“Monoteisme Mekah Pra-Islam dan Gradualitas Islam sebagai Agama Abrahamik Sebelumnya”

 Oleh: Muhammad Fathun Niam



Ada dua argumen yang akan saya paparkan, pertama tawaran alternatif-eksperimental saya terhadap argumen Hawting, dan kedua adalah argumen Hawting itu sendiri mengenai Islam yang lahir dari rahim dan ruang monoteisme, dan monoteisme kaum pagan; kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah Islam lahir sebagai agama inklusif atau memang harus sebagai agama eksklusif seperti hari ini? Atau secara skeptis kita—seperti juga para Revisionis—mulai mencurigai jika Islam, sebagaimana agama lain selama ini lahir dalam proses dialogis sinkretis dan mengkristal di kemudian hari?”

Tentu pertanyaan kedua tidak terinspirasi dari tradisi intelektual tradisionalis. Fred Donner, dalam “From Believer to Muslim” menawarkan alternatif mengenai pertanyaan formasi Islam sebagai agama yang lahir secara sinkretis. Donner melihat, Islam sebenarnya lahir secara gradual, yang juga dimulai dengan agama inklusif hingga di kemudian hari agama atau Doner akan menyebut apa yang dilakukan Muhammad adalah sebuah gerakan ‘Orang-orang Beriman’ (believers)—meliputi Kristen dan Yahudi—mengkristal menjadi Islam yang kita kenal selama ini. Donners menyebutkan jika Islam mulai mengkristal atau mengalami fiksasi pada masa Malik bin Marwan (abad ke-7 M) dengan mulai menyingkirkan Kristen dan Yahudi. Inilah Islam eksklusif yang dibicarakan Donner, bahwa seseorang disebut Muslim adalah ketika orang tersebut mengikuti hukum-hukum Islam—berbeda dengan apa yang disebut Donner sebagai Gerakan Believers yang masih ekumenis.

Lebih Jauh, Donner ingin mengatakan, bahwa Al-Quran dan Islam-inklusif diturunkan pada era lebih awal (masa kenabian Muhammad) sebagai agama para penganut monoteis. Artinya, seorang muslim—Donner menyebutnya sebagai believers (orang beriman)—adalah siapa yang beriman kepada (mempercayai) Allah (sebagai Tuhan)—Gerald Hawting juga menganggap, jika orang-orang Mekah sebagai audiensi Quran adalah penganut monoteis (dalam salah satu syair yang direkam oleh Izutsu, orang Arab mengenal Allah begitu juga Al-Quran itu sendiri mengakuinya [QS. 29: 61]), walaupun di waktu yang bersamaan mereka memiliki tuhan lain (Manāt, Lāta, Uzza’)—, dan siapa yang beramal saleh (baik). Jadi, siapa pun yang mengakui Allah sebagai Tuhan, dan berbuat baik walaupun dia menyembah dewa-dewa lain—untuk ciri penyembahan terhadap dewa adalah argumen Hawting—, bahkan jika dia adalah seorang Kristiani maupun Yahudi dia adalah muslim—Donner menyebutnya sebagai ‘Believer’.

Pada era Malik bin Marwan, gerakan orang-orang beriman tersebut mengkristal menjadi agama eksklusif dan definitif yang tertutup. Argumen semacam ini diamini oleh beberapa revisionis—sebenarnya, revisionis juga mendapat banyak kritikan, dan tidak terlalu masif, tetapi tulisan ini mencoba merekam pemikiran mereka yang cukup menyegarkan—seperti Michel Cook dan Patricia Crone, Yehuda Nevo dan Judith Koren yang menawarkan alternatif jika Islam benar-benar lahir—karena dia telah mengkristal—pada era Malik bin Marwan. Crone dan Cook sepertinya cukup jauh memperlihatkan bagaimana dan mengapa tawaran ini lebih logis, di saat tidak adanya dokumen dan bukti-bukti historis yang konkret untuk menjelaskan, menggambarkan mengenai bagaimana Islam lahir—tentu ini berbeda dengan tradisi intelektual Muslim yang mengakui teks-teks produk kodifikasi hasil pengumpulan dokumen-dokumen lisan yang dituliskan (berupa riwayat). Crone melihat adanya gerakan anti-trinitas dalam pemerintahan Malik bin Marwan, dan oleh karena itu Islam sebagai gerakan orang beriman disempitkan dan didefinitifkan dengan menyingkirkan ke berimanan orang kepada paham trinitas. Di sisi lain, Nevo melihat era ini pertama kali nama Muhammad bisa dilihat dalam sebuah koin.

Gerald Hawting mengajukan sejarah-formasi Islam alternatif dengan memperlihatkan bahwa Mekah yang dalam narasi-narasi tradisionalis (hasil kerja kesarjanaan Timur [Islam]: Sirah) digambarkan sebagai penganut pagan (panteis), sebenarnya adalah penganut monoteisme. Hawting berkesimpulan Islam lahir dari rahim monoteisme Arab pra-Islam yang banyak dipengaruhi agama abrahamik sebelumnya—kita juga akan melihat narasi yang semisal dalam teks Cook dan Crone, serta Yehuda Nevo dan Judith Koren. Dalam beberapa syair yang direkam oleh Izutsu, bahkan Al-Quran sendiri mengakui bahwa orang Mekah telah mengenal nama Allah sebagai pencipta (QS. 29: 61).

Tidak seperti Wansbrought maupun Cook dan Crone, Hawting tidak mengajukan kesimpulan di mana harusnya Islam lahir. Hal ini, perlu mendapat perhatian karena Hawting sendiri juga merasa berhutang dengan metodologi yang ditawarkan Wansbrought sebelumnya. Wansbrought memilih Iran sebagai tempat kelahiran Al-Quran sebab iran memiliki polemik agamis yang intens, sementara Cook dan Crone memilih tempat yang lebih luas, dengan kata lain Crone membuka argumennya, bahwa Islam lahir sebagai respons terhadap agama Kristen dan Yahudi. Sebagaimana juga Hawting, walaupun Hawting sama sekali tidak memberikan alternatif jawaban, namun baik Hawting maupun penulis ‘Hagarism’ mengakui Islam lahir dari rahim monoteisme.

Di sini, saya ingin memfokuskan kesimpulan Hawting yang menekankan bagaimana Al-Quran sebenarnya mengkritik kesesatan yang dipraktikkan oleh orang Arab kala itu dalam menjalankan monoteisme mereka, bukan mengenai penolakan paganisme (penyembahan terhadap berhala)—maksud saya seperti bagaimana yang dipahami selama ini. Sebab, Al-Quran ingin meluruskan monoteisme orang Arab yang salah kepada monoteisme murni. Hal ini disebabkan, di satu sisi penduduk Mekah mengakui ketauhidan Allah, tetapi mereka masih menyembah berhala. Inilah kenapa Hawting mengatakan jika Islam lahir dari rahim monoteisme juga. Bukan agama yang secara heroik dan revolusioner keluar dari rahim paganisme secara mengejutkan.

Kedua, saya ingin menawarkan satu alternatif lain. Tentu teks ini bukan teks yang terinspirasi dari kerja tradisionalis, melainkan malah terinspirasi dari kerja revisionis yang secara dismisif menolak teks tradisionalis-muslim; dengan mengajukan tesis Gerald Hawting, bahwa monoteisme harus lahir dari monoteisme, namun saya perlu ingatkan, Hawting mengajukan ini dalam upaya rekonstruksinya terhadap sejarah Islam awal.

Saya perlu ingatkan, kita mungkin akan memiliki tokoh penting dari peran Waraqah bin Naufal; tentu, pertanyaannya adalah, “apakah mungkin Muhammad historis pernah berinteraksi dengan penganut monoteisme?” Asumsi ini, kita bangun secara acak: (1) Kita mengajukan argumen Hawting sebatas “bahwa Islam lahir dari rahim monoteisme”, sebab tidak logis Islam lahir begitu saja dari rahim paganisme. (2) Kita meminjam kesimpulan Wansbrought, Cook, dan Patricia Crone, walaupun Wansbrought cukup kritis melihat argumentasi dari kedua penulis ‘Hagarism’ tersebut, bahkan Donner menyebut ‘Hagarism’ hanyalah akrobat intelektual.

Baik Wansbrought dan dua penulis ‘Hagarism’ tersebut, atau nama-nama lain yang bisa disebut seperti Yehuda Nevo dan Judith Koren, dengan sama-sama mengamini kritik historis dan kesamaan aksioma untuk skeptis terhadap hasil kerja kesarjanaan Muslim, walaupun dengan variabel data yang berbeda, mereka mengamini bahwa Islam adalah agama yang mengkristal belakangan, sebab Islam lahir dalam interaksi dialogis yang panjang dan lama hingga mengkristal dan eksklusif seperti hari ini. Menurut mereka, Islam lahir secara sinkretis melalui interaksi dialogis antara Arab: meliputi sosio-politik dan sosio-psikologisnya dengan ajaran abrahamik.

Untuk poin kedua, saya memberi batasan sampai pada, “adanya interaksi-dialogis antara Arab dengan monoteisme abrahamik”. Secara spesifik, monoteisme yang mempengaruhi Islam adalah ajaran monoteisme Abrahamik. (3) Dengan mengikuti hasil kerja kesarjanaan Muslim, bahwa Islam lahir di Mekah di tengah komunitas pagan; pertama, dalam ‘Asbāb An-Nuzul’ Al-Wahidi, ketika Nabi menerima wahyu, ia sempat menemui satu tokoh penting dalam formasi wahyu pertama kali, yaitu Waraqah bin Naufal. Salah satu pesan Waraqah adalah, agar Nabi tidak taku dengan apa yang dia hadapi (Jibril), dan Waraqah sempat mengatakan jika dia diberi kesempatan, Waraqah akan yang terdepan dalam membela Nabi.

Siapa Waraqah? Waraqah adalah sepupu Khadijah. Di sisi lain, dia adalah seorang Kristen. Kedua, apakah pertemun Nabi dengan Waraqah hanya sesaat saja? Dengan kenyataan bahwa dia adalah sepupu Khadijah, sementara Muhammad historis harusnya bertemu dengan Khadijah tidak kurang ketika Muhammad historis berumur 25 tahun (ketika dia menikahi Khadijah). Tentu dengan kenyataan ini, kita bisa mengirakan, bahwa harusnya Nabi memiliki waktu yang cukup banyak untuk berdialog dengan Waraqah, dengan kata lain, setidaknya ada 10-20 tahun masa formasi Muhammad menuju kenabian dirinya melalui Waraqah. Di sinilah, Nabi Muhammad muncul dengan membawa monotheisme-Abrahamiknya yang dia bawa dari Waraqah. Dengan kata lain, Islam lahir dari rahim monoteisme agama sebelumnya.

Perbedaan hasil kerja antara Barat dan Muslim ini tentu sangat dipengaruhi oleh perbedaan kerja yang dilakukan, baik perbedaan aksioma, perbedaan pendekatan—kebanyakan revisionis menggunakan pendekatan kritik historis yang mengharuskan seorang historian untuk menemukan bukti-bukti performatif untuk mengkonfirmasi apakah penyataan yang selama ini ada benar atau hanya sekedar salvation history—bahkan juga adanya perbedaan presuposisi-epistemis antar kedua kesarjanaan tersebut: Barat yang menjoba objektif, dan Muslim yang mencoba objektif walaupun tidak bisa ditutupi jika beberapa kerja adalah upaya untuk memvalidasi doktrin. Ini bisa kita lihat dalam hasil kerja Ibn Hisyam yang secara eklektis menyortir dan menyensor data-data yang dirasa merendahkan Nabi—sebab, bagaimana jika apa yang dihapus adalah fakta? Inilah kenapa transmisi lisan dirasa mudah bisa, terdistorsi dan mengakibatkan data itu rusak.

Dari argumen yang coba saya bangun, apakah Islam adalah agama sinkretis yang lahir secara bertahap? Tentu argumen itu tidak jauh seperti apa yang dilakukan Crone dan Cook ketika mencoba merekonstruksi Islam awal menggunakan sumber-sumber Suryani. Dari apa yang saya uraikan, saya memberikan batasan acak yang tentu cukup aneh untuk diikuti sebagai sebuah dogma. Saya kira, teks akademis tidak akan pernah dilahirkan sebagai kitab kanon suci yang harus disembah dan diyakini. Teks ini adalah produk dialogis yang saya kira tidak salah secara metodologis. Lantas, mana yang harus kita percayai? Saya katakan kembali, bahwa teks-teks akademis bukan kitab suci yang dipercayai! Tetapi ini adalah teks yang akan dan harus terus diragukan.

Dubito, cogito, ergo sum


Komentar