Avatar Aang, sebuah Kontradiksi Menuju Übermensch: Bunuhlah Tuhan! Dia sudah Tamat! (Kebutuhan untuk Percaya dan Akhir Sebuah Kepercayaan)

 oleh: Muhammad Fathun Nam


Era Aang, ketika Avatar harus ber-reingkarnasi dalam tubuh seorang buddhis. Hidup dalam moral asketik, atau bahkan esoterik sebagai seorang yang menuju pencerahan—walaupun saya cukup ragu untuk esoterisme dalam buddhisme—dan asketik sebagai seorang yang menekan kehendak 'duniawi', itu setidaknya yang dikatakan Aang pada Avatar Yangchen. Kehidupan Avatar tidak sama. Sebagaimana juga pengakuan Kuruk, sang Avatar yang lahir sebagai pengendali air. Atau juga Avatar Kiyoshi. Dalam setiap eranya, avatar menghadapi adharmanya masing-masing.

Hari ini—dalam era avatar—Aang, ia harus berhadapan dengan Raja Api Ozai. Sebuah takdir yang harus dihadapi. Seorang raja yang tidak memiliki pengampunan apa pun. Otoriter, sebagai sang diktator yang selalu mendambakan dunia monarkinya, sebagai upaya menghegemoni dunia, gambar dari ‘sovereign power’. Menjadi kekuasaan tunggal. Ia ingin menggeret seluruh dunia dalam satu cengkraman, di bawah tangan negara Api. Dan satu misinya untuk merealisasikan idealnya adalah, meluluh-lantakkan dunia dengan api ketika komet Sozin tiba. Saat di mana para pengendali api mendapatkan keberkahannya.

Pergulatan batin yang sedari awal muncul dalam dada seorang buddhis—hidup di tengah doxa para biksu—menjelma dalam diri seorang esoteris-asketis—walaupun mungkin lebih tepat sebagai manusia asketis. Ia menolak keberkahan, sebuah tugas yang mampu memberinya kekuasaan dengan sebagai seorang avatar, sebagaimana protesnya di hadapan biksu Gyatso. Dan sebagai seorang buddhis, seorang asketis yang menahan hasrat duniawi. Menjaga dunia, bahkan hewani, dan hanya menermima makanan nabati sebagai bentuk kerendahan hati (asketik—berlatih menahan dir, sebagai bentuk pensucian diri). Dalam satu percakapan Aang dengan Avatar Yangchen, ketika Aang resah dengan pilihannya, ia mengatakan, jika semua kehidupan suci, mereka harus dijaga, bahkan hidup seekor laba-laba yang terjebak di jaringnya sendiri. Artinya, kita telah melihat dua kehendak yang bergelut dalam dunia abyss (kedalaman) ‘manusia’.

Pilihan yang sulit bagi Aang, tentu konflik antara moral ego dan super ego melahirkan ‘angst’, mungkin juga ‘unheimlichkeit’ atau kita mengenalnya sebagai ‘anxiety’, ia harus membunuh raja Ozai sebagai satu-satunya jalan, tetapi sebagai seorang buddhis, ia berdiri untuk selalu memanusiakan manusia. Apakah kematian adalah jalannya? Bukan itu! Ketika Sokka, Suki, Zuko, mungkin bahkan Toph dan Katara, atau bahkan seluruh manusia, bahkan aku dan kalian. Bukankah menghabisi Ozai adalah jalan satu-satunya? Dan adalah hal yang mudah? Iya! Tapi tentu tidak sebagai seorang buddhis. Ia, sebagai manusia loyo, yang terseok-seok terus berpegangan pada ‘percaya akan kebutuhan pegangan yang stabil. Maka, di sinilah Nietzsche ada, bunuhlah kesadaran etis itu!

Apakah seorang buddhis selalu terseok-seok? Iya! Bahkan kita yang bergama: Kalian sebagai seorang muslim, kristiani, atau bahkan kalian manusia logosentris yang mati-matian membela 'sesuatu' yang nanti disebut 'iman' (faith). Sebagaimana juga seorang pemercaya UFO atau bahkan kepercayaan model Siant-Pétersbourg (percaya. pada ‘ketidakpercayaan akan kepercayaan’ [glauben an den unglauben]), bahwa “aku ‘sama sekali tidak mau untuk salah’” (die Fröhliche Wissenschaft, aforisme 344). Di mana, manusia akan mati-matian, bahkan menjadi martil yang siap membela kepercayaan mereka (isme) (la Gaya Scienza [GS], 347). Dalam hal ini, kita sebagai manusia ‘beriman’ mempertahankan diri sebagai seorang yang beriman, manusia loyo yang selalu butuh akan pegangan stabil.

Apakah seorang logosentris (penganut logosentrism), seorang empiris (empirist—penganut empirism) yang mati-matian secara ‘keukeuh’ bahwa kebenaran hanya mampu dicabut dari selubungnya hanya dengan jalan empiristik. Begitu juga dengan penganut kebenaran korespondensi, yang akan mati-matian mengatakan bahwa kebenaran adalah bentuk korespondensi antara pernyataan dengan fakta, maka pernyataan seorang psikolog hanya akan diludahi, dan dihina-hina sebagai omongan para agamawan yang tidak berdasar, dan hanya sebuah bentuk 'cocokologi' (baca: 'pencock-cocokkan). Sebagaimana kecurigaan Nietzsche, bahwa dalam logosentrisme saintifik (para saintiko-positifis) masih memiliki 'keimanan'.

Dalam GS (The Gay Science/—dalam bahasa Prancis: la Gaya Scienza) aforisme 344, dalam judul ‘Dalam Arti Apa Kita Masih Saleh’, Nietzsche menggambarkan kebutuhan akan percaya dalam sains bagaikan manusia (warga cité) yang hidup dalam cité (kota berbenteng). Di mana, sains akan selalu menutut para pelancong yang ingin memasuki kotanya, agar selalu melucuti atributnya. Dalam hal ini, maksud saya adalah apa pun yang disebut sebagai isme, aporia-aporia, vorverständnis, atau kita akan menyebutnya dengan ‘keimanan’ (faith).

Cité, sebuah kota berbenteng. Kita mungkin mengingat Distrik Shiganshina (Attack on Titan), atau Mondstadt (Genshin Impact), atau Baghdad pada era keemasan Abbasiyah (saya akan tetap menyebutnya sebagai era Abbasiyah, bukan sebuah agama [Islam]—peradaban Arab saat itu adalah sebuah kapital, bukan disebabkan oleh agama, tetapi dialognya dengan ilmu pengetahuan Yunani dan kegelapan Eropa, yang membuatnya seakan-akan unggul. Padahal, mereka tidak lebih dari para penerjemah [pada era awal, dan kapital—previlege—dari kegelapan Eropa dan kedekatannya dengan naskah-naskah Yunani]) sebuah kota yang memiliki benteng di sekelilingnya. Tentu, karena kota itu dikelilingi oleh benteng, pertanyaannya, bagaimana orang bisa masuk? Tentu hanya satu jalan! Yakni adalah gerbang-gerbang cité. Artinya, siapa pun yang ingin memasuki cité (kota berbenteng) tidak bisa masuk sembarang tempat, maka ia harus melewati gerbang cité, dan siap-siap untuk digeledah dan diawasi oleh polisi cité. Dan, itulah sains. Siapa pun yang ingin masuk dalam genealogi-saintifik (menuju kebenaran ilmiah) maka harus mau melepaskan aporia, atau pre-suposisi, atau vorverständnis (pra-pemahaman)—atau dia adalah keimanan—atau setidaknya ia mau untuk merendahkan keimanannya sebagai bentuk hipotesis semata. Mungkin, dari sini lah kita akan mengenal istilah ‘epoché’ dalam dunia fenomenologi.

Bukan itu yang menjadi masalah. Tetapi, sikap sainsme itu sendiri yang menjadi masalah. Nietzsche melihat, sikap 'curiga' hanya diberikan kepada para pelancong, para musafir, para pengelana yang ingin masuk ke dalam kota; warga saintifik (mereka yang tinggal di dalam cité sains) tidak diawasi, mereka bahkan tidak dicurigai sama sekali. Maksudnya, polisi sains 'percaya' (yakin—tanpa adanya upaya vadiasi-curiga dari diri seorang polisi cité yang curiga) bahwa para warga saintifik sudah meninggalkan keimanan (vorverständnis) mereka. Maksudnya, sang polisi curiga telah menanggalkan sikap curiganya ketika berhadapan dengan warga saintifik, dan menganggap jika “kerja warga saintifik selalu ada dalam koridor yang mereka percayai”.

Nietzsche ingin mengatakan, bahwa sains sebenarnya juga sama saja dengan agama. Ada yang disebut dengan 'sesuatu' yang 'Das-Ding-an-sich' untuk menjadi parameter kebenaran. Inilah sikap logosentrik—istilah yang nanti diberikan oleh Derrida—bahwa kebenaran “hanya milikku saja!”, artinya, sesuatu yang dinilai dari luar isme si penganut, maka dia dicurigai dan dianggap tidak benar: “kebenaran adalah wahyu: dia benar karena dia berasal dari wahyu, dan dia (yang lain) salah karena tidak sesuai dengan wahyu ilahi”; begitu juga dengan sains: “dia salah karena hanya berdasar teks ilahiyah semata, tidak empiris; dia hanyalah keyakinan metafisis absurd, bentuk dari self-claim-right”.

Mereka yang terseok-seok, butuh akan pegangan stabil, adalah mereka sebagai manusia loyo. Kenapa? Mereka tidak lagi otonom. Mereka tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri sebagai ujud fenomenal diri dari ‘dasein’. Mereka membutuhkan apa yang disebut sebagai matahari sesuatu di luar dirinya. Hanya untuk memutuskan, “apakah aku boleh makan ini atau tidak”, sang Aku harus berbicara dengan para prometheus cacat (agamawan); begitu juga dengan Aang. Ketika komet Sozin tinggal beberapa hari lagi, Aang hanya dipenuhi oleh keraguan: “Aku sebagai manusia yang hidup dalam doxa para biksu—hidup dalam ruang asketik—tetapi ‘Aku’ yang juga sebagai seorang Avatar”.

Ketika Aang berada di dunia (roh)—di punggung—Kura-kura Singa, Aang bertemu dengan avatar Yangchen, seorang avatar dari pengelana udara. Artinya, Yangchen juga seorang asketis-buddha (saya tidak bisa secara mandiri menggunakan istilah ini, tetapi saya tidak memiliki istilah lain di luar itu). Avatar Yangchen memberikan kebijaksanaannya, bahwa hidup buddhis, dalam upaya pengejaran pencerahan sangat berlawanan dengan seorang avatar. Buddha, dalam perjalanan spirituil menuju pencerahan, mereka harus meninggalkan kesibukan duniawi (asketik). Sebagai bentuk menahan diri dari kenikmatan duniawi. Sementara avatar, mengabdikan dirinya pada dunia sepenuhnya. Maksud Yangchen adalah, Aang harus merelakan dirinya masuk sepenuhnya sebagai manusia, bukan lagi buddha.

Pada bagian ini kita beranjak pada teks Nietzsche GS 343, dan juga GS 125 (Tuhan telah mati); Apakah Nietzsche menyuruh kita membunuh Tuhan? Atau, Nietzsche mengajak kita menuju proyek ‘manusia melampaui (Übermensch)’ dengan cara membunuh Tuhan? Pada era pencerahan, para rasionalis mencoba menginterpretasi teks Nietzsche GS potongan 346). Seperti fase perkembangan manusia Auguste Comte, manusia lahir sebagai makhluk primitif yang menuju pencerahan. Para rasionalis menginterpretasikan teks Nietzsche sebagai langkah atau tahap dari manusia mitos menuju logos (yang digambarkan sebagai sang Overman).

Kritik Nietzsche bukan hanya pada sikap hipertrofik kaum agamis, tetapi pada apa yang disebut dengan “percaya”. Kebutuhan akan percaya inilah yang mendapatkan perhatian. Dalam GS 344, Nietzsche menegaskan, jika manusia memiliki kehendak untuk sama sekali tidak mau salah. Dan sikap itu akan melahirkan sikap mati-matian, menjelma ke dalam martir yang siap memukuli siapa saja yang menolak ajarannya (isme) (GS 347). Sebagaimana juga yang dijelaskan di atas, bahwa sains memiliki sesuatu untuk dipercayai secara absolut. Mungkin, bahkan pada taraf unconscious (tidak-kesadaran).

Dalam GS 125, Nietzsche menceritakan mengenai si Sinting. Si sinting itu membawa lentera menyala di siang bolong. Ketika si Sinting berada di tengah kerumunan pasar, ia mulai berteriak. “Di mama Tuhan? Di mana Tuhan? Di mana Tuhan?” lantas kerumunan yang ada di sana tertawa terbahak-bahak; Tuhan bagaikan matahari. Dia yang memberi cahaya, dan menunjukkan jalan secara ‘hampir-rigor’. Kemudian, bayangkan jika cahaya matahari lenyap, apakah kita bisa melihat dunia?

Dalam contoh sederhana, suatu hari, kamu sedang menulis atau sedang membaca buku. Beberapa saat kemudian tiba-tiba listrik mati, seketika ruangan gelap. Tentu, kamu memiliki kehendak untuk beranjak dari tempat itu. Dengan buru-buru kamu akan mencari benda yang bisa bercahaya: mencari lilin, atau mencari handphone atau senter. Dengan benda-benda itu kamu menyalakan cahayamu sendiri. Begitu juga dengan kematian Tuhan. Ketika Tuhan mati, maka keadaannya sama dengan orang yang kehilangan arah (orang yang kehilangan cahaya matahari). Ingin ke mana-mana tapi tidak tahu arah, berjalan sedikit kaki terbentok sesuatu dan seterusnya. Yang tersisa adalah kebingungan. “aku ingin ke luar, tapi aku tidak tahu harus ke mana...” itulah jika Tuhan mati. Nietzsche tidak hanya berbicara perihal Tuhan, melainkan adalah semua Tuhan atau kita bisa menamainya sebagai Causa sui, bentuk absolut sesuatu (penyebab susuatu).

...ke mana bumi sekarang ini berputar? Ke mana gerak bumi ini sekarang membawa kita? Jauh dari segala matahari-matahari? Tidakkah kita terperosok ke dalam kejatuhan tanpa henti? Terperosok ke belakang, ke samping, ke depan, ke berbagai arah mana pun! Masih adakah yang namanya atas atau bawah? Tidakkah sekarang kita menyasar-nyasar melewati kekosongan tanpa batas? [...] tidak perlukah kita menyalakan lentera-lentera sejak pagi hari?  Apalah kita sama sekali tidak mendengar suara para penggali kubur yang telah menguburkan Tuhan? Apakah kita tidak sama sekali menghirup bau pembusukan ilahi?—Tuhan-tuhan pun membusuk! Gott ist tot, Gott bleibt tot, wir haben ihn getötet (Tuhan telah mati, Tuhan tetap mati, kitalah yang telah membunuh-Nya)... (The Gay Science “Buku Kelima” aforisme 125).


Dalam GS 125, Nietzsche ingin curiga dengan kerumunan (mass) yang ada di pasar. Seseorang yang telah kehilangan caisa sui-nya, harusnya dia seperti orang yang kehilangan cahaya matahari: tidak bisa melihat apa pun. Maka, karena sang aku (manusia) tak bisa melihat karena kehilangan Tuhan, maka apa yang harus dilakukan oleh sang Aku adalah menciptakan cahayanya sendiri. Sementara Nietzsche melihat, orang-orang yang telah membunuh Tuhan atau yang mengaku telah membunuh Tuhan—bukankah, we have killed Him? (kita—aku dan kalian—telah membunuh-Nya?)—mereka masih bisa berkeliaran di luaran sana tanpa adanya kebingungan apa pun. Nietzsche curiga, bahwa sebenarnya mereka tidak benar-benar membunuh Tuhan, sebab, setelah mereka membunuh Tuhan agamis mereka, mereka lari menuju Tuhan (causa sui) lain, menuju hakim dari ruh absolut lainnya: para kaum saintifiko-positivis yang logosentrik, mereka yang percaya pada UFO, percaya pada ketiadaan Tuhan, atau percaya pada ketidak-percayaan (belief in unbelief). Hal ini bisa dilihat dari simtom, mereka adalah para agamis-martir yang mati-matian membela isme-isme mereka.

Pada akhirnya, causa sui tidak harus berbentuk Tuhan imajiner para kaum semitikus. Causa sui menjelma ke dalam diri setiap manusia loyo yang butuh akan pegangan stabil: kaum pemuja UFO, kaum logosentris (saintiko-positivis), bahkan apa yang disebut Nietzsche sebagai glauben an den unglauben, yaitu kepercayaan akan ketidakpercayaan (percaya bahwa kepercayaan itu tidak ada). Dalam tulisan yang lalu “[Menuju Eksistensialisme]: “Kematian Tuhan dan Keresahan Manusia Loyo akan Kebutuhan untuk Percaya” (Warta Kematian Tuhan)” saya bicara dalam bentuk mitos mengenai perdebatan dua orang teman tentang Tuhan itu ada atau tidak. Yang satu mengatakan Tuhan itu ada, yang satu bilang Tuhan itu tidak ada. Keduanya sama-sama mengatakan: “Jika kamu tidak percaya, maka kamu sesat!”

Keterbelengguan manusia dalam ruang hipertrofik inilah yang menjadi perhatian Nietzsche. Dengan sikap mati-matian kita menjaga diri, dan di saat yang sama kita terbelenggu. Nilai-nilai rigor, yang sebegitu kakunya, orang yang keluar dari aturan bukan hanya dievaluasi, tetapi juga dihakimi. Tentu, sikap rigor (kaku) itulah yang membelenggu kita, bukan hanya pada tentang kebenaran sesuatu. Misal dalam hal moral. Apa itu moral? Dengan genealogi atau episteme Foucault kita bisa melacak bagaimana sebuah nilai dilahirkan, dan untuk apa nilai itu ada.

Apakah Nietzsche menyuruh kita membunuh Tuhan? Saya kira, saya tidak perlu membelanya: dalam satu pengantar terjemah Also Sprach Zarathustra: Ein Buch für Alle und Keinen—cetakan ini masih mengambil dari kurasi Elisabeth Förster-Nietzsche (adik perempuan Nietzsche)—dalam terjemah bahasa Indonesia. Ada narasi yang cukup membela Nietzsche, bahwa Also Sprach Zarathustra bukan mengenai ajakan Nietzsche menuju nihilisme (melepaskan diri dari semua kepercayaan—bukan hanya ateisme [percaya Tuhan itu tidak ada!] Atau juga kepercayaan model Saint-Pétersbourgh [glauben an den Unglauben—kepercayaan atas ketidakpercayaan atau belief in unbelief]), melainkan satu jalan alternatif untuk menjalani hidup memang sudah tanpa Tuhan. Mengapa? Saya kira kita bisa melihat semangat positivisme Eropa waktu itu (renaissance), pasca terbelenggu dalam jeratan teosentrisme masa lalu. Ketika manusia tiba-tiba beralih dari fase the theological stage menuju fase metafisis atau bahkan melompat pada fase positif (the positive stage). Di sanalah ada wabah ateisme.

Tuhan atau kita bisa menyebutnya sebagai sang Causa sui—entah memang sebagai apa yang disebut oleh manusia agamis sebagai Tuhan, atau satu ruh absolut yang mengendalikan manusia—ibarat cahaya dari matahari, apabila cahaya itu lenyap manusia harus mengalami kebingungan. Maka, jalan menghadapi kebingungan pasca-kematian Tuhan adalah dengan menyalakan lampu lentera kita sendiri, sebagaimana si Sinting di atas (GS 125). Dalam pembelaan yang lain, mengenai, Tuhan mana yang dibunuh oleh Nietzsche? Dalam teks yang sama—pengantar terjemahan Also Sprach Zarathustra—kita bisa melihat pembelaan lain: Nietzsche tidak sesang membunuh Tuhan yang absolut—Tuhan transenden, dzat yang melampaui manusia—melainkan adalah Tuhan ideal, yang hidup dalam bentuk konsepsi manusia berupa iman (ketakwaan—ketaatan). Kita bisa melihat ke belakang, yakni Ludwig Feuerbach. Menurutnya, Tuhan adalah upaya kreatif manusia, artinya, Tuhan adalah sebuah sistem antroposofis yang dibentuk oleh manusia sendiri, Tuhan bukan ruh bebas, causa sui, melainkan adalah sistem moral yang lain. Kita bisa melihat ini dalam teks Nietzsche, bahwa Tuhan adalah kambing hitam. Bukan hanya sebagai pelimpahan atas segala sesuatu, serta selubung dari kegetiran kenyataan, tetapi sebagai causa sui akhir dalam menjelaskan segala sesuatu.

Namun, saya kira saya tidak perlu membelanya, apakah dia ateis atau tidak—sebab yang dibunuh Nietzsche hanyalah Tuhan ideal (dalam benruk konsepsional) bukan Tuhan sebenarnya—toh dia sendiri juga mengakui ke-ateisannya. Atau dia yang tidak menyuruh kita untuk ateis, saya kira itu cukup benar, tapi bukan berarti Nietzsche tidak benar-benar menyuruh kita untuk ateis, sebab ia menyuruh manusia untuk menuju nihilisme (menjadi kaum polutropoi, dengan meninggalkan isme yang membelenggu kita). Membelenggu? Iya! Dalam teks terakhir ini, saya ingin memberi gambaran mengenai warta kematian Tuhan dalam ruang moralitas—saya tidak akan menekankan mengenai slave morality dan master morality, mungkin itu lain waktu, atau silakan baca teks saya yang lain.

—entah, apakah cerita ini asli atau tidak, saya juga tidak pernah mencoba memvalidasinya, tapi kita angga cerita ini hanya sebatas mitos—Dalam sebuah kekuasaan, suatu daerah di luar sana, ada sebuah nilai konstruksi-masyarakat (episteme) yang dibangun oleh kekuasaan di sana. Konstruksi itu menyebutkan, jika rakyat jelata tidak boleh menyentuh kaum bangsawan. Hingga suatu hari, kerajaan melakukan sebuah kunjungan ke suatu daerah kekuasaannya, entah mungkin untuk menyapa rakyatnya. Namun, di tengah itu, terdapat satu insiden, anak dari sang raja terpeleset dan jatuh ke sungai. Tentu, karena ada nilai konstriksi (normatif) semacam itu, tidak ada satu pun orang yang bisa menolong anak raja—walau mungkin di sana ada keinginan sebagai sikap humanis. Hanya raja, atau keluarga bangsawan. Tapi, siapa yang mau menceburkan diri ke sana? Pada akhirnya, kunjungan itu, dan seluruh rakyat dan siapa pun yang ada di sana hanya menjadi penonton, bagaimana detik-detik akhir anak raja mati tenggelam.

Apa yang salah dari konstruksi itu? Iya, konstruksinya sendiri, dan keterbelengguan orang—para kerumunan—itu ketika melihat seorang anak mati, karena tidak ada yang mau—bisa—menolong karena keterbelengguan mereka dengan nilai normatif itu. Terus apa? Nietzsche tidak hanya bisa dilihat dalam upayanya membunuh Tuhan, melainkan cerita sang overman (übermensh), sang Manusia yang Melampaui segalanya. Siapa sang Overman itu? Dia adalah orang yang terbebas dari segala belenggu nilai. Dia sang Dionysos, sang moral tuan. Manusia nihilis, si sinting yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Tidak ada nilai eksternal (super ego) yang mampu mempengaruhinya. Dia yang hidup dalam ja sagen! Yang berhati-hati, menjaga dengan segala sesuatu. Dia tahu hidup bukan hanya hidup negatif seperti warta Schopenhauer, atau hanya hidup positif para agamis, yang memandang buta hidup adalah keberkahan yang tidak boleh dihina. Tetapi sang Overman, dia tahu batasnya, tetap waspada dalam ruang sorge (waspada—care).

Dalam warta Nietzsche, ia menceritakan agar orang mau keluar dari kemerosotan (dekaden), untuk tidak mengiyakan atau menidakkan hidup secara naif; dalam kasus moral (bernilai), maka siapa übermensch, adalah siapa yang mampu melahirkan moralnya sendiri. Dalam kasus di atas, jika ada salah satu übermensch sang overman, maka manusia melampaui itu tak segan-segan akan melompat ke sungai, dengan menghiraukan segala nilai, dan menghiraukan segala evaluasi yang akan diberikan. Setidaknya, dia telah bermoral, walaupun mungkin sang manusia melampaui akan dibenci, dijauhi, dan mungkin akan ditinggalkan oleh kerumunan. Kenapa? Karena dia telah melampaui kerumunan. Sebagaimana juga warta Schopenhauer: kesendirian adalah nasib yang harus ditanggung oleh pemikir hebat. Kesendirian itu, bukan karena kebenciannya atau apa, tetapi karena dia telah melampaui, dia sudah berbeda dengan kelompoknya. Singkatnya, manusia melampaui, dia tidak lagi dikendalikan moral eksternalnya, melainkan dia mengendalikan dirinya sendiri.

Saya kira, kita perlu kembali lagi pada pencerahan Eropa, ketika manusia tiba-tiba berbalik dari teosentris menuju positivisme-antroposentris. Eropa, yang sebelumnya terbelenggu oleh Gereja, si mana seluruh moral kembali ke Gereja, tiba-tiba terjun bebas ke dalam jurang pencerahan renaisans. Yang tadinya apa-apa adalah Tuhan, tiba-tiba berganti sudut, mereka tidak lagi melihat Tuhan. Tentu, moral yang tadinya tersusun rapi, hari ini runtuh, hilang di pandangan Eropa. Tentu, hilangnya Tuhan akan membuat manusia kebingungan, apa yang harus aku lakukan? Mereka bagaikan bumi yang jauh dari matahari-mataharinya. Tidak tahu harus ke mana (GS 125). Maka, nihilisme lahir, kontrol atas dirinya sendiri. Sebagaimana juga teks di atas, ini adalah alternatif bagaimana hidup tanpa Tuhan, yakni dengan melahirkan moral-moral tuan baru.

Aang, sayangnya, dia gagal! Ia lebih memilih mempertahankan nilai buddhisnya, sebagai seorang asketis, walau mungkin dia juga beruntung bertemu dengan Kura-kura Singa, yang memberinya pencerahan, bagaimana cara mengakhiri perang tanpa membunuh raja Api Ozai, yakni dengan menghilangkan kekuatannya (bending); sebagai seorang buddhis, hidup dalam ruang doxa para biksu, Aang memiliki begitu banyak konstruksi-asketik, untuk selalu memanusiakan manusia, menghargai hidup, bahkan secara mati-matian dia membel kehidupan (sebuah hak hidup setiap makhluk, bahkan jika itu adalah raja Api Ozai, yang ingin meluluh lantakkan dunia dengan api; tentu, jika Aang ingin menjadi übermensch, dia harus memilih, tidak bisa dikendalikan oleh moral buddhisnya. Namun, di sisi lain, dalam waktu yang bersamaan, Aang adalah sang Übermensch, sang Overman, yang melampaui semuanya. Dia memilih jalannya sendiri, dengan menjaga jarak, waspada, hingga dia memutuskan untuk tidak membunuh sang Raja Api, sebagai bentuk kebijaksanaan sang Aku, Avatar Aang.

Sikap martirlah yang harusnya dibunuh, sikap romantis-hipertrofik, fanatik. Aang tidak terpengaruh oleh teman-temannya yang menyuruhnya untuk membunuh Ozai, atapun kebijaksanaan para Avatar lain yang menyurihnya untuk membunuh Ozai, bahkan Avatar Yangchen, menyuruh Aang mengakui bahwa Aang tidak bisa memilih dunia spiritual biddhisnya, ia harus mengabdi pada dunia sepenuhny, meninggalkan pencerahannya; Menjadi kaum polutropoi, mengenakan banyak wajah. Sikap nihilistik lahir dalam ruang kekosongan, sebagai satu konsekuensi kematian Tuhan. Sebagaimana di atas. Tuhan bagaikan cahaya matahari, ketika matahari lenyap, maka kita perlu menyalakan lentera-lentera kita. Aang, telah menyalakan lenteranya yang begitu terang.

Komentar