Absurditas: Kenapa Tidak Dijalani Saja?
"Bagaimana pun, Meursault hanyalah karakter ideal yang terpenjara selamanya dalam ideal Camus" (Aku, manusia Altruis).
Ketika seluruh ‘masalah’ adalah hidup, maka ya cukup dijalani. Seperti Denji Chainsaw-Man misal: ditinggali hutang oleh orang tuannya, mata tinggal satu, ginjal tinggal satu, testis tinggal satu, tetapi yang dia pikir hanyalah hidup. Apa pun yang terjadi, itu bagian dari hidup. Misal kamu punya pujaan hati, ketika kamu harus menyatakan perasaanmu, dan perasaanmu ditolak, harusnya sikapmu membiarkan itu terjadi tanpa rasa sedih, tanpa meninggalkan banyak pertanyaan, apalagi sampai sakit hati, dan berujung balas dendam dengan membunuhnya dan menjadi menderita.
Misal seperti Meursault dalam “L’Etranger”, ia hanyalah manusia yang sedang menjalani hidup. Dia sedang—mungkin juga—menikmati hidup. Apakah dunia menjadi urusannya? Tentu saja tidak, karena—mungkin—good will-nya adalah menjalani hidup, sebab dia— dan ‘kita semua’ sedang dikutuk untuk—hidup. Perkara dia hampir bangkrut, hampir mati, hampir kehilangan bagian tubuhnya, kehilangan cinta ya semua itu bagian hidup yang terjadi. Lantas, buat apa dipertanyakan? Saya kira, Meursault juga manusia yang sebenarnya fatalis dengan membiarkan dunia bekerja begitu saja. Kenapa harus sedih? Kenapa harus marah? Bahkan kenapa harus bahagia?
Ketika Meursault tahu ibunya meninggal, dia hanya berpikir good wil-nya adalah bekerja. Ia memang menjenguknya, tapi di akhir pertemuannya, setelah ibunya dikubur, Ia memutuskan untuk kembali bekerja. Kenapa harus berkabung? Kenapa harus sedih? Suatu hari, ketika Meursault dan kawan-kawannya berlibur, ada temannya diganggu oleh beberapa orang Arab. Dengan santai, tanpa adanya perasaan marah, bahagia atau bagaimana, Meursault mengambil pistol, dan menembak salah satu orang Arab di sana. Meursault setidaknya tahu pertanyaan besarnya, “bagaimana rasa membunuh orang?” Dan hari ini dia telah merasakannya. Apakah senang? Kenapa harus senang? Bukannya itu hidup dan itu bagian dari hidup?
Apakah kita mendengar cacian Denji kepada hidup yang diberikan kepadanya? Tidak, kan? Sebagaimana juga Sisifus. Terserah mau menyeret Sisifus ke dalam Tartarus karena apa, yang jelas dia dikutuk oleh Zeus untuk terus menggendong batu besar menaiki gunung, dan ia akan melihat batu itu menggelinding lagi ke bawah, dan Sisifus akan mengejarnya, dan menggendongnya kembali ke atas. Sisifus akan terus melakukan itu selamanya. Apakah dia manusia malang? Kenapa kamu harus menyebutnya demikian? Sementara Sisifus menikmati hidupnya, setidaknya secara absurd. Dia menyadari keabsurdan itu. Karena dia menyadarinya, maka kenapa dia harus menggerutu?
Apakah hidup pantas untuk terus dihardik? Tumbuh dalam nafas agama mungkin membuat kita selalu sinis dengan banyak hal di luar sana; saya menyadari, fatalisme malah membuat kita gampang menyalahkan Tuhan atas apa yang Dia berikan. Seorang anak SMA, sang pejuang SBMPTN, ia rajin shalat malam, shalat dhuha, rajin puasa sunah. Hingga ketika hari itu datang, dia malah menghina-hina Tuhan-nya, dan mempertanyakan seluruh amalannya. Ia demikian, ketika ia berpikir seluruh upayanya dianggap nihil oleh Tuhan, dan seakan Tuhan meninggalkan dia. Kenapa? Karena kita sebagai seorang beragama, sering mendengar doktrin yang saya kira keliru. “Jika kamu sholat malam, doamu pasti dikabulkan, karena bagaikan anak panah yang mengenai sasaran.” Jadi, setelah seorang tahu, bahwa doanya seakan tidak dikabulkan ia akan kecewa.
Bahkan, bunuh diri menjadi jawabannya. Beberapa waktu lalu, seorang pemuda ditemukan gantung diri karena putus asa dengan skripsinya. Seorang bapak yang gantung diri karena tidak kuat menafkahi keluarganya. Seorang bapak bunuh diri karena banyak hutang untuk pernikahan putrinya. Seorang pemuda membunuh pacarnya karena menolak perasaannya. Seorang pemuda terjun dari jembatan karena seorang perempuan. Kenapa? Bahkan sang nabi, Prometheus yang terus mengharap kematian dalam rangkaian penyiksaannya. Apakah demikian menghadapi hidup?
Absurditas, itulah hidup! Mungkin kita tidak terlalu kenal Albert Camus bersama Sisifus dan Meursault-nya. Mungkin karena buku-buku itu terlalu tua bagi kita. Namun, kita mungkin kenal dengan nama Mark Manson. Kita mengenalnya mungkin dari buku “The Subtle Art of Not Giving a Fuck”-nya. Ketika dalam salah satu narasinya, ia tidak peduli dengan pengutang itu. Ia bahkan mau membunuhnya jika perlu. Atau V. Frankl. Bukankah dalam menjalani hidup kita akan mengalami fase apatis? Ketidak-pedulian itu, adalah apa yang sedang kita bicarakan.
Lantas, mungkin seorang bijak dari para kerumunan bertanya. "Kenapa kamu begitu?" Misal ketika kamu ditolak oleh pujaan hatimu, mungkin sampai kamu dipermalukan, dan keesokan harinya, kamu pergi ke sekolah, dan mencoba menyatakan perasaanmu kepada orang lain. Lantas seorang teman bertanya. "Kenapa kamu bisa begitu?" Kamu mungkin yang sudah ada dalam kesadaran, kamu malah balik bertanya. "Bisa bagaimana?" Kamu berpikir, apa yang kamu lakukan adalah nilai yang harusnya wajar. Ketika seorang ditolak, ya kenapa tidak boleh mencari yang lain?
Saya akan membawa satu cerita yang distingtif. Suatu hari, ketika di rumah Layla ada sebuah acara, dan mengadakan perjamuan, Qays tentu tidak ingin meninggalkan kesempatan itu. Hingga ia tahu, Layla-lah yang sedang menyajikan makanan, dan Layla menjadi satu di antara mereka yang menuangkan makanan. Qays ikut mengantri. Hingga gilirannya, ia berhadapan dengan Layla, sang pujaan hati. Tanpa diduga oleh para tamu, Layla membanting piring Qays hingga pecah. Di saat itulah Qays sangat bahagia. Bahkan Qays lari kembali mengantri. Ketika semua orang menertawakan Qays, salah satu orang bertanya. “Qays, kenapa kamu malah senang? Bukankah Layla sudah menghinamu? Layla membanting piringmu di depan kita semua, kenapa kamu tidak sedih?” Qays menjawab. “Bukankah kamu melihat sendiri? Layla ingin aku mengantri lagi. Dengan pecahnya piringku, aku bisa mengantri lagi, dan aku pasti akan berhadapan lagi dengan Layla.”
Qays adalah ‘The Stranger’ dialah orang asing itu. Itulah yang sedang dibicarakan Camus. Ketika kita menyadari hidup itu absurd, ketika hidup tidak memberi kejelasan untuk apa kita hidup, dan mengharuskan kita terus mencari hidup, walaupun apa yang saya katakan adalah apa yang diinginkan Nietzsche, agar kita nihilis. Pasca kematian Tuhan, kita menjadi manusia bebas. Lantas, kita telah kehilangan arah. Karena kehilangan arah, kita harus memulai membuat arah baru yang lebih autentik. Ketika Qays atau pun Meursault, ketika ia dipandang aneh oleh kerumunan, dipandang tidak normal oleh kebiasaan kerumunan, itulah ketika orang telah menjadi asing. Ia telah keluar dan asing di antara mereka yang telah terbiasa.
Namun, pencarian makna itu pada akhirnya hanya akan membawa kita pada kesia-siaan. Dari pada berusaha memaknai hidup, mencari makna hidup, mengapa kita tidak mencoba menjalaninya? Seperti Sisifus. Alih-alih dia menginginkan kematian seperti Prometheus, ia lebih memilih menjalaninya. Sebagaimana kata Camus, “kenapa kota tidak menganggap bahwa Sisifus bahagia?” Jalani hidup seperti apa adanya. Seperti kata salah satu dosen saya dulu, “maka labeli-lah hidupmu dengan apa yang kamu suka.” Dari pada kita bersedih ketika ketinggalan kereta, kenapa kita tidak berpikir suatu yang bisa membahagiakan kita? “Yah, ketinggalan kereta. Waktu keberangkatan selanjutnya agak lama, sih, oh iya, kenapa ngga buat jalan-jalan aja sambil nunggu jadwal selanjutnya?” kenapa kita tidak berpikir. “Ah, mending buat beli es krim, kayaknya udah lama ngga makan es krim.” Dari rentetan itu, kenapa kita memilih sedih? Marah? Sementara, itu sudah terjadi.
Hidup itu absurd, hidup itu tidak jelas. Kita tidak tahu masa depan, kita tidak tahu sesuatu di luar kita. Kenapa tidak mencoba menjalaninya saja? Seperti Schopenhauer. Sejatinya hidup adalah penderitaan. Kutukan entah hidup sebagai kutukan atau kutukan yang dialami Sisifus, Prometheus. Ketika manusia kerumunan melihat mereka sebagai kutukan, sebagai penderitaan ketika Sisifus harus mengangkat batu ke atas gunung. Kenapa kita tidak membayangkan dia bahagia. Bahkan Sisifus merasa hidup. Kemudian Sisifus akan melihat batu itu menggelinding ke bawah, ia lantas mengejarnya tanpa beban. Inilah ketika penderitaan itu mereda untuk sesaat. Dan Sang Raja Bijak akan mengangkat batunya kembali, berulang untuk selamanya. Bukannya demikian juga hidup? Dia adalah agony, tetapi juga ecstasy dalam waktu yang bersamaan.
.jpg)
sangat bermanfaat
BalasHapus