[der Wille zur Macht]: “Cinta Sebuah Hasrat untuk Menguasai dan Menuju Kegilaan”

oleh: Muhammad Fatbun Niam 


Bagaimanapun, sebuah relasi akan selalu melahirkan sebuah hubungan subordinatif, yang ujung-ujungnya akan memperlihatkan kehendak berkuasa setiap orang (der Wille zur Macht—sebagai sebuah kehendak instingtif untuk mendominasi). Maksudnya, sebuah hubungan pasti adalah konflik (Sartre): setiap orang akan selalu berusaha mengobjekkan orang lain, berusaha untuk menghegemoni dan menekan yang lain tenggelam ke dalam objek (marginal). Egoisme-narsistik lah yang akan memperjelas ‘kehendak berkuasa’ (will to power) itu. Seperti yang diungkapkan Foucault, bahwa dalam setiap relasi akan—sebagai sebuah necessity—melahirkan relasi kuasa. Oleh karena itu kata Sartre: “orang lain itu tidak lain hanyalah neraka; nausea!” (Sungguh memuakkan).

Ego-narsistik yang saya maksud adalah kehendak ke-aku-an. Ego sebagai kesadaran etis, sebagai yang mengompromi. Kesadaran narsis sendiri sebagai kesadaran ke-aku-an sebagai subjek yang superior yang siap menghegemoni. Kesadaran ego-narsistik itulah yang akan menekan orang lain pada ke-objekkan sang subjek. Begitu juga dengan cinta. Kenapa kita selalu romantis dengan menutup mata kita? Beranggapan cinta adalah nyawa ‘Ilahi’ yang bersih dari kehendak-kehendak nasut, kehendak-kehendak manusiawi. Sementara kenyataannya, cinta hanya lah sublimasi (Freud) dari kegagalan manusia memenuhi kebutuhan instingtifnya (id), berupa sex (kehendak erotis-libido). Tapi, menurut saya, ‘cinta’ hanya lah label yang digunakan untuk menutupi kehendak-kehendak kuasa manusia (der Wille zur Macht). Ujung-ujungnya, cinta hanya akan menunjukkan sikap ego-narsistik yang menekan lawan bicara pada nilai-nilai ke-aku-an.

Ketika aku ingin memiliki kekasih, tidak lain aku hanya ingin menekan sang kekasih ke dalam nilai-nilai ideal seorang aku (ego Niam yang narsistik); dalam relasi yang disebut cinta, kita akan menemukan sebuah sikap narsis yang disembunyikan dalam ‘cinta’: “aku ingin kamu itu gini, gitu; aku ngga suka kalo kamu itu gini, gitu..” dengan semua alasan itu adalah cinta, dan dengan kehendak semacam itu, cinta tidak lain hanya label untuk menutupi will to power (der Wille zur Macht) seseorang, hanya untuk menutupi bahwa dirinya sedang ingin mengobjekkan kekasihnya. Makanya, Sartre sendiri menganggap cinta hanya lah konflik, karena di sana kita hanya akan melihat dua orang yang saling mengobjekkan satu sama lain. 

Pada akhirnya cinta adalah paradoks. Begitu besar mulutnya untuk menjanjikan kebebasan ideal. Kenyataannya, cinta hanya lah bentuk konflik, sebuah upaya manusia ingin menguasai orang lain. Kita coba dengar: “kalo kamu mencintaiku kamu tidak boleh begini dan begitu”; “kalau kamu ingin liburan, kamu tidak boleh pergi kalau di sana  ada cowok lain”; “kalau kamu mencintaiku, kamu tidak boleh main game”; “kamu harus menjadi insinyur/dokter/polisi/pengusaha”. Kasus lain seperti Schopenhauer, ia lebih tertarik dengan petualangan akademisnya, sementara ayahnya lebih ingin melihat Schopenhauer menjadi pedagang. Kita bisa melihat, konflik antara anak dan orang tua disebabkan oleh ego-narsistik orang tuanya yang ingin anaknya menjadi dirinya.

Dalam pemetaan Erich Fromm, cinta eros adalah cinta paling bersyarat. Menurut saya, cinta pada akhirnya selalu bersyarat (dan pamrih). Cinta sebagai idea Ilahi-ideal hanya lah cita-cita yang imajinal, terlalu optimis. Sebagaimana yang bahkan diwartakan Platon dalam Simposium Peusanias sebagai cinta Aphrodite-Uranian. Cinta tulus semacam itu hanya akan jatuh pada harapan-harapan yang terjebak dalam ideal. Ada sebuah perkataan: “...jatuh cinta kepada orang yang lebih mencintaimu akan jauh lebih menyenangkan..” padahal ada keegoisan narsistik di sana yang hampir tidak disadari. Seorang yang mencintai adalah orang altruis-aneh. Manusia hamba yang menjilati jalan-jalan kekasihnya sebagaimana yang diinginkan oleh sang subjek (yang berhasil selamat dari objektivikasi sang hamba). Sementara, ‘aku yang-dicintai’ adalah seorang yang memiliki kuasa (power). Seorang pecinta hanya lah objek dari kekasihnya. 

Bukankah dalam kata “... orang yang lebih mencintai kita..” ada keinginan ego-narsistik? Bahwa ‘aku’ sebagai kesadaran narsis-egois masih berperan di sana dalam bentuk “aku ingin...”? Arinya, pada akhirnya cinta yang diharapkan hanya lah relasi timpang antara aku yang superior dengan kamu-yang-aku yang inferior, yang telah jatuh dalam nilai-nilai ke-aku-an sang kekasih? Sementara kebutuhan mencintai hanya lah sebuah bentuk kesadaran manusia sebagai makhluk yang harus mempertahankan spesiesnya (Schopenhauer). Dalam artian, manusia memiliki kesadaran berkembang biak. Cinta tidak akan pernah jauh dari kesadaran eksistensi. Baik dalam relasi orang tua-anak ataupun sebagai kebutuhan akan seks. Ujung-ujungnya adalah kebutuhan eksistensi yang narsistik (ke-aku-an).

Lantas, kenapa kita masih memuja-muja cinta? Seindah itu, kah cinta? Sebuah relasi menyakitkan, aneh, dan relasi ‘sakit’ (nausea—memuakkan). Apakah relasi-relasi itu kurang menjijikkan? Saya kira, sebuah habitus mengesalkan telah menjadi episteme yang melekat dalam diri kita—kita terlena dengan topeng yang menjadi selubung (penutup temporar). Mungkin, aku yang akan menjadi asing karena menganggap apa yang kalian puja hanya lah hal yang sebenarnya tidak penting. Sebab cinta tidak lain adalah sebuah hasrat untuk menguasai. Begitu juga, cinta hanya lah sebuah epistem, untuk terus melanggengkan ke-subjekkan seseorang dengan melahirkan relasi oposisi-biner—pemujaan atas sang ‘aku’. Kalau begitu, bagaimana cinta sejati? Cinta sejati lahir ketika aku telah hancur, dan kalian berdua tenggelam dalam bentuk objek. Atau, berenang dalam penderitaan resiprokal-sinergis yang harus kalian sadari setiap waktu. Tapi ujung-ujungnya, ego sebagai ‘aku’ diri kalian akan menguasai, dan menjatuhkan lawan ke dalam bentuk objek dan tenggelam dalam nilai-nilai ke-aku-an subjek.

Setelah kita menelanjangi cinta, ia pada akhirnya akan mengakui proyek kegilaannya sendiri; Seperti katanya Nietzsche: “Filsuf besar mana yang menikah? Herakleitos, Plato, Descrates, Lebniz, Spinoza, Kant, Schopenhauer, tidak ada di antara mereka yang menikah”. Nietzsche menganggap, pernikahan dan hubungan  menjijikkan itu membuat manusia tidak akan mampu sampai pada taraf optimalnya, bahkan sebagai sebuah komedi dan perolok-olokkan bencana. Saya mengira, bahwa asumsi itu lahir karena konflik-relasi-kuasa yang akan lahir dalam relasi komunian (cinta) seperti yang saya uraikan sebelumnya. Seperti Foucault, bahwa setiap relasi akan menciptakan relasi kuasa.

Relasi kuasa di sini adalah upaya subjek dalam mendorong subjek lain ke dalam objetivikasi subjek, ketika sang objek (lawan) tenggelam dalam nilai-nilai ke-aku-an subjek-narsistik—artinya manusia-objek telah termarjinalkan. Maka, kita bisa melihat keberhasilannya adalah ketika hubungan mereka (dua orang yang katanya mencintai) menjadi relasi subordinatif. Sikap marginalisasi inilah yang tidak akan menjadikan manusia sampai pada optimalnya, karena akan terus dibatasi oleh sang-Subjek yang superior dalam relasinya. Tentu, proyek hegemoni subjek yang akan terus membatasi kebebasan sang subjek-yang-tenggelam-pada-objektivikasi. Mungkin dengan menggunakan istilahnya Sartre, adalah bentuk konflik, bahwa cinta juga paradoks yang menjanjikan kebebasan, tetapi kenyataannya cinta hanya sebuah selubung (topeng) yang menutupi sebenar dari ‘hasrat menguasai'’ seseorang.

Kata cinta, adalah wahyu Ilahi yang seakan-akan suci, tidak terbantah dan ‘mendosakan’ ketika ia terhina: “Apakah kamu tidak mencintaiku?” Adalah perkataan yang mampu meragukan keyakinan sang manusia optimal, dan ia merosot menjadi manusia ‘apollon’ yang loyo; Schopenhauer, yang dia lebih memilih hidup akademiknya, ia meragukannya sendiri ketika bapaknya sendiri menekannya untuk menjadi pedagang, walaupun kematian bapaknya akan menjadi titik intelektualnya. Seperti halnya ketika seorang yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk riset dan ilmu pengetahuan, ia memilih menikah dan pada akhirnya ia memiliki anak. Episteme, cinta sebagai wahyu Ilahi sebagai alat meragukan, “apakah kamu lebih mencintai pekerjaanmu dari pada anak dan istri/suamimu?” Misal adalah Sokrates, ketika ia sedang bercengkerama dengan temannya, istrinya datang dengan membawa ember berisi air. Sang istri lantas menyiramkan air itu ke Sokrates sebagai bentuk protesnya kepada Sokrates, karena Sokrates lebih memilih berjalan dan berkelana dengan dialog-sokratiknya. Di sinilah, cinta menjadi penghambat manusia untuk optimal.

Namun, mungkin perkiraan saya juga salah. Sebab, cinta mungkin hanya lah bentuk reaksi kimiawi otak, ketika otak secara alami mengeluarkan dopaminnya. Namun, dalam kasus lain, dopamin yang memenuhi otak akan membuat otak (striatum) malah mengalami penyempitan. Dalam kasus ini adalah ketika seseorang menonton konten porno, dopamin akan menyebabkan otak (striatum) mengalami penyempitan (gangguan). Begitu juga harusnya dengan cinta. Ketika cinta lahir, dan dia mampu bertahan cukup lama, coba bayangkan, rusaknya (striatum) otak karena terus terandam dengan dopamin? Maka cinta bukan hanya konflik dan paradoks sebagai sebuah relasi-komunian, tetapi secara kimiawi dia (cinta) benar-benar akan merusak otak (sebagaimana pornografi KATANYA merusak otak). Itulah ketika Nietzsche mengatakan, bahwa pernikahan menyebabkan manusia tidak optimal, karena dia sudah merusak otaknya sendiri—dengan cinta. “teks ini adalah penolakan saya atas pragmatisme”


Komentar