nomos-doxic.
Namun pertanyaannya, untuk apa? Tentu untuk melanggengkan kekuasaan; wacana diawetkan
melalui épistémè untuk terus menopang kekuasaan rezim; pemisahan nilai sendiri, bertujuan
untuk memisahkan mana yang-seharusnya baik dan buruk. Maka jika buruk, yang
sebenarnya keburukan itu berarti membahayakan kekuasaan, maka siapa yang ada
salam kategori tersebut dibuang. Contoh sederhana adalah Foucault itu sendiri dan
juga Alan Turing. Keduanya adalah seorang sodomite yang di kemudian hari
menyebabkan mereka harus disingkirkan dari subjek-kolektif: Foucault
dipenjara di rumah sakit jiwa oleh ayahnya setwlah mengaku sebagai seorang
homoseks, dan Turing dipaksa untuk tunduk pada moralitas ‘normal’ Inggris.
Bagian ini saya kira akan jelas dengan uraian di bawah perihal l’humanisme.
Terdapat diskusi menarik ketika mencoba membaca gejala intelektual Timur
dan Barat. Kondisi geopolitik Barat membentuk tradisi intelektual mereka yang
jauh dari refleksi estetis dunia Timur yang sangat kental. Sebagai contoh
bagaimana Timur dan Barat masing-masing melihat dan konsekuensinya adalah bagaimana
mereka menggunakan seksualitas: Timur melihat seksualitas sebagai seni (ars
erotica)—kita dapat menemukan seni bercinta dari orang Sanskirt Kamasutra,
Fangzhong Shu dari Tiongkok, bahkan dataran Arab
memiliki kitab mereka sendiri, Fath Al-Izhar, Qurah Al-Uyun dan Al-Raudh al-Atir fi Nuzha al-Khatir. Namun perlu
diperhatikan, Timur juga menggunakan Tuhan sebagai alat pendisiplinan, demikian
juga seks. Sementara Barat menggunakan seksualitas untuk membentuk kategori.
Kategori inilah yang dijadikan identitas untuk menuduh dan
menyingkirkan—kekuasaan memiliki alasan logis melakukan pendisiplinan—seperti
tuduhan sodomite kepada Turing dan Foucault yang menyebabkan mereka
diasingkan dari subjek-kolektif. Menurut Foucault, scientia-sexualis
malah melakukan pemadatan atas manusia yang kompleks. Seksualitas malah
dijadikan alat untuk mengidentifikasi. Di sinilah menurut saya Foucault adalah
seorang humanis. Tuduhan Foucault sebagai humanis sebenarnya juga tidak tepat.
Bahkan dalam pengantar untuk The Order of Things sepertinya cukup
pesimistik untuk menaruh Foucault di rak yang mana; namun, perlu dipahami bahwa
Foucault adalah seorang humanis yang menanggalkan seluruh tuduhan dingin
Cartesian atau bahkan Durkheim dan para evolusioner yang hanya melihat manusia
sebagai fungsi birokratis. Mungkin secara serampangan saya dapat menuduh
Foucault sebagai seorang humanis seperti Nietzsche, Dilthey, Heidegger, bahkan
Derrida.
Perlu catatan untuk bagian ini; humanisme yang saya tuduhkan adalah sikap
penolakan Foucault atas pandangan manusia sebagai organ fungsional yang tidak
memiliki hidup, pilihan, keputusan sebagaimana Durkheim, Radcliffe-Brown bahkan
Platon sendiri sebagai seorang strukturalis-fungsional. Mereka melihat manusia
lahir hanya sebatas fungsi, organ untuk menggerakkan organisme bernama masyarakat.
Durkheim sedikit keji. Dalam struktur masyarakat, pengotakkan masyarakat akan
terus diganti. Maksud saya, hal ini berbeda dengan Frankl yang bahkan melihat
peran manusia yang tak akan pernah bisa diganti. Gabriel Marcel menyebut kita
hidup dalam dunia-rusak, dunia yang tak lagi menghormati manusia yang kompleks,
yang misterius; Nietzsche melalui manusia-melampaui (Übermensch)—saya
lebih prefer menggunakan manusia melampaui ketimbang manusia-unggul yang
terkesan polaritatif dan secara sederhana meliat manusia sebagai oposisi-biner—ingin
mengangkat manusia dari dekadensi untuk dapat askenden dan hidup atas dasar
dirinya sendiri alih-alih mengekor. Dalam Also Sprach Zarathustra,
Nietzsche mengaku mengakui Zarathustra, “Ich liebe die Menchen.” Immoralitas
Nietzschean adalah saat manusia terjebak dalam dikte-dikte sebagai unta para
dewa. Bahkan dalam keadaan terburuk, dikte kadang mendorong orang membunuh
hanya karena tak sesuai dengan kitab sucinya. Maka salah kaprah menyebut
kebebasan Nietzsche merusak manusia karena meniscayakan kekacauan dionisiak,
sebagaimana kata Zarathustra, “Ich liebe die Mensche,” menunjukkan kerja
Nietzsche adalah demi memanusiakan manusia.
Dalam hermeneutika Dilthey, memahami manusia tidak mungkin dengan
mengajukan naturwissenschaften à la Cartesian dan membedah manusia menggunakan Erklären. Kenapa? Dilthey,
Heidegger, bahkan jika bisa menyebut Gadamer memiliki cara pandang yang sama
melihat manusia, yakni manusia yang bergerak: terlempar ke-dalam faktisitas
meniscayakan mit-sein und mit-dasein (ada-bersama dan
ada-di-sana-bersama) dan meniscayakan sebuah tegangan dari
interaksi-dialogis—Gadamer menyebutnya Die Horizontverschmelzung (tegangan
antar horizon)—yang membentuk manusia untuk terus-menerus dalam pembelajaran
tanpa henti (ständige unabgeschlossenheit und bildung). Dengan demikian,
manusia tidak dapat dipadatkan secara stereotipis. Manusia akan selalu ada
dalam kemenjadian-menjadi tanpa henti, tanpa finalitas apa pun. Maka,
dari semuanya, jika kenyataan manusia adalah subjek yang selalu bergerak,
bahkan Nietzsche mengatakan bahwa kebenaran adalah “sesuatu di balik rok wanita,”
yakni der Gründe (dasar) (The Gay Science §4) yang tidak akan bisa
dilihat—karena memang dibentuk untuk tidak memperlihatkan (der Gründe)-nya. Maka yang tersisa
adalah penangguhan (différance) atas kebenaran, termasuk akan wajah asli
dari manusia yang tak akan pernah dapat dibongkar. Bukan karena tidak ada,
tetapi wajah manusia selalu berubah.
Posisi humanis inilah yang ingin saya sematkan untuk Foucault yang tidak
ingin menyimplifikasikan gerak ‘ada’ manusia. Manusia bukan robot yang
memiliki misi yang tertanam dalam benak—inilah maksud noumena, atau
sesuatu di balik fenomena. Yang ada adalah manusia yang kosong belajar—secara
ironis—menyerap—menginternalisasi—wacana kekuasaan. Artinya, saya tidak sedang
menuduh Foucault percaya kepada humanitas-romantis para antroposentris yang
mengatakan bahwa manusia memiliki nilai eensial-intrinsik. Akan tetapi, upaya
Foucault untuk menjaga jarak terhadap manusia yang kompleks.
L’humanism secara sederhana adalah anggapan bahwa manusia membawa noumena,
atau das-ding-an-sich. Kritik Foucault tidak hanya sebatas di sini,
tetapi kategorisasi atas yang-das-ding-an-sich. Jika—dengan mengandaikan
manusia memiliki noumena, yakni dengan mengedepankan humanitas-romantis
para antroposentris bahwa—manusia sejatinya bermoral dan baik maka akan
memunculkan kategorisasi orang yang buruk. Secara praxis, jika asal
manusia—secara enesial-intrinsik—adalah makhluk bermoral, dan jika seorang-A
dia tidak memenuhi premis pertama, maka seorang-A immoral. Kategorisasi inilah
yang membuat kekuasaan dengan mudah menyingkirkan orang atau kelompok karena
mereka tidak sesuai dengan moralitas naturalnya. Maka dalam kasus seorang-A, karena
dia tidak memenuhi kriteria atas mereka yang bermoral, maka dia harus
disingkirkan karena tidak sesuai dengan seharusnya-yang-manusiawi. Sementara
Sarte dalam L’existentialisme Est und Humanism sendiri mengatakan bahwa
eksistensi selalu mendahului esensi. Konsekuensinya, manusia adalah legislator
agungnya. Artinya, Sartre ingin mengatakan bahwa sejatinya manusia tidak ada
kecuali bagaimana manusia membentuk dirinya sendiri untuk ada.
Saya kira, saya perlu kembali melakukan definisi ulang alih-alih menuduh
Foucault sebagai seorang humanis. Masuk akal untuk menempatkan Foucault sebagai
humanis pada taraf yang sama dengan Nietzsche, Heidegger, Dilthey bahkan
Derrida—tentu saya perlu menjelaskan panjang lebar mengenai batasan yang saya
buat sendiri: bahwa Foucault tidak ingin wacana mendikte identitas atau
melabeli tubuh manusia. Seperti dekonstruksi Derridean yang menangguhkan segala
makna—yang diklaim asli. Sementara, humanisme sendiri secara luas sudah
dipahami sebagai pandangan deterministik yang dapat membuang manusia dari
manusia itu sendiri. Foucault menangguhkan kategorisasi atau secara spesifik
adalah labelisasi atas tubuh manusia melalui wacana. Jika manusia secara
biologis—bukti adanya esensi deterministik—adalah baik, maka manusia yang
menunjukkan tindakan yang bukan-baik, maka dia dibedakan, disingkirkan.
Demikian juga dengan uraian panjang saya di awal: jika manusia secara
evolusioner menunjukkan adanya gejala agresif yang membuktikan kenapa adanya
gejala dominasi yang identik dalam kingdom animalia, maka jika
manusia menunjukkan tindakan yang bukan-agresi, maka dia bukan lagi manusia—dengan
meminjam logika formal bahwa A=A hanya jika A=A, maka jika yang ada adalah
bukan-A, maka A≠A. Maka dengan demikian, masuk akal untuk menyebut Foucault
sebagai anti-reduksionis ketimbang humanis—saya akan kelaskan dengan notasi
himpunan di paragraf selanjutnya.
Di sini yang menarik dan saya kira jarang sekali saya dengar dalam diskusi
soal Foucault adalah, dalam Order of Things, bahwa manusia sejatinya
adalah wadah kosong yang dibentuk, diisi, atau seperti iron ingot yang
siap untuk ditempa oleh wacana yang mengelilinginya. Artinya, manusia, beserta
seluruh cara pandangnya, selera seksual sekalipun adalah produk wacana. Jika
meminjam istilah Gadamer, maka apa yang disebut dengan horizont atau
cakrawala-pengetahuan yang dibentuk oleh wirkungsgeschichte adalah sejarah
yang tidak pernah netral-organik. Foucault ingin menegaskan, bahwa sebenarnya,
seluruh lingkungan kita adalah konstruksi wacana kekuasaan yang secara sadar
dibentuk dan pada akhirnya, dalam ruang sejarah yang lama—transendental
historis—menjadi menubuh secara doxic. Kita tidak lagi sadar,
seluruh pengetahuan, persepsi, cara pandang (Weltanschauung), termasuk
selera sembarang seni bahkan seks adalah produk wacana yang menubuh dalam diri
kita melalui pembelajaran tanpa henti.
Menyangkut Foucault dan tuduhan saya perihal sejarah-pengaruh (wirkungsgeschichte),
saya perlu menguraikan satu-satu maksud saya; pertama, horizon
Gadamerian adalah pembelajaran (bildung) melalui kenyataan faktisitas.
Dalam hal ini adalah bagaimana sejarah-pengaruh, yakni faktisitas itu
sendiri—keterlemparan ke dalam dunia—mencemari manusia. Manusia menyerap—dengan
cara menginternalisasi segala nilai dan pengetahuan-pengetahuan—sejarah ke dalam
tubuhnya. Pendidikan ini yang membentuk bagaimana persepsi—voverständnis—manusia itu sendiri
atau lebih jauh lagi kita dibawa oleh Gadamer untuk melihat pembentukan weltanschauung
(pandangan-dunia). Kedua, jika Gadamer melihat pembentukan pengetahuan
adalah interverensi niscaya dari sejarah-pengaruh, maka Foucault membaca bahwa
sejarah sendiri sebenarnya adalah produk dari wacana kekuasaan sebagaimana yang
telah saya uraikan dalam paragraf sebelumnya.
Kekuasaan telah membentuk dan menyusun segala
kategori-kategori—kategorisasi—normalitas melalui pendidikan dalam ruang
sejarah yang lama (transendental-history) hingga menjadi doxa
yang banal. Wacana masuk ke dalam tubuh budaya, sosial, bahkan dalam ruang
lebih mikro yakni melalui pendidikan (bildung) ke dalam tubuh manusia.
Selera makan, selera musik, selera bacaan, bahkan selera seks tidak pernah
murni kecuali sudah dan pasti sudah dicemari oleh wacana kepentingan berupa
kekuasaan. Narasi “banyak anak, banyak rezeki” bukan narasi agamis,
melainkan wacana Orde Lama. Tentu, “orang pintar minum Tolak Angin” atau “orang
pintar bayar pajak” bukan slogan tanpa makna. Slogan itu diciptakan menggunakan
kategori egois: politik, kepentingan kapitalis. Untuk apa? Tentu agar kekuasaannya
langgeng. Seseorang yang tidak terima untuk disebut bodoh, ia akan minum tolak
angin dan membayar pajak. Dengan demikian, kepentingan politik terpenuhi. Maka
kepentingan kapitalis untuk keuntungan sebesar-besarnya terpenuhi.
Kegilaan dan sejarah seksualitas—Foucault sebenarnya
melihat keduanya sebagai objek yang sama: wacana. Keduanya adalah kategorisasi
kekuasaan sebagai upaya pendisiplinan; pertama, kegilaan—sebagai kata
untuk melakukan kategorisasi—tidak secara tulus memberikan perhatian yang manusiawi.
Dalam artian, gila tidak merujuk pada gejala patologis mental seseorang, tetapi
sebagai kata yang memberikan label untuk melakukan pemisahan antara mana yang
tidak berbahaya (yang-normal), dengan mana yang perlu untuk disingkirkan ke
rumah sakit; dalam konteks kebenaran yang saintifik, Era Descartes, gila adalah
kata untuk melakukan kategorisasi yang dituduhkan ke dada manusia esoteris-eksotis.
Siapa mereka? Mereka yang tidak mengedepankan bernalar atau akal budi: mereka
adalah para mistikus delisional—bahkan saat saya sendiri menggunakan istilah ‘mistikus
delisuonal’ adalah sebagai tuduhan untuk mengatakan bahwa ucapan mereka tak
bisa dipercaya. Tujuannya adalah untuk melakukan pemisahan antara saintifik dan
yang delusi.
Mari kita bereksperimen. Kita gunakan logika Foucault untuk melihat wacana
pertengahan yang lebih kelam, ketika sains menjadi sihir dalam gereja-gereja.
Apa yang dituduhkan gereja kepada mereka? Penyihir! Analisis bahasa sebenarnya
menarik. Kenapa ‘penyihir’? Karena penyihir adalah musuh Tuhan, seperti tuduhan
bahwa wanita adalah iblis—saya berani bereksperimen pada taraf lebih jauh:
bagaimana jika penggunakan nama adalah bentuk dominasi seperti penggunaan hewan
ular dalam narasi Adam, kenapa tidak kucing, tikus, atau lemur, atau Pinguin?
Pemilihan suatu term juga dipengaruhi oleh Weltanschauung (pandangan
dunia) suatu peradaban. Kata—sebagai ujud dari bahasa (signe—tanda)—dipilih untuk
digunakan sebagai upaya pendisiplinan; pemilihan hewan Ular dalam cerita Adam
tidak ditentukan secara historis, tetapi kebutuhan psikologis yang dipertimbangkan
dari bagaimana suatu kelompok kolektif suatu peradaban melihat sosok Ular.
Demikian juga pemilihan kata penyihir yang digunakan oleh kekuasaan untuk memberikan
label ke seorang perempuan; pada rentang tahun 1965-66, kekuasaan melakukan
pendisiplinan terhadap kelompok yang dianggap separatis—simpatisan PKI. Kata
PKI tidak dipilih secara sembarangan, melainkan sebagai pertimbangan psikologis
dari sejarah peristiwa G30S/PKI. Melalui normalisasi, kekuasaan membentuk
pandangan dunia kita (Weltanschauung) terhadap kata PKI—bahkan mungkin
kiri. Maka, ketika seseorang dituduh PKI, seseorang yang bahkan tidak membaca
isu komunisme dapat ikut andil sebagai eksekutor pendisiplinan. Semua kasus di
atas adalah bagaimana kekuasaan melakukan pendisiplinan melalui kategorisasi.
Kasus orang gila—der Tolle Mensch—dan penyihir, dan simpatisan PKI,
adalah kata untuk menunjuk dengan jari telunjuk, menuduh, dan memaksa kelompok
kolektif untuk memberikannya sanksi karena telah keluar dari kodrati mereka—sebagai
manusia; saya akan coba jelaskan kritk Foucault perihal humanisme lagi.
Humanisme menuntut manusia memiliki nilai-nilai
natural sebagai nilai bawaan, bahwa sejatinya-manusia adalah:
baik, bermoral, berakal. Misal melihat Rutger Bregmen, bahwa manusia sejatinya
berkelompok dan hidup dalam ruang altruis: saling tolong menolong. Maka, jika
ada manusia yang bekerja secara individual, mereka akan mendapat sanksi:
cemoohan. Demikian juga jika manusia bertindak mengkhianati nilai-nilai bawaan:
berbuat imoral, gila (dianggap tidak berakal) adalah bukan manusia. Inilah
upaya pendisiplinan; jika manusia dan manusia-waras harus bermoral dan bernalar
sebagai premis A, secara silogisme premis B mengatakan “subjek-A mengatakan
segala sesuatu dari Tuhan—bahwa Tuhan adalah mitos”, maka subjek-A bukan
manusia yang waras. Apakah bisa didengar? Kata kekuasaan, “jangan dengar dia!” Untuk
memperjelas kategorisasi dan ekslusi, saya mencoba menulisnya dalam bentuk
notasi logika himpunan. Jika kota asumsikan manusia sebagai himpunan M,
dan X menunjukkan notasi nilai-deterministik humanis yang dikritik
Foucault, bahwa manusia membawa nilai-nilai bawaan serta Y sebagai
simbol untuk mewakili yang bukan-X (abnormal), maka di dapati logika
berikut:
Premis Wacana Humanis akan menunjukkan, M ≡ X, (himpunan manusia [M] ekuivalen dengan nilai-deterministik
humanis [X]). Maka, konsekuensinya adalah, jika subjek S memiliki
atribut Y dan dapat ditulis dengan S ∈ Y, di mana Y adalah negasi dari X, yakni bukan-X,
maka subjek S otomatis gugur sebagai anggota dari himpunan M, maka
S bukan anggota dari M, yang dapat disimbolkan S ∉ M, bahwa subjek (S) bukan manusia (M). Pembacaan
logis ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana logika Wacana kekuasaan bekerja
dengan melakukan kategorisasi, yakni membentuk sebuah himpunan kategori
yang-normal dan yang-abnormal. Kekuasaan kemudian menggunakan kategori antara X
dan Y untuk menilai setiap subjek S. Mereka yang memiliki atribut
X, maka mereka adalah manusia sementara subjek S dengan atribut Y
dikategorisasikan sebagai yang-bukan-manusia. Lantas, apa konsekuensinya? Penyingkiran.
Kekuasaan menggunakannya untuk membungkam dan menarik S yang
dikategorisasikan memiliki atribut Y dari masyarakat.
S ∈ Y ⇒ S ∉ M
Di Indonesia, tahun 2023, Husein Ali Rafsanjani melaporkan adanya dugaan pungutan liar untuk kegiatan
LATSAR. Yang menjadi masalah adalah, munculnya intimidasi kepada Husein Ali.
Yang menjadi sorotan saya di sini adalah pernyataan yang diberikan oleh oknum
kepala, “dia saja tidak lulus psiko-tes.” pernyataan itu disampaikan,
tentu untuk menggeser argumentasi dan kesaksian Husein. Pernyataan “dia (Husein)
saja tidak lulus psiko-tes” adalah upaya mengategorisasikan Husein sebagai
yang-bukan-himpunan Manusia. Jika ingin
ditulis dalam notasi himpunan di atas, subjek Husein dikategorisasikan memiliki
atribut Y karena subjek yang disebut manusia jika hanya ekuivalen dengan
atribut X: berakal. “Tidak lulus psiko-tes” artinya menegasikan atribut
X dari subjek Husein. Dengan demikian, kekuasaan ingin mengatakan bahwa
subjek Husein memiliki atribut Y, maka subjek Husein bukan
bagian dari himpunan manusia. Lantas, sekali lagi, apa tujuannya? Kekuasaan
ingin membatalkan kesaksian Husein dengan cara melakukan pengategoriaasian dia
sebagai yang-bukan manusia, maka pendapat dan kesaksiannya tidak sah.
Kegilaan bukan lagi berbicara gejala patologis, tetapi wacana potilis untuk
mempertahankan kekuasaan dengan membentuk kategori-kategori. Foucault dalam Madness
and Civilization mengaitkan bagaimana kegilaan menjadi oposisi untuk
melakukan identifikasi. Apa yang saya sebutkan, upaya ‘identifikasi’ dan
oposisi adalah membentuk kategori untuk melakukan definisi. Foucault ingin
menegaskan, pendefinisian ini bukan karena nilai deontologis atau karena
yang-demikian itu intrinsik, tetapi itu semua dibentuk secara
aklamatif-konstruktif. Dati sini kita tahu, Foucault tidak sedang berbicara
mengenai kegilaan (unreason) tetapi mengenai ‘pemantapan’. Inilah yang disebut
Nietzsche sebagai ideé fixe, yakni sebuah kata netral yang makna konotatifnya dikonstruksi dan
disepakati. Untuk melakukan identifikasi, maka butuh oposisi. Sebagaimana untuk
menjelaskan signifie, kita malah memerlukan signifie yang lain untuk bentuk signifiant
dari signifie. Dalam rentang waktu sejarah, kegilaan telah bergeser dan hari ini ke arah
yang dipahami secara konvensional, yakni gejala mental, tetapi kasusnya sama,
pendisiplinan. Demikian juga dengan seksualitas. Concern Foucault adalah
bagaimana seksualitas dijadikan sebagai lahan mencari kebenaran, mencari tubuh.
Alih-alih melihat seks seperti di atas saya menyebut ars erotica, Barat menjadikan
seks sebagai scientia sexualis. Tujuannya? Sebagai pendisiplinan,
sebagaimana kasus Focault sendiri dan Turing. Semua itu menjadi lebel yang
ditancapkan ke dada manusia, dan orang lain—subjek-kolektif—melihatnya sebagai
apa yang diinginkan kekuasaan: karena subjek Foucault memiliki atribut Y,
maka subjek Foucault ∉ M (Foucault bukan bagian dari himpunan manusia (M),
maka kekuasaan berhak menyingkirkannya dari masyarakat.
Apa yang Saya Sebut: Jaring-Kekuasaan
Homo homini Deus (Manusia adalah Tuhan bagi manusia lain)—kekuasaan tidak lahir secara
struktural rigor di tubuh pemerintahan, tetapi secara subtil ada dalam
teks—jejaring—yang lebih fleksibel antar manusia; memahami bagian ini cukup
mudah melihat kategorisasi Bourdieu atas kapital. Kapital membentuk hierarki
kekuasaan, dan relasi-kuasa terbentuk. Sementara kekuasaan bukanlah sebuah
kekuasaan absolut, melainkan menyebar dan menjadi sebuah jejaring yang saling
mengikat.
Apa yang disebut The Web of Power—Menurut saya, kekuasaan
modern tidak lagi absolut semacam raja-rakyat. Kekuasaan raja adalah absolut.
Artinya, tidak ada yang mengatur dan dapat mengatur raja kecuali raja itu
sendiri. Tentu hal ini akan bentuk reduksionisasi saya atas kompleksitas kekuasaan
dalam sistem raja. Akan tetapi, sebagai kenyataan, kekuasaan raja tetap absolut
walaupun keputusannya dapat dikontrol. Saya akan coba bandingkan dengan
bagaimana kekuasaan modern ini semacam jaringan yang saling terikat-mengikat. Inilah
kenapa, presiden Prabowo tidak dapat seenaknya membersihkan para koruptor,
karena Prabowo berhutang kepada mereka. Demikian juga dengan masalah mantan
presiden RI ke-7, Jokowi. Ketiadaan pengadilan atas Jokowi adalah gambar paling
jelas jaring-kekuasaan: keduanya saling balas budi. Atau dalam kasus lain,
seorang koruptor tidak bisa dijebloskan ke dalam penjara karena hakim juga
terlibat. Menggeret koruptor ke dalam bui sama saja memenggal kepala si hakim. Keterikatan
ini bukan tidak membawa konsekuensi, karena kegagalan satu organ, akan
berpengaruh secara domino pada organ lain; jaringan kekuasaan ini akan coba
saya jelaskan dengan runut dengan meminjam Heidegger untuk membaca bagaimana
jaringan itu membentuk makna, dan dalam konteks sosiologi artinya jaringan
membentuk kekuasaan yang sangat terikat. Dan keterikatan itu saya bawa dalam
contoh Radcliffe-Brown dalam melihat masyarakat sebagai organisme: bagaimana
jaringan ini merusak organ. Ibarat organ terkena kanker, maka solusinya harus
mengangkat seluruh organ yang terdampak. Dan ini adalah solusi untuk presiden.
Menurut saya, bentuk kekuasaan modern bukan lagi kekuasaan absolut tetapi
berbentuk seperti jaring kekuasaan yang saling mengikat. Implikasinya, jika
terjadi kerusakan atau tumor, penyakitnya tidak dapat diangkat sendirian,
tetapi harus memotong bagian yang cukup besar. Kekuasaan jaring-kekuasaan bersifat
domino. Ketika terjadi misal korupsi, kejahatan korupsi biasanya tidak dibangun
oleh satu orang, tetapi sistematis. Inilah kenapa, kekuasaan modern terikat dan
mengikat juga berimplikasi kepada ketergantungan untuk tidak bisa dipidanakan.
Bukan karena tidak bisa secara hukum, tetapi pelaku kejahatan saling memegang
senjata yang mampu menjebloskan setiap organ ke penjara; kekuasaan model
semacam ini dapat dibaca menggunakan hermeneutika Heidegger. Bukan untuk
membaca makna, tetapi untuk membongkar sifatnya. Hermeneutika Heidegger
berangkat dari filsafat eksistensialismenya, bahwa keniscayaan Dasein adalah
terlempar-ke-dalam faktisitas (dunia). Keterlemparan ini, meninscayakan Dasein
ada-bersama (mit-sein) atau ada-di-sana-bersama (mit-dasein). Heidegger
berupaya mengeluarkan makna dengan cara bagaimana subjek memaknai dirinya
sendiri. Sementara makna, selalu terikat dengan kenyataan-faktisnya. Seperti
‘gunting’ yang dimaknai gunting karena dia ada dalam jaringan atau meminjam
istilah semantik adalah medan-semantik dari kata gunting. Dalam kasus
kata jannāh (surga), memiliki signifiant sebagai surga hanya ketika medannya menunjuk
konsep surga: al-anhār, khalidina fī hā, dll. Sementara jika
dikelilingi kata sabā, maka jannāh hanya memahamkan arti
kebun. Seperti Dasein, jaring-kekuasaan dibentuk dalam jaringan yang
saling mengikat dalam tubuh relasi.
Saya ingin menjelaskan maksud jaring-kekuasaan melalui bagaimana
konsekuensi dari kekuasaan yang dibangun oleh dan dalamn keterikatan relasional.
Konsekuensi dari jaring-kekuasaan adalah menyulitkan keadilan untuk memberantas
korupsi—kejahatan. Kenapa demikian? Meminjam istilah struktural-fungsional dari
Radcliffe-Brown dengan menggambarkan keterikatan jaring-kekuasaan seperti
jaringan masyarakat sebagai jaringan antar organ, adanya keterikatan semacam
ini membuat penyebaran penyakit—corruption—sulit diidentifikasi. Yang
ingin saya tegaskan adalah, kekuasaan dibentuk dalam sebuah relasi yang saling
mengikat dan menciptakan ketergantungan. Jika satu organ ditangkap, maka
seperti prosedur pengangkatan tumor, seluruh jaringan bermasalah, yakni organ—yang
berpenyakit—harus ikut diangkat. Ini menjelaskan, kenapa sebenarnya presiden,
yang dianggap memiliki otoritas tertinggi tetap tidak mampu menanggulangi permasalahan
yang ada: korupsi, tambang ilegal, nepotisme, kolusi, dll, karena antara
presiden dengan pelaku memiliki hubungan timbal-balik yang mengikat. Jika
presiden mencabut izin, atau memenjarakannya, maka hal itu langsung berdampak
pada posisi subjek Presiden. Jadi, kekuasaan sendiri, sebenarnya semacam
penjara sosial antara subjek A, B, C,… dan sampai n,
yang seakan mereka memiliki kartu A yang menyelamatkan mereka dari hukum itu
sendiri.
Di sinilah ketika manusia, telah menjadi Tuhan bagi manusia lain (homo homini
Deus). Bukan dalam artian, bahwa manusia mengasihi seperti Tuhan Abrahamik,
tetapi manusia adalah pencipta moralitas itu sendiri. Manusia memetakan seluruh
nilai dalam petak-petak kategorisasi untuk saling menekan, menguasai, dan
mendominasi. Tidak heran jika presiden, kepala daerah, polisi, kalah dengan pemegang
kekuasaan ekonomi dan massa. Mereka tak berkutik, karena nyawa mereka sendiri
ada di tangan siapa yang menolong mereka. Seperti sebuah kasus, “kenapa seorang
presiden dapat meraih suara banyak?” Bukan karena dia baik, tapi terkadang
karena permainan politis, di mana kepala daerah memiliki hutang kepada sang
presiden. Masalahnya, bagaimana jika tidak hanya satu kepala daerah? Bagaimana
jika banyak? Dan tidak mengherankan kenapa seorang presiden harus bagi-bagi kue
jabatan. Sang Presiden punya hutang kepada partai. Bukan uang, tapi suara.
Itulah, manusia mengekang manusia lain bak Tuhan dalam sebuah jaring-kekuasaan.
Kekuasaan yang rumit itu, ingin dilanggengkan. Dan para Tuhan, menciptakan
kebenaran mereka dalam kategori-kategori. Kasus saya sendiri; siapa yang peduli
dengan mahasiswa gendut S2 saat bicara mengenai Bourdieu, Nietzsche dan de
Saussure? Siapa yang peduli dengan mahasiswa S2 Tafsir bicara perihal
falsifikasi Poper? Tidak ada sampai audiensi saya sendirri mendengar narasi
yang sama dari dosen. Kebenaran di sini ditentukan oleh kekuasaan, bahwa
dominasi menentukan kebenaran ituu sendiri—ironisnya juga dalam taraf kolektif
sendiri.
2023, laporan ini tak pernah tertulis dan saya tidak sempat untuk
mencatatnya; seorang anak kiyai mencalonkan dirinya sebagai anggota legislatif.
Ia menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan akses: menarik santrinya secara gratis
sebagai pembantu dan buzzer non-profesional—tidak dibayar. Dalam kasus
saya, saya tidak pernah berdiskusi kecuali namansaya sudah muncul sebagai orang
yang punya tanggung jawab merapikan dokumen calon ini. Dalam sebuah rapat, saya
bersaksi dengan mata saya dan telinga saya sendiri, melalui saluran telefon,
seorang kiyai lain secara performatif mengatakan, “saya akan menyuruh seluruh
santri saya memilih panjenengan.” kenapa bisa? Mereka memiliki kapital
budaya dan sosial, serta memiliki field, maka mereka dapat menggerakkan
siapa yang ada di bawah mereka tanpa memperhitungkan pertimbangan setiap
individu secara humanistik.
Inilah yang saya sebut, manusia adalah Tuhan bagi manusia lain (homo
homini Deus). Wacana adalah pembentukan kategori-kategori sebagai label
identitas yang siap ditempel sebagai pendisiplinan. Pendisiplinan? Mungkin
terlalu lembut, karena label itu adalah pelucutan otoritas ketuhanan kita—yang
memungkinkan membawa argumen. Kita dipaksa menyingkir. Kategori ini disebarkan
melalui pendidikan dan budaya untuk membentuk episteme. Dan, selera—horizont—kita
adalah produk wacana kekuasaan.
Sebuah Kesimpulan
Foucault berupaya untuk membongkar bagaimana sebuah kekuasaan berupaya
melanggengkan dirinya, yakni: melalui pembentukan kategorisasi yang bertujuan
untuk memetakan dan mengidentifikasi setiap subjek. Tujuannya adalah untuk
melakukan pendisiplinan. Inilah yang disebut dengan wacana.
Dalam kasus dominasi, memang Foucault menolak humanisme yang deterministik,
maka dia disebut sebagai anti-reduksionis, walaupun rupanya Foucault akan
mengakui adanya nilai-nilai yang terbawa di ujung hidupnya. Namun, saya melihat
dalam rentang evolusi, sebenarnya kesadaran dominan adalah bawaan. Kita sedari
awal memiliki kecenderungan untuk melakukan dominasi. Maka masuk akal, kenapa
dalam setiap relasi terdapat relasi kuasa, karena secara biologis kita
sama-sama hewan yang memiliki fitur yang sama. Dominan di sini adalah
kecenderungan menguasai. Namun melalui Bourdieu kita dapat melihat bahwa modal
dominasi kita tidak hanya kekuatan—intimidasi—tetapi juga uang, relasi,
otoritas weberian (apakah karismatik, tradisional, maupun legal-rasional), dll.
Dan saya kira, setiap individu memilikinya, walaupun dalam realisasinya gagal.
Menurut saya, kekuasaan modern sendiri berbentuk jaringan yang saling
mengikat. Seperti sebuah jaring makna Heideggerian ataupun dalam medan semantik.
Namun dalam taraf ini adalah relasi kuasa itu adalah ikatan yang saling menarik
dan saling mengancam. Keselamatan setiap organ ada di tangan rekan-oposisi
mereka—ya, mereka rekan sekaligus oposisi. Tidak heran, cara membuang yang
membahayakan dengan membuka kartu As. Ini akan menjelaskan kenapa kekuasaan
tidak serta-merta dapat memberantas kejahatan—corruption.
[1] Walaupun tulisan ini bernuansan fiksional, tapi saya kira dapat
menjadi pertimbangan untuk mengasumsikan bahwa manusia lahir sebagai sebuah
kecacatan genetis. Cacat di sini, dalam artian eror secara kolektif. Jika suatu
genus dan spesies memiliki kromosom sekumlah—dengan kode—XX, maka dia dikatakan
normal. Maka, jika dalam kasus australopithecus maupun homo, mengalami sebuah
kerusakan di kromosom dua, dan menjadikannya hanya memiliki jumlah
kromosom—dengan dikodekan—XY—sebagai sebuah kecacatan—maka kasus
australopitechus dan homo dikatakan cacat. Lihat, Fathun Niam, https://medium.com/@tigerstrom123/mitos-homo-gigantus-7abf0491101f.
Komentar
Posting Komentar