Post-Modernisme Menuju Dekonstruksi
oleh: Muhammad Fathun Niam
“Jika teks adalah ‘pharmakon', sebuah racun karena sikap rigor-mortisnya. Begitu kakunya dia. Maka dengan demikian, ia (teks) tak memerlukan penegasan apa pun, betapa aku mencintaimu.”
(Aku~sang Dionysos)
Teks, sebagai 'pharmakon' (obat), seperti ucapan Thot. Teks, sebagai sebuah catatan-catatan akan membantu kita untuk menyimpan ingatan-ingatan yang tidak mungkin setiap saat bisa diandalkan. Dalam artian, kita tidak mampu mengingat sekian banyak informasi, apalagi dengan detailnya. Maka, catatan-tertulis itu, membawa manusia pada ingatan (mneme). Dengan ingatan itu, sebuah hasil kerja teks (mencatat) membawa manusia pada kebijaksanaan (kebermanfaatan).
Sementara Thamus malah menganggap teks (tulisan) adalah kebodohan, sebuah kekejian, karena akan melepaskan manusia dari keberingatannya (mnemonikoterous [kemampuan ingatan]). Inilah ketika teks yang tadinya adalah ‘obat’ (pharmakon) menjadi racun (pharmakon). Teks, hanyalah catatan-catatan mengingat, bukan subtansi dari informasi, dia selalu dipinggir (marginal) sebagai ‘reminding’ (mengingat). Karena ini, catatan—menulis—hanya akan menjatuhkan manusia pada kelupaannya, karena dekadensi ingatan, sebab manusia akan mengandalkan catatan-catatan.
Thamus menganggap, tulisan hanyalah penampakan (phenomenon)—dalam menampakkan dirinya (phainesthai) sebagai penampakan—kebijaksanaan. Dia bukan gambar (penampakan) dari kebenaran, atau kebijaksanaan itu sendiri. Jadi, untuk apa buku-buku yang terpampang-terpajang rapi di lobi-lobi fakultas, kantor, bahkan yang terjejer rapi di rak ruang tamu yang berjejer dengan jilidannya sendiri (misal tafsir At-Tabarī yang berjilid-jilid disusun dari jilid satu hingga lima belas). Apakah penampakan jejeran-rapi buku-buku itu sebagai kebijaksanaan? Disukai, dibaca dan selesai atau hampir-selesai. Atau hanya untuk menaruh kesan ‘seolah-olah’? Yakni “seolah-oleh ‘aku pintar’ karena aku punya banyak buku yang terpampang di sana?”.
Suatu hari, ketika perjalanan pulang dari Jeddah ke Surabaya di bulan Februari tahun 2023, terbersit sebuah ide untuk ‘mengkakukan’ sebuah diskusi di tahun 2022 bersama teman saya waktu itu dalam pembacaan tema ‘eros sebagai kebutuhan instingtif menyebalkan’ dengan menjadikannya sebagai sebuah tulisan. Entah, saya baru menulis ide itu dalam bis sewaktu perjalanan dari Surabaya (bandara) ke rumah. Sayang, tulisan itu ‘mandek’ setelah sampai di kota-rumah sampai akhirnya bulan Oktober mulai saya lanjutkan, dan tulisan itu selesai.
Masalahnya adalah, pembacaan saya tentang tema itu terus berjalan dari Februari sampai waktu saya putuskan untuk menyelesaikan tulisan tersebut, yang saya beri judul: “[Menuju Eksistensialisme]: Art of Loving”. Artinya, saya terus mengulang tema itu dalam bentuk ingatan. Namun, setelah saya selesai menulisnya, saya bahkan tak-sudi membicarakan tema itu bahkan dalam bentuk ingatan, karena ujung ujungnya, jika ada teman yang bertanya tentang “positioning” saya soal cinta hanya akan saya alihkan agar dia membaca langsung tulisan saya. Inilah, ketika teks adalah racun (phermakon), bukan hanya melemahkan ingatan, karena akan mengandalkan teks (tulis), tapi dengan itu juga membuat kita malas karena memiliki anggapan ‘aku sudah menulisnya’.
Di sisi lain, teks-tulisan bersikap rigor (kaku). Dia (teks-tulisan) dianggap ‘helpless’, ‘orphaned’, ‘lifeless’. Tulisan dianggap yatim. Ia tak mampu membela dirinya sendiri, bahkan tidak memiliki sesiapa yang siap membelanya, bahkan sang athor-nya, yakni sebagai bapaknya sendiri ketika teks itu dikritik, diejek, dsb. Teks bagaikan anak haram yang tak-diakui oleh orang tuanya. Tulisan akan mati, dan ‘mandek’. Teks mati itulah yang saya sebut rigor, kaku. Ketika tulisan itu ditulis, maka tulisan itu diam tak bisa ke mana-mana dan tak bisa berbuat apa-apa atas dirinya sendirk. Di mana teks, hanya akan menampilkan apa yang tertulis, dan dia akan dipahami apa adanya, sebab ia diam ketika mendapat pertanyaan.
Tulisan tidak mampu menjelaskan sesuatu-apa yang coba ia jelaskan. Maksudnya, kemandekan itu karena teks tidak bersikap fleksibel, apa yang kita baca, tentu adalah apa yang tertulis, sementara bagaimana kita memahaminya pada akhirnya akan terbatasi oleh term-term yang digunakan dalam tulisan tersebut. Misal dalam penggunaan istilah-istilah tertentu seperti: Cite, jannah (جنّة). Kata-kata itu hanya akan terbatas, bahwa yang sedang dibicarakan adalah cite, atau yang sedang dibicarakan adalah surga karena menggunakan kata jannah (جنّة), sementara bisa jadi author-nya memahami atau memaksudkan teks: misal ‘jannah’ sebagai “kebun” bukan surga. Teks, tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya dia bicarakan, dia tidak mampu menyesuaikan dirinya terhadap pra-pemahaman pembacanya. Bisa jadi, pembacanya adalah pemula yang tidak terbiasa berbicara misal tentang filsafat, jadinya pembaca tidak bisa memahami maksud penulisnya.
Sementara lisan bagaikan anak emas yang diakui oleh orang tuanya sendiri. Misal kita melihat pidato atau sebuah ceramah. Ketika kita melihat, sang presenter ceramah atau berpidato dengan membawa dan membaca teks, kita sudah menaruh ‘prejudice’ (prasangka-prasangka) kepada diri pembicara. Sementara, apabila kita melihat seorang pembicara berbicara dengan lantang tanpa teks, kita akan berdecak kagum: “wah hebat sekali dia”; “berani sekali dia”; “luar biasa, pasti pengetahuannya sangat luas”. Di sisi lain, dalam transmisi oral (lisan), informasi akan fleksibel. Lisan mampu membela dirinya, dia bagaikan anak yang didapmingi ayahnya, dan akan dibela habis-habisan.
Dalam transmisi oral (lisan), informasi yang disampaikan pasti dianggap lebih performatif, dan dianggap lebih legit. Dalam artian, apa yang dibicarakan oleh narasumber dapat dikritisi dan akan langsung dibela (ditanggapi)—di luar dia mati-matian membela teks-oral yang dia bicarakan atau menerima kritik itu bahwa ia salah, ketika memang ada yang salah dalam penggunaan kata-nya, dan dia akan merevisi ucapannya. Maka, transmisi oral atau lisan akan lebih hidup, dinamis (lifeness, helpful) ketimbang teks tulisan yang mandek, dan diam ketika ditanya. Bahkan teks-tulisan berkesan tidak memiliki upaya memahamkan pembaca. Berbeda dengan lisan, pengetahuan yang disampaikan fleksibel dengan menggunakan variasi term yang memudahkan pendengar karena pembicara berusaha menyesuaikan lawan bicaranya (audiens) agar pendengar benar-benar menangkap apa yang sebenarnya sedang ia bicarakan, mungkin juga dalam penggunaan term-term yang lebih variatif, serta pendengar dapat meng-cross-check pemahamannya ke narasumber, apakah yang ia tangkap sudah sesuai dengan maksud pembicara atau belum.
Maka, tentu dengan mengakui bahwa teks bersikap rigor, kaku dan statis, mandek (stagnan), maka tentu teks tidak memerlukan penegasan-penegasan tertentu: misal dalam ‘confess’ seorang laki-laki yang menyatakan perasaannya pada gadis yang dia sukai, ia menulis sebuah surat, atau sebuah surel: “Aku sungguh mencintaimu...”; atau dalam satu teks lain yang penulis tulis dalam satu surat lain: “….. bagaimana pun, jika itu adanya. Sampai ujung hidupmu, bahkan dalam sekaratmu pun, engkau tidak akan pernah tahu betapa aku menyukai dan mencintaimu...” Tentu, tak perlu lagi ditanya, tak perlu ditegaskan lagi, dengan bertanya: “Apakah benar apa yang kamu tulis, jika kamu suka dengan diriku?” Tentu tanpa pertanyaan itu, sudah jelas bahwa “jika aku memang suka kepadamu”.
Tentu, teks di atas tidak selesai dengan kenyataan kekuatan lisan atas tulisan. Sebagaimana Derrida akan melakukan dekonstruksi. Derrida melihat persepsi semacam ini bersifat heirarkis-oposisi-biner. Dalam sebuah relasi-teks pasangan-kata-berlawanan: superior/inferior; eksternal/internal (bahkan: ekstrover/introvert); maskulin/feminin, selalu memiliki hubungan yang timpang (oposisi-biner). Dalam term pertama, pasti lebih prioritas dari pada term selanjutnya yang termarginalkan atau terpinggirkan: dalam kata ekstrover/introvert, di mana orang ekstrovet pasti tidak memiliki ‘prejudice’ atau prasangka-prasangka negatif, sementara orang introvert sudah memiliki kesan: anaknya ‘mbosenin’, “ngga asik,” ‘pendiem’, dll.
Maka dari itu, Derrida melakukan dekonstruksi terhadap cara pandang atau persepsi heirarkis-oposisi biner. Dalam satu kasusnya, Derrida malah menampakkan keterbalikan dalam relasi kata pasangan berlawanan: lisan/tulisan. Derrida menganggap, bahwa lisan memiliki kekurangannya, yang sebenarnya bisa jadi tidak disadari pembicara, sementara tulisan malah memberikan kebebasan kepada pembaca, dengan membiarkan persepsi-bebas pembaca memahami teks. Maka, tulisan sebenarnya malah lebih hidup, lebih dinamis ketimbang lisan yang secara performatif malah stagnan, mandek, sebab sudah dibatasi secara performatif, bahwa apa yang sedang ia bicarakan adalah—misal: A, bukan B. Artinya, ketika kita membaca sebuah buku, atau bahkan novel, ketika ia berbentuk tulisan, imajinasi kita begitu hidup. Namun, ketika novel itu difilmkan, kita malah merasa, imajinasi kita seakan dihancurkan begitu saja.

Komentar
Posting Komentar