“Harapan hanya akan Melahirkan Ironisme-Tragis: Beban Patriarkal dan Antifeminitas”
oleh: Muhammad Fathun Niam
“Setiap kali
orang mempunyai keinginan, pasti ada elemen-elemen kemungkinan—di saat
itulah—saya ada dalam dunia kemungkinan [...] —dengan demikian—bahwa kita harus bertindak
tanpa harapan.” Setidaknya, itu yang ingin dikatakan Jean-Paul Sartre,
bahwa harapan-harapan akan membawa manusia pada ‘keputusasaan’ (despair).
Keputusasaan ini lahir setiap kali manusia menggantungkan dirinya pada
keinginan-keinginan (kehendak) ideal—itulah yang namanya harapan. Bahwa kita
harusnya tidak perlu menaruh perhatian, menggantungkan diri pada
kemungkinan-kemungkinan yang nyatanya selalu ‘hopeless’; kita dapat
mengingat Tai Lung—tokoh antagonis dalam seri film Kung Fu Panda—yang
lahir sebagai anak berbakat yang diangkat anak oleh Master Shifu, dengan
membawakannya harapan besar. Dengan ‘harapan’ yang melekat di punggungnya,
seorang anak berbakat itu akan menjadi ‘Dragon Warrior’. Ia menghabiskan
separuh masa kecilnya untuk berlatih, demi memenuhi harapan orang tuanya
tersebut—Shifu. Ia kemudian berhasil tumbuh menjadi pendekar hebat. Nyatanya,
Master Oogway hanya melihat ‘kegelapan’ dalam diri Tai Lung.
Tentu,
mendengar keputusan Oogway, Tai Lung merasa kecewa. Ia kemudian melampiaskan
kemarahannya dengan menghancurkan desa. Kemarahan Tai Lung itulah yang membuat
dia dipenjara, dan di sanalah ia diasingkan jauh dari segalanya, bahkan jauh
dari orang tuanya. Di sana juga, Shifu tidak lagi mengakuinya. Dengan semua
itu, Tai Lung bisa memahami, bisa merasakan kekecewaan orang tuanya, Shifu.
Sampai kemudian, dia memiliki kesempatan untuk kembali ke Jade Palace, dan
mengambil gulungan naga itu dengan tangannya sendiri. Beban ‘harapan’ yang
telah diinternalisasikan kepada Tai Lung itulah yang membentuk rasa kekecewaan
untuk Tai Lung sendiri. Dengan kapital, menjadi satu privilege
yang disebut dengan bakat alami—kita mampu melihat perbedaannya dengan Tigress
yang tidak memiliki bakat tersebut. Berlatih di separuh hidupnya, menjadi
kebanggaan orang tua, tentu semua itu menjadi ‘pegangan’ harapan besar bahwa
Tai Lung bisa menjadi pendekar naga. Akan tetapi kenyataannya sebaliknya. Putus
asa, rasa marah, bahkan perilaku abusive menjadi satu dampak rasa patah
hati dari yang namanya harapan; Masculine Gender Role Stress, adalah
satu dampak yang lahir dari harapan konstruktif antifeminitas yang telah
diinternalisasikan oleh masyarakat sejak dini.
Kita dapat
melihat beberapa pertanyaan dan beberapa pernyataan tentang perempuan dalam
ruang feodal-patriarki semacam ini, kita akan banyak mendapatkan narasi
stereotipis (polaritatif) bagaimana ketika perempuan sampai pada taraf
kemandiriannya, ia akan kesulitan mendapatkan pasangan. Bahkan pernyataan
semacam ini akan terus ada, “perempuan, kok dia memiliki karier, pasti nikahnya
lama.” Atau pertanyaan semisal. “Apakah benar, jika cewek, memiliki pendidikan
yang tinggi, bakal ngga ada cowok yang mau ndeketin?” Rasa minder laki-laki
atas kemandirian (dasein) perempuan bisa dikatakan lahir dari
internalisasi nilai “Masculine Gender Role” (upaya dominasi maskulin)
antifeminitas yang bahkan dijejalkan sejak kecil untuk terus melanggengkan
hegemoni maskulin dan subordinasi terhadap perempuan. Tulisan ini secara
singkat akan membacakan mengenai harapan ‘sentris’ peran maskulin—androsentris,
bagaimana baik buruk dinilai menggunakan pandangan ideal laki-laki—bagaimana
rasa minder—sebagai stress—yang dialami oleh laki-laki adalah dampak
internalisasi norma-norma peran gender maskulin, sebagai harapan konstruksi.
Pertama, Maskulinitas Hegemonik, sebagai satu
ide yang berupaya secara konstruktif—untuk memaksakannya sebagai satu pandangan
doxic asumption (nilai norma yang harus diterima, sementara nilai itu
sebenarnya sebagai satu asumsi saja, atau sebuah konstruksi sosial)—untuk terus
melanggengkan hegemoni androsentrik, untuk menjadikan laki-laki dominan dalam
masyarakat dan mensosialisasikan subordinasi perempuan. Keharusan konstruktif
hegemoni laki-laki atas perempuan melahirkan banyak aturan ‘peran gender
maskulin’ rigid yang harus dipatuhi oleh laki-laki. Di sinilah maksud
dari antifeminitas: yakni penolakan laki-laki atas nilai-nilai dan sifat-sifat
inferioritas feminin dalam tubuh maskulin. Artinya, laki-laki harus menunjukkan
gambar (phenomenon phanesthai) atau image maskulin,
‘sejati’ dalam ruang masyarakat. Inilah contoh dari stereotip, bentuk
polarisasi nilai, “bahwa laki-laki harus ‘A’, sementara perempuan harus ‘B’.”
Apabila laki-laki berlaku ‘B’—misalkan saja feminin, dalam artian laki-laki
tersebut memiliki nilai-nilai yang harusnya adalah nilai perempuan—maka,
laki-laki tersebut akan mendapatkan evaluasi, begitu juga sebaliknya. Misalnya
saja. “Laki-laki kok nangis?”; “Perempuan jalannya kok gitu; duduknya
kok gitu (seperti laki-laki, dan duduk semacam itu yang dilakukan oleh
perempuan diasosiasikn dengan tidak sopan).”
Kekuasaan
dominasi semacam ini terus dilanggengkan dengan cara melahirkan relasi
subordinatif dan dengan internalisasi atau sosialisasi antifeminitas, agar
laki-laki tidak menunjukkan nilai feminin, dan terus menunjukkan dirinya
sebagai pria yang superior. Kedua, Masculine Gender Role Stress.
Sebagaimana di atas, bahwa norma-norma maskulin yang mengharuskan laki-laki
menuruti, mengikuti aturan ketat untuk terus mempromosikan dominasi hegemonik
maskulin. Sementara, ketika laki-laki tidak mampu memenuhi harapan ekspektasi
konstruksi sosial tersebut—yakni ketika laki-laki merasa terlampaui oleh
perempuan—si Laki-laki akan mengalami stres, dalam hal ini adalah rasa kecewa.
Kekecewaan inilah yang nanti melahirkan sinisme berupa tindakan abusive,
seperti kekerasan seksual. Dalam satu kerja yang dilakukan oleh Rachel,
Dominic, Kevin dan Andra, stres akibat tidak tercapainya ekspektasi peran
gender maskulin, akan berdampak pada kekerasan seksual, baik kekerasan fisik
maupun non-fisik yang terjadi dalam ruang private, misal sebagai suami
istri. Ketika suami memiliki finansial di bawah istri, suami akan memiliki
kecenderungan memiliki tindakan agresi seksual.
Kecemasan
dominasi ini lahir dari konstruksi sosial, sebuah doxic experience,
yakni nilai-nilai yang diterima begitu saja oleh masyarakat. Sebagaimana teks
sebelumnya, bahwa masyarakat atau norma-konstruktif telah menerapkan aturan rigid
mengenai ‘pria sejati’ agar mendominasi perempuan. Sejak awal, nilai-nilai
itu sudah disosialisasikan (internalisasi) sejak dini, dan ketika kenyataan
tidak sesuai dengan harapan ideal, yakni ketika laki-laki tidak mampu
mengungguli perempuan (ekspektasi standar aturan maskulinitas), laki-laki akan
kecewa, stres. Itulah kenapa laki-laki minder melihat perempuan yang
melampauinya!
Bahkan
doktrin-agamis dengan baik juga mensosialisasikan epistemé-idéal,
bagaimana perempuan yang baik dengan bagaimana perempuan yang buruk, ketika
mereka ada dalam ruang relasi-antar laki-laki dan perempuan (suami istri):
misal istri yang berdandan dianggap ber-tabarruj, dan dinilai berdosa
(perempuan buruk). Dalam satu kesempatan lain, ada seorang ustaz yang
menganggap, bahwa perempuan baik—dalam urusan jodoh, perempuan lebih baik
menunggu—adalah mereka yang dalam mencari jodoh cukup untuk hanya sekedar memantaskan
diri, dan menunggu ‘pangeran berkuda putih’ mendatanginya. Yang menjadi masalah
dalam narasi ini adalah, upaya melanggengkan objektivitas perempuan. Perempuan
tidak dinilai untuk aktif, tetapi disuruh untuk menjadi pasif—perempuan adalah
benda, dia adalah perhiasan yang menghiasi rumah dan suaminya. Dengan kenyataan
narasi-narasi doktrin—bukan dogma—menunjukkan ‘epistemé’, bagaimana istri yang
baik, yakni yang tidak melakukan interaksi publik (bahkan bekerja), dan mereka
yang menjadi pelayan bagi suaminya dalam artian mereka taat kepada
suaminya—bahkan jika tidak taat, seorang istri mendapatkan sanksi, bahkan
diperbolehkan untuk dipukul. Inilah bentuk internalisasi norma konstruktif yang
disematkan oleh doktrin feodalistik—narasi-narasi tersebut lahir dalam ruang
oposisi-biner androsentri pertengahan (naskah-naskah fikih, tafsir yang menjadi
rujukan tulisan ini ditulis di era feodal androsentrik yang menganggap bentuk
bakti perempuan adalah kepatuhannya kepada suami). Bahkan dalam beberapa
teks, teks-teks tersebut memvalidasi dengan beberapa hadis untuk memperkuat
persepsi oposisi-biner androsentris, bahwa jika manusia diperbolehkan bersujud
pada selain Allah, maka Nabi akan menyuruh perempuan bersujud kepada laki-laki.
Inilah apa yang saya sebut dengan gejala sentris-morfis: pada gejala ini, yaitu
bagaimana perempuan ideal dinilai oleh bentuk (morph) maskulinisme.
Permasalahan
objektivitas perempuan di sini adalah, penekanan (oppressed) perempuan
pada nilai-nilai inferior, dan memaksanya masuk dalam ketundukan
maskulinitas-androsentris. Baik perempuan maupun laki-laki, penekanan pada
ketundukan terhadap relasi subordinatif, akan memaksa pihak-pihak inferior
untuk masuk dalam ruang marginal, di mana satu pihak yang superior
menghegemoni, dan yang lain termarginalkan, dikuasai dengan banyak pembatasan,
dan tidak memiliki akses kemandirian. Tentu, hal ini akan dan berdampak pada
diskriminasi gender, viktimisasi, atau mungkin beban berlebih. Permasalahan
selanjutnya adalah ketika terjadi KDRT misal, pihak-pihak yang marginal, hanya
bisa diam, jika pun lepas, karena marginalisasi, pihak-pihak tersebut
kehilangan kapitalnya misal dalam mencari pekerjaan, baik karena ketidakmampuan
komunikasi, atau pada taraf rasa minder, dampak dari objektivikasi terhadap
pihak terkait. Maka, ketika ada pihak-pihak feminin harus melampaui pihak
maskulin, mereka akan mendapatkan evaluasi: pertanyaan-pertanyaan sinis
(sebenarnya pernyataan ini hanyalah evaluasi bernada sinis): “Ngapain perempuan
sekolah tinggi-tinggi?”; “perempuan itu tugasnya di rumah, ngurusin anak dan
suami!”
Evaluasi
terhadap tindakan-tindakan yang saya sebutkan adalah bentuk dari
internalisasi-internalisasi yang berhasil menjelma ke dalam habitus, bahkan
evaluasi terhadap tindakan-tindakan tersebut juga menjadi gambaran bagaimana nilai
konstruksi tersebut berubah menjadi doxa yang takterbantahkan—diterima begitu saja, dianggap sebagai tindakan natural apa adanya. Saya
kira, apa yang dikatakan Sartre akan sedikit relevan bagaimana seharusnya kita
berlaku dan bersikap dalam menghadapi kenyataan-kenyataan faktis. Menurut
Sartre, ketika Tuhan benar-benar mati, maka manusia menjadi entitas
tertingginya. Di sisi lain, dengan kenyataan ketiadaan Tuhan, manusia
kehilangan harapan-harapan absurdis (tanpa batas) yang beyond, melampaui
manusia berupa akhirat, dan surga dan neraka. Keterhilangan itu mengutuk
manusia untuk bebas. Keterbebasan itu, menurut Sartre akan mendorong manusia
untuk menyisakan yang namanya tanggung jawab. Dengan kehilangan Tuhan, tidak
ada lagi batas, manusia bebas melakukan apa pun, seperti juga Dostoyevski,
“Ketika Tuhan tidak ada, maka larangan pun juga tidak ada.” Dengan demikian
manusia harus ‘bertanggung jawab’ atas setiap yang dilakukannya. Menyangkut
tema yang kita bicarakan, kenyataan bahwa nilai-nilai adalah bentuk imperatif-hipotetis
sebagai bentuk dialogis doxic experience, bahwa peran gender adalah
bentuk kekuasaan yang ditekan (oppressed), dan stres sebagai satu gejala
kekecewaan dari ketidakmampuan laki-laki memenuhi ekspektasi norma konstruktif
dari Masculine Gender Role.
Apakah saya
sedang menawarkan kesetaraan? Tentu tidak! Tulisan ini hanya sebagai satu
bentuk dialogis, dan mungkin adalah satu langkah untuk melakukan pemeriksaan
ulang terhadap beberapa hipotesis yang ada. Saya tidak berminat, dan sebenarnya
juga tidak berniat mengakhiri tulisan ini dengan suatu solusi apa pun; stres,
dalam hal ini adalah kekecewaan—di luar bagaimana sikap atau reaksi kekecewaan
tersebut (seperti misal adalah tindakan agresi seksual terhadap pasangannya
[suami terhadap istrinya, dalam bentuk diskriminasi gender dan
viktimisasi])—yang timbul adalah dampak dari seorang laki-laki yang mengikuti
aturan ketat peran gender maskulin tidak mampu memenuhi harapan, memenuhi
ekspektasi doxic dari peran maskulin. Itulah kenapa, pernyataan mengenai
“perempuan mandiri, perempuan yang memiliki value melampaui laki-laki
akan kesulitan memiliki pasangan—laki-laki akan minder.” Bahwa kita telah
menginternalisasikan, baik melalui lingkungan rumah, lingkungan belajar,
pendidikan, bahkan agama sekalipun nilai-nilai antifeminitas. Apakah artinya
kita harus menghilangkannya? Saya kira, penilaian pribadi sebagai bentuk
tanggung jawab dan sebagai manusia antroposentris akan memiliki jawabannya
masing-masing.

Komentar
Posting Komentar