[Tafsir al-Quran]: “Penciptaan Hawa dan Implikasinya terhadap Subordinasi Perempuan di Tengah Komunitas Muslim (Tawaran Baru atas Tafsiran ayat “Alladzī kholaqokum min Nafsin Wahidatin” dengan Kacamata Emanasi Plotinus)”
Apakah tafsiran mengenai Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam harus terus diterima? Kita akan berbicara tentang subordinasi kaum perempuan dan tawaran saya dalam menafsirkan QS. An-Nisa ayat 1, “Alladzī kholaqokum min Nafsin Wahidatin”.
A. Pendahuluan
Allah berfirman dlm QS. 4: 1, “yā aiyyuha an-nāsu, ittaqū
rabbakumu-alladzī kholaqokum min nafsin wāhidatin, wa kholaqo min-hā
zaujahā...alayah”, artinya, “wahai manusia, bertakwalah kalian kepada
Allah, yakni Tuhan kalian yang mana, Dia telah menciptakan kalian dari ‘nafsin
wāhidatin’ (esensi/jiwa yang satu), dan menciptakan darinya (dari esensi
yang satu itu) pasangannya (dari kamu/Hawa)”. Coba perhatikan ayat, “alladzī kholaqokum min nafsin
wāhidatin wa kholaqo minhā zaujahā”. Acapkali, mufassir akan
memaknai “nafsin wāhidatin” sebagai Adam, hal ini dimungkinkan karen
manusia tercipta dari Adam, dan Adam sebagai illat atau sebab atau
dipahami sebagai manusia pertama. Sementara, kata “zaujaha” akan
dikembalikan pada Hawa yang tercipta dari ‘hā’, yang dikembalikan ke “nafsin
wāhidatin”. Artinya, Hawa diciptakan dari Adam yang satu atau sebagai jiwa
yang satu tadi.
Anggapan bahwa apa yang disebut dengan “nafsin wāhidatin” adalah
Adam, adalah karena Tuhan menciptakan manusia pertama sebagai Adam atau dinamai
Adam. Ia diketahui sebagai esensi, laki-laki. Adam yang satu itu, misal melihat
tafsiran Al-Mawardi, ia—Adam—tercipta dan hanya bisa
berkeliling dalam surga. Dalam kesendirian itu Adam menerima pasangan, yakni
Hawa.[1]
Oleh karenanya, ayat itu ketika dipahami sebagai Adam, maka konsekuensinya
adalah, Hawa tercipta dari bagian diri Adam. Namun, apakah penafsiran semacam
ini dibenarkan? Atau memang tafsiran semacam ini sudah benar dan harus
diterima?
Artinya begini, ayat itu tidak menunjukkan
bahwa dia (ayat tersebut) berbicara soal Adam dan Hawa, ataupun berbicara
seluruh manusia. Demikian itu bukan berarti ayat itu terbatas atau dibatasi
oleh dua nama itu. Karena bisa jadi, maksud baik makna allegoris ataupun makna spiritual dari teks adalah
manusia dengan pasangannya, yakni manusia feminim (perempuan) dan manusia
maskulin (laki-laki). Dimana ayat itu malah menunjukkan bahwa manusia berasal
dari yang “satu”. Sementara apa itu yang satu? Sebelum itu, saya akan
memaparkan beberapa tasiran populer.
Lebih jelasnya gini, kita tidak diberi
petunjuk apapun mengenai maksud dari ‘nafsin wāhidatin’ dalam ayat
tersebut adalah Adam, dan ‘zaujahā’ adalah Hawa. Ini nanti akan
ditegaskan oleh pak Faqihuddin Abdul Qodir dalam “Qira’at Mubadalah”[2]
milik beliau.
B. “Ragam Penafsiran”
Tafsiran atas ‘min nafsin wahidatin’,
hampir di semua tafsiran klasik—Ath-Thobari,[3]
al-Qurtubi,[4] Ibn
Abbas—dan beberapa tafsiran kontemporer—Wahbah az-Zuhaili[5]—yang
tetap mengatakan bahwa ‘min nafsin wahidatin’, adalah Adam. Bahkan
mufassir kontemporer seperti Wahbah az-Zuhaili memahaminya sebagai Adam, dan
berkomentar jika penafsiran yg melakukan pembantahan adalah tidak berdasar,[6]
hanya karena memyalahi hadis. Hal ini didasarkan kepada sebuah hadis yang
dinilai shohih, “fainna mar-ata khuliqot min dlila’in”, “sesungguhnya
perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk”.
Sementara, Sayyid Muhammad Rasyid Ridla, ia
berkomentar bahwa tafsiran-tafsiran semacam ini, rupanya lahir atau
terinspirasi oleh riwayat israiliyat atau riwayat yang datang dari Ahl
Kitab. Misalnya, dalam Perjanjian Lama, Kejadian pasal II ayat 21-22, bahwa
ketika Adam terlelap, Tuhan mengambil tulang rusuknya, kemudian dari tulang
rusuk itu Tuhan selimutkan daging, dan Tuhan buat dari tulang itu perempuan. Perempuan itu
dikenal sebagai Hawa.[7]
Dengan merujuk kitab tafsir ‘bil ma’tsur’,
seperti “Tafsir al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran”,[8]
tentu kita akan disuguhkan ragam riwayat. Seluruh riwayat yang disajikan
Ath-Thabari mengatakan bahwa _’min nafsin wahidatin’,_ adalah Adam, dan ‘zaujahā’
adalah Hawa. Dimana Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Namun, tafsiran
semacam ini, tidak lain keluar dari As-Suddi.[9]
C. “Tafsiran Kiyai Mishbah Mustafa dalam Al-Iklil fi Al-Ma’ani fi At-Tanzil
atas Penciptaan Perempuan”
Hal ini rupanya disandarkan dari tafsiran
Abdul Aziz Ad-Dabag, yang juga ditulis dalam Al-Ibriz karya Ahmad bin Mubarok,
yakni: Adam merasa, bagian dada kirinya, tepat di tulang rusuknya merasakan
sakkt yang teramat. Kemudian di bagian itu, dada sebelah kiri Adam membengkak sangat
besar, sebesar kepala. Hingga yang bengkak tadi, pecah keluarlah bayi yang
serupa dengan Adam[10]
(manusia, bukan dari golongan Jin, ataupun ruh seperti Malaikat).
Bayi itu rupanya memiliki pertumbuhan yang
sangat cepat. Hal tersebut juga berbarengan dengan hati dan akal Adam yang
menyukai perempuan itu. Berbeda dengan Al-Mawardi, yang beranggapan bahwa Adam
yang terbangun dari suatu tidur, ia telah mendapati Hawa. Lantas, Adam bertanya
dan dijawab oleh Hawa, bahwa dia adalah ‘isterinya’, yang akan menemaninya.
Wahbah Az-Zuhaili mengatakan, hikmah dari tafsiran semacam ini adalah, sebagai
bukti kuasa Allah, yang menciptakan dia (Hawa) dari dia yang satu (Adam).[11]
Sementara, Al-Ashfahani mencoba keluar dari
penafsiran konvensional tersebut. Abu Muslim Al-Asfahani yang sebenarnya juga
termasuk mufassir klasik, menawarkan bahwa makna ‘min nafsin
wahidatin’, sebagai sebuah ‘esensi yang satu atau sama’, yakni esensi Adam,
yaitu: tanah sebagai unsur penciptaan Adam.[12]
Bisa jadi juga terdapat air di sana. Dengan menafsiran ‘min nafsin wahidatin’
sebagai ‘tanah’, maka hal ini akan berimplikasi pada ayat “wa kholaqo minhā
zaujahā”, bahwa ‘darinya (esensi yang satu) tercipta Hawa’, artinya dari
tanah itu, Allah juga menciptakan Hawa.
Artinya, Hawa tercipta dari esensi yang sama
dengan Adam, yakni tanah. Hal ini menunjukkan sebuah kesetaraan, kesamaan. Hal
ini juga rupanya diamini oleh beberapa ayat yang lain, bahwa Allah menciptakan
isteri-isterimu dari dirimu, yakni dari jenismu sendiri, yakni manusia, yang
tercipta dari tanah (QS. 30: 21); QS. 9: 128; QS. 62: 2. Implikasi penafsiran
semacam ini adalah, ayat itu tidak lagi berbicara tentang Adam dan Hawa,
melainkan berbicara mengenai setiap manusia. Dimana pasangan lelaki pun
tercipta dari esensi yang satu, yakni Tanah.
Sekali lagi, Al-Quran secara eksplisit—manthuq—tidak
memberikan sebuah batasan ataupun sebuah clue, petunjuk yang sangat
jelas, bahwa ayat itu berbicara tentang Adam dan Hawa. Sebagaimana yang
dipertegas oleh Faqihuddin dalam “Qira’ah Mubadalah”, bahwa dilihat
secara lafadz-nya saja, pemaknaan kalimat tersebut dengan Adam tidaklah
tipat.[13] Sementara ayat itu hanya
berbicara, bahwa “Allah menciptakan kalian dari esensi yang satu, dan dari
esensi yang satu Tuhan menciptakan pasangan dari yang satu itu”, dimana dlomir
‘hā’ jika dikembalikan kepada ‘min nafsin wahidatin’.
Bahkan, seperti Ath-Thabari mentakwilkan kalimat tersebut dengan Adam.
D. “Implikasi
Subordinasi dalam Model Penafsiran Klasik”
Tentu, sebagaimana yang diuraikan, baik oleh
pak Faqihuddin Abdul Kodir maupun Prof. Quraish Shihab, tafsiran semacam
itu—yang berbicara bahwa Hawa terlahir dari tulang rusuk Adam yang paling
bengkok—akan menimbulkan sebuah anggapan yang merendahkan perempuan. Demikian
juga yang dinukil dari komentar Rasyid Ridla, bahwa tafsiran semacam itu tidak
akan lahir jika umat Islam tidak berkenalan dengan riwayat Israiliyat (dalam
Perjanjian Lama). Penafsiran semacam ini, akan merendahkan perempuan dengan
anggapan, bahwa Hawa ada karena Adam.
Dari anggapan, bahwa Hawa ada karena Adam,
akan memberikan kesan, bahwa perempuan dipandang sebagai ‘yang nomor dua’. Hal
inilah yang juga disebut dengan subordinasi atau penomor duaan. Dimana status
Adam dan seluruh laki-laki lebih tinggi, dan utama dibandingkan dengan
perempuan. Walaupun Wahbah Az-Zuhaili beranggapan bahwa tafsiran klasik membawa
hikmah bukti kuasa Tuhan, secara tidak langsung juga menunjukkan kesan bahwa Al-Quran
itu misogenik, atau mencoba merendahkan perempuan, sementara Al-Quran tidak
demikian. Hal itu pun pada akhirnya keliru dan menyalahi Al-Quran sendiri.
Begitupun dengan pak Faqihuddin yang mengamini
hal tersebut. Bahwa pertama, bahwa riwayat mengenai apa yang dimaksud
Al-Quran dengan ‘min nafsin wahidatin’ dan ‘zujahā’ adalah Adam dan Hawa
tidak berdasar. Bahkan Quran secara lafadz tidak mendukung. Kedua,
riwayat itu tidak datang dari Nabi, melainkan dari Qatadah dan As-Suddi. Ketiga,
tafsiran semacam itu akan melahirkan subordinasi di tengah kalangan komunitas
muslim.[14]
Adanya sebuah gap, bahkan sebuah heirarki sosial atau strata sosial yang
berbicara bahwa laki-laki kedusukannya lebih utama ketimbang perempuan.
Dimana, perempuan bisa ada, bisa eksis jika
ada laki-laki, yakni Adam. Sementara, jika Adam tidak ada, maka perempuan atau
Hawa tidak akan pernah lahir, karena ‘illat’ atau sebab terciptanya Hawa
(perempuan) adalah sebuah konsekuensi Adam. Sementara, kejadiannya tidak serta
merta demikian. Dari upaya reinterpretasi yang dilakukan Faqihuddin, bahwa Hawa
itu tercipta dari tanah, sama seperti Adam. Dimana, Hawa tercipta dari esensi
yang satu, yakni tanah sama dengan esensi yang ada dalam diri Adam.
E. “Emanasi Plotinus dan
Muhyiddin Ibn Arabi”
Tentu, untuk masuk ke dalam pemahaman tentang
penafsiran yang penulis tawarkan, kita seridaknya harus mengetahui bagaimana
penafsiran itu bisa lahir, dan bagaimana Emanasi bekerja. Emanasi bisa dipahami
sebagai pancaran, dimana suatu hal merupakan pancaran dari Satu Hal atau Satu
Esensi yang Ada. Demikian itu setidaknya apa yang diinginkan oleh Plotinus.
Sementara, dalam tradisi pemikiran Muhyiddin Ibn Arabi, Emanasi yang dimaksud
adalah "haqiqatul Muhammadiyah". Tentu, Muhammad di sana tidak
membawa pemahaman sebagai sosok Nabi Muhammad. Sebenarnya, haqiqatul Muhammadiyah
bisa jadi adalah emanasi ataupun sebuah pancaran itu sendiri.
Dalam pengenalannya, manusia adalah pancaran
Tuhan yang pekat (tidak lagi terang). Dimulai dari, "bagaimana Tuhan
menciptakan?" Penciptaan alam dianggap sebagai penciptaan yang berasal
dari apa yang dikenal sebagai 'creatio ex nihilo', atau tercipta dari
kehampaan. Dimana manusia atau alam tercipta dari sesuatu yang tidak ada. Hal
ini, menurut para penggagas maupun penganut paham ini, alam dan manusia—juga
sebagai alam—tidak mungkin tercipta dari kehampaan. Sementara, kita memahami,
bahwa sebelum alam, yang ada hanya Tuhan. Dia-lah satu-satunya quiditas
sekaligus wujud al-mutlak yang ada, bahkan sampai Dia menciptakan alam.
Demikian pula yang diungkapkan Ibn Arabi, bahwa Tuhan itu ada, dan yang ada
hanya Tuhan, sebagaimana perkataannya, “lā maujudad illa Allah”.
Dimana tiada yang 'ada/wujud' selain Allah (Tuhan).
Lantas, jika yang ada hanya Tuhan, bagaimana
Tuhan menciptakan manusia? Sementara bahan saja Tuhan tidak memilikinya.
Jawabanya adalah, Tuhan sendirilah yang menciptakan dan mengadakan bahan
tersebut. Lantas, pertanyaan lainnya adalah, "bagaimana ada bahan,
sementara dalam kehampaan hanya ada Tuhan?" Maka, jawabannya tidak lain
dan tidak bukan adalah Tuhan itu sendiri. Dia-lah bahan dari penciptaan alam,
baik hakikat, makro, maupun mikro.
Maksudnya bagaimana? Yakni Tuhan menguraikan
Diri-Nya sendiri, dan menjadikan mater milik-Nya sebagai bahan untuk
menciptakan 'bahan'. Dari sinilah tercipta materi yang mula, materi pertama,
sebuah 'illat' atau sebab dari seluruh alam. Alam pertama inilah yang dikatakan
oleh Ibn Arabi, yang memiliki pancaran paling besar, paling murni, dan paling
cerah. Alam ini disebut Nur Muhammad oleh Al-Hallaj, ataupun Haqiqatul
Muhammadiyah oleh Ibn Arabi. Dalam tradisi filsafat, kita mungkin akan
mengenal 'hule', hayula, ataupun al-haba'. Dimana
seluruhnya memiliki satu paham, yakni "materi yang pertama".
Dari materi pertama itulah, atau kita sebut
dengan 'alam hakikat', Tuhan menciptakan alam yang kedua, atau alam makro. Alam
makro ini adalah langit dan bumi. Dimana level ini, pancaran Tuhan mulai
meredup. Setelah ini, alam kedua (atau ketiga, jika Tuhan dihitung sebagai
alam) inilah sebagai sebab alam mikro atau manusia. Dimana sejatinya manusia
tercipta dari tanah, dunia dari air, semesta dari asap, uap, dsb. Atau dalam
pengetahuan 'akal fa'al' al-Farabi disebut sebagai "akal ke-sepuluh".
Dari sinilah, Allah menciptakan manusia.
Kita telah pahami, bahwa manusia tercipta dari
tanah, sebagai 'hal' atau sesuatu yang ada dalam alam sebelumnya, yakni alam
makro. Manusia, adalah makhluk atau khulq yang mendapatkan
pancaran paling sedikit. Bagaikan sebuah pelita, sebuah cahaya yang dipancarkan
pada tiga buah kaca, maka kaca terakhir, kaca yang letaknya paling jauh dari
cahayanya, ia memperoleh pancaran yang sangat sedikit.
Oleh karena itu, maksud yang ingin saya
sampaikan bukan mengatakan bahwa manusia diciptakan 'min nafsin wahidatin',
sebagai tanah, ataupun Adam melainkan dia adalah turunan dari Tuhan. Walaupun,
perlu untuk digaris bawahi, bahwa penciptaan itu tidak serta merta membawa
kepada penafsiran bahwa manusia diciptakan dari Tuhan, melainkan esensi 'hakikat'nya,
manusia lahir dan disebabkan oleh sebuah illat atau sebab yang paling besar,
yakni Tuhan. Jadi, 'min nafsin wahidatin', ini, saya tawarkan sebagai
Tuhan, bukan lagi tanah, apalagi Adam.
F. “Tawaran Penafsiran
Baru terhadap ayat “Alladzī kholaqokum min Nafsin Wahidatin” dengan Teori Emanasi Plotinus”
Dari yang dipaparkan oleh pak Faqihuddin,
bahwa secara lafadz tidak mendukung, dan bisa dipahami secara luas, tidak
partikular, semisal juga dengan tafsiran yang ditawarkan oleh Al-Ashfahani
bahwa Adam tercipta dari tanah dan Hawa demikian adanya. Maka, dari sini merasa
adanya keterbukaan atau ke’amm an ayat ini. Dengan merujuk kitab hadis, saya
belum menemukan pen-takhsisan atau pengkhususan atas ayat ini dari
Nabi.
Artinya, datang dari keluesan penafsiran yang
dilakukan oleh Al-Asfahani, membukan sebuah peluang bagi saya melakukan
reinterpretasi yang mungkin masih melahirkan ‘aksioma’, maupun sebuah ‘hepotesis’
bahwa bisa jadi, apa yang dimaksud dengan ‘min nafsin wahidatin’, bukan
esensi sebagai tanah ataupun Adam, melainkan benar-benar dari Esensi Yang Maha
Satu, yakni Tuhan. Artinya, ayat ini menujukkan sebuah penegasan, bahwa Adam
dan Hawa, yakni manusia tercipta dari Esensi, materi-materi atau unsur-unsur
Tuhan.
Apa yang saya sebut dengan Esensi atau
Quiditas yang Satu adalah apa yang disebut sebagai Wujud. Dimana dalam ‘Wujud’
terdapat Esensi atau Quditas. Sementara, dari Wuiditas atau dari ‘Yang Mutlak
al-Wujud’ ataupun yang ‘Wajib al-Wujud’ itu, terciptalah dari-Nya—dari
unsur-unsur Diri-Nya—manusia. Walaupun, hal ini tidak serta merta manusia
secara murni, tanpa sebuah turunan manusia langsung terpancar dari cahaya Yang
Satu. Sebab manusia adalah alam keempat, yang tercipta dari alam makro, yakni
semesta. Dimana dalam diri manusia terdapat esensi berupa tanah, yakni unsur
alam raya atau alam makro—sebagai alam ketiga.
[1] Muhammad ibn Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, vol. 6 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), hlm. 354.
[2] Faqihuddin Abdul Kodir, Qira’ah Mubadalah: Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam
(Yogyakarta: IRCiSoD, 2019).
[3] Ath-Thabari, Tafsir
Ath-Thabari.
[4] Al-Qurthubi, Tafsir
Al-Qurthubi, vol. 5 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007).
[5] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir
Al-Munir , vol. 1 (Jakarta: Gema Insani, 2013).
[6] Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir
Al-Munir: Aqidah, Syariah, Dan Manhaj, vol. 2 (Jakarta: Gema Insani, 2013),
hlm. 562.
[7] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Quran,
vol. 2 (Tangerang: Lentera Hati, 2005).
[8] Muhammad ibn Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari: Jami’ Al-Bayan an Ta’wil Al-Quran (Beirut:
Muasasah ar Risalah, n.d.).
[9] Kodir, Qira’ah
Mubadalah: Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam.
[10] Ahmad Zainal Abidin, M. Imam Sanusi Al-Khanafi, and
Eko Zulfikar, “Tafsir Gender Jawa: Telaah Tafsir Al-Iklil Fi Ma’ani Al-Tanzil
Karya Misbah Mustafa,” Musawa: Jurnal
Studi Gender Dan Islam 18, no. 1 (2019), hlm. 8.
[11] Ath-Thabari, Tafsir
Ath-Thabari, hlm. 354.
[12] Az-Zuhaili, Tafsir
Al-Munir: Aqidah, Syariah, Dan Manhaj,
hlm. 561. Lihat
juga, Kodir, Qira’ah
Mubadalah: Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam, hlm. 237.
[13] Kodir, Qira’ah
Mubadalah: Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam.
[14] Kodir.

Komentar
Posting Komentar