[Menuju Eksistensialisme]: “Membunuh tuhan Sebagai cara Mencapai Manusia yang Manusiawi”
“The death of dogma, is the birth of morality.” (Immanuel Kant).
Kita adalah budak yang tumbuh subur. Melalui Sekolah—kebijakan dan kekuasaan dengan 'wacana' telah—mengobyekkan kita. Melalui kebijakan-kebijakan, dan aturan-aturan, mereka mendorong kita terjun bebas ke dalam jurang. Di sana 'apollonian-apollonian' terus berkembang biak, baik sebagai wujud yang materialistik maupun menjelma ke dalam idea abadi. Hingga apollonian mendobrak rumah-rumah manusia kecil.
Apollonian, kini telah merasuki kehidupan keluarga. Idea apollonian telah menciptakan relasi kuasa yang lebih kecil, yang kita sebut keluarga, dan kini anak adalah budak; anak sebagai siswa telah terobyekkan, kehilangan keautentikannya sebagai manusia yang manusiawi. Anak itu, terus menjadi tikus-tikus bodoh tak berakal. Melalui kebijakan yang disebut apa itu 'kurikulum', siswa tidak lagi dilihat sebagai “manusia” sebagaimana warta Marcel, “kita hidup di dunia yang rusak (broken world).” Melainkan tikus uji coba. Kurikulum dijejalkan ke dalam mulut siswa. Bahkan sekolah telah mencekik setiap siswa agar mau menjadi prajurit apollonian.
Sementara anak sebagai anak telah dipojokkan oleh bapak-ibunya menjadi budak-budak mereka. Sebuah warta dari Arthur Schopenhauer, kehendak ‘bereproduksi’ tidak lain adalah manifestasi dari keinginan narsistik-egois agar manusia—dalam hal ini orang tua—tetap hidup dan abadi. Menurutnya, kesadaran manusia akan keterbatasan mereka—mortality—akan melahirkan ‘cara’—kata Nietzsche sebagai ‘why’ (kenapa) atau tujuan—bagaimana mereka bisa terus menjadi manusia eksistensi. Maka, manusia bereproduksi dan memaksa anak menjadi diri mereka.
Dalam bahasa Erich Fromm, “cinta kebapakan adalah cinta yang paling bersyarat, katanya: “Aku mencintaimu ketika kamu menjadi apa yang aku mau.” Tidak sedikit seorang anak bertengkar dengan bapaknya hanya persoalan ‘profesi’ atau bahkan persoalan sekolah: Seorang dionysian bertengkar dengan bapaknya dan keluar dari rumah hanya karena bapaknya ingin si anak menjadi PNS, sementara sang dionysian yang ‘sadar’ lebih menginginkan menjadi seorang ‘artist’ (seniman).
Manusia, telah diobyekkan sebagai seorang siswa dan diobyekkan sebagai seorang ‘anak’. Mereka tidak lagi memiliki keautentikan, karena mereka telah menghamba pada manusia: menuhankan kaum borjuis—manusia berkuasa (kekuasaan) dan menuhankan orang tua mereka, dalam keluarga, orang tua adalah superior, sebagai subyek—yang telah menekan anak mereka, dan menjadi manusia inferior—sebagai obyek yang telah kehilangan kemanusiaannya sebagai manusia otonomi dan manusia yang manusia. Bagai seorang beriman keluar dari dogma—aturan yang rigid—dan menjadi manusia berdosa, atau bahkan murtad. Anak, dan siswa akan terevaluasi ketika mereka dianggap keluar dari aturan-aturan tersebut.
Mengingatkan saya kepada sebuah warta manusia sinis, Jean-Paul Sartre; “apakah sikap mengobyekkan orang lain adalah tindakan yang manusiawi?” Jawabannya adalah ‘Tidak.’ karena dengan mengobyekkan manusia, artinya melepas keotonoman manusia. Bahkan dengan alasan ‘cinta’ sekalipun. Pertanyaan lain, “apakah cinta se-menjijikkan itu?” Bagaimana bisa cinta yang katanya ‘membebaskan’ malah mengurung manusia pada obyektivikasi-narsistik (egoisme atau mementingkan diri sang subyek)? Membelenggu manusia dalam ‘relasi kuasa’ yang kejam semacam ini? Seakan-akan seorang siswa tidak berhak ikut andil dalam membuat/menyusun ekosistemnya sendiri—yakni dalam menyusun kurikulum. Dan seorang anak tidak berhak memilih jalannya serta harus mengikuti perintah orang tua.
Seorang anak dianggap bodoh, dan menganggap warta orang tua lebih alim (mengetahui). Bukannya membodohi orang adalah tindakan immoral (keji)? Dalam wartanya, Jean-Paul Sartre menghina cinta, “cinta adalah konflik.” Menurutnya, Cinta hanyalah ‘arena,’ tempat, manusia yang subyek saling mengobjekkan satu sama lain.
Sementara, upaya mengobjekkan orang lain adalah sikap dehumanis, sikap yang immoral, karena telah melucuti kemerdekaan, keautentikan sang manusia. Sekali lagi, ”apakah cinta seindah itu?” Jika pun guru, orang tua bersembunyi di balik kata 'cinta' dan melanjutkan kesalahannya dengan membela diri di balik kata ‘durhaka’, demikian adalah sikap dehumanis, dimana mereka telah melupakan anak yang manusiawi tersebut. Sungguh menyedihkan para apollonian, seorang yang telah ter-dehumanisasikan dan harus menerima dosa, sebuah beban yang harus ditanggung.
Oleh karenanya, jika dionysian, übermanch, tuan, ingin lahir, maka sang apollonian harus mau membunuh tuhan. Berdiri dan memberontak, dengan menginjak-injak moral yang non-moral, dan menumbuhkannya sebagai moral yang moral. Merobek-robek kitab-kitab suci dogma. Sebagaimana warta Kant. “The death of dogma, is the birth of morality.” Jika moralitas ingin lahir, seorang harus membunuh dogam-dogma yang telah membelenggu manusia dalam kurungannya. Membuka ikatan kerumunan, lepas dari ikatan-ikatan, dan menjadi manusia yang 'berani', atau dalam warta Nietzsche sebagai manusia yang, ‘IYA.’
Manusia telah menjadi budak. Manusia hari ini hanyalah kerumunan bermoral kawanan. Manusia yang berjalan dan bertindak atas perintah, menjadi budak yang terus diseret dengan kuda-kuda Troya. Manusia-manusia yang bergerak dengan pecut-pecut yang selalu mendarat di punggung mereka. Maka, apakah sekolah dan ekosistem keluarga—orang tua—telah ikut andil dalam membentuk manusia-manusia budak ini? Jika kita mau menelan kepahitan warta di depan, maka pengetahuan dan orang tua telah menumbuhkan seorang abdi-dalem, menumbuhkan anak mereka sebagai budak, sebagai kawanan.
Manusia, secara historis tumbuh dalam ekosistem feodal-patriarkis, memunculkan kelas, memunculkan kaum proletar dan borjuis yang kuasa (powerness), dan lahirlah hati-hati (hearts) inferior dan kepala-kepala superior. Baik keluarga, pengetahuan, dan kekuasaan—pemerintah—terlebih semua itu telah tersosialisasinya dengan baik melalui kebijakan yang lebih agamis, lebih spirituil, yakni dalam doktrin para paroki dan ustadz, telah menumbuh suburkan manusia bermoral kawanan, manusia penakut, manusia yang memilih selamat, dan manusia-manusia yang berdamai dengan diam dan bersembunyi di balik benteng-bentengnya.
Oleh karenanya, Nietzsche menyuruh kita agar berdiri sebagai manusia yang bermoral tuan. Sebagai manusia yang IYA’, sebagai manusia yang berani dan bermoral. Bukan lagi manusia yang dogmatis, bukan manusia yang terbelenggu. Dengan demikian, moral itu akan menunjukkan jalan bagi manusia bermoral kepada manusia übermanch dan menjadi übermensch. Manusia-manusia otonom ini lahir, dan mendobrak nilai-nilai konstruktif yang menyebalkan. Bahkan nilai-nilai tersebut telah mencekik manusia sehingga ia menjadi manusia lemah.
Dan kini, seorang anak apollonian di hadapan pembaca saai ini, telah tumbuh menjadi anak apollonian setengah dionysian. Sebaagiman warta Bu Nur Rofi’ah, “Hanyalah Tuhan yang boleh menghambakan manusia.” Karena sejatinya manusia bukanlah tuhan bagi manusia lain, bahkan tuhan-tuhan yang disusun segenap manusia dalam apa yang disebut ‘moral normatif’ yang akan kita kenal dengan sopan santun dan tata krama.
Sebab, sebagian moral-moral itu dehumanis, seperti seorang raja yang melarang rakyat jelata menyentuh keluarganya (bangsawan), yang kemudian berakhir melihat anaknya tenggelam, karena manusia-manusia apollonian di sana. Coba saja, jika ada dionysian yang pemberani dan berkata ‘IYA’. Dengan gagah berani membunuh dogma (aturan rigid tersebut), ia melompat ke dalam sungai dan memegang tangan sang putri. Walaupun pada akhirnya sang dionysian mati di tiang gantung, kita akan melihat sang übermanch terlahir dan mati sebagai superman (übermanch) di tangan moral yang immoral—blameworthy/keji—lagi dehumanis.
Entah, hati saya sendiri, sedari tadi terus meronta-ronta, saya merasa masih belum bisa mengungkapkan keresahan saya sendiri. Dengan demikian saya akhiri tulisan ini dengan segenap penjelasan mengenai warta di atas: seorang teman SMA yang saya kenal, setiap ia masuk kelas, pakaian dia selalu keluar, sementara seragam sekolah: baju harus dimasukkan ke dalam celana—dijepit di pinggang. Namun, setiap kali ada guru yang menyuruhnya memasikkan pakaiannya, ia akan mengeluarkan pakaiannya lagi di saat lain. Teman saya yang lain, dia tidak pernah memasukkan bajunya, yang ia lakukan hanyalah melipat baju bagian bawah, seakan-akan terlihat bajunya dimasukkan ke dalam celana. Dan teman saya itulah gambaran Dionysian, seorang übermanch.
Secara sederhana, moral tuan adalah manusia dionysian. Manusia dengan unsur yang bebas dan merdeka. Manusia otonom, manusia yang autentik, manusia yang subyek. Sementara budak, adalah manusia dengan moral kawanan, atau akan disebut Nietzsche sebagai apollonian. Manusia yang obyek, manusia yang merasa dirinya inferior, manusia lemah, bagaikan hewan ternak yang tidak memiliki kemampuan untuk berjalan sendiri, manusia yang kehilangan keautentikannya dan keotonomannya. Walaupun, Nietzsche mengatakan manusia budak harus ada, bahkan Aristoteles. Jika pembaca perhatikan dengan baik, saya sendiri mengatakan, manusia budak harus ada, agar sebuah organisme berjalan dengan baik dan hidup.
Sebuah penelitian yang berbicara perihal fenomena
perselingkuhan mengatakan: jika perselingkuhan banyak dilakukan oleh perempuan,
karena perempuan adalah obyek yang kehilangan otonomnya. Perempuan yang obyek
ini kehilangan keberaniannya, ia tak mampu mengungkapkan keinginannya,
alih-alih mengungkapkan keinginanya perempian lebih menunggu laki-laki yang
bisa menggaulinya, dari pada meminta suaminya untuk menggaulinya. Itulah sebab,
kenapa perempuan lebih banyak menunggu 'dilamar' lelaki ketimbang dia yang
datang dan meminta untuk dilamar atau menyatakan perasaannya. Demikian itu
adalah implikasi dari pendidikan dan ekosistem feodal-patriarkis.

Komentar
Posting Komentar