[Kenapa Harus Filsafat?]: "Anomali Phenomenon: Indigo dan Ustad Halusinatif (Membincangkan Teori Kebenaran Korespondensi)"

 


A. Teori Kebenaran

Kita harus pahami, kebenaran dalam filsafat tidak semata-mata harus diruntuhkan dengan argumen belakangan, atau juga tidak harus selesai pada taraf 'kesaksian' atau sebuah fakta obyektif/fenomena yang bisa ditangkap panca indra. Sebab, dengan melihat sebuah kenyataan, kebenaran-kebenaran yang diperbincangkan dalam filsafat menempati perspektifnya masing-masing. Dalam filsafat, kebenaran dapat diambil atau memiliki setidaknya lima bentuk: korespondensi yang akan kita bicarakan; koherensi (sebagai upaya kritis atas teori kebenaran Korespondensi); pragmatis; performatif; konsensus.

Sebelum jauh, penulis akan menguraikan mengenai apa itu pengetahuan dan apa itu sains: pertama, apa itu pengetahuan (knowledge)? Pengetahuan, sebagaimana warta Rene Descartes, pengetahuan adalah ilmu yang didapat dari pengalaman (experience) atau dalam dimensi Islam disebut pengetahuan ahwal—sementara yang lain adalah: pengetahuan asrar dan aql. Sementara sains, adalah sebuah aksioma atau mungkin hipotesa yang kemudian melalui kerja empiris melahirkan ilmu. Sebagaimana kerja positive Comte, dimana "yang 'ada' belum disebut 'ada' jika tidak melalui tahap pengujian". Artinya, kebenaran disebut benar apabila ia teruji, tidak cukup dengan panca indra.

Hal di atas senada dengam Plato dan Rene Descartes, dimana pengetahuan ilmiah yang sejati adalah bersifat ‘apriori’. Dimana, misal adalah Descartes yang beranggapan, bahwa rekaman indrawi acap kali tidak menunjukkan hakikat sebuah obyek yang apa adanya. Dimana, rekaman indrawi juga terkesan berubah-ubah. Mungkin, penulis bisa gambarkan dengan kata ‘fakta’. Sementara, “apa itu fakta?” Jika kita mencoba menengok Nietzsche, ia mengatakan bahwa fakta itu tidak ada, “there are no facts, only interpretation”. Dengan kata lain, bahwa ‘fakta’ tidak lebih dari apa yang disebut prespektif. Sebenarnya, ketika kita melakukan pembacaan nihilisme , di sana kita bisa melihat bagaimana Nietzsche mengabaikan sebuah fakta obyektif, ia mengatakan bahwa yang ada adalah prespektif.

Sebagai contoh: misal, ketika kamu berkunjung ke rumah temanmu, kemudian kamu disuguhi teh manis. Skenario ini bisa menggambarkan dua hal di atas, tentang ahwal dan sains (ilmiah). Pertama, kamu bisa mengatakan bahwa teh itu manis dari kamu mencobanya/meminum teh tersebut. Inilah bentuk ahwal atau sebuah pengalaman (pengetahuan); sementara, kamu bisa saja tahu teh itu manis dengan melihat residu atau melihat adanya endapan gula kristal di dalamnya. Oleh karenanya, kamu menghasilkan sebuah hipotesa, bahwa teh yang disuguhkan itu adalah teh manis. Itulah yang disebut pengetahuan 'apriori’.

Namun, bisa saja apa yang kamu kirakan ternyata salah. Mungkin hipotesamu memiliki kebenaran, yakni "dengan adanya glukosa, maka minuman itu terasa manis". Akan tetapi, mungkin kamu melewatkan variabel tertentu. Hal ini bisa saja terjadi, ketika kamu minum ternyata teh teraebut tidak manis—hanya ada rasa teh dan pait. Hal ini terjadi karena glukosa tersebut tidak larut.

Dari sini, kamu bisa memberi kesimpulan, bahwa teh tersebut tidak manis, karena gula di dalamnya belum larut ketika diminum. Inilah sains, dimana kerjanya dilahirkan dari aksioma, kemudian melahirkan hipotesa. Dari hipotesa, dilanjut dengan pengujian sample, maka lahirlah kesimpulan, dan kesimpulan itulah yang dinamakan teori (Levi Strauss dan Glaser).

B. Teori Kebenaran Korespondensi

Dalam melihat kebenaran menggunakan korespondensi, maka pernyataan yang diungkapkan harus selaras dengan sebuah fakta/fenomena atau obyek yang ditunjuk, misal, "di luar hujan" dimana, memang saat itu hujan. Maka pernyataan itu dianggap benar. Misal lagi, "itu adalah botol", sementara obyek yang ditunjuk adalah bolpoin, maka pernyataan itu dinilai salah. Itulah kebenaran korespondensi, dimana kebenaran tercapai jika suatu pernyataan selaras dengan fakta obyektif yang ada. Artinya, jika seorang membuat pernyataan, “di luar ada Optimus Prime (robot fantasi)” sementara itu hanya fiksi, maka pernyataan itu delusif/ dianggap khayalan.

Misal, dalam kasus yang sama dengan di atas, pernyataan "lihat, di luar hujan", pernyataan ini dianggap benar jika memang saat itu turun hujan. Dimana, fakta tersebut harus ditangkap oleh Panca indra. Sementara, jika fakta atau fenomena tersebut tidak tertangkap atau teraih oleh panca indra, maka tentu itu bukan fakta, melainkan hanya peristiwa delusif semata. Begitu juga dengan fenomena anak indigo, ketika mereka mengatakan "di sana ada setan", sementara kita (orang biasa) tidak melihat setan dengan penggambaran anak tersebut, maka peristiwa yang dialami anak itu hanyalah peristiwa halusinatif.

Begitu juga dengan fenomena ustas yang bisa melihat hantu (setan), termasuk fenomena 'ruqyah' dengan mengeluarkan sesosok jin dari tubuh manusia yang dianggap sebagai penyebab penyimpangan nilai dari si terdampak. Artinya, apa yang dilakukan ustas tersebut hanyalah perilaku menyimpang (delusional) atau halusinatif. Bahkan, Imam Syafii mengatakan, “jika ada orang yang mengaku melihat setan, maka aku adalah orang pertama yang menolaknya”. Sementara, istilah indigo baru muncul kiranya abad ke-20-an. Kata ini hanya bentuk ‘defense mechanisme’, dimana terjadi beberapa kejadian histeria, dan kecacatan mental pada beberapa anak. Beberapa orang tua, melakukan ‘reaction formation’ dengan mengatakan kepada anak-anak mereka, bahwa “kamu itu istimewa, kamu indego, bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang ‘biasa’”.

Mungkin, dengan bahasa yang lebih vulgar fenomena indigo atau kesurupan adalah bentuk dari ‘sakit’, lebih tepatnya ‘sakit mental’. Jika apa yang diuraikan di atas benar, bahwa kejadian kesurupan, fenomena anak indigo adalah bentuk dari histeria, atau kolaps, maka fenomena ustad yang melakukan ruqyah untuk mengeluarkan Jin (makhluk—dabbah), maka ustad tersebut tidak lebih dari kata ‘sakit’.

Namun, apakah dengan melihat sebuah fenomena atau fakta obyektif kita bisa sampai pada kebenaran hakiki? Tentu hal ini menjadi kelemahan teori ini. Maka, lahirlah teori kebenaran koherensi, dimana suatu pernyataan dianggap benar jika dinilai konstan atau tidak berubah-ubah. Artinya, sebuah pernyataan tidak boleh kontrafiktif antara premis sebelumnya dengan premis atau pernyataan belakangan, misal adalah bahwa 'A' adalah 'A'. Dimana, dalam dua premis tidak boleh ada kontradiksi.

Misal, ada teh manis, dengan melakukan pengujian di korespondensi—dengan kerja empirik—teh tersebut dinilai manis. Namun, ada beberapa orang yang meminum teh tersebut dan mengatakan bahwa teh tersebut pait atau malah sama sekali hambar, maka pernyataan sebelumnya harus diverifikasi kembali. Karena bisa jadi, orang yang meminum tadi, ia sedang sakit dan tidak bisa merasakan makanan atau minuman. Dari contoh inilah, teori kebenaran korespondensi tidak mampu menjelaskannya. Artinya, apa yang dikatakan Aristokles maupun Rene Descartes tepat, bahwa pengetahuan empirik tidak cukup menunjukkan sebuah kebenaran yang hakiki (sejati). Begitupun contoh di atas tadi, dimana teh yang diberi gula, sementara rasanya tidak manis sama sekali.

Ditulis oleh: Muhammad Fathun Niam (Mahasiswa IAT UIN Sunan Kalijaga)

Komentar