Nihilisme sebagai Jalan Mencari Kebenaran dan Menuju Eksistensi

oleh: Muhammad Fathun Niam

Apakah kita perlu berpikir dan memetakan ulang bagaimana seharusnya moral-sejati itu? Apakah etika-sebenarnya didasarkan pada anggapan deontologis yang seharusnya demikian? Atau didasari oleh harapan-harapan pragmatis, seperti kebajikan 'à la' Aristotelian, utilitarian 'à la' Mill, atau kontrak sosial yang diharapkan Rousseau? Atau, sejatinya etika itu tidak ada, dan konsekuensinya hanyalah tanggung jawab seperti halusinasi Sartre dan Simon?

Etika menjadi sebuah pertanyaan yang mungkin akan berakhir seperti yang lain, tidak memiliki jawaban pastinya—kita dapat menghabiskan waktu hanya berdebat untuk saling mati-matian membela keyakinan kita masing-masing. Etika, akan berakhir sebagai nilai-nilai konstruksi sosial, tidak lebih dari kontrak-kontrak sosial konvensional yang lambat laun, secara transendental historis menjadi nomos, menjadi doxa yang seakan natural. Apakah sembarang tindakan memiliki nilai-nilai? yang jelas, sejak awal etika mendapatkan perhatiannya. Mulai dari Sokrates—yang mungkin dianggap era dekadensi semangat berfilsafat dengan membandingkannya dengan kerja filsafat yang lebih awal seperti Thales, Anaximandros, Pitagoras, Heraklitos, bahkan Leukippus dan Demokritus yang tertarik oleh alam— dan tentu Aristoteles dengan etika kebajikannya, mungkin belakangan dengan Levinas dll.

Namun, saya belum ingin berbicara tentang filsafat pra-sokratik dengan pasca-sokratik, ataupun mengenai etika filosofis yang lebih dalam. Saya juga tidak ingin mencoba masuk dalam meta-etika, meskipun tulisan ini akan diselimuti olehnya. Namun dari pertanyaan asumtif mengenai etika hanyalah bentuk konstruksi sosial, saya ingin memulai dengan suatu pertanyaan-imajinatif. "Bagaimana ketika moral-sejati sudah tidak ada?" “Apalah artinya sebelumnya pernah ada?” Kita andaikan, bagaimana jika pegangan-pegangan kita selama ini, sebagai sumber dan panduan sekaligus pemandu moral kita hilang begitu saja? Apakah tanggung jawab adalah jawabannya?

Menjadi Dionisian

Nihilisme lahir sebagai satu reaksi spontan ketika manusia kehilangan pegangan-pegangan itu. Bagaikan manusia yang sedang berjalan dalam sebuah labirin gua yang gelap. Namun, kita tetap mampu menentukan arah, menentukan sembarang-nilai dengan selalu diterangi oleh lampu-lampu pijar lawas yang tertempel di dinding-dinding gua, dan setumpuk buku petunjuk, membimbing kita untuk ke mana dan bagaimana manusia seharusnya. Dengan cahaya dari lampu dan buku petunjuk, manusia dapat menentukan arah hidupnya. Hingga jika suatu hari, lampu-lampu itu tiba-tiba mati dibarengi dengan buku-buku petunjuk yang terbakar. Di saat itulah, manusia kehilangan arah. Si Manusia mulai kebingungan, dia lupa dari mana dia dan mau ke mana dia. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tidak ada lagi 'tanda' (signe), tidak ada lagi petunjuk—mengenai, “apa yang harus dan akan harus ‘aku’ lakukan. Di mana? Ke mana? Bagaimana?” Di saat itulah, manusia jatuh dalam nihilisme yang spontan.

Nihilisme, saya kira bukan gambar ketiadaan-kebenaran, kemudian masuk dalam ruang relativisme-perspektifis seperti tuduhan selama ini, artinya tidak ada lagi jawaban, tidak ada lagi kebenaran. Mereka menganggap, nihilisme telah melucuti kebenaran dari tempatnya, dan melemparkan manusia pada kebingungan dari ketiadaan kebenaran. Mereka menganggap, menyamakan nihilisme sebagai sofis-baru yang tidak peduli dengan kebenaran, kecuali pragmatisme dan keuntungan bagi mereka; nihilisme (bukan sebagai isme) adalah reaksi dari keterlemparan ke dalam hidup faktis manusia sebab hilangnya pegangan (Causa Sui): seorang pemuda, hidup 20 tahun sebagai muslim dan di umur 25 memutuskan untuk keluar dari sembarang-beragama, apa yang terjadi?

Hidup dalam totalitarianisme, sebagai manusia yang berpegangan erat pada dikte-dikte agamanya (ismenya), tentu akan melucuti sensitivitas kritisnya. Dikte-dikte teologis (apa pun ismenya, bahkan kepercayaan pada Glauben an den Unglauben) itu akan membiasakan manusia menjadi manusia yang selalu berketergantungan. Doktrin dogmatis akan menuntut setiap penganutnya untuk menerima apa adanya secara doxic. Tanpa pertanyaan, tanpa keraguan. Bagaimana jika dia lepas dari 'sesuatu' itu? Tentu, dia akan kebingungan. Dia mengalami dilematika moral, antara seorang theis dan atheis. Di sisi lain, sembarang nilai, sembarang moral agama tidak lagi berlaku baginya, tetapi dia melihat agama cukup masuk akal. Nihilisme, tidak hanya lahir dalam satu bentuk sebagai kebingungan, atau saya menyebut di atas sebagai nihilisme spontan, namun ia juga lahir dalam bentuk optimisnya.

Jika Si Manusia dalam labirin itu memutuskan untuk diam, atau berlari tak tentu arah, dia telah terlempar dalam nihilisme pasif—secara spontan, nihilisme pasif menjadi reaksi spontan. Maka, bukan kematian yang menjadi jalan keluar dari absurditasnya, melainkan adalah bentuk optimisnya. Si Manusia, harus menyalakan apinya sendiri, dia juga harus dengan berani mengambil keputusan dan membuat petunjuk perihal “apa yang akan dan harus ku lakukan.” Dia tidak lagi membutuhkan lampu pijarnya, karena dia telah memiliki cahayanya sendiri. Dia tidak memerlukan buku petunjuk, karena dia mampu memutuskan nilai hidupnya sendiri; moralitas tuan, akan melahirkan moralitas individu yang kuat, bukan lagi ketergantungan dengan konstruksi-konstruksi sosial yang terkadang dehumanis. “..Tidak perlukah kita menyalakan lentera-lentera sejak pagi?” (Nietzsche, Die Fröliche Wissenschaft: aforisme 125)

Itu artinya, manusia menyisakan tanggung jawab pasca-matinya lampu-lampu pijar penerang jalan, dan seluruh petunjuk-petunjuk. Seperti Sartre. Ketika Tuhan tidak lagi dan memang tidak ada, maka manusia menyadari dirinya telah dikutuk untuk bebas. Tidak ada lagi nilai, tidak ada lagi makna dan tujuan, tidak ada petunjuk mengenai bagaimana si Manusia harus berbuat, ke mana si Manusia harus menuju, bahkan juga untuk apa. Keterkutukan si Manusia untuk bebas, pada akhirnya akan menyisakan dalam diri manusia sebuah tanggung jawab. Artinya, ketika manusia melakukan sesuatu, dia harus berani menghadapi konsekuensinya, bukan menangis, memohon ampun, meminta belas kasihan. Tetapi si Manusia harus dengan penuh keberanian menerima konsekuensi perbuatannya.

Huis Clos (No Exit), sebuah naskah drama satu babak karya Jean-Paul Sartre yang dipentaskan pertama kali tahun 1944 di Théâtre du Vieux-Colombier. Dalam beberapa cetakannya, naskah ini diberi judul dari frase yang terkenal, “L’enfer, c’est les autres.” Novel ini menceritakan mengenai tiga orang yang tidak saling kenal harus hidup selamanya dalam keberulangan terus-menerus dalam neraka. Neraka itu bukan gambar-gambar imajinatif paham abrahamik, melainkan hanya suatu tempat biasa, tanpa kaca, tanpa jendela. Hanya ada mereka: Inès, Garcin, dan Estelle yang saling terikat satu sama lain. Kebutuhan akan afirmasi diri, rasa terikat dengan penilaian orang lain dan lingkungan menjadi beban satu sama lain—ujungnya mereka akan menjadi kerumunan. Hingga mereka menyadari, mereka sendirilah neraka atas orang lain. Namun pertanyaannya, mengapa mereka ada dalam neraka?

Inès menyelingkuhi kekasih wanita sepupunya sendiri, tanpa ada penyesalan. Garcin, seorang tentara yang membiarkan teman-temannya mati dalam medan perang dan bermain dengan perempuan sewaan di depan istrinya. Estelle, seorang perempuan kaya raya yang membunuh bayi hasil hubungan gelapnya dengan sang kekasih. Sang kekasih kemudian bunuh diri. Tentu, neraka sebagai tempat pertanggung jawaban mereka atas apa yang mereka telah lakukan; kita akan mengingat L’Etranger, novel karya Albert Camus, menceritakan seorang laki-laki bernama Meursault yang harus dihukum pancung di tengah kota. Di siang hari yang panas, di tepi pantai, Meursault menembak laki-laki Arab sebanyak empat kali. Tanpa air mata, tanpa penyesalan apa pun. Meursault telah menerima hidupnya, harus berakhir di pasung-guillotine sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Dan demikian juga Raskolnikov.

Raskolnikov membunuh wanita rentenir, dan tanpa sengaja membunuh anak perempuan wanita itu. Dalam dilema yang panjang, kengerian, unhemlihkeit, angst, yang terus menyelimutinya. Ia pada akhirnya menyerahkan diri pada kepolisian. Ia telah bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Meursault, Raskolnikov, bahkan Inès, Garcin, dan Estelle mereka menjadi gambar bagaimana manusia dikutuk dalam kebebasan. Mereka bebas melakukan apa pun, mereka memiliki kebebasan memilih jalan mana pun, tetapi dengan kenyataan mereka dikutuk dengan kebebasan, mereka harus bertanggung jawab atas konsekuensi segala pilihan mereka. Tanpa air mata, tanpa teriakan mohon ampun di depan hakim dan para juri, memohon banding, memohon belas kasihan agar juri dan hakim mau mencabut dakwaannya. Tidak kemudian membunuh orang dengan keji, tetapi di depan juri dia meneteskan air mata agar dia tidak dipenjara. Tentu, tanggung jawab itu lahir dengan membiarkan konsekuensi menelan tubuhnya.

Demikianlah Nihilisme. Ketiadaan petunjuk, kitab suci, dan sembarang dikte-dikte dogmatis ‘aku-harus’, mengharuskan manusia menentukan jalannya sendiri. Dengan demikian, manusia juga harus bertanggung jawab atas pilihannya. Bahkan pada taraf, ketika manusia memutuskan keluar dari sembarang keberimanan agamis, atau keluar dari sembarang isme, maka manusia itu harus mau menerima konsekuensinya. Seorang agamis murtad, keluar dari agamanya. Ketika kenyataan nanti Tuhan ada, persaksian akhirat ada, pembalasan dan penimbangan akhirat ada, maka si manusia harus menerimanya dengan lapang dada, dia harus mau untuk terus disiksa dalam neraka-neraka abrahamik—misal. Begitu juga ketika seorang laki-laki mengawini teman perempuannya. Perempuan itu hamil, maka laki-laki itu harus mau bertanggung jawab atas pilihannya. Begitu juga dengan si perempuan. Mau tidak mau, mereka dengan sepenuh hati merawat keluarganya.

Menuju Kebenaran

Sementara, kebenaran adalah misteri yang akan dan mungkin harus terus tersembunyi. Nihilisme telah mencabut kebenaran. Apakah kebenaran tidak ada? Bagaimana bisa kebenaran tidak ada? Bukankah dunia akan kacau karena itu? Nietzsche dalam Prolog, Die Fröhliche Wissenschaft aforisme 4, ia menggambarkan kebenaran itu seperti wanita. Begitu juga dunia. Dia selalu menyembunyikan dasarnya, tidak diketahui dan tidak (mau untuk) diperlihatkan. Kita pada akhirnya hanya dapat terus menjaga jarak, hanya dapat mengirakan, tanpa tahu bagaimana. Baik Tuhan, hidup, dan kebenaran harus selalu lolos dari praduga-praduga.

Dengan demikian, apa yang dapat kita lakukan? Menjaga jarak dan menghadapinya; Schopenhauer melihat betapa hidup itu tragedi-ironis yang penuh dengan derita. Sementara agamawan, dan kaum optimistis mengira hidup selalu baik. Nietzsche melihat dunia tidak demikian. Dunia adalah keduanya, yakni baik sekaligus buruk; Heidegger melihat manusia otentik sebagai dasein adalah liyan (sebuah alteritas), sama-sekali-berbeda dengan yang lain. Manusia tidak akan pernah sampai pada finalitasnya. Apakah sopan untuk memaku seseorang secara fiksatif? Jika kita melakukannya, kita telah jatuh dalam kepercayaan percaya atas praduga.

Mengatakan seorang teman yang kita kenal baik adalah manusia baik adalah ketidaksopanan itu. Sementara, kebenaran adalah wanita yang terus menyembunyikan pantatnya. Bagaimana kita tahu si kebenaran, sementara si wanita terus menutupinya? Dalam doktrin Ibn Arabi, Tuhan menempati tiga martabat. Kita—sok—mengenal Tuhan, sebenarnya hanya sebatas pengetahuan wahidiyah, sementara Dia mendiami tiga martabat sekaligus: ahadiyah, wahidiyah, dan tajalli syuhudi; Tuhan yang ahadiyah, adalah Tuhan yang telah lolos dari praduga. Wanita adalah philogenis sekaligus misoginis, begitu juga Tuhan.

Kita tidak mengenal-Nya! Kita hanya Tahu siapa, bagaimana, dan apa Tuhan, karena Dia sendiri yang memperkenalkan-Nya. Apakah lantas kita tahu dasar-Nya? Jika Dia wanita, maka apakah kita bisa tahu pantatnya? Tuhan ahadiyah akan membiarkan diri-Nya ada-sendiri, tanpa interupsi siapa pun, tanpa dikte siapa pun, tanpa praduga siapa pun. Dia ada dengan sendiri-Nya, dengan seenaknya. Dengan demikian, Tuhan lolos dari mata-mata antropomorfik manusia. Dia tidak dikenali, Dia tidak diketahui. Apakah Dia baik? Iya, tentu! Tetapi Dia juga baik dan jahat sekaligus. Dia adalah kebebasan, kenapa kita menuntut-Nya?

Kita tidak mengenal manusia seperti kita tidak tahu 'pantat' wanita; kita tidak mengenal hidup seperti kita tidak tahu pantat wanita. Demikian juga Tuhan dan tentang kebenaran. Mereka semua 'liyan' yang terus bergerak tanpa henti, tanpa lelah, tanpa praduga apa pun, dan tanpa finalitas apa pun. Mereka akan selalu ada-dalam kebeluman yang terus-menerus (ständige unabgeschlossenheit). Wanita, akan menampakkan wajah (Le Visage) liyan, wajah yang memunculkan tanggung jawab. Dan dengan demikian kita akan bersopan-santun di depannya (menjaga jarak—dengan membiarkannya ada apa adanya).

Demikian juga mengenai kebenaran. Kita, tidak mampu mengira kebenaran sebagai ide yang terus ter-fix-kan, sementara kebenaran juga selalu bergerak. Apakah gula manis? Dalam banyak fenomenon, gula tidak akan selalu manis. Pada akhirnya, itu juga sebagai kebenaran. Inilah yang dibicarakan Nietzsche. Perspektivisme, relativisme, karena yang ada hanyalah interpretasi-interpretasi. Interpretasi itu lahir, bahkan sama sekali tidak mengkhianati metodologi; dua anak kembar, dibuatkan teh oleh ibunya. Satu anak berkomentar teh itu wangi dan manis. Sementara anak yang lain bilang jika teh itu hambar dan sama sekali tidak manis.

Teh yang digunakan sama, takarannya sama baik gula maupun tehnya. Bukankah kebenaran sentris-morfis sudah hilang? Bukankah kebenaran fiksatif sudah hilang? Secara korespondensi, kedua anak itu tidak berbohong, artinya apa yang mereka katakan adalah kebenaran. Dengan demikian, observasi kita akan terus ada dalam ständige unabgeschlossenheit (tidak akan pernah selesai), tanpa kesudahan, tanpa finalitas. Kecurigaan-kecurigaan baru, keraguan-keraguan baru akan muncul ke permukaan. Seperti sang ibu yang mencoba mencek kembali apakah yang dikatakan anaknya benar. Sang ibu tahu, anaknya terkena flu, dan gula dalam teh anak yang satu tidak larut.

Nihilisme tidak melempar kita ke dalam ketiadaan kebenaran. Juga bukan upaya melucuti kebenaran, dan menghilangkan kebenaran. Melainkan mendorong kita untuk terus curiga dan ragu atas apa yang datang kepada kita. Paul Recoeur, dalam hermeneutika Suspicion-nya mencurigai ada makna-makna yang bersembunyi dalam makna kata eksplisit yang tampak di permukaan. Sikap curiga, sikap ragu inilah yang dibicarakan oleh Nietzsche dalam Die Fröhliche Wissenschaft, aforisme 344. Kecurigaan itu seharusnya tidak hanya untuk para pelancong yang ingin masuk cité, tetapi juga untuk warga cité: maksudnya, skeptisisme tidak hanya diberikan pada kerja yang dianggap lemah oleh sains, tetapi juga diberikan kepada sains sendiri. Dalam frase terkenal Descrates, “dubito, cogito, ergo sum.” Nihilisme, akan menghantar manusia pada kebermoralan tuan sebagai sang Dionisian, sang Dasein.


Komentar